Journal

Blood Meridian, Cormac McCarthy

Sejauh mana kegilaan manusia bisa terentang? Dan sejauh mana daya hidup manusia bisa bertahan dari kegilaannya zaman dan kegilaannya sendiri? Disebut-sebut sebagai salah satu mahakarya kesusastraan Amerika (dalam satu rangkaian bersama Moby Dick dan As I Lay Dying), novel ini merupakan fondasi sebuah bangsa dari sudutnya yang paling gila dan memualkan. Semacam pengakuan dan riwayat segala dosa yang mungkin dilakukan segerombolan manusia. Kita akan bertemu si bocah yang hanya disebut sebagai “The Kid”, yang kabur dari rumah di umur empat belas tahun. Ia sejenis Huck Finn dalam sosoknya yang brutal, melancong dari satu tempat ke tempat lain, bertahan hidup melewati berbagai perkelahian, dengan kepalan tangan, dengan tendangan kaki, leher botol, pisau belati, hingga pelor sempat juga menerjang punggungnya. Dan di satu bar, ia membunuh seorang lelaki. Tapi itu hanya bagian pembuka saja, itu hanya awal dari opera kekerasan yang harus dijalaninya. Awal yang membawanya untuk bergabung dengan pasukan pemburu Indian sepanjang perbatasan Meksiko, untuk menangkap, membunuh dan menguliti kepala mereka. Kita juga akan berjumpa sosok lain, seorang lelaki plontos bernama Holden yang lebih banyak disebut sebagai “The Judge”. Tak jelas asal-usulnya, tapi ia seorang pencatat, pembuat sketsa, tertarik kepada artefak-artefak peninggalan Indian, membaca rasi-rasi bintang, tapi sekaligus dengan dingin bisa membunuh siapa pun, menguliti kepala siapa pun, sebab setelah jadi lembaran kulit, Indian atau bukan tak ada bedanya. Mereka berdua bergabung dengan gerombolan koboi pemburu Indian yang dipimpin oleh Glanton, yang memperoleh kontrak perburuan ini dari kedua pemerintah di kedua sisi perbatasan. Blood Meridian tak hanya membeberkan dunia yang liar, penuh kekerasan, tapi juga korup dan bengis. Tentu saja ada pemerintahan, ada markas-markas tentara di sana-sini, ada hukum dan pengadilan dan penjara, juga ada kavaleri yang sesekali lewat, tapi semua itu terasa sebagai basa-basi saja. Selebihnya adalah rimba belantara manusia dan gurun pasir, di mana perkara bertahan hidup lebih penting dari segalanya, dan yang kuat, yang licik, mungkin bisa bertahan hidup. Ditulis Cormac McCarthy dengan cara episodik, kita akan berbenturan dengan berbagai kekejian ini. Jangan cuma kepala manusia dicokok botol hingga retak dan otaknya meleh, atau kepala manusia dipenggal dan kepalanya itu ditenteng-tenteng menjadi sejenis piala, atau daun telinga yang diiris dan dijadikan semacam kalung yang digantungkan di leher, bahkan bayi manusia dijinjing dari punggung kuda dan dibantingkan ke batu, terpapar di novel ini. Ya, untuk kamu yang tak tahan menghadapi gambar-gambar semacam itu, sebaiknya perkuat daya tahan mentalmu sebelum membacanya. Di antara semuanya, sosok The Judge merupakan yang paling menarik. Bagi saya, ia merupakan penjelmaan Iblis yang nyaris sempurna, yang dengan pahit barangkali mengajarkan kita bagaimana bertahan hidup di dunia yang edan: yakni ikut menjadi edan. Ia tampak seperti di atas semua nilai-nilai moral, di atas pengetahuan, bahkan di atas pengalaman. Ia seperti memahami rahasia terdalam kebrutalan hidup. Adegan yang paling mengerikan, yang menampakkan wajahnya yang paling dalam terjadi ketika ia menghampiri tiga orang penyintas yang selamat dari serbuan Indian. Ia menginginkan topi salah satu penyintas. Ia menawar. Meskipun awalnya topi itu tidak dijual, ia terus menawar. Menaikkan harga. Dolar demi dolar. Kita tahu, keinginannya harus dan akan terpenuhi. Hingga terakhir, ia menawar satu-satunya pistol di antara mereka, milik The Kid, yang kita tahu akan mengantarkan si bocah ke akhir yang tragis. The Judge menari bersama kegilaan dunia, sebab ia tak pernah tidur. Sebab, sebagaimana ia selalu berkata, ia tak pernah mati. Seperti jiwa jahat yang bertahan dari zaman ke zaman.

Standard
Journal

Down the Rabbit Hole, Juan Pablo Villalobos

Agak sulit untuk mengkasifikasikan novel ini. Pulp? Ya, apalagi dengan latar cerita tentang kelompok mafia narkoba Meksiko dengan tembak-tembakan dan bunuh-bunuhan, tapi juga enggak persis seperti itu. Picaresque? Boleh juga, apalagi dengan tokoh utama (sekaligus narator) seorang anak kecil, agak nyeleneh (atau dari sudut pandang lain: jenius), tapi ya tidak persis seperti novel sejenis lainnya. Nonsense? Judulnya mengingatkan kita kepada Alice’s Adventures in Wonderland memang, dan seperti novel klasik tersebut, novel ini bisa juga dilihat sebagai komentar nonsens anak kecil atas dunia orang dewasa, tapi ya tetap saja beda. Tak ada dunia ajaib, juga tak ada makhluk-makhluk ajaib. Mungkin memang novel ini tak membutuhkan label apa pun, atau label apa pun bisa saja diterapkan kepadanya. Tak ada bedanya. Novel ini bisa dinikmati dengan atau tanpa label-label itu: kocak, penuh sindiran, terus-menerus memancing rasa ingin tahu, sekaligus brutal. Baiklah, untuk memberi gambaran yang lebih jelas, Down the Rabbit Hole karya Juan Pablo Villalobos (penulis ini pernah datang ke Indonesia sekitar setahun lalu) berkisah tentang seorang bocah yang kebetulan anak gembong narkoba. Meskipun hidup di lingkungan yang penuh kekerasan, ayahnya tak pernah berbuat kasar kepadanya (tak pernah memukul atau menampar), bahkan cenderung memanjakannya (mungkin karena ia sudah tak punya ibu). Sebagai anak tunggal gembong narkoba yang kaya raya (punya berjuta-juta uang dalam bentuk peso, dolar, maupun euro), hidupnya menyenangkan sekaligus tak menyenangkan. Ia tak bisa pergi sekolah, tapi tentu punya guru pribadi. Ketika ingin mengunjungi kebun binatang, ia tak bisa pergi ke sana, sebagai gantinya binatang-binatang didatangkan ke halaman rumahnya. Apa pun yang diinginkannya, bisa dikabulkan, ia hanya tinggal menuliskan daftar keinginannya. Termasuk ketika ia menginginkan kuda nil kerdil yang harus didatangkan dari Liberia di Afrika. Bagian yang terakhir, bisa dibilang merupakan jantung kisah novel ini: tentang anak gembong narkoba yang ingin memelihara kuda nil kerdil yang nyaris punah. Bagi yang akrab dengan novel-novel dari Amerika Selatan, tentu akan sedikit terbengong-bengong dengan kisah dan gaya novel ini. Ia seperti sebuah geliat baru dari sejarah kesusastraan nun jauh di sana, sebuah percobaan, barangkali sebuah upaya perusakan sejarah. Saya suka istilah “perusakan sejarah” ini, yang saya karang-karang sendiri. Maksudnya, sebagai upaya menggembosi kemapanan sejarah kesusastraan Amerika Selatan, dengan memberinya tak hanya terobosan, tapi juga sindiran dan olok-olok kebesarannya (alih-alih merayakan eksotisme setempat, novel ini merayakan budaya populer macam film samurai Jepang; alih-alih penuh komentar politik pascakolonial, si bocah dan gurunya lebih banyak bicara tentang kegilaan orang Perancis memenggal kepala raja mereka). Villalobos tentu saja tak sendirian, dan selalu menyenangkan melihat upaya-upaya semacam ini. Baiklah, sejarah mungkin tak pernah benar-benar dihancurkan. Yang ada tak lebih dari yang tercatat dan tak tercatat, atau seseorang mencatat cara-cara baru melihat dunia sementara yang lain mencatat ketololan-ketololan. Apa bedanya? Bajingan maupun santa, si jenius maupun si tolol dalam kesusastraan bisa sama tercatat dan bisa sama dilupakan. Apakah Villalobos dan rekan-rekan segenerasinya merupakan bajingan atau santa dalam kesusastraan Amerika Selatan, tak usahlah dipedulikan. Ia bisa bajingan, bisa pula santa. Satu hal, ia memberi kita sesuatu yang menyenangkan. Mungkin kelokan kecil yang menyenangkan (kelokan yang mengganggu di ujung jalan raya nan megah). Sebuah setapak yang siapa tahu, dalam perjalanan waktu, menjadi pembuka bagi jalan baru yang lebih lebar dan agung (dan kelak seseorang merasa perlu menghancurkan kembali jalan ini).

Standard
Journal

Playing in the Dark, Toni Morrison

Bagaimana keberadaan dan persona yang-bukan-putih dan Afrikanisme dikonstruksi — diciptakan — dalam kehidupan dan kesusastraan Amerika? Tanpa bermaksud untuk mengklasifikasikan karya-karya yang rasis atau tidak rasis, apalagi menyudutkan penulisnya (seorang penulis secara pribadi tak berhubungan dengan tindakan karakter fiktifnya, meskipun ia bertanggung jawab atas mereka — begitu katanya) yang merupakan wilayah kritik lain, dengan jernih Toni Morrison melakukan pelacakan dalam monograf pendek ini. Selalu menarik menemukan seorang penulis fiksi juga menulis telaah tentang kesusastraan, terutama pada tema-tema yang merupakan pusat perhatiannya, seperti kebudayaan dan orang-orang kulit hitam Amerika bagi penulis ini. Tak hanya dalam esai-esai pendek, tapi terutama dalam satu buku utuh. Jelas Toni Morrison, sebagai perempuan kulit hitam, tampak sebagai antitesis bagi sejarah kesusastraan Amerika (yang begitu jelas sebagai sejarah kesusastraan lelaki-putih), dan dengan sadar ia menempatkan dirinya di sana, dengan kesadaran akan bias tersebut, dengan kemungkinan meromantisir yang-hitam daripada mengutuknya; atau mengaburkan yang-putih daripada membuatnya jelas. Playing in the Dark — Whiteness and the Literary Imagination awalnya merupakan bahan ceramah kuliahnya tentang sejarah peradaban Amerika yang kemudian disunting kembali menjadi monograf. Ia membukanya dengan sejenis sindiran betapa sejarah kesusastraan Amerika tak hanya mengabaikan narasi-narasi orang kulit hitam, tapi bahkan juga mengabaikan karya-karya orang kulit putih yang membicarakan orang atau kebudayaan orang kulit hitam. Sebagai contoh, karya-karya terakhir Faulkner yang banyak bicara tentang ras dan kelas, dianggap kritikus sebagai karya-karya minor. Saya rasa tinjauannya bisa dipergunakan untuk membaca kasus-kasus lain yang melibatkan kelompok-kelompok yang-tak-terepresentasikan di wilayah-wilayah geografi atau kebudayaan lainnya, dan bagi saya, itu sangat jelas terbayang bahkan ketika sambil membacanya. Toni Morrison menunjukkan, misalnya, lebih daripada pengabaian di dalam kesusastraan, bahkan ketika sebuah karya bicara tentang orang kulit hitam, kemungkinan besar karya itu ditujukan bukan buat mereka. Uncle Tom’s Cabin tidak ditujukan untuk pembaca seperti “Uncle Tom”, misalnya. (Apakah kesusastraan yang mencoba membela “yang tak bersuara” ditujukan untuk dibaca oleh orang-orang “yang tak bersuara” ini?, misal lain). Seperti umumnya buku yang baik dan telaah yang jernih, tanpa harus memaksanya, buku ini membawa saya ke mana-mana. Membuat saya bertanya-tanya bagaimana rasialisme bisa muncul — tak hanya sebagai sterotif tentang ras. Ia menunjukkan bahwa kadang perkara rasial ini dipergunakan penulis sebagai “strategi lingusitik” (yang buat saya, boleh jadi merupakan wujud kemalasan). Misal, dengan mengatakan seseorang sebagai “negro”, tak hanya itu merujuk kepada warna kulit, tapi juga stereotif kelas ekonomi. (Saya jadi ingat kampanye rasial selama pemilu gubernur Jakarta tahun lalu, di mana “Cina” juga berarti stereotif yang meliputi: kaya, asing, kafir, dan menjadikan label itu tak hanya sebagai warna kulit atau kesukuan belaka, tapi merupakan label umum yang menghilangkan persona individu). Tak cuma itu, ia juga menunjukkan (dengan cukup provokatif), “yang-hitam” tak hanya wujud kecurigaan tentang “yang liyan”, tapi juga merupakan strategi linguistik yang lain untuk mengekspresikan fetish, hasrat seksual maupun ketakutan erotis. Itu hanya sebagian dari hipotesis di buku ini. Pertanyaan yang sangat menggelitik, yang tentu saja saya sadar memiliki konteks yang berbeda dengan apa yang terjadi di kesusastraan Amerika dan hubungannya dengan narasi kulit-hitam, apakah argumen-argumen ini bisa diterapkan (atau diperbandingkan) dalam situasi yang lain? Tak hanya mengenai rasialisme di Indonesia, misalnya, tapi juga dalam problem-problem ketidakterwakilan gender, kelas, maupun keyakinan dalam kesusastraan kita.

Standard
Journal

First Snow on Fuji, Yasunari Kawabata

Seperti kebanyakan pengarang ingusan, saya pernah berupaya untuk bisa menulis seperti Kawabata. Tentu saja gagal total, dan setelahnya tak punya nyali untuk melakukannya lagi, yang belakangan rada disyukuri sebab saya tak perlu menjadi dirinya. Kesan yang paling kuat setiap membaca karya-karyanya adalah keterpesonaannya kepada benda-benda, alamiah maupun ciptaan, dan membawa benda-benda itu sebagai pesan bagi perasaan-perasaan yang tak terkatakan. Saya membaca First Snow on Fuji dengan sejenis ketidaksengajaan. Tanpa sesuatu yang harus dilakukan menjelang akhir tahun, sementara sesekali hujan datang, saya melihat deretan buku-buku Kawabata di rak dan berpikir apakah perlu membaca ulang satu atau dua novelnya. Hingga saya sadar ada satu buku terselip di sana dan saya belum pernah membacanya. Buku bekas dalam kondisi yang sangat baik, saya lupa dari mana memperolehnya, yang jelas di dalamnya tertera cap bahwa itu bukan lagi milik satu perpustakaan, di sebuah kota di New Jersey. Ketika saya membukanya, saya baru sadar itu kumpulan cerita, dan ketika mulai membaca beberapa cerpennya, saya juga sadar hal-hal terbaik yang saya sukai dari Kawabata ada di cerita-cerita ini. Dalam cerpen pertama “This Country, That Country” ia berhasil membuat saya terus-menerus membayangkan leher jenjang Takako. Dan melalui leher jenjangnya, yang menjadi penanda sensualitasnya, kita dibawa ke perasaan-perasaannya, dan hubungan yang rumit di antara dirinya, suaminya, tetangga mereka, juga lelaki muda yang menjadi simpanannya. Di cerpen kedua, ia (atau lebih tepat: tokohnya) terobsesi dengan deretan pohon ginkgo di pinggir jalan, yang daunnya rontok separoh ke bawah (dan menurutnya aneh) di awal musim gugur. Di cerpen ketiga, ia berkisah tentang seorang aktor yang adalah seorang lelaki, lalu untuk menghindari wajib ikut perang berubah menjadi perempuan, belakangan kembali menjadi lelaki (dengan spesialis memerankan tokoh perempuan). Ia memadupadankan kisah si aktor ini dengan tempat permandian di mana ia bertemu, yang menghadap laut, dan bercerita tentang keindahan senja dan gumuk pasir, di mana horison antara langit dan air tampak gelap. Tanpa terhalangi, saya memikirkan horison itu sebagai titik antara menjadi lelaki dan perempuan di diri si aktor, yang mungkin juga gelap. Cerpen “Raindrops” tentu saja suara tetesan hujan di sini menjadi penting, untuk kontras dengan hidup yang kering. Selepas itu ada cerpen yang menceritakan tentang batu-batu nisan, nyaris menyerupai ensiklopedia, tapi tak ayal memberi pertanyaan yang sangat mengganggu, benarkah orang mati membutuhkan penanda? Orang hidup mungkin membutuhkannya sebagai pengingat, tapi untuk apa bagi si mati? Baiklah, kembali ke usaha saya meniru Kawabata di masa lampau. Kegagalan itu demikian nyata buat saya karena perkara satu hal: saya tak bisa meyakinkan orang bahwa ada tokoh yang bisa terobsesi dengan benda-benda dan imaji-imaji seperti Kawabata melakukannya, hingga pertanyaan ini muncul: apakah orang Jepang memang seperti itu, atau Kawabata yang demikian hebat membuatnya tampak alamiah? Bahwa orang bisa membicarakan salju pertama yang muncul di puncak Gunung Fuji, sambil duduk di kursi kereta, dan sambil mengaduk-aduk perasaan hati mereka? Mungkin memang bisa. Saya pernah membaca penulis Jepang lainnya, Hikaru Okuizumi di novel The Stones Cry Out. Seperti terlihat dari judulnya, itu tentang orang yang tergila-gila kepada batu, dan dari batu itulah memancar tak hanya aspek geologis, tapi juga sejarah dan psikologi. Dan bukankah kita bisa menemukan satu tokoh yang terobsesi dengan daun telinga di novel Haruki Murakami, dan ia membuatnya tak semata-mata daun telinga, tapi imaji tentang sensualitas atau entah apa lagi? Ryūnosuke Akutagawa jarang melakukan ini (ia lebih mendekati seorang realis), tapi kecenderungan memanfaatkan imaji alam dan benda-benda juga bisa ditemukan di Jun’ichirō Tanizaki. Pokok soalnya, imaji-imaji ini di tangan mereka, terutama Kawabata, tak berakhir menjadi deskripsi tentang sesuatu, atau kesan narator (atau tokohnya) tentang itu, tapi juga menjadi perkakas untuk menguar perasaan-perasaan dan hubungan rumit yang diciptakannya. Di cerpen yang menjadi judul cerita, perdebatan apakah salju di puncak Fuji merupakan salju pertama atau bukan, jelas merupakan pembukaan untuk hubungan yang membingungkan antara Utako dan Jirō. Mereka jatuh cinta di masa perang, hingga Utako hamil di luar nikah. Keluarga dan perang memisahkan mereka, dan anak itu kemudian mati. Delapan tahun kemudian mereka tak sengaja bertemu di stasiun. Kita kemudian tahu Utako baru saja bercerai, dan pernikahannya merupakan neraka. Ia tampak menderita dan kurus. Jirō mengajaknya untuk pergi ke tempat permandian, alias kencan. Mereka mandi bareng. Tidur berdampingan. Mereka bicara dan tampak bahagia. Tapi bagaimana hubungan dan masa depan mereka, sebab pada saat yang sama, jelas Jirō juga telah terikat pernikahan. Kebahagiaan itu jelas seperti salju di puncak Fuji, tapi makna kebahagiaan itu mungkin mereka sendiri tak tahu apa sebenarnya. Ada satu cerpen yang menurut saya sangat menarik, berjudul “Silence”, di mana kebisuan, kematian, dan hantu menjadi imaji-imaji yang berkaitan. Kisahnya sendiri bahkan memiliki kisah lain di dalamnya: tentang seorang penulis muda yang gila dan dilarang memiliki apa pun kecuali kertas-kertas kosong. Si pemuda gila akhirnya menulis di kertas kosong dan setiap ibunya berkunjung meminta sang ibu membaca cerita yang ditulisnya. Si ibu terpaksa ngarang-ngarang karena kertas itu kosong, tapi si anak mendengarkan seolah yang diceritakan ibunya memang apa yang ditulisnya. Kisah itu berasal dari novel seorang penulis, yang di cerpen ini telah lumpuh dan bisu. Seperti kertas kosong di tangan ibu si penulis gila, apakah kebisuan juga pada dasarnya memiliki suara? Dan bagaimana dengan kematian? Di dua cerpen lainnya kita bertemu kembali dengan daun telinga, dan bagi yang pernah membaca cerpen “The Izu Dancer”, barangkali akan terkenang cerpen tersebut ketika membaca cerpen terakhir “Yumiura”, tentang kunjungan seorang perempuan umur lima puluhan tahun ke kediaman seorang penulis terkenal dan tanpa tedeng aling-aling berkata, “Kuharap kau tidak lupa.” Tidak lupa bahwa mereka pernah bertemu, bahwa sang pengarang ketika muda pernah datang ke kamar si perempuan dan tentu saja tidur dengannya, bahwa si pemuda bahkan melamarnya, tapi ditolak karena si perempuan muda sudah tunangan. Kini si perempuan datang kembali, penuh penderitaan. Menderita karena pernah menolak lamaran si penulis. Cerpen itu, saya rasa merupakan sisi kocak dari Kawabata. Humor kecil yang entah kenapa, terasa pedih.

Standard
Journal

Tiga Novel Herta Müller

The Land of Green Plums. Kadang-kadang saya berpikir bahwa detail merupakan sesuatu yang menyiksa. Ada untuk menyiksa. Bahwa benda-benda, kejadian-kejadian, gerakan dan bahkan kesan-kesan yang kecil, renik, yang nyaris luput, ada dan hidup. Dan kehidupan mereka demikian menyiksa karena mereka bisa mengawasimu, menjadi saksi untuk rahasia-rahasia kecilmu, juga kehidupan pribadimu. Dengan cara seperti itulah novel ini membagi teror kepada pembacanya. Herta Müller menuliskan fragmen-fragmen, hari ke hari, kadang melompat dalam ruang dan waktu, dan terutama melalui benda-benda kecil yang secara ajaib menjadi penanda berbagai ketakutan, kecemasan, keputusasaan, hingga kecurigaan. Dalam satu fragmen perjalanan mempergunakan bus, diceritakan bahwa semua penumpang selalu menunduk. Siapa pun yang naik bus itu akan selalu menunduk. “Lantainya hilang. Kau bisa melihat jalan melalui lubang-lubang.” Saya membayangkan sesuatu yang tersirat: kau melihat jalanan yang bisa menggerusmu mampus. Melalui empat sahabat (seorang perempuan yang juga narator, dan tiga lelaki), sejak masa mereka sekolah dan tinggal di asrama, kemudian bekerja di tempat-tempat berbeda, hingga sebagian besar dipecat dan memutuskan untuk bermigrasi, mencari secercah harapan. Hidup mereka bagaikan kartu pos yang memotret setiap masa dalam hidup mereka, berisi gambar teman sekamar yang gantung diri, orang gila di alun-alun, penjahit, keluarga di kampung, daftar orang-orang yang mati karena mencoba melarikan diri, pekerja penjagalan yang diam-diam meminum darah hewan. Semua potret itu diceritakan saling-bergantian, sebab, “Jika kita tak bicara, [hidup] jadi tak tertanggungkan.” Pada saat yang sama, itu juga potret-potret yang dicatat oleh Kapten Pjele, yang terus memata-matai mereka, menginterogasi, dan mengirim ancaman. Bahkan ketika mereka berhasil keluar dari negerti itu, bayang-bayang ketakutan tak juga pudar. Mereka bisa menemukan diri melayang dari jendela tinggi dan terempas di tanah. Baca novel ini secara perlahan, sebab hal-hal terbaik, kristal-kristalnya, terdapat pada detail-detail yang menyentak, juga meneror. Teror yang akan memaksamu untuk bertahan hidup, atau seperti dalam beberapa kasus, untuk menyerah kalah.

The Appointment. Membaca Herta Müller, kau harus mencoba mengikuti iramanya, sebelum hanyut dalam aliran kisah yang seringkali mengalir sesuka hati. Saya menyadari ini dalam pembacaan novelnya yang ini, yang ketiga (sebelum memutuskan untuk maraton membaca tiga novelnya, saya pernah membaca novelnya yang lain, The Passport). Novel ini secara sederhana mengisahkan perjalanan si narator pergi naik trem untuk diinterogasi, untuk kesekian kalinya. Interogasi yang berawal dari keisengan mengirim pesan di dalam pakaian yang akan dijual ke luar negeri (ia bekerja di pabrik pakaian). Isi pesan itu merupakan sejenis lelucon bahwa ia berharap menemukan jodoh orang Italia. Ia dianggap mempermalukan negara, dan sejak itu dikenai sejenis wajib kunjungan. Tapi sepanjang jalan, di antara percakapan dengan sesama penumpang, lalat yang berdengung dan mengganggu si sopir, ingatannya maju-mundur ke banyak kejadian dan sosok. Tidak, ia tak mengatakannya dalam sejenis soliluqui, tapi seperti pembicaraan akrab dengan seseorang. Seperti umumnya pembicaraan yang ngalor-ngidul, ia bisa melipir ke sana-kemari. Ia berkisah tentang teman baiknya, yang tidur dengan ayah tirinya sendiri sebelum mengencani pejabat yang membawanya ke kematian, lalu tiba-tiba ia ingin kisah dirinya sendiri, suami pertamanya, suami keduanya. Dari sana ia berkisah tentang ayahnya, yang dipergokinya tidur dengan seorang perempuan di pangkalan bus, dan sempat membuatnya berhasrat menggantikan si perempuan dengan dirinya sendiri. Ya, kita dihadapkan kepada kehidupan yang amburadul, nyaris tanpa harapan. Jika di novel sebelumnya narator harus menghadapi keangkuhan kekuasaan, di novel ini, yang dihadapi adalah kehidupan sehari-hari yang tak karuan. Sesuatu yang dengan tepat bisa digambarkan oleh kutipan di toilet umum di pasar loak: “Hidup benar-benar penuh dengan tai. Tak ada pilihan kecuali kencing di atasnya.”

The Hunger Angel. Membaca beberapa novel sekaligus dari seorang penulis yang sama memberimu kesempatan tak hanya cerita dan karakter, tapi juga gaya dan irama sang penulis. Seperti seorang pendengar dongeng yang tak hanya terpukau oleh kisah, tapi oleh suara dan nada sang pendongeng. Pada saat yang sama, di waktu tertentu, mungkin memberi sejenis kekagokan. Di novel ini, beberapa kali saya merasa agak kagok, membalik beberapa halaman untuk meyakinkan saya bahwa naratornya memang seorang lelaki, bukan seorang perempuan seperti di dua novel sebelumnya. Novel ini memang agak berbeda dengan dua novel lain di atas. Di dua novel lain, selain narator perempuan, novel terjadi di Rumania dalam kungkungan kediktatoran dengan mata-mata dan interogasinya; di novel ini, kita di ajak ke camp kerja paksa di Rusia. Menurut catatan si penulis, kisahnya berdasarkan apa yang dituturkan seorang kawannya yang memang pernah ditahan di camp tersebut. Tapi kekagokan itu memberi saya semacam pertanyaan yang menantang: apakah benar-benar ada yang namanya suara perempuan dan suara lelaki? Suara feminin dan suara maskulin? Apakah pilihan kata, frasa, dan cara pandang terhadap dunia memberi kita (pembaca) perasaan seperti itu? Ataukah hal itu tak lebih dari stereotif tertentu, bahwa baik lelaki maupun perempuan, pada dasarnya bisa mengekspresikan sesuatu dengan cara yang sama? Bukankah kata-kata (atau frasa, atau susunan tatabahasa) tertentu bersifat feminin atau maskulin tak lebih dari konstruksi saja? Terlepas dari pertanyaan-pertanyaan yang menggelitik tersebut, kualitas-kualitas yang bisa kita dapatkan dari novel-novel sebelumnya, tetap bisa ditemukan di sini. Benda-benda kecil (uang 10 rubel, selendang, koper dari kotak gramofon, kentang, kutu), di tangan Herta Müller bisa menjadi banyak hal. Demikian juga si malaikat lapar, yang seringkali lebih kejam, lebih sinis, tapi sekaligus bisa menjadi teman yang intim, yang memberimu jalan untuk tetap bertahan hidup.

Standard
Journal

Walter Benjamin

The Origin of German Tragic Drama. Ia pernah berkata (di esai “One-Way Street”), “Karya akademik modern umumnya dimaksudkan dibaca seperti sebuah katalog.” Ia mungkin bercanda, atau meledek. Atau mungkin ia menganggap serius segenap katalog, dari daftar produk IKEA hingga daftar diskon dari minimarket depan rumah; dari katalog pameran seni rupa hingga katalog berisi daftar menu. Tentu saja ketika ia menulis buku ini, yang dimaksudkannya sebagai “karya akademik” (agar bisa menjadi dosen, meskipun akhirnya tak jadi), ia mungkin berpikir tentang katalog, meskipun saya tak merasa begitu ketika membacanya. Tapi mari berpikir secara begitu. Jika ini sebuah katalog, ia sedang menjajakan sederet gagasan mengenai drama tragedi, simbolisme, satir, dan tentu saja sosok tragis. Sosok tragis tak hanya muncul di dalam fiksi, tapi juga di kehidupan nyata. Saya sudah lama bertanya-tanya, dari mana ini berasal? Meskipun buku ini tak secara khusus untuk menjawab pertanyaan tersebut, tapi sedikit banyak memberi lanskap kilasan sejarah tragedi dan sosok-sosok tragis. Dengan kematiannya setelah minum racun demi mempertahankan apa yang dianggapnya sebagai kebenaran, Plato mengekalkan sosok tragis yang adalah gurunya: Socrates. Dan jangan dilupakan, Jesus berkorban untuk keselamatan manusia, untuk dosa-dosa mereka. Ia sosok tragis. Kedua sosok tragis ini, di kehidupan nan sekuler maupun nan religius, banyak memengaruhi sosok-sosok tragis lainnya. Fiktif maupun nyata, saya kira. Sejarahnya panjang, dan yakin akan tetap panjang ke masa depan. Sebagai orang yang lama hanya mengenal Walter Benjamin karena disebut orang di sana-sini (kelihatannya memang keren menyebut namanya dan mengutip satu-dua penggal kalimatnya), dan kemudian hanya sempat membaca satu-dua esainya (mungkin dianggap paling penting: “The Storyteller” dan “The Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction”), membaca karyanya yang ini jelas merupakan tantangan yang mengasyikan, dan saya kira merupakan jendela pembuka yang sangat perlu. Terutama jika dibandingkan dengan tulisan-tulisan lainnya, yang seringkali berupa esai refleksi ringkas (meskipun tidaklah ringkas benar), dan terutama jika terbiasa hanya membaca penggalan-penggalan kalimatnya yang dikutip orang.

Reflections. Ketika di akhir 1940 di perbatasan Spanyol dalam “pelarian menuju kebebasan” (sebagaimana disebut oleh sahabatnya, Gershom Scholem), ia tertangkap dan memutuskan mengakhiri hidupnya, dunia kehilangan salah satu pemikirnya yang cemerlang. Tapi sekaligus, barangkali, memberi gairah baru untuk filsafat ketika esai-esai pendeknya, alih-laih traktat filsafat tebal (meskipun ia juga meninggalkan naskah lebih dari seribu halaman tentang arkade atau deretan toko-toko yang menjamur di Paris di akhir abad 19, yang sayangnya tak terselesaikan), dikumpulkan dan diterbitkan. Para filsuf mungkin tak lagi terobsesi untuk menciptakan atau menemukan sistem besar dan kompleks, dan yang datang kemudian hanyalah menjadi catatan kaki bagi para pendahulunya: bagi Marx, Hegel, Kant (misalnya). Setidaknya saya bisa melihat itu dari tulisan-tulisan Walter Benjamin ini. Ia tak sungkan menjadi “catatan kaki” ini, terutama untuk Marx, dan justru dari sini kita bisa melihat mata tajamnya terhadap hal-hal sederhana, keseharian yang banal, dan menembus untuk melihat dasar material dari berbagai fenomena tersebut, menjadikannya salah satu penafsir marxisme yang segar. Ketika pemikiran Marx menjadi monumen yang angker dan mengintimidasi (bahkan jika mengikuti anjuran-anjuran Slavoj Žižek, untuk memahami Marx kamu harus juga memahami Hegel yang tak kalah mengintimidasi), para penafsir seperti Georg Lukács, Antonio Gramsci atau Ernst Bloch membuat gagasan-gagasan besar ini menjadi lebih tertanggungkan untuk dipahami. Walter Benjamin membuatnya lebih terjangkau lagi, melalui fragmen-fragmen pemikirannya yang memang tak sistematis, acak, dan yang tak kalah penting: membicarakan fenomena-fenomena di depan mata. Hal ini saya kira juga dipengaruhi (atau mempengaruhi) pilihan gayanya: esai-esainya ditulis dengan berbagai pendekatan, mulai dari semi-memoar, catatan perjalanan, sketsa, percakapan (dengan Brecht), meskipun ia juga tak anti melakukan ulasan dengan gaya tradisional mengenai satu tema spesifik (seperti dilakukannya di “On Language as Such and on the Language of Man”). Lebih dari seorang pemikir maupun pengamat kebudayaan, Walter Benjamin memang seorang prosais yang mengasyikkan, bisa melihat detail-detail peristiwa dan menuangkannya dalam baris-baris yang jernih. Dalam catatannya mengenai Moskow, misalnya, ia menulis bagaikan seorang novelis: “Mereka telah mengembangkan tindakan mengemis sebagai satu seni tinggi dengan seratus cara dan variasi. Mereka mengamati para pelanggan di satu kedai roti di satu jalan yang sibuk, mendekati satu di antaranya, dan menemaninya, mengeluh dan memohon, hingga si pelanggan merelakan sepotong pie panasnya.” Sekali lagi, membaca potongan semacam itu, kita serasa berhadapan dengan seorang pencerita, melebihi seorang pemikir yang tengah mencacah dan membedah sebuah peristiwa. Tentu saja gaya yang relatif ringan dan bersifat fragmen ini sudah pernah dilakukan oleh para pemikir sebelumnya. Satu yang menonjol, misalnya Nietzsche, melalui fragmen-fragmen dan aporisma-aporismanya. Hal ini, pada akhirnya, akan menjadi tantangan berat bagi pembaca yang mencoba untuk menemukan “sistem”, pola, dari semua tulisan dan pemikiran yang tercerai-berai ini, terlepas apakah sang pemikir mencoba membangunnya atau tidak. Bagi saya sendiri, Walter Benjamin tampaknya tak mencoba ke arah sana. Meskipun begitu, kita dengan mudah melihat tegangan dari pemikirannya: antara sistem besar marxisme dan kecenderungannya yang tak kalah kuat dan tak terelakkan kepada anarkisme. Seperti kebanyakan intelektual sezamannya, ia mengklaim dirinya sebagai pemikir kiri, simpati dan pembelaannya terhadap marxisme harus dihadapkan kepada kenyataan Rusia di hari-hari tersebut. Ia tak menyembunyikan dukungannya, tapi juga tak sungkan memperlihatkan kegalauannya terhadap perkembangan kediktatoran proletar di bawah Stalin. “Rusia kini bukan saja sebuah kelas, tapi juga sebuah negara kasta,” katanya. Mungkin hal ini yang membuatnya terus-menerus melirik anarkisme? Lihat saja, kadang ia menukil Epicurus yang terdengar anarkis, ketika bicara tentang citra (atau saya kira tentang apa pun) yang “terus-menerus membebaskan dirinya dari benda-benda dan menentukan persepsi kita tentangnya.” Dengan kata lain, tak ada citra yang absolut atas apa pun. Tapi pada saat yang sama, persepsinya (dari telaah-telaahnya) terhadap banyak hal, memperlihatkan garis pemikiran marxisme yang juga kuat. Bicara tentang Pameran Dunia 1855 dalam esai lanskap tentang “Paris, Capital of the Nineteenth Century”, dengan jitu (sebagaimana hal ini masih tepat bahkan hingga saat ini), ia menunjukkan bahwa pameran tersebut “merupakan situs ziarah untuk pemujaan atas komoditas.” Ide pameran ini pada awalnya untuk “menghibur kelas pekerja dan menjadikan untuk mereka festival kesetaraan,” tapi dengan cepat Walter Benjamin menunjukkan bahwa yang terjadi justru “[kelas pekerja] menyerahkan dirinya untuk dimanipulasi sementara menikmati keterasingan dari dirinya sendiri dan dari orang lain.” Kemudian, ketika bicara tentang “Surrealism”, ia tak segan-segan menyatakan, “Sejak Bakunin, Eropa kekurangan satu konsep radikal mengenai kebebasan. Kaum surealis memilikinya.” Sikap anarkismenya, juga keberpihakannya kepada marxismenya, bagaimanapun telah membuatnya unik. Ia mungkin belum berhasil memadupadankannya (atau memang tak perlu), membiarkan esai-esainya bergoyang. Itu hanya memperlihatkan dirinya yang lebih dari sekadar pemikir: ia seorang pencari, penjelajah. Dalam satu foto yang pernah saya lihat, ketika ia duduk berdua bersama Bertolt Brecht saling menghadap ke papan catur, kita bisa melihat sosok manusia yang tak hanya tajam menatap bidak-bidak catur, tapi pada saat yang sama juga ada kesan menerawang. Ia tak hanya sering bermain catur atau bercakap-cakap dengan sang seniman, tapi sering datang kepadanya membawa esai yang baru ditulisnya. Meminta dibaca, menunggu komentar, lalu kembali mempertimbangkannya. Mungkin ia harus mempertimbangkan kedalaman pemikirannya, mungkin juga ia sedang mencoba memoles gaya prosanya. Ia pernah berkata bahwa menulis prosa yang baik memiliki tiga langkah: tahap musikal ketika itu disusun, tahap arsitektural ketika dibangun, dan tahap tekstil ketika ia dirajut. Esai-esainya, di luar tinjauan yang menyegarkan, tak terbantahkan juga merupakan musik, arsitektur sekaligus rajutan yang membuka ruang-ruang persepsi baru, sekaligus petualangan dan perjalanan.

Illuminations. Membaca esai macam “The Works of Art in the Age of Mechanical Reproduction” di zaman sekarang mungkin terasa menggelikan. Meskipun tentu saja masih mudah menemukan berbagai karya yang direproduksi secara mekanik (buku, foto konvensional, piringan hitam masih diproduksi), tapi serbuan reproduksi digital (buku elektronik, musik, film, foto digital) dengan segala kemudahan dan kecepatannya telah membuat reproduksi mekanik tampak tak hanya ketinggalan zaman, tapi terutama pemborosan waktu dan biaya. Walter Benjamin tak menikmati umur panjang, memilih mati daripada hidup di bawah fasisme Nazi, dan karenanya tak pernah melihat zaman digital ini. Tapi saya kira, apa yang dibicarakannya di esai tersebut tetap akan relevan, sebab yang diperbincangkannya bukan semata-mata alat, cara dan hasil reproduksi (yang merupakan salah satu fokus kritik Marx atas sistem produksi kapitalisme), tapi terutama apa pengaruhnya bagi pencipta, penikmat dan karya itu sendiri. Kegelisahannya berkelindan dimulai dari pertanyaan-pertanyaan tentang otentisitas atau keunikan. Tentu saja, seperti dikatakannya, semua karya seni pada dasarnya bisa direproduksi. Di zaman dulu, lukisan seorang master bisa dijiplak oleh murid-muridnya. Demikian pula pementasan teater, bisa diproduksi berkali-kali oleh kelompok yang sama atau kelompok yang berbeda. Dalam konteks seperti itu, reproduksi masih memiliki keunikan masing-masing. Goresan tangan si master berbeda dengan tangan si murid. Bahkan produksi teater dari kelompok yang sama di hari berbeda memiliki keunikannya masing-masing. Tapi bagaimana dengan karya yang diproduksi secara mekanik, seperti fotografi atau film? Semua hasil reproduksi bisa dikatakan sama. Apakah tetap ada otentisitas dan keunikan? Apakah mereka memiliki “aura”? Saya rasa pertanyaan-pertanyaan itu semakin tajam jika ditujukan kepada reproduksi digital. Dalam reproduksi mekanik, perbedaan antara satu kopi dengan kopi lain masih bisa dilacak (karena untuk ukuran zaman sekarang, penggandaan mekanik bisa dianggap tak persis), tapi dalam produksi digital, kesamaan itu nyaris bisa dikatakan persis. Dan bagi saya, kenapa esai ini tetap menarik di masa sekarang, karena reproduksi digital semakin menjauhkan kita (manusia, sebagai pencipta atau penikmat) dari cara produksi sebuah karya. Dunia digital memberi ilusi seolah semua orang bisa memproduksi banyak hal sendiri; sebetulnya kita semakin jauh, terpisahkan oleh mesin dan program, yang untuk sebagian besar orang semakin tak terakses. Baiklah, buku ini tak hanya berisi esai itu saja. Esainya yang saya anggap penting “The Stroyteller” juga ada di buku ini. Meskipun esai itu merupakan refleksi untuk cerita-cerita Nikolai Leskov, tapi pada dasarnya ia bicara hal yang jauh lebih luas dan barangkali masih ada hubungannya dengan apa yang dibicarakan di esai sebelumnya: reproduksi cerita dan bagaimana cerita disebar-luaskan. Ini semakin memperkuat kegandrungannya untuk melihat karya seni dan sastra (dan banyak hal fenomena kebudayaan secara umum) tak melulu dalam aspek-aspek estetiknya belaka, tapi juga bagaimana itu diproduksi dan direproduksi, dan bagaimana pengaruhnya terhadap penerimaan publik. Ia melacak bagaimana dunia berubah dari tradisi pendongeng ke tradisi “cerita” yang dibawa oleh surat kabar, membentuk apa-apa yang dianggap penting untuk disampaikan dan diterima. Hah, bukankah di masa sekarang hal itu semakin nyata? Cara “cerita” dibawakan melalui internet, sosial media, sedikit banyak memorakporandakan fondasi tradisi bagaimana cerita-cerita disampaikan dan diterima. Dalam hal ini, saya rasa esai-esai Walter Benjamin menjadi lebih penting lagi untuk ditengok dan dibaca, terutama bagaimana pengaruh alat dan cara reproduksi karya dan cerita (berita) memengaruhi struktur sosial, dan tentu pada akhirnya juga ekonomi.

Standard
Journal

The Sad Part Was, Prabda Yoon

Ini memang agak memalukan: saya nyaris tak tahu apa-apa tentang kesusastraan negeri-negeri tetangga. Hanya satu-dua novel dari Malaysia saya baca, sisanya nyaris tak ada yang saya tahu tentang kesusastraan Thailand, Filipina, Vietnam atau lainnya. Tentu saja ada sejenis rasa penasaran, rasa ingin tahu, sekaligus prasangka (buruk): kalaupun baca, paling tak jauh berbeda dengan kesusastraan negeri sendiri. Prasangka buruk mengenai kesusastraan (seperti kesusastraan) negeri sendiri itu kurang-lebih: (1) terlalu berat oleh beban lokalitas, penuh dengan uraian-uraian yang nyaris mendekati karya-karya etnografi ketimbang sebuah cerita fiksi; (2) terlalu berat oleh beban ornamen, yakni kata-kata indah bersayap yang seringkali hanya menghasilkan deskripsi ketimbang narasi; (3) terlalu berat oleh beban moral. Baiklah, siapa pun tak ada yang melarang membuat cerita macam begitu. Saya hanya cenderung menghindarinya. Tapi membaca The Sad Part Was (sialnya dalam bahasa Inggris, dan entah kapan akan tersedia dalam bahasa Indonesia, sebab entah kapan juga saya bisa membaca dalam bahasa Thai) karya Prabda Yoon cukup keras menghantam prasangka (buruk) itu. Sebagian besar kisahnya, ini memang kumpulan cerita pendek, terjadi di ruang urban, Bangkok, tanpa upaya berlebihan meromantisirnya (dengan segala stereotif tentang metropolitan di negara dunia ketiga, utamanya Asia Tenggara). Hal pertama yang tampak adalah cara berceritanya (saya makin penasaran seperti apa aslinya), yang ringan tanpa buih-buih: “Aku tak punya banyak hal yang bikin bangga, kecuali satu kenangan yang membuatku tersenyum sampai hari ini yakni Ei Ploang menyebutku orang baik.” Seperti itu cara ia menulis, seperti di pembukaan satu cerpennya. Irama dan gayanya segar, mengingatkan saya kepada beberapa penulis kontemporer (saya tak ingin menyebut nama-nama, berharap selama membaca catatan ini, cukup mengingat nama Prabda Yoon belaka). Bahkan untuk manusia seperti saya yang sialnya juga belum pernah mengunjungi Thailand (kecuali beberapa kali transit di bandara ibukotanya), tak ada yang asing dalam kisah-kisahnya, juga humor-humornya. Saya benar-benar tertawa lebar, harfiah, ketika membaca kisah mengenai sepasang muda-mudi yang harus nengok ke atap tempat tinggal mereka gara-gara dua huruf N dan O yang besar sekali (dari iklan produk) diterbangkan hujan badai dan jatuh di sana. Sialnya, huruf N dan O itu menimpa seseorang yang kemudian mati tertindih. Setelah melapor dan polisi datang memeriksa, dengan air muka yang kesal penyelidik menyuruh muda-mudi ini ikut ke kantor polisi. Ternyata di atap, polisi mencium bau percintaan dan penyelidik menganggap mereka melakukan hal yang tak beradab dengan bercinta di depan mayat. “Tapi, kami melakukannya sebelun tahu ada mayat,” gumam si cowok, tapi tentu saja tak mampu mengatakannya terus-terang. Kisah yang lain sangat mengharukan, tentang seorang anak yang punya kelainan mental dan setiap hari memberi sejumput rumput kepada ibunya sambil berkata, “Ibu, ini salju untukmu.” Si ibu selalu berterima kasih, tapi dengan hati yang pedih juga. Ia berpikir, mungkin salju betulan bisa membuat si anak sembuh. Ia akhirnya berhasil menabung setelah bertahun-tahun (anaknya sudah tiga puluhan tahunan), dan membawanya ke Alaska. Apakah si anak sembuh? Itu tak penting. Yang terpenting si anak selalu memberi “Ini salju untukmu” dan si ibu selalu akan berterima kasih. Berharap akan humor agak-agak filosofis? Baca kisah tentang ruang kosong antar kalimat (saya harus membayangkan itu ditulis dalam aksara Thai; dalam huruf latin saya membayangkan spasi di antara kata). Tentang seorang lelaki yang mengintip seorang gadis menulis diary di bus, dan terkejut mengenai spasinya yang lebar sekali. Ia mencoba berspekulasi mengenai ruang kosong itu, spekulasi yang menarik, satir, sekaligus menggelikan. Spekulasi konyol yang kurang-lebih bisa ditemukan juga di cerpen lain tentang kancing piyama yang copot ketika pemiliknya tidur. Siapa atau bagaimana kancing itu bisa copot? Atau tentang akhir dunia di cerpen terakhir. Saya tak perlu menceritakan cerpen-cerpen lainnya, tapi saya bisa katakan, ini salah satu hal paling menyegarkan yang bisa kita temukan dari negeri tetangga, dan membuat saya makin yakin bahwa sudah saatnya ada upaya-upaya serius saling memperkenalkan kesusastraan di antara tradisi-tradisi yang berdekatan ini.

Standard
Journal

The Haunting of Hill House, Shirley Jackson

Membaca tiga buku dari penulis yang sama, saya tahu mulai keranjingan. Rasanya saya sanggup menghabiskan liburan hanya berteman buku-bukunya, bahkan meskipun yang dimaksud liburan adalah tak melakukan apa pun dari Januari hingga Desember kecuali membaca buku. Shirley Jackson mengambil elemen-elemen horor gothic: kastil tua, udara dingin yang merayap, makhluk-makhluk gentayangan yang tak tampak, dan tentu saja karakter-karakter yang tak berdaya, disertai kebrutalan yang kadang dibawakan dengan bahasa yang tanpa tedeng aling-aling. Itu semua sanggup membuat saya menahan napas berkali-kali, sambil mengantisipasi kejadian-kejadian yang akan datang, seolah saya ikut terjebak di dalam kastil tua yang remang tersebut. Pada saat yang sama, saya pikir ia berhasil melepaskan diri dari berbagai klise kisah-kisah horor gothic. Kita tak pernah benar-benar bertemu hantu, meskipun ia ada di sana. Setidaknya tidak di ketiga buku ini, termasuk yang terakhir saya baca, The Haunting of Hill House. Tapi bukan berarti tidak ada yang menakutkan. Kastil ini sendiri, Hill House, merupakan sosok angker dengan ruang-ruang, pintu-pintu, jendela-jendela, beranda, tangga, bahkan bukit dan halamannya, menyimpan kengerian. Dan ketika ia dengan sengaja mempergunakan beberapa adegan yang sangat akrab di berbagai literatur horor, ia tetap sanggup membuat bulu kuduk kita berdiri. Kita akan bertemu gedoran-gedoran pintu sementara si tokoh ketakutan di dalam kamar. Awalnya ketukan, kemudian gedoran, lama-kelamaan sesuatu itu tampak hendak mendobrak pintu, hingga pintu bergetar nyaris copot dari engsel-engselnya. Lain waktu si tokoh sedang berjalan di bukit diikuti dua temannya. Ia bicara dengan mereka, mendengar langkah kaki mereka. Tapi lama-kelamaan ia merasa bicara sendiri, meskipun kedua temannya terdengar terus mengikutinya. Ketika ia menoleh, kedua temannya tak ada di belakangnya, tapi ia masih mendengar langkah kaki di sekitarnya. Shirley Jackson, seperti para master kisah-kisah horor, tak pernah kesulitan untuk membuatmu ketakutan, sambil sesekali menutup buku untuk mengumpulkan sedikit nyali melanjutkannya lagi. Tapi pokok soalnya, di novel ini (sebagaimana di novel sebelumnya), ia tak melulu meramu kisah menakutkan. Dalam kisah-kisah horornya ini, hantu (meskipun ia ada di sana) bukanlah segalanya. Ia tak peduli apakah hantu ini ada di sana karena arwah yang gentayangan, karena kutukan masa lampau, atau apa pun. Yang terpenting adalah manusia-manusia yang harus berhadapan dengan hantu-hantu ini. Lebih dari mengenai Hill House dan sejarahnya yang mengerikan, novel ini berkisah tentang Eleanor, Theodora, si doktor yang melakukan penelitian tentang hal-hal supranatural, Luke, serta istri si dokter dan temannya, ditambah si juru masak. Permainan ketujuh karakter di novel ini merupakan anugerah tersendiri. Persilangan di antara mereka, seolah tanpa usaha yang berarti, menjadi sejenis humor yang menyenangkan dan melimpah, yang memberi sisi lain dari ruang-ruang menakutkan di rumah tempat mereka tinggal. Dan di antara mereka, Eleanor tentu saja memiliki tempat yang sangat khusus. Kecuali di bagian yang sangat awal, hampir keseluruhan novel ini mengikuti cara pandang dan pikirannya. Dan jika saya harus membandingkan dengan novelnya yang lain, We Have Always Lived in the Castle, saya bisa mengatakan bahwa, keterasingan, kesendirian, dan terutama keadaan dicampakkan oleh dunia seringkali merupakan horor yang lebih brutal daripada apa yang bisa dilakukan oleh hantu-hantu. Eleanor jelas tak hanya harus menghadapi hantu-hantu di Hill House, tapi juga dunia nyata di luar rumah itu. Terutama, ia tak hanya mendengar suara-suara aneh penghuni Hill House, ia juga harus mendengar suara-suara yang datang dari dalam kepalanya sendiri.

Standard
Journal

Lelaki Ini Melakukan Apa Pun untuk Orang yang Dicintainya, Membikin Repot Walikota dan Polisi

Saya selalu senang dengan orang-orang yang jatuh cinta. Mereka bisa melakukan nyaris apa saja, didorong oleh ketololan dan harapan. Setidaknya mereka mencoba melakukannya. Jika terpaksa, mereka akan coba memutar matahari agar terbit dari barat, atau menguras samudera Hindia dalam semalam. Bayangkan air yang mengalir perlahan dari puncah-puncak gunung dan bukit, merembes melalui celah-celah bebatuan, berbelok-belok mengikuti kontur tanah, mengarungi hamparan daratan beratus-ratus kilometer, demi cintanya kepada samudera. Hanya orang-orang yang bernyali, ditambah ketabahan tanpa ujung, serta kesembronoan dan kembali ketololan, layak untuk jatuh cinta. Tanpa itu, kau hanya akan berujung menjadi orang menyedihkan, penuh gerundelan, bukan ketololan yang kau pertunjukan tapi keonaran, dan hidupmu perlahan habis digerogoti waktu dan rasa sakitmu sendiri. Seperti genangan air yang tak bergerak, segera dipenuhi lumut, sampah, belatung, menjadi butek, bau dan terabaikan.

Bayangkan cinta seorang penulis kepada kesusastraan. Kebesaran cinta dan nyalinya hanya bisa dibedakan, apakah ia mengalir seperti arus sungai, kadang tenang kadang garang, kadang beriak, kadang menghajar bebatuan; atau ia hanya genangan suwung yang tak bakal ke mana-mana kecuali habis dimakan terik matahari, atau diisap perut bumi. Kadang-kadang ada penulis seperti genangan air macam begitu, tapi bersikap seolah ia sungai besar dengan riam dan jeram yang menghidupi banyak hidup, dengan kebijakan dan kemarahan. Atau ia berkata sebaliknya, “Aku tak perlu berkelana menghantam lereng-lereng bukit, aku tak perlu mengalir membelah persawahan dan ladang. Itu semua negeri asing, yang tak lebih indah dari apa-apa yang kulihat di sekelilingku. Kehidupan sejati adalah apa yang kulihat di sini, di sekitarku. Aku menggenang karena di tempat ini semuanya indah.” Tai. Ia tak punya nyali untuk menjelajah. Jika ia mencintai tempatnya menggenang, ia tak perlu mengatakan bahwa tempat lain tak lebih indah atau memberinya makna. Ia belum melihat apa-apa, tapi mulutnya berkoar seolah telah mengerti segala sesuatu.

Ada seorang penulis yang sekali waktu ditanya, “Apa yang Tuan lakukan jika sedang kehabisan gagasan?” Sang penulis menjawab, “Membaca buku.” Tentu saja sang penanya memburu, “Buku apa?” Dan yang terdengar merupakan jawaban paling mengibakan yang pernah keluar dari mulut seorang manusia, “Buku saya sendiri.” Ia tak lebih dari genangan air yang memuja-muji kebutekan dan belatung-belatung di dirinya. Dan penulis lain berkata, “Aku tak membaca Kafka atau Dostoyevsky. Buatku kesusastraan sejati ada di sekitarku, buku-buku dari penulis yang kukenali.” Kau hanya tak punya nyali menghadapi Kafka atau Dostoyevsky. Jika kau menyukai karya-karya kawanmu sendiri, cintai mereka tanpa harus membungkus diri dengan aksi hebat tak membaca Kafka atau Dostoyevsky. Kalau kau mencintai Si Eneng, dan menikahinya, katakan kepada dunia bahwa kau menikahi Si Eneng dan menikahinya tanpa harus menyebut-nyebut bahwa kau tak mencintai Si Nunung. Si Nunung mungkin tak peduli apa pun kepadamu. Menyebut bahwa kau tak mencintai Si Nunung hanya memperlihatkan betapa sial dan menyedihkan dirimu. Betapa kau merinding hingga tulang sumsum pada kenyataan bahwa di dunia ini ada perempuan bernama Si Nunung. Jika seseorang atau sesuatu tak memiliki arti penting untuk hidupmu, kau tahu apa yang harus kau lakukan untuk sesuatu yang tak penting? Tak mengatakan apa pun. Mereka tak ada di pikiranmu.

Jangan bungkus kekerdilanmu dengan kata-kata besar. Itu menyedihkan. Sungguh.

Cinta, sekali lagi, sangat mungkin membuat manusia atau apa pun menjadi begitu tolol. Tapi ketololan yang terakui. Kau harus mengakui bahwa dirimu tolol di hadapan cinta, dan itulah sumber energimu. Sesuatu yang akan membuatmu mengalir dan hidup. Seperti ketololan yang dilakukan Enric Rosquelles di novel The Skating Rink karya Roberto Bolaño. Apa yang dilakukan Enric demi cintanya kepada Nuria, seorang skater cantik yang menemukan dirinya dicampakkan dari tim Olimpiade nasional hanya karena ia seorang Catalan di tim yang dipenuhi para atlet dari Castilian? Ia tahu untuk mengembalikan Nuria ke tim nasional hanyalah dengan membuktikan kepada dunia bahwa mereka salah, bahwa Nuria sangat layak berada di sana. Untuk itu Nuria harus berlatih selama musim panas. Tapi di mana? Ia sudah dicampakkan dan tak memiliki akses atas arena skate, dan mereka tinggal di kota kecil yang juga tak memiliki fasilitas tersebut. Cinta dan ketololan, percayalah, kadang muncul dengan berbagai gagasan, membongkar segala jenis penghalang. Enric Rosquelles membangun rink skate untuk Nuria Martí, seperti Bandung Bondowoso menciptakan seribu candi untuk Roro Jongkrang, seperti Shah Jahan membangun Taj Mahal untuk mendiang isterinya, Mumtaz Mahal. Dan itu merupakan ketololan Enric. Ketololan yang membawanya ke penjara, membawa kejatuhan seorang walikota, dan bahkan membuat seorang penyanyi tua gelandangan terbunuh. Bahkan pada akhirnya, juga membuat Nuria Martí kehilangan karir untuk selama-lamanya.

Bagi saya, Roberto Bolaño merupakan penulis picaresque modern. Ia pengelana, dan seperti semua pengelana, selalu memiliki nyali untuk berkelana jauh. Kita bisa menemukan banyak aspek tradisi novel-novel picaresque di karyanya. Kita mungkin tak banyak bertemu dengan pencopet, gelandangan, bajingan, penipu, pelacur yang harus berhadapan dengan polisi korup, pastor, dan saudagar rakus. Yang akan kita temui, utamanya adalah para penulis, penyair, kritikus, seniman, yang kemudian berhadapan dengan monster-monster macam Pablo Neruda atau Octavio Paz. Tapi apa bedanya? Ia memperlakukan mereka tetap sebagai bajingan, penipu, saudagar rakus, dan gembel. Dan penipu maupun gembel, penyair maupun kritikus, di satu titik mereka akan jatuh cinta. Entah kepada siapa atau apa. Demikian pula di novel ini kita akan bertemu dengan dua penyair: Remo Morán dan Gaspar Heredia. Dua gembel dengan cara masing-masing, tapi seperti karakter dalam banyak novel Bolaño dan novel-novel picaresque, mereka adalah darah dan daging, harapan, nyali, dan satu aksi dungu ke aksi dungu lainnya. Didorong cinta kepada hidup, kepada dunia yang jembar dan pikiran yang luas. Dan mungkin rasa sedih akan hidup yang demikian fana dan singkat.

Darah dan daging yang akan melakukan sesuatu untuk yang dicintainya, seperti Enric Rosquelles dengan rink skatenya, meskipun untuk itu ia harus menghancurkan karir seorang walikota, membuat repot polisi dan dinas sosial, dan bahkan kehilangan cinta itu sendiri. Seperti air, hidup hanyalah tentang mengalir dan menggenang. Karakter-karakter di novel Bolaño adalah manusia-manusia yang bergerak, mengalir. Kadang menciptakan riam dan jeram.

Standard
Journal

How Fiction Works, James Wood

Realisme hanyalah salah satu genre dalam fiksi, tak bisa dianggap lebih dekat dengan kenyataan dibandingkan genre lain. James Wood menyodorkan satu (sub?) genre lain: realisme komersil, sebagai salah satu brand paling kuat saat ini dalam fiksi. “… brand ini secara ekonomi akan direproduksi, terus dan terus.” Realisme (seperti genre lain) tak lebih dari satu tata bahasa dan seperangkat aturan. Karena direproduksi terus-menerus, ia menjadi konvensi, lalu menjadi kebiasaan. Memberontak atas konvensi ini? Ia akan menciptakan konvensi baru, tentu saja. “Konvensi ini, seperti metafor, tidak mati tapi selalu sekarat. Seniman senantiasa mencoba mengakalinya.”

*

Kenapa Don Quixote butuh Sancho Panza? Menurut James Wood, salah satunya adalah agar ada teman ngobrol. Bagaimana jika tak ada teman ngobrol? Si tokoh akan bicara dengan Tuhan (berdoa), sebagaimana terjadi di teks-teks keagamaan. Dalam naskah untuk pertunjukan, si tokoh akan bicara dengan penonton. Bicara kepada Tuhan kemudian kepada penonton merupakan perkembangan yang signifikan dalam teknik monolog, hingga lahirlah novel yang memberi ruang sempurna untuk apa yang disebut: ngomong (kepada diri) sendiri. Demikianlah evolusi monolog dan lahirnya arus-kesadaran.

*

Di tahun 2006, para polisi di wilayah paling garang di Mexico City diminta untuk membaca sastra. Tak tanggung-tanggung daftar bacaan mereka: Don Quixote, Pedro Paramo, The Labyrinth of Solitude, One Hundred Years of Solitude, hingga karya-karya Agatha Christie dan Edgar Allan Poe. Tujuannya, seperti diutarakan kepala polisinya, “Satu, agar polisi memiliki kosa kata yang lebih luas; dua, memiliki pengalaman tak langsung banyak aspek keduniawian (ya, seperti kata banyak orang, buku adalah jendela dunia); dan ketiga, mempertaruhkan hidupmu demi hidup dan harta orang lain membutuhkan keyakinan yang dalam … kontak dengan sastra diharapkan membuat petugas polisi lebih berkomitmen atas nilai-nilai yang harus mereka pertahankan.”

Terlepas dari perdebatan apakah tujuan sastra memang sepraktis itu atau tidak, menurut saya sih menarik, ya. Meskipun benar, menyibukkan diri baca buku untuk “mengenal dunia” terdengar seperti satu paradoks.

*

Wittgenstein pernah mengeluh bahwa kiasan-kiasan Shakespeare “dalam arti umum, buruk”. Mungkin yang dimaksud adalah metafora Shakespeare: coba tengok “the moody frontier of a servant brow”, dari Henry IV. Kata James Wood, ada pembaca yang akan keberatan bahwa “brow cannot be a frontier, and that frontier cannot be moody.” Tapi, ia melanjutkan, perumpamaan Shakespeare lebih sering merupakan dunia spekulatif daripada mekanikal, di mana pembaca (penonton) diminta untuk mencampakkan perbandingan-perbandingan yang akrab/biasa.

Sekarang mari tengok metafora Thomas Hardy dalam Far From Madding Crowd: “a scarlet handful of fire”. Segenggang pasir sih, baiklah. Tapi segenggam api? Lagipula siapa mau menggenggam api? Kembali menurut James Wood: Inilah justru kekuatan metafora, membuat yang akrab menjadi asing. Atau sebaliknya, membuat yang asing menjadi akrab?

*

Saya rasa memang tak perlu memberi komentar banyak tentang buku ini, yang pada dasarnya juga merupakan komentar atas pembacaan panjang James Wood atas novel-novel sejak Don Quixote (yang paling tua) hingga Terrorist John Updike, kecuali mengutip beberapa bagiannya yang menarik (dan ini sulit, sebab rasanya ingin mengutip seluruhnya). Ia bicara tentang strategi-strategi naratif yang berkembang bersama evolusi novel (termasuk bagian paling menarik tentang narasi-tak-langsung). Seperti telah dikatakan banyak orang, ini buku pendamping untuk para pencinta novel (fiksi secara umum), sebab ia menantang kita untuk membaca dengan cara yang segar dan berbeda.

Standard