Journal, Tanya dan Jawab

Tanya-Jawab: Media Sastra

Arlian Buana: Saya ingin tahu bagaimana Mas Eka melihat peran media untuk kesusastraan (baik Indonesia maupun dunia), dan media sastra seperti apa yang sebaiknya hadir di tengah-tengah pembaca Indonesia di era internet ini.

Saya rasa media sastra (atau media secara umum) seharusnya lahir dari satu gagasan besar, dari satu kegelisahan, dan tentu saja kemudian lahir dari satu visi mengenai kesusastraan macam apa yang ingin kita ciptakan? Tanpa itu, beribu-ribu media (jurnal, majalah, atau apa pun) hanya akan menjadi tempat pajangan karya untuk memuaskan ego para penulis saja. Hal ini, menurut saya, tengah berlangsung dalam kesusastraan Indonesia yang apa boleh buat, masih didominasi apa yang disebut “sastra koran”. Jujur saja, saya sudah lumayan lama kehilangan selera dengan sastra (utamanya cerpen dan puisi) di koran. Kehilangan selera untuk membaca maupun menulis. Saya tak melihat ada visi maupun gagasan besar di sana. Baiklah, barangkali tak perlu besar, tapi setidaknya gagasan yang menarik: mau dibawa ke mana kesusastraan ini? Apa yang diinginkan koran-koran itu dengan kesusastraan kita? Kesusastraan macam apa yang sedang didesain di masa kini dan masa depan? Saya tak melihatnya. Saya hanya melihat koran-koran itu sebagai tempat pajangan bagi jalan pintas penulis pemula untuk “go national” atau penulis-penulis mapan untuk mengisi daftar hadir tahunan (seperti harimau mengencingi wilayah untuk mengumumkan, “Hey, gue masih ada lho!”). Padahal dengan kekuatan finansial dan jaringan yang luas, koran di Indonesia (di mana sebagian besar penulis terpenting Indonesia menulis di sana), harusnya bisa menjadi lokomotif bagi kemajuan kesusastraan. Baiklah, untuk lebih adil, saya rasa ini tak hanya terjadi di kita. Selama bertahun-tahun, saya juga mengikuti karya-karya sastra di tiga media internasional, yang bolehlah dianggap cukup “mainstream” untuk ukuran kesusastraan: Granta, New Yorker, dan The Paris Review. Dari masa sepuluh tahun lalu sampai hari ini, situasinya kurang-lebih sama (Haruki Murakami akan berkata, “Hey, cerpen gue diterbitin lagi, dan lagi, dan lagi.”). Media-media internasional itu barangkali sedikit beruntung karena ia menyaring tulisan-tulisan terbaik dari seluruh dunia. Kita menemukan Roberto Bolaño atau Cesar Aira dalam satu dekade terakhir, misalnya. Tapi yang terpenting sebenarnya bukan “menemukan”, tapi bagaimana media-media ini, internasional maupun nasional atau bahkan lokal, bisa ikut “menciptakan” kesusastraan. Tentu saja karya sastra diciptakan oleh para penulisnya. Tapi institusi semacam media, dengan kebijakan editorial (dan dalam kasus tertentu kemampuan finansial), bisa memberi rancangan besar arah kesusastraan. Saya tak bilang bahwa para penulis harus didikte oleh kemauan institusi media, tapi kenyataan sederhana, institusi media memiliki kekuatan untuk melakukan hal itu. Sebagai contoh, generasi emas kesusastraan di Argentina saya rasa tak akan muncul tanpa kehadiran majalah Sur, yang didukung antara lain oleh filsuf Spanyol José Ortega y Gasset. Majalah ini antara lain melahirkan Jorge Luis Borges, Julio Cortazar dan Adolfo Bioy Casares. Atau tengok kontribusi Les Temps Modernes bagi kesusastraan (dan filsafat) Prancis di masa Jean-Paul Sartre dan Jean Genet (termasuk memuat ulasan yang mengawali perpecahan persahabatan Sartre dan Albert Camus). Atau bagaimana Poedjangga Baroe melahirkan generasi Pujangga Baru. Tentu saja gagasan-gagasan yang melatar-belakangi majalah atau jurnal-jurnal tersebut barangkali tak lagi relevan atau menarik saat ini, dan tak selalu harus terus-menerus relevan dan menarik. Tapi bahwa ia membawa satu gagasan dan bagaimana ia ikut menciptakan kesusastraan (dan karya intelektual lainnya) di satu masa, saya rasa itu yang terpenting. Jadi sekali lagi, menurut saya media tentu saja sangat penting bagi kesusastraan. Buku sendiri merupakan media. Tapi tanpa gagasan cemerlang di belakangnya, tanpa visi dan kegelisahan, pada akhirnya ia hanya tempat pajangan. Hanya etalase. Lupakan saja menciptakan media sastra baru jika tujuannya hanya itu. Kita membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar tempat pajangan. Media bisa berbentuk jurnal, majalah, koran tercetak, atau jurnal online, atau sesederhana sebuah blog yang diterbitkan oleh perorangan, tapi yang penting adalah gagasan apa yang dibawa. Internet sendiri secara luas merupakan media. Ada penulis Irak yang (karena keadaan negaranya yang porak-poranda), menuliskan cerpen-cerpennya di internet. Hasilnya, ia salah satu penulis cerpen penting dunia saya kira. Namanya Hassan Blasim. Karya yang baik bisa lahir di mana saja. Jika kamu tertarik membuat media sastra, tanyakan kepada diri sendiri beberapa hal ini: 1) Apakah media yang ada memang tak memadai? 2) Apa yang akan membedakan karya-karya di media barumu dengan karya-karya di media lain? Dan yang terpenting sekali lagi: 3) Kesusastraan macam apa yang ingin kamu perjuangkan sehingga kamu merasa perlu menciptakan media baru karena media yang sudah ada tak memberinya tempat?



Standard
Journal, Tanya dan Jawab

Tanya-Jawab: Perlukan Pelajaran Sastra untuk Anak Sekolah?

Fajar Riadi: Saya membaca beberapa catatan Mas Eka, tapi (entah kalau saya silap) belum menemukan catatan bagaimana sebaiknya mengenalkan sastra kepada anak-anak. Bisakah Mas Eka memberi usulan? Saya mengira, sama dengan anak-anak SD-SMP kebanyakan, mereka tak banyak mendapat pelajaran sastra yang memadai di sekolah.

Sejujurnya saya juga tak punya banyak pengetahuan soal ini. Pertama, saya tak memiliki pendidikan formal kesusastraan, apalagi pendidikan guru sastra. Kedua, seperti anak-anak SD-SMP kebanyakan (menurutmu), masa kecil saya juga dilalui dengan pengetahuan sastra pas-pasan, jika tak bisa dikatakan buruk. Sampai SMA, meskipun saya gemar membaca, bacaan saya sebagian besar apa yang kita kenal sebagai “sastra picisan” yang saya temukan di taman bacaan, selingan dengan beberapa novel remaja dan anak-anak (Lima Sekawan, buku-buku Dr. Karl May, dll). Sementara anak saya masih kecil, baru belajar menulis dan membaca huruf, sehingga saya juga tak bisa berbagi pengalaman secara langsung. Meskipun begitu, jika ada yang tertarik mendengar usulan saya, saya hanya punya satu gagasan untuk memperkenalkan sastra kepada anak-anak: beri mereka buku dan biarkan mereka membaca. Tentu saja disesuaikan dengan umur mereka. Kecintaan terhadap sastra seharusnya dimulai dari kegemaran membaca, dan hanya melalui membaca. Konon menurut satu penelitian (yang saya lupa baca di mana), orang tua yang membaca kemungkinan besar akan melahirkan anak-anak yang juga membaca. Saya rasa hal ini benar, dan kita bisa menanamkan kecintaan anak terhadap membaca melalui hal ini. Sebagai orang tua, sering-seringlah membaca. Membaca di depan anak-anak, membacakan buku untuk anak-anak. Sangat konyol mengharapkan anak-anak jadi gemar membaca buku sementara kita, orang tua, tidak melakukannya. Jika kita, orang tua, tak menganggap membaca buku sebagai hal penting dan menyenangkan, bagaimana anak-anak menganggapnya sama? Tentu saja orang tua yang dimaksud tak hanya orang tua di rumah, tapi juga orang-orang dewasa di komunitas, guru di sekolah. Cukup hanya memberi mereka bacaan dan membiarkan mereka membaca buku? Saya tak ingin muluk-muluk, bagi saya itu lumayan cukup. Mereka bisa membicarakan buku yang mereka baca satu sama lain, mereka akan memperdebatkan karakter mana yang mereka suka dan mereka benci, mereka akan memikirkan sebuah gagasan sederhana yang dikatakan penulis buku … hal-hal seperti itu bisa berkembang di lingkungan yang baik. Lantas bagaimana dengan pelajaran sastra untuk anak-anak? “Pelajaran/pengetahuan sastra” saya rasa tidak diperlukan untuk semua orang, dan saya tak merasa itu sesuatu yang wajib diketahui. Untuk apa mengetahui diksi, cara kerja metafor, apa itu realisme, apa itu dadaisme? Apa pentingnya mengetahui bahwa Dostoyevsky dan Virginia Woolf mempergunakan “arus kesadaran” untuk anak-anak sekolah? Apa pentingnya mengetahui siapa-siapa penulis Pujangga Baru? Lihat saja, selama bertahun-tahun kita diajarkan tentang apa itu pantun, dan sebagian besar orang tetap berpantun dengan cara yang salah. Tak ada gunanya. Saya rasa pengetahuan sastra hanya diperuntukan untuk orang yang meminatinya saja, untuk orang-orang yang berminat menjadi penulis atau peneliti sastra. Yang wajib dimiliki seorang anak sebaiknya “kemampuan membaca” dan “kemampuan menulis”, ketimbang “pengetahuan sastra”. Kemampuan membaca akan memberi landasan bagi anak-anak untuk menganalisa cara berpikir, menerima gagasan, dan terutama pada akhirnya kepada sikap toleran. Kemampuan menulis juga akan memberi landasan anak-anak untuk menata pikirannya, bekerja dengan logika, dan terutama mengungkapkan serta mempertanggungjawabkan pendapat dan gagasan. Pelajaran sastra? Bahkan meskipun saya penulis, saya tak melihat hal praktis dari pelajaran sastra untuk semua orang. Penting bagi saya, karena saya menyukainya dan hidup di dalamnya, sebagaimana pengetahuan tentang konstelasi bintang-bintang penting bagi kosmolog dan astronom. Gagasan saya mengenai pelajaran sastra di sekolah sih rada ekstrem: kalau perlu pelajaran sastra dihapus saja dari sekolah-sekolah, jadikan sebagai pelajaran pilihan (karena berpotensi memberi beban berlebihan kepada anak didik), sebagaimana dulu waktu saya SMP pernah mengambil pelajaran pilihan elektronik. Sebagai gantinya, beri “Pelajaran Membaca dan Menulis”, perdalam kemampuan membaca dan menulis (yang pasti berguna, bahkan di luar urusan kesusastraan).



Standard