Eka Kurniawan

Journal

Mengapa Karya Sastra Indonesia Sulit Mendunia

CNN Indonesia menurunkan artikel dengan pertanyaan “Mengapa Karya Sastra Indonesia Sulit Mendunia?” Kalau mau jujur, sebenarnya banyak karya bagus di Indonesia. Tapi kalau mau lebih jujur, ada jutaan karya bagus juga di luar sana, kenapa mereka harus membaca karya sastra Indonesia?

4 Comments

  1. Herry Anggoro Djatmiko

    2 May 2015 at 9:36 am

    Apakah orang Indonesia masih banyak yang membaca sastra? Apakah penting membaca sastra bagi kebanyakan orang Indonesia? Masyarakat yang tidak suka membaca sastra apakah mungkin melahirkan karya yang bagus?

    • @Herry Anggoro Djatmiko
      Mungkin saja, sebagaimana permata bisa muncul di kubangan lumpur. Sejarah sudah membuktikan banyak jenius lahir di lingkungan yang “tidak tepat”. Problemnya adalah, apakah “bagus” sudah cukup? Menurut saya tidak. Ada jutaan karya bagus di dunia ini. Dengan kata lain, jika banyak orang bisa lari secepat Usain Bolt, bisa dibilang Usain Bolt tidak istimewa. Demikian juga karya sastra.

    • Kadang saya agak heran dengan pertanyaan2 seperti ini, yang hanya merujuk pada orang Indonesia. Dengan kemajuan teknologi dan sebagainya, kita bukan satu-satunya bangsa yang tidak lagi membaca sastra. Kebanyakan orang baik di negri barat ataupun negara ketiga saat ini kurang menghargai sastra. Walaupun saya agak tidak setuju dengan judul artikel CNN dan pertanyaan mas herry, konten artikel tersebut memang benar, bahwa banyak hal eksternal yang menentukan sukses tidaknya sebuah karya tulis di mata dunia. Dan walaupun penulis asal Jepang dan beberapa negara asia yang lain, seperti yang ditulis di artikel, berhasil meraih pengakuan dunia, tidak sedikit satrawan dari negara-negara ketiga yang mengalami kendala yang sama dengan bangsa kita.

  2. saya ndak tau dan ndak ngerti yang bagus sebetulnya yang bagaimana? jujur saja saya suka melongo longo kalau liat di toko2 buku betapa anak anak remaja Indonesia saat ini bisa bikin buku2/novel dll begitu bagus2 cerita dan bahasanya meskipun dengan bahasa mereka. lha jaman saya yang Sepur lempung itu bahasanya memang ” kromo inggil ” dan sedikit mbulet, beda dengan remaja2 ini yang penyampaiannya begitu lugas, langsung, dan mak nyusss, bahasa mewakili jamannya? embuh. maka saya serahkan saja pd para ahlinya seperti Anda2 semua, saya biar saja tetap jadi pembacanya lha wong ndak ngerti …. salam : th.

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑