Eka Kurniawan

Journal

Artikel dari Berita Harian

Berita Harian, 7 Juli 2014

Berita Harian, 7 Juli 2014

Ini merupakan kliping dari koran Berita Harian, Malaysia, tentang acara Borak Buku yang saya ikuti tanggal 23 Juni 2014 lalu. Versi pdf artikel tersebut bisa dibaca di Scribd. Terima kasih untuk Wan Nor Azriq dan Ainunl Muaiyanah untuk kiriman kliping ini. Sila baca pula ulasan terbaru tentang novel Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas dan Corat-coret di Toilet:

1 Comment

  1. Secara stilistika, bahasanya sudah bagus dibandingkan novel CIL dan LH. Lebih ekonomis, mendekati gaya ‘puncak es’ Hemmingway. Tidak boros dengan kalimat majemuk seperti CIL dan LH.

    Potensi novel baru ini sebenarnya besar, jika tidak tergesa-gesa untuk diterbitkan. Pertama, bisa dibikin lebih picaresque, seandainya Ajo Kawir dan Tokek dibikin lebih bengal, lebih nakal, tanpa harus boros dengan kata-kata vulgar. Lebih bagus kalau petualangannya yang mencerminkan kenakalan, eksplorasi sisi ‘picaro’-nya kata orang Spanyol, bukan bahasanya yang harus dibikin vulgar seperti itu.

    Kedua, dari sisi bahasa, bagusnya dibikin lebih kental dengan penggunaan bahasa vernakular, mungkin perlu nuansa Sunda yang lebih nakal tanpa harus menggunakan kata vulgar untuk organ genital. Jim dalam cerita petualangan Huck Finn jadi lebih menarik karena penggunaan bahasa yang melekat pada karakternya. Sisi humor bisa lebih terasa kalau novel ini membangun keluguan Ajo Kawir atau Tokek dengan bersandar pada lokalitas karakter seperti Kabayan, bukan kenakalan picaresque seperti Huck Finn & Tom Sawyer yang sehari-harinya hanya dibikin memikirkan urusan burung saja.

    Jika tidak terlalu tergesa-gesa, Ajo Kawir atau Tokek sebenarnya bisa mengisi kekosongan karakter dalam cerita Sunda: seperti apa Kabayan masa kecilnya? Sisi masa kecil Kabayan ini belum ada yang mengisi dalam kesusasteraan Indonesia yang berangkat dari penulis dengan latar belakang Sunda. Jika tidak tergesa-gesa dengan tema-tema besar untuk melecehkan maskulinitas untuk memberi ruang bagi feminisme, ia bisa membangun sebuah isme baru tanpa harus berangkat dari simbol ‘burung’ yang identik dengan maskulinitas. Melayani feminisme tidak harus dengan cara mengangkat soal seksualitas. Bisa dengan makanan Sunda, peyeum , yang dikaitkan dengan tema sensitif bahasa, peyeumpuan, misalnya.

    Sekali lagi, ini kelemahan penulis novel ini yang orientasinya mengambil dari Barat, baik itu dari era picaresque Spanyol abad 15-17. maupun Inggris dan Amerika Serikat abad ke-18. Padahal, di sini ada Kabayan yang jauh lebih membumi dan khas, yang belum pernah ditulis dengan gaya narasi otobiografi dari sudut pandang anak kecil dengan gaya picaresque.

    Kelemahan novel ini justru pada hal yang terlalu berlebihan: penggunaan kata-kata vulgar. Padahal potensinya besar untuk digarap dengan lebih elegan dan anggun namun tetap bergaya nakal ala novel-novel picaresque.

    Semua hal di atas tidak akan terjadi jika penulisnya menyadari bahwa sosok seperti Kabayan bisa muncul tanpa mengingatkan orang terhadap atas Don Quixote, seperti halnya sosok seperti Jenderal Nagabonar dimunculkan Asrul Sani dalam sinema Indonesia tanpa harus mengingatkan orang akan Don Quixote. Pada akhirnya, kekuatan tokohlah yang membuat Don Quixote menjadi Don Quixote, Huck Finn menjadi Huck Finn, bukan gagasan atau isme-isme seperti feminisme, lokalisme, dll.

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑