Eka Kurniawan

Journal

Gerilya Kota

13247710_10209719686818055_3387223266413939847_o

Catatan: Terima kasih kepada Ronny Agustinus, yang menemukan cerpen saya yang “hilang”. Judul cerpen ini “Gerilya Kota”, saya tulis November 1999, dan diterbitkan di bulan yang sama oleh Terompet Rakyat milik Taring Padi. Dengan perbaikan seperlunya (typo, tanda baca, kalimat enggak bunyi), saya mengetiknya ulang di bawah ini.

PS. Sebelum lupa, pada pertengahan 2013 Agus Noor mengirim saya surel berisi cerpen dia berjudul “Matinya Seorang Demonstran”. Pengantar surel antara lain berbunyi: Ini cerpen yang aku tulis berdasarkan ingatan pada cerpenmu “Gerilyawan Kota” (dia sedikit salah menyebut judul). Cerpen itu mempergunakan nama “Eka” sebagai tokoh. Justru karena surel Agus yang membuat saya teringat punya cerpen ini, dan saya harus berterima kasih pula kepadanya.

—————

Keduanya berjumpa di depan bioskop, beberapa menit selewat jam sembilan. Seno sedang berdiri, menunggu kekasihnya yang mampir ke toilet. Samiran sedang membagi-bagikan selebaran kepada orang-orang yang baru keluar dari pintu bioskop. Lalu keduanya berjumpa, berhadap-hadapan.

Seno berwajah melankolis, putih, rambut rapi seperti model iklan minyak rambut. Ia mengenakan kemeja krem tanpa motif, dimasukkan ke dalam celana jinsnya yang berwarna biru tua, dan kakinya dialasi sandal. Ia mengenakan jam tangan mungil, memegang telepon genggam mungil, dan bau parfum melayang dari tubuhnya.

Samiran berperawakan kurus ceking, namun dengan wajah penuh keriangan. Rambutnya gondrong acak-acakan, beberapa hari tak tersentuh shampo dan sisir. Ia mengenakan kaus oblong, jaket, jins dan sandal jepit: semuanya dekil. Di punggungnya tergantung tas kuliah, dan di tangan kirinya ia menenteng kantong kresek berisi ribuan eksemplar selebaran yang siap ia bagikan malam itu. Tangan kanannya menyodorkan selebaran itu pada Seno.

“Apa ini?” tanya Seno.

“Selebaran aksi.”

“Kalian ini! Apa enggak ada hal lain yang lebih bagus selain aksi?”

Samiran hanya tersenyum.

“Menuntut apa lagi?” Seno mendesak.

“Turunkan presiden, adili dan kembalikan uang rakyat yang dikorupsinya. Lengkapna, kami menuntut reformasi politik dan ekonomi secara tuntas.”

“Kalian bertarung melawan tembok tebal, Bung,” kata Seno. “Sebagai mahasiswa, yang katanya kaum intelek, bukankah ada cara yang lebih santun? Belajar, kemudian merumuskan konsep-konsep perubahan untuk diajukan ke pemerintah.”

Samiran lagi tersenyum. “Sudah tiga puluh dua tahun kita melakukan itu, Bung, dan hasilnya nol besar. Karena itu, sekarang kita harus berani mengambil keputusan untuk turun ke jalan.”

Kemudian datang seorang gadis. Menurut Samiran, ia cantik luar biasa. Mengenakan rok mini dan kaos oblong ketat. Ia menghampiri Seno dan lelaki itu mendekapnya. Keduanya berlalu begitu saja, menyetop taksi, dan hilang di dalamnya. Gulungan selebaran yang diberikan Samiran kepada Seno melayang dari kaca jendela taksi, berguling-guling di jalan aspal.

Samiran menelan ludahnya.

***

Hampir tengah malam ketika selebaran terakhirnya diberikan kepada seorang tukang becak, di muka warung bubur kacang hijau. Ia kelelahan, haus dan lapar. Dirogohnya dompet dan diperiksa isinya. Cuma ada seribu perak. Cukuplah untuk mengganjal perut. Maka ia pun masuk ke warung tersebut, duduk di bangku panjang, menghadap meja yang juga panjang, dan berkata kepada si penjual:

“Burjo satu.”

“Campur?”

“Campur.”

Setengah menit kemudian bubur kacang hijau lengkap dengan ketan hitam, pandan, dan air pati terhidang di depannya.

“Minum?” tanya si penjual.

“Air putih saja.”

Air putih pun muncul, dan Samiran tak membuang-buang waktu untuk segera melunasi rasa laparnya.

Kemudian seorang lelaki, sedikit lebih muda darinya, muncul dan duduk di sampingnya, merapat. Samiran menoleh dan tersenyum. Acuh tak acuh, si orang baru itu memesan bubur kacang hijau pula, diikuti tanya-jawab klasik antara penjual dan pembeli. Baru setelah pesanan datang, si orang baru menoleh ke kiri-ke kanan, seperti menakutkan sesuatu. Setelah merasa aman, ia berbisik kepada Samiran.

“Parmo marah kepadamu.”

“Kenapa?” tanya Samiran, juga sambil berbisik.

“Karena kau berkeliaran. Bagi-bagikan selebaran. Itu bukan pekerjaanmu.”

“Itu pekerjaan kita semua,” kata Samiran sambil terus melahap makanannya.

“Tapi kau …”

“Jangan ngomel. Lagipula selebarannya sudah habis kubagikan.”

Si orang baru mendesah dan mengamati sekitarnya lagi. Hanya ada seorang mahasiswa lain di pojok warung, selain mereka dan si penjual. Tak ada yang perlu dicurigai.

“Kau jangan pulang ke rumah,” kata si orang baru lagi.

“Mengapa?”

“Ada enam tentara berkeliaran mencarimu.”

“Jangan berlebihan.”

“Aku serius.”

***

Pagi datang. Tak ada kokok ayam jantan, dan tak ada suara merdu burung-burung berkicau. Pagi disambut dengan tetangga yang memanaskan mesin motor, disambut suara musik dari radio kamar sebelah, dan disambut dengan langkah-langkah sepatu beradu dengan lantai di depan kamar.

Cahaya mnembus lewat kisi-kisi, menerangi kamar tidur yang temaram.

“Kau nakal,” kata Dewi. Bentuk tubuhnya yang tak mengenakan apa pun lagi tak dapat disembunyikan oleh selimut tipis yang menutupi dirinya.

Seno berbalik, mengangkat selimut itu dan bergulir masuk ke dalamnya. Memeluk sang kekasih yang hangat di pagi yang dingin keparat.

“Sebelumnya kau cuma pegang sana pegang sini,” kata Dewi lagi.

“Dan cuma berciuman,” kata Seno melanjutkan.

“Ya, dan berciuman.”

“Kau sendiri mau kuajak menginap di sini.”

“Kau tahu aku ini cewek. Kalau sudah berahi konon susah dikendalikan. Kau yang seharusnya melarangku menginap di kamarmu.”

“Sebagai cowok, aku pun enggak bisa menahan diri,” jawab Seno.

“Sekarang aku enggak perawan.”

“Aku juga enggak perjaka. Aku tak akan meninggalkanmu, Sayang. Janji!”

“Aku lapar.”

“Aku juga.”

“Cari makan di luar, yuk?”

“Jangan gila.”

“Kenapa?”

“Orang-orang bisa tahu kau menginap di kamarku kalau kau keluar sepagi ini. Kita tunggu agak sianglah sedikit. Satu jam lagi.”

“Kalau begitu main lagi, yuk?”

“Main apaan?”

“Seperti yang tadi.”

“Yang begitu?”

“Iya.”

“Ayo.”

***

Siang menjelang sore. Keduanya tengah duduk di ruang tamu sebuah rumah mungil, menghadapi dua gelas kopi di atas meja. Telepon yang terletak di atas meja kecil di sudut ruangan berdering. Rudi berjalan menghampiri telepon, mengangkatnya dan bercakap-cakap tak begitu lama, kemudian kembali lagi ke tempat Samiran duduk menunggu.

“Siapa?” tanya Samiran.

“Rani.”

“Apa katanya?”

“Mahasiswa mulai bentrok dengan polisi.”

“Tai!” Samiran mengumpat. “Seharusnya kita ada di sana, bersatu dalam barisan massa.”

“Enggak boleh.”

“Kita kehilangan momen-momen radikalisme massa.”

“Kita enggak boleh keluar dari rumah ini.”

“Siapa yang melarang?”

“Dengar, Kawan,” kata Rudi. “Kau termasuk orang yang diincar tentara-tentara brengsek itu, dan di sini aku menjagamu. Jangan berbuat tolol. Perjalanan ini masih panjang.”

Samiran merasa sebal, dan menyeruput kopinya yang sudah agak dingin.

Rudi berdiri. “Aku mau ngebom di kakus,” katanya, sambil berlalu ke belakang.
Ditinggal sendirian, Samiran menjadi sangat gelisah. Dirabanya semua saku yang ada di pakaiannya, mencari rokok. Tapi ia cuma menemukan uang empat ratus rupiah. Cukuplah untuk mendapatkan dua batang rokok. Ia pun berdiri, menengok ke belakang dan memastikan Rudi tak melihat dirinya. Ia berjalan keluar rumah diam-diam, dan menuju kios rokok terdekat di ujung gang kecil.

Ia membeli dua batang rokok. Yang satu batang ia simpan di dalam bungkus rokok bekas dan disimpannya di saku juns. Yang lain sudah bertengger di bibirnya. Ia membakar ujung rokok dengan korek api milik si penjual dan segera kembali, takut Rudi sudah selesai cebok dan mendapati dirinya keluar rumah. Bisa habis ia diomeli.

Tapi ia belum sempat ke rumah ketika dua lelaki berdiri di depannya. Berbadan tegap dengan rambut pendek. Ada yang menonjol di pinggangnya, tertutup oleh jaket kulit.

Nalurinya segera membuatnya melompat ke samping, menerjang tanaman pagar dan berlari masuk ke sebuah hutan kecil di belakang rumah. Kedua orang itu tak mau tinggal diam. Mereka melesat mengejarnya.

Samiran terus berlari. Rokok di bibirnya sudah terbang entah ke mana. Ia menabrak belukar, dan sesuatu meletup menembus punggungnya. Sakit sekali, dan itu membuatnya terhuyung-huyung sebelum rebah di atas tanah yang dipenuhi dedaunan gugur.

Kedua orang itu datang menghampiri. Salah satu dari mereka berjongkok dan memeriksa dirinya, lalu berkata:

“Ia mati.”

“Tembakanmu mungkin kena jantungnya,” kata yang lain.

Si orang pertama cuma mengangkat bahu.

“Kita harus melenyapkan jejak kematiannya. Itu perintah jika kita gagal menangkap hidup-hidup.”

“Begitulah,” kata si orang pertama. “Bantu aku menyeretnya.”

Mayat Samiran diseret beberapa meter sebelum dilemparkan ke dalam Jeep yang menunggu di pinggir hutan kecil tersebut.

***

Sore hari membuat Seno keluar dari rumah pondokannya. Dalam kepalanya, membayang selalu potongan-potongan gambar sang kekasih sebagaimana ia ingat pada pengalaman hebat yang telah mereka dapatkan bersama. Ia merindukan si gadis, ingin selalu bersama, dan itu membuat kakinya menelusuri trotoar ke arah yang sangat ia kenali. Rumah sang kekasih.

Betapa terkejutnya ia menyaksikan jalanan lain dari hari-hari biasa. Tak ada kendaraan lalu-lalang, tapi dijejali orang-orang.

Uap amarah seperti mengambang di atas aspal hitam.

Seno seketika sadar ia telah terperangkap di tengah-tengah aksi demonstrasi. Di barisan depan, sekelompok mahasiswa berbaku hantam dengan polisi. Di belakangnya, rekan mereka melempari pasukan polisi lain dengan batu dan kayu. Ia terus berjalan dan merasa tak punya urusan apa pun dengan semua itu.

Kemudian moncong meriam gas air mata meletus, dan senjata menyalak. Para mahasiswa berlarian, dalam hiruk-pikuk yang kacau sambil sesekali terus melemparkan batu dan kayu. Bom gas air mata melesat, meledak dan satu pasukan polisi bersenjata merengsek. Polisi membabi buta. Para mahasiswa berlarian menyelamatkan diri, melompati pagar, benteng dan masuk ke perkampungan. Disembunyikan penduduk.

“Kena kau!” tiba-tiba seorang polisi telah mencengkeram tangan Seno.

“Mahasiswa anjing! Jangan belagak kau!” Polisi lain datang dan menghantam punggung Seno dengan tongkat pentungan.

Seno belum lepas dari rasa terkejut ketika tendangan lutut polisi pertama menerjang perutnya.
“Rasakan kau. Asu!”

Seno tergeletak, meringis. “Ampun, Pak. Saya bukan demonstran!”

“Pura-pura lagi!” Si polisi pertama melayangkan tendangan ke mukanya.

Lalu satu pukulan tongkat tepat di batok kepalanya. Yang terakhir ini membuatnya menumpahkan darah, dan mengakhiri hidupnya.

***

Esok harinya, kami membawa mayat Seno dalam iring-iringan penuh duka cita. Ribuan mahasiswa mengantarnya ke permakaman, sambil menyanyikan Hymne Darah Juang dan Gugur Bunga. Rangkaian bunga duka cita memenuhi rumah korban. Para aktivis hukum mengunjungi sanak famili Seno, dan siap menggugat jenderal-jenderal polisi atas pembunuhan berdarah dingin ini. Surat kabar, radio, televisi, menempatkan Seno sebagai pahlawan reformasi. Namanya harum bagai bunga.

Sementara itu, tak seorang pun tahu, di mana mayat Samiran berada.

22 November 1999

11 Comments

  1. Pak Eka, kalimat yang tidak bunyi itu, kalimat yg seperti apa ya? Tks.

    • @fandi:
      Dalam kasus ektrem, kalimat yang tidak memberi informasi. Dalam kasus saya, lebih ke kalimat yang tidak memberi informasi dengan tepat. Misalnya ada kalimat yang menyebut “pagar hidup”, yang maksudnya tentu ke tanaman pembatas/pagar, tapi bisa disalahpahami dalam konteks lain. Saya memperbaikinya. Ada juga yang subyeknya tertukar (Seno x Samiran), barangkali karena penulisnya waktu itu kurang tidur :-)

  2. Apakah cerpen ini ada hubungannya sama cerpennya Agus Noor yang buat Eka Kurniawan itu, Mas? Haha

    • @Darul Azis
      “Matinya Seorang Demonstran”? Ada. Agus ngasih lihat saya cerpen itu sebelum dimuat dengan kata-kata, “Ini cerpen yang aku tulis berdasarkan ingatan pada cerpenmu ‘Gerilyawan Kota’ (sedikit salah menyebut judul.” Gaya dia meledek saya, hahaha.

  3. Makasih Mas Eka, sudah mengetik ulang untuk kami pembaca setia,heheh. Saya suka dengan frasa ‘pagi yang dingin keparat’, saya langsung teringat Lelaki Harimau, haha.

  4. Lebih bagus “Matinya Seorang Demonstran” sih menurutku :p

  5. Saya menemukan alur yang lugas dan mengalir dalam cerpen ini. Tentu saya mengharapkan lebih dahsyat seperti dalam novel-novelnya Mas Eka. Sungguh luar biasa dan saya adalah penikmat yang setia. Syalom Mas Eka…salam kasih dari Flores, NTT.

  6. Hmmm…menarik. Endingnya mengejutkan. Bang Eka makan apa sampai punya imajinasi indah begitu? Atau, jangan-jangan ini kenyataan yah? :)

  7. Mas Eka, apakah kata-kata seperti “Asu” tak dilarang pada masa cerpen ini dimuat? Bagaimana perasaan Mas Eka saat itu ketika mengetahui cerpen “penuh kritikan” ini terbit?

  8. kadang hidup selucu itu, bahkan situasi bisa menciptakan kesalah-pahaman.
    eh jadi seno itu juga seorang mahasiswa hukum ya?
    soalnya dari percakapan ini seno seperti menilai hehehe
    “Kalian bertarung melawan tembok tebal, Bung,” kata Seno. “Sebagai mahasiswa, yang katanya kaum intelek, bukankah ada cara yang lebih santun? Belajar, kemudian merumuskan konsep-konsep perubahan untuk diajukan ke pemerintah.”

    Samiran lagi tersenyum. “Sudah tiga puluh dua tahun kita melakukan itu, Bung, dan hasilnya nol besar. Karena itu, sekarang kita harus berani mengambil keputusan untuk turun ke jalan.”

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑