Eka Kurniawan

Journal

Category: Journal (page 2 of 19)

The Sleepwalkers (2): The Anarchist

Bagi August Esch, pekerjaan adalah penjara. Juga cinta dan waktu. Bahkan impian tentang kebebasan adalah penjara itu sendiri. Dalam dunia Esch, manusia seperti ditakdirkan dalam hidup yang tragis. Tanpa kebebasan dan tanpa jalan keluar. Saya membaca “The Anarchist”, bagian kedua dari trilogi The Sleepwalkers karya Hermann Broch ini sebagian besar di lambung pesawat, nyicil, dalam perjalanan panjang ke Eropa, kemudian menyeberang ke pantai timur Amerika. Juga di sela-sela waktu luang yang tak ada kerjaan, seperti selepas makan siang atau malam sendirian di kedai makan yang menyajikan nasi kotak dengan belut di perempatan Lexington Avenue dan 45th Street, Manhattan (sengaja saya sebut, biar ingat, soalnya nasi dan belut itu enak sekali). Satu malam, seseorang bertanya, bagaimana rasanya berpergian dengan pesawat lebih dari tujuh jam, bahkan ada yang sampai sebelas jam? Bagi banyak orang, itu mungkin hal menderitakan, atau setidaknya membosankan. Tak ada yang bisa dilihat (di malam hari, bahkan hamparan awan pun tak terlihat), tak bisa buka-buka internet (beberapa maskapai sudah bisa), dan tak bisa ngobrol (penumpang lain mungkin akan terganggu kalau diajak ngobrol). Bahkan tidur pun tidak nyaman. Bergerak susah. Tapi menurut saya, dikurung berjam-jam di lambung pesawat merupakan waktu yang tepat menikmati momen tanpa gangguan untuk banyak hal: membaca buku, menulis, menghayal, melamun, bahkan tidur. Jika kita bisa menikmati hal-hal itu, dikurung berjam-jam di lambung pesawat bukanlah hal buruk. Saya tak ingin mengulang klise bahwa kebebasan bukan perkara ruang, melainkan perkara bagaimana memanfaatkan ruang tersebut, meskipun dalam hal ini klise itu tetap berlaku. Bagi saya, menghubungkan dunia Esch dalam “The Anarchist” dengan lambung pesawat membawa saya kepada gagasan mengenai kepompong. Ya, bukankah lambung pesawat mirip kepompong? Bukankah dalam sudut pandang tertentu kepompong seperti penjara? Tapi pada saat yang sama, bukankah kepompong merupakan jembatan metamorfosis? Pembebasan diri dari satu bentuk ke bentuk lain? Kisah August Esch dalam “The Anarchist” menyiratkan sejenis kepompong. Hubungannya dengan berbagai perempuan merupakan serat-serat yang membungkus dirinya. Ia terpesona kepada Ilona, seorang artis panggung, tapi Korn (yang menyewakan kamar untuknya) malah menelikung. Ilona tidur bersama Korn. Korn sebenarnya hendak menjodohkan Esch dengan adiknya, yang sudah berumur tapi belum juga kawin, Erna. Sialnya ia enggak nafsu sama perempuan itu. Tapi ketika si tolol Lohberg muncul dan Erna melihatnya sebagai sasaran empuk, dan mereka bertunangan, Esch mulai menyelinap ke kamar Erna. Dengan perasaan campur-aduk yang tak dimengertinya. Demikian juga cintanya kepada Mother Hentjen, janda pemilik kedai makan, yang ke mana-mana membawa masa lalu pernikahan dengan mantan suaminya. Masa lalu Mother Hentjen merupakan sesuatu yang dibenci Esch, yang terus bertanya-tanya “Kenapa kamu mengawininya?”, dan sekonyong menjadi belenggu hubungan mereka yang sulit dituntaskan. Penjara yang lain. Tapi seluruh kungkungan itu merupakan kepompong yang siap melahirkan kembali Esch, seperti para penumpang yang keluar dari lambung pesawat, sebagian dilahirkan kembali. Dengan gagasan-gagasan baru, dengan pikiran yang segar, impian besar, atau setidaknya cara pandang yang baru. Tapi gagasan lambung pesawat sebagai kepompong mungkin akan berakhir. Dari waktu ke waktu semakin bertambah maskapai yang menawarkan sambungan telepon dan kemudian internet. Kepompong kemudian bukan lagi perkara ruang, tapi perkara pilihan. Ia bisa diciptakan di mana pun.

Cosmos, Witold Gombrowicz

Kami adalah ahli waris yang sah dari para bajingan dalam sejarah kesusastraan. Para bajingan yang tak hanya memuja dan menghormati manusia serta kemanusiaan, tapi juga mengolok-oloknya. Sebab manusia tak hanya berakal-budi dan kuat, tapi juga rapuh dan brengsek sebrengsek-brengseknya. Mengulurkan tangan untuk yang jatuh, tapi sesekali memaki mereka sebagai pecundang. Mengencingi para tiran, tapi sesekali mendirikan prasasti, dengan lantang maupun malu-malu. Bagi Witold, narator di novel Cosmos karya Witold Gombrowicz, tiran itu tak lebih dari pikiran-pikiran yang melanglang-buana di sekitar benda-benda dan peristiwa remeh, dan ia mendirikan prasasti untuk mereka melalui prasangka-prasangka aduhai yang mengocok perut tapi juga bikin panas kepala dan otak hampir meledak. Humornya sinis, dan menyakitkan. Bersama Fuks (saya berkali-kali mengejanya sebagai fuck), mereka berdua menjelajahi hari-hari yang membosankan. Ruang dan waktu mereka. Alam raya mereka. Diawali penemuan burung yang digantung seseorang, dan mereka dipusingkan dan disibukkan oleh tebak-tebakan tak ada akhir mengenai siapa pelaku penggantungan burung itu, hingga pertanyaan-pertanyaan sok filosofis, kenapa burung itu harus digantung. Dan kenapa pula mereka harus menemukannya? Kenapa pula mereka harus membicarakannya? Dilanjutkan dengan penemuan tanda panah di langit-langit kamar. Siapa membuat tanda itu? Apakah itu tanda yang tak sengaja (mungkin karena cat mengelupas atau jamur)? Kalau sengaja dibuat, apa yang ditunjuk tanda panah tersebut? Itu cukup untuk membuat orang gila semakin sinting. Gombrowicz bagi saya tampak seperti penulis yang asyik sendiri, jika kita tak mencoba menggelayut di keteknya, atau duduk di pangkal pahanya, apa yang ditulisnya tampak asing. Tapi apa pedulinya? Para bajingan di sejarah kesusastraan selalu merupakan orang-orang kesepian yang mencoba memahami dunia dengan cara mereka, dan brengseknya, sebaliknya dunia terbata-bata untuk memahami mereka. Meskipun begitu, sekali pukul, ia merayakan kehidupan kita yang membosankan ini, yang gemar meributkan hal-hal trivia, hal remeh-temeh yang bahkan kita sadari tak penting-penting amat untuk hidup kita, tapi kita ributkan karena … hidup kita membosankan dan tak ada hal lain yang bisa dikerjakan! Dan ketika ia, Witold yang agung ini, mencekik seekor kucing dan menggantungnya pula, sekonyong-konyong ia bicara tentang dosa, dan tentang kenapa ia harus mencekiknya. Kenapa ia harus menggantungnya. Ia bertanya, saudara-saudara, karena tak ada hal lain yang harus dilakukan. Ia bertanya, meski ia tahu siapa yang mencekik dan menggantung kucing itu. Kita juga sering bertanya, bukan karena ingin mengetahui jawabannya, tapi karena hidup kita membosankan dan tak ada yang bisa dilakukan. Seperti bagaimana kita meributkan sesuatu, bukan agar orang lain mendengar apa yang kita katakan (kita sadar kebanyakan orang tidak mendengar, mereka asyik dengan suara ribut mereka sendiri), tapi agar ada yang mengisi kebosanan kita. Mengisi ruang kosong alam semesta kita. Setidaknya jika tak berhasil menghancurkan dunia, kita tak hanya diam menunggu dunia menghancurkan kita. Dalam dunia Witold, hidupnya dipenuhi oleh bibir. Bibir Katasia yang aneh, maupun bibir Lena si anak tuan rumah. Bibir yang munjadi budak nafsu pikiran Witold. Bibir. Burung menggantung. Kucing. Tanda panah. Tunggu, novel ini sebenarnya bercerita tentang apa? Hanya ingin menunjukkan seperti apa dunia yang membosankan? “Aku bahkan tak tahu jika ini sebuah cerita. Sulit untuk menyebutnya sebuah cerita. Ini hanya unsur-unsur … yang tercerai-berai … dan berantakan.” Hanya penulis bajingan yang berani-beraninya menyodorkan novel macam begini ke pembaca. Sesuatu yang tercerai-berai dan berantakan! Kalau kau membaca novel begini dan merasa bosan (dan novel ini memuja rasa bosan!), segera tanyakan kepada diri sendiri, “Hari ini makan apa?” Itu lebih mudah untuk dipikirkan, setidaknya selama ada beberapa lembar duit di dompet saku celana. Untuk Witold: “Hari ini kami punya ayam goreng untuk makan malam.”

When You Have to Shoot, Shoot! Don’t Talk!

Kali ini ngobrolin film dulu aja, ah. Kebetulan iseng ngerental video dan nonton The Good, the Bad and the Ugly karya Sergio Leone. Senang sekali, kayak terlempar oleh mesin waktu dan menikmati kembali film koboi gaya lama ini. Penuh dar-der-dor, tapi juga penuh drama (yang culas, berani, maupun konyol). Filmnya sangat lelaki sekali, dalam arti harfiah: nyaris tak ada peran perempuan, kecuali satu-dua figuran yang numpang lewat. Tiba-tiba kepikiran, kalau sudah tua dan bicara kepada seseorang yang beranjak dewasa, kemudian saya akan berkata, “Dengar, Nak, dulu aku pernah menonton sebuah film.” Di film itu sebagian besar pertarungan dilakukan dengan gagah-berani. Duel, saling berhadapan. Tentu saja banyak keculasan, saling menipu dan saling mengkhianati di antara karakter. Tetapi tak jarang mereka berhadapan. Adu cepat menarik pelatuk revolver. “Jika kau ingin lebih baik dari seseorang, tak usah kau cari-cari kelemahannya. Cari saja kelebihannya, sebab hanya dengan cara itu kau punya ukuran untuk lebih baik darinya. Kemudian ajak bertarung. Kalau harus adu pukul, adu pukul saja. Hanya para pecundang yang mencari kelemahan orang dan mengalahkan mereka melalui kelemahannya.” Saya pernah menonton film ini, dan seperti orang saleh membaca kitab suci berkali-kali, saya rasa tak ada salahnya menonton film (atau membaca buku) yang disukai berkali-kali pula. Film-film itu akan menempel di kepala, dan sadar tidak sadar, kita belajar banyak dari sana, dan mungkin menjalani hidup sebagaimana pelajaran yang kita peroleh dari sana. Saya lupa bagaimana kesan menonton film itu sebelumnya (saya hanya ingat puncak adegannya di tengah-tengah kuburan dan tiga orang bersiap berduel, serta beberapa adegan kecil lainnya). Si orang paling culas (Si Jahat, ia membunuh dua orang yang memberinya kontrak untuk membunuh), mati lebih dulu. Mungkin selesai menonton, dulu, tiba-tiba saya merasa menjadi seorang koboi, seorang pemburu hadiah, yang mahir mempergunakan senjata api. Ada adegan ketika Si Buruk Rupa memilah-milah senjata api (bukan untuk membelinya, tapi merampoknya), kemudian membongkarnya, merakitnya kembali dengan menggabungkan dua senjata. Bahkan bandit brengsek pun harus mengerti dunianya, mengerti perkakasnya dengan baik. Membunuh orang dengan senjata api di dalam film koboi adalah seni, dan senjata adalah alatnya. “Dengar, Nak. Kau mau menjadi pelukis? Kau harus tahu dengan baik kuas dan cat di depanmu. Kau mau menjadi dokter? Kau harus memahami dengan baik tubuh manusia. Aku tahu itu setelah menonton film ini. Aku tak bisa bicara banyak. Duduk di sini, lihat filmnya, dan kau akan mengerti maksudku.” Mungkin kau akan bingung dengan perang di latar belakang kisah tiga karakter yang sedang memburu harta di kuburan itu. Tak perlu pusing, itu hanya sebuah latar. Jika kau mau tahu lebih banyak, kita bisa melanjutkan pembicaraan tentang film ini menjadi obrolan tentang perang saudara di Amerika. Itu negeri yang jauh. Hanya kalau kau tertarik, kita bisa membicarakannya. Tentu saja, setelah kita menonton, pertanyaan paling ganjil, dan aku akan menanyakannya kembali, “Di atas segalanya, kenapa mereka tergila-gila dengan uang di kuburan itu?” Film ini tak menjawabnya, Nak. Tapi kita bisa mencoba menjawabnya. Mungkin manusia memang rakus? Mungkin uang memang sumber banyak bencana. Kita bisa bicara tentang asal-usul kekayaan, tentang hak milik. Banyak hal bisa kita bicarakan, hanya dengan menonton film yang hampir tiga jam ini. Tapi satu hal yang harus kukatakan kepadamu, Nak, satu sabda paling penting dari film ini, “Jika kamu harus menembak, tembak! Jangan banyak bacot!” (Yang kebanyakan bacot mati ditembak lebih dulu).

10.000 Jam Latihan (dan Mungkin Ketololan)

Menurut penelitian Malcolm Gladwell (bukunya Outliers), dibutuhkan 10.000 jam latihan yang penuh dedikasi untuk menghasilkan orang sukses. Itu bisa dipelajari dari para pemain biola hebat, pemain skate, juga The Beatles dan Bill Gates. Melebihi bakat dan keberuntungan (ya, mungkin saja ada faktor ini meskipun kecil), latihan penuh dedikasi dan komitmen melakukannya dalam rentang waktu yang lama, memberi hasil yang jauh lebih nyata. Bagaimana dengan penulis? Saya rasa tak jauh berbeda. Dibutuhkan komitmen dan dedikasi untuk berlatih, dengan cara membaca dan menulis, selama itu. Ya, tak ada yang mudah, memang. Jika kita mendedikasikan waktu 3 jam sehari (secara konsisten, setiap hari) untuk membaca dan menulis, kurang-lebih kita membutuhkan waktu 10 tahun untuk “terlatih”. Artinya, jika berharap menjadi terlatih di umur 20 tahun, seorang anak harus terus berlatih, membaca dan menulis, setiap hari sejak umur 10 tahun! Jika komitmen ini baru dimulai umur 18 tahun, keahlian itu mungkin baru didapat umur 28 tahun. Jika hanya memiliki komitmen untuk membaca dan menulis sebanyak satu jam setiap hari (sekali lagi, setiap hari tak terputus), kita membutuhkan 30 tahun. Mulai umur 10 tahun, baru terlatih di umur 40 tahun. Berat. Memang berat. Di dunia ini, dari miliaran manusia, memang hanya sedikit yang muncul ke puncak. Karena memang hanya sedikit yang punya komitmen waktu seperti itu. Hanya sedikit yang memperoleh medali emas Olimpiade. Hanya sedikit yang menjadi juara dunia. Dan di antara jutaan penulis di dunia, tentu hanya segelintir yang karyanya terus dibaca, dari generasi ke generasi. Entah berapa banyak jam dihabiskan Shakespeare untuk menulis, membaca dan berada di gedung teater setiap hari. Jelas lebih banyak daripada kebanyakan kita. Tentu saja untuk mendaki puncak itu, tak melulu mengenai 10.000 jam. Anda bisa mengikuti riset Gladwell mengenai hal ini. Tapi yang paling menohok saya adalah salah satu hal penting ini: “Jangan habiskan waktu untuk hal-hal kecil”, yang tak berguna untuk karirmu, tak berguna banyak untuk bidangmu. Dalam skema 10.000 jam berlatih, waktu memang memegang peranan penting. Waktu sangat terbatas. Menghabiskan 3 jam sehari saja, kita butuh 10 tahun. Saya tak tahu persis apa “hal-hal kecil” dalam karir menjadi seorang penulis, kalaupun kita merumuskannya, barangkali banyak orang tak bersepakat dan berakhir dengan debat tak ada ujung (dan debat ini bisa jadi “hal-hal kecil” yang tak membawa kita menjadi penulis yang lebih terampil). Tapi saya rasa kita bisa mengukurnya sendiri: fokus terhadap tujuan keterampilan yang ingin dicapai, dan lewatkan apa yang tak mendukung itu. Bayangkan jika kita ingin berlatih menulis kalimat dengan baik, kita melakukannya berkali-kali, berjam-jam, dan lupakan urusan lain yang tak ada hubungannya. Setelah mampu melakukannya, kita lakukan kembali latihan menulis dialog, yang katakanlah, kita ingin di satu sisi tertulis dengan baku tapi terdengar alamiah. Banyak hal yang bisa kita latih dalam hal menulis, dan itu membutuhkan waktu yang sengaja disediakan. Dalam hal ini, memiliki tujuan yang jelas tentang apa yang sedang kita latih, menjadi sangat penting. Memikirkan hal ini, satu hal kemudian mengemuka: apa artinya “berhasil”? Dalam bidang penulisan, seperti apa itu penulis yang berhasil? Berpengaruh besar seperti Dostoyevski atau Kafka? Memperoleh hadiah Nobel seperti Hemingway atau Orhan Pamuk? Memperoleh uang banyak seperti J.K. Rowling? Tentu saja tak semua orang terobsesi untuk “berhasil” seperti gambaran Gladwell, dan karenanya tak perlu menyiksa diri berlatih 10.000 jam (dan terus berlatih setelah itu). Ada penulis yang cukup senang melihat karyanya dicetak, sebagai misal. Atau menyisipkan ungkapan cinta tersembunyi di dalam novel, banyak yang seperti ini. Kita punya ukuran masing-masing tentang “berhasil”. Yang ajaib tentu saja kalau orang berharap memperoleh sebutir kelereng, tapi ngamuk-ngamuk karena orang lain memperoleh segenggam berlian. Atau berharap mengarungi lautan luas, tapi usaha yang dilakukannya hanya merendam kaki ke dalam air di ember. Saya? Saya pengin melihat karya saya bersanding di rak buku dengan penulis-penulis kesayangan saya. Cita-cita saya tampak dangkal dan tolol, tapi sulit melakukannya. Setiap kali saya menyandingkan buku saya di samping buku-buku itu, saya merasa buku saya tak pantas berada di sana. Mungkin saya harus mencoba meletakkan buku saya di sisi buku-buku itu, terus-menerus selama 10.000 jam? Mungkin. Mungkin. Sebab saya yakin, 10.000 jam melakukan ketololan juga bisa berhasil membuat saya lebih tolol berkali lipat, dan sejujurnya, saya sering melakukan hal itu.

Dua Novel Sjón

Menurut seorang teman, membaca novel (sebenarnya membaca segala jenis buku) termasuk tindakan “mengintip”. Ya, mengintip dalam arti melihat sesuatu secara diam-diam dan tak diketahui oleh yang dilihat. Membaca novel dalam hal ini mengintip, pada tingkatan tertentu, kehidupan seorang penulis. Mengintip pikirannya, kecemasannya, gagasannya, impiannya, dan seringkali sejarah hidupnya. Mungkin juga dosa-dosa dan ketololannya. Lebih luas lagi, bisa juga sebagai tindakan mengintip satu dunia, satu kebudayaan, satu generasi, dan lain sebagainya. Barangkali dengan cara pikir seperti teman saya itu, saya punya kecnderungan untuk membaca karya seorang penulis lebih dari satu (kalau bisa semuanya yang tersedia), kecuali bukunya benar-benar menjengkelkan dan nama penulisnya di otak saya berarti semacam label “buku ini tak perlu dibaca”. Dengan cara membaca lebih dari satu buku, lubang mengintip kita semakin lebar. Jika kita bisa membaca bukunya berurutan (sesuai waktu buku itu ditulis atau diterbitkan), kita bisa mengikuti “perjalanannya” dari satu tempat singgah (buku) ke tempat singgah (buku) berikutnya. Kadang di satu tempat singgah ia tampak cemerlang (mungkin baru memperoleh pacar baru), di tempat singgah lain ia tampak terpuruk (mungkin ditinggal pasangan atau kalah main judi). Saya sudah pernah membaca satu novel Sjón berjudul The Whispering Muse, dan sebelum membaca buku terbarunya, yang keempat, saya memutuskan untuk membaca dua novelnya yang lain, yang telah tersedia. Yang pertama berjudul The Blue Fox: ini tentang seorang pemburu yang memburu rubah (biru) mistis, tapi kemudian yang dihadapinya, selain si rubah, juga keganasan alam. Musim dingin dan badai salju yang tanpa ampun. Membaca novel ini, saya tak hanya merasa mengintip dunia yang sama sekali berbeda dengan negeri saya (saya harus membayangkan seperti apa badai salju), tapi juga tradisi kesusastraan yang berbeda. Tentu saja bicara tentang binatang mistis bisa kita temukan di mana-mana. Ketika saya dalam satu kesempatan bertemu dan ngobrol dengan Sjón, kami sempat membicarakan hal ini, yang sama muncul di karya kami (harimau mistis di novel saya, dan rubah mistis di karyanya). Tapi tentu saja ada hal-hal yang juga unik menyangkut tradisi kesusastraan tertentu. Seperti kita tahu, Islandia dikenal dengan tradisi kesusastraan tradisional mereka yang disebut sebagai Saga Islandia, yang jelas tampak memengaruhi novel(-novel)nya. Novel satunya lagi berjudul From the Mouth of the Whale. Awalnya saya pikir, seperti di novel dia yang pertama saya baca, akan banyak bicara tentang laut. Ternyata tidak banyak (meskipun ada), meskipun laut (selain salju dan pulau-pulau), tampaknya memberi warna tertentu di karya-karyanya, yang tentu saja berhasil saya intip ini. Novel ini juga memadukan tradisi saga, dengan penuturan yang liris, dengan latar sejarah, magisme, petualangan, dengan alusi-alusi terhadap kisah-kisah biblikal. Ya, tampak campur-aduk, membuatnya harus dibaca perlahan. Berkisah tentang seorang lelaki yang penuh rasa ingin tahu, sejenis proto-intelek yang belajar sendiri tentang sejarah, ilmu pengetahuan, jamu-jamuan, dan di zamannya, ia kemudian malah dituduh sebagai dukun penyihir. Pendosa yang tak hanya ditakuti, tapi juga harus dihukum. Merujuk perkembangan makhluk hidup, spesies yang unggul cenderung merupakan hasil dari perkawinan silang. Saya rasa kesusastraan juga demikian. Ketika kesusastraan terutama novel dewasa ini, di mana-mana, menampilkan kecenderungan yang homogen (dan banyak orang merasa kuatir mengenai “kematian novel”), saya rasa Sjón merupakan salah satu dari (tak banyak) penulis yang terus meramu berbagai unsur, mengawin-silangkannya menjadi spesies novel miliknya sendiri. Novel-novel seperti miliknyalah, yang saya kira, yang akan membuat novel terus bergerak, tumbuh dan sehat.

The Sleepwalkers (1): The Romantic

Membaca bagian pertama (dari trilogi) The Sleepwalkers karya Hermann Broch berjudul “The Romantic”, tampak seperti membaca roman picisan saja. Tentang kisah cinta segitiga, dan kemudian segi empat dengan munculnya satu pengganggu yang kurang ajar dan menyebalkan. Milan Kundera sangat mengagumi novel ini, bahkan memberi satu bagian khusus membicarakan novel ini di buku The Art of the Novel, sementara kesusastraan Jerman menganggapnya sebagai salah satu dari tiga novel besar berbahasa Jerman di paruh pertama abad kedua puluh (dua lainnya: The Magic Mountain dan The Man Without Qualities, nama-nama penulisnya cari sendiri saja, deh. Gampang, kok). Tentu saja kita tak perlu setuju dengan mereka, juga tak perlu ikut-ikutan mengagung-agungkan karya yang enggak ada hubungannya dengan periuk nasi kita, apalagi ranjang kita, tapi penasaran baca boleh, dong. Masa penasaran saja enggak boleh. Kalau rasa penasaran saja dibunuh, apa bedanya dengan hidup di negeri fasis? Terutama kalau merasa diri dongok dan tolol, seperti saya, ya wajib menjaga rasa penasaran dan rasa ingin tahu. Saya sangat haus bacaan, dan kalau ada yang bilang: novel ini bagus, lho, tentu saja langsung napsu pengin baca. Terutama setelah nulis empat novel, dan saya mencoba menengok kembali diri saya ke belakang, dan saya merasa cuma pinter nyampur-nyampur ini-itu doang. Cerita silat dicampur sedikit horor, ditambahi pseudo-sejarah, dan sedikit komentar politik. Lain kali sok-sokan menganalisa psikologi karakter, padahal ya enggak banyak tahu soal psikologi. Nyampur-nyampur drama, kisah cinta, misteri, petualangan. Diperparah dengan bahasa yang segitu doang. Semakin memikirkan itu, semakin saya berpikir untuk jadi petani saja. Tapi karena enggak pengalaman bertani, ujung-ujungnya kembali baca buku. Pengin tahu kenapa orang lain bisa begitu pinter nulis. Kembali menyiksa diri dengan pura-pura belajar. Kembali ke novel ini, lebih tepat bagian pertamanya (habis tebel, saya bacanya nyicil sambil duduk di kakus). Ceritanya bisa diringkas begini: Joachim, seorang prajurit dan anak tuan tanah, jatuh cinta sama gadis penghibur bernama Ruzena. Kepadanya ia merasa nyambung secara rasa maupun seksual. Ngepas, bahasa anak gaulnya. Pada saat yang sama, ia dijodohkan dengan tetangganya, dari kasta yang sederajat, sesama anak tuan tanah: Elisabeth. Pinter, dan tentu secara sosial cocok. Dia bingung. Minta nasehat sama temannya, jebolan tentara juga yang memutuskan jadi pengusaha bernama Bertrand. Sialnya, selain nasehat-nasehatnya rada-rada kasar dan apa adanya, diam-diam dia menggoda kedua cewek itu. Ruzena sih ogah sama dia, tapi Elizabeth terpukau dengan keterus-terangannya. Bener, kan, kayak novel picisan sebenarnya? Saya suka dengan sosok si Bertrand, yang ganggu dan tukang manas-manasin orang dengan pikiran-pikiran bebasnya. Satu hal yang terpikir oleh saya membaca “The Romantic” (julukan ini tampaknya ditujukan kepada Joachim), kita bisa melakukan studi mengenai karakter. Meskipun ditulis dengan gaya realis yang tertib dan dingin, saya tak bisa menahan diri menangkap kesan kocak dan karikatural dari karakter-karakternya. Empat karakter yang berbeda (bisa lebih jika kita menghitung ayah Joachim, dan calon mertuanya), menghadapi berbagai macam isu yang berbeda (persahabatan, cinta, karir, pernikahan). Bahkan di akhir cerita, ketika Joachim dan Elizabeth terdampar di satu kamar hotel dalam perjalanan bulan madu mereka, keduanya tampak sangat komikal. Sangat canggung memandang apa arti perkawinan dan malam pertama mereka. Benar-benar kisah yang lucu. Cuma itu? Sementara cuma segitu yang terpikirkan, sebab cuma memikirkan itu saja kepala saya sudah nyut-nyutan dan rada panas. Tapi saya berjanji akan membaca bagian berikutnya, yang kedua dan ketiga. Tentu saja nanti di kesempatan “pup” berikutnya. Saya pakai kata “pup”, sebab konon itu kata paling sopan untuk tindakan duduk di kakus, juga untuk memperbanyak kosakata saya yang menyedihkan ini. Pup. Pup. Pup.

Dag Solstad: Tanggung Jawab Penulis adalah Bikin Karya Bagus

Setelah berkenalan melalui novel Aib dan Martabat, saya langsung mengenali nama penulis ini ketika melihat edisi terbaru The Paris Review, di rubrik wawancara yang saya demenin di jurnal itu: “The Art of Fiction” (dia kebagian nomor 230). Di kesusastraan Skandinavia (tepatnya doi berasal dari Norwegia), konon dia dianggap sebagai “an anavoidable voice”. Saya makin demen, nih. Dan makin seneng aja ketika dia ditanya, bagaimana awalnya dia pengin jadi penulis? Jawabannya: gara-gara baca Knut Hamsun. Berasa punya temen, deh. Knut Hamsun emang gokil. Baru satu novel Dag Solstad yang saya baca (berharap bisa baca yang lainnya di kemudian hari), tapi membaca wawancaranya sungguh menyegarkan. Ada satu bagian yang saya rasa perlu menjadi perenungan ketika ia ditanya, di luar Hamsun, penulis siapa aja yang dibaca dan memengaruhi. Ia bilang, sebagian besar penulis yang disukainya (Kafka, Dostoyevsky, dan lain-lain) justru dibacanya ketika berumur akhir 20an, “Ketika sudah lewat masa penjara kanak-kanak.” Di luar bayangan kebanyakan orang dewasa yang menganggap masa anak-anak sangat menyenangkan (maklumlah, seperti kata Little Prince, orang dewasa imajinasinya payah), anak-anak seringkali terpenjara: oleh keinginan orang tua, guru, masyarakat. Enggak boleh ini, enggak boleh itu. Pikiran dan tindakan mereka dikendalikan oleh orang dewasa. Nah, menurut Solstad, justru ketika dewasa ia merasa lebih bebas. Seharusnya sih, begitu. Kenyataannya mungkin malah banyak orang semakin dewasa semakin terpenjara. Pikirannya semakin mudah dikendalikan. Enggak bisa ini, enggak bisa itu, dan yang ngelarang ternyata dirinya sendiri! Dan ini juga hal seru: mengenai komunitas. Dia merasa beruntung di awal karirnya bergabung dengan majalah sastra Profil. Dia ketemu banyak orang keren di sana, yang membaca segala hal, mengetahui banyak hal. Kecuali dirinya, ia merasa teman-temannya memiliki keistimewaan masing-masing. Pernah ia mencoba ikut berdebat, tapi tak pernah berhasil mempertahankan argumennya (karena dia enggak tahu apa-apa). Akhirnya ia memilih diam dan mendengarkan. Terus mendengarkan. Hasilnya? “Aku tak memiliki keistimewaan apa-apa, tak memberi apa-apa tapi memperoleh paling banyak.” Hahaha. Itu lucu, tapi boleh dimaafkan. Memang banyak kok orang yang cerewet dan ngomong banyak, sebenarnya bukan “memberi banyak”, tapi lebih “pengin didengar”. Argumennya enggak penting, yang penting ada yang dengar, syukur-syukur enggak dibantah. Ada yang kayak begitu, percayalah. Ada. Dan terakhir, mengenai keistimewaan penulis (memiliki kebebasan bicara, misalnya), ia ditanya mengenai tanggung jawab. Si pewawancara mengutip tentang kebebasan melahirkan tanggung jawab. Nah, apa tanggung jawab seorang penulis? Sebagai seorang komunis, lebih tepatnya seorang Maois, saya bayangkan dia bakal jawab mengenai tanggung jawab sosial, tentang mencerdaskan masyarakat, menggunting belenggu penindasan, atau sejenisnya. Ternyata dia malah bilang: tanggung jawab penulis ya bikin karya bagus. Itu yang paling penting. “If you are a writer, being able to make a good piece of art is of the utmost importance — that’s your primary responsibility.” Bener juga ya, kalau enggak merasa punya tanggung jawab semacam itu, ngapain nyebut sebagai penulis? Lu Hsun kurang-lebih pernah mengatakan hal yang sama. Jadi boleh lah saya anggap itu jawaban paling kiri. Banget. Tinggal sekarang baku-hantam saja tentang apa itu “bagus”.

In Praise of Shadows, Junichirō Tanizaki

Seperti judulnya, In Praise of Shadows, buku esai tipis ini bicara tentang bayangan. Tentang terang dan gelap, dan terutama tentang kekaguman sang penulis, Junichirō Tanizaki, terhadap bayangan. Terhadap aspek gelap dari dunia. Sekaligus memperlihatkan sikap enggan terhadap yang terang benderang, cahaya yang menyilaukan, yang menurutnya, membuang-buang enerji (memang benar kalau kita melihat lampu-lampu neon di pusat-pusat perbelanjaan, di jalanan kota, yang sebagian besar lebih sering sia-sia dan pemborosan). Mulai bicara tentang letak kakus di rumah-rumah tradisional Jepang, yang umumnya terpisah dari rumah utama, dengan pencahayaan yang biasanya remang-remang. Tempat, yang menurutnya, “Para penyair haiku selama berabad-abad menghasilkan karya-karya besar mereka.” Ia kemudian beralih kepada arsitektur rumah Jepang tradisional secara umum di mana, “Para leluhur kami memangkas keterang-benderangan di permukaan tanah dari atas dan menciptakan sebuah dunia bayang-bayang.” Saya selalu suka membaca buku-buku esai semacam ini, yang membicarakan hal-hal yang barangkali di permukaan tampak sepele, tapi sangat kaya. Terutama jika ditulis oleh seorang novelis, dengan alur pemikiran laksana membaca novel. Maka ketika seorang teman, seorang jurnalis dan penyair, Nezar Patria membicarakan buku ini di satu pertemuan kami, saya langsung mencari dan membacanya. Buku tipis ini tak hanya bicara tentang estetika bayang-bayang, tapi juga bisa untuk melihat bagaimana seorang penulis Jepang ternama memandang kontras kebudayaan Barat dan Timur, juga di mana posisi perempuan dalam estetika bayang-bayang ini. Intinya, jika saya boleh menyimpulkan, berbeda dengan estetika yang memuja keterang-benderangan (cahaya yang melimpah) di mana keindahan terletak pada segala yang tampak, estetika bayang-bayang ini justru lebih bermain pada hal-hal apa yang disembunyikan (dan karenanya akan tampak apa yang muncul). Di luar masalah arsitektur, esai ini juga dibawa ke makanan, cara penyajian makanan, bahkan tentang istilah “putih” untuk kulit, di mana putih untuk ras Eropa tidak sama dengan putih yang dibayangkan lelaki Jepang atas kulit perempuan mereka. Di luar usahanya untuk menelisik, dan terutama untuk membangun dasar atas kekagumannya terhadap segala yang berupa bayang-bayang serta kebudayaan tradisional Jepang, dalam beberapa hal pemikiran-pemikirannya sedikit mengganggu, jika tak bisa dibilang cukup bikin gemes. Misalnya, usaha Tanizaki yang sangat kontras membedakan Barat dan Timur. Bagi dia, estetika terang-benderang ini merupakan warisan kebudayaan Barat (dan masuknya ke Jepang, tentu juga merupakan pengaruh kebudayaan Barat). Tentu saja menurut saya ini agak meragukan, atau menyederhanakan. Cukup melihat lukisan-lukisannya Rembrandt, kita tahu ada sebagian Barat yang juga memuja bayang-bayang dan warna gelap. Pandangan semacam ini hanya mengekalkan sejenis orientalisme, seperti sering terjadi di kita juga. Misalnya, Timur penuh tahayul sementara Barat rasional (hah, belum lihat Conjuring?). Saya malah mengira-ngira perbedaan estetika bayang-bayang dan terang-benderang ini ada kaitannya dengan epistemologi. Keterang-benderangan, bisa jadi lahir bersamaan dengan pencerahan. Arsitektur yang membiarkan cahaya matahari masuk ke rumah secara melimpah, bisa jadi ada kaitannya erat dengan rasionalitas (Tanizaki sama sekali tak menyinggung kemungkinan-kemungkinan ini). Kita bisa mendebat argumen-argumen Tanizaki di buku ini tentu saja, apalagi bagi orang-orang yang paham kebudayaan Jepang (saya tidak termasuk), termasuk estetika mengenai kecantikan perempuan. Meskipun begitu, penjelajahannya mengenai dunia bayang-bayang ini tentu saja tetap mengasyikan, membuka ruang-ruang tafsir baru terutama di banyak hal (rasa yang samar-samar di makanan, kesunyian di dalam musik, bagian-bagian tubuh yang disembunyikan di dalam fashion, dan lain sebagainya). Saya rasa penulis harus lebih banyak menghasilkan karya semacam ini, menjelajahi satu tema dalam satu buku utuh, jangan cuma riang dan merasa cukup dengan bunga rampai esai dan pikiran sejengkal-dua jengkal.

Bagaimana Menghasilkan Uang Melalui Sastra

Saya membuat judul jurnal ini “Bagaimana Menghasilkan Uang Melalui Sastra” biar banyak yang baca, sebab sepengalaman saya bertahun-tahun menulis jurnal di sini, orang cenderung tertarik hal-hal semacam itu. Siapa sih yang enggak doyan duit? Kalau ada artikel tentang menghasilkan uang hanya dengan tidur delapan jam sehari, saya juga tergoda untuk membacanya. Kenyataannya, memang judul itulah yang terpikirkan ketika membaca novel karya Marek Hlasko, berjudul Killing the Second Dog. Apakah ini novel tentang menghasilkan uang dengan cara membunuhi anjing? Tak bisa dibilang begitu juga, meskipun memang ada anjing yang dibunuh. Adegan yang, demi sopan-santun kepada semua anjing, hanya diceritakan sekilas saja. Itu pun hanya pembunuhan kedua. Pembunuhan pertama dan ketiga, atau kesekian lainnya, tak diceritakan, anggap pembaca mengerti saja. Yang lebih tepat, ini novel tentang menghasilkan uang melalui kesusastraan, atau lebih sederhananya lagi, melalui kemampuan berkisah. Sebelum saya membocorkan bagian-bagian mengenai cara menghasilkan uang melalui kesusastraan, karena saya yakin ini bagian paling menarik dari jurnal sok tahu ini, izinkan saya melipir dulu memuja-muji novel ini di bagian-bagian lainnya yang tak bisa saya abaikan. Gaya menulisnya bisa dibilang brutal, tapi penuh adegan dan dialog lucu, terutama jika mengetahui sedikit saja tentang sejarah kesusastraan dunia, sebab sesekali novel ini sedikit mengejek Shakespeare, atau Sartre, atau Chekhov, bahkan seni peran Stanislavsky. Berkisah mengenai dua lelaki, Robert dan Jacob, yang menggelandang di negara gersang dan panas (dan bisa dibilang enggak ramah) bernama Israel di sekitar tahun 1950an. Ya, tak lama setelah Perang Dunia II dan negara itu menjadi tujuan banyak orang, Yahudi maupun bukan. Mereka dua orang cerdas, tapi bisa dibilang pecundang. Kere. Keluar-masuk bui. Tak punya uang. Kelaparan. Dikejar-kejar kreditor, dan dicurigai polisi. Tak hanya itu, nasib apes juga mengekori mereka terus. Hingga mereka menemukan satu cara brilian untuk menghasilkan uang, tak hanya untuk hidup tapi juga untuk sedikit bersenang-senang, melalui kesusastraan. Dunia yang tak asing bagi mereka. Yang satu sarjana sastra Inggris, yang lain sutradara teater. Bagaimana caranya? Tunggu dulu. Saya perkenalkan dulu penulisnya. Marek Hlasko bisa dibilang tipikal penulis pemberontak: muncul nyaris mendadak (entah dari mana), bikin gempar, lalu mati muda. Ketika kesusastraan Polandia tampak lesu selepas perang, ia muncul dengan karya-karyanya yang memperlihatkan arus baru. Di novel ini, misalnya, kita bisa melihat gaya ala-ala novel hardboiled, tapi pada saat yang sama penuh alusi-alusi biblikal layaknya novel-novel klasik Eropa. Telaahnya terhadap jiwa dan psikologi manusia, meskipun dibawakan dengan ringan dan cenderung untuk meledek, bagi saya (yang membacanya bertahun-tahun kemudian setelah terbit), terasa tetap segar. Ada kesan getir generasi pasca perang, tapi dengan humor dan ekspresi-ekspresi yang apa adanya, juga memberi kesan gairah hidup yang menyala-nyala. Setidaknya dengan hidup yang berantakan dan dunia yang suram, melalui kesusastraan (yang meskipun tak mereka yakini, tapi mereka senangi), keduanya bisa memperoleh 700 dolar Amerika. Enggak banyak, tapi untuk ukuran Israel di zaman itu, kau bisa hidup foya-foya. Jadi bagaimana caranya menghasilkan duit dari kesusastraan? Saya memutuskan untuk tak menjawabnya. Mending baca sendiri novelnya dan belajar dari dua sosok gila bernama Robert dan Jacob itu.

The Ballad of the Sad Café, Carson McCullers

Cerpen-cerpen di kumpulan The Ballad of the Sad Café ini kebanyakan bikin sedih (seperti judulnya). Sedih yang bikin gregetan karena keadaan tokoh-tokohnya memang memaksa ceritanya jadi sedih. Jujur saya enggak terlalu kenal Carson McCulers, kecuali novel pertamanya yang sering disebut-sebut orang, The Heart Is a Lonely Hunter. Seorang teman memberi saya kado dan isinya kumpulan cerpen dia, dan itu berarti hal baik: saya mencoba membaca penulis yang belum pernah saya jamah sebelumnya. Apalagi saya sedang ingin mencekoki kepala saya dengan banyak cerpen-cerpen bagus, menyadari asupan soal genre cerpen ini memang sangat kurang sekali. Ada aroma “selatan” dalam cerpen-cerpennya, dengan lanskap yang kering, membosankan, tapi pada saat yang sama, penuh karakter yang riuh dan hidup. Meskipun begitu, alurnya lebih terasa kontemporer, dengan potongan-potongan kisah yang nyaris menyerupai fragmen, dan kita mencoba membaca apa yang ada di sebalik kisah tersebut. Kisah pertama, “The Ballad of the Sad Café” bisa dibilang sebagai sebuah novela, menghabiskan separoh buku sendiri. Inti ceritanya bisa disederhanakan oleh satu kutipan dari tengah-tengah cerpen tersebut: “Once you have lived with another it is a great torture to have to live alone.” Ya, tentang seorang perempuan hebat (kaya, jago bisnis, dan bahkan jago tinju) yang tak berdaya menghadapi rasa ditinggalkan. Ia pernah kawin dengan seorang tukang rusuh tapi ganteng, yang cuma bertahan sepuluh hari. Si tukang rusuh kabur, jadi penjahat dan masuk penjara. Lalu datang sepupunya, orang pincang jelek, tapi si perempuan bahagia ditemaninya. Hingga si tukang rusuh kembali dan si pincang jadi penguntitnya, pengagumnya, dan berdiri di pihak si tukang rusuh itu. Ada satu hal yang tak pernah diceritakan di sini: bagaimana Miss Amelia, si perempuan ini, berpisah dengan si tukang rusuh Marvin Marcy. Tapi kemudian saya ingat, bahwa kadang dalam cerpen yang bagus seperti ini, memang ada hal-hal yang sengaja (atau tak sengaja) tidak diceritakan. Dibiarkan terbuka untuk diisi oleh imajinasi pembaca. Kita tak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi di malam pertama mereka, dan malam-malam setelahnya sebelum mereka berpisah. Kita hanya tahu, mereka tak baik-baik saja. Cerpen-cerpen lain jauh lebih pendek, hanya delapan hingga dua belas halaman, dan beberapa di antaranya sangat saya sukai. “Madame Zilensky and the King of Finland” merupakan humor lempeng yang, kita tak tega untuk menertawakannya. Tentang guru musik yang karena seriusnya menghadapi musik, seperti tak menganggap hal lain di luar itu sebagai hal penting untuk dianggap serius. Bahkan ketika berbohong, ia tak sadar telah berbohong. “A Domestic Dilemma” juga humor pahit yang membuat kita ingin mem-puk-puk karakternya. Tentang keluarga “selatan” yang harus pindah ke jantung megapolitan bernama Manhattan. Si isteri mulai tak bahagia, dan jadi pemabuk. Dua anaknya jadi sering terbengkalai. Suaminya sering kesal, membencinya, tapi tak berdaya karena juga mencintainya. Sialnya, karena sebelum membaca cerpen-cerpen ini saya iseng membaca biografi McCullers, saya jadi merasa banyak cerpen-cerpen ini dipenuhi oleh pantulan kisah dirinya sendiri. Boleh kan, membanding-bandingkan karya dan penulisnya? Suka-suka saya dong sebagai pembaca. Isteri yang tak bahagia dan suami yang benci-dan-cinta mungkin dirinya (nyatanya ia bercerai dan kawin dengan suaminya beberapa kali). Termasuk banyak pembicaraan tentang musik (ada murid sekolah musik, guru musik, mantan yang memainkan piano), juga tak terlepas dari keinginan awal McCullers untuk menjadi pemusik sebelum memutuskan menjadi penulis. Soal musik ini, ada satu cerpen yang saya rasa dibangun dengan sangat indah (menyayat-nyayat hati, sih), melalui deskripsinya tentang musik dan permainan piano. Judulnya “The Sojourner”, tentang seorang lelaki yang mengunjungi mantan isterinya, dan tercabik-cabik melihat keluarga mantan isterinya hidup bahagia. Ah, kalau soal ini, siapa sih yang tahan melihat mantan bahagia?

Older posts Newer posts

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑