Eka Kurniawan

Journal

Category: Journal (page 2 of 21)

The Call of Cthulhu and Other Weird Stories, H.P. Lovecraft

Kesusastraan dengan cara sederhana merupakan dua kutub penjelajahan terhadap yang gelap, yang tak diketahui, didorong oleh rasa ingin tahu maupun hasrat untuk menguasai. Penjelajahan pertama adalah menafsir hal-hal gelap menjadi sesuatu yang bisa dipahami, dengan menjalin simpul-simpul yang mencuat ke dunia yang lebih benderang. Ini berlaku untuk novel-novel detektif maupun fiksi sains, bahkan dalam cerpen-cerpen filosofis nan magis Borges. Penjelajahan kedua adalah menceburkan diri ke dalam kegelapan, melihat sendiri ada apa di sana, bahkan meskipun hasilnya merupakan sesuatu yang tak terjelaskan alias tetap gelap. Ini berlaku untuk kebanyakan novel-novel horor, weird, sebagian fiksi sains, dan saya kira H.P. Lovecraft berada di sana. Ia merupakan penunjuk jalan, pemandu dunia gelap, dan sialnya ia tak pernah bermaksud menjadi pemandu yang baik dalam arti membebaskan kita dari ketersesatan. H.P. Lovecraft bisa dianggap sebagai pemandu dunia gelap dan ia sendiri adalah bagian dari dunia itu, bagian dari terornya sendiri. Itulah yang paling brengsek dari penulis satu ini. Sebagian besar cerpen-cerpennya, setidaknya di kumpulan The Call of Cthulhu and Other Weird Stories ini, merupakan sejenis laporan yang dituliskan, atau diceritakan oleh penyintas dunia gelap yang sanggup melarikan diri dari teror. Itu cara terbaik untuk menggambarkan dunia Lovecraft. Paparannya yang membabi buta adalah kegandrungannya terhadap peta: ia menghadirkan apa saja untuk menggambarkan lanskap di sekeliling dunianya. Dalam cerpen yang paling mendekati mimpi buruk, “The Shadow Over Innsmouth” di mana si tokoh terjebak di satu kota aneh (dengan bus yang menuju kota itu hanya berisi tiga penumpang saking tak ada yang mau lewat di sana, dan penduduk dari daerah lain yang terpaksa bekerja di sana tak berani kelayapan di malam hari, dan makhluk-makhluk berbadan manusia dan berkepala ikan bisa lewat di depanmu), Lovecraft menggambarkan peta kota itu. Jalan-jalannya, gedung-gedungnya, taman-tamannya. Bagian mana yang terpapar sinar rembulan, bagian mana yang menguarkan aroma amis. Di cerpen “The Haunter of the Dark”, ia menggambar peta sebuah gereja tua, yang menyimpan misteri berbeda bagi pengunjung nekat yang berbeda. Sebagai pemandu, tentu ia memang harus melakukannya. Peta itu bukan untuk membuat kita mengerti hamparan lanskap di sana; tapi terutama dibuat agar kita mengerti, di sanalah teror itu akan berada dan kita sadar hanya celah-celah kecil yang bisa membuat kita terbebas dari sana. Kita memerlukan peta semacam itu sebab, dalam cerpen-cerpennya, Lovecraft selalu mengajak kita ke sebuah dunia yang kita kenali, tapi sekaligus dunia lain. Dunia lain dalam makna yang sebenarnya: kaum pendatang dari negeri antah-berantah, makhluk yang tak pernah ada dalam khasanah bumi dan penghuninya, makhluk semi dewa. Cerpen-cerpennya penuh dengan kisah dan upacara pemujaan terhadap makhluk-makhluk ini, dan menampilkan ekspresi yang bengis dari manusia: tak berdaya dan menjadi budak, jika bukan buronan. Kadang-kadang dunia asing itu muncul dalam bentuknya yang paling aneh, tidak mawujud kecuali dalam berkas cahaya seperti di cerpen “The Colour Out of Space”. Cahaya itu datang bersamaan dengan jatuhnya batu meteor ke sebuah lahan peternakan, dan sejak itu, cahaya tersebut menjadi teror “yang mengisap kehidupan”. Orang-orang di kota Arkham (kota ini selalu muncul, secara langsung atau tidak) bahkan tak berani membicarakannya lagi. Melalui kisah-kisah horor atau aneh (kadang dengan balutan fiksi sains dalam cerpen semacam “Herbert West — Reanimator”, sisi lain dari Frankenstein yang kocak sekilagus mengerikan), Lovecraft menyajikan tragedi manusia menghadapi dunia lain yang asing dan gelap. Kita mencoba bersahabat dengan kegelapan untuk terjebak di dalamnya, dan mencoba melawan hanya untuk dikalahkan. Lovecraft tak menyajikan dunia terang yang menghibur, ia pemandu kejam dunia kegelapan itu sendiri.

A Grain of Wheat, Ngũgĩ wa Thiong’o

“Kami pergi ke gereja. Mubia, dengan jubah putih, membuka Injil. Ia berkata, berlututlah untuk berdoa. Kami berlutut. Mubia berkata: Pejamkan mata. Kami melakukannya. Kau tahu, ia tetap membuka mata sehingga ia bisa tetap membaca. Ketika kami membuka mata, tanah kami telah lenyap dan pedang api berdiri berjaga.” Saya tak menemukan ungkapan sesederhana sekaligus tepat ke jantungnya tentang kolonialisme, melebihi apa yang saya baca di novel Ngũgĩ wa Thiong’o, penulis Kenya, A Grain of Wheat. Seseorang pernah mengingatkan saya bahwa agama, uang dan negara (bangsa, kerajaan, dan segala ide tentang komunitas-bangsa) merupakan tiga kekuatan yang sering menyatukan umat manusia. Saya bisa menambahkan: tiga hal itu juga yang sering menghancur-leburkan manusia dan peradabannya. Persekutuan agama dan hasrat menyebarkan peradaban dan nilai-nilai serta kerakusan yang didorong oleh uang telah menyebabkan kolonialisme, salah satu kebrutalan dalam sejarah dunia modern, dan ide tentang negara-bangsa berkelindan di sana membuatnya semakin rumit. Jelas ini novel politik, dalam tradisi yang sangat gamblang tentang perjuangan kaum tertindas melawan kaum penindas. Kisahnya sendiri berkelindan di sekitar hari-hari menjelang kemerdekaan Kenya dari pendudukan Britania, melibatkan beberapa tokoh yang tak hanya membuat novel ini sebagai sebuah novel sejarah, tapi juga sebuah epik sosial dalam sebuah pertanyaan besar, “Apa artinya menjadi bebas, menjadi merdeka?” Kita dihadapkan kepada aksi-aksi heroik, tapi sekaligus dihajar oleh pertanyaan mendasar, apa artinya menjadi pahlawan? Siapa sebenarnya pahlawan? Setelah membaca novel ini, saya rasa hal terbaik untuk membicarakannya adalah dengan mengambil satu-dua kutipan darinya dan melihat kembali apa yang terpancar dari sana. “Pengecut hidup untuk melihat ibunya sementara sang pemberani mati di medan pertarungan,” begitu novel ini berkata di satu tempat. Perjuangan kaum tertindas melawan para penindas, kita tahu tak sesederhana satu pihak lemah melawan pihak yang kuat. Novel ini menunjukkan hal yang lebih rumit dari itu: adalah perjuangan melawan ambisi-ambisi pribadi, baik di kalangan kaum tertindas maupun penindasnya sendiri. Aksi paling heroik justru bukanlah ketika seorang pahlawan berdiri menghadapi musuh dan menembaknya dengan dingin, atau bertahan dalam interogasi yang membawanya pada penyiksaan fisik; tapi justru ketika kita menghadapi manusia-manusia yang mengakui kelemahan-kelemahannya, kebusukannya, bahkan pengkhianatan-pengkhianatannya. Tak hanya pengkhianatan kepada kawan-kawan seperjuangan, tapi terutama pengkhianatan kepada tanah air dan bangsanya. Seluruh sosok di novel ini, dengan cara yang menyakitkan, pahlawan di hari kemerdekaan sekaligus pengkhianat dan pengecut yang menyedihkan, dan mereka menyambut hari tersebut dalam kabut ketidakpastian [dan bukan ironi: pejuang yang dipuji-puji di novel ini, yang kemudian menjadi penguasa Kenya, di kemudian hari mengirim penulis novel ini ke penjara]. Penuh kebrutalan tapi juga kejujuran, Ngũgĩ tak hanya melucuti watak-watak kolonial yang bengis, rakus, juga menelanjangi watak-watak budak yang menyerah dan menerima keadaan. Ada satu episode kecil tentang sebuah keluarga. Si ayah sering menyiksa si ibu, hingga akhirnya si anak lelaki datang melawan ayahnya. Tapi apa yang terjadi? Si ibu datang dan membela si ayah, menyerang si anak. “Baru belakangan ia melihat begitu banyak orang Kenya dengan bangga mempertahankan perbudakannya di mana ia bisa mengerti reaksi ibunya,” demikian si anak menyadari. Seperti kebanyakan novel politik, kisah ini juga memperlihatkan arsitektur tentang kekuasaan yang tak selalu bersikap dikotomis penindas dan tertindas. Sebagian kaum tertindas bersekutu dengan penindasnya, memperoleh sedikit kekuasaan, untuk menindas yang jauh lebih lemah. Kaum tertindas mengkhianati kawannya sendiri, untuk memperoleh sedikit kekuasaan, agar bisa bertahan di dunia yang menghancur-leburkan segala. Dan bahkan di antara pejabat-pejabat kolonial, mereka saling sikut, untuk mempertahankan kuasa masing-masing, sehingga bolehlah kita tengok apa yang dikatakan novel ini di bagian nyaris akhir: “Belakangan, kesadaran akan kuasa, kemampuan untuk menghancurkan kehidupan manusia hanya dengan menarik pelatuk, begitu memberi obsesi kepadanya sehingga menjadi kebutuhan.”

The Street of Crocodiles, Bruno Schulz

Seorang pencerita adalah seorang penyihir yang mengubah benda-benda menjadi apa pun yang diinginkannya, persis sebagaimana dilakukan anak-anak dengan mainan mereka. Saya menyadari hal itu ketika satu hari melihat anak saya menjadikan botol bekas sebagai pesawat terbang, boneka sebagai monster, kotak-kotak pembungkus sebagai makanan yang lezat terhidang di atas meja, dan kolong meja sebagai istana megahnya, sambil menjadikan dirinya sendiri seorang puteri dari kerajaan antah berantah. Bruno Schulz adalah salah satu penyihir itu, penyihir yang memiliki kualitas terbaik sifat kekanak-kanakan abadi, yang menjadikan kecoa sebagai penyusup misterius di kolong meja, burung-burung membangun imperium dan menguasai loteng apartemen, seorang gelandangan yang tertidur di rerumputan menjelma Dewa Pan, koleksi perangko sebagai ensiklopedia yang mengetahui segala tempat dan seluruh sejarah dunia, dan peta kota dihidupkan menjadi lanskap tempat banyak peristiwa terjadi. Seorang pencerita adalah seorang penyihir yang bertarung dalam pertarungan abadi menghadapi kebosanan, melawan dunia yang beku dan hanya berputar dari satu musim ke musim lain dalam kemonotonan yang hambar. Cerita-cerita Schulz, yang sialnya hanya menyisakan dua kumpulan tipis The Street of Crocodiles dan Sanotarium Under the Sign of the Hourglass, serta tiga cerita pendek yang terpisah (buku yang saya baca merangkum semuanya), dipentaskan di lanskap yang seperti itu. Yang kehambarannya lebih menyiksa dan menderitakan melebihi sebagian besar tragedi umat manusia. Ia tak memerlukan dunia yang dilanda perang, ia tak memerlukan kota yang dilanda wabah penyakit, ia juga tak membutuhkan dunia misterius yang mengancam, maupun asmara yang menggelegak. Ia hanya membutuhkan lanskap kota dan musim yang membosankan, dan ia melawannya dengan keedanan seorang Don Quixote, sebab yang terpenting bagaimana ia menyihir semua itu menjadi lanskap yang hidup, dengan lelucon dan kesedihannya sendiri. Seorang pencerita adalah seorang penyihir yang menujum pembacanya dengan ramuan apa pun yang ada di tangannya. Di permukaan, kita tahu tak ada yang fantastik dari lanskap cerita-cerita Schulz. Ia hanya menceritakan sebuah keluarga, dari sudut pandang seorang anak (kadang ia menjelma remaja, lain kali menjadi lelaki dewasa). Seorang ayah yang gila, seorang ibu, kakak perempuan, penjaga toko, kadang-kadang muncul paman dan tetangga. Semuanya terjadi di apartemen mereka, kadang melebar ke kota, ke toko, ke sanotarium. Di luar itu, ia hanya memberi bumbu musim panas, atau musim semi, malam, topan. Sejujurnya saya sempat diserang pertanyaan, “Cerita macam apa ini? Mau dibawa ke mana kita?” Tapi di bawah permukaan, keluarga itu menjelma makhluk-makhluk fantastis, dengan peperangan, penemuan-penemuan spektakuler, petualangan asmara, pengalaman mencekam, dan saya kira hanya sedikit penulis, salah satunya Schulz, mampu melakukan hal itu untuk membuat kita terjebak di sana, diseret oleh pengaruhnya, tak berdaya untuk melepaskan diri. Seorang pencerita adalah seorang penyihir yang menjebak kita di dunia ambang, dunia nyata yang kita kenali, sekaligus di dunia imajinasi yang asing dengan segala pengaruhnya: membuat kita senang ataupun takut. Kita tak pernah benar-benar yakin, ketika si anak tersesat dari gedung teater ke rumah hanya untuk mengambil dompet ayahnya, apakah ia mengalami petualangan yang nyata atau khayalan. Apakah kota dan sanotarium itu dunia mimpi atau kenyataan sesungguhnya. Bahkan Schulz memaksa kita untuk berada di ambang fantasi, metafor atau sejenis hiperbola, ketika misalnya menulis, “Ia demikian tak punya pikiran di mana ia kadang membuat saus putih dari surat dan kertas tagihan tua”, sebagaimana kita selalu berada dalam kebimbangan apakah sedang menghadapi situasi komedi atau tragedi. Kita bisa memercayai segala hal yang terjadi di sini, sekaligus meragukannya. Jebakan dunia ambang ini, saya rasa, sudah terjadi bahkan di bentuknya. Apakah yang kita hadapi ini sekumpulan cerita yang bisa berdiri sendiri, atau sebuah novel yang aneh? Kamu bisa menganggap satu di antaranya, atau meragukan keduanya. Ia adalah kesinambungan sekaligus keterputusan di sana-sini. Seorang pencerita adalah seorang penyihir yang seringkali menakutkan, memiliki dunia sendiri yang kadang tak dipahami oleh manusia-manusia awam. Saya selalu menaruh curiga kepada novel-novel yang menyenangkan. Sebab, seperti makanan yang penuh dengan gula atau garam, seenak apa pun seringkali memberi jebakan berbagai penyakit. Makanan yang sehat, kata ibu saya, lebih sering tak enak dimakan. Buku yang baik, yang mengganggu saya, juga seringkali begitu. Saya tak akan bilang buku ini menyenangkan. Membacanya menuntut tak hanya nyali dan ketabahan, tapi juga pengendalian diri. Saya merasa bukan bagian dari buku ini, terlempar dan tertolak. Tapi ketika menyelesaikannya, ia menyisakan rasa pahit yang lama, yang tak mau hilang, dan bagian-bagian terbaik dari isinya terus menghantui saya setelah itu. Saya yakin ia tak akan pergi, akan terus bersemayam, seperti wajah monster menakutkan jika kau pernah sekali saja menemukannya. “Sebab buku-buku yang biasa itu seperti meteor. Masing-masing dari mereka memiliki satu momen, momen ketika ia menjulang menjerit seperti burung hong, seluruh halamannya membara. Untuk momen tunggal itu kita mencintainya, meskipun setelahnya mereka luruh menjadi abu.” Schulz jelas tak menulis buku macam begitu. Ia menciptakan monster. Seorang pencerita adalah penyihir yang membuka banyak pintu dan berbagai kemungkinan, bahkan meskipun ia hanya meninggalkan sedikit saja untuk kita. Hidup Schulz terbilang tragis. Ketika tentara Nazi datang ke kotanya, sebagai seorang Yahudi, ia tak sempat melarikan diri. Bakat menggambarnya menarik minat seorang perwira Jerman, yang memintanya menggambar mural untuk kamar anak. Ia memperoleh perlindungan. Sial, pelindungnya membunuh Yahudi lain, dan Jerman pelindung Yahudi itu membalas dendam. Menembak mati Schulz di jalan sambil berkata kepada kolega Jermannya: “Kau bunuh Yahudiku, kubunuh milikmu.” Ia hanya meninggalkan buku ini, serta setumpuk gambar dan surat-surat, tapi saya kira buku ini merupakan pintu luar biasa. Pintu yang bisa membawamu ke berbagai kemungkinan. Sejenis pintu yang telah dibuka oleh Kafka atau Cervantes. Pintu yang mustahil untuk ditutup kembali.

The Seven Madmen, Roberto Arlt

Makhluk-makhluk di novel ini tak hanya sekumpulan orang-orang gila, sampah masyarakat dan yang terabaikan, tapi juga sekaligus sebagai barang mainan dari dunia yang bengis. Buenos Aires bagi Roberto Arlt (seperti Jerusalem bagi Yesus, kata Roberto Bolaño), adalah padang gembalaan dengan domba-domba yang minta diselamatkan sekaligus sadar bahwa dunia hanya akan meluluh-lantakkan mereka, jika bukan dihancurkan oleh diri sendiri. Oleh ketololan dan kegilaan. Kesusastraan Argentina dari kejauhan, dari negeri tropis yang melenakan ini, seringkali berada di bawah bayang-bayang keglamoran Borges (juga Bioy Casares): intelek, penuh permainan, metafisis, dan tentu saja menyihir. Kehidupan yang berbaur dengan mitologi, sosok-sosok setengah filsuf, para gaucho yang beradu duel pisau, hingga teka-teki personal yang misterius. Tapi tidak, Kawan. Kesusastraan Argentina juga memperlihatkan sisi baliknya yang brengsek, gelap, kacau, dalam diri Roberto Arlt, yang hidup sezaman dengan Borges (meskipun lebih pendek). Brengsek bahkan dalam tingkatan yang paling menyedihkan: novel-novelnya dijejali dengan kesalahan tatabahasa dan logika yang ugal-ugalan (seperti disinggung Nick Caistor, penerjemahnya). Bagi para pemuja, ia jenius; bagi para pembenci, ia sampah. Dan seperti tokoh-tokohnya, Arlt merupakan yang terabaikan. Menggelandang ke sana-kemari, sesekali muncul kembali pengaruhnya dalam diri penulis belakangan. Cortazar atau Bolaño, bisa disebut. The Seven Madmen bisa dikatakan, sekali lagi, tentang orang-orang gila yang mencoba mengubah dunia. Atau lebih tepatnya, menghancurkan dunia yang telah menghancurkan mereka, yang telah melahirkan mereka dalam ketidakbahagiaan akut. Ketidakbahagiaan yang sudah bersemayam di dalam diri mereka, seperti dikatakan salah satu karakter, Hipólita. Pusat dari kegilaan ini barangkali terletak di diri Si Peramal, yang meyakinkan sekelompok orang gila lainnya untuk mendirikan kelompok rahasia dengan tujuan utama: melancarkan revolusi. Novel ini ditulis dan diterbitkan, persis beberapa tahun sebelum masa-masa yang penuh gejolak dalam politik Argentina, ketika tentara berkali-kali berusaha mengambil-alih kekuasaan, sebelum akhirnya berhasil dilakukan oleh Peron. Kejeniusan Arlt terletak bagaimana ia bisa menangkap seluruh keresahan itu, juga kegilaan, di zaman yang tak menentu. Rencana revolusi mereka barangkali merupakan rencana paling tolol yang pernah ada dalam sejarah revolusi, sebab mereka tak tahu persis apa dasar moral, dasar keyakinan, dari revolusi mereka. Si Peramal berkali-kali menyebut Lenin, juga Mussolini, juga bandit abad kesembilan belas bernama Abdala-Abn-Maimun, bahkan mengagumi organisasi Klu-Klux-Klan. Buat Si Peramal sebenarnya sederhana saja. Ia bisa menghasut kaum buruh dan merah dengan gagasan-gagasan revolusioner ala komunis, tapi menghadapi orang-orang religius, kita bisa mengumbar ayat-ayat kitab suci. Yang penting menggalang massa, yang penting membuat mereka senang. “Kebahagiaan manusia terletak dalam kebohongan metafisikal,” jika ada satu kutipan paling penting dari mulutnya, inilah kutipan itu, dan bisa jadi jika ada, inilah inti dasar revolusi yang diangan-angankannya. Dan kembali ia berkata melanjutkan sambil menerangkan si bandit Maimun yang dikaguminya: “Izinkan kukatakan bahwa pemimpin gerakan ini seorang sinis yang luar biasa, yang tak memercayai apa pun. Kita akan mengikuti contoh mereka. Kita akan menjadi Bolshevik, Katolik, fasis, ateis, militeris, tergantung tingkat inisiasi.” Bangsat betul, bukan? Ini dunia yang tidak dijejali pahlawan, tapi sekaligus tidak mengglorifikasi anti-pahlawan. Mereka bukan pahlawan juga bukan anti-pahlawan. Mereka hanya gembel-gembel yang penuh dengan ketulusan, impian, cinta kasih, sekaligus kesedihan, luka, kejahatan dan kedengkian. Gembel di luar dan gembel di dalam. Sebab, seperti kemudian dikatakan kembali oleh Si Peramal, semua manusia pada dasarnya gila, setidaknya di dalam pikiran. Yang membedakan satu dan yang lainnya: ada yang mengungkapkan pikiran-pikiran sintingnya, ada yang mendekamnya. Si tokoh utama (sebenarnya saya ragu mengatakan dia sebagai tokoh utama, mengingat kemunculan dirinya seringkali menjadi pengantar bagi kemunculan sosok-sosok lainnya di novel ini), Remo Erdosain bisa dibilang menyimpan kesintingannya rapat-rapat. Ia mencoba menghadapi hidup seolah semuanya baik-baik saja, padahal kita tahu, segala sesuatu di luar dirinya merupakan kekejian yang tak ada ampun untuk dirinya. Ia memandang dirinya sendiri sebagai penemu. Ia membayangkan banyak penemuan, dan bermimpi mewujudkan penemuannya serta menghasilkan uang. Tapi itu tak pernah terjadi. Uang tak pernah datang kepadanya dan penemuan-penemuan itu hanyalah gagasan-gagasan naif. Hidupnya berakhir menjadi tukang tagih, yang dengan sedikit kecerdikannya, bisa mencuri uang dari tuannya, yang belakangan menjadi masalah besar yang membuatnya terbenam jauh ke dalam lumpur dunia. Persoalannya tak hanya itu: ia menikahi seorang perempuan, yang tak hanya tidak pernah diciumnya, tapi juga tak pernah berani disetubuhinya. Ketika ia akhirnya mencoba menjamah isterinya, si isteri menolak, dan itu memaksanya untuk menghabiskan perkawinan mereka dalam masturbasi. Hingga satu hari, ia melihat isterinya pergi dengan lelaki lain. Ke mana-mana ia membawa pistol di saku celananya, dan memang pantas sekali jika ia punya pikiran untuk menembak kepalanya. Hanya satu pelor, logam kecil, dan segala ketidakadilan dunia dan ketidakbahagiaannya akan berakhir. Tapi makhluk-makhluk brengsek Buenos Aires ini dilahirkan untuk melata lebih lama, bahkan meskipun mereka tak sanggup sekadar menertawakan nasib, dan malahan berpikir untuk meluluh-lantakkan dunia untuk menatanya kembali. Arlt membawa mereka pada akhir yang jenius, juga menyedihkan sebenarnya. Memikirkan semua rencana revolusi itu, mereka terhenyak ketika seorang tentara berkata: “Organisasi kaum buruh bereaksi dan mengumumkan pemogokan; kata-kata ‘revolusi’ dan ‘Bolshevisme’ akan menyebarkan ketakutan sekaligus harapan. Kemudian, ketika serangkaian bom telah melanda seluruh kota, ketika semua selebaran sudah dibaca, dan agitasi revolusi sudah mencapai puncaknya, itulah waktu ketika kami orang militer mengambil alih …” Novel ini tak hanya membicarakan tujuh orang gila, tapi juga dunia yang sinting. Kita harus membaca lebih banyak Arlt, sambil mencabik-cabik apa yang kita pikir tentang novel dan kesusastraan.

The Man In The High Castle, Philip K. Dick

Di mana letak keindahan sebuah obyek, katakanlah benda seni? Di mana terletak keistimewaannya, nilainya? Di mana letak kesejarahan dari sepucuk senjata yang telah mengarungi banyak peperangan? “Di pikiran. Bukan di pistol itu,” kata Wyndam-Matson salah satu tokoh dalam The Man In The High Castle karya Philip K. Dick. Sebenarnya novel ini berkisah tentang sebuah andai-andai: jika Perang Dunia II ternyata dimenangi oleh Jerman dan Jepang, dan Amerika harus dibagi di antara kedua negara itu. Di masa seperti itulah kemudian muncul novel yang malah menceritakan andai-andai sebaliknya: Ternyata Sekutu menang (dan dunia dibagi di antara pengaruh Amerika dan Sovyet). Lelucon-lelucon politik dan ideologinya mengasyikkan, tapi sempilan-sempilannya tentang seni yang sebenarnya tak banyak, malah menarik perhatian saya. Seperti yang sudah saya buka di atas, di sana-sini kita bisa menemukan pembicaraan tentang seni, kadang sampai tingkat yang lumayan filosofis, kadang dalam tingkat ejekan atas selera seni kaum fasis (juga kapitalistik dengan produksi massalnya). Untuk membuktikan pernyataannya, Wyndam-Matson memperlihatkan dua geretan Zippo yang serupa. Satu di antaranya ada di saku Franklin D. Roosevelt ketika ia dibunuh. Bisa diketahui yang mana? Menurutnya, tidak. Sebab tak ada “penampakan lapisan mistis” atau “aura” dari benda itu. Kita sendiri yang menciptakan “aura” tersebut. Isu ini selalu menarik perhatian saya, tentang bagaimana sebuah karya memiliki nilai tertentu, dan benda lain dianggap sampah. Dan kita tahu, nilai-nilai itu bisa berubah, tak hanya karena yang menilai berbeda, tapi juga karena ruang dan waktu yang berbeda. Maka saya kira, eksploitasi karya seni (untuk tujuan apa pun), pada dasarnya merupakan eksploitasi pikiran manusia. Bentuklah pikiran manusia, satu generasi atau satu bangsa, maka akan terbentuk pula “selera” mereka mengenai seni seperti apa yang baik dan bagus, atau sampah. Bayangkan misalnya kesusastraan Indonesia. Saya sering curiga, kita tergila-gila dengan kesusastraan yang menampilkan watak-watak pahlawan. Sosok yang mau berjuang dan bahkan berkorban untuk orang lain, untuk kebenaran, atau untuk sebuah nilai. Sosok yang bisa jadi panutan. Saya yakin pikiran ini tentu saja dibangun oleh wacana yang barangkali sejarahnya jauh ke belakang, entah di mana. Karena itulah sangat jarang, bukannya tak ada, kita menemukan watak-watak yang sebaliknya: yang brengsek, sampah, tak membela apa-apa kecuali nafsu bejatnya sendiri. Padahal saya yakin, kesusastraan tak hanya membutuhkan model ideal, tapi juga cermin untuk melihat kebusukan, kelemahan dan sisi gelap manusia. Kembali ke novel ini, ada ejekan menarik mengenai selera kaum fasis Jerman, yang diucapkan karakter yang lain: “Aku suka Verdi dan Puccini. Apa yang kita dapatkan di New York hanyalah musik Jerman yang berat dari Wagner dan Orff yang bombastis, dan setiap minggu kita harus pergi ke pertunjukan dramatik Partai Nazi Amerika yang klise di Taman Madison Square, dengan bendera-bendera, genderang, terompet dan kembang api.” Tentu saja Nazi memang menyukai tontonan macam begitu. Seperti dikatakan Walter Benjamin (izinkan melipir sedikit, dengan mengutip dari esai “The Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction”), “Kaum fasis mengestetikkan kehidupan politik.” Atau jika boleh mempergunakan kata-kata sendiri, kaum fasis menciptakan aura dengan cara seperti itu, cara yang jitu untuk menggiring massa ke dalam politik, tapi pada saat yang sama membutakan mereka dari politik itu sendiri. Dibutakan oleh “aura”. (Saya bahkan yakin, kumis Hitler yang seperti itu juga memang sengaja sebagai upaya “mengestetikkan kehidupan politik”). Bayangkan orang-orang lapar, yang terpinggirkan secara sosial dan politik. Bukannya berpikir kritis, mengorganisir diri dan melawan secara politik, mereka malah silau oleh aura yang dibangun dalam kerangka “mengestetikkan kehidupan politik” ini: oleh jargon, oleh pawai-pawai (dengan sepeda motor tanpa helm?), emblem-emblem di baju seragam, bahkan oleh cara berpakaian Pemimpin Besar. Membawa pentungan, bahkan pedang, seolah sedang mempertunjukan sebuah teater. Mereka masuk ke dalam barisan, merasa bagian dari “aura” tersebut. Tak perlu jauh-jauh ke masa Perang Dunia II, gejala semacam itu bisa kita lihat hari-hari ini di mana-mana. Di sini, di barat maupun di timur. Ketergila-gilaan kepada aura ini bahkan bisa menciptakan sentimen yang absurd. Ketika si orang Jepang di novel ini mengusulkan si tokoh utama, Childan, untuk memproduksi massal (dengan cetakan) perhiasan logam (yang diciptakan oleh “artis” Amerika dengan tangan satu per satu), ia merasa tersinggung. Nasionalismenya terluka. Mental negeri jajahannya terbakar. Saya benar-benar tertawa di bagian ini, terutama karena Amerika yang kita kenal merupakan negeri yang dipenuhi “produksi massal”. Mungkin itu cara Philip K. Dick mengejek negerinya. Bagaimana melawan bias “aura” ini, yang tentu saja dikendalikan oleh sejenis otoritas (baik karena ideologi seperti kaum fasis, atau sekadar alasan komersial dari para pedagang)? Walter Benjamin punya jawabannya, alih-alih mengestetikkan politik, lebih baik “mempolitikkan seni.” Kata Benjamin, itu jawaban kaum komunis terhadap selera estetis fasisme. Hm, novel ini membawa saya ke mana-mana, ternyata.

Pemberontak dan Kriminal, The Sleepwalkers (3): The Realist

“Pemberontak tak harus disamakan dengan kriminal, meskipun masyarakat seringkali menganggap pemberontak sebagai kriminal, meskipun kriminal kadang-kadang berlaku sebagai pemberontak untuk membuat tindakan-tindakannya tampak terhormat.” Kutipan ini saya ambil di bagian tengah “The Realist”, bagian pamungkas The Sleepwalkers karya Hermann Broch. Saya harus bilang, novel ini jauh lebih menjelajah (dan barangkali lebih sulit untuk ditaklukkan) daripada dua bagian sebelumnya. Tak hanya meliputi bentuk dan gayanya (yang meramu banyak hal: prosa, puisi, drama, pamflet, esai), tapi terutama penjelajahan gagasan mengenai filsafat dan kadang mengenai agama. Kisah di novel ini terjadi di tahun 1918, di tengah situasi perang, dan dibuka oleh seorang prajurit Jerman bernama Huguenau yang melarikan diri dari pasukannya alias desersir. Apakah ia seorang pembangkang? Atau tak lebih dari seorang kriminal? Novel ini jelas menghamparkan dilema tersebut, tidak dalam pemaparan untuk mencari jawaban atas pertanyaan tersebut, apalagi mencoba memberi penilaian akhir terhadap si tokoh, tapi sebagaimana saya singgung di atas, mempergunakan kisah mengenai si desersir ini sebagai titik pijak untuk diskusi panjang mengenai banyak hal. Dari sejarah pemikiran hingga runtuhnya nilai-nilai. Huguenau sendiri sosok yang menarik. Kisah pelariannya dari pasukan membersitkan pertanyaan yang bergema panjang, Untuk apa semua perang ini? Ia digambarkan sebagai sosok yang berpikir bebas, tak terikat norma-norma, cenderung sinis pada nilai-nilai lama. Ia juga bisa dibilang, egois dalam arti memikirkan dirinya bahkan sampai pada tahap licik. Dalam situasi perang yang tak menentu, meskipun akhirnya ia bisa menetap di satu kota yang relatif tenang, dengan bakat yang luar biasa dalam pergaulan dan bisnis, tanpa modal sama sekali, ia bisa mengambil alih satu perusahaan surat kabar, dengan berbual bersama walikota dan orang-orang kaya kota itu. Bahkan ketika akhirnya ia ketahuan sebagai seorang pelarian (dan tentu saja buronan!), ia bisa melepaskan diri dari jebakan nasib buruk. Sebagian karena keculasannya, sebagian tentu karena keberuntungan. Di dunia ini, tentu manusia akan selalu mengalami masa-masa sulit. Kekacauan karena perang, musibah, runtuhnya nilai-nilai, atau apa pun, bisa menciptakan kesulitan. Dalam situasi seperti itu, tentu akan timbul: bermoralkah seseorang mementingkan nasib dirinya sendiri, lebih dari nasib orang lain? Itu pertanyaan moral, tentu, juga filosofis. Dari sudut pandang Huguenau, tentu ia memikirkan dirinya sendiri (bahkan meskipun mulut manisnya akan bicara tentang nasib orang-orang yang diwakilinya dalam bisnis). Tapi peduli apa tentang moral untuk manusia macam dia? Dalam situasi kacau karena perang, misalnya, siapa yang bisa menghalangi elan untuk bertahan hidup. Ia pembangkang, di tengah suara-suara yang bergelora tentang patriotisme, tentang kebersamaan, tentang “kita” melawan “mereka”. Tapi ketika ia akhirnya menodongkan pistol dan membunuh rekan kerjanya, untuk melindungi kepentingan-kepentingannya, untuk menyelamatkan dirinya, masihkah ia sesederhana pembangkang? Pemberontak? Atau ia sudah menjadi seorang kriminal. Masyarakat seringkali tak bisa membedakan keduanya, atau mungkin memang tak perlu dibedakan? Seperti Hugeunau, menjadi pembangkang barangkali hanya untuk menutupi egoisme dirinya, elan bertahan hidupnya, atau lebih jauh, membuat tindakan-tindakan kriminalnya sebagai sesuatu yang terhormat. Yang jelas, kata Hermann Broch, “Sang pemberontak berdiri sendiri.” Sendirian saja, Sobat. Tidak rame-rame.

A School for Fools, Sasha Sokolov

Bagaimana jika seorang tolol mengisahkan sebuah cerita? Hasilnya kurang-lebih tentu saja A School for Fools. Si tukang cerita bahkan tak sanggup melihat dirinya siapa, kadang ragu apakah dirinya seorang narator atau seseorang yang sedang diceritakan, atau bahkan seorang pembaca. Ia juga tak bisa membedakan waktu, bingung apa bedanya hari ini, kemarin dan besok. Juga tak mengerti perbedaan beberapa hari dan beberapa tahun. Dengan semua kekacauan-berpikir seperti itu, bagaimana dia bisa diandalkan sebagai seorang pencerita? Buat Anda pembaca yang waras dan cerdas, mungkin akan frustasi mengikuti novel Sasha Sokolov ini. Persis seperti profesor fisika atau astronomi yang harus menghadapi manusia-manusia yang percaya bumi itu datar dan langit itu sejenis kubah. Frustasi, Kawan. Tapi kalau kita mau menghadapinya dengan ringan, kita bisa menertawakan mereka. Menertawakan kebodohan-kebodohan ini. Maka hasilnya kita berhadapan dengan novel penuh humor, komedi tolol yang tak hanya menertawakan kebodohan penceritanya, tapi juga mungkin menertawakan (sok) kecerdasan pembacanya. Oh, kadang-kadang ia waras, mengisahkan cerita cerdas sebagaimana barangkali yang sebagian kita harapkan. Ini muncul, misalnya, saat ia menceritakan seorang tukang kayu di tengah padang pasir. Sebuah parabel yang mengharukan, tentang betapa tak bergunanya seorang tukang kayu, tanpa paku dan kayu untuk diolah. Hingga ia akhirnya sekelompok orang datang memberinya dua palang kayu dan paku, serta seorang lelaki untuk disalibkan di sana. Ia melakukannya demi memperoleh beberapa bilah kayu dan apa pun untuk membuat keahliannya sebagai tukang kayu di tengah gurun pasir berguna. Jadi, sebenarnya ia tidak bodoh? Entahlah, yang jelas ia dimasukkan ke sekolah khusus, sekolah untuk orang-orang bodoh. Jadi jelas, ia setidaknya dianggap bodoh. Ngomong-ngomong tentang sekolah, bukankah sekolah dibuat untuk menghapus kebodohan? Untuk menjadikan si bodoh sebagai si pintar? Tapi tengok sekolah-sekolah di negeri ini, bahkan mungkin di semua tempat di dunia. Untuk masuk ke sekolah, Anda harus menghadapi test. Anak-anak yang memperoleh nilai terbaik, memperoleh kursi untuk belajar di sekolah. Artinya? Sekolah tidak mencari orang bodoh untuk dibikin pintar. Hampir semua sekolah mencari anak pintar, untuk dijejali pengetahuan. Sebagian menjadi lebih pintar, sebagian malah menjadi bodoh. Untuk orang yang bodoh sejak awal, inilah dia: sekolah khusus untuk orang bodoh. Satu di antaranya, mencoba menceritakan pengalaman hidupnya, melalui novel ini. Dengan cara bercerita yang amburadul dan berantakan. Tapi tunggu, apa itu amburadul dan berantakan? Jangan-jangan, itu cuma prasangka kita saja, yang terbiasa membaca novel atau cara bercerita yang lain daripada yang kita hadapi di novel ini? Jangan-jangan, menurut si narator ini, caranya bercerita tak kurang tertib dan adikuat dibandingkan yang seharusnya, dan jangan-jangan cara orang lain menulis, justru menurutnya amburadul dan berantakan? Siapa berhak menentukan mana yang tertib dan mana yang berantakan? Kita telah lama, dan mungkin akan terus begitu, hidup di tengah prasangka bahwa manusia lain tolol dan bodoh, atau lebih tolol dan bodoh dari kita. Jika mereka bercerita atau menulis, berbeda dari cara kita biasanya bercerita atau memperoleh cerita, kita menganggapnya sebagai narator tolol yang tak meyakinkan. Novel ini, jelas secara langsung mempertanyakan itu semua. Mempertanyakan siapa sebenarnya lebih bodoh dari siapa, dan adakah satu sistem naratif yang bisa dianggap lebih cerdas daripada yang lainnya?

Karakter Datar dan Karakter Bulat

Sebagai penulis yang cenderung “memungkinkan segala cara”, saya sering berpikir-pikir ketika ditawari untuk memberikan semacam bengkel kerja penulisan. Kecenderungan memungkinkan segala cara lahir dari ketidakpercayaan saya kepada otoritas apa pun dalam menulis: saya tak percaya ada aturan tunggal untuk menyampaikan gagasan dalam bentuk tertulis, sebagaimana saya tak percaya ada otoritas tunggal yang menentukan makna hasil tulisan. Saya percaya beragam kemungkinan bisa dilakukan, yang penting penulisnya nyaman. Setelah itu, pembacanya semoga juga nyaman. Kenapa semoga? Sebab tak ada yang bisa menjamin penerimaan pembaca bisa seragam. Karya paling hebat di dunia pun tak akan mungkin membuat nyaman apalagi senang semua pembaca. Lah, jika saya tak memercayai satu otoritas, satu jenis “school” (itulah kenapa disebut “school”, saya rasa!), bagaimana saya menyampaikan pelatihan menulis? Banyak teman suka mengingatkan, penulis pemula akan pusing mengikutinya (beberapa juga suka pusing mengikuti jurnal saya ini). Mereka berkeyakinan bahwa satu paradigma tertentu harus dipilih, satu jenis “aliran” (“school”) harus diterapkan. Baiklah. Paradigma saya tentu saja bersifat anarki, dan “aliran” saya sudah jelas: pergunakan segala kemungkinan yang paling cocok untuk dirimu. Buat saya sangat penting bahwa setiap penulis harus menemukan cara mereka sendiri untuk menulis; demikian pula, sangat penting bagi pembaca memiliki kemerdekaan untuk bebas membaca dengan cara mereka. Otoritas (siapa pun yang teriak-teriak “harus begini, harus begitu”) sudah saatnya istirahat di lubang kakus. Teriakan mereka tak membuktikan kepala mereka ada isinya, hanya membuktikan mereka punya bacot dan berisik (ini berlaku di sastra maupun di kehidupan politik). Kita bisa mengikuti jalan setapak yang pernah dirintis oleh pendahulu kita (kalau mau), sebagaimana kita juga boleh membuat jalan setapak baru (kalau mau), atau menimbun semua jalan setapak (juga kalau mau), atau apa pun. Mari membuat ilustrasi: selama beberapa dekade, E.M. Forster (melalui bukunya Aspects of the Novel) menjadi sejenis otoritas dalam membangun karakter. Menurutnya, karakter yang baik di dalam novel haruslah bulat (dengan begitu, karakter yang datar berarti buruk, atau setidaknya kelas dua). Kenapa begitu? Tentu karena karakter yang bulat konon dekat dengan kehidupan. Juga memiliki aspek-aspek mengejutkan (yang dibutuhkan oleh drama. Drama, saudara-saudara!), karena karakter bisa terlihat dari berbagai sudut. Beberapa ditampilkan, beberapa yang lain tersembunyi, atau samar-samar, sebelum muncul di belakang. Karakter yang bulat juga memungkinkan mereka berkembang, berubah, mengikuti alur cerita atau problem-problem yang dihadapinya. Sekali lagi, seperti dalam kehidupan manusia. Pertanyaannya: benarkah itu seperti kehidupan? Semua orang juga tahu novel, tulisan, teks, tak pernah bisa menggambarkan kehidupan ini dengan sempurna. Itu kan hanya ilusi kaum realis ortodoks saja. Coba kita lihat argumen ini dari sisi sebaliknya, mengenai karakter yang datar. Benarkah karakter yang datar tidak menarik? Karakter datar biasanya dikritik karena ia hanya memperlihatkan bentuk yang mudah dikenali, tetap begitu dari awal sampai akhir. Komik. Seperti kartun. Nah, itu! Apa salahnya seperti komik, dan kartun? Banyak karakter seperti itu dalam kesusastraan (yang adiluhung sekalipun), dan tetap menarik. Don Quixote? Dia tak ada bedanya dengan Donal Bebek, sayangku! Dijungkir-balikkan seperti apa pun, Don Quixote akan tetap seperti itu, dan bagi saya tetap menarik. Pangeran Myshkin dalam The Idiot Dostoyevsky juga mendekati datar. Kita belum bicara tentang karakter-karakter minor. Yang tolol adalah menilai Don Quixote seperti kamu menilai Mrs. Dalloway atau Madame Bovary (meskipun tak dilarang, tapi saya tetap akan menganggapnya tolol). Dalam hal ini, Cervantes mungkin akan bilang, “Ngentot dulu lah, biar otak seger dikit!” Itu hanya satu contoh bahwa sejenis otoritas yang telah lama berkuasa memang perlu dipertanyakan dan ditantang (Poetic Aristoteles, juga). Lantas, jika saya tak memercayai satu jenis pilihan tertentu, apa yang bisa saya sampaikan di bengkel kerja penulisan? Jawabannya sederhana: memberi pilihan-pilihan itu, kemungkinan-kemungkinan itu. Anda tak perlu mengikuti jalan setapak yang ada (termasuk setapak yang saya lampahi); juga boleh mengubur setapak yang ada (termasuk mengubur gagasan saya tentang menulis ini). Tapi penting untuk memilih sesuatu dan merasa nyaman dengan itu, dan jika ada yang menganggap pilihanmu salah, punya nyali untuk mengacungkan jari tengahmu (kalau perlu, berilah sedikit orgasme). Pelajaran menulis, pada akhirnya merupakan pelajaran berpolitik.

We Have Always Lived in the Castle, Shirley Jackson

Kamu kirim pesan pendek ke gebetan dan lama tidak dibalas? Kamu gelisah? Saya yakin banyak yang pernah mengalami kejadian seperti itu. Tak hanya gelisah, tapi pikiranmu mulai mereka-reka cerita, sebagian cerita menakutkan, dan pada akhirnya urusan pesan pendek jadi sejenis horor dalam hidupmu. Kamu merasa diabaikan. Saya sering melihat bahwa tema-tema novel (atau film) horor seringkali berurusan dengan “yang lain”, sesuatu yang berbeda, yang tidak akrab, dan akhirnya menimbulkan rasa takut. Tentu saja hantu menjadi sosok paling mudah sebagai perwakilan “yang lain” ini. Tapi di novel We Have Always Lived in the Castle, Shirley Jackson si penulis Amerika yang sangat unik ini, memperlihatkan sisi lain dari rasa takut (setidaknya itulah yang saya rasakan ketika membaca novel ini) lewat sebuah pertanyaan yang provokatif: bagimana jika kamu yang dipaksa menjadi “yang lain”? Jika kamu “diabaikan”? Dicerabut dan bahkan dianggap dalam situasi yang khusus, “tidak ada”? Dengan kata lain, menakutkan tak lagi masalah kamu melihat sosok hantu (yang kamu tak kenali, yang kamu anggap berbeda dari dirimu), tapi bisa juga merupakan perasaan si hantu itu sendiri (yang merasa dianggap berbeda, dianggap yang lain, dianggap tak dikenali). Novel ini tidak bercerita tentang hantu, tapi tentang pengabaian. Tentang perasaan dipaksa menjadi berbeda, tentang tidak menjadi bagian dari masyarakat yang lebih luas. Novel ini kisah mengenai dua bersaudari, Constance dan adiknya, Mary Katherine (yang sering dipanggil Merricat oleh kakaknya), serta paman mereka yang sudah tua dan tampaknya pikun, Julian Blackwood. Mereka merupakan tiga orang yang tersisa dari keluarga besar Blackwood, yang beberapa tahun sebelumnya mati dalam “pembunuhan massal” di meja makan oleh racun arsenik di dalam gula. Tiga orang selamat merupakan mereka yang tak makan gula tersebut. Constance merupakan tersangka pembunuhan keluarganya itu, dan di pengadilan ia memang mengakuinya, meskipun kita tahu kisah sebenarnya lebih rumit dari itu dan tak tampak seterang-benderang yang dipercaya orang. Mereka jelas bukan hantu, tapi penduduk desa di sekitar rumah mereka (rumah besar yang disebut kastil) jelas telah menjadikan mereka hantu. Mendorong mereka menjauh dari kehidupan sosial (dan akhirnya membuat mereka juga menarik diri), hingga kehidupan ketiganya terkungkung di dalam kastil itu saja. Tentu Merricat dua kali seminggu harus pergi ke desa, untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari dan meminjam dan mengembalikan buku ke perpustakaan. Itu satu-satunya hubungan keluarga itu dengan dunia, dan itu pun harus dihadapi Merricat dengan penuh horor. Penolakan terjadi di setiap sudut jalan, di dalam toko, bahkan di meja kedai kopi langganannya. Ketika membaca novel ini, saya tak hanya “melihat” peristiwa-peristiwa yang terpapar di halaman-halaman buku. Buku ini membawa saya ke banyak hal. Dari hal seseorang yang barangkali merasa pesan pendeknya diabaikan oleh gebetannya, hingga hal-hal yang jauh lebih serius: tentang kaum minoritas yang diabaikan oleh mayoritas, tentang ruang yang tak lagi (atau tak pernah) menjadi milik bersama, tentang perasaan tercerabut. Ketika saya memutuskan menulis jurnal di blog ini di akhir tahun 2012, sejujurnya saya tak tahu persis apa yang akan saya lakukan. Satu-satunya yang terpikir, saya hanya akan berkomentar tentang buku-buku yang saya baca. Saya punya sejenis program sepanjang empat tahun untuk menjelajah berbagai tradisi kesusastraan. Tak terasa saya punya ketabahan untuk melakukannya, dan tanpa terasa kini menjelang akhir tahun 2016. Saya belajar banyak hal dari membaca, menemukan cara membaca yang berbeda dari satu novel ke novel lain, dan berkali-kali merasa dihantam palu keras, seperti ketika saya kelar membaca novel ini. Saya belum tahu apa yang akan saya lakukan dengan blog atau jurnal ini di tahun depan, tapi pengalaman empat tahun membuat saya semakin yakin, tak ada pilihan lain bagi seorang penulis kecuali terus membaca apa yang telah ditulis orang lain, terutama para pendahulunya.

The Lost Honour of Katharina Blum, Heinrich Böll

Sejak awal, The Lost Honour of Katharina Blum sudah buka-bukaan bahwa ini kisah mengenai pembunuhan yang dilakukan oleh Katharina Blum atas seorang wartawan bernama Werner Tötges. Namun kita segera tahu ini bukan sejenis fiksi kejahatan, meskipun tentu saja ada irisan ke sana. Kita sudah tahu peristiwa kejahatannya, dan tak lama kemudian, kita juga sudah bisa tahu motif di belakang tindakan kejahatan tersebut. Bahkan jika kita masih bersikeras menyebutnya sebagai fiksi kejahatan, ini tidak seperti fiksi jenis itu dalam maknanya yang tradisional. Bagi saya, novel ini membuka aspek lain dari peristiwa-peristiwa kejahatan yang kita ketahui, bahkan hingga hari ini: bagaimana liputan media, bahkan desas-desus, spekulasi yang tak berdasar, yang dilatar-belakangi oleh berbagai kepentingan atau sekadar pemuasan rasa ingin tahu, seringkali merupakan kejahatan itu sendiri. Banyak novel mengulas aspek-aspek kejahatan, tak melulu mengenai siapa membunuh siapa, atau siapa yang melakukan satu kejahatan dan bagaimana seseorang (polisi, detektif), mengungkapkannya. Dalam The Trial Franz Kafka, kita melihat bagaimana sistem dan birokrasi hukum yang korup bisa menjadi begitu ganas menyiksa, bahkan lebih jahat daripada kejahatan yang mungkin dituduhkan kepada korbannya, dalam hal ini Joseph K yang tanpa melakukan kejahatan apa pun ditangkap dan harus melalui lika-liku labirin hukum. Crime and Punishment karya Fyodor Dostoyevsky bahkan melangkah jauh memperkarakan aspek moral: niat baik kadang (atau bahkan sering?) merupakan sumber kejahatan. Kita memiliki banyak kasus bahkan di dunia nyata. Perang (untuk menciptakan perdamaian?). Terorisme (melawan ketidakadilan atau sejenisnya?). Dalam kasus novel ini, Raskolnikov melakukan kejahatan demi uang, agar ia bisa mempergunakan uang itu untuk tujuan baik. Di novel Heinrich Böll ini, kita akan bertemu sosok Katharina Blum yang “dihukum”, bukan oleh sistem hukum, tapi oleh media yang penuh prasangka, hanya karena ia memberi tempat (dan cara melarikan diri) kepada seorang buronan. Tentu saja membantu seorang buronan, dalam banyak sistem hukum, merupakan tindakan kriminal juga. Tapi prasangka media bisa berubah menjadi jauh lebih kejam, bisa melangkah melampaui kajahatan yang benar-benar telah dilakukannya (yakni membantu si buronan, yang adalah kekasihnya, untuk kabur). Media tak bekerja sendiri. Di belakang itu tentu saja ada kepentingan bisnis dari media itu sendiri, dan di belakang itu, ada rasa ingin tahu publik yang mengharapkan drama, mengharapkan skandal yang lebih hebat daripada sekadar seorang perempuan yang membantu kekasihnya. Masa lalunya diungkap: ia seorang janda, dan suaminya menuduhnya seorang komunis (di banyak situasi, seperti Jerman selepas perang, menjadi komunis bisa berarti dekat dengan aib dan kejahatan), bahkan keputusannya untuk keluar dari gereja juga dipersepsikan sebagai kejahatan. Tak hanya itu, si wartawan dari media tersebut, juga mengungkap hal-hal yang barangkali tidak relevan untuk kasusnya: ada pria yang pernah datang ke apartemennya, mengindikasikan ia seorang “perempuan yang tidak baik”. Berapa sering Anda mendengar kasus kejahatan di mana media membully dan meruntuhkan karakter seorang tersangka bahkan sebelum kasus pengadilan berlangsung? Media, dengan hasratnya untuk “menghukum” jelas jahat. Tapi hasrat kita yang berlebihan terhadap suatu kasus, seringkali dengan asumsi-asumsi sendiri, juga hasrat atas skandal dan drama, barangkali merupakan minyak bagi api media. Itu belum termasuk kepentingan-kepentingan ekonomi, politik, bahkan ideologi, seringkali menumpang kepada kasus yang sesungguhnya bersifat pribadi dan tak memiliki aspek kepentingan umum yang luas. Saya senang telah membaca novel yang ternyata jauh lebih kaya daripada apa yang tampak di permukaan. Jujur, ini kali pertama saya membaca novel Heinrich Böll. Itu pun gara-gara satu telepon di satu hari yang potongannya kira-kira: “… mungkin Anda belum pernah mendengar namanya, tapi ia salah satu penulis besar …” Tentu saja saya pernah mendengar nama Heinrich Böll, tapi memang belum pernah membaca satu pun karyanya. Saya agak merasa malu dan memutuskan membaca satu di antaranya. Ini akan menjadi langkah kecil untuk penjelajahan yang lebih luas, saya yakin.

Older posts Newer posts

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑