Journal

Jonas Hassen Khemiri

Bagaimana seorang pembaca menemukan penulis atau buku baru untuk dibaca? Di bandara udara Keflavik, jauh di luar kota Reykjavik, saya menunggu penjemput. Sudah hampir setengah jam dan tak ada tanda-tanda penjemput saya datang. Saya hanya bisa mengirim surel, tapi tak juga memperoleh balas. Telepon genggam tak berfungsi, dan saya terlalu malas untuk menukar dengan nomor setempat. Kalau tak ada yang juga menjemput, saya bisa tidur di bandara, atau mencari cara lain pergi ke kota dan langsung menuju hotel yang sudah disediakan. Saya sudah membiasakan diri untuk tidak panik pada hal-hal semacam itu. Nyatanya kemudian saya bertemu wajah yang saya kenal, seseorang dari penerbit di mana kami pernah bertemu sebelumnya di Frankfurt. Dan ternyata di ruang tunggu, juga ada segerombol penulis yang sama menunggu. Gerombolan penulis itu dibagi dua. Saya bersama dua penulis, cowok dan tampaknya seusia, mengikuti orang dari penerbit itu, yang tahun ini sedang cuti untuk mengurus festival. Satu dari teman perjalanan saya itu menarik perhatian saya karena ia jangkung banget. Mungkin antara 185-200 centimeter. Entahlah. Jangkung banget, sehingga kami mempersilakannya duduk di depan, menemani pengemudi, agar kakinya bisa leluasa. Ketiga penulis (saya satu di antaranya), rupa-rupanya sama pendiam. Kami hanya sempat berkenalan nama secara ringkas, dan dengan cepat lupa nama-nama itu. Selama beberapa saat tak ada yang bicara. Saya sebenarnya senang saja kalau tak harus bicara dengan orang asing. Saya memang tak terlalu suka banyak ngomong, kecuali dengan orang-orang yang saya kenal baik. Tapi karena perjalanan kami panjang, saya rasa jaraknya lebih jauh dari Ciputat ke bandara Soekarno-Hatta karena jalanan lengang, sesekali toh kami ngobrol juga. Dari pembicaraan sekilas-sekilas itu saya tahu juga bahwa Si Jangkung ini penulis dari Swedia. Ini bukan kunjungan pertamanya ke Islandia, dan pertama kali datang adalah sepuluh tahun lalu. Saya bayangkan saat itu mungkin ia hanya seorang penulis pemula, mungkin hanya dikenal di Swedia atau setidaknya di negara-negara Nordic, lebih pemalu dari saat ini. Hanya itu saja yang saya ketahui dari pembicaraan ringkas kami di dalam mobil. Meskipun kami tinggal di hotel yang sama, saya hampir tak pernah bertemu atau bicara dengannya lagi di sana. Pikir saya, saya akan lihat di buku katalog untuk mengetahui namanya, juga karyanya. Biasanya dengan cara seperti itulah saya memburu penulis-penulis baru dan karya mereka untuk dibaca. Tapi karena berbagai acara, dan tur ke daerah glacier yang mendadak saya ambil, saya lupa membaca-baca katalog festival. Mungkin saya terlalu malas, atau terlalu asyik dengan kota, negeri dan cuaca yang menyenangkan di sana. Saya pun lupa dengan Si Jangkung ini, sampai saya meninggalkan Reykjavik untuk pindah ke Italia. Saya punya jadwal berikutnya di pertengahan September itu, yakni berpartisipasi di festival sastra kota Mantova. Sebuah kota kecil di Italia, dengan bangunan-bangunan tua, tapi festivalnya konon merupakan yang paling seru di Eropa (setelah saya melihatnya sendiri, saya bisa bilang, memang seru). Hari pertama saya tak punya acara, dan saya pakai untuk berjalan sedikit melihat-lihat kota, hingga ke stasiun kota. Kota kecil itu dijejali turis, yang berjalan atau nongkrong di cafe. Dan ketika saya tanya, apakah setiap hari kota kecil itu dipenuhi turis, seseorang menjawab, memang banyak turis, tapi biasanya tak sesesak ini. “Mereka datang untuk festival.” Festival sastra? Ya. Puji Tuhan! Dan memang di sana-sini, di ruangan terbuka (pindah ke dalam ruangan jika cuaca memburuk), ada diskusi dan pembacaan. Tak heran bahwa Janet, direktur Ubud Writers and Readers Festival juga datang (saya bertemu dengannya di malam kedua). Mungkin untuk studi banding, mungkin berburu penulis. Siapa tahu? Satu hal yang tak bisa saya lupakan dari Mantova adalah makan malam pertama saya. Publisis dari penerbit lokal saya mengajak makan malam di satu restoran. Saya tak akan menceritakan menu atau suasana restorannya, tapi ketika kami terburu-buru menuju ke sana karena gerimis (di lorong-lorong yang sempit), di pintu masuk restoran itu saya bertemu dengan seseorang yang saya merasa akrab. Ia baru saja makan di sana. Si Jangkung! Hah, ternyata kami memiliki rute perjalanan yang sama. Reykjavik-Mantova. Sebenarnya ketika di Reykjavik saya bertemu dengan Yaa Gyasi yang juga akan pergi ke Mantova, tapi di Mantova saya tak lagi bertemu dengannya. Saya pun ber-hai-hai dengan Si Jangkung ini. Sok akrab, tentu saja, karena tampaknya dia juga tak punya banyak teman di Italia ini. Karena rasanya tak sopan untuk bertanya siapa namanya, saya berjanji pada diri sendiri untuk melihat katalog festival Mantova. Tapi lagi-lagi saya tak sempat buka-buka katalog itu, apalagi melihat acara-acara yang melibatkan penulis lain. Selalu begitu, memang (lagipula, kalau waktunya sudah luang, saya bisa membuka-buka katalog tersebut belakangan). Hingga akhirnya di malam terakhir, semua partisipan dan relawan festival menghadiri pesta penutupan (berupa makan malam yang konon dimasak oleh para mahasiswa tataboga). Saya kembali melihat Si Jangkung di satu meja yang agak jauh. Awalnya ia sendirian, tapi makin lama, kursi di sekitarnya pun terisi. Akan aneh rasanya untuk mendekatinya hanya untuk sekadar ngobrol. Karena teman yang menemani saya hotelnya dekat dengan tempat makan malam, saya memutuskan pulang sendiri ke hotel. “Jangan kuatir, saya tahu jalan pulang.” Sebenarnya saya tak tahu, tapi saya merasa bisa mengandalkan Google. Atau setidaknya bertanya ke orang, karena hotel saya kebetulan tepat di dekat plasa tengah kota. Ketika sedang berjalan itulah, menjelang tengah malam dan kota mulai senyap, saya melihat sosok Si Jangkung di depan. Saya tak bisa memanggilnya, karena tak tahu namanya. Saya mempercepat langkah, menjejerinya, dan menyapa, “Hai!” Kami berjalan bersama, dan saya tak memerlukan Google, karena dia akrab dengan kota tersebut dan kami menginap di tempat yang tak berjauhan. Ini bukan pertama kali ia ke Mantova. Setelah ngobrol ngalor-ngidul sambil jalan, saya akhirnya bertanya, “Apakah bukumu sudah ada dalam bahasa Inggris? Saya mau mencari dan membacanya.” Dia bilang sudah. Dia lupa apakah bukunya (dalam terjemahan Inggris) ada di koper atau tidak, tapi kalau ada, dia mau memberikannya kepada saya besok pagi. “Tak usah repot-repot, saya pasti bisa menemukannya.” Saya pun memberinya alamat surel, sebab dia janji mau memberitahu judul bukunya. Malam itu saya sampai hotel langsung beres-beres, kemudian tidur, karena paginya saya harus segera pergi. Jam 7.30 saya harus pergi ke stasiun, tapi di waktu yang mepet itu, saya menyempatkan diri untuk ambil sarapan pagi. Syukurlah saya melakukan itu, karena ketika saya sedang sarapan, resepsionis menghampiri saya dan meletakkan sejilid buku berjudul Everything I Don’t Remember. Di dalamnya ada tulisan tangan bertuliskan nama saya dan “lovely to meet up in first Iceland and then Italy”. Menemukan penulis atau buku baru untuk dibaca kadang merupakan pengalaman ajaib sendiri. Saat itu barulah saya tahu nama Si Jangkung dengan pasti dari buku tersebut: Jonas Hassen Khemiri.

Jika hendak berkenalan lebih lanjut, sila tengok cerpennya “As You Would Have Told It To Me (Sort Of) If We Know Each Other Before You Die”.



Standard
Journal

The Saint-Fiacre Affair, Georges Simenon

Di lobi hotel itu ada perpustakaan kecil. Tak tertahankan, saya mendatanginya meskipun di sudut-sudut lain ada tawaran lain: komputer dengan internet gratis, permainan sepakbola meja, bahkan camilan. Tak banyak bukunya memang, mungkin sekitar seratus jilid. Sebagian besar berbahasa setempat. Jika ada yang berbahasa Inggris, biasanya novel klasik yang sangat tebal, tak mungkin dibaca sambil bersantai di lobi. Bahkan dibawa masuk ke kamar pun, mungkin membutuhkan waktu berhari-hari tanpa melakukan apa pun. The Saint-Fiacre Affair karya Georges Simenon tergeletak di sana, seperti bekas dibaca seseorang. Saya belum pernah membaca Simenon dan tokoh inspektur polisi rekaannya, Inspektur Maigret. Tapi saya tahu ia menulis novel-novel fiksi kriminal, dan ia penulis berbahasa Perancis asal Belgia. Seperti pelancong yang memutuskan untuk mengarungi setapak atau gang di tengah kota yang tak dikenalinya, saya mengambil buku itu, membawanya ke kamar dan mulai membacanya. Adakah cerita kriminal di mana inspektur polisinya nyaris enggak ngerjain apa-apa dan pelaku kejahatan akhirnya ketahuan dengan sendirinya? Setidaknya, novel ini salah satunya. Tapi itu bukan masalah. Setidaknya buat saya, fiksi kriminal yang ideal bukanlah terletak di jagonya sang detektif memecahkan kasus kriminal melalui tanda-tanda (dan betapa jagonya penulis mengecoh pembaca melalui tanda-tanda yang sama), melainkan terletak pada watak-watak di dalamnya. Watak-watak kriminal di mana setiap tersangka memiliki jejak kemungkinan untuk menjadi pelaku kejahatan, tak hanya karena motif, tempat dan waktu memungkinkan. Telaah mengenai watak manusia yang tampak dan tak tampak (atau hanya tampak dalam situasi tertentu, seperti menghadapi peristiwa kejahatan), bagi saya merupakan hal paling mengasyikan dari fiksi kriminal. Lagipula adegan “pembunuhannya” juga tidak normal: seorang perempuan setengah baya, mati mendadak di kursi gereja. Kata dokter, kena serangan jantung. Tak ada luka, tak ada bekas kekerasan. Satu-satunya petunjuk untuk Inspektur Maigret bahwa itu pembunuhan, hanyalah karena ia menerima surat yang meramalkan kematian perempuan itu beberapa hari sebelumnya, dan bahwa ia menemukan potongan berita palsu di buku doa perempuan itu, yang kemungkinan besar terbaca dan membuatnya kena serangan jantung. Pelaku yang edan sekaligus jenius, bukan? Bagian itu saja pasti bisa bikin pengadilannya menjadi ruwet, jika cerita berlanjut hingga pengadilan. Satu hal yang menarik dari Maigret, ia tak hanya ada di sana sebagai detektif yang dingin memecahkan masalah, tapi juga bagian dari persoalan cerita. Perjalanannya ke Saint-Fiacre tak hanya untuk mengungkapkan kasus kematian yang telah diramalkan, tapi juga perjalanan emosional dirinya: Saint-Fiacre merupakan masa lalunya. Saya tak tahu apakah hal yang sama bisa saya temukan di judul-judul lainnya (Simenon menulis 75 novel Maigret), saya akan coba membaca yang lain jika ada kesempatan. Yang jelas novel ini melebihi harapan saya mengenai fiksi kriminal, seperti hal-hal mengejutkan bisa saya temukan di gang asing yang dengan nekat saya masuki. Bahasanya yang ekspresif, bahkan awalnya agak aneh, seperti grafiti di dinding rumah yang awalnya terasa meneror tapi kemudian menjadi hiburan yang akrab. Misal penggunaan kalimat pasif yang saya jarang temukan di dalam bahasa Inggris: dari dalam kamar bahasa Inggris terdengar diucapkan (alih-alih dari dalam kamar terdengar mereka bicara dalam bahasa Inggris). Mungkin perkara terjemahan, mungkin memang gayanya seperti itu, tapi setelah terbiasa, saya menemukan keasyikan sendiri. Dan kembali soal bagaimana kasus ini terbuka dengan sendirinya: si inspektur polisi bukanlah dewa yang menentukan mana dan bagaimana kebenaran. Intinya novel ini merupakan drama pembunuhan, dan inspektur polisi hanyalah satu dari sekian bidak di dalam drama tersebut. Bidak dengan persoalannya sendiri, sebagaimana para tersangka pembunuhan: anak si perempuan, seorang pemuda yang merupakan sekretaris sekaligus simpanannya, pastor, manajer keuangannya, serta anak si manajer keuangan. Kadang-kadang mengasyikkan menyesatkan diri ke bacaan-bacaan yang terasa asing, baru, dan mungkin di luar radar pengetahuan kita. Lagipula, kalau William Faulkner dan André Gide saja membaca Simenon, masa saya tidak tertarik?



Standard
Journal

Some Prefer Nettles, Junichirō Tanizaki

Saya ingin memulai perbincangan mengenai novel ini dari satu percakapan: “… para lelaki yang terlalu tergila-gila perempuan di waktu muda umumnya menjadi kolektor benda antik ketika tua. Perabot minum teh dan lukisan menggantikan seks.”//“Tapi ayah tetap ngeseks. Dia punya O-hisa.”//“Perempuan itu salah satu benda antiknya.” Itu perbincangan antara Kaname dan istrinya, Misako dalam Some Prefer Nettles karya Junichirō Tanizaki. Percakapan itu tak semata-mata sebuah ledekan anak dan menantu kepada ayah, atau sekadar ledekan terhadap generasi tua, tapi menurut saya menggambarkan apa yang ada di novel ini secara keseluruhan. Pertama-tama, tentu mengenai hubungan pernikahan Kaname dan Misako sendiri. Mereka digambarkan sebagai pasangan yang sebenarnya nyambung dalam pikiran, selera, gaya, tapi satu sama lain tak memiliki gairah seks. Atau dengan kata lain: mereka tak saling memuja tubuh pasangannya. Pernikahan dan hubungan ranjang yang hambar, yang membawa mereka kepada keputusan untuk bercerai. Urusan perceraian ini merupakan tulang punggung keseluruhan novel. Kedua, kontras atas hubungan mereka yang hambar, adalah hubungan si lelaki tua (ayah Misako) dengan simpanannya yang muda bernama O-hisa. Mereka berbeda dalam banyak hal, tapi O-hisa yang ditempatkan laksana geisha memiliki sejenis submisivisme yang senang melakukan hal-hal yang diinginkan si lelaki tua. Belajar menyanyi, memainkan alat musik, menjamu teh, nonton pertunjukan teater boneka, bahkan menulis kaligrafi. Ketiga, ini tentang benturan “peradaban baru” dan “tradisi lama”. Pernikahan dan perceraian berhadapan dengan tradisi perempuan penghibur layaknya geisha (di novel ini juga digambarkan Misako sebagai penyuka Jazz dan banyak hal dari barat, sementara ayahnya menyukai musik tradisional). Jujur, biasanya saya tak terlalu suka dengan novel-novel ala “kartu pos”. Yang saya maksud dengan “kartu pos” adalah, novel-novel yang mengeksploitasi keindahan, keunikan, bahkan keeksotisan suatu kebudayaan atau adat-istiadat untuk menyenang-nyenangkan pembaca. Seperti kartu pos, orang yang membaca novel itu kemudian akan bilang, “ah, begini toh tradisi mereka,” seperti kita melihat kartu pos. Membaca tema seperti itu dalam bentuk kajian antropologi atau esai (seperti di buku esai Tanizaki, In Praise of Shadows tentang arsitektur Jepang, misalnya), bagi saya merupakan pilihan yang lebih baik. Tapi rupanya saya bisa menikmati novel ini, meskipun di sana-sini terselip serpihan-serpihan pandangan Tanizaki mengenai kebudayaan dan tradisi Jepang. Saya dengan tak berdaya dibawa oleh Tanizaki ke dalam percakapan mengenai teater boneka, kegelisahannya, kekagumannya, keindahannya dan bahkan reportoarnya. Di bagian lain, juga tanpa daya, Tanizaki mengajak kita mendiskusikan perbedaan-perbedaan antara teater boneka Osaka dan Awaji, daerah yang dianggap sebagai asal-muasal teater boneka Jepang. Menurut saya, rahasia kecerdikan Tanizaki (yang memang, setelah terpengaruh kebudayaan barat di masa mudanya, di puncak karirnya sebagai penulis justru kembali ke habitat kebudayaan tradisional Jepang) dalam mengolah hal ini tanpa membuatnya terasa seperti “kartu pos”, karena ia memang tak menempatkan keunikan tradisi (di sini teater boneka), sebagai pusat novelnya. Inti novel ini, sekali lagi, adalah usaha Kaname dan Misako untuk bercerai, yang diulur-ulur karena memikirkan anak, orang tua, dan kesiapan mereka sendiri. Pembahasan perceraian ini, dengan segala dramanya, seringkali berganti-ganti tempat: di gedung teater, di festival teater boneka, di pelabuhan, di rumah orang tua yang sangat rigid dengan arsitektur tradisional. Nah, pada kesempatan itulah, Tanizaki masuk dengan cerdik ke berbagai topik tradisi. Menjadikannya taut-bertautan dengan melodrama kehidupan perkawinan Kaname dan Misako. Di sinilah saya rasa, suatu tradisi lokal menjadi unik sekaligus tidak asing.



Standard
Journal

Ferdydurke, Witold Gombrowicz

Sebuah novel yang sangat sensual tanpa sekali pun ada adegan seks; sebuah novel politik tanpa buih-buih khotbah tentang kekuasaan lalim dan kelas jelata yang tertindas; juga sebuah novel brutal tanpa sekali pun menumpahkan darah; dan di sisi lain ini sebuah novel filosofis tanpa rujukan garing kepada pemikiran-pemikiran filsafat; kau bisa menyebut novel ini sebagai novel apa pun dan pada saat yang sama hal itu tersembunyi di belantara komentar-komentar dan pelintiran kisah yang nyeleneh. Seperti itulah Ferdydurke karya Witold Gombrowicz. Komentator kelas dunia menyebutnya sebagai mahakarya “pascamodern”, sementara yang lain menganggapnya sebagai puncak karya “modernisme Eropa”. Nah, bahkan para komemtator pun tak bisa bersepakat apakah ini karya modern atau pascamodern. Dibuka oleh kisah seorang pemuda 30 tahun bernama Joey, yang kelewat banyak mikir dan melamun dan meracau, hingga ia melihat cermin dan menemukan dirinya yang lain. Dirinya berumur 17an tahun, dan semua petualangan setelahnya adalah kisah tentang remaja yang merasa bukan remaja, tentang orang dewasa yang harus menghadapi problem-problem a-be-geh. Jika ada yang membandingkannya dengan petualangan Alice masuk ke lubang kelinci, tentu saja tak mengherankan. Tapi Joey tak bertemu makhluk-makhluk fantastis sebagaimana terjadi di dunia Alice, meskipun teman-temannya di sekolah, guru-gurunya, keluarga yang menampungnya mondok, keluarga bibinya yang kemudian menemukannya, semua tak kalah fantastis. Petualangannya menghadapi dunia di antara yang dewasa dan a-be-geh yang tak bisa dipahami tapi memerangkapnya, bisa membuat orang memperbandingkannya juga dengan dunia Kafka. Tak berlebihan juga, meskipun dalam Gombrowitcz ini menjadi sejenis humor ketimbang teror. Oh, novel ini juga merupakan novel tentang novel, tentang seni bercerita, meskipun lagi-lagi kita tak menemukan hal terang-benderang mengenai hal itu, kecuali kau mau manyun sedikit dan menenangkan diri, kemudian manggut-manggut di beberapa bagian menyadari novel ini berkisah tentang dirinya sendiri. Apakah seni harus melayani manusia, ataukah manusia harus melayani seni? Jawab saja sendiri. Tantangan terberat membaca novel ini tentu saja memahami humornya. Sebagaimana penerjemahnya mengakui, bukan hal mudah menerjemahkan Gombrowitcz. Ia tak semata-mata menulis dalam bahasa Polandia, tapi terutama ia menulis dalam bahasa Gombrowitcz. Hanya penulis yang sudah mencapai tingkat ilmu ketujuh bisa melakukannya, dan si penerjemah harus mengupas ilmunya selapis demi selapis, agar pembaca jelata macam tutup botol Fanta bisa mengerti sekaligus tak tersesat dan dibikin gila. Kenapa saya mempergunakan metafor-metafor jelek macam begitu? Itu tidak jelek, Kawan. Grombowitcz jelas sudah melakukannya lebih dulu daripada a-be-geh-a-be-geh di media sosial, dan ia melakukannya dengan lebih baik, lebih bertubi-tubi. Ini novel yang harus dibaca banyak orang, betapa pun sulitnya, untuk menjajal apakah kita punya kepala benar-benar kepala atau sekadar “mangkuk”, dan bokong kita benar-benar bokong dan bukan sekadar alas untuk gaplokan tangan. Dan jangan tersinggung dengan kata-kata yang agak kasar tersebut. Itu tak ada apa-apanya dengan cara sang penulis menutup novelnya: “It’s the end, what a gas. And who’s read it is an ass!” Salam kepala isi mangkuk!



Standard
Journal

The Lottery and Other Stories, Shirley Jackson

“The Intoxicated”. Kisah komikal tentang seorang lelaki parobaya yang jengkel harus mendengarkan seorang gadis enam belas tahun nyerocos tentang masa depan dunia yang berantakan dengan penuh sok tahu. Mungkin ia jengkel bukan karena gagasan si anak gadis, tapi jengkel kepada dirinya karena terintimidasi oleh si gadis muda. Di dunia di mana kaum lelaki merasa lebih superior daripada perempuan, dan orang tua merasa lebih hebat dari orang muda, menemukan seorang gadis muda duduk di meja makan dan bicara dengan penuh percaya diri, memang mengintimidasi. Sampai-sampai si lelaki menyuruh si anak gadis untuk membeli saja majalah film (daripada mikirin masa depan dunia). Saya sering melihat lelaki yang terintimidasi oleh perempuan dengan cara seperti ini, sebagaimana orang tua oleh anak muda. Dan itu menyedihkan. Atau menurut Shirley Jackson, menggelikan. “The Daemon Lover”. Kisah kocak yang lain, tentang seorang gadis yang dipermainkan lelaki pemberi-harapan-palsu. Shirley Jackson memang pengamat yang jitu, dengan dingin memblejeti sisi menggelikan maupun menyedihkan dari manusia, perempuan maupun lelaki. Di hari pernikahannya si gadis mencari-cari calon suaminya yang menghilang. Dia bertanya ke sana-sini, dan pada saat itu pula kita melihat aneka warna manusia, sekilas demi sekilas, tapi seperti di cerpen-cerpen lainnya, membentuk juga watak konyol (dan bengis) masyarakat. “Like Mother Used to Make”. Seperti kamu memelihara seekor kucing, dan kucing itu kemudian menjadi raja di rumahmu sementara kamu menjadi budak. Pesan moral: jangan kelewat baik, orang-orang akan merampokmu. “Trial by Combat”. Cerpen-cerpen karikaturalnya, terus-terang, mengingatkan saya kepada O. Henry. Tentu saja dengan warna yang lebih urban, olok-olokan kejam kepada tokoh-tokohnya, terutama kepada kelemahan jiwa mereka. Tentang seseorang yang jengkel karena kehilangan barang-barang sepele, dan ketika menemukan siapa pencurinya … baca saja ceritanya. “The Villager”. Shirley Jackson merupakan biang yang sering membuat tokoh-tokohnya tiba-tiba menjadi aktor dalam situasi kikuk dan aneh. Tidak, mereka tidak mendadak berubah karakter. Mereka semata-mata memerankan seseorang lain dalam situasi yang aneh. Katakanlah di cerpen ini, seseorang datang ke sebuah apartemen kosong untuk melihat perabot yang akan dijual. Mendadak muncul calon pembeli lain, dan si orang pertama, dalam kekikukkan yang aneh, menemukan dirinya berpura-pura menjadi tuan rumah pemilik perabot. Tentu saja di bagian seperti itulah kisah-kisah ini demikian kocak, sekaligus menguak bagian terdalam dari jiwa-jiwa yang rawan, seperti orang-orang desa yang terserak di kota besar macam New York ini. “My Life with R.H. Macy”. Satir gokil tentang karyawan Macy (ini nama jaringan toko). Bagi tempat kerjanya, ia hanya dikenal dengan kode: 13-3138. Tiba-tiba saya membayangkan sebuah novel tanpa nama-nama, kecuali deretan angka seperti itu. Bisa mampus mengingatnya dan untunglah ini cuma cerita super pendek.

“The Witch”. Pernah ngelarang anak untuk ngobrol dengan orang asing? Pernah juga menyuruh anak untuk bersikap ramah kepada orang lain? Bagaimana kalau anak bersikap ramah dengan seorang penyihir? Shirley Jackson selalu berhasil membuat kita gelisah dengan kelakuan tokoh-tokohnya. Mereka senang saling menyiksa satu sama lain. Kalau tak mau menderita, mendingan kita tertawa di atas penderitaan mereka. “The Renegade”. Anjing. Ini memang tentang anjing. Gara-gara anjing mengigit ayam peliharaan, hidup menjadi anjing. Urusan sepele, di tangan Jackson menjadi drama satu babak yang anjing. Kita harus belajar perkara ini dari Jackson: menciptakan arus tenang di permukaan untuk menyembunyikan arus kencang di kedalaman. Anjing. “After You, My Dear Alphonso.” Saya dibikin nyengir oleh rasa terluka Nyonya Wilson, yang menawari seorang anak negro baju-baju bekas anaknya. Si anak negro menolaknya karena punya baju banyak di rumah. Terluka. Benar-benar terluka sampai si nyonya ngomong, “Banyak anak sepertimu, Boyd, yang akan sangat berterima kasih untuk pakaian yang diberikan seseorang dengan sangat baik kepada mereka.” Ledekan perih untuk rasialisme. Seolah anak negro selalu harus jadi tempat orang berderma. “Charles”. Ketika anakmu untuk pertama kali masuk ke taman kanak-kanak, kamu berpikir tahapan baru dalam hidupmu berubah. Juga anakmu. Kamu bangga anakmu tumbuh. Yang kamu tidak sadar, barangkali anakmu tumbuh menjadi sesuatu yang tak kamu duga. Kembali Shirley Jackson menikammu dengan telikungan cerita ala sopir bajaj Jakarta. Kamu harus selalu berpegangan erat jika tak mau terpelanting. “Afternoon in Linen”. Sama seperti cerpen sebelumnya, ini tentang kelakuan anak-anak. Kali ini seorang gadis kecil yang jago main piano dan bikin puisi. Setidaknya itulah yang dikatakan si nenek. Ia tak pernah tahu, si anak punya pendapat sendiri mengenai dirinya sendiri, dan tak ada yang bisa mencegahnya. Kadang-kadang orangtua memang perlu dipermalukan di muka umum. Setidaknya begitulah menurut Shirley Jackson. “Flower Garden”. Kesongongan orang tua, masyarakat, dan rasialisme (atau dengan kata lain: kesongonan kulit putih), merupakan tema yang berkali-kali muncul di cerita-ceritanya. Ia selalu menemukan sudut paling menarik untuk diceritakan. Bayangkan seorang janda beranak satu pindah ke satu kota. Lalu untuk mengurus kebun bunganya, ia memperkerjakan seorang negro duda yang kalau bekerja bertelanjang dada. Bayangkan apa yang dipikirkan lingkungannya yang puritan dan penuh prasangka itu. “Dorothy and My Grandmother and the Sailors.” Kembali Shirley Jackson mengolok-olok praduga masyarakat. Kali ini tentang para pelaut yang dibayangkan bejat dan suka mengganggu anak-anak gadis.

Setelah separoh dari cerpen-cerpennya saya baca, saya mulai merasa Shirley Jackson merupakan penulis yang kejam. Bahkan cenderung brutal. Brutal mengolok-olok, kejam memblejeti topeng-topeng karakternya. Ia seperti pyton pembunuh, yang dengan dingin membelit dengan cerita-ceritanya. Perlahan, tapi makin lama makin kencang, hingga membuat orang terengah-engah menggapai oksigen. Demikian perlahan, cerita-ceritanya sekilas tampak seperti rekaman percakapan, atau lebih tepatnya gosip ibu-ibu (dan bapak-bapak) di lingkungan rumah, dan ketika sampai di ujung cerita, kita baru sadar telah tercengkeram dengan hebat. “Colloquy.” Percakapan aneh antara dokter (yang pasti jengkel dan tak sabar) dengan pasennya. Apa sih kegilaan? “Elizabeth”. Saya paling tak suka membaca kisah tentang para penulis, atau lingkungan mereka (meskipun ada beberapa perkecualian). Cerpen ini bercerita tentang seorang agen sastra, tapi tak banyak bicara soal pekerjaan itu. Justru ia bicara tentang hal yang bisa terjadi di mana pun, di kantor mana pun: perasaan cemburu. Selalu menarik mengamati bagaimana seseorang dibakar api cemburu dan pada saat yang sama menampik perasaan tersebut. Hingga akhirnya terbakar sendiri oleh api tersebut. “A Fine Old Firm.” Sekali lagi percakapan para perempuan. Di luar perkara arus tenang di permukaan dan arus deras yang mengalir di kedalaman, percakapan-percakapan di cerita-cerita Shirley Jackson juga memancarkan kilau yang berpencaran ke mana-mana, barangkali dipantulkan oleh riak-riak dalam percakapan tersebut. Dua ibu yang baru pertama kali bertemu, membicarakan dua anak lelaki mereka yang bersahabat dan sedang membela negara di tempat jauh. Tampak sederhana tapi riaknya menyenangkan untuk dinikmati. “The Dummy.” Dua nyonya masuk ke restoran dan meledak dalam kejengkelan. Sekali lagi, Shirley Jackson memang garang dan brutal. “Seven Types of Ambiguity.” Sepasang lelaki-perempuan tua masuk ke toko buku ingin membeli beberapa koleksi buku. Pokoknya buku yang keren, macam Dickens. Aku suka Dickens waktu kecil. Pokoknya yang kayak Dickens. Saya tak tahu apakah Shirley Jackson sedang menertawakan orang-orang snob yang sok melek sastra, yang saya tahu, ia kemudian menghadirkan bocah kecil yang sering datang ke toko itu untuk numpang baca (tapi tak mampu beli). Kadang-kadang memang perlu seseorang memberi tahu apa artinya senang membaca, dan bukan sekadar gaya-gayaan suka membaca. “Come Dance with Me in Ireland.” Kembali ke isu prasangka. Kali ini korbannya seorang penjual asongan yang pingsan di depan rumah. Ia kelaparan atau mabok? Antara menolong orang kelaparan dan melarang membawa masuk lelaki asing ke rumah, mana yang lebih penting?

Cerpen-cerpen Shirley Jackson bukan jenis cerita yang penuh drama. Sekilas ia tampak seperti sketsa, bahkan pada cerita-ceritanya yang panjang sekalipun. Ia membiarkan orang-orangnya bicara satu sama lain. Kadang-kadang ia mengeluarkan isi hati mereka, pikiran mereka. Ia akan membuka ceritanya dengan kejadian-kejadian yang sangat biasa: tokohnya bangun tidur, atau bertemu seseorang dan bicara, atau sedang memasak dan mendengar anaknya bicara dengan seseorang. Ia bahkan sering tak terlalu peduli, setidaknya tidak berlebihan, kepada lanskap. Ia menjelaskan sekilas tentang rumah, apartemen, jalanan kota, atau kantor. Sekilas saja. Yang terpenting dalam cerpen-cerpennya selalu manusia dan apa yang mereka bicarakan. “Of Course”. Setiap bertemu sekelompok orang dan sebagian di antara mereka adalah perempuan berjilbab, saya selalu bingung harus memutuskan sesuatu dalam sepersekian detik: apakah perlu bersalaman atau tidak? Soalnya kadang ada yang mau salaman, dan ada yang tidak (saya sendiri senang bersalaman dengan orang). Kalau di antaranya ada yang bilang, “Maaf saya tak bersalaman dengan yang bukan muhrim”, saya kira saya akan tersenyum dan berkata, “Tentu saja.” Of course. Sial, cerpen ini bahkan bisa diterapkan untuk banyak situasi, bahkan di tempat dengan peradaban dan kerumitan sosial yang jauh berbeda. “Pillar of Salt”. Problem manusia modern, bahkan sejak masa Shirley Jackson, ternyata tetap sama: bagaimana mengelola waktu. Bahkan banyak di antara kita tak tahu bagaimana caranya bersenang-senang di waktu liburan. Tahu-tahu kita sudah menghabiskan beberapa hari dan tak merasa telah menikmati hidup. Waktu dan tempat tak hanya merupakan dua perkara kosmologis, tapi juga bisa menjadi pembunuh yang keji. “Men With Their Big Shoes”. Pernah merasa pembantu rumah tanggamu berkuasa melebihi dirimu di rumah? Tidak persis seperti itu, memang. Juga tak persis seperti kucing peliharaan yang menindas tuannya. Tapi perasaan memiliki kuasa penuh atas orang lain mungkin hanya perkara untuk menutupi bahwa kita tak memiliki kuasa apa-apa sebenarnya. Cerpen-cerpen Shirley Jackson, terutama di cerpen ini, seperti puncak dari sejenis filsafat. Filsafat kejengkelan dan prasangka diri yang berlebihan. “The Tooth”. Ini komedi yang gila-gilaan tentang seorang perempuan yang harus melakukan perjalanan mempergunakan bus malam ke New York karena sakit gigi. Jangan tertawa. Sakit gigi sama sekali tak lucu. Saya pernah mengalaminya. Beberapa kali. Dan ini tidak lucu. Cuma Shirley Jackson yang membuatnya terasa lucu, sebab dia memang sadis dan kurang ajar. “Got A Letter from Jimmy”. Seperti pelampiasan dendam kaum perempuan terhadap kaum lelaki. Jangan pikir lelaki juga tak cengeng dan kalau sudah bertengkar, sering membuatnya berlarut-larut. “The Lottery”. Sering disebut-sebut sebagai cerpen terbaiknya. Ketika dimuat pertama kali di The New Yorker, cerpen ini memperoleh tanggapan (surat-surat berdatangan ke meja redaksi) paling banyak dalam sejarah mereka, sebagian besar terkejut oleh kebrutalan cerpen ini (tak hanya surat berisi makian, tapi juga bahkan banyak yang memutuskan berhenti berlangganan majalah itu). Sekali lagi, Shirley Jackson memang brutal, dan cerpen ini memang puncaknya. Segala hal yang saya sebut-sebut di cerpen-cerpen sebelumnya, nyaris bisa ditemukan di cerpen ini. Ketenangan yang menggoda, percakapan-percakapan sepele yang seolah tanpa juntrungan, tokoh-tokoh yang berseliweran, lanskap yang sekilas-sekilas saja. Kejadiannya hanya sekitar dua jam, di suatu hari bertanggal 27 Juni, hari di mana kota itu (sebagaimana kota-kota lain) mengadakan undian. Semua orang datang bergegas agar tak kehilangan momen penting tersebut. Anak-anak datang lebih dulu, penuh kegembiraan. Orangtua mereka datang kemudian. Sekilas tampak seperti acara kota sebagaimana biasa, hingga kau tahu, bahwa ini tidak biasa. Ini bukan sesuatu yang kau inginkan terjadi di kotamu. Kau tak akan merasa bahwa cerpen ini merupakan cerpen horor, tapi ia lebih meneror dari kebanyakan cerpen horor yang pernah kau baca.



Standard
Journal

Kita Semua Medioker dengan Cara Sendiri

Belakangan beberapa teman penulis ikutan marah dengan fenomena ustadz karbitan. Ustadz yang menurut mereka enggak punya riwayat pendidikan panjang dalam soal agama, enggak jelas sanad keilmuannya, tapi dengan mudah berkhotbah bahkan di layar televisi nasional. Hasilnya tentu saja kegaduhan dan pendapat-pendapat yang tak jelas dasarnya. Hal yang sama juga terjadi ketika orang tak punya latar pendidikan dan kepakaran dalam soal sejarah atau antropologi, tiba-tiba bicara tentang agama yang dianut Majapahit, atau tentang siapa yang membangun Borobudur. Sebagian jengkel, marah, meskipun ada juga yang menanggapinya sebagai sejenis lelucon. Jujur saja, kadang saya pengin juga bertanya, kok elo enggak marah dan jengkel dan tersinggung, kalau melihat fenomena yang sama di kesusastraan atau kesenian? Banyak kok yang enggak jelas riwayat keilmuannya, tapi koar-koar seolah paling tahu tentang kesusastraan, tapi jadi juri misalnya, tapi jadi pemegang meja editor misalnya (dan lulusan filsafat sok-sokan nulis novel)? Kadang memang mudah marah untuk hal-hal lain, dan mudah memaafkan jika itu terjadi di lingkungan sendiri. Permisif, kata orang. Kita marah untuk fenomena di bidang ilmu agama atau sejarah, menuntut mereka untuk menegakkan kompetensi, memberlakukan ilmu-ilmu terebut dengan standar yang ketat; tapi abai untuk menuntut hal yang sama di bidang sendiri. Kenapa? Mungkin karena berpendapat, semua orang boleh bersastra dan semua orang boleh membicarakan hal itu. Ini fenomena yang sama dengan kebiasaan kita, kaum penulis dan seniman, yang garang mengkritik praktek-praktek kekuasaan. Kita benci kekuasaan yang korup, benci raja yang tak mau turun dari singgasana. Tapi pernahkah terpikir bahwa kita sendiri adalah “raja-raja kecil” dalam kesusastraan yang tak mau turun dari singgasana? Yang memiliki kekuasaan sedikit kemudian menyalahgunakan kekuasaan tersebut? Sederhana saja: jika di koran ada 52 minggu setahun, berapa banyak yang mau turun dari “singgasana” dengan tak menulis cerpen di sana, untuk memberi tempat pada tunas baru (ya saya tahu, pertanyaan ini menjengkelkan)? Tentu saja kritik seperti itu ada, tapi biasanya dari gembel jelata. Raja jarang mengkritik raja, apalagi mengkritik dirinya sendiri. Baiklah, kembali kepada kompetensi. Produk bawaan dari zaman modern. Rohnya masih gentayangan tentu saja sampai sekarang. Sebagian orang masih berharap hanya ustadz atau santri yang boleh bicara tentang ilmu agama. Sebagian masih berharap profesor atau peneliti yang melakukan kajian dengan standar ilmiah bicara tentang sejarah. Profesor fisika yang menerangkan apakah bumi itu bulat atau datar, dan bagaimana posisi planet-planet. Kita marah karena kuatir, tradisi keilmuan yang telah dibangun berabad-abad bisa runtuh oleh ocehan-ocehan tak jelas dari gerombolan medioker ini. Tapi sekali lagi, elo enggak marah jika hal itu terjadi di kesusastraan atau kesenian? Itu juga terjadi, dan mungkin lebih sering. Atau karena sering banget, sampai kebanyakan tidak sadar dan lupa untuk marah dan jengkel? Mungkin. Saya juga pernah marah, juga pernah jengkel. Mungkin karena saya menganggap kesusastraan sama pentingnya dengan ilmu sejarah, ilmu agama, antropologi atau fisika. Atau bahkan lebih penting. Tapi itu kemarin dulu, sih. Sekarang sudah enggak jengkel lagi. Sudah selow. Pascamodernisme sudah mengajari kita, bukan? Bahwa iklan obat kuat bisa sama pentingnya dengan tetralogi buru Pramoedya, dari aspek semiotik, sejarah maupun estetik? Bahwa segala sesuatu, termasuk kebenaran, adalah konstruksi pemaknaan yang relatif (tergantung siapa yang ngomong, di mana, di zaman apa, konteksnya apa). Dan berlaku sebaliknya, dong: mau gembel atau profesor, raja maupun jelata, boleh dong ngomong politik, sejarah, agama, atau sastra? Orang boleh merasa risi dengan fenomena kaum medioker bicara gaduh di sana-sini seolah-olah ahli, tapi pikirkanlah: kita semua medioker kok, dengan cara sendiri-sendiri. Satu-satunya hal yang perlu dilakukan, saya rasa, adalah kejujuran untuk mengungkapkan kekurangan di bidang-bidang ini (yang kita geluti atau tidak), semacam disclaimer, tanpa mengurangi hak-hak siapa pun untuk memiliki gagasan dan pendapat. Sejarah ilmu (juga filsafat, sastra, seni, dll), kenyataannya juga dipenuhi oleh gagasan-gagasan konyol dan tolol, dan dengan itulah peradaban berjalan. Saya sendiri percaya bumi itu datar. Datar sedatar-datarnya, tapi massa membuat ruang dan waktu melengkung. Datar seperti permukaan bola. Saya memang tak percaya surga tempat pesta seks (kalau mau, bisa melakukannya di dunia). Tapi seperti Borges, saya percaya di surga ada perpustakaan yang sangat komplet di mana saya bisa membaca semua buku yang ada (jangan tanya saya apa dalilnya, saya enggak tahu). Kalau mau jengkel, setidaknya jengkellah pada hal-hal yang lebih dekat dulu, siapa tahu itu membuat peradaban maju lebih cepat. Ambil segelas bir (atau kopi), duduk manis, dan nikmati hidup. Terakhir, jangan tersinggung dengan tulisan ini. Sesama medioker mbok jangan gampang tersinggung.

Disclaimer: penulis tak pernah belajar sastra secara formal, hanya gandrung baca dan tidak seberapa banyak. Kemudian sok-sokan menulis empat novel dan beberapa kumpulan cerita. Secara formal belajar filsafat, itu pun lulus dengan nilai pas-pasan



Standard
Journal

The Call of Cthulhu and Other Weird Stories, H.P. Lovecraft

Kesusastraan dengan cara sederhana merupakan dua kutub penjelajahan terhadap yang gelap, yang tak diketahui, didorong oleh rasa ingin tahu maupun hasrat untuk menguasai. Penjelajahan pertama adalah menafsir hal-hal gelap menjadi sesuatu yang bisa dipahami, dengan menjalin simpul-simpul yang mencuat ke dunia yang lebih benderang. Ini berlaku untuk novel-novel detektif maupun fiksi sains, bahkan dalam cerpen-cerpen filosofis nan magis Borges. Penjelajahan kedua adalah menceburkan diri ke dalam kegelapan, melihat sendiri ada apa di sana, bahkan meskipun hasilnya merupakan sesuatu yang tak terjelaskan alias tetap gelap. Ini berlaku untuk kebanyakan novel-novel horor, weird, sebagian fiksi sains, dan saya kira H.P. Lovecraft berada di sana. Ia merupakan penunjuk jalan, pemandu dunia gelap, dan sialnya ia tak pernah bermaksud menjadi pemandu yang baik dalam arti membebaskan kita dari ketersesatan. H.P. Lovecraft bisa dianggap sebagai pemandu dunia gelap dan ia sendiri adalah bagian dari dunia itu, bagian dari terornya sendiri. Itulah yang paling brengsek dari penulis satu ini. Sebagian besar cerpen-cerpennya, setidaknya di kumpulan The Call of Cthulhu and Other Weird Stories ini, merupakan sejenis laporan yang dituliskan, atau diceritakan oleh penyintas dunia gelap yang sanggup melarikan diri dari teror. Itu cara terbaik untuk menggambarkan dunia Lovecraft. Paparannya yang membabi buta adalah kegandrungannya terhadap peta: ia menghadirkan apa saja untuk menggambarkan lanskap di sekeliling dunianya. Dalam cerpen yang paling mendekati mimpi buruk, “The Shadow Over Innsmouth” di mana si tokoh terjebak di satu kota aneh (dengan bus yang menuju kota itu hanya berisi tiga penumpang saking tak ada yang mau lewat di sana, dan penduduk dari daerah lain yang terpaksa bekerja di sana tak berani kelayapan di malam hari, dan makhluk-makhluk berbadan manusia dan berkepala ikan bisa lewat di depanmu), Lovecraft menggambarkan peta kota itu. Jalan-jalannya, gedung-gedungnya, taman-tamannya. Bagian mana yang terpapar sinar rembulan, bagian mana yang menguarkan aroma amis. Di cerpen “The Haunter of the Dark”, ia menggambar peta sebuah gereja tua, yang menyimpan misteri berbeda bagi pengunjung nekat yang berbeda. Sebagai pemandu, tentu ia memang harus melakukannya. Peta itu bukan untuk membuat kita mengerti hamparan lanskap di sana; tapi terutama dibuat agar kita mengerti, di sanalah teror itu akan berada dan kita sadar hanya celah-celah kecil yang bisa membuat kita terbebas dari sana. Kita memerlukan peta semacam itu sebab, dalam cerpen-cerpennya, Lovecraft selalu mengajak kita ke sebuah dunia yang kita kenali, tapi sekaligus dunia lain. Dunia lain dalam makna yang sebenarnya: kaum pendatang dari negeri antah-berantah, makhluk yang tak pernah ada dalam khasanah bumi dan penghuninya, makhluk semi dewa. Cerpen-cerpennya penuh dengan kisah dan upacara pemujaan terhadap makhluk-makhluk ini, dan menampilkan ekspresi yang bengis dari manusia: tak berdaya dan menjadi budak, jika bukan buronan. Kadang-kadang dunia asing itu muncul dalam bentuknya yang paling aneh, tidak mawujud kecuali dalam berkas cahaya seperti di cerpen “The Colour Out of Space”. Cahaya itu datang bersamaan dengan jatuhnya batu meteor ke sebuah lahan peternakan, dan sejak itu, cahaya tersebut menjadi teror “yang mengisap kehidupan”. Orang-orang di kota Arkham (kota ini selalu muncul, secara langsung atau tidak) bahkan tak berani membicarakannya lagi. Melalui kisah-kisah horor atau aneh (kadang dengan balutan fiksi sains dalam cerpen semacam “Herbert West — Reanimator”, sisi lain dari Frankenstein yang kocak sekilagus mengerikan), Lovecraft menyajikan tragedi manusia menghadapi dunia lain yang asing dan gelap. Kita mencoba bersahabat dengan kegelapan untuk terjebak di dalamnya, dan mencoba melawan hanya untuk dikalahkan. Lovecraft tak menyajikan dunia terang yang menghibur, ia pemandu kejam dunia kegelapan itu sendiri.



Standard