Tanya dan Jawab

Giovanni aka Ipang: Mas Eka, saya ingin membuat photo essay tentang Mas Eka, tentang kehidupan sehari-hari Mas Eka. Saya bukanlah seorang fotografer profesional, cuma seorang yang punya passion di fotografi.

Dengan sangat menyesal, saya tak bisa memenuhinya. Sebagai penulis, jika berkenan sila membaca tulisan saya yang sudah terbit. Kehidupan pribadi saya, kehidupan sehari-hari saya, sangatlah tidak penting untuk kebanyakan orang. Biarlah itu menjadi milik saya sendiri, yang saya bagi cuma dengan sedikit orang.

(dari Tanya dan Jawab)

Tanya Jawab #3

Aside
Tanya dan Jawab

Aditya Ghozali (Pertanyaannya panjang, tapi saya penggal untuk hal yang saya pikir esensial saja): Dan kata mereka [penerbit], fiksi saya bukanlah bacaan fiksi yang populer. Susah sekali menembus penerbit yang di kuasai pasar buku pop. Apakah usaha, waktu, pikiran dan tenaga yang saya kuras tidak manfaat, dan sebaiknya saya berhenti atau tetap melanjut? Bagaimana cara mas Eka dahulu berjuang dan adakah penerbit yang masih mencari naskah berbau sastra?

Pertama-tama, lupakan saja pikiran soal berbau sastra atau tidak. Penerbit yang (mengaku) hanya menerbitkan karya sastra pun bisa menolak karya yang (dipikir penulisnya) berbau sastra. Penerbit punya alasan masing-masing untuk menerbitkan sebuah naskah. Penulis bisa mengikuti kemauan mereka, bisa pula tidak. Novel pertama saya ditolak banyak penerbit, tapi saya pikir itu bukan cerita penting. Sebagian besar penulis mengalaminya. Kamu bukan satu-satunya orang yang dikacangin penerbit. Tak perlu kesal soal itu, juga tak perlu bangga. Pertanyaanmu yang paling penting adalah, “Sebaiknya saya berhenti atau tetap melanjut”? Dan yang bisa menjawab hanya kamu. Jawabanmu akan menunjukkan penulis macam apa dirimu, sekarang dan kelak.

(dari Tanya dan Jawab)

Tanya Jawab #2

Aside
Tanya dan Jawab

Mustikowati: Buku pertama yg saya baca adalah Cantik itu Luka. I’m so impressed. Saya lanjutkan dengan Lelaki Harimau, S.D.R.H.D.T, dan O. Satu yg terasa beda adalah penggunaan kata “tidak” pada C.I.L anda ubah menjadi “enggak” pada novel-novel selanjutnya. Mengapa? (because I prever the first one?). Terima kasih.

Bagi saya sesederhana itu merupakan bagian dari perubahan luas antara era Cantik Itu Luka/Lelaki Harimau (sila perhatikan kembali novel ini) ke era Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas/O yang terentang hingga 10 tahun. Mengapa? Karena itu hanya satu persoalan dari banyak hal yang menarik hati dan pikiran saya, pembicaraannya akan luas sekali. Tapi bisa kita persempit di kata “tidak” dan “enggak” saja, sesuatu yang sebenarnya pernah saya bicarakan di jurnal ini: sementara pada dasarnya saya masih mempergunakan kata “tidak” di sana-sini, pada saat yang sama saya enggak mau membunuh “enggak”. Ini sejenis diplomasi kecil, tentang kata-kata yang seringkali harus dibunuh hanya karena kebakuan, aturan, atau bahkan sopan-santun.

(dari Tanya dan Jawab)

Tanya Jawab #1

Aside
Journal, Tanya dan Jawab

Tanya-Jawab: Apakah Kemampuan Menulis Saja Tidak Cukup untuk Menciptakan Karya Penting?

Bernard Batubara: Naguib Mahfouz adalah novelis yang karyanya dianggap kontroversial dan masuk daftar buruan kelompok Islam fundamentalis di negaranya. Orhan Pamuk sangat kritis dan diperkarakan oleh kelompok nasionalis di Turki ke meja persidangan gara-gara di sebuah wawancara sempat berbicara tentang pembantaian kaum Armenia pada masa pemerintahan Ottoman. Pramoedya Ananta Toer ditangkap dan dibuang ke Pulau Buru karena karya-karyanya ditentang oleh pemerintah Orde Baru. Pertanyaan saya: Apakah hanya dengan menjadi ‘berbahaya’ seseorang dapat menjadi pengarang besar? Apakah kemampuan menulis saja tidak cukup untuk menciptakan karya penting dan meletakkan nama kita di dalam sejarah kesustraan, baik dalam negeri maupun dunia? Apakah tidak ada tempat di dunia kesusastraan bagi penulis yang ingin hidup biasa-biasa saja dan tenang-tenang saja?

Jika yang kamu maksud ‘berbahaya’ adalah bermasalah dengan penguasa atau masyarakat, ya jelas tidak harus begitu. Banyak penulis besar, dengan karya besar, hidup relatif biasa-biasa saja. Franz Kafka, jika kita membaca biografinya, lebih sering bermasalah dengan ayahnya, pekerjaannya, dan tunangannya, daripada dengan negara maupun masyarakat, tapi kita tahu pengaruhnya terhadap kesusastraan dunia bisa dikatakan sangat besar. Shakespeare dalam tingkat tertentu bahkan menikmati hidupnya sebagai penulis sekaligus selebritas, bisa dibilang kaya-raya dan diakui oleh kerajaan sehingga ia memperoleh gelar kebangsawanan. Hidupnya baik-baik dan tenang-tenang saja. Dan kita bisa sebut bahwa separuh penulis di dunia ini bernenek-moyang kepadanya. Dan Mo Yan, yang belum lama ini memperoleh Nobel Kesusastraan, saya kira juga menikmati hidup yang tenang-tenang saja. Memang ada karyanya yang pernah dilarang (The Garlic Ballads diterjemahkan melalui edisi Taiwan yang tidak disensor, seingat saya), tapi tetap saja ia bisa dibilang hidup tenang-tenang saja. Sebab kita tahu dia “pejabat” pemerintah dan hubungannya dengan kekuasaan cukup akrab. Daftar ini bisa sangat panjang, tentu. Hubungan tidak mesra antara penulis (dan intelektual secara umum) dengan kekuasaan dan masyarakat, selain itu, saya kira ada kaitan yang erat juga dengan faktor penerimaan lingkungan tertentu terhadap gagasan-gagasan baru ataupun yang berbeda. Ketika Jose Saramago menerbitkan The Gospel According to Jesus Christ, sudah jelas menimbulkan reaksi yang keras dari umat Katolik, tapi saya tak pernah mendengar ada “fatwa mati” ditujukan kepadanya, dan novel itu beredar dengan bebasnya. Hal ini berbeda ketika Salman Rushdie menerbitkan The Satanic Verses, yang kita tahu telah membuat penulisnya harus bersembunyi bertahun-tahun. Sebagai seorang muslim, saya menikmati novel itu, menganggapnya sebagai “inside joke” (sesuatu yang hanya bisa dinikmati oleh sesama muslim yang mengerti) tentang insiden ayat palsu yang diturunkan oleh setan, tanpa harus mengikis rasa hormat kepada Rasul (bahkan meskipun Rushdie bermaksud menghina, saya tak akan membiarkan diri saya terhasut olehnya). Jika semua muslim bisa menerima dengan cara seperti itu, ya barangkali Rushdie tak harus sembunyi ke mana-mana. Dan mari kita berandai-andai tentang Pamuk: seandainya ia penulis Amerika dan ia bilang, “Kaum kulit putih Amerika telah membantai orang-orang Indian hingga banyak suku-suku mereka punah,” apa yang akan terjadi? Saya yakin tak ada yang menggiringnya ke pengadilan. Saya tak bermaksud mengagung-agungkan orang Amerika, toh di bagian lain, mereka juga punya kekonyolannya sendiri. Dan tentang Pramoedya, dia relatif hidup tenang-tenang saja sebelum Soeharto berkuasa, dan baik-baik saja setelah Soeharto tumbang. Kita perlu bersyukur bahwa saat ini kita relatif bisa mengatakan banyak hal. Kita bisa bilang negara bertanggung jawab terhadap ratusan ribu (atau jutaan) simpatisan komunis yang dibantai. Kita juga bisa bilang, rakyat Papua berhak menentukan nasibnya sendiri. Meskipun ya, tampaknya kita masih tak akan aman sentosa berkeliaran di jalan dengan kaus bergambar palu dan arit. Yang perlu diingat, ada banyak penulis dibuang ke Pulau Buru bersama Pramoedya, tapi kenyataannya bisa dibilang hanya Pramoedya yang “dibaca”. Tapi mari kita bicara sesuatu yang lebih mendasar. Menurut saya, pada dasarnya semua penulis bisa dianggap berbahaya. Kenapa? Sebab tugas utama seorang penulis adalah menularkan gagasan dari dirinya ke orang lain. Dan gagasan yang tertanam ke pikiran orang lain, seringkali lebih permanen dan membahayakan melebihi virus yang menyusup ke tubuh. Tentu saja ini terlepas dari fakta bahwa ada gagasan yang sederhana dan ada gagasan yang kompleks, besar, revolusioner, aneh, dan macam-macam lainnya. Sebuah novel barangkali bisa mengubah seorang yang rasis menjadi toleran, sebuah puisi barangkali bisa mengubah sebaliknya, yang toleran menjadi homofobia, misalnya. Adakah yang lebih berbahaya daripada virus pikiran? Virus pikiran ini bisa berkembang dengan wajar di masyarakat yang bisa menerima gagasan baru dan perbedaan, dan menciptakan dialog yang sehat. Tapi di masyarakat atau komunitas yang tak siap, seringkali menciptakan benturan dan tak jarang menimbulkan kekerasan (penulis terpaksa eksil, dipenjara, dibunuh, karena gagasan mereka tak bisa diterima). Ketika benturan-benturan ini terjadi, hanya ada dua hal bisa dilakukan seorang penulis: tetap tegak dengan keyakinannya, atau merunduk dan menyerah kepada tekanan. Perbedaan keduanya akan menujukkan perbedaan kepribadian mereka, yang barangkali sedikit banyak juga memengaruhi kepada etos dan karya mereka. Sekali lagi, tentu saja seorang penulis bisa hidup biasa-biasa dan tenang-tenang saja, dan banyak contoh kehidupan seperti itu. Tapi di saat-saat tertentu, kita juga melihat ada penulis (dan kaum intelektual) menempuh tradisi Socrates, ketika ada yang harus dikatakan, mereka memilih untuk mengatakannya apa pun risikonya. Sekarang untuk pertanyaan tersisa, Apakah kemampuan menulis saja tidak cukup untuk menciptakan karya penting dan meletakkan nama kita di dalam sejarah kesustraan, baik dalam negeri maupun dunia? Saya ingin menjawabnya melalui analogi. Apakah kemampuan berenang saja tidak cukup untuk seekor ikan mencatatkan namanya di sejarah kelautan? Saya tak ingin menjawab dengan cukup atau tidak cukup, tapi satu hal jelas: ada miliaran ikan pandai berenang, seekor ikan harus “stand-out” untuk membuatnya terlihat. Dan percayalah, di dunia ini ada jutaan penulis yang bisa menulis bagus, mungkin jutaan yang lebih bagus dari kita. Dan ada jutaan karya yang bagus juga. Ini logika sederhana saja: di antara jutaan penulis yang bagus kemampuan menulisnya, apa yang bisa membuat seseorang dilihat/didengar? Saya rasa perbedaan mencoloknya terletak pada gagasan dan visi (termasuk gagasan/visi bagaimana sebuah cerita seharusnya ditulis), yang apa boleh buat, kadang-kadang membuat mereka terpaksa meletakkan dirinya dalam keadaan, yang kamu sebut “berbahaya”. Lagipula ujung-ujungnya, apa sih tujuanmu menulis? Ingin mencatat atau dicatat?

Standard
Journal, Tanya dan Jawab

Tanya-Jawab: Kritik Sastra Sebagai Marginalia

Herry Anggoro Djatmiko: Bung Eka, sebenarnya apakah kritik sastra itu penting atau tidak penting?

Jika kamu suka menonton sepakbola sekaligus senang mendengar atau membaca ulasan-ulasan tentangnya (statistik pertandingan, taktik bermain, dll), seharusnya kamu menganggap “kritik” sebagai sesuatu yang penting. Jika kamu hanya suka menonton sepakbola tanpa mau tahu komentar apa pun tentang olahraga itu, sebab bagimu sepakbola adalah soal menikmati (atau) bermain sepakbola saja, boleh jadi kamu akan menganggap “kritik” sebagai sesuatu yang tidak penting. Saya rasa itu juga berlaku untuk sastra dan kritik sastra. Ini bukan lagi perkara penting atau tidak penting, tapi bahwa kritik itu sudah pasti ada. Suka tidak suka, penting tidak penting, kita tak mungkin mengenyahkan kritik sastra dari kehidupan kesusastraan. Bahkan meskipun kebanyakan orang yakin bahwa kritik sastra ada setelah karya sastra, bagi saya keduanya merupakan sesuatu yang inheren. Kritik sastra memang timbul karena ada karya sastra, tapi kemunculannya merupakan sesuatu yang “tak terelakkan”. Sesuatu yang akan ada karena yang lain ada. Kritik sastra menjadi sejenis “teror” bagi para pembaca umum, para pembaca yang tidak berkecimpung di dunia akademis maupun penulisan, saya rasa karena memang sifat umum kritik sastra yang secara alamiah tidak ditujukan untuk pembaca umum (meskipun ada yang mencobanya). Bahkan saya selalu merasa, sifat alamiah kritik sastra merupakan sesuatu yang personal, meskipun kemudian ilmu pengetahuan dan tradisi akademis membuatnya menjadi “obyektif”. Personal dalam arti, jika ada seratus orang membaca novel yang sama, maka semestinya ada seratus kritik sastra yang dihasilkan. Kritik itu bisa dituliskan, bisa pula hanya bersarang di pikiran pembaca. Tanggapan seorang pembaca atas sebuah karya merupakan cikal-bakal tradisi kritik sastra, dan sekali lagi, itu sesuatu yang tak terelakkan. Tapi tentu saja kritik sastra tak semata-mata tanggapan. Pertama-tama, standarnya, itu kemudian dituliskan. Setidaknya, dibuat untuk diketahui oleh orang lain (bisa pula dikatakan). Dan apa bentuk paling primitif dari tanggapan tertulis ini? Salah satunya: marginalia. Coretan-coretan pembaca yang ditulis di antara baris kalimat, atau di ruang kosong di samping blok teks (yang disebut “margin”), atau dalam bentuk yang modern, dalam kertas kecil Post-it yang ditempel di satu halaman buku. Apa yang bisa ditulis di marginalia? Apa saja boleh. Belum lama saya melihat foto buku Lives karya Plutarch milik Mark Twain. Di sana ada coretan sang pemilik. Di tulisan “Translated from Greek by …”, Twain menyisipkan frasa dengan tulisan tangannya menjadi “Translated from Greek into rotten English by …” Tradisi menulis marginalia masih berlaku sampai sekarang. Karena sifatnya yang personal dan tidak baku, pembaca lain seringkali tak mengerti maksudnya. Kadang kita hanya menemukan sebuah kalimat yang diberi stabilo kuning, dan hanya si pelaku yang tahu apa maksudnya kalimat itu distabilo. Atau kita cuma menemukan ekspresi singkat, “Kampret!”, atau “Enggak gitu juga kali”, atau “Mia seharusnya membaca halaman ini”, dan lagi-lagi hanya si pelaku yang mengerti maksudnya. Tradisi kritik sastra yang baku, yang akademis, mencoba mengikis hal yang terlalu personal ini, sehingga tanggapan apa pun terhadap sebuah karya bisa dimengerti oleh orang lain. Dengan kata lain, ada pertanggungjawaban keilmuan di sana. Dalam kasus Mark Twain, jika ia mengembangkan marginalia-nya menjadi kritik sastra, ia akan menjelaskan kenapa terjemahan buku itu bahasa Inggrisnya busuk. Apakah hal-hal seperti itu berguna? Dalam sepakbola, saya yakin kemajuan teknik bermain, teknik pemulihan fisik, bahkan rancangan bola, serta industri secara keseluruhan, sedikit banyak berutang kepada para kritikus sepakbola. Para kritikus ini menonton banyak pertandingan, melihat detail-detail, dan membuat kesimpulan-kesimpulan serta teori-teori. Para pelatih dan pemain bisa menerapkannya, sekaligus mengujinya. Hal itu juga bisa berlaku di kritik sastra. Yang membedakan kritik sastra dan kritik-kritik di bidang lain (kritik film, kritik senirupa, kritik kebijakan) adalah fakta sederhana: kritik sastra diungkapkan dengan alat yang sama dengan karya sastra yang dikritiknya, yakni bahasa. Dengan kata lain, kritik sastra bisa dianggap sebagai karya sastra itu sendiri. Dalam soal ini, hubungan unik antara kritik sastra dan karya sastra yang terhubung oleh bahasa, saya rasa hanya bisa ditandingi oleh filsafat. Dalam filsafat, semua karya filsafat sudah jelas merupakan kritik filsafat, dan begitu sebaliknya. Satu dan tak terpisahkan. Kembali soal penting tidak penting, pertanyaan serupa bisa diajukan kepada karya sastra genre lainnya (novel, puisi, esai, cerpen, dll): penting tidak sih keberadaan novel? Saya pribadi suka membaca karya kritik sastra, terutama jika ditulis dengan baik, menyenangkan, membuka gagasan baru, dan “mengganggu” pikiran saya. Seperti jenis karya sastra yang lain, saya tidak suka kritik sastra yang ditulis terutama dengan cara membosankan. Kalau kritik sastra sekadar dipahami sebagai “Analisis Unsur Instrinsik Novel …” memang sih membosankan. Sangat membosankan.

Standard
Journal, Tanya dan Jawab

Tanya-Jawab: Pengaruh Sastrawan Indonesia

F Daus AR: Ini pertanyaan agak pribadi. Sejauh mana pengaruh sastrawan Indonesia terhadap karya yang Anda gubah. Nama yang saya maksud di luar sastrawan Indonesia yang sudah sering dibahas di jurnal. Misalnya saja, Kuntowijoyo, yang wafat 22 Februari 2005 silam.

Jawabannya juga agak pribadi. Ada satu peristiwa yang pernah membuat saya sangat sedih. Seperti saya pernah mengatakannya, [Cantik Itu Luka], novel pertama saya pernah ditolak beberapa penerbit. Oh, itu bukan bagian sedihnya. Soal itu saya tak terlalu peduli, dan di masa itu saya masih cukup punya kepercayaan diri anak muda bahwa cepat atau lambat saya akan menemukan satu cara untuk menerbitkannya. Hal yang membuat saya sedih datang beberapa tahun kemudian. Akhirnya saya bertemu dengan satu editor yang pernah menolak novel tersebut (nama dan tandatangannya memang tertulis di nota kecil penolakan itu), dan dia secara terus-terang bilang membaca novel saya dan menolaknya, salah satu alasannya: novel itu tidak masuk kriteria/preferensi dia mengenai novel sastra yang bagus. Menurutnya, novel sastra yang bagus mestinya seperti novel-novel Mangunwijaya, Kuntowijoyo, Ahmad Tohari. Tentu saja saya kemudian membaca beberapa karya mereka, dan saat itulah saya merasa sangat sedih. Saya sedih karena saya tahu persis: 1) saya tak ingin menulis novel seperti mereka, 2) jika ukuran kesusastraan (Indonesia) yang bagus diukur dengan karya-karya mereka, saya merasa tak memiliki tempat di peta kesusastraan dan kemungkinan besar saya tak ingin menjadi penulis. Meskipun begitu, di tengah kesedihan itu, saya patut bersyukur bahwa saya mendengarnya setelah “telanjur” jadi penulis, di usia saya yang jauh lebih dewasa, dan apa pun yang dikatakan orang tentang “sastra Indonesia yang bagus”, saya dengan keras kepala bisa membuat patok sendiri di hamparan peta itu, untuk saya dan karya-karya sendiri. Atau jika tidak diberi tempat, saya akan membuat peta sendiri. Jadi menjawab pertanyaan di atas, saya kuatir bahwa pengaruh penulis-penulis ini atas saya bisa dikatakan kecil atau tidak langsung. Bukan karena saya tak suka atau mereka tak bagus, tapi sesederhana bahwa saya memang baru mengenalnya belakangan. Dalam hal ini, saya akan mundur ke belakang. Izinkan saya menceritakan sejarah membaca saya, yang barangkali bisa menjelaskan kenapa hanya segelintir penulis Indonesia (yang itu-itu saja) yang sering saya bicarakan, dan yang pengaruhnya banyak membekas, dan kenapa ada begitu panorama kesusastraan Indonesia yang saya “tinggalkan” dan menciptakan lubang besar. Saya jarang menceritakan hal ini, dan hanya pernah sekali menceritakannya secara lengkap kepada seorang pengamat Indonesia yang penasaran karena “tampaknya saya tak terlalu peduli dengan penulis-penulis Indonesia” (dia bilang kepada saya, ini sejenis arogansi yang juga ada pada Pramoedya, hahaha). Baiklah, saya bisa dibilang tak memiliki sejarah yang baik dengan kesusastraan Indonesia. Hingga selesai SMA, tak banyak karya “sastra” yang saya baca. Anda semua tahu bagaimana pendidikan kita di tahun 80-90an. Saya tinggal dan sekolah di sebuah kota kecil, Pangandaran. Tak ada toko buku dan tak ada perpustakaan. Saya memang senang membaca buku, tapi yang bisa saya peroleh hanyalah novel-novel “picisan”: Asmaraman S. Kho Ping Hoo, Abdullah Harahap, Bastian Tito, buku stensilan. Sebagai selingan, saya juga membaca Enid Blyton, Karl May. Lupakan kanon-kanon sastra Indonesia, saya tak pernah melihatnya. Jika di masa remaja itu saya ingin menjadi penulis novel, sudah pasti novel yang ingin saya tulis adalah novel horor atau cerita silat. Saya pernah mencobanya sebelum dibuang ibu saya karena kertas-kertas itu menumpuk dan menjadi makanan rayap. Selesai SMA, saya pindah ke Yogyakarta. Kuliah di UGM. Melanjutkan kegemaran membaca (yang tak terpuaskan di kondisi kota kecil tempat saya tinggal), saya dibuat terpana menemukan perpustakaan. Sepanjang masa kuliah, saya menghabiskan lebih banyak waktu di perpustakaan, dan favorit saya selama enam tahun itu adalah ruangan kecil di perpustakaan kampus di mana saya bertemu Toni Morrison, Salman Rushdie, Gabriel García Márquez, Leo Tolstoy, Dostoyevsky, Melville, Knut Hamsun dll (ada satu rak yang dipenuhi oleh buku-buku terbitan Everyman’s Library). Tololnya saya, bahkan saat itu saya tak sadar tengah menghadapi kanon-kanon kesusastraan dunia. Bagi pikiran anak pantai ini, saya hanya sesederhana membaca novel, melanjutkan kegemaran saya. Saya lumayan beruntung bisa membaca bahasa Inggris. Ayah saya yang mengajari sejak kecil, meskipun seperti saya, dia mengajar sambil lalu dan ogah-ogahan. Baru bertahun-tahun kemudian saya menyadari (orang lain yang kemudian mengatakannya kepada saya), masa awal 90an itu merupakan “lompatan” dalam sejarah membaca saya. Dari sastra picisan yang dibaca di masa remaja, saya kemudian “melompat” membaca kanon-kanon dunia. Di antara kedua jenis bacaan itu, saya melewatkan karya-karya “kanon” kesusastraan Indonesia, kecuali Pramoedya Ananta Toer yang saya peroleh dari beberapa teman di masa-masa kami turun ke jalan, melemparkan batu ke polisi, antara tahun 1996-1998. Saya selalu percaya, selera kita jauh lebih banyak terbentuk ketika kita masih muda. Maka jika saat ini ada yang bertanya karya sastra macam apa yang ingin saya tulis, jawaban saya kurang-lebih masih sama seperti di masa remaja: saya ingin menulis novel silat atau novel horor. Dan sastra yang bagus bagi saya, karena dipengaruhi oleh sejarah bacaan, saya tak bisa tidak merujuk ke Hamsun, Melville, Cervantes. Jika saya boleh berbagi ambisi, (mungkin sederhana, mungkin tidak), saya ingin menulis seperti Kho Ping Hoo, Abdullah Harahap, sekaligus seperti Cervantes atau Melville, atau Gogol. Saya baru membaca sastra Indonesia secara lebih banyak, dan “sadar”, justru setelah saya memutuskan untuk menjadi penulis, selepas 1999. Saya tahu, saya sangat terlambat, tapi saya tak bisa memutar ulang waktu. Dan di umur dewasa seperti sekarang, sangat sulit untuk mengubah selera. Otak kita cenderung menjadi lebih bebal dan membatu bersama dengan bertambahnya usia. Lagipula, haruskah saya mengubah selera sastra saya? Bagi saya bukan tindakan kriminal menempatkan Kho Ping Hoo, Abdullah Harahap dan Pramoedya di atas penulis-penulis Indonesia lainnya. Mereka jelas-jelas memberi arti penting tak hanya dalam karya saya, tapi juga dalam hidup saya. Tanpa sastra picisan itu, saya akan menjalani masa remaja yang membosankan. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada para penulis yang telah meletakkan patok-patok dalam sejarah kesusastraan nasional kita, tak bisa tidak, selamanya saya akan berterima kasih kepada sastra picisan, melebihi kanon-kanon kesusastraan Indonesia lainnya.

Standard
Journal, Tanya dan Jawab

Tanya-Jawab: Monokultur

Gita Wiryawan: Menurut mas Eka, apakah sebaiknya sastra lebih membumi agar pembacanya kian banyak ataukah cukup di tempat semula, yang berjarak (bagi beberapa orang, sastra disebut berada di menara gading) agar bisa dibedakan dengan karya fiksi populer?

Pertanyaan di atas membawa problem serius yang bisa berujung ke sesat pikir. Pertama-tama, apa itu “membumi”? Setahu saya, semua karya sastra di dunia ditulis dengan bahasa dan kata-kata yang diciptakan oleh manusia di bumi, tak ada satu pun yang diimpor dari langit. Bahkan kitab suci yang dipercaya diciptakan langsung oleh Tuhan pun mempergunakan bahasa manusia. Tentu saja manusia juga menciptakan bahasa untuk komputer, tapi 1) Belum pernah lihat novel/cerita yang ditulis dengan bahasa itu, 2) kalaupun ada, manusia tetap bisa mempelajarinya dan mengerti (dengan syarat memiliki kapasitas pengolahan data di kepalanya yang memadai). Jadi dengan asumsi tersebut, seharusnya semua karya bisa dibilang membumi. Baiklah, mari kita membuat asumsi baru bahwa yang dimaksud “membumi” adalah karya-karya yang dekat dengan kehidupan/persoalan pembaca sehingga mudah dipahami oleh mereka (sehingga lebih “populer”). Bahkan asumsi ini pun meninggalkan banyak persoalan. Apakah Harry Potter dekat dengan kehidupan/persoalan pembaca? Bahkan meskipun sihir pernah menjadi persoalan serius dalam peradaban manusia, itu terjadi di zaman kegelapan, ketika tentara inkuisisi Spanyol merajalela di Eropa barat, dan Harry Potter tak ada hubungan langsung dengan hal itu. Baltasar and Blimunda karya Jose Saramago jelas berhubungan langsung dengan kasus tersebut, bisa dibilang “membumi” karena menceritakan kehidupan dan permasalahan yang lebih dekat dengan manusia (bahkan tokohnya, Padre Bartolomeu Lourenço, merupakan sosok yang benar-benar pernah ada), tapi saya yakin novel keren ini jauh kalah populer dari ciptaan J.K. Rowling. Baltasar and Blimunda tak bisa dikatakan tidak membumi hanya karena ia kurang populer dan sulit dipahami oleh masyarakat kebanyakan. Atau coba tengok si Le Petit Prince (Antoine de Saint-Exupéry). Kita tahu novel pendek itu bercerita tentang pangeran kecil yang hidup di planet dan melompat dari satu planet ke planet lain. Tidak membumi? Sekilas, ya. Tapi novel itu juga bercerita tentang ketidakmampuan orang dewasa memahami imajinasi anak-anak. Membumi? Ya, itu persoalan orang dewasa dari dulu sampai kapan pun. Di sini kita masuk ke persoalan ketiga: jarak antara teks dan pembaca (yang kamu istilahkan bahwa karya sastra berada di “menara gading”). Pada dasarnya, semua karya sudah pasti memiliki jarak antara teks dan pembacanya. Jarak ini bisa sangat lebar, bisa pula tidak, akan sangat tergantung kepada pembacanya. Mengasumsikan semua pembaca berada di tingkat pemahaman, penafsiran, kecerdasan dan kedewasaan intelektual serta keluasan pengalaman hidup (ini juga penting!) yang sama merupakan sikap yang naif. Tak bisa dielakkan bahwa ada karya-karya tertentu yang hanya dipahami segelintir orang, dan ada yang bisa dipahami oleh lebih banyak orang. Dan kepercayaan bahwa karya sastra harus dipahami sebanyak-banyaknya orang (menjadi populer?), selain sesat pikir, juga bisa menjerumuskan. Kenapa? Mari kita bicara soal makanan, kebutuhan pokok manusia. Apa makanan yang paling mudah masuk ke mulut kebanyakan manusia? Sudah tentu, fast food. Di Indonesia bisa ditambahkan: nasi. Kapitalisme dunia selama beberapa dekade terus-menerus menciptakan makanan yang monokultur. Selera sebisa mungkin diseragamkan, karena segala hal yang seragam berarti lebih mudah diproduksi, lebih efisien, dan tentu lebih irit. Mereka berusaha meneliti atau menciptakan “selera kebanyakan”. Tentu saja ada segelintir orang yang tak suka nasi, dan orang akan menganggapnya aneh. Dalam istilah kesusastraan, ia barangkali di menara gading. Nah, yang sering dilupakan orang, kesusastraan secara umum (segala yang memproduksi teks), juga tak lepas dari konteks kapital. Kesusastraan juga komoditas, seperti ayam goreng. Penerbit (sebagai alat kapital), tentu berusaha memproduksi sesuatu yang lebih mudah, lebih laku, lebih irit, dan efisien. Itulah kenapa ada sekolah menulis (bandingkan dengan lab), dan ada formula menulis (bandingkan dengan resep). Belajar dari bisnis makanan, jawabannya adalah: kesamaan selera. Sebisa mungkin pembaca berada di zona di mana seleranya bisa dikendalikan, dan penulis juga didorong untuk menulis di zona yang sama. Ini tak hanya terjadi dalam makanan dan kesusastraan. Ini terjadi di fashion, di teknologi, di olahraga, di bidang apa pun. Dunia dari hari ke hari semakin menjadi monokultur. Di mana-mana di dunia dengan mudah kita melihat orang makan pizza, pakai gadget Android, mengenakan atribut Machester United, dan … membaca Harry Potter. Saya tak ingin menyalahkan produk-produk yang disukai banyak orang itu (semua orang di keluarga saya penggemar Harry Potter dan suka pizza), tapi bagi saya penting bahwa ada produk-produk di luar itu. Dan kesusastraan, dengan gigih (Bolaño menyebut bahwa para penyair merupakan sosok paling berani, lebih bernyali dari para perampok bank) terus-menerus memberi produk “yang berbeda” ini. Saya yakin kebanyakan di antara mereka tak menciptakan karya yang “asal berbeda”. Seperti para koki, barangkali mereka mencoba menciptakan sesuatu yang lebih bergizi, dan lebih sehat (dan sialnya, yang begini biasanya tak disukai kebanyakan orang). Jarak antara teks dan pembaca (yang sudah pasti akan selalu ada), tak bisa melulu diselesaikan dengan cara pandang kapital: produk dipaksa untuk mengikuti selera konsumen, dan selera konsumen dibentuk untuk mengkonsumsi produk yang diciptakan. Jarak antara teks dan pembaca yang lebar, dalam kesusastraan (dan segala hal), harus juga didekati dengan strategi kultural (pendidikan, terutama). Saya percaya manusia merupakan makhluk yang “geocentric” (meskipun sudah tahu bumi mengelilingi matahari), yakni memusatkan segala hal kepada dirinya sendiri. Semua karya sastra, bicara tentang robot, planet, vampire, setan, dewa-dewa, pada dasarnya bicara tentang manusia dan bumi tempat mereka berpijak. Kita bicara tentang diri sendiri. Persoalan membumi atau tidak membumi, pada akhirnya, jangan-jangan sesepele permasalahan bahwa ada karya yang “sulit” bagi sebagian pembaca. Jika benar permasalahannya itu, bagi saya kemungkinannya ada dua: 1) Karya tersebut memang ditulis dengan buruk, 2) Pencernaan kita tidak akrab dengan jenis bacaan ini. Solusinya kita semua tahu apa.

Standard
Journal, Tanya dan Jawab

Tanya-Jawab: Media Sastra

Arlian Buana: Saya ingin tahu bagaimana Mas Eka melihat peran media untuk kesusastraan (baik Indonesia maupun dunia), dan media sastra seperti apa yang sebaiknya hadir di tengah-tengah pembaca Indonesia di era internet ini.

Saya rasa media sastra (atau media secara umum) seharusnya lahir dari satu gagasan besar, dari satu kegelisahan, dan tentu saja kemudian lahir dari satu visi mengenai kesusastraan macam apa yang ingin kita ciptakan? Tanpa itu, beribu-ribu media (jurnal, majalah, atau apa pun) hanya akan menjadi tempat pajangan karya untuk memuaskan ego para penulis saja. Hal ini, menurut saya, tengah berlangsung dalam kesusastraan Indonesia yang apa boleh buat, masih didominasi apa yang disebut “sastra koran”. Jujur saja, saya sudah lumayan lama kehilangan selera dengan sastra (utamanya cerpen dan puisi) di koran. Kehilangan selera untuk membaca maupun menulis. Saya tak melihat ada visi maupun gagasan besar di sana. Baiklah, barangkali tak perlu besar, tapi setidaknya gagasan yang menarik: mau dibawa ke mana kesusastraan ini? Apa yang diinginkan koran-koran itu dengan kesusastraan kita? Kesusastraan macam apa yang sedang didesain di masa kini dan masa depan? Saya tak melihatnya. Saya hanya melihat koran-koran itu sebagai tempat pajangan bagi jalan pintas penulis pemula untuk “go national” atau penulis-penulis mapan untuk mengisi daftar hadir tahunan (seperti harimau mengencingi wilayah untuk mengumumkan, “Hey, gue masih ada lho!”). Padahal dengan kekuatan finansial dan jaringan yang luas, koran di Indonesia (di mana sebagian besar penulis terpenting Indonesia menulis di sana), harusnya bisa menjadi lokomotif bagi kemajuan kesusastraan. Baiklah, untuk lebih adil, saya rasa ini tak hanya terjadi di kita. Selama bertahun-tahun, saya juga mengikuti karya-karya sastra di tiga media internasional, yang bolehlah dianggap cukup “mainstream” untuk ukuran kesusastraan: Granta, New Yorker, dan The Paris Review. Dari masa sepuluh tahun lalu sampai hari ini, situasinya kurang-lebih sama (Haruki Murakami akan berkata, “Hey, cerpen gue diterbitin lagi, dan lagi, dan lagi.”). Media-media internasional itu barangkali sedikit beruntung karena ia menyaring tulisan-tulisan terbaik dari seluruh dunia. Kita menemukan Roberto Bolaño atau Cesar Aira dalam satu dekade terakhir, misalnya. Tapi yang terpenting sebenarnya bukan “menemukan”, tapi bagaimana media-media ini, internasional maupun nasional atau bahkan lokal, bisa ikut “menciptakan” kesusastraan. Tentu saja karya sastra diciptakan oleh para penulisnya. Tapi institusi semacam media, dengan kebijakan editorial (dan dalam kasus tertentu kemampuan finansial), bisa memberi rancangan besar arah kesusastraan. Saya tak bilang bahwa para penulis harus didikte oleh kemauan institusi media, tapi kenyataan sederhana, institusi media memiliki kekuatan untuk melakukan hal itu. Sebagai contoh, generasi emas kesusastraan di Argentina saya rasa tak akan muncul tanpa kehadiran majalah Sur, yang didukung antara lain oleh filsuf Spanyol José Ortega y Gasset. Majalah ini antara lain melahirkan Jorge Luis Borges, Julio Cortazar dan Adolfo Bioy Casares. Atau tengok kontribusi Les Temps Modernes bagi kesusastraan (dan filsafat) Prancis di masa Jean-Paul Sartre dan Jean Genet (termasuk memuat ulasan yang mengawali perpecahan persahabatan Sartre dan Albert Camus). Atau bagaimana Poedjangga Baroe melahirkan generasi Pujangga Baru. Tentu saja gagasan-gagasan yang melatar-belakangi majalah atau jurnal-jurnal tersebut barangkali tak lagi relevan atau menarik saat ini, dan tak selalu harus terus-menerus relevan dan menarik. Tapi bahwa ia membawa satu gagasan dan bagaimana ia ikut menciptakan kesusastraan (dan karya intelektual lainnya) di satu masa, saya rasa itu yang terpenting. Jadi sekali lagi, menurut saya media tentu saja sangat penting bagi kesusastraan. Buku sendiri merupakan media. Tapi tanpa gagasan cemerlang di belakangnya, tanpa visi dan kegelisahan, pada akhirnya ia hanya tempat pajangan. Hanya etalase. Lupakan saja menciptakan media sastra baru jika tujuannya hanya itu. Kita membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar tempat pajangan. Media bisa berbentuk jurnal, majalah, koran tercetak, atau jurnal online, atau sesederhana sebuah blog yang diterbitkan oleh perorangan, tapi yang penting adalah gagasan apa yang dibawa. Internet sendiri secara luas merupakan media. Ada penulis Irak yang (karena keadaan negaranya yang porak-poranda), menuliskan cerpen-cerpennya di internet. Hasilnya, ia salah satu penulis cerpen penting dunia saya kira. Namanya Hassan Blasim. Karya yang baik bisa lahir di mana saja. Jika kamu tertarik membuat media sastra, tanyakan kepada diri sendiri beberapa hal ini: 1) Apakah media yang ada memang tak memadai? 2) Apa yang akan membedakan karya-karya di media barumu dengan karya-karya di media lain? Dan yang terpenting sekali lagi: 3) Kesusastraan macam apa yang ingin kamu perjuangkan sehingga kamu merasa perlu menciptakan media baru karena media yang sudah ada tak memberinya tempat?

Standard
Journal, Tanya dan Jawab

Tanya-Jawab: Perlukan Pelajaran Sastra untuk Anak Sekolah?

Fajar Riadi: Saya membaca beberapa catatan Mas Eka, tapi (entah kalau saya silap) belum menemukan catatan bagaimana sebaiknya mengenalkan sastra kepada anak-anak. Bisakah Mas Eka memberi usulan? Saya mengira, sama dengan anak-anak SD-SMP kebanyakan, mereka tak banyak mendapat pelajaran sastra yang memadai di sekolah.

Sejujurnya saya juga tak punya banyak pengetahuan soal ini. Pertama, saya tak memiliki pendidikan formal kesusastraan, apalagi pendidikan guru sastra. Kedua, seperti anak-anak SD-SMP kebanyakan (menurutmu), masa kecil saya juga dilalui dengan pengetahuan sastra pas-pasan, jika tak bisa dikatakan buruk. Sampai SMA, meskipun saya gemar membaca, bacaan saya sebagian besar apa yang kita kenal sebagai “sastra picisan” yang saya temukan di taman bacaan, selingan dengan beberapa novel remaja dan anak-anak (Lima Sekawan, buku-buku Dr. Karl May, dll). Sementara anak saya masih kecil, baru belajar menulis dan membaca huruf, sehingga saya juga tak bisa berbagi pengalaman secara langsung. Meskipun begitu, jika ada yang tertarik mendengar usulan saya, saya hanya punya satu gagasan untuk memperkenalkan sastra kepada anak-anak: beri mereka buku dan biarkan mereka membaca. Tentu saja disesuaikan dengan umur mereka. Kecintaan terhadap sastra seharusnya dimulai dari kegemaran membaca, dan hanya melalui membaca. Konon menurut satu penelitian (yang saya lupa baca di mana), orang tua yang membaca kemungkinan besar akan melahirkan anak-anak yang juga membaca. Saya rasa hal ini benar, dan kita bisa menanamkan kecintaan anak terhadap membaca melalui hal ini. Sebagai orang tua, sering-seringlah membaca. Membaca di depan anak-anak, membacakan buku untuk anak-anak. Sangat konyol mengharapkan anak-anak jadi gemar membaca buku sementara kita, orang tua, tidak melakukannya. Jika kita, orang tua, tak menganggap membaca buku sebagai hal penting dan menyenangkan, bagaimana anak-anak menganggapnya sama? Tentu saja orang tua yang dimaksud tak hanya orang tua di rumah, tapi juga orang-orang dewasa di komunitas, guru di sekolah. Cukup hanya memberi mereka bacaan dan membiarkan mereka membaca buku? Saya tak ingin muluk-muluk, bagi saya itu lumayan cukup. Mereka bisa membicarakan buku yang mereka baca satu sama lain, mereka akan memperdebatkan karakter mana yang mereka suka dan mereka benci, mereka akan memikirkan sebuah gagasan sederhana yang dikatakan penulis buku … hal-hal seperti itu bisa berkembang di lingkungan yang baik. Lantas bagaimana dengan pelajaran sastra untuk anak-anak? “Pelajaran/pengetahuan sastra” saya rasa tidak diperlukan untuk semua orang, dan saya tak merasa itu sesuatu yang wajib diketahui. Untuk apa mengetahui diksi, cara kerja metafor, apa itu realisme, apa itu dadaisme? Apa pentingnya mengetahui bahwa Dostoyevsky dan Virginia Woolf mempergunakan “arus kesadaran” untuk anak-anak sekolah? Apa pentingnya mengetahui siapa-siapa penulis Pujangga Baru? Lihat saja, selama bertahun-tahun kita diajarkan tentang apa itu pantun, dan sebagian besar orang tetap berpantun dengan cara yang salah. Tak ada gunanya. Saya rasa pengetahuan sastra hanya diperuntukan untuk orang yang meminatinya saja, untuk orang-orang yang berminat menjadi penulis atau peneliti sastra. Yang wajib dimiliki seorang anak sebaiknya “kemampuan membaca” dan “kemampuan menulis”, ketimbang “pengetahuan sastra”. Kemampuan membaca akan memberi landasan bagi anak-anak untuk menganalisa cara berpikir, menerima gagasan, dan terutama pada akhirnya kepada sikap toleran. Kemampuan menulis juga akan memberi landasan anak-anak untuk menata pikirannya, bekerja dengan logika, dan terutama mengungkapkan serta mempertanggungjawabkan pendapat dan gagasan. Pelajaran sastra? Bahkan meskipun saya penulis, saya tak melihat hal praktis dari pelajaran sastra untuk semua orang. Penting bagi saya, karena saya menyukainya dan hidup di dalamnya, sebagaimana pengetahuan tentang konstelasi bintang-bintang penting bagi kosmolog dan astronom. Gagasan saya mengenai pelajaran sastra di sekolah sih rada ekstrem: kalau perlu pelajaran sastra dihapus saja dari sekolah-sekolah, jadikan sebagai pelajaran pilihan (karena berpotensi memberi beban berlebihan kepada anak didik), sebagaimana dulu waktu saya SMP pernah mengambil pelajaran pilihan elektronik. Sebagai gantinya, beri “Pelajaran Membaca dan Menulis”, perdalam kemampuan membaca dan menulis (yang pasti berguna, bahkan di luar urusan kesusastraan).

Standard