“… menurut saya Cantik Itu Luka tak mampu mengoptimalkan kekayaan bahasa tulis. Cantik Itu Luka seolah tidak menyadari bahwa bahasa tulis memberikan kemungkinan-kemungkinan terjauh dalam sebuah karya sastra.”

Cantik Itu Luka Sepuluh Tahun Kemudian” oleh Muhamad Aqib, Qureta.com.