Journal

Playing in the Dark, Toni Morrison

Bagaimana keberadaan dan persona yang-bukan-putih dan Afrikanisme dikonstruksi — diciptakan — dalam kehidupan dan kesusastraan Amerika? Tanpa bermaksud untuk mengklasifikasikan karya-karya yang rasis atau tidak rasis, apalagi menyudutkan penulisnya (seorang penulis secara pribadi tak berhubungan dengan tindakan karakter fiktifnya, meskipun ia bertanggung jawab atas mereka — begitu katanya) yang merupakan wilayah kritik lain, dengan jernih Toni Morrison melakukan pelacakan dalam monograf pendek ini. Selalu menarik menemukan seorang penulis fiksi juga menulis telaah tentang kesusastraan, terutama pada tema-tema yang merupakan pusat perhatiannya, seperti kebudayaan dan orang-orang kulit hitam Amerika bagi penulis ini. Tak hanya dalam esai-esai pendek, tapi terutama dalam satu buku utuh. Jelas Toni Morrison, sebagai perempuan kulit hitam, tampak sebagai antitesis bagi sejarah kesusastraan Amerika (yang begitu jelas sebagai sejarah kesusastraan lelaki-putih), dan dengan sadar ia menempatkan dirinya di sana, dengan kesadaran akan bias tersebut, dengan kemungkinan meromantisir yang-hitam daripada mengutuknya; atau mengaburkan yang-putih daripada membuatnya jelas. Playing in the Dark — Whiteness and the Literary Imagination awalnya merupakan bahan ceramah kuliahnya tentang sejarah peradaban Amerika yang kemudian disunting kembali menjadi monograf. Ia membukanya dengan sejenis sindiran betapa sejarah kesusastraan Amerika tak hanya mengabaikan narasi-narasi orang kulit hitam, tapi bahkan juga mengabaikan karya-karya orang kulit putih yang membicarakan orang atau kebudayaan orang kulit hitam. Sebagai contoh, karya-karya terakhir Faulkner yang banyak bicara tentang ras dan kelas, dianggap kritikus sebagai karya-karya minor. Saya rasa tinjauannya bisa dipergunakan untuk membaca kasus-kasus lain yang melibatkan kelompok-kelompok yang-tak-terepresentasikan di wilayah-wilayah geografi atau kebudayaan lainnya, dan bagi saya, itu sangat jelas terbayang bahkan ketika sambil membacanya. Toni Morrison menunjukkan, misalnya, lebih daripada pengabaian di dalam kesusastraan, bahkan ketika sebuah karya bicara tentang orang kulit hitam, kemungkinan besar karya itu ditujukan bukan buat mereka. Uncle Tom’s Cabin tidak ditujukan untuk pembaca seperti “Uncle Tom”, misalnya. (Apakah kesusastraan yang mencoba membela “yang tak bersuara” ditujukan untuk dibaca oleh orang-orang “yang tak bersuara” ini?, misal lain). Seperti umumnya buku yang baik dan telaah yang jernih, tanpa harus memaksanya, buku ini membawa saya ke mana-mana. Membuat saya bertanya-tanya bagaimana rasialisme bisa muncul — tak hanya sebagai sterotif tentang ras. Ia menunjukkan bahwa kadang perkara rasial ini dipergunakan penulis sebagai “strategi lingusitik” (yang buat saya, boleh jadi merupakan wujud kemalasan). Misal, dengan mengatakan seseorang sebagai “negro”, tak hanya itu merujuk kepada warna kulit, tapi juga stereotif kelas ekonomi. (Saya jadi ingat kampanye rasial selama pemilu gubernur Jakarta tahun lalu, di mana “Cina” juga berarti stereotif yang meliputi: kaya, asing, kafir, dan menjadikan label itu tak hanya sebagai warna kulit atau kesukuan belaka, tapi merupakan label umum yang menghilangkan persona individu). Tak cuma itu, ia juga menunjukkan (dengan cukup provokatif), “yang-hitam” tak hanya wujud kecurigaan tentang “yang liyan”, tapi juga merupakan strategi linguistik yang lain untuk mengekspresikan fetish, hasrat seksual maupun ketakutan erotis. Itu hanya sebagian dari hipotesis di buku ini. Pertanyaan yang sangat menggelitik, yang tentu saja saya sadar memiliki konteks yang berbeda dengan apa yang terjadi di kesusastraan Amerika dan hubungannya dengan narasi kulit-hitam, apakah argumen-argumen ini bisa diterapkan (atau diperbandingkan) dalam situasi yang lain? Tak hanya mengenai rasialisme di Indonesia, misalnya, tapi juga dalam problem-problem ketidakterwakilan gender, kelas, maupun keyakinan dalam kesusastraan kita.

Standard
Journal

First Snow on Fuji, Yasunari Kawabata

Seperti kebanyakan pengarang ingusan, saya pernah berupaya untuk bisa menulis seperti Kawabata. Tentu saja gagal total, dan setelahnya tak punya nyali untuk melakukannya lagi, yang belakangan rada disyukuri sebab saya tak perlu menjadi dirinya. Kesan yang paling kuat setiap membaca karya-karyanya adalah keterpesonaannya kepada benda-benda, alamiah maupun ciptaan, dan membawa benda-benda itu sebagai pesan bagi perasaan-perasaan yang tak terkatakan. Saya membaca First Snow on Fuji dengan sejenis ketidaksengajaan. Tanpa sesuatu yang harus dilakukan menjelang akhir tahun, sementara sesekali hujan datang, saya melihat deretan buku-buku Kawabata di rak dan berpikir apakah perlu membaca ulang satu atau dua novelnya. Hingga saya sadar ada satu buku terselip di sana dan saya belum pernah membacanya. Buku bekas dalam kondisi yang sangat baik, saya lupa dari mana memperolehnya, yang jelas di dalamnya tertera cap bahwa itu bukan lagi milik satu perpustakaan, di sebuah kota di New Jersey. Ketika saya membukanya, saya baru sadar itu kumpulan cerita, dan ketika mulai membaca beberapa cerpennya, saya juga sadar hal-hal terbaik yang saya sukai dari Kawabata ada di cerita-cerita ini. Dalam cerpen pertama “This Country, That Country” ia berhasil membuat saya terus-menerus membayangkan leher jenjang Takako. Dan melalui leher jenjangnya, yang menjadi penanda sensualitasnya, kita dibawa ke perasaan-perasaannya, dan hubungan yang rumit di antara dirinya, suaminya, tetangga mereka, juga lelaki muda yang menjadi simpanannya. Di cerpen kedua, ia (atau lebih tepat: tokohnya) terobsesi dengan deretan pohon ginkgo di pinggir jalan, yang daunnya rontok separoh ke bawah (dan menurutnya aneh) di awal musim gugur. Di cerpen ketiga, ia berkisah tentang seorang aktor yang adalah seorang lelaki, lalu untuk menghindari wajib ikut perang berubah menjadi perempuan, belakangan kembali menjadi lelaki (dengan spesialis memerankan tokoh perempuan). Ia memadupadankan kisah si aktor ini dengan tempat permandian di mana ia bertemu, yang menghadap laut, dan bercerita tentang keindahan senja dan gumuk pasir, di mana horison antara langit dan air tampak gelap. Tanpa terhalangi, saya memikirkan horison itu sebagai titik antara menjadi lelaki dan perempuan di diri si aktor, yang mungkin juga gelap. Cerpen “Raindrops” tentu saja suara tetesan hujan di sini menjadi penting, untuk kontras dengan hidup yang kering. Selepas itu ada cerpen yang menceritakan tentang batu-batu nisan, nyaris menyerupai ensiklopedia, tapi tak ayal memberi pertanyaan yang sangat mengganggu, benarkah orang mati membutuhkan penanda? Orang hidup mungkin membutuhkannya sebagai pengingat, tapi untuk apa bagi si mati? Baiklah, kembali ke usaha saya meniru Kawabata di masa lampau. Kegagalan itu demikian nyata buat saya karena perkara satu hal: saya tak bisa meyakinkan orang bahwa ada tokoh yang bisa terobsesi dengan benda-benda dan imaji-imaji seperti Kawabata melakukannya, hingga pertanyaan ini muncul: apakah orang Jepang memang seperti itu, atau Kawabata yang demikian hebat membuatnya tampak alamiah? Bahwa orang bisa membicarakan salju pertama yang muncul di puncak Gunung Fuji, sambil duduk di kursi kereta, dan sambil mengaduk-aduk perasaan hati mereka? Mungkin memang bisa. Saya pernah membaca penulis Jepang lainnya, Hikaru Okuizumi di novel The Stones Cry Out. Seperti terlihat dari judulnya, itu tentang orang yang tergila-gila kepada batu, dan dari batu itulah memancar tak hanya aspek geologis, tapi juga sejarah dan psikologi. Dan bukankah kita bisa menemukan satu tokoh yang terobsesi dengan daun telinga di novel Haruki Murakami, dan ia membuatnya tak semata-mata daun telinga, tapi imaji tentang sensualitas atau entah apa lagi? Ryūnosuke Akutagawa jarang melakukan ini (ia lebih mendekati seorang realis), tapi kecenderungan memanfaatkan imaji alam dan benda-benda juga bisa ditemukan di Jun’ichirō Tanizaki. Pokok soalnya, imaji-imaji ini di tangan mereka, terutama Kawabata, tak berakhir menjadi deskripsi tentang sesuatu, atau kesan narator (atau tokohnya) tentang itu, tapi juga menjadi perkakas untuk menguar perasaan-perasaan dan hubungan rumit yang diciptakannya. Di cerpen yang menjadi judul cerita, perdebatan apakah salju di puncak Fuji merupakan salju pertama atau bukan, jelas merupakan pembukaan untuk hubungan yang membingungkan antara Utako dan Jirō. Mereka jatuh cinta di masa perang, hingga Utako hamil di luar nikah. Keluarga dan perang memisahkan mereka, dan anak itu kemudian mati. Delapan tahun kemudian mereka tak sengaja bertemu di stasiun. Kita kemudian tahu Utako baru saja bercerai, dan pernikahannya merupakan neraka. Ia tampak menderita dan kurus. Jirō mengajaknya untuk pergi ke tempat permandian, alias kencan. Mereka mandi bareng. Tidur berdampingan. Mereka bicara dan tampak bahagia. Tapi bagaimana hubungan dan masa depan mereka, sebab pada saat yang sama, jelas Jirō juga telah terikat pernikahan. Kebahagiaan itu jelas seperti salju di puncak Fuji, tapi makna kebahagiaan itu mungkin mereka sendiri tak tahu apa sebenarnya. Ada satu cerpen yang menurut saya sangat menarik, berjudul “Silence”, di mana kebisuan, kematian, dan hantu menjadi imaji-imaji yang berkaitan. Kisahnya sendiri bahkan memiliki kisah lain di dalamnya: tentang seorang penulis muda yang gila dan dilarang memiliki apa pun kecuali kertas-kertas kosong. Si pemuda gila akhirnya menulis di kertas kosong dan setiap ibunya berkunjung meminta sang ibu membaca cerita yang ditulisnya. Si ibu terpaksa ngarang-ngarang karena kertas itu kosong, tapi si anak mendengarkan seolah yang diceritakan ibunya memang apa yang ditulisnya. Kisah itu berasal dari novel seorang penulis, yang di cerpen ini telah lumpuh dan bisu. Seperti kertas kosong di tangan ibu si penulis gila, apakah kebisuan juga pada dasarnya memiliki suara? Dan bagaimana dengan kematian? Di dua cerpen lainnya kita bertemu kembali dengan daun telinga, dan bagi yang pernah membaca cerpen “The Izu Dancer”, barangkali akan terkenang cerpen tersebut ketika membaca cerpen terakhir “Yumiura”, tentang kunjungan seorang perempuan umur lima puluhan tahun ke kediaman seorang penulis terkenal dan tanpa tedeng aling-aling berkata, “Kuharap kau tidak lupa.” Tidak lupa bahwa mereka pernah bertemu, bahwa sang pengarang ketika muda pernah datang ke kamar si perempuan dan tentu saja tidur dengannya, bahwa si pemuda bahkan melamarnya, tapi ditolak karena si perempuan muda sudah tunangan. Kini si perempuan datang kembali, penuh penderitaan. Menderita karena pernah menolak lamaran si penulis. Cerpen itu, saya rasa merupakan sisi kocak dari Kawabata. Humor kecil yang entah kenapa, terasa pedih.

Standard
Journal

Tiga Novel Herta Müller

The Land of Green Plums. Kadang-kadang saya berpikir bahwa detail merupakan sesuatu yang menyiksa. Ada untuk menyiksa. Bahwa benda-benda, kejadian-kejadian, gerakan dan bahkan kesan-kesan yang kecil, renik, yang nyaris luput, ada dan hidup. Dan kehidupan mereka demikian menyiksa karena mereka bisa mengawasimu, menjadi saksi untuk rahasia-rahasia kecilmu, juga kehidupan pribadimu. Dengan cara seperti itulah novel ini membagi teror kepada pembacanya. Herta Müller menuliskan fragmen-fragmen, hari ke hari, kadang melompat dalam ruang dan waktu, dan terutama melalui benda-benda kecil yang secara ajaib menjadi penanda berbagai ketakutan, kecemasan, keputusasaan, hingga kecurigaan. Dalam satu fragmen perjalanan mempergunakan bus, diceritakan bahwa semua penumpang selalu menunduk. Siapa pun yang naik bus itu akan selalu menunduk. “Lantainya hilang. Kau bisa melihat jalan melalui lubang-lubang.” Saya membayangkan sesuatu yang tersirat: kau melihat jalanan yang bisa menggerusmu mampus. Melalui empat sahabat (seorang perempuan yang juga narator, dan tiga lelaki), sejak masa mereka sekolah dan tinggal di asrama, kemudian bekerja di tempat-tempat berbeda, hingga sebagian besar dipecat dan memutuskan untuk bermigrasi, mencari secercah harapan. Hidup mereka bagaikan kartu pos yang memotret setiap masa dalam hidup mereka, berisi gambar teman sekamar yang gantung diri, orang gila di alun-alun, penjahit, keluarga di kampung, daftar orang-orang yang mati karena mencoba melarikan diri, pekerja penjagalan yang diam-diam meminum darah hewan. Semua potret itu diceritakan saling-bergantian, sebab, “Jika kita tak bicara, [hidup] jadi tak tertanggungkan.” Pada saat yang sama, itu juga potret-potret yang dicatat oleh Kapten Pjele, yang terus memata-matai mereka, menginterogasi, dan mengirim ancaman. Bahkan ketika mereka berhasil keluar dari negerti itu, bayang-bayang ketakutan tak juga pudar. Mereka bisa menemukan diri melayang dari jendela tinggi dan terempas di tanah. Baca novel ini secara perlahan, sebab hal-hal terbaik, kristal-kristalnya, terdapat pada detail-detail yang menyentak, juga meneror. Teror yang akan memaksamu untuk bertahan hidup, atau seperti dalam beberapa kasus, untuk menyerah kalah.

The Appointment. Membaca Herta Müller, kau harus mencoba mengikuti iramanya, sebelum hanyut dalam aliran kisah yang seringkali mengalir sesuka hati. Saya menyadari ini dalam pembacaan novelnya yang ini, yang ketiga (sebelum memutuskan untuk maraton membaca tiga novelnya, saya pernah membaca novelnya yang lain, The Passport). Novel ini secara sederhana mengisahkan perjalanan si narator pergi naik trem untuk diinterogasi, untuk kesekian kalinya. Interogasi yang berawal dari keisengan mengirim pesan di dalam pakaian yang akan dijual ke luar negeri (ia bekerja di pabrik pakaian). Isi pesan itu merupakan sejenis lelucon bahwa ia berharap menemukan jodoh orang Italia. Ia dianggap mempermalukan negara, dan sejak itu dikenai sejenis wajib kunjungan. Tapi sepanjang jalan, di antara percakapan dengan sesama penumpang, lalat yang berdengung dan mengganggu si sopir, ingatannya maju-mundur ke banyak kejadian dan sosok. Tidak, ia tak mengatakannya dalam sejenis soliluqui, tapi seperti pembicaraan akrab dengan seseorang. Seperti umumnya pembicaraan yang ngalor-ngidul, ia bisa melipir ke sana-kemari. Ia berkisah tentang teman baiknya, yang tidur dengan ayah tirinya sendiri sebelum mengencani pejabat yang membawanya ke kematian, lalu tiba-tiba ia ingin kisah dirinya sendiri, suami pertamanya, suami keduanya. Dari sana ia berkisah tentang ayahnya, yang dipergokinya tidur dengan seorang perempuan di pangkalan bus, dan sempat membuatnya berhasrat menggantikan si perempuan dengan dirinya sendiri. Ya, kita dihadapkan kepada kehidupan yang amburadul, nyaris tanpa harapan. Jika di novel sebelumnya narator harus menghadapi keangkuhan kekuasaan, di novel ini, yang dihadapi adalah kehidupan sehari-hari yang tak karuan. Sesuatu yang dengan tepat bisa digambarkan oleh kutipan di toilet umum di pasar loak: “Hidup benar-benar penuh dengan tai. Tak ada pilihan kecuali kencing di atasnya.”

The Hunger Angel. Membaca beberapa novel sekaligus dari seorang penulis yang sama memberimu kesempatan tak hanya cerita dan karakter, tapi juga gaya dan irama sang penulis. Seperti seorang pendengar dongeng yang tak hanya terpukau oleh kisah, tapi oleh suara dan nada sang pendongeng. Pada saat yang sama, di waktu tertentu, mungkin memberi sejenis kekagokan. Di novel ini, beberapa kali saya merasa agak kagok, membalik beberapa halaman untuk meyakinkan saya bahwa naratornya memang seorang lelaki, bukan seorang perempuan seperti di dua novel sebelumnya. Novel ini memang agak berbeda dengan dua novel lain di atas. Di dua novel lain, selain narator perempuan, novel terjadi di Rumania dalam kungkungan kediktatoran dengan mata-mata dan interogasinya; di novel ini, kita di ajak ke camp kerja paksa di Rusia. Menurut catatan si penulis, kisahnya berdasarkan apa yang dituturkan seorang kawannya yang memang pernah ditahan di camp tersebut. Tapi kekagokan itu memberi saya semacam pertanyaan yang menantang: apakah benar-benar ada yang namanya suara perempuan dan suara lelaki? Suara feminin dan suara maskulin? Apakah pilihan kata, frasa, dan cara pandang terhadap dunia memberi kita (pembaca) perasaan seperti itu? Ataukah hal itu tak lebih dari stereotif tertentu, bahwa baik lelaki maupun perempuan, pada dasarnya bisa mengekspresikan sesuatu dengan cara yang sama? Bukankah kata-kata (atau frasa, atau susunan tatabahasa) tertentu bersifat feminin atau maskulin tak lebih dari konstruksi saja? Terlepas dari pertanyaan-pertanyaan yang menggelitik tersebut, kualitas-kualitas yang bisa kita dapatkan dari novel-novel sebelumnya, tetap bisa ditemukan di sini. Benda-benda kecil (uang 10 rubel, selendang, koper dari kotak gramofon, kentang, kutu), di tangan Herta Müller bisa menjadi banyak hal. Demikian juga si malaikat lapar, yang seringkali lebih kejam, lebih sinis, tapi sekaligus bisa menjadi teman yang intim, yang memberimu jalan untuk tetap bertahan hidup.

Standard
Journal

Walter Benjamin

The Origin of German Tragic Drama. Ia pernah berkata (di esai “One-Way Street”), “Karya akademik modern umumnya dimaksudkan dibaca seperti sebuah katalog.” Ia mungkin bercanda, atau meledek. Atau mungkin ia menganggap serius segenap katalog, dari daftar produk IKEA hingga daftar diskon dari minimarket depan rumah; dari katalog pameran seni rupa hingga katalog berisi daftar menu. Tentu saja ketika ia menulis buku ini, yang dimaksudkannya sebagai “karya akademik” (agar bisa menjadi dosen, meskipun akhirnya tak jadi), ia mungkin berpikir tentang katalog, meskipun saya tak merasa begitu ketika membacanya. Tapi mari berpikir secara begitu. Jika ini sebuah katalog, ia sedang menjajakan sederet gagasan mengenai drama tragedi, simbolisme, satir, dan tentu saja sosok tragis. Sosok tragis tak hanya muncul di dalam fiksi, tapi juga di kehidupan nyata. Saya sudah lama bertanya-tanya, dari mana ini berasal? Meskipun buku ini tak secara khusus untuk menjawab pertanyaan tersebut, tapi sedikit banyak memberi lanskap kilasan sejarah tragedi dan sosok-sosok tragis. Dengan kematiannya setelah minum racun demi mempertahankan apa yang dianggapnya sebagai kebenaran, Plato mengekalkan sosok tragis yang adalah gurunya: Socrates. Dan jangan dilupakan, Jesus berkorban untuk keselamatan manusia, untuk dosa-dosa mereka. Ia sosok tragis. Kedua sosok tragis ini, di kehidupan nan sekuler maupun nan religius, banyak memengaruhi sosok-sosok tragis lainnya. Fiktif maupun nyata, saya kira. Sejarahnya panjang, dan yakin akan tetap panjang ke masa depan. Sebagai orang yang lama hanya mengenal Walter Benjamin karena disebut orang di sana-sini (kelihatannya memang keren menyebut namanya dan mengutip satu-dua penggal kalimatnya), dan kemudian hanya sempat membaca satu-dua esainya (mungkin dianggap paling penting: “The Storyteller” dan “The Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction”), membaca karyanya yang ini jelas merupakan tantangan yang mengasyikan, dan saya kira merupakan jendela pembuka yang sangat perlu. Terutama jika dibandingkan dengan tulisan-tulisan lainnya, yang seringkali berupa esai refleksi ringkas (meskipun tidaklah ringkas benar), dan terutama jika terbiasa hanya membaca penggalan-penggalan kalimatnya yang dikutip orang.

Reflections. Ketika di akhir 1940 di perbatasan Spanyol dalam “pelarian menuju kebebasan” (sebagaimana disebut oleh sahabatnya, Gershom Scholem), ia tertangkap dan memutuskan mengakhiri hidupnya, dunia kehilangan salah satu pemikirnya yang cemerlang. Tapi sekaligus, barangkali, memberi gairah baru untuk filsafat ketika esai-esai pendeknya, alih-laih traktat filsafat tebal (meskipun ia juga meninggalkan naskah lebih dari seribu halaman tentang arkade atau deretan toko-toko yang menjamur di Paris di akhir abad 19, yang sayangnya tak terselesaikan), dikumpulkan dan diterbitkan. Para filsuf mungkin tak lagi terobsesi untuk menciptakan atau menemukan sistem besar dan kompleks, dan yang datang kemudian hanyalah menjadi catatan kaki bagi para pendahulunya: bagi Marx, Hegel, Kant (misalnya). Setidaknya saya bisa melihat itu dari tulisan-tulisan Walter Benjamin ini. Ia tak sungkan menjadi “catatan kaki” ini, terutama untuk Marx, dan justru dari sini kita bisa melihat mata tajamnya terhadap hal-hal sederhana, keseharian yang banal, dan menembus untuk melihat dasar material dari berbagai fenomena tersebut, menjadikannya salah satu penafsir marxisme yang segar. Ketika pemikiran Marx menjadi monumen yang angker dan mengintimidasi (bahkan jika mengikuti anjuran-anjuran Slavoj Žižek, untuk memahami Marx kamu harus juga memahami Hegel yang tak kalah mengintimidasi), para penafsir seperti Georg Lukács, Antonio Gramsci atau Ernst Bloch membuat gagasan-gagasan besar ini menjadi lebih tertanggungkan untuk dipahami. Walter Benjamin membuatnya lebih terjangkau lagi, melalui fragmen-fragmen pemikirannya yang memang tak sistematis, acak, dan yang tak kalah penting: membicarakan fenomena-fenomena di depan mata. Hal ini saya kira juga dipengaruhi (atau mempengaruhi) pilihan gayanya: esai-esainya ditulis dengan berbagai pendekatan, mulai dari semi-memoar, catatan perjalanan, sketsa, percakapan (dengan Brecht), meskipun ia juga tak anti melakukan ulasan dengan gaya tradisional mengenai satu tema spesifik (seperti dilakukannya di “On Language as Such and on the Language of Man”). Lebih dari seorang pemikir maupun pengamat kebudayaan, Walter Benjamin memang seorang prosais yang mengasyikkan, bisa melihat detail-detail peristiwa dan menuangkannya dalam baris-baris yang jernih. Dalam catatannya mengenai Moskow, misalnya, ia menulis bagaikan seorang novelis: “Mereka telah mengembangkan tindakan mengemis sebagai satu seni tinggi dengan seratus cara dan variasi. Mereka mengamati para pelanggan di satu kedai roti di satu jalan yang sibuk, mendekati satu di antaranya, dan menemaninya, mengeluh dan memohon, hingga si pelanggan merelakan sepotong pie panasnya.” Sekali lagi, membaca potongan semacam itu, kita serasa berhadapan dengan seorang pencerita, melebihi seorang pemikir yang tengah mencacah dan membedah sebuah peristiwa. Tentu saja gaya yang relatif ringan dan bersifat fragmen ini sudah pernah dilakukan oleh para pemikir sebelumnya. Satu yang menonjol, misalnya Nietzsche, melalui fragmen-fragmen dan aporisma-aporismanya. Hal ini, pada akhirnya, akan menjadi tantangan berat bagi pembaca yang mencoba untuk menemukan “sistem”, pola, dari semua tulisan dan pemikiran yang tercerai-berai ini, terlepas apakah sang pemikir mencoba membangunnya atau tidak. Bagi saya sendiri, Walter Benjamin tampaknya tak mencoba ke arah sana. Meskipun begitu, kita dengan mudah melihat tegangan dari pemikirannya: antara sistem besar marxisme dan kecenderungannya yang tak kalah kuat dan tak terelakkan kepada anarkisme. Seperti kebanyakan intelektual sezamannya, ia mengklaim dirinya sebagai pemikir kiri, simpati dan pembelaannya terhadap marxisme harus dihadapkan kepada kenyataan Rusia di hari-hari tersebut. Ia tak menyembunyikan dukungannya, tapi juga tak sungkan memperlihatkan kegalauannya terhadap perkembangan kediktatoran proletar di bawah Stalin. “Rusia kini bukan saja sebuah kelas, tapi juga sebuah negara kasta,” katanya. Mungkin hal ini yang membuatnya terus-menerus melirik anarkisme? Lihat saja, kadang ia menukil Epicurus yang terdengar anarkis, ketika bicara tentang citra (atau saya kira tentang apa pun) yang “terus-menerus membebaskan dirinya dari benda-benda dan menentukan persepsi kita tentangnya.” Dengan kata lain, tak ada citra yang absolut atas apa pun. Tapi pada saat yang sama, persepsinya (dari telaah-telaahnya) terhadap banyak hal, memperlihatkan garis pemikiran marxisme yang juga kuat. Bicara tentang Pameran Dunia 1855 dalam esai lanskap tentang “Paris, Capital of the Nineteenth Century”, dengan jitu (sebagaimana hal ini masih tepat bahkan hingga saat ini), ia menunjukkan bahwa pameran tersebut “merupakan situs ziarah untuk pemujaan atas komoditas.” Ide pameran ini pada awalnya untuk “menghibur kelas pekerja dan menjadikan untuk mereka festival kesetaraan,” tapi dengan cepat Walter Benjamin menunjukkan bahwa yang terjadi justru “[kelas pekerja] menyerahkan dirinya untuk dimanipulasi sementara menikmati keterasingan dari dirinya sendiri dan dari orang lain.” Kemudian, ketika bicara tentang “Surrealism”, ia tak segan-segan menyatakan, “Sejak Bakunin, Eropa kekurangan satu konsep radikal mengenai kebebasan. Kaum surealis memilikinya.” Sikap anarkismenya, juga keberpihakannya kepada marxismenya, bagaimanapun telah membuatnya unik. Ia mungkin belum berhasil memadupadankannya (atau memang tak perlu), membiarkan esai-esainya bergoyang. Itu hanya memperlihatkan dirinya yang lebih dari sekadar pemikir: ia seorang pencari, penjelajah. Dalam satu foto yang pernah saya lihat, ketika ia duduk berdua bersama Bertolt Brecht saling menghadap ke papan catur, kita bisa melihat sosok manusia yang tak hanya tajam menatap bidak-bidak catur, tapi pada saat yang sama juga ada kesan menerawang. Ia tak hanya sering bermain catur atau bercakap-cakap dengan sang seniman, tapi sering datang kepadanya membawa esai yang baru ditulisnya. Meminta dibaca, menunggu komentar, lalu kembali mempertimbangkannya. Mungkin ia harus mempertimbangkan kedalaman pemikirannya, mungkin juga ia sedang mencoba memoles gaya prosanya. Ia pernah berkata bahwa menulis prosa yang baik memiliki tiga langkah: tahap musikal ketika itu disusun, tahap arsitektural ketika dibangun, dan tahap tekstil ketika ia dirajut. Esai-esainya, di luar tinjauan yang menyegarkan, tak terbantahkan juga merupakan musik, arsitektur sekaligus rajutan yang membuka ruang-ruang persepsi baru, sekaligus petualangan dan perjalanan.

Illuminations. Membaca esai macam “The Works of Art in the Age of Mechanical Reproduction” di zaman sekarang mungkin terasa menggelikan. Meskipun tentu saja masih mudah menemukan berbagai karya yang direproduksi secara mekanik (buku, foto konvensional, piringan hitam masih diproduksi), tapi serbuan reproduksi digital (buku elektronik, musik, film, foto digital) dengan segala kemudahan dan kecepatannya telah membuat reproduksi mekanik tampak tak hanya ketinggalan zaman, tapi terutama pemborosan waktu dan biaya. Walter Benjamin tak menikmati umur panjang, memilih mati daripada hidup di bawah fasisme Nazi, dan karenanya tak pernah melihat zaman digital ini. Tapi saya kira, apa yang dibicarakannya di esai tersebut tetap akan relevan, sebab yang diperbincangkannya bukan semata-mata alat, cara dan hasil reproduksi (yang merupakan salah satu fokus kritik Marx atas sistem produksi kapitalisme), tapi terutama apa pengaruhnya bagi pencipta, penikmat dan karya itu sendiri. Kegelisahannya berkelindan dimulai dari pertanyaan-pertanyaan tentang otentisitas atau keunikan. Tentu saja, seperti dikatakannya, semua karya seni pada dasarnya bisa direproduksi. Di zaman dulu, lukisan seorang master bisa dijiplak oleh murid-muridnya. Demikian pula pementasan teater, bisa diproduksi berkali-kali oleh kelompok yang sama atau kelompok yang berbeda. Dalam konteks seperti itu, reproduksi masih memiliki keunikan masing-masing. Goresan tangan si master berbeda dengan tangan si murid. Bahkan produksi teater dari kelompok yang sama di hari berbeda memiliki keunikannya masing-masing. Tapi bagaimana dengan karya yang diproduksi secara mekanik, seperti fotografi atau film? Semua hasil reproduksi bisa dikatakan sama. Apakah tetap ada otentisitas dan keunikan? Apakah mereka memiliki “aura”? Saya rasa pertanyaan-pertanyaan itu semakin tajam jika ditujukan kepada reproduksi digital. Dalam reproduksi mekanik, perbedaan antara satu kopi dengan kopi lain masih bisa dilacak (karena untuk ukuran zaman sekarang, penggandaan mekanik bisa dianggap tak persis), tapi dalam produksi digital, kesamaan itu nyaris bisa dikatakan persis. Dan bagi saya, kenapa esai ini tetap menarik di masa sekarang, karena reproduksi digital semakin menjauhkan kita (manusia, sebagai pencipta atau penikmat) dari cara produksi sebuah karya. Dunia digital memberi ilusi seolah semua orang bisa memproduksi banyak hal sendiri; sebetulnya kita semakin jauh, terpisahkan oleh mesin dan program, yang untuk sebagian besar orang semakin tak terakses. Baiklah, buku ini tak hanya berisi esai itu saja. Esainya yang saya anggap penting “The Stroyteller” juga ada di buku ini. Meskipun esai itu merupakan refleksi untuk cerita-cerita Nikolai Leskov, tapi pada dasarnya ia bicara hal yang jauh lebih luas dan barangkali masih ada hubungannya dengan apa yang dibicarakan di esai sebelumnya: reproduksi cerita dan bagaimana cerita disebar-luaskan. Ini semakin memperkuat kegandrungannya untuk melihat karya seni dan sastra (dan banyak hal fenomena kebudayaan secara umum) tak melulu dalam aspek-aspek estetiknya belaka, tapi juga bagaimana itu diproduksi dan direproduksi, dan bagaimana pengaruhnya terhadap penerimaan publik. Ia melacak bagaimana dunia berubah dari tradisi pendongeng ke tradisi “cerita” yang dibawa oleh surat kabar, membentuk apa-apa yang dianggap penting untuk disampaikan dan diterima. Hah, bukankah di masa sekarang hal itu semakin nyata? Cara “cerita” dibawakan melalui internet, sosial media, sedikit banyak memorakporandakan fondasi tradisi bagaimana cerita-cerita disampaikan dan diterima. Dalam hal ini, saya rasa esai-esai Walter Benjamin menjadi lebih penting lagi untuk ditengok dan dibaca, terutama bagaimana pengaruh alat dan cara reproduksi karya dan cerita (berita) memengaruhi struktur sosial, dan tentu pada akhirnya juga ekonomi.

Standard
Journal

The Sad Part Was, Prabda Yoon

Ini memang agak memalukan: saya nyaris tak tahu apa-apa tentang kesusastraan negeri-negeri tetangga. Hanya satu-dua novel dari Malaysia saya baca, sisanya nyaris tak ada yang saya tahu tentang kesusastraan Thailand, Filipina, Vietnam atau lainnya. Tentu saja ada sejenis rasa penasaran, rasa ingin tahu, sekaligus prasangka (buruk): kalaupun baca, paling tak jauh berbeda dengan kesusastraan negeri sendiri. Prasangka buruk mengenai kesusastraan (seperti kesusastraan) negeri sendiri itu kurang-lebih: (1) terlalu berat oleh beban lokalitas, penuh dengan uraian-uraian yang nyaris mendekati karya-karya etnografi ketimbang sebuah cerita fiksi; (2) terlalu berat oleh beban ornamen, yakni kata-kata indah bersayap yang seringkali hanya menghasilkan deskripsi ketimbang narasi; (3) terlalu berat oleh beban moral. Baiklah, siapa pun tak ada yang melarang membuat cerita macam begitu. Saya hanya cenderung menghindarinya. Tapi membaca The Sad Part Was (sialnya dalam bahasa Inggris, dan entah kapan akan tersedia dalam bahasa Indonesia, sebab entah kapan juga saya bisa membaca dalam bahasa Thai) karya Prabda Yoon cukup keras menghantam prasangka (buruk) itu. Sebagian besar kisahnya, ini memang kumpulan cerita pendek, terjadi di ruang urban, Bangkok, tanpa upaya berlebihan meromantisirnya (dengan segala stereotif tentang metropolitan di negara dunia ketiga, utamanya Asia Tenggara). Hal pertama yang tampak adalah cara berceritanya (saya makin penasaran seperti apa aslinya), yang ringan tanpa buih-buih: “Aku tak punya banyak hal yang bikin bangga, kecuali satu kenangan yang membuatku tersenyum sampai hari ini yakni Ei Ploang menyebutku orang baik.” Seperti itu cara ia menulis, seperti di pembukaan satu cerpennya. Irama dan gayanya segar, mengingatkan saya kepada beberapa penulis kontemporer (saya tak ingin menyebut nama-nama, berharap selama membaca catatan ini, cukup mengingat nama Prabda Yoon belaka). Bahkan untuk manusia seperti saya yang sialnya juga belum pernah mengunjungi Thailand (kecuali beberapa kali transit di bandara ibukotanya), tak ada yang asing dalam kisah-kisahnya, juga humor-humornya. Saya benar-benar tertawa lebar, harfiah, ketika membaca kisah mengenai sepasang muda-mudi yang harus nengok ke atap tempat tinggal mereka gara-gara dua huruf N dan O yang besar sekali (dari iklan produk) diterbangkan hujan badai dan jatuh di sana. Sialnya, huruf N dan O itu menimpa seseorang yang kemudian mati tertindih. Setelah melapor dan polisi datang memeriksa, dengan air muka yang kesal penyelidik menyuruh muda-mudi ini ikut ke kantor polisi. Ternyata di atap, polisi mencium bau percintaan dan penyelidik menganggap mereka melakukan hal yang tak beradab dengan bercinta di depan mayat. “Tapi, kami melakukannya sebelun tahu ada mayat,” gumam si cowok, tapi tentu saja tak mampu mengatakannya terus-terang. Kisah yang lain sangat mengharukan, tentang seorang anak yang punya kelainan mental dan setiap hari memberi sejumput rumput kepada ibunya sambil berkata, “Ibu, ini salju untukmu.” Si ibu selalu berterima kasih, tapi dengan hati yang pedih juga. Ia berpikir, mungkin salju betulan bisa membuat si anak sembuh. Ia akhirnya berhasil menabung setelah bertahun-tahun (anaknya sudah tiga puluhan tahunan), dan membawanya ke Alaska. Apakah si anak sembuh? Itu tak penting. Yang terpenting si anak selalu memberi “Ini salju untukmu” dan si ibu selalu akan berterima kasih. Berharap akan humor agak-agak filosofis? Baca kisah tentang ruang kosong antar kalimat (saya harus membayangkan itu ditulis dalam aksara Thai; dalam huruf latin saya membayangkan spasi di antara kata). Tentang seorang lelaki yang mengintip seorang gadis menulis diary di bus, dan terkejut mengenai spasinya yang lebar sekali. Ia mencoba berspekulasi mengenai ruang kosong itu, spekulasi yang menarik, satir, sekaligus menggelikan. Spekulasi konyol yang kurang-lebih bisa ditemukan juga di cerpen lain tentang kancing piyama yang copot ketika pemiliknya tidur. Siapa atau bagaimana kancing itu bisa copot? Atau tentang akhir dunia di cerpen terakhir. Saya tak perlu menceritakan cerpen-cerpen lainnya, tapi saya bisa katakan, ini salah satu hal paling menyegarkan yang bisa kita temukan dari negeri tetangga, dan membuat saya makin yakin bahwa sudah saatnya ada upaya-upaya serius saling memperkenalkan kesusastraan di antara tradisi-tradisi yang berdekatan ini.

Standard
Journal

The Haunting of Hill House, Shirley Jackson

Membaca tiga buku dari penulis yang sama, saya tahu mulai keranjingan. Rasanya saya sanggup menghabiskan liburan hanya berteman buku-bukunya, bahkan meskipun yang dimaksud liburan adalah tak melakukan apa pun dari Januari hingga Desember kecuali membaca buku. Shirley Jackson mengambil elemen-elemen horor gothic: kastil tua, udara dingin yang merayap, makhluk-makhluk gentayangan yang tak tampak, dan tentu saja karakter-karakter yang tak berdaya, disertai kebrutalan yang kadang dibawakan dengan bahasa yang tanpa tedeng aling-aling. Itu semua sanggup membuat saya menahan napas berkali-kali, sambil mengantisipasi kejadian-kejadian yang akan datang, seolah saya ikut terjebak di dalam kastil tua yang remang tersebut. Pada saat yang sama, saya pikir ia berhasil melepaskan diri dari berbagai klise kisah-kisah horor gothic. Kita tak pernah benar-benar bertemu hantu, meskipun ia ada di sana. Setidaknya tidak di ketiga buku ini, termasuk yang terakhir saya baca, The Haunting of Hill House. Tapi bukan berarti tidak ada yang menakutkan. Kastil ini sendiri, Hill House, merupakan sosok angker dengan ruang-ruang, pintu-pintu, jendela-jendela, beranda, tangga, bahkan bukit dan halamannya, menyimpan kengerian. Dan ketika ia dengan sengaja mempergunakan beberapa adegan yang sangat akrab di berbagai literatur horor, ia tetap sanggup membuat bulu kuduk kita berdiri. Kita akan bertemu gedoran-gedoran pintu sementara si tokoh ketakutan di dalam kamar. Awalnya ketukan, kemudian gedoran, lama-kelamaan sesuatu itu tampak hendak mendobrak pintu, hingga pintu bergetar nyaris copot dari engsel-engselnya. Lain waktu si tokoh sedang berjalan di bukit diikuti dua temannya. Ia bicara dengan mereka, mendengar langkah kaki mereka. Tapi lama-kelamaan ia merasa bicara sendiri, meskipun kedua temannya terdengar terus mengikutinya. Ketika ia menoleh, kedua temannya tak ada di belakangnya, tapi ia masih mendengar langkah kaki di sekitarnya. Shirley Jackson, seperti para master kisah-kisah horor, tak pernah kesulitan untuk membuatmu ketakutan, sambil sesekali menutup buku untuk mengumpulkan sedikit nyali melanjutkannya lagi. Tapi pokok soalnya, di novel ini (sebagaimana di novel sebelumnya), ia tak melulu meramu kisah menakutkan. Dalam kisah-kisah horornya ini, hantu (meskipun ia ada di sana) bukanlah segalanya. Ia tak peduli apakah hantu ini ada di sana karena arwah yang gentayangan, karena kutukan masa lampau, atau apa pun. Yang terpenting adalah manusia-manusia yang harus berhadapan dengan hantu-hantu ini. Lebih dari mengenai Hill House dan sejarahnya yang mengerikan, novel ini berkisah tentang Eleanor, Theodora, si doktor yang melakukan penelitian tentang hal-hal supranatural, Luke, serta istri si dokter dan temannya, ditambah si juru masak. Permainan ketujuh karakter di novel ini merupakan anugerah tersendiri. Persilangan di antara mereka, seolah tanpa usaha yang berarti, menjadi sejenis humor yang menyenangkan dan melimpah, yang memberi sisi lain dari ruang-ruang menakutkan di rumah tempat mereka tinggal. Dan di antara mereka, Eleanor tentu saja memiliki tempat yang sangat khusus. Kecuali di bagian yang sangat awal, hampir keseluruhan novel ini mengikuti cara pandang dan pikirannya. Dan jika saya harus membandingkan dengan novelnya yang lain, We Have Always Lived in the Castle, saya bisa mengatakan bahwa, keterasingan, kesendirian, dan terutama keadaan dicampakkan oleh dunia seringkali merupakan horor yang lebih brutal daripada apa yang bisa dilakukan oleh hantu-hantu. Eleanor jelas tak hanya harus menghadapi hantu-hantu di Hill House, tapi juga dunia nyata di luar rumah itu. Terutama, ia tak hanya mendengar suara-suara aneh penghuni Hill House, ia juga harus mendengar suara-suara yang datang dari dalam kepalanya sendiri.

Standard
Journal

Lelaki Ini Melakukan Apa Pun untuk Orang yang Dicintainya, Membikin Repot Walikota dan Polisi

The Skating Rink, Roberto Bolaño

Saya selalu senang dengan orang-orang yang jatuh cinta. Mereka bisa melakukan nyaris apa saja, didorong oleh ketololan dan harapan. Setidaknya mereka mencoba melakukannya. Jika terpaksa, mereka akan coba memutar matahari agar terbit dari barat, atau menguras samudera Hindia dalam semalam. Bayangkan air yang mengalir perlahan dari puncah-puncak gunung dan bukit, merembes melalui celah-celah bebatuan, berbelok-belok mengikuti kontur tanah, mengarungi hamparan daratan beratus-ratus kilometer, demi cintanya kepada samudera. Hanya orang-orang yang bernyali, ditambah ketabahan tanpa ujung, serta kesembronoan dan kembali ketololan, layak untuk jatuh cinta. Tanpa itu, kau hanya akan berujung menjadi orang menyedihkan, penuh gerundelan, bukan ketololan yang kau pertunjukan tapi keonaran, dan hidupmu perlahan habis digerogoti waktu dan rasa sakitmu sendiri. Seperti genangan air yang tak bergerak, segera dipenuhi lumut, sampah, belatung, menjadi butek, bau dan terabaikan.

Bayangkan cinta seorang penulis kepada kesusastraan. Kebesaran cinta dan nyalinya hanya bisa dibedakan, apakah ia mengalir seperti arus sungai, kadang tenang kadang garang, kadang beriak, kadang menghajar bebatuan; atau ia hanya genangan suwung yang tak bakal ke mana-mana kecuali habis dimakan terik matahari, atau diisap perut bumi. Kadang-kadang ada penulis seperti genangan air macam begitu, tapi bersikap seolah ia sungai besar dengan riam dan jeram yang menghidupi banyak hidup, dengan kebijakan dan kemarahan. Atau ia berkata sebaliknya, “Aku tak perlu berkelana menghantam lereng-lereng bukit, aku tak perlu mengalir membelah persawahan dan ladang. Itu semua negeri asing, yang tak lebih indah dari apa-apa yang kulihat di sekelilingku. Kehidupan sejati adalah apa yang kulihat di sini, di sekitarku. Aku menggenang karena di tempat ini semuanya indah.” Tai. Ia tak punya nyali untuk menjelajah. Jika ia mencintai tempatnya menggenang, ia tak perlu mengatakan bahwa tempat lain tak lebih indah atau memberinya makna. Ia belum melihat apa-apa, tapi mulutnya berkoar seolah telah mengerti segala sesuatu.

Ada seorang penulis yang sekali waktu ditanya, “Apa yang Tuan lakukan jika sedang kehabisan gagasan?” Sang penulis menjawab, “Membaca buku.” Tentu saja sang penanya memburu, “Buku apa?” Dan yang terdengar merupakan jawaban paling mengibakan yang pernah keluar dari mulut seorang manusia, “Buku saya sendiri.” Ia tak lebih dari genangan air yang memuja-muji kebutekan dan belatung-belatung di dirinya. Dan penulis lain berkata, “Aku tak membaca Kafka atau Dostoyevsky. Buatku kesusastraan sejati ada di sekitarku, buku-buku dari penulis yang kukenali.” Kau hanya tak punya nyali menghadapi Kafka atau Dostoyevsky. Jika kau menyukai karya-karya kawanmu sendiri, cintai mereka tanpa harus membungkus diri dengan aksi hebat tak membaca Kafka atau Dostoyevsky. Kalau kau mencintai Si Eneng, dan menikahinya, katakan kepada dunia bahwa kau menikahi Si Eneng dan menikahinya tanpa harus menyebut-nyebut bahwa kau tak mencintai Si Nunung. Si Nunung mungkin tak peduli apa pun kepadamu. Menyebut bahwa kau tak mencintai Si Nunung hanya memperlihatkan betapa sial dan menyedihkan dirimu. Betapa kau merinding hingga tulang sumsum pada kenyataan bahwa di dunia ini ada perempuan bernama Si Nunung. Jika seseorang atau sesuatu tak memiliki arti penting untuk hidupmu, kau tahu apa yang harus kau lakukan untuk sesuatu yang tak penting? Tak mengatakan apa pun. Mereka tak ada di pikiranmu.

Jangan bungkus kekerdilanmu dengan kata-kata besar. Itu menyedihkan. Sungguh.

Cinta, sekali lagi, sangat mungkin membuat manusia atau apa pun menjadi begitu tolol. Tapi ketololan yang terakui. Kau harus mengakui bahwa dirimu tolol di hadapan cinta, dan itulah sumber energimu. Sesuatu yang akan membuatmu mengalir dan hidup. Seperti ketololan yang dilakukan Enric Rosquelles di novel The Skating Rink karya Roberto Bolaño. Apa yang dilakukan Enric demi cintanya kepada Nuria, seorang skater cantik yang menemukan dirinya dicampakkan dari tim Olimpiade nasional hanya karena ia seorang Catalan di tim yang dipenuhi para atlet dari Castilian? Ia tahu untuk mengembalikan Nuria ke tim nasional hanyalah dengan membuktikan kepada dunia bahwa mereka salah, bahwa Nuria sangat layak berada di sana. Untuk itu Nuria harus berlatih selama musim panas. Tapi di mana? Ia sudah dicampakkan dan tak memiliki akses atas arena skate, dan mereka tinggal di kota kecil yang juga tak memiliki fasilitas tersebut. Cinta dan ketololan, percayalah, kadang muncul dengan berbagai gagasan, membongkar segala jenis penghalang. Enric Rosquelles membangun rink skate untuk Nuria Martí, seperti Bandung Bondowoso menciptakan seribu candi untuk Roro Jongkrang, seperti Shah Jahan membangun Taj Mahal untuk mendiang isterinya, Mumtaz Mahal. Dan itu merupakan ketololan Enric. Ketololan yang membawanya ke penjara, membawa kejatuhan seorang walikota, dan bahkan membuat seorang penyanyi tua gelandangan terbunuh. Bahkan pada akhirnya, juga membuat Nuria Martí kehilangan karir untuk selama-lamanya.

Bagi saya, Roberto Bolaño merupakan penulis picaresque modern. Ia pengelana, dan seperti semua pengelana, selalu memiliki nyali untuk berkelana jauh. Kita bisa menemukan banyak aspek tradisi novel-novel picaresque di karyanya. Kita mungkin tak banyak bertemu dengan pencopet, gelandangan, bajingan, penipu, pelacur yang harus berhadapan dengan polisi korup, pastor, dan saudagar rakus. Yang akan kita temui, utamanya adalah para penulis, penyair, kritikus, seniman, yang kemudian berhadapan dengan monster-monster macam Pablo Neruda atau Octavio Paz. Tapi apa bedanya? Ia memperlakukan mereka tetap sebagai bajingan, penipu, saudagar rakus, dan gembel. Dan penipu maupun gembel, penyair maupun kritikus, di satu titik mereka akan jatuh cinta. Entah kepada siapa atau apa. Demikian pula di novel ini kita akan bertemu dengan dua penyair: Remo Morán dan Gaspar Heredia. Dua gembel dengan cara masing-masing, tapi seperti karakter dalam banyak novel Bolaño dan novel-novel picaresque, mereka adalah darah dan daging, harapan, nyali, dan satu aksi dungu ke aksi dungu lainnya. Didorong cinta kepada hidup, kepada dunia yang jembar dan pikiran yang luas. Dan mungkin rasa sedih akan hidup yang demikian fana dan singkat.

Darah dan daging yang akan melakukan sesuatu untuk yang dicintainya, seperti Enric Rosquelles dengan rink skatenya, meskipun untuk itu ia harus menghancurkan karir seorang walikota, membuat repot polisi dan dinas sosial, dan bahkan kehilangan cinta itu sendiri. Seperti air, hidup hanyalah tentang mengalir dan menggenang. Karakter-karakter di novel Bolaño adalah manusia-manusia yang bergerak, mengalir. Kadang menciptakan riam dan jeram.

Standard
Journal

How Fiction Works, James Wood

Realisme hanyalah salah satu genre dalam fiksi, tak bisa dianggap lebih dekat dengan kenyataan dibandingkan genre lain. James Wood menyodorkan satu (sub?) genre lain: realisme komersil, sebagai salah satu brand paling kuat saat ini dalam fiksi. “… brand ini secara ekonomi akan direproduksi, terus dan terus.” Realisme (seperti genre lain) tak lebih dari satu tata bahasa dan seperangkat aturan. Karena direproduksi terus-menerus, ia menjadi konvensi, lalu menjadi kebiasaan. Memberontak atas konvensi ini? Ia akan menciptakan konvensi baru, tentu saja. “Konvensi ini, seperti metafor, tidak mati tapi selalu sekarat. Seniman senantiasa mencoba mengakalinya.”

*

Kenapa Don Quixote butuh Sancho Panza? Menurut James Wood, salah satunya adalah agar ada teman ngobrol. Bagaimana jika tak ada teman ngobrol? Si tokoh akan bicara dengan Tuhan (berdoa), sebagaimana terjadi di teks-teks keagamaan. Dalam naskah untuk pertunjukan, si tokoh akan bicara dengan penonton. Bicara kepada Tuhan kemudian kepada penonton merupakan perkembangan yang signifikan dalam teknik monolog, hingga lahirlah novel yang memberi ruang sempurna untuk apa yang disebut: ngomong (kepada diri) sendiri. Demikianlah evolusi monolog dan lahirnya arus-kesadaran.

*

Di tahun 2006, para polisi di wilayah paling garang di Mexico City diminta untuk membaca sastra. Tak tanggung-tanggung daftar bacaan mereka: Don Quixote, Pedro Paramo, The Labyrinth of Solitude, One Hundred Years of Solitude, hingga karya-karya Agatha Christie dan Edgar Allan Poe. Tujuannya, seperti diutarakan kepala polisinya, “Satu, agar polisi memiliki kosa kata yang lebih luas; dua, memiliki pengalaman tak langsung banyak aspek keduniawian (ya, seperti kata banyak orang, buku adalah jendela dunia); dan ketiga, mempertaruhkan hidupmu demi hidup dan harta orang lain membutuhkan keyakinan yang dalam … kontak dengan sastra diharapkan membuat petugas polisi lebih berkomitmen atas nilai-nilai yang harus mereka pertahankan.”

Terlepas dari perdebatan apakah tujuan sastra memang sepraktis itu atau tidak, menurut saya sih menarik, ya. Meskipun benar, menyibukkan diri baca buku untuk “mengenal dunia” terdengar seperti satu paradoks.

*

Wittgenstein pernah mengeluh bahwa kiasan-kiasan Shakespeare “dalam arti umum, buruk”. Mungkin yang dimaksud adalah metafora Shakespeare: coba tengok “the moody frontier of a servant brow”, dari Henry IV. Kata James Wood, ada pembaca yang akan keberatan bahwa “brow cannot be a frontier, and that frontier cannot be moody.” Tapi, ia melanjutkan, perumpamaan Shakespeare lebih sering merupakan dunia spekulatif daripada mekanikal, di mana pembaca (penonton) diminta untuk mencampakkan perbandingan-perbandingan yang akrab/biasa.

Sekarang mari tengok metafora Thomas Hardy dalam Far From Madding Crowd: “a scarlet handful of fire”. Segenggang pasir sih, baiklah. Tapi segenggam api? Lagipula siapa mau menggenggam api? Kembali menurut James Wood: Inilah justru kekuatan metafora, membuat yang akrab menjadi asing. Atau sebaliknya, membuat yang asing menjadi akrab?

*

Saya rasa memang tak perlu memberi komentar banyak tentang buku ini, yang pada dasarnya juga merupakan komentar atas pembacaan panjang James Wood atas novel-novel sejak Don Quixote (yang paling tua) hingga Terrorist John Updike, kecuali mengutip beberapa bagiannya yang menarik (dan ini sulit, sebab rasanya ingin mengutip seluruhnya). Ia bicara tentang strategi-strategi naratif yang berkembang bersama evolusi novel (termasuk bagian paling menarik tentang narasi-tak-langsung). Seperti telah dikatakan banyak orang, ini buku pendamping untuk para pencinta novel (fiksi secara umum), sebab ia menantang kita untuk membaca dengan cara yang segar dan berbeda.

Standard
Journal

Sesuatu untuk Diceritakan

“Orang-orang yang berpergian, memiliki sesuatu untuk diceritakan,” kata pepatah Jerman, yang saya kutip dari satu esai Walter Benjamin. Tentu saja, meskipun dalam kasus saya, seringkali saya terlalu malas untuk menceritakan kembali apa yang saya lihat atau alami (termasuk malas memotret). Saya termasuk jenis manusia yang lebih menikmati pengalaman jalan-jalan saat itu terjadi, membiarkan otak saya memilah mana yang penting untuk diingat dan mana yang tidak. Jika suatu ketika keluar kembali dalam bentuk tulisan, mungkin otak saya menganggap itu menarik. Tapi sesekali saya keluar dari kebiasaan itu, dan menuliskan sesuatu sementara ingatan tersebut masih segar, termasuk pengalaman perjalanan saya ke beberapa kota di Eropa akhir bulan lalu hingga awal bulan Oktober ini. Kunjungan saya ke kota-kota itu sebenarnya perkara sederhana: untuk membantu penerbit-penerbit mempromosikan novel saya yang terbit di sana. Saya bicara di depan forum atau bertemu dan menjawab pertanyaan wartawan. Itu saja. Tapi kunjungan kali ini menawari saya satu pengalaman untuk melihat gejolak politik Eropa dari sudut-sudutnya, yang meskipun jauh di sana, barangkali denyut-denyutnya bersilangan pula dengan peristiwa-peristiwa politik di negeri sendiri. Ketika tahu saya akan berpartisipasi di satu pameran buku di kota Goteberg, kota terbesar kedua di Swedia, seorang penulis kenalan memberitahu saya bahwa banyak penulis Swedia (juga internasional termasuk Ngũgĩ wa Thiong’o) memboikot pameran tersebut. Tentu ada pula yang tetap datang (seperti Arundhati Roy). Masalah utama dari aksi boikot tersebut adalah keputusan panitia pameran buku memberi tempat kepada kelompok media sayap kanan. Kenalan saya tak bertanya apa pun tentang keputusan saya dengan informasi itu. Tapi bukan penulis jika bisa melarikan diri dari tuntutan-tuntutan ekspresi politis: semua wartawan yang saya temui di Goteberg, meskipun diawali dengan “Anda tak perlu menjawab jika tak nyaman”, akan menanyakan perihal itu. Bagi saya jelas, saya tak punya masalah kelompok mana pun, termasuk sayap kanan, untuk ambil bagian di pameran buku. Itu bukan tindakan kriminal. Mengikuti Voltaire, saya bisa tak sependapat, tapi saya akan membela haknya untuk mengungkapkan hak (atau berada di pameran tersebut). Tapi tentu saja saya juga menghormati para penulis yang memutuskan untuk memboikot, yang barangkali memiliki alasan-alasan yang lebih memadai yang tidak saya ketahui. Saya kemudian bercerita kepada wartawan-wartawan itu tentang keputusan pemerintah Indonesia membubarkan organisasi yang tak sesuai dengan ideologi negara (HTI, dalam hal ini). Saya tak sependapat dengan pandangan-pandangan organisasi ini, tapi membubarkannya jelas saya juga tak sependapat. Pembubaran satu organisasi akan menjadi alasan (dan tabiat) untuk membubarkan organisasi apa pun yang tak sejalan dengan politik pemerintah di lain waktu dan tempat. Hal yang sama bisa diterapkan: melarang satu pihak ambil bagian di pameran, bisa jadi awal dari (tabiat) pelarangan pihak-pihak lain yang juga tak sejalan. Seolah menjadi ilustrasi bagi perdebatan soal boikot dan tidak boikot ini, di hari kedua pameran, kami tak bisa keluar dari hotel dan tempat pameran. Gara-garanya ada demonstrasi besar-besaran kelompok sayap kanan. Saya tak tahu isu apa yang mereka bawakan, yang jelas, demonstrasi ini memancing kelompok-kelompok anti fasis (antifa) dari berbagai kota Eropa berdatangan. Membuat demonstrasi tandingan. Polisi berjaga-jaga di setiap sudut jalan. Dari jendela hotel, saya hanya sanggup melihat kerumunan orang-orang ini. Pemandangan kecil tentang gejolak politik di Eropa. Kebangkitan sayap kanan, dan kalau mau jujur, wajah kelompok kiri yang tergagap-gagap setelah beberapa dekade barangkali lebih asyik bicara dan berdebat ketimbang membangun kekuatan nyata.

Dari Goteberg, dengan menyeret koper yang saya usahakan seringkas mungkin agar bisa dibawa ke kabin, saya melanjutkan perjalanan ke Spanyol. Di kamar kecil pesawat, saya mencopot satu lapis pakaian yang saya kenakan. Saya yakin Spanyol lebih hangat, sehingga tak perlu pakaian berlapis-lapis. Di negara itu saya akan mengunjungi dua kota: Madrid dan Barcelona. Orang yang mengatur perjalanan saya sudah mewanti-wanti, “Mungkin situasinya kurang tepat: sedang ada ketegangan politik di sini. Atau barangkali justru tepat: kamu bisa melihat apa yang sedang terjadi.” Ya, situasi politik yang “tak enak” itu adalah referendum wilayah Katalunya untuk memisahkan diri dari Spanyol. Pemungutan suara tepat terjadi di hari saya sedang terbang. Hasilnya mayoritas penduduk Katalunya ingin berpisah, dan tentu saja pemerintah pusat tak mengabulkannya. Jika mengikuti berita, kita tahu polisi nasional didatangkan ke sana (Katalunya juga memiliki polisi sendiri), dan terjadi bentrokan. Sebagai orang asing, saya mencoba memandang ketegangan politik itu secara santai. Membayangkannya sebagai perseteruan el-clasico antara Real Madrid dan Barcelona. Atau membayangkan novel-novel Javier Marias dan membandingkannya dengan novel-novel Enrique Vila-Matas. Di Madrid, orang-orang yang saya temui rata-rata menanggapi referendum itu dengan serba tidak enak. Sangat bisa dipahami. Mereka hanyalah warga biasa. Beberapa mungkin berasal dari Katalunya, atau punya kerabat dan teman di sana. Dan seperti di Swedia, dengan pengantar yang sama “Anda tak perlu menjawab jika merasa tak nyaman”, para wartawan meminta saya memberi komentar tentang situasi politik Spanyol ini. Di akhir jawaban saya, mereka akan memastikan kembali, “Boleh dikutip?” Tentu saja boleh. Pendapat saya adalah pendapat saya, bisa membuat senang orang atau sebaliknya. Saya tak lama tinggal di Madrid. Dengan mempergunakan kereta, saya pergi ke Barcelona. Perjalanan yang menyenangkan, sebab saya bisa melihat hamparan padang-padang rumput yang begitu luas melalui kaca jendela kereta, yang sebelumnya cuma bisa saya bayangkan ketika membaca Don Quixote (dan itu pun karya dari beberapa abad lampau!). Tiba di Barcelona, tentu saja keadaan sangat kontras berbeda. Hampir semua orang begitu bersemangat membicarakan referendum. Beberapa di antaranya bahkan demikian yakin bahwa mereka akan merdeka, bahwa deklarasi kemerdekaan akan diumumkan dalam waktu yang tak lama (ketika catatan ini saya tulis, deklarasi kemerdekaan itu sudah ditandatangani). Saya bisa keluar dari hotel, menonton reli pendukung kemerdekaan yang membuat kota menjadi lumpuh (kantor-kantor libur, transportasi tak bergerak, bahkan restoran cepat saji memilih tutup agar karyawannya bisa ikut ambil bagian, bukan karena takut rusuh seperti di Indonesia). Dan seperti di Madrid, wartawan setempat juga meminta pendapat saya tentang peristiwa ini. Tentu saja pendapat seorang penulis dari negeri jauh seperti saya sebenarnya tak penting-penting amat, juga tak mengubah apa pun. Tapi pada saat yang sama, barangkali ini semacam kesepakatan umum, bahwa seorang penulis sepatutnya punya pendapat tentang situasi sosial-politik tertentu, betapa pun jauhnya. Untuk urusan ini, baik untuk wartawan di Madrid maupun di Barcelona, saya menjawab dengan jawaban yang sama. Tentu saja konyol jika saya menjawabnya berbeda. Pengetahuan saya tentang hubungan Katalunya dan Spanyol tentu saja jauh dari pengetahuan seorang ahli, dan saya tak bermaksud sok tahu (meskipun umumnya penulis memang sok tahu). Untuk para wartawan ini, saya memutuskan untuk memberi analogi. “Menjawab pertanyaan Anda perkara ketegangan antara Katalunya dan Spanyol, lebih baik saya bercerita tentang negeri saya sendiri.” Saya kemudian bercerita tentang Papua. Sebuah negeri yang tanpa lelah mencoba memerdekan diri dari Indonesia. Anda bisa memiliki ungkapan yang berbeda untuk menceritakan bagaimana Papua menjadi bagian dari Indonesia, tergantung dari sisi mana Anda melihat: dicaplok, menggabungkan diri, pendudukan, merebut kembali. Satu hal yang penting, sebagai orang Indonesia, tentu saya berharap semuanya baik-baik saja. Kami bisa menjadi saudara, bergandengan tangan bersama-sama dalam sebuah komunitas bernama Indonesia. Tapi pada saat yang sama, jika mereka ingin memisahkan diri, saya bisa mengerti. Sangat mengerti. Kenapa? Situasinya sudah jelas rumit, tapi bisa juga disederhanakan: Indonesia memperlakukan mereka, tanah mereka, dengan sangat buruk. “Saya tahu ini berbeda, tapi setidaknya itu yang bisa saya bayangkan ketika Anda bertanya tentang Katalunya dan Spanyol.” Bahwa yang paling mendasar adalah, saya bisa mengerti kehendak mereka. Dan memberi dukungan jika itu sudah menjadi kehendak mereka. Apa pun afiliasi politiknya, wartawan di Madrid maupun di Barcelona tampaknya bisa menerima jawaban saya dengan senang hati. Sisi lainnya, saya belajar satu hal yang saya pikir sangat berguna. Memiliki pandangan politik itu satu hal, tapi mencari cara mengungkapkannya merupakan hal lain. Seringkali serumit menuliskan sebuah cerita, agar ia menjadi jelas sekaligus merangkum konteks jika ada.

Saya akhirnya terbebas dari hingar-bingar politik setelah tiba di Paris. Dan setelah lebih dari seminggu tak bertemu, di kedutaan besar Indonesia, saya akhirnya berjumpa nasi. Tapi rupanya saya tak benar-benar terbebas dari pembicaraan politik. Di waktu makan malam, saya sendiri yang menyeret pembicaraan ke arah politik lagi, dengan bertanya, “Apa kabar Macron?” Tuan rumah yang mengundang makan malam menjawab, “Saya tak suka dia. Tapi suami saya merasa dia baik-baik saja. Macron memang enggak kanan, tapi apa bedanya? Dia kerja untuk orang kaya, bukan untuk orang-orang gembel.”

Standard
Journal

Dua Novel Halldór Laxness

Saya tak pernah bisa membayangkan bahwa seorang penulis dan karya-karyanya, setepat apa pun, bisa mewakili tradisi dan kehidupan (atau kesusastraan) suatu bangsa, yang mestinya lebih ruwet dan beragam. Hal yang lebih tepat barangkali, seorang penulis dan karya-karyanya bisa menjadi sejenis teropong kecil untuk melihat tradisi dan kehidupan, juga spirit negerinya. Membaca buku, kurang-lebih seperti kunjungan singkat ke sebuah negeri. Kita melihat serba sedikit, atau bahkan hanya melihat apa-apa yang sudah ditunjukkan oleh pemandu atau rekomendasi para pelancong sebelumnya, tapi kita pada saat yang sama mencoba membayangkan negeri itu dari potongan-potongan serba sedikitnya. Kadang-kadang kita melihat sesuatu secara tak sengaja, sebagaimana dari sebuah buku kita memperoleh baris-baris yang tak pernah menjadi perhatian pembaca lain. Mengenai Islandia, saya tak banyak tahu kecuali negeri itu sangatlah jauh dan berbeda dari negeri saya. Sebuah negeri yang dari namanya, kita tahu sebagai negeri es, nyaris dekat dengan kutub utara. Sebuah negeri yang sangatlah sulit melihat pohon meskipun beberapa tahun terakhir mereka mencoba menanam pohon di kota untuk menangkal angin kutub yang menggigilkan. Naik bus ke luar kota, yang akan terlihat hanyalah hamparan batuan volkanik yang menghitam, kalaupun ada warna hijau, itulah hamparan padang rumput. Penduduknya sendiri hanya sekitar 360 ribu orang saja. “Kami punya banyak tanah untuk setiap orang kalau dibagi-bagi,” begitu seloroh sopir bus yang saya ajak bicara. Tak banyak yang bisa dilakukan dengan tanah itu, memang. Dari generasi ke generasi mereka lebih dikenal sebagai pelaut, meskipun salah seorang teman makan malam saya menggerutu, “Ikan-ikan terbaik kami dijual untuk ekspor.” (Dan saya menyahut, “Begitu pula biji-biji kopi terbaik kami.”) Itu sedikit yang saya ketahui setelah kunjungan singkat tempo hari, di awal September tahun ini. Selain kunjungan singkat ke Reykjavik dan sedikit jalan-jalan ke pedalamannya, saya menengok negeri ini juga melalui empat novel Sjón, yang boleh dibilang merupakan perkenalan saya dengan kesusastraan mereka. Setelah itu, saya memutuskan untuk membaca dua novel yang tersedia di tangan saya, dari satu raksasa kesusastraan Islandia. Halldór Laxness.

Under the Glacier. Judul asli novel ini sebenarnya kira-kira “Christianity at Glacier”, tapi mungkin judul itu tampak kurang menjual. Bisa dikira seperti laporan misionaris, meskipun sebenarnya novel ini memang ditulis bagaikan sebuah laporan tentang hal-ihwal kekristenan di daerah pedalaman. Dikisahkan sang uskup mendengar tentang satu daerah glacier di mana ritual kristen tidak diamalkan. Orang mati tidak dikuburkan dengan semestinya, dan misa serta perayaan lain tidak dilaksanakan di gereja setempat. Bahkan konon sang pastor tinggal dengan perempuan yang bukan isterinya. Kuatir mengenai hal ini, diutuslah seorang anak muda, tampaknya calon pastor, meneliti bagaimana sebenarnya kekristenan di daerah tersebut. Novel ini ditulis dalam bentuk sejenis laporan, meskipun di sana-sini kadang muncul komentar-komentar ringkas, yang ditulis oleh sang utusan. Seperti biasa, selama membaca novel ini angan saya melayang ke mana-mana sambil bertanya, agama kristen macam apa sih yang ada di sana? Hingga pertanyaan yang terus mengepung saya, untuk negeri yang tampak begitu jauh dari mana-mana secara geografis, bagaimana hal-hal dari luar membentuk negeri tersebut? Agama kristen, misalnya, jelas sebagai sesuatu yang asing yang merayap datang ke sana dengan sangat lambat (bisa jadi melalui Kerajaan Denmark). Ada kesan ini merupakan negeri antah-berantah yang terabaikan oleh dunia, pengaruh pusat-pusat peradaban karena jarak yang membentang, tampak seperti sayup-sayup saja. Jelas itu salah. Justru karena negeri tersebut berada di ujung dunia, jauh dari mana-mana, orang-orangnya menjadikan diri mereka sebagai petualang-petualang tangguh, yang menganggap samudera dan badainya sebagai pekarangan rumah belaka. Tak hanya secara fisik, tapi juga gagasan. Bahkan daerah glacier sebagaimana di novel ini, tak kurang kosmopolit dari pusat peradaban di negeri-negeri lain. Ketika sang utusan akhirnya bertemu pastor setempat, ia tak hanya menemukan sang pastor yang lebih peduli membantu penduduk memperbaiki sepatu kuda daripada mengadakan khotbah, tapi juga menemukan perdebatan spiritual. Dari kepercayaan pagan lama mereka hingga ide-ide Tao dan kepercayaan Timur, dari “pengikut Muhammad” hingga kepercayaan bahwa daerah glacier tersebut sebagai pusat semesta dan gerbang bagi komunikasi dengan makhluk-makhluk di galaksi lain. Juga tak mengherankan jika bertemu perempuan yang pernah menjadi mucikari di Buenos Aires, menjadi seorang biarawati di Spanyol, melanglang buana ke Lima, Paris, dan banyak tempat lainnya. Saya membayangkan, dari keheningan negeri tersebut (barangkali karena datang dari negeri tropis di salah satu kota yang berpenduduk terpadat di dunia, buat saya Islandia memang hening sekali), mereka menyerap berbagai hal yang terpancar dari mana-mana. Ini novel yang jauh dari permukaannya, jika kau berhasil menyelam sedikit saja, merupakan humor tentang agama dan spiritual. Humor yang tampak begitu bebas, riang, dan berani. Barangkali karena datang dari tepi dunia? Memikirkan itu, bagi saya, semakin menambah kadar kelucuannya. Uskup dan kekuasaan agama kristen bagi penduduk yang lugu ini, barangkali tak ada bedanya dengan raja dan kerajaan Denmark. Mereka ada dan berkuasa, tapi jauh di sana. Mereka mengakuinya, tapi sekaligus tak memusingkannya. Sebab bagi penduduk glacier, menemukan kuda yang lepas jauh lebih penting. Dan bagi para petualang gila, berhasil menemukan kontak dengan makhluk luar angkasa lebih berarti.

The Fish Can Sing. Berbeda dengan novel sebelumnya, di mana watak kosmopolitan lebih menonjol, novel ini tampak berusaha untuk melihat ke dalam. Kisahnya berpusat pada seorang anak muda (diceritakan sejak ia masih kecil) bernama Alfgrimur dan (barangkali alter-egonya) Gardar Holm, penyanyi opera yang berhasil “menaklukkan dunia”, bahkan bisa menyanyi di hadapan Paus dan rumah-rumah opera di kota-kota besar Eropa maupun Amerika. Ya, ini kisah tentang bagaimana negeri terpencil di sudut dunia ini, pun berhasil menyumbangkan putera terbaiknya kepada peradaban dunia. Saya jadi membayangkan Björk. Juga mengingat celoteh pemandu tur yang sepanjang jalan terus bernyanyi dan kemudian berkata, “Hampir semua orang Islandia pernah tergabung dengan kelompok musik.” Dan itu mengantarkan saya pada obrolan lain, “Dibandingkan jumlah penduduk, kami juga punya penyair yang sangat banyak.” Sebagian besar memang menerbitkan sendiri buku puisinya, dan si orang yang menceritakan itu juga mengakui, sebagian besar barangkali mutunya tak seberapa. “Soalnya bukan seberapa bermutu puisimu. Yang terpenting bagi kami, semua orang merasa boleh menulis puisi, dan kami tak berusaha menghancurkan kesenangan mereka.” Laxness berusaha meneropong ketenaran, kejembaran dunia, membandingkannya dengan ketersembunyian dan dunia yang kecil. Islandia sebagai negeri antah-berantah di ujung dunia, memandang negeri-negeri yang dianggap sebagai pusat-pusat peradaban. Penyanyi terkenal yang dipuja-puja, menghadapi bocah kecil yang hanya menyanyi di pemakaman. Bernyanyi untuk banyak orang, untuk uang yang melimpah dan mengalir tiada henti, sebagai kontras dengan bernyanyi untuk memuji Tuhan dan menemukan nada yang sejati di dalam diri. Tentang pengusaha yang mengeruk ikan dengan kapal besar, dan tentang kakek tua yang menangkap ikan sebatas kebutuhannya. Jika Gardar Holm menaklukkan dunia, hidup Alfgrimur sebatas pekarangan rumahnya. Tapi dalam kontras-kontras macam beginilah, Laxness memperlihatkan kembali humornya, juga ironinya. Alfgrimur mungkin akan mengikuti jejak Gardar Holm setelah kakeknya mengirim dia ke sekolah, kemudian mengirimnya ke luar negeri untuk belajar musik. Tapi baginya, mewakili orang-orang biasa di lingkungannya, harapan terbesarnya tak lebih hanya sekadar menjadi menangkap ikan. Dituturkan dalam bentuk kronik yang mengisahkan peristiwa-peristiwa sederhana di sekitar rumah dan tokoh-tokohnya, ada sejenis kerawanan atas kontras-kontras tersebut. Lihat si kakek, yang tak hanya menangkap ikan sebatas yang dibutuhkan, tapi juga selalu menjualnya dengan harga sama (tak peduli sedang paceklik atau melimpah). Ia memperlihatkan kehidupan yang sederhana, tanpa ambisi dan kerakusan. Tapi pada saat yang sama, ia tak bisa membiarkan cucunya (Alfgrimur sebenarnya anak telantar yang ditinggalkan perempuan tak dikenal di rumah itu) hanya hidup di sekitar pekarangan rumah dan berakhir menjadi nelayan (yang makin hari makin susah setelah datangnya kapal-kapal besar). Ia mengirim cucunya ke dunia, yang tentu saja akan menghadapi hidup yang tak sederhana lagi. Novel ini tampak memiliki banyak bias biografi penulisnya, setidaknya pencariannya. Setelah memeluk Katolik Roma di masa mudanya, Laxness menjadi seorang komunis di usia dewasa, dan di masa tua menjadi pengikut Tao. Apa yang ia cari? Seperti Alfgrimur, ia mungkin mencari nada sejati di dalam dirinya. Sebab ikan, yang sangat melimpah di negeri ini, adalah ikan meskipun bisa bernyanyi.

Standard