Eka Kurniawan

Journal

Terjemahan Sastra Indonesia

Dari komentar di jurnal saya, sastra Indonesia jarang diterjemahkan? Tidak persis begitu, sih. Karya-karya Pramoedya Ananta Toer telah diterjemahkan sejak tahun 60an sampai sekarang. Buku pertama Andrea Hirata, jika tak salah, sudah diterjemahkan ke lebih dari 20an bahasa. Di penerbit Italia, Metropole d’Asia, selain karya saya L’Uomo Tigre, juga telah diterbitkan sebelumnya karya Ayu Utami dan Nukila Amal. Di “75 Notable Translations of 2014” yang dirilis World Literature Today, selain Andrea, Anda bisa menemukan Afrizal Malna dan Putu Oka Sukanta. Mungkin saatnya pembaca Indonesia lebih jeli memerhatikan, sebelum pembaca asing lebih menikmati kesusastraan kita.

4 Comments

  1. Beberapa buku bahkan saya rasa lebih mudah mencari versi terjemahannya daripada versi aslinya mas. Misalnya Durga/Umayi-nya Romo Mangun, saya berkali-kali nemu bukunya di beberapa toko buku di KL, tapi belum sekalipun nemu versi aslinya. Buku-buku Pram bahkan sudah susah banget ditemui di toko-toko buku ‘besar’ di Indonesia akhir-akhir ini.

    • @Bastian Hidayat
      Saya rasa ini benar. Bisa dibilang penerbit di Indonesia belum begitu baik mengelola backlist, dalam arti mempertahankan buku-buku terbitan mereka selalu tersedia di jalur distribusi (gudang, distributor, dan toko buku).

  2. Mas, buku Cinta Tak Ada Mati masih ada persediaan? Saya nyari di toko buku dan internet tidak ketemu.

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑