Eka Kurniawan

Journal

Beauty is a Wound, New Directions

New Directions merupakan salah satu penerbit Amerika yang buku-bukunya saya sukai. Backlist mereka meliputi Jean Paul Sartre, Jorge Luis Borges, Pablo Neruda, Ezra Pound, Julio Cortazar, dll. Mereka juga yang membawa beberapa sastrawan kontemporer penting dunia ke Bahasa Inggris (atau ke Amerika), sebut misalnya Javier Marias, Cesar Aira, Roberto Bolano, W.G.Sibald, Laszlo Krasznahorkai, dll. Maka ketika beberapa bulan lalu Barbara Epler, bos penerbit ini, menghubungi saya, saya merasa hendak copot jantung. Sekarang, dengan penuh rasa senang, saya berbagi kabar ini: New Directions akan menerbitkan novel saya Cantik itu Luka (Beauty is a Wound, tr. Annie Tucker). Direncanakan terbit di Musim Semi, 2015.

15 Comments

  1. Sepertinya jalan masuk nomine Nobel

  2. Selamat Mas Eka, saya sebagai pembaca sastra Indonesia sungguh sangat senang mendengarnya dan berharap novel berkualitas seperti itu disiarkan ke publik internsional.

    Salam hangat….

    Bje

  3. Selamat Mas Eka! Tak sabar ingin baca versi Amerikanya.

  4. sip. selamat bung eka. ini kabar baik dan menggembirakan pembacamu!

  5. wah, kerenn.. selamat ya mas :)

  6. Satu kata: keren. Cantik itu Luka merupakan salah satu novel terbaik yang dimiliki Indonesia. Menunggu novel besar Eka yang terbaru. Ngefans pisan ka tulisana kang Eka.

  7. Selamat ya, tp maaf sebelumnya Mas Eka, sya punya pertanyaan untuk berita yang sering dibilang orang2 sejak lama,
    apa benar Mas Eka membayar penerbit di Jepang agar menerbitkan novel Mas Eka? klarifikasi dr Mas Eka kurasa cukup perlu
    bagi org spt saya yg suka karya mas eka,

    Leny

    • @Leny Purwita:
      Saya malah baru dengar berita semacam itu. Jika pun saya mau membayar, saya tak punya uang untuk melakukannya. Jangankan di Jepang, di Indonesia pun saya tak pernah mengeluarkan uang untuk menerbitkan karya sendiri. Sesederhana saya tak punya uang untuk itu. Tapi jika ada yang berpikir saya punya uang melimpah, saya ucapkan terima kasih. Saya anggap sebagai doa yang baik :-)

      • Baiklah Mas Eka, nanti saya tanyakan lagi pada orang yang sempat bicara dengan penerbit jepang itu.
        yang mau bertanya soal ini sebenarnya bukan hanya saya, namun biarlah saya mewakili mereka. Kalau anda yakin soal ini sebaiknya anda klarifikasi saja ke publik
        sebab di dunia sastra Indonesia yang sangat nyinyir ini dan semua orang berkelahi ini, anda sangat perlu memberi klarifikasi

        Sukses selalu

        • @Leny Purwita
          Saya sudah klarifikasi di atas. Jika masih ragu (saya tak tahu kenapa orang lain penasaran dengan hal ini?), bisa tanyakan ke penerbit saya Gramedia, atau ke agen yang menjadi perantara saya dan penerbit Jepang, Tuttle-Mori Literary Agency. Soal orang nyinyir dan senang berkelahi, biarkan saja, mungkin mereka bahagia dengan cara seperti itu.

  8. udah lumayan lama kuikuti website mas eka, baru kali ini ada topik yang seru.
    maksudnya selama ini hanya puji2an saja, atau website ini penuh dgn kutipan nama2 penulis besar, agak berlebihan malah. mungkin topik spt ini perlu juga sekali-sekali.
    soal mas eka membayar penerbit jepang itu aku juga sering dengar. tapi mas eka, mari liat sisi positifnya,
    banyak penulis membuat website atau blog lalu menenggelamkan dirinya dalam pujian sobat2nya sendiri,
    istilah yg sering disebut orang ;novel ditulis sendiri, dipuji sendiri, hal itu tampak benar di website ini dan lama2 jadi bosan, blm lagi soal penulis2 besar dunia itu.
    klarifikasi bhw mas eka tdk pernah membayar atau menawarkan diri untuk membayar penerbit jepang
    sangat perlu karena berita itu udah lama beredar. tak ada api maka tidak ada asap. jika tdk diklarifikasi-maksudnya bukan hanya lewat percakapan di kolom ini, orang akan beranggapan
    berita itu benar, this is for your own good, sir

    Teguh dan tetap berkarya

    • @wina_r.wardoyo:
      Terima kasih atas perhatiannya. Blog ini saya rombak total sejak akhir tahun lalu, isinya seperti yang kamu bisa lihat. Ini tempat saya belajar kembali kesusastraan. Saya terbiasa belajar sendiri, bikin kurikulum untuk diri sendiri. Tahun 2013 ini saya berjanji akan membaca penulis-penulis kontemporer dunia (umur sekitar lahir 1950-an, atau 40an, 60an), dan menuliskan apa yang saya pikirkan tentang mereka, dalam bentuk jurnal (anda bisa lihat posting di akhir tahun lalu, saya sudah membicarakannya). Saya tak terlalu peduli apakah orang tertarik dengan cara belajar saya atau tidak. Tahun 2014 rancangan belajar saya akan mundur ke belakang. Ke masa klasik. Dari Cervantes hingga Knut Hamsun. Saya ingin belajar kembali tentang karya-karya Gogol, Dostoyevsky, Rebelais, Leskov. Saya tahu itu akan membosankan untuk sebagian orang, tapi saya tetap akan melakukannya. Seperti Anda bilang: demi kebaikan saya sendiri. Dengan kata lain, blog ini akan tetap berisi omongan saya tentang penulis-penulis besar, karena saya sedang belajar dari mereka. Dan akan tetap berisi kabar tentang novel-novel saya, karena saya bangga dengan anak-anak saya. BTW mas (atau mbak?) wina_r.wardoyo, anda orang yang sama dengan Leny Purwita? Komputer saya mengatakan, anda berdua mengirim komentar dari komputer yang sama.

      • saya berada di warnet yang komputer namenya sama dgn versi windownya, xp, namun penjelasan anda soal tuuan website anda cukup menarik,
        dari dul saya pengunjung website ini dan akan terus mengikutinya. Mungkin bisa anda tambahkan cerpen2 anda yang lalu juga
        di sini

        Salam

    • donny sembiring

      28 November 2013 at 2:42 pm

      Inilah yang terjadi dalam dunia sastra Indonesia ini. Perkara apakah benar Eka Kurniawan
      membayar penerbit jepang agar bukunya terbit di negara sakura adalah soal dapur orang.
      Sebaiknya Leny memberi kritikan pada karya eka saja. Karena tidak punya kemampuan sastra untuk mengkritik
      maka Leny mengutak-atik hal yang tidak relevan. kalau kita tidak tahu sastra sebaiknya diam saja, sehingga tidak terjadi
      keributan spt di Kahtulistiwa Literary Awards 2013 sekarang gara-gara Damar Juniarto, yang tanpa
      riwayat kapasitas sastra yang jelas tahu-tahu menjadi jurinya. Akhirnya merugikan Leila Chudory. Itu pelajaran berharga.
      Namun kalau sudah begini, sebaiknya eka memang membuat klarifikasi.

      semoga komen saya ini bermanfaat

      Donny

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑