Eka Kurniawan

Journal

Review Pertama

Hmm, sekadar mengingatkan, ulasan pertama versi Indonesia [Cantik Itu Luka] ditulis oleh Maman S. Mahayana dalam tulisan berjudul “Air Bah dalam Novel ‘Cantik Itu Luka’“, Media Indonesia, 2 Maret 2003. Seperti penulis muda umumnya, saya pernah merasa marah (dan sedih), dengan frasa-frasa “tetap akan berada di garis belakang” atau “over confident” atau “air bah yang mengalir deras tak terkendali”. Tapi bersama berlalunya waktu, saya kini merasa bersyukur dengan ulasan itu, yang lebih banyak membentuk saya sebagai penulis daripada yang saya sadari sebelumnya.

4 Comments

  1. Kami membaca review Maman ini di Ekspresi. Agak siangan, karena Media Indonesia memang agak siang sampai Jogja. Muh ada di situ. Dia menggerutu baca review-nya Maman. “Kau harus balas, din,” kata saya. Muh menjawab: “Teman tak boleh dibiarkan diperlakukan begitu tanpa pembelaan.”

    Muh saat itu sudah pakai kata “teman”. Saya ingat benar. Jadi benar sudah Mas Eka menyebutnya sebagai salah satu dari “saudara seperguruan” di postingan sebelumnya :)

  2. Tenni Purwanti

    27 July 2015 at 9:59 am

    link tulisan Maman S. Mahayana-nya ga bisa dibuka Mas. Padahal penasaran ingin baca.

  3. Saya mbaca tulisan Maman di bukunya Ekstrinsikalitas Sastra Indonesia. Terlepas soal air bah yang dijadikan bahasan, Bagi saya tulisan itu terlalu bombastis dan keluar jalur. Hanya satu yang dinilai baik oleh maman di tulisan itu, yakni rekor ketebalannya untuk ukuran karya (novel) pertama. Berkat membaca itu saya berkenalan dengan Cantik itu Luka dan saya jadi tidak tertarik membacanya. Namun, ketidaktertarikanku itu sama sekali keliru…

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑