Unbreakable, Split, Glass

Beragam pertanyaan muncul setelah menonton tiga film M. Night Shyamalan. Elijah Price di film Unbreakable yakin bahwa komik, terutama komik superhero, juga merupakan “catatan” penting mengenai sejarah manusia dan apa yang bisa mereka lakukan. Dengan kata lain, kisah tentang manusia bisa terbang, manusia yang bisa menghilang, dan dalam kasus film ini, manusia yang tak bisa dihancurkan, bukanlah dongeng omong-kosong. Jika cerita-cerita rakyat dipenuhi dengan manusia-manusia berkekuatan dewa, demikian pula karya-karya klasik penuh dengan pahlawan-pahlawan berkekuatan luar biasa, dan mereka memberi banyak pengaruh kepada peradaban manusia, kenapa buku komik tidak? Buku komik jelas merupakan lanjutan tak terputus dari “catatan” tersebut. Bahkan meskipun kita bisa yakin bahwa apa yang dikisahkan hanya fantasi, hanya dunia spekulasi manusia, setidaknya fantasi dan spekulasi ini berkesinambungan. Jika dari zaman lampau hingga industri komik ala Marvel dan DC mereka terus dilahirkan, tentu mestinya ia menjadi bagian dari kesadaran manusia, di luar konteks industrinya sekalipun. Film ini jelas bukan sekadar film tentang superhero, lebih penting dari itu, ini film tentang hubungan manusia dengan kisah superhero, dan juga tentang di mana letak buku komik dalam peradaban manusia. Di film berikutnya, yang dirilis tujuh belas tahun kemudian, Split (2017), mencoba membacanya seperti saya membaca film sebelumnya, saya membayangkan film ini sebagai penjelajahan manusia dengan fiksi sains. Memang film ini tidak bicara tentang fiksi sains (berbeda dengan film sebelumnya yang jelas memperkenalkan kita kepada pemujaan industri buku komik), tapi cerita dan pendekatan film ini mengingatkan saya kepada fiksi sains. Terutama tentang bagaimana kejahatan tercipta dan sains seringkali tak sanggup mengatasinya, setidaknya orang yang berada di belakang sains malah jadi korban. Salah satu yang sering menjadi kritik dan perbincangan mengenai fiksi sains, di luar keakuratan, adalah representasi, terutama jika yang dimunculkan adalah sosok jahat seperti berbagai kepribadian yang dimiliki Kevin Wendell Crumb. Banyak yang keberatan bahwa penganut DID akan cenderung melakukan kekerasan dan berubah menjadi monster, dan film macam begini hanya memperburuk stigma terhadap penderita mental disorder. Masalahnya, sains fiksi seringkali menjadi sains fiksi justru ketika ia melebih-lebihkan apa yang kita ketahui mengenai obyek sainsnya. Bahkan film tentang dinosaurus, tentang hiu pemangsa manusia, juga banyak dikritik para ilmuwan karena menciptakan imaji buruk tentang binatang-binatang tersebut. Pertanyaannya, mengapa kita selalu kembali ke sana? Selalu kembali kepada dunia spekulatif bahwa sesuatu (ia bisa manusia penderita DID, bisa ikan hiu ganas, bisa pula ular raksasa di hutan Amazon) bisa menjadi monster jahat? Apakah sosok jahat, sebagaimana manusia super, merupakan obsesi manusia yang terus dilahirkan sejak dari tradisi dongeng rakyat (atau bahkan lukisan gua) hingga industri film Hollywood? Di luar pertanyaan itu, film ini merupakan suguhan beragam ketegangan yang mencengkeram. Jika kamu terseret oleh pertanyaan-pertanyaan tersebut ketika menonton kedua film, mungkin kamu tak akan memperolehnya ketika melihat film ketiga, Glass (2019). Setidaknya tidak terjadi pada saya. Ia kehilangan misteri dan spekulasinya, dan meninggalkannya sebagai film superhero ditambah thriller psikologi yang sudah dijelajah sangat dalam di dua film sebelumnya. Kita hanya bertemu penjahat super, yang bukan hal baru dalam film-film sejenis, di mana sejenis pepatah seolah berkata, di atas langit kejahatan masih ada langit kejahatan lainnya.

Membaca Cerita-cerita Isaac Babel

Isaac Babel merupakan salah satu yang tersisa dari era Sovyet. “Ditemukan” oleh Maxim Gorky, dan konon terus dimentori olehnya sampai Gorky sendiri mati. Salah satu penulis cemerlang berbahasa Rusia (awalnya ia menulis dalam bahasa Prancis), seorang revolusioner, yang harus berkahir tragis ditembak mati polisi rahasia Stalin. Permohonan terakhirnya sebelum dieksekusi hanya, “Izinkan aku menyelesaikan tulisanku.” Meskipun banyak karyanya dihancurkan, dan namanya sempat dilupakan (sebelum direhabilisasi oleh rezim Sovyet kemudian), beruntunglah kita masih bisa bersua cerita-ceritanya. “Old Shloyme”. Cerpen pendek (konon karya pertamanya) tentang bangsatnya menjadi tua dan harus berubah. Ngilu. Bisa juga dibaca sebagai satir, tentang enaknya duduk di pojok hangat dan tak mau hengkang. “At Grandmother’s”. Kali ini seorang perempuan tua, dihajar rasa nyeri pada dunia yang tak adil. Di mana kebaikan dan rasa belas-kasih hanya menjadi santapan kerakusan. Ia marah dan berharap cucunya bisa berdiri merampas dunia. “Belajarlah, dan kau akan memperoleh segalanya. Kekayaan dan kejayaan!” Dan jangan percaya pada orang, pada teman. Jangan berikan uangmu, jangan berikan hatimu. Cerita yang penuh kemarahan. Tapi semarah apa pun, rumah seorang nenek tetaplah tempat tidur terbaik untuk seorang cucu. “Elya Isaakovic and Margarita Prokofievna”. Bisa jadi ini kisah seorang pelacur (dan pelanggannya) termanis yang pernah saya baca. Mereka dipertemukan oleh dua kebutuhan. Si pelacur tentu saja butuh uang untuk hidup dan sewa kamar. Si pelanggan butuh tempat berbaring, tubuh untuk dipeluk, teman untuk berbincang di kala sarapan. Mereka sadar hubungan itu hanya transaksional saja, tapi mereka tahu bagaimana mengakhiri dua malam itu dengan cara yang manis. “Mama, Rimma, and Alla”. Tentang seorang ibu dengan dua gadisnya, sementara di rumah juga ada para perjaka, mahasiswa yang menyewa kamar. Si gadis sulung ingin pergi dari rumah, bebas merdeka. Si gadis bungsu tak berkata apa-apa, sampai ketahuan bunting. Seperti mentornya, Gorky, cerita-cerita Babel penuh dengan problem-problem masyarakat jelata dengan keseharian mereka, dan selalu memiliki cara tersendiri bagaimana menyelesaikan persoalan tersebut. “The Public Library”. Sebuah sketsa tentang perpustakaan. Sedikit meromantisir kehidupan perpustakaan, meskipun kemudian disikat dengan pernyataan, di luar jendela … kehidupan tengah bermekaran. “Nine”. Ini semacam studi tentang karakter, tentang sembilan orang tamu yang berkunjung menemui seorang editor majalah. Entahlah, tiba-tiba saya membayangkan tujuh orang samurai dalam film Kurosawa. “Odessa”. Sebuah sketsa tentang kota dan para penghuninya, di satu sisi, dan studi tentang bagaimana para penulis lain (Turgenev, Dostoyevsky, Gogol, Gorky) menggambarkan kota mereka. Kenapa Gorky begitu mencintai matahari? “The Aroma of Odessa”. Masih sebuah sketsa tentang Odessa, kali ini dilihat melalui apa yang ditulis di halaman majalah, dan bagaimana ia dibentuk oleh kaum pendatangnya. Sangat jarang menemukan sketsa-sketsa semacam ini di tangan penulis-penulis kontemporer. Setidaknya mereka jarang menerbitkannya, barangkali kita terlalu terobsesi kepada sesuatu yang dramatik. “Inspiration”. Baiklah, ini lelucon kuno tentang inspirasi, tentang penulis pemula yang meledak-ledak dan merasa memiliki gagasan hebat, tapi kau tahu, yang bicara terlalu bawel dan keras biasanya tak ada isinya. Ada peribahasa soal itu, kita semua tahu. “Doudou”. Perasaan saya agak campur-aduk. Cerpen ini barangkali bisa diringkas dengan satu perkataan Doudou, si gadis yang dijadikan judul setelah ia memberikan tubuhnya kepada prajurit yang sekarat: “Ia kedinginan, ia sekarat, ia sendirian, ia memintaku, akankah kukatakan tidak?” Cerpen berikut, “Shabos-Nakhamu”, merupakan kisah komedi tentang Yahudi yang menipu sesamanya, menipu seolah ia merupakan utusan Tuhan dari dunia lain untuk memberi kabar kepada manusia. Seperti membaca sejenis kisah dari Seribu Satu Malam yang konyol. “On The Field of Honor”. Merupakan tiga kisah horor dari medan perang, tentang tiga kematian. Percayalah, tak ada yang lebih horor kecuali mati di medan perang bukan oleh musuh, tapi oleh tangan-tangan kawan sendiri, langsung tidak langsung. Terutama oleh kelemahan diri sendiri. “The Sin of Jesus”. Seorang perempuan berlumur dosa, menemui Jesus memecahkan masalah hidupnya. Jesus bertanya, bagaimana jika kau menempuh jalan yang suci saja? Jawab si perempuan: Kau pikir setiap orang harus berhenti hidup? Kau masih saja menyanyikan lagu usang! “An Evening with The Empress”. Bukan dengan ratu sebenarnya, tentu. Ini sketsa tentang sebuah perpustakaan, yang kebetulan memperoleh nama dari sang ratu. Dikisahkan oleh seorang gembel kelaparan yang mencari tempat bernaung dan tidur. “Chink”. Tentang seorang Cina, pelacur dan lelaki tua. Si Cina menawar si pelacur. Si pelacur mau, asal mereka boleh menampung lelaki tua gembel. Apa yang akan terjadi ketika ketiga orang itu ada di kamar? Saya rasa ini cerpen paling brutal dari Babel, sejauh ini. “A Tale About A Woman”. Seorang perempuan yang ditinggal mati suaminya di medan perang, dan kemudian disia-siakan orang-orang di sekelilingnya. Dalam kisah-kisah Babel, kemudian saya sadar, saya sering menemukan nasib-nasib malang manusia, kontras dengan alam yang cemerlang dan indah. Terasa nyeri jadinya. “The Bathroom Window”. Seorang bocah yang membayar demi bisa menaiki tangga dan mengintip pelacur lewat jendela. Lucu, tentu saja. “Bagrat-Ogly and The Eyes of His Bull”. Tentang seorang anak yang kehilangan sapinya, dibunuh oleh tetangganya karena cemburu. Si narator mencoba melihat rasa marah ini, yang terpantul lewat mata si sapi, untuk melihat kemarahan sosial yang lebih luas. “Line and Color”. Dalam sebuah tradisi parabel, tentang kisah kebijaksanaan. Mana yang lebih berharga, dunia imajinasi yang lebih kaya atau kenyataan yang mungkin menyakitkan? “You Missed The Boat, Captain!” Dalam cerpen-cerpen Babel yang sebagian besar sangat ringkas, saya sering membayangkan bahwa kisah-kisah ini adalah penggalan dari sebuah epik yang jauh lebih luas. Katakanlah cerpen ini, kita bisa memulai sebuah novel tentang para pelaut. Babel menulis dengan begitu detail, telaten, seolah ia hendak menulis ratusan halaman, meskipun apa yang tertulis hanya dua atau tiga halaman. “The End of St. Hypatius”. Sebuah biara yang berakhir menjadi apartemen kaum buruh, tentu selepas revolusi yang berhasil. “A Story”. Ini merupakan versi yang lebih awal dari cerpen “The Bathroom Window”. Mungkin menarik untuk membandingkannya, sekaligus menelaah semua cerpen-cerpen ini sebagai titik berangkat Babel, sebab cerpen-cerpen di atas merupakan karya-karya awal dari sang penulis.

The Collected Stories of Isaac Babel terbitan W.W. Norton disebut-sebut yang paling komplet menghimpun cerita-cerita Babel dalam bahasa Inggris. Sejauh ini, saya melihat kisah-kisah ini dipenuhi gembel dan bajingan, diselingi sketsa-sketsa kasar tentang beberapa hal. Ia memiliki empati pada tokoh-tokohnya, juga lanskapnya, meskipun kadang dengan kejam juga menertawakan nasib mereka. Cerpen-cerpen berikutnya, diambil dari masa-masa Odessa. Cerpen-cerpen tentang kehidupan di kota tersebut, terutama para bajingannya. Saya merasa cerpen-cerpen ini mulai memperlihatkan darah dan daging yang lebih nyata dibandingkan kisah-kisah di awal karirnya. “The King”. Bayangkan sebuah fragmen dari sebuah film mafia. Dibuka dengan lanskap pesta pernikahan. Yang menjadi pengantin adalah adik perempuan si mafia, yang dipanggil Raja, dan sang Raja sendiri ada di sana. Pada saat yang sama, polisi distrik baru saja memperoleh kepala polisi yang baru dengan program kerja hari pertama: memberangus gerombolan bajingan pimpinan Raja di hari pernikahan adiknya. Apa yang terjadi? Sang Raja tentu saja mendahului apa yang ada dipikiran polisi. Ini merupakan perkenalan pertama dengan Benya Krik, sang raja gangster dari Odessa. “Justice In Parentheses”. Kali ini kita berhadapan dengan sesorang (yang kebetulan narator kisah ini, “si aku”), dan bagaimana akibatnya bermain-main, lebih tepatnya mempermainkan Benya Krik. Sebenarnya bukan bermaksud mempermainkannya, tapi tak lebih dari sekadar mengambil risiko, demi memberi makan keluarga. Katakanlah si aku ini mendengar seseorang bicara tentang “celah keamanan” sebuah toko koperasi yang uniknya bernama “Keadilan”. Masalahnya, celah keamanan itu bocor tentu saja memang untuk mengundang perampok masuk. Diam-diam si aku mengirimkan informasi celah keamanan ini kepada Benya. Sial. Pada hari yang sama, Benya dan gerombolannya menggeruduk toko koperasi itu, di tempat yang sama ada gerombolan perampok lain juga tengah bekerja. Benya merasa dipermalukan, harga dirinya terluka. “Keadilan” akan datang untuk si aku, meskipun pada akhirnya toh ia masih juga bertahan hidup. “How Things Were Done In Odessa”. Di cerpen inilah, kemudian kita tahu kenapa Benya Krik dipanggil “Raja”. Bukan semata karena teror yang diciptakannya, tapi bagaimana ia menegakkan hukum jalanan dengan caranya sendiri, tanpa kompromi. Ada banyak bajingan di Odessa, tapi kemudian Benya yang memperoleh sebab itu, bahkan meskipun asal-usulnya menjadi bajingan karena ia memperoleh restu dari para bajingan lain: untuk merampok seorang saudagar paling kaya di Odessa. Saudagar yang pernah coba dirampok sembilan kali oleh kelompok bajingan itu dan semuanya gagal. Benya melakukan yang kesepuluh dan berhasil. Tapi bukan itu yang membuatnya jadi raja. Bukan. Di saat melakukan perampokan, satu anak buahnya mabok dan tanpa sengaja menembak mati si penjaga toko, anak satu-satunya seorang perempuan setengah baya. Di situlah ia memunculkan dirinya menjadi raja. Tentang bagaimana ia bersikap atas kematian si penjaga toko, dan hukuman apa yang harus diterapkannya kepada si anak buah mabuk. Satu hal yang paling menarik dari kisah ini adalah bagaimana Benya bisa menjadikan kematian si penjaga toko sebagai sebuah tragedi kelas, ketika ia berpidato di pemakamannya: “Apa yang telah dilihat Josif kita tersayang dalam kehidupan? Satu omong kosong besar. Apa yang dilakukannya untuk hidup? Ia menghitung uang orang lain. Untuk apa ia mati? Ia mati untuk seluruh kelas pekerja.”

Tentu ini perjalanan yang baru beberapa langkah dalam menjelajahi cerita-cerita Babel, tapi saya putuskan berhenti dulu di sini, meninggalkan rasa penasaran yang semestinya kepada khalayak ramai.

Under the Jaguar Sun, Italo Calvino

Bagaimana jika kau memiliki penciuman yang tajam, yang bisa membedakan satu aroma dari berbagai keriuhan aroma lainnya? Itulah yang terjadi pada si narator dalam cerita “The Name, The Nose”. Ia bertemu seorang perempuan dengan aroma parfum yang sangat khas, dan sebagian besar waktunya merupakan usaha mencari perempuan itu, dengan bantuan indera penciumannya, tentu. Ia keluar-masuk toko parfum, untuk mencari tahu aroma apa sebenarnya yang datang dari perempuan tersebut, demi melacaknya. Tapi berbagai parfum pernah dicobanya, tak ada yang mendekati aroma parfum si perempuan (yang barangkali sudah bercampur pula dengan aroma alami tubuhnya, pakaiannya). Kisah ini merupakan salah satu dari tiga cerita dalam buku Under the Jaguar Sun. Sebetulnya Italo Calvino merencanakan proyek yang lebih panjang untuk buku ini, yakni cerita-cerita yang berhubungan dengan panca indera. Jika kita percaya manusia memiliki lima indera, seharusnya ia menulis lima cerita. Bisa pula lebih jika Calvino berpikir tentang indera-indera lain yang (mungkin) ada. Yang jelas, hingga kematiannya, ia baru menyelesaikan tiga cerita yang kemudian menjadi buku ini. Cerita pertama, “Under the Jaguar Sun”, berhubungan dengan indera pengecap (lidah). Bisa terbayang, ini semacam cerpen kuliner. Tapi jangan bayangkan sebuah kisah perjalanan dari satu tempat ke tempat lain kemudian dipenuhi komentar tentang “wah, enak sekali”, atau “tahu tidak, di balik masakan ini terdapat sejarah panjang blah blah blah”. Tidak seperti itu. Memang narator dan istrinya dalam sebuah perjalanan ke Meksiko, dan tentu saja mereka menikmati makanan lokal (sebab menikmati makanan lokal merupakan salah satu esensi dari perjalanan, yang tak tergantikan oleh gambar atau video, tidak pula oleh restoran mewah, begitu kata naratornya). Buat saya, ada dua hal yang menarik dari cerita ini. Pertama, bagaimana reaksi suami-istri atas makanan, juga cara mereka menghadapi makanan, memperlihatkan perbedaan karakter keduanya, yang jika saya tak salah tebak: seorang intropert dan seorang ekstropert. Sebuah eksperimen strategi literer yang menarik, sih. Kedua, bicara tentang ritual kuno tentang pengorbanan manusia untuk dewa. Setelah korban dibunuh, bangkainya dimakan. Pertanyaannya, dengan bumbu apa daging manusia itu dimasak, agar bisa “tertanggungkan”? Jujur, bagian itu membuat saya merasa dalam situasi horor, padahal hanya mempertanyakan bumbu, mempertanyakan kesanggupan lidah manusia. Cerpen kedua berjudul “A King Listens”, yang tentu saja mengenai pendengaran. Kisah seorang pembisik, yang membisikkan banyak hal kepada seorang raja. Saya merasa cerpen ini terutama jangan dibaca melulu isinya, tapi “bunyinya”. Sayang saya membaca dalam terjemahan Inggris. Mungkin akan terasa lebih merdu jika bisa membacanya langsung dalam bahasa Italia. Siapa tahu? Tapi setidaknya, terjemahannya pun memberi kesan bahwa cerita ini ada lebih untuk didengar, seolah-olah kita sang raja dan sang narator adalah si pembisik. Cerpen ketiga, tentang penciuman, sudah saya sebut di pembukaan. Entah apa yang akan ditulis lagi oleh Calvino seandainya ia berumur panjang. Setidaknya ia mesti menulis tentang indera peraba dan penglihatan. Mungkin juga ia menulis “panca budi indera”: tangan, kaki, mulut, anus, dan kelamin. Juga indera utama: pikiran. Yang jelas, Calvino memang penulis yang senang dengan eksperimen semacam ini, salah seorang penulis meta-fiksi yang paling berhasil. Atau seperti buku lainnya yang tak juga selesai, Six Memos for the Next Millenium (dia cuma menulis lima), ia meminta pembaca menyelesaikan yang tersisa?

Story of the Eye, Georges Bataille

Menghadapi novel ini, batas antara pornografi dan erotika bisa sekabur batas malam dan siang di waktu senja. Jika pornografi disederhanakan sebagai karya yang ditulis dengan tujuan untuk memberi rangsangan seksual, novel ini memenuhinya, tapi menyederhanakannya di titik itu saja tentu mengabaikan hal-hal lain yang terkandung di dalamnya. Seperti kisah-kisah fantasi, novel pornografi pada sudut tertentu bisa dilihat juga sebagai perayaan atas fantasi seksualitas, tentang dunia serba kemungkinan. Georges Bataille merupakan salah satu penyokong Surealisme Prancis (meski sempat berseteru dengan André Breton), dan novel Story of the Eye (terbit pertama kali 1928), saya rasa membiaskan juga hal itu. Dalam pornografi yang umum, akar realisme biasanya sangatlah kuat karena niatnya untuk mendekatkan diri kepada kenyataan, kepada fantasi yang mungkin dilakukan. Di novel ini kemungkinan-kemungkinan yang bisa dilakukan masih ada di sana, tapi sekaligus ia memberi ruang kepada wilayah-wilayah gelap ketidaksadaran. Sebelum ngalor-ngidul, saya ingin gambarkan dulu ini kisah tentang apa. Seperti umumnya novel pornografi, alur ceritanya ringkas saja. Seorang anak muda, sang narator, bertemu sepupu jauhnya, Simone. Mereka berdua di sebuah vila, si narator mulai tertarik kepadanya dan, “Aku mulai menyadari ia juga berbagi rasa gelisah yang sama denganku melihatnya, dan aku semakin merasa gelisah hari itu sebab aku berharap ia tak mengenakan apa-apa di balik pakaian luarnya.” Selanjutnya, dengan berlumuran susu di tubuh Simone, mereka larut dalam fantasi seksual masing-masing, berkahir dengan, “Kami mencapai orgasme hampir di waktu bersamaan tanpa menyentuh satu sama lain.” Petualangan masturbasi pertama itu terus terjadi hingga muncul tokoh lain, Marcelle. Mereka bercinta, kadang masturbasi, bertiga. Marcelle menjadi fantasi mereka yang lain, yang tanpa kehadirannya, fantasi seksual itu terasa basi. Terbayang? Itu baru separoh jalan. Akan muncul dua tokoh lain yang penting: orang Inggris yang (saya rasa) hasrat seksualnya terdapat pada hasrat melihat aktivitas seks orang lain, dan satu sosok tragik-komik, seorang pendeta. Di antara mereka, obsesi seksual Simone merupakan hal paling menarik. Ia menyiratkan sejenis simbolisme, yang pastinya perlu ditelaah lebih jauh. Pertama, ia tergila-gila kepada telur. Ia bisa sangat terangsang dengan meletakkan telur-telur rebus (dengan atau tanpa cangkang) di antara kedua pahanya, digelindingkan, mendekati kemaluannya. Apakah ini sejenis simbol feminitas? Perempuan dan telur? Mungkin. Ketika mereka menonton pertunjukan adu banteng, Simone juga terobsesi untuk memperoleh biji kemaluan banteng yang kalah. Biasanya itu diperebutkan untuk dijadikan menu makan malam, lambang persitisius sebagai penghormatan penonton kaya untuk petarung. Tapi di tangan Simone, sepasang biji kemaluan banteng itu merupakan alat rangsangan sesksual yang lain. Seperti telur-telurnya, ia meletakkan kedua biji kemaluan banteng itu di nampan dan mendudukinya, tentu tanpa celana dalam. Obsesi terhadap sperma jantan? Atau karena bentuknya, ia juga menyimbolkan telur? Puncaknya adalah hubungan ganjil dan mengerikan antara seks dan kematian. “Kau tahu bahwa lelaki yang digantung atau dicekik-jerat akan memiliki burung yang mengacung keras sesaat setelah pernapasannya terputus, hingga mereka ejakulasi …” kata Sir Edmund, si orang Inggris kepada si pendeta. Anda bisa bayangkan apa yang mereka lakukan kepada si pendeta di hadapan Simone? Ya, membunuhnya, agar … (bayangkan saja sendiri, meskipun di novel digambarkan sangat jelas). Apakah ini pornografi atau erotika?Membaca novel ini, saya semakin yakin kedua istilah itu hanya ada untuk menegaskan sejenis hirarki. Bahwa pornografi adalah sampah, bahwa erotika itu memiliki mutu. Novel ini saya rasa memorakporandakan hirarki seperti itu.

Barthes Mengajari Saya Memahami Bahasa Kucing

Image Music Text, Roland Barthes

Saya memelihara seekor kucing persia pemberian seorang teman. Konon, kucing akan mengeong dengan bunyi serta ekspresi yang berbeda kepada orang yang berbeda, seperti kita punya panggilan yang berbeda kepada orang yang berbeda. Mungkin benar. Setidaknya saya sering merasa tahu jika ia mengeong untuk saya (Anda bisa juga menganggap saya sok merasa tahu saja). Tapi lama-kelamaan, saya toh terpaksa belajar “bahasa” kucing, setidaknya bahasa Si Puspita (nama kucing saya, jika bahasa yang dipergunakannya ternyata berbeda dengan bahasa kucing lain). Saya bisa tahu persis jika ia mengeong dengan suara tertentu, ditambah gerakan-gerakan tertentu di dekat pintu kamar mandi, artinya “Aku ingin minum, ambilin air, dong!” Nah, ketika saya membaca buku Roland Barthes berjudul Image Music Text, terpikir juga oleh saya, barangkali buku ini bisa membantu saya memahami bahasa kucing, atau membuat saya mengerti kenapa saya paham bahasa kucing (dalam hal ini, Si Puspita). Kenapa tidak? Membaca buku ini saya merasa diajak untuk kembali belajar membaca. Ya: belajar membaca. Belajar memahami bahasa, tak melulu sebagai ekspresi linguistik, tapi juga sebagai ekspresi narasi. Bahwa “Bond saw a man about fifty” (dari Goldfinger, Ian Fleming) tak semata-mata informasi yang tersurat, tapi juga memiliki fungsi tentang deskripsi seseorang yang ditandai dengan perkiraan umur, dan informasi bahwa Bond tak begitu kenal orang tersebut, sesuatu yang akan bermakna dalam novel itu. Bahwa “meong” bukan sekadar suara seekor kucing, sebab bisa juga berarti “Aku boleh lompat ke pangkuanmu, enggak?” Buku ini merupakan kumpulan esai terpilih Barthes. Bagi banyak orang mungkin yang paling populer adalah esai berjudul “The Death of the Author” yang begitu sering dikutip (dan sering pula disalah-pahami), jadi terasa basi dan saya tak akan menyinggung-nyinggungnya lagi. Esai paling menarik menurut saya adalah “Introduction to the Structural Analysis of Naratives”. Esai itu seperti merangkum seluruh esai di buku ini, dan secara ringkas bisa dikatakan sebagai esai tentang “belajar membaca”. Begini lho cara membaca kalimat. Begini lho cara membaca wacana. Begini lho cara membaca cerita. Dan kalau ilmu dari esai itu bisa saya pakai untuk belajar membaca novel-novel James Bond, kenapa saya tak mencoba pakai untuk membaca meong-meong kucing saya? Jadi meskipun Barthes mengaku bahwa bentuk-bentuk narasi di dunia ini tak terhitung, dan mustahil meneliti semuanya untuk menemukan sejenis “kesimpulan”, ia toh mencoba mengorek-ngorek strukturnya, memotong-motongnya. Dan menurut saya, ini sungguh mengasyikkan. Saya sudah sebutkan bahwa “meong” bukan semata-mata “meong”. Ada berlapis-lapis tingkatan makna di baliknya. Setidaknya ada berlapis-lapis tingkatan deskripsi dalam setiap narasi. Yang tadi saya sebut baru tingkat fungsi. “Fifty” dalam “Bond saw a man about fifty” memiliki fungsi untuk menciptakan karakter juga. Luntang-lantung Si Puspita di depan pintu kamar mandi memiliki fungsi untuk menjelaskan bahwa ia ingin minum. Dan fungsi ini, tanpa harus diterang-jelaskan, juga merujuk ke suatu makna lain yang lebih kompleks: saya harus membuka pintu kamar mandi, ambil air dengan gayung, meletakkan gayung berisi air di lantai agar kucing saya bisa minum. Anda mungkin berpikir apakah kucing saya secerdas itu sampai bisa menyampaikan pesan sekompleks demikian kepada saya? Tidak. Kucing saya tidak secerdas itu. Dalam beberapa hal dia tolol. Dia sering tak bisa mengukur jarak, melompat tak tepat sasaran hingga jatuh atau terbentur. Pokok soalnya bukan itu. Pokok soalnya adalah bagaimana kita (saya) membaca pesan si kucing. Membaca tak hanya di tingkat harafiah, apalagi sekadar bunyi dan aksi (kucing luntang-lantung di depan pintu kamar mandi), tapi membaca tingkat-tingkat makna narasi lainnya. Baiklah, Barthes mungkin tak pernah memaksudkan esainya ini untuk dipergunakan balajar membaca atau memahami meong si kucing. Tapi apa pedulinya? Saya membaca bukunya, dan terserah saya lah menarik makna dan mempergunakan pengertian saya untuk apa. Ya, kan? (Iya, pernyataan terakhir itu terpaksa merujuk ke esainya yang lain, apa boleh buat).

Misreadings, Umberto Eco

Di satu malam di satu lorong kota Bologna, seorang profesor dihadang seseorang yang tanpa basa-basi langsung memukulnya jatuh, menendangnya, dan ketika mencoba bangkit, dipukul lagi. Setelah dibawa ke rumah sakit oleh dua biarawati yang kebetulan lewat dan melihatnya tergeletak, diketahui profesor tersebut adalah Umberto Eco. Si penyerang baru diketahui beberapa hari kemudian setelah berhasil ditangkap oleh polisi. Ia seorang penulis muda bernama Dante Alighieri. Rupanya Dante kesal atas komentar sang profesor, yang diperkerjakan oleh penerbit untuk menyaring naskah dan membuat ulasan ringkas, atas karyanya yang berjudul The Divine Comedy. Sang profesor antara lain bilang, “Alighieri merupakan tipikal penulis sambilan.” Kemudian, meskipun mengakui kualitas teknisnya, ia menyarankan penerbit untuk menolak buku tersebut, sebab menurutnya buku ini terlalu posmo, ditulis dengan dialek Florence yang berat. Kalau mau menerbitkannya secara luas, harus menerbitkan versi dialek Milan dan lainnya. “Itu pekerjaan penerbit kecil.” Profesor Eco memang sering menulis di Il Verri, kadang ulasan ringkas atas karya yang akan atau telah terbit, kadang esai tentang beberapa isu, tapi gayanya yang nyeleneh dan seringkali kasar, tak urung memancing emosi banyak orang. Masih untung jika hanya mendapat sanggahan yang sama kerasnya di majalah sastra, seperti sudah ditulis di muka, kadang ia memperoleh serangan fisik. Kasus pemukulan oleh Dante jelas bukan yang pertama. Sebelumnya, sekelompok (atau seseorang?) yang menamakan dirinya sebagai Anonymous juga menghadangnya, tepat di depan apartemennya ketika ia baru pulang dari kampus agak larut malam. Polisi tak pernah berhasil mengusut siapa Anonymous ini, mereka hanya curiga, “Mungkin sekelompok hacker internet yang berusaha cari perhatian dengan cita-cita meruntuhkan tatanan lama yang telah bobrok”. Tapi tak ada klaim apa pun di internet oleh Anonymous ini mengenai penyerangan atas Profesor Eco. Apa yang terjadi, sepenuhnya bersumber dari satu sisi, sang profesor sendiri. Semuanya bermula dari ulasannya mengenai buku The Bible, yang menurut profesor ditulis oleh Anonymous. Sebenarnya profesor memuji naskah tersebut dengan bilang, “Beberapa ratus halaman pertama benar-benar mencengkeramku. Penuh aksi, memiliki segala yang diinginkan pembaca kiwari dalam sebuah cerita yang baik. Ada seks (banyak, termasuk perzinahan, sodomi, inses), juga pembunuhan, perang, pembantaian, dan lain sebagainya.” Tapi kemudian ia curiga buku tersebut sebenarnya antologi banyak penulis, terlalu banyak puisi, dan ungkapan-ungkapan yang membosankan. Segalanya ada. “Buku ini seperti hendak menyenangkan semua orang, tapi akhirnya tak membuat senang siapa pun.” Bahkan sang profesor menyarankan, buku itu harus dipenggal, terbit bagian depannya saja. Cukup lima bab. Selain itu harus ganti judul. Anonymous menyerangnya dengan kesal, mengata-ngatainya tak tahu apa-apa soal sastra dan, bahwa buku tersebut memiliki nilai jauh melebihi sekadar cerita. “Kamu salah baca,” kata Anonymous. Profesor Eco, kemudian tak yakin apakah yang menyerangnya satu orang atau beberapa orang. Ia ditemukan pagi hari dalam keadaan babak belur dan tak sadarkan diri. Di luar itu, ia juga pernah membuat kesal sekelompok sutradara film, karena membocorkan resep mereka dalam membuat cerita. Resep yang disimpan dalam lemari terkunci di studio, tapi entah bagaimana Profesor Eco berhasil mendapatkannya. Ia diadukan ke pengadilan oleh Antonioni, Jean-Luc Godard, Luchino Visconti dan beberapa yang lain dengan tuduhan, “Membocorkan rahasia hak cipta pola menulis cerita film”. Ia kalah di pengadilan dan harus membayar denda yang membuatnya nyaris bangkrut. Untunglah tak lama selepas itu, novel sang profesor, The Name of the Rose, meledak tak hanya di Italia tapi di seluruh dunia, membuat kondisi finansialnya membaik, bahkan melebihi sebelumnya. Rupanya kasus pengadilan itu tak membuatnya kapok, ia terus menulis ulasan dan esai di majalah sastra Il Verri, dan terus membuat masalah dengan banyak orang. Ia mengomentari Justine karya Sade sebagai terlalu banyak filosofi. “Pembaca sekarang mau lebih banyak seks, seks, dan seks.” The Trial, karya seorang bujangan bernama Franz Kafka dikatainya sebagai “seolah ditulis di bawah rezim otoriter” dan harus diedit, sementara Finnegans Wake karya James Joyce dianggapnya tidak jelas ditulis dalam bahasa apa, yang jelas bukan bahasa Inggris. Tapi kasus yang mungkin merusak reputasinya adalah ketika Porfesor Eco menerbitkan cerita (masih di majalah yang sama) berjudul “Granita”. Banyak orang langsung menuduhnya melakukan plagiat atas novel berjudul Lolita. Memang tak sama persis. Di cerita yang ditulisnya, Eco mengganti si gadis kecil Lolita dengan seorang nenek bernama Granita. Ya, ini tentang seorang lelaki yang tergila-gila kepada perempuan yang sudah tua. Meskipun ada perbedaan tersebut, orang tetap menganggapnya melakukan plagiat. Coba lihat pembukaan ceritanya: “Granita. Bunga masa remajaku, derita malam-malamku. Akankah aku melihatmu lagi? Granita. Granita. Gran-i-ta.” Bahkan akhirnya Vladimir Nabokov menyeretnya ke pengadilan. Ini pengadilan kedua untuk Profesor Eco. Kali ini, dengan pembelaan yang penuh semangat dan melibatkan begitu banyak referensi, Eco berhasil meyakinkan hakim tentang perbedaan plagiat dan parodi. Pengadilan membebaskan Eco dalam kasus tersebut. Meskipun begitu, banyak mahasiswanya yang dipenuhi jiwa-jiwa muda yang membara, tetap merasa kecewa. Mereka mulai mempertanyakan reputasinya sebagai profesor, dan berombongan meninggalkan kuliah-kuliah semiotiknya, beralih ke kuliah teologi yang menurut mereka lebih memberi kepastian mengenai bagaimana menafsir segala sesuatu. Dengan berbagai kasus tersebut (tidak semuanya ditulis di sini), Profesor Eco akhirnya berhenti menulis di Il Verri. Tapi ketika namanya sebagai novelis maupun profesor semiotik semakin moncer, penerbit berniat untuk menerbitkan tulisan-tulisan tersebut dalam sejilid buku. Meski awalnya ragu, akhirnya Profesor Eco setuju. Tapi untuk menghindari masalah-masalah lebih lanjut, terutama serangan mematikan di jalanan dari penulis atau orang yang kecewa, dan teringat kepada Anonymous, Profesor Eco memberi judul buku tersebut sebagai Misreadings.

Noli Me Tangere, José Rizal

Setelah beberapa lama cuma niat, akhirnya kesampaian juga membaca novel ini. Awalnya karena hendak membicarakan buku Benedict Anderson, Di Bawah Tiga Bendera: Anarkisme Global dan Imajinasi Antikolonial, saya merasa harus membaca setidaknya satu (dari dua) novel José Rizal, sebab buku tersebut hampir sepertiganya bicara tentang sang revolusioner Filipina. Demikianlah akhirnya saya membaca Noli Me Tangere (saya membaca versi terjemahan Inggris lawas, yang judulnya jadi The Social Cancer, sementara edisi yang baru mempergunakan judul asli dengan terjemahan Inggris di dalam kurung sebagai: Touch Me Not). Ini sebuah novel dengan latar masa kolonial Spanyol di Filipina, dan bisa juga disebut sebagai novel epik Filipina, tak hanya karena isinya, tapi juga efek yang diciptakan oleh penerbitan novel ini. Membaca beberapa bab awal, kita sudah disajikan dengan kebrutalan kekuasaan kolonial. Dikisahkan Crisóstomo Ibarra, sang tokoh utama, selepas bertahun-tahun mengembara di daratan Eropa akhirnya pulang ke Filipina hanya untuk menemukan ayahnya sudah meninggal (dan selama itu tak ada yang memberitahunya). Ia kemudian tahu bahwa ayahnya telah dihukum mati oleh konspirasi penguasa-penguasa lokal, yang meliputi penguasa kolonial serta para pemimpin gereja. Tak hanya itu, ketika ia mencari kuburannya, Ibarra tak menemukan kuburan itu. Ia akhirnya bertemu seseorang yang memberitahu: mayat ayahnya telah digali dan dibuang ke danau. Di sinilah ia mulai terlecut, kemarahannya kepada kekuasaan kolonial mulai membara, tapi ternyata kebrutalan tersebut belum cukup sampai di sana. Apa yang membuat kekejian kolonialisme terasa menyayat, terutama karena di novel ini, José Rizal berhasil membawa masalah sosial tersebut menjadi kisah-kisah individu. Kisah cinta Ibarra dan María Clara memiliki porsi yang sangat signifikan di sini, di mana kisah cinta mereka harus berakhir tragis lagi-lagi oleh konspirasi jahat antek-antek kolonial dan gereja. Di titik ini, pembaca Indonesia mungkin akan teringat kepada novel Bumi Manusia Pramoedya Ananta Toer (dengan kisah Minke dan Annelisnya), setidaknya saya merasakan sejenis bayang-bayang tersebut. Mungkin Pram terinspirasi novel ini (Noli Me Tangere terbit 1887, hampir satu abad sebelum novel Pram)? Dan sekuelnya, El Filibusterismo mungkin juga membayangi Anak Semua Bangsa, terutama dalam konteks “globalisasi”-nya. Selain kisah cinta dua anak muda yang berakhir tragis dipisahkan oleh kuasa kolonial, ada hal-hal yang juga bisa diperbandingkan: baik Minke maupun Ibarra sama-sama bisa dibilang “elit lokal”, yang sama-sama memperoleh pendidikan kolonial (Ibarra lebih dari itu, ia bisa sekolah ke luar negeri, dan dalam tubuhnya juga mengalir darah Basque, ia seorang mestizo). Tapi tentu saja ada beberapa perbedaan mencolok. Bumi Manusia bisa dibilang roman sejarah, sementara novel ini justru bisa dilihat mendahului gerakan-gerakan revolusioner Filipina. Ia semacam inspirasi bagi kaum revolusioner Filipina untuk bangkit melawan, dan José Rizal sendiri, beberapa tahun kemudian, tak hanya diasingkan, tapi juga dihukum mati sebagai pahlawan bangsanya (dan banyak yang mengaitkan dirinya sebagai Ibarra). Selain itu, dua hal mencolok dalam novel Rizal: kebrutalannya (tak hanya hukuman mati, mayat digali, tapi juga penggantungan di muka umum, bahkan seorang anak dipenggal kepalanya dan digantung di muka rumah ibunya), juga keterlibatan kekuasaan gereja yang membuat rakyat Filipina seperti dijajah dari kiri dan kanan, di mana di-ekskomunikasi oleh gereja sama menakutkannya daripada dipenjara. Di luar itu, novel ini juga memberi sejenis keajaiban seperti dicatat Ben Anderson: Di Republik Kesusastraan Global, novel ini lahir dari pinggiran. Ia tak hanya merupakan novel modern paling awal yang menggetarkan Asia Tenggara, tapi juga mendahului banyak novel besar di Asia (ya, bahkan terbit duluan sebelum Max Havelaar, meskipun kemudian José Rizal juga mengagumi novel ini). Untuk memahami kenapa bisa seperti itu, buku Ben Anderson di awal tulisan ini mungkin perlu dibaca, sebagai pengantar yang menarik sebelum menikmati novel ini, terutama bagi yang tak terlampau akrab dengan sejarah Filipina atau konteks zaman di abad sembilan belas.

The Encyclopedia of the Dead, Danilo Kiš

Simon Magus bisa jadi sejenis olok-olok tentang kisah para nabi, rasul, orang suci, santa, wali dan sejenisnya yang penuh dengan mukjizat dan pengorbanan. Seperti para rasul, dia juga berkeliling untuk berkhotbah (tujuh belas tahun setelah kematian Yesus dari Nazareth), tapi dia meyakinkan orang-orang bahwa, “Aku bukan rasul.” Ya, benar. “Mereka menjanjikan keselamatan abadi, aku menawarkan pengetahuan dan keheningan.” Hingga ia mengejek omong-omong tentang mukjizat, yang membuat berang Peter yang kemudian menantangnya untuk menampilkan mukjizat sendiri. Kisah ini juga memperlihatkan kearoganan orang-orang yang merasa dirinya saleh, pengikut juru selamat (digambarkan melalui Peter dan murid-muridnya). Simon Magus memperlihatkan kepada mereka bahwa ia bisa terbang, meskipun kemudian ia harus jatuh dan remuk. Tapi itu tak membuktikan kelemahannya sebagai “manusia biasa” yang “bukan rasul” itu. Dalam kisah ini, itu membuktikan ajarannya bahwa “hidup manusia membusuk dan binasa, dan dunia berada di tangan tiran. Dikutuk oleh yang terbesar dari semua tiran, Elohim.” Itu merupakan cerita pertama dalam kumpulan cerita Danilo Kiš, The Encyclopedia of the Dead. Jika membayangkan ia seorang penulis yang mengolah sejarah, mitos, tradisi kesusastraan, yang terobsesi dengan politik dan membalutnya dengan fantasi, jelas itu salah khususnya mengenai fantasi. Ia tak percaya fantasi, meskipun dalam cerpen-cerpennya tampak pengaruh kuat dari Borges maupun Bruno Schulz. “Definisiku tentang kesusastraan,” katanya, “merupakan suatu usaha atas visi umum realitas dan kehancurannya yang berkesinambungan.” Kisah hidup penulisnya sendiri barangkali sama ajaibnya dengan fiksi-fiksinya. Ia lahir tahun 1935 di Yugoslavia, negeri yang sudah terhapus oleh sejarah (di Wikipedia, saya melihat wajahnya dicetak di prangko Serbia juga Montenegro), dan menulis dalam bahasa Serbo-Kroasia, yang dipergunakan di beberapa negara tapi mereka lebih suka menamainya dengan nama masing-masing dan kemudian memiliki standarnya masing-masing. Ia seperti ditakdirkan untuk “terkubur”, tapi seperti bayi-bayi agung yang mengawali hidupnya dengan cara yang menyedihkan, penulis ini dan buku-bukunya, terutama setelah kematiannya di tahun 1989, mulai memperoleh pembaca di mana-mana. Cerpennya yang lain, yang menjadi judul kumpulan ini, barangkali semakin mengingatkan kita pada Borges. Itu merupakan ensiklopedi orang-orang yang sudah mati. Semua orang yang sudah mati, kecuali orang itu ditulis di ensiklopedi yang lain (jadi ini ensiklopedi khusus orang-orang biasa). Beberapa saat setelah kematian ayahnya, si narator menemukan buku ini di satu perpustakaan di Swedia dan ia membaca entri tentang ayahnya. Kisah hidup orang biasa yang barangkali mewakili sebagian besar orang biasa. Tapi berbeda dengan Borges, Kiš tak tertarik dengan metafisika maupun spekulasi filsafat. Ia lebih tertarik kepada keajaiban yang ditawarkan oleh kehidupan sehari-hari, oleh realitas yang “lebih ajaib dari fiksi”. Demikianlah cerpen-cerpennya menjadi sejenis kisah realis biasa yang digempur oleh berbagai keajaiban tanpa harus menjadikannya fantasi maupun fantastik. Hanya ada sembilan cerpen di dalamnya, tapi saya kira ini merupakan salah satu buku yang harus ditengok berkali-kali, terutama bagi penggemar cerita pendek, terutama karena Kiš memang tak menerbitkan banyak karya. Sangat layak berada di tempat yang sama dengan Ficciones Borges maupun The Street of Crocodiles Bruno Schulz, sebagaimana juga berjejer bersama cerpen-cerpen karya Cortazar.

The Wretched of the Earth, Frantz Fanon

Beberapa hari terakhir ini pekerjaan saya menunggui rumah sambil mengurus dua makhluk: anak perempuan saya dan kucing persia pemberian teman. Tak ada soal. Tinggal memastikan makanan mereka terpenuhi. Masalah suka muncul ketika saya memasak sesuatu, membuka pintu dapur, kemudian seekor kucing kampung (baru melahirkan dua anak) tiba-tiba nyelonong masuk. Lebih sialnya lagi, dia seperti sudah tahu harus ke mana: masuk dengan cepat ke arah tempat makan kucing kami, dan memakan pakan kucing. Kesel? Tentu saja. Saya merasa dirampok di depan mata saya sendiri. Naluri saya segera mengejarnya, menghardiknya, dan memaksanya keluar rumah. Tapi begitu dia sudah di luar pintu, memandang saya dengan tatapan memohon, apalagi dua anaknya bergabung, hati saya runtuh. Kenapa saya memberi makan persia saya dengan begitu melimpah, sementara si kucing kampung malah saya hardik? Saya sedang mempraktekan rasialisme? Saya akhirnya masuk, meraup makanan kucing kami dan memberikannya kepada si kucing kampung yang segera makan dengan lahap. Saya bahkan memeriksa lemari, mengumpulkan sisa-sisa makan sahur (sisa ayam atau ikan) dan memberikannya juga. Semua kejadian itu terjadi, sementara saya dengan sok intelek membaca buku tentang kolonialisme, rasialisme, kekerasan, perbudakan. “Dua abad lalu, satu bekas koloni Eropa memutuskan untuk mengejar Eropa. Ia berhasil begitu gemilang membuat Amerika Serikat menjadi sejenis monster, di mana noda-noda, penyakit dan kebiadaban Eropa telah tumbuh ke arah dimensi yang mengerikan. Kawan, tak punyakah kita pekerjaan lain selain menciptakan Eropa ketiga?” Frantz Fanon dalam bukunya The Wretched of the Earth sedang bicara tentang dosa Eropa, dosa yang sisa-sisanya bahkan masih tersisa hingga hari ini di sebagian besar permukaan bumi: kolonialisasi. Dan kolonialisasi jelas bukan semata-mata datangnya pasukan Eropa ke Afrika, Asia dan Amerika lalu menguasai tempat-tempat tersebut, di sana ada pemaksaan nilai-nilai, perampokan sumber daya alam, rasialisme yang berujung kepada perbudakan. Di dalam banyak aspek, kolonialisme telah menjadikan manusia biadab, manusia yang kehilangan kemanusiaannya. Tentu saja sangat jomblang dan keterlaluan membandingkan kolonialisasi dan perbudakan manusia dengan pengalaman mengurus kucing ras dan menghardik kucing kampung. Tapi pada saat yang sama, buku itu dengan gamblang menunjukkan banyak hal tentang asal-usul kekerasan yang melekat di kita, prasangka ras dan kelas, dan ketimpangan tak hanya ekonomi tapi juga pendidikan. Saya tak memungkiri kadang punya prasangka atas kucing kampung: kotor, tukang rampok, tukang kawin, dan intinya: savage. Lalu berpikir: kucing kampung juga kalau dipelihara dengan baik dan diberi makan makanan yang baik, tentu juga akan baik (dari perilaku, kebersihan, bahkan mungkin gambaran kita tentang kecantikan). Tapi jelas itu penyederhanaan, dan mungkin penuh bias. Sama seperti penyederhaan jika orang Afrika (atau Asia) seharusnya diberi pendidikan Eropa, tinggal di Eropa, makan makanan Eropa, baju Eropa, agar ia menjadi seperti orang Eropa. Buku yang benar-benar menggedor tak hanya nalar kita, tapi juga nurani. Bagian paling menariknya, karena selain aktivis dan simpatisan kemerdekaan Aljazair, Fanon juga seorang dokter dengan spesialisasi psikiatri, ia bisa bicara dari sudut pandang penyakit-penyakit mental, baik individu maupun sosial. Kolonialisme jelas telah mewariskan banyak masalah sosial, juga masalah mental. Tak hanya di negara jajahan, tapi di negeri-negeri Eropa. Dalam hal ini, bolehlah juga saya curiga, cara pandang kita terhadap kucing peliharaan dan kucing kampung juga sebenarnya dosa manusia yang telah berumur panjang: sejak masa kita mendomestikasikan kucing. Benarkah kucing kampung ingin dipelihara? Jangan-jangan perilaku kucing kampung, yang suka merampok, tukang kawin, dan kotor itu juga “diciptakan” manusia? Sebagaimana para penjajah sering menyebut panduduk negeri jajahan sebagai “pemalas” (dan juga “tukang kawin”?), dan julukan ini juga akhirnya diadopsi sebagian penduduk bekas negeri jajahan (kelas borjuasi kecil yang naik peringkat, dan merasa sudah meng-Eropa) untuk mengata-ngatain rekan sebangsanya yang tidak beruntung. Saya tak tahu apa yang dipikirkan kucing kami ketika ia melongok di jendela dan melihat kucing kampung bergelung di trotoar pinggir jalan. Ada yang mau nulis sehebat Fanon tapi dengan tema kucing? Monggo.

The White Castle, Orhan Pamuk

Saya belum pernah pergi ke Istanbul, kecuali transit beberapa kali di bandaranya yang super sibuk dan luas sekali. Saking sibuk dan luasnya, transit di bandara itu sudah seperti momok: waktu transit yang pendek harus membuat saya berlari-lari dari satu gerbang ke gerbang lain, sementara arus para penumpang yang juga memburu penerbangan berikut salip-menyalip. Bahkan meskipun baru bisa mengenal kota itu melalui bandaranya, saya sadar sejarah panjangnya sebagai titik pertemuan dari berbagai penjuru, yang jika dibikin lebih sederhana, itu merupakan pertemuan Timur dan Barat. Dan itu pula yang sering saya temukan di novel-novel Orhan Pamuk, yang memang banyak berkisah tentang kota ini. Salah satunya novel The White Castle, novelnya yang paling terakhir saya baca (meskipun sebenarnya novel ketiga dia, dan novel pertama yang terbit dalam bahasa Inggris), dan tampaknya bakal menjadi salah satu novel favorit saya darinya. Sebagaimana pertemuan, terutama perjumpaan dengan sesuatu yang asing, selalu merupakan hal menarik, di sana kita menemukan ada kecemasan, ada rasa ingin tahu, ada bentrokan yang bisa jadi berdarah-darah, ada pertukaran budaya dan pengetahuan, menciptakan tragedi, dan di novel ini, juga menimbulkan komedi yang bikin saya berkali-kali nyengir. Saya tak tahu banyak mengenai sejarah Turki, tapi itu tak menghalangi saya untuk menikmati novel ini, yang membawa saya ke masa Mehmet IV, ketika laut mediterania masih dilayari para bajak laut, dan orang bisa ditangkap sebelum dijadikan budak. Demikianlah seorang sarjana Italia yang sedang dalam pelayaran, mendadak disergap kapal Turki, ditangkap dan dijual sebagai budak kepada seorang pasha. Belakangan sang pasha memberikan budak ini kepada sarjana setempat bernama Hoja. Yang lucu, ini benar-benar bagian yang lucu dan menjadi pengikat sepanjang novel, Hoja dan si budak Italia ini berwajah mirip. Kebayang bukan, tuan dan budak, satu Italia dan satu Turki, tinggal serumah, dan mereka bagaikan sepasang kembar? Tentu tak hanya itu. Seperti saya bilang, novel ini tentang perjumpaan. Si orang Italia yang Kristen terpana dengan keyakinan Islam setempat, si tuan Turki penuh penasaran bertanya tentang kemajuan-kemajuan teknologi yang telah dicapai negara-negara di bagian barat. Ini juga tentang ambisi manusia: awalnya hanya disuruh untuk membuat kembang api bagi sebuah pesta, kemampuan si budak didorong untuk menciptakan senjata. Yang menyukai bagian-bagian sejarahnya, kita akan dibawa untuk melihat kehidupan kesultanan Otoman di masa itu: dengan arena perburuan sang sultan, posisi juru nujum yang sangat penting (dan diperebutkan), dan lain sebagainya. Dalam beberapa kali perjalanan ke Eropa, saya lebih sering transit di bandara lain. Meskipun begitu, sambil melihat layar kecil di kursi pesawat yang menampilkan peta dunia dan posisi pesawat, saya selalu menantikan saat pesawat berada tepat di wilayah Turki, sambil menebak-nebak di sebelah mana Istanbul dengan menjadikan selat Bosphorus sebagai penanda. Kenapa? Bagi saya sederhana: itu semacam penanda bahwa saya mulai memasuki dunia barat, atau ketika penerbangan pulang, saya merasa sudah kembali ke dunia timur. Membaca novel-novel Orhan Pamuk, sebagaimana novel yang ini, mengingatkan saya pada perasaan seperti itu. Perasaan menyeberang. Kadang seperti sebuah keberangkatan untuk menemukan hal-hal baru yang asing dan memberi rasa waswas, lain kali memberi perasaan rindu yang meluap-luap akan dunia yang begitu dikenali.