Eka Kurniawan

Journal

Eka Kurniawan: Seks, Hantu Ndak Jelas dan Membosankan

Daripada termakan puja-puji, sebelum membaca buku-buku saya, barangkali ada baiknya membaca catatan ini: “Eka Kurniawan: Seks, Hantu Ndak Jelas dan Membosankan” (terima kasih untuk anonim yang merujuk tautan tersebut)

7 Comments

  1. Hahahaa. Sebagai renungan yang baik dari pemaki yang baik. Sepertinya dia pembaca yang rakus juga, atau entahlah. Aku baca tulisannya BUKU-BUKU SASTRA YANG TAK PENTING DIBACA DAN DISIMPAN DI RAK, kalau diperhatikan, referensi bacaannya lumayan banyak juga. :D

  2. Kalau mau buat orang jadi populer, mbok ya, dipilih pilih dulu kang Eka. Atau jangan jangan Kang Eka sudah memilih? Hehe.

    • @Ali
      Ya kalau jadi populer enggak apa-apa juga, kan? Serius, tulisan itu perlu dibaca agar kita enggak asal menyukai karya karena puja-puji, apalagi sampai “terpaksa”. Termasuk karya saya, tentu. Sepakat dengan Borges, membaca sebaiknya karena senang.

  3. “Bagi seekor harimau, gonggongan anjing tidaklah membahayakan”. Begitu ada orang yang menjelek-jelekkan Eka Kurniawan, Eka Kurniawan membantu “mempopulerkannya”. Hahaha. Maju terus Om Eka..

  4. mengutip tulisan Nirwan Dewanto di pembuka novel terjemahan Camus, Mati Bahagia

    “salah satu masalah besar dalam khazanah novel kita adalah ‘sentimentalisme’, yaitu bagaimana deskripsi, penokohan dan dialog erlalu banyak berisi tumpahan rasa si pengarang … novelis kita masih juga hendak berbicara besar, lebih besar daripada yang bisa ditampung oleh bentuk novel itu sendiri … Novel-Novel Camus memberi pelajaran tentang proses menahan diri, proses mencegah banjirnya emosi si pengarang yang hendak bicara besar, supaya tulisannya, si novel menjadi dingin, obyektif dan transparan: sebuah writing degree zero”

    justru saya mengagumi dari pengakuan Mas Eka sendiri, bukan dari puja-puji orang lain, kalau novel O, misalkan, yang kesannya sederhana, nyatanya ditulis bertahun-tahun dan di rombak berulang kali sebelum naik cetak. toh kalau pembaca merasa terpaksa, bukankah kegiatan menulis Mas Eka pun didasarkan pada ‘ya kalau gak pengen, lanjut nanti’

    saya lebih berpendapat kalau tokoh-tokoh di novel Mas Eka punya kesialan nya masing-masing, tidak terbatas pada beberapa perempuan yang teraniaya, tapi semuanya; sobirin yang buta dan terus mengaji, joni yang mati ditembak entang, entang yang dikhianati biduan sampai boboh yang kehilangan telurnya

    • @azzamizzatal:
      Juga sebaiknya jangan gampang percaya kepada pengakuan penulis. Ditulis bertahun-tahun atau beberapa hari, tak menjamin kualitas sebuah karya. Saya pribadi lebih senang membayangkan suara kritikus maupun bualan penulis sebagai teman perjalanan (membaca) saja.

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑