Eka Kurniawan

Journal

“Seperti Dendam …” Will be Adapted into a Feature Film

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (Love and Vengeance) film rights have been acquired by Jakarta-based company Palari Films. The film will be produced by Muhammad Zaidy and Meiske Taurisia; and Eka Kurniawan has been attached as co-scripwriter together with filmmaker Edwin (director and writer of Indonesian film Postcards from the Zoo, which was in competition at the Berlin International Film Festival 2012). Read more here.



9 Comments

    • @anonim:
      Sudah baca, barusan. Saya rasa catatan itu perlu dibaca siapa pun sebelum mencoba membaca novel-novel/cerpen-cerpen saya. Setidaknya agar bisa membacanya tanpa terpaksa dan termakan puja-puji.

  1. marfaizon pangai

    10 June 2016 at 12:10 pm

    Saya cuma kasihan pada merahnaga….kasihan aja.

  2. Saya mesti jujur kalau saya (dan sebagian besar kawan saya di luar sana) membaca Eka Kurniawan karena termakan puji-pujian; dan ternyata memang puji-pujian itu berlebihan untuk orang yang memang berlebihan (sudah terlalu banyak orang yang memaparkan kenapa Eka berlebihan dan saya tak perlu memaparkannya lagi). Tapi kenyataan bahwa kami mengenal Eka dan memutuskan untuk membaca novel-cerpennya sesudah puji-puji itu, membuat saya galau beberapa hari: Masihkan kami akan membaca Eka, atau membacanya dan menganggap tulisannya bagus, jika ia tdk dipuji-puji oleh media2 luar Indonesia? Saya pikir ini tanggungjawab bersama untuk membuat generasi kami tidak membuat penilaian bagus-buruk berdasarkan penilaian orang-orang lain. Ada saran soal ini, Mas Eka?

    • @Anak Galau
      Baca buku sebanyak-banyaknya, dan seluas-luasnya. Itu bisa membantumu memilah dan membandingkan karya. Ada banyak buku di Indonesia yang asyik dibaca (mungkin akan dianggap berlebihan juga kalau saya sebutkan, hahaha).

  3. @Anak Galau, @ Eka: saya baca Eka karena iklan dari Ben Anderson. Saya pikir, seakan-akan kalau saya baca Eka, maka saya akan setara almarhum Ben. Lagipula saat itu gak ada yang jual bukunya Eka.
    Kalau dibilang Murakami Indonesia, saya belum baca resensi sebelah mana, selain di komentarnya merahnaga.
    Saya juga lagi kejar tayang Murakami (yang Haruki, bukan yang Ryu), supaya orang Indonesia nggak bodoh-bodoh amat dan jelek-jelak amat selera bacanya.
    Blog ini saya pakai untuk pengetahuan, “orang lain baca apa sih?”
    Trims boleh corat – coret di tembok ini.

  4. Saya pertama kali membaca buku Kang Eka tahun 2009, Lelaki Harimau. Waktu itu saya bahkan tidak tahu Eka Kurniawan itu siapa, jadi membaca bukan karena pengaruh siapapun. Lelaki Harimau adalah salah satu buku terbaik yang pernah saya baca. Jadi ketika ada yang mengatakan seorang Eka terlalu banyak dipuji sehingga banyak pembaca yang ikut-ikutan memuji hanya karena terpengaruh orang lain, rasa-rasanya kok ya nggak adil juga buat si penulis. Lebih tidak setuju lagi jika ada orang yang mengatakan bahwa pembaca yang menyukai buku Eka adalah mereka yang kurang baca dan hanya kadang-kadang menggunakan otaknya. Siapa dia berani-beraninya mengatur selera orang lain? Lagi pula, membandingkan buku-buku seorang Eka Kurniawan dengan Sigmun Freud atau Mangunwijaya kan gegabah sekali.

    Tapi ya sudahlah, yang jelas tidak semua pembaca di Indonesia naif. Masih banyak yang menilai sebuah bacaan secara objektif. Saya pribadi sudah cukup bahagia dengan terbitnya buku-buku sastra, terlepas dari siapa penulisnya.

    Salam,
    ~eL

  5. Alhamdulillah fame achievement unlocked. Eka Kurniawan sudah punya haters yg cukup militan

  6. Mas Eka, puji-pujian paling panjang saya lihat di New York Times, yang bahkan menyandingkan Mas Eka dengan Gabriel Marquez, Salman Rushdie… saat menulis Cantik Itu Luka di tahun2 2000 awal, apakah Mas Eka sempat membayangkan hal itu? Saat itu, sudah seluas apa bacaan Mas Eka?

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑