Eka Kurniawan

Journal

Category: Journal (page 1 of 20)

The Saint-Fiacre Affair, Georges Simenon

Di lobi hotel itu ada perpustakaan kecil. Tak tertahankan, saya mendatanginya meskipun di sudut-sudut lain ada tawaran lain: komputer dengan internet gratis, permainan sepakbola meja, bahkan camilan. Tak banyak bukunya memang, mungkin sekitar seratus jilid. Sebagian besar berbahasa setempat. Jika ada yang berbahasa Inggris, biasanya novel klasik yang sangat tebal, tak mungkin dibaca sambil bersantai di lobi. Bahkan dibawa masuk ke kamar pun, mungkin membutuhkan waktu berhari-hari tanpa melakukan apa pun. The Saint-Fiacre Affair karya Georges Simenon tergeletak di sana, seperti bekas dibaca seseorang. Saya belum pernah membaca Simenon dan tokoh inspektur polisi rekaannya, Inspektur Maigret. Tapi saya tahu ia menulis novel-novel fiksi kriminal, dan ia penulis berbahasa Perancis asal Belgia. Seperti pelancong yang memutuskan untuk mengarungi setapak atau gang di tengah kota yang tak dikenalinya, saya mengambil buku itu, membawanya ke kamar dan mulai membacanya. Adakah cerita kriminal di mana inspektur polisinya nyaris enggak ngerjain apa-apa dan pelaku kejahatan akhirnya ketahuan dengan sendirinya? Setidaknya, novel ini salah satunya. Tapi itu bukan masalah. Setidaknya buat saya, fiksi kriminal yang ideal bukanlah terletak di jagonya sang detektif memecahkan kasus kriminal melalui tanda-tanda (dan betapa jagonya penulis mengecoh pembaca melalui tanda-tanda yang sama), melainkan terletak pada watak-watak di dalamnya. Watak-watak kriminal di mana setiap tersangka memiliki jejak kemungkinan untuk menjadi pelaku kejahatan, tak hanya karena motif, tempat dan waktu memungkinkan. Telaah mengenai watak manusia yang tampak dan tak tampak (atau hanya tampak dalam situasi tertentu, seperti menghadapi peristiwa kejahatan), bagi saya merupakan hal paling mengasyikan dari fiksi kriminal. Lagipula adegan “pembunuhannya” juga tidak normal: seorang perempuan setengah baya, mati mendadak di kursi gereja. Kata dokter, kena serangan jantung. Tak ada luka, tak ada bekas kekerasan. Satu-satunya petunjuk untuk Inspektur Maigret bahwa itu pembunuhan, hanyalah karena ia menerima surat yang meramalkan kematian perempuan itu beberapa hari sebelumnya, dan bahwa ia menemukan potongan berita palsu di buku doa perempuan itu, yang kemungkinan besar terbaca dan membuatnya kena serangan jantung. Pelaku yang edan sekaligus jenius, bukan? Bagian itu saja pasti bisa bikin pengadilannya menjadi ruwet, jika cerita berlanjut hingga pengadilan. Satu hal yang menarik dari Maigret, ia tak hanya ada di sana sebagai detektif yang dingin memecahkan masalah, tapi juga bagian dari persoalan cerita. Perjalanannya ke Saint-Fiacre tak hanya untuk mengungkapkan kasus kematian yang telah diramalkan, tapi juga perjalanan emosional dirinya: Saint-Fiacre merupakan masa lalunya. Saya tak tahu apakah hal yang sama bisa saya temukan di judul-judul lainnya (Simenon menulis 75 novel Maigret), saya akan coba membaca yang lain jika ada kesempatan. Yang jelas novel ini melebihi harapan saya mengenai fiksi kriminal, seperti hal-hal mengejutkan bisa saya temukan di gang asing yang dengan nekat saya masuki. Bahasanya yang ekspresif, bahkan awalnya agak aneh, seperti grafiti di dinding rumah yang awalnya terasa meneror tapi kemudian menjadi hiburan yang akrab. Misal penggunaan kalimat pasif yang saya jarang temukan di dalam bahasa Inggris: dari dalam kamar bahasa Inggris terdengar diucapkan (alih-alih dari dalam kamar terdengar mereka bicara dalam bahasa Inggris). Mungkin perkara terjemahan, mungkin memang gayanya seperti itu, tapi setelah terbiasa, saya menemukan keasyikan sendiri. Dan kembali soal bagaimana kasus ini terbuka dengan sendirinya: si inspektur polisi bukanlah dewa yang menentukan mana dan bagaimana kebenaran. Intinya novel ini merupakan drama pembunuhan, dan inspektur polisi hanyalah satu dari sekian bidak di dalam drama tersebut. Bidak dengan persoalannya sendiri, sebagaimana para tersangka pembunuhan: anak si perempuan, seorang pemuda yang merupakan sekretaris sekaligus simpanannya, pastor, manajer keuangannya, serta anak si manajer keuangan. Kadang-kadang mengasyikkan menyesatkan diri ke bacaan-bacaan yang terasa asing, baru, dan mungkin di luar radar pengetahuan kita. Lagipula, kalau William Faulkner dan André Gide saja membaca Simenon, masa saya tidak tertarik?

Some Prefer Nettles, Junichirō Tanizaki

Saya ingin memulai perbincangan mengenai novel ini dari satu percakapan: “… para lelaki yang terlalu tergila-gila perempuan di waktu muda umumnya menjadi kolektor benda antik ketika tua. Perabot minum teh dan lukisan menggantikan seks.”//“Tapi ayah tetap ngeseks. Dia punya O-hisa.”//“Perempuan itu salah satu benda antiknya.” Itu perbincangan antara Kaname dan istrinya, Misako dalam Some Prefer Nettles karya Junichirō Tanizaki. Percakapan itu tak semata-mata sebuah ledekan anak dan menantu kepada ayah, atau sekadar ledekan terhadap generasi tua, tapi menurut saya menggambarkan apa yang ada di novel ini secara keseluruhan. Pertama-tama, tentu mengenai hubungan pernikahan Kaname dan Misako sendiri. Mereka digambarkan sebagai pasangan yang sebenarnya nyambung dalam pikiran, selera, gaya, tapi satu sama lain tak memiliki gairah seks. Atau dengan kata lain: mereka tak saling memuja tubuh pasangannya. Pernikahan dan hubungan ranjang yang hambar, yang membawa mereka kepada keputusan untuk bercerai. Urusan perceraian ini merupakan tulang punggung keseluruhan novel. Kedua, kontras atas hubungan mereka yang hambar, adalah hubungan si lelaki tua (ayah Misako) dengan simpanannya yang muda bernama O-hisa. Mereka berbeda dalam banyak hal, tapi O-hisa yang ditempatkan laksana geisha memiliki sejenis submisivisme yang senang melakukan hal-hal yang diinginkan si lelaki tua. Belajar menyanyi, memainkan alat musik, menjamu teh, nonton pertunjukan teater boneka, bahkan menulis kaligrafi. Ketiga, ini tentang benturan “peradaban baru” dan “tradisi lama”. Pernikahan dan perceraian berhadapan dengan tradisi perempuan penghibur layaknya geisha (di novel ini juga digambarkan Misako sebagai penyuka Jazz dan banyak hal dari barat, sementara ayahnya menyukai musik tradisional). Jujur, biasanya saya tak terlalu suka dengan novel-novel ala “kartu pos”. Yang saya maksud dengan “kartu pos” adalah, novel-novel yang mengeksploitasi keindahan, keunikan, bahkan keeksotisan suatu kebudayaan atau adat-istiadat untuk menyenang-nyenangkan pembaca. Seperti kartu pos, orang yang membaca novel itu kemudian akan bilang, “ah, begini toh tradisi mereka,” seperti kita melihat kartu pos. Membaca tema seperti itu dalam bentuk kajian antropologi atau esai (seperti di buku esai Tanizaki, In Praise of Shadows tentang arsitektur Jepang, misalnya), bagi saya merupakan pilihan yang lebih baik. Tapi rupanya saya bisa menikmati novel ini, meskipun di sana-sini terselip serpihan-serpihan pandangan Tanizaki mengenai kebudayaan dan tradisi Jepang. Saya dengan tak berdaya dibawa oleh Tanizaki ke dalam percakapan mengenai teater boneka, kegelisahannya, kekagumannya, keindahannya dan bahkan reportoarnya. Di bagian lain, juga tanpa daya, Tanizaki mengajak kita mendiskusikan perbedaan-perbedaan antara teater boneka Osaka dan Awaji, daerah yang dianggap sebagai asal-muasal teater boneka Jepang. Menurut saya, rahasia kecerdikan Tanizaki (yang memang, setelah terpengaruh kebudayaan barat di masa mudanya, di puncak karirnya sebagai penulis justru kembali ke habitat kebudayaan tradisional Jepang) dalam mengolah hal ini tanpa membuatnya terasa seperti “kartu pos”, karena ia memang tak menempatkan keunikan tradisi (di sini teater boneka), sebagai pusat novelnya. Inti novel ini, sekali lagi, adalah usaha Kaname dan Misako untuk bercerai, yang diulur-ulur karena memikirkan anak, orang tua, dan kesiapan mereka sendiri. Pembahasan perceraian ini, dengan segala dramanya, seringkali berganti-ganti tempat: di gedung teater, di festival teater boneka, di pelabuhan, di rumah orang tua yang sangat rigid dengan arsitektur tradisional. Nah, pada kesempatan itulah, Tanizaki masuk dengan cerdik ke berbagai topik tradisi. Menjadikannya taut-bertautan dengan melodrama kehidupan perkawinan Kaname dan Misako. Di sinilah saya rasa, suatu tradisi lokal menjadi unik sekaligus tidak asing.

Ferdydurke, Witold Gombrowicz

Sebuah novel yang sangat sensual tanpa sekali pun ada adegan seks; sebuah novel politik tanpa buih-buih khotbah tentang kekuasaan lalim dan kelas jelata yang tertindas; juga sebuah novel brutal tanpa sekali pun menumpahkan darah; dan di sisi lain ini sebuah novel filosofis tanpa rujukan garing kepada pemikiran-pemikiran filsafat; kau bisa menyebut novel ini sebagai novel apa pun dan pada saat yang sama hal itu tersembunyi di belantara komentar-komentar dan pelintiran kisah yang nyeleneh. Seperti itulah Ferdydurke karya Witold Gombrowicz. Komentator kelas dunia menyebutnya sebagai mahakarya “pascamodern”, sementara yang lain menganggapnya sebagai puncak karya “modernisme Eropa”. Nah, bahkan para komemtator pun tak bisa bersepakat apakah ini karya modern atau pascamodern. Dibuka oleh kisah seorang pemuda 30 tahun bernama Joey, yang kelewat banyak mikir dan melamun dan meracau, hingga ia melihat cermin dan menemukan dirinya yang lain. Dirinya berumur 17an tahun, dan semua petualangan setelahnya adalah kisah tentang remaja yang merasa bukan remaja, tentang orang dewasa yang harus menghadapi problem-problem a-be-geh. Jika ada yang membandingkannya dengan petualangan Alice masuk ke lubang kelinci, tentu saja tak mengherankan. Tapi Joey tak bertemu makhluk-makhluk fantastis sebagaimana terjadi di dunia Alice, meskipun teman-temannya di sekolah, guru-gurunya, keluarga yang menampungnya mondok, keluarga bibinya yang kemudian menemukannya, semua tak kalah fantastis. Petualangannya menghadapi dunia di antara yang dewasa dan a-be-geh yang tak bisa dipahami tapi memerangkapnya, bisa membuat orang memperbandingkannya juga dengan dunia Kafka. Tak berlebihan juga, meskipun dalam Gombrowitcz ini menjadi sejenis humor ketimbang teror. Oh, novel ini juga merupakan novel tentang novel, tentang seni bercerita, meskipun lagi-lagi kita tak menemukan hal terang-benderang mengenai hal itu, kecuali kau mau manyun sedikit dan menenangkan diri, kemudian manggut-manggut di beberapa bagian menyadari novel ini berkisah tentang dirinya sendiri. Apakah seni harus melayani manusia, ataukah manusia harus melayani seni? Jawab saja sendiri. Tantangan terberat membaca novel ini tentu saja memahami humornya. Sebagaimana penerjemahnya mengakui, bukan hal mudah menerjemahkan Gombrowitcz. Ia tak semata-mata menulis dalam bahasa Polandia, tapi terutama ia menulis dalam bahasa Gombrowitcz. Hanya penulis yang sudah mencapai tingkat ilmu ketujuh bisa melakukannya, dan si penerjemah harus mengupas ilmunya selapis demi selapis, agar pembaca jelata macam tutup botol Fanta bisa mengerti sekaligus tak tersesat dan dibikin gila. Kenapa saya mempergunakan metafor-metafor jelek macam begitu? Itu tidak jelek, Kawan. Grombowitcz jelas sudah melakukannya lebih dulu daripada a-be-geh-a-be-geh di media sosial, dan ia melakukannya dengan lebih baik, lebih bertubi-tubi. Ini novel yang harus dibaca banyak orang, betapa pun sulitnya, untuk menjajal apakah kita punya kepala benar-benar kepala atau sekadar “mangkuk”, dan bokong kita benar-benar bokong dan bukan sekadar alas untuk gaplokan tangan. Dan jangan tersinggung dengan kata-kata yang agak kasar tersebut. Itu tak ada apa-apanya dengan cara sang penulis menutup novelnya: “It’s the end, what a gas. And who’s read it is an ass!” Salam kepala isi mangkuk!

The Lottery and Other Stories, Shirley Jackson

“The Intoxicated”. Kisah komikal tentang seorang lelaki parobaya yang jengkel harus mendengarkan seorang gadis enam belas tahun nyerocos tentang masa depan dunia yang berantakan dengan penuh sok tahu. Mungkin ia jengkel bukan karena gagasan si anak gadis, tapi jengkel kepada dirinya karena terintimidasi oleh si gadis muda. Di dunia di mana kaum lelaki merasa lebih superior daripada perempuan, dan orang tua merasa lebih hebat dari orang muda, menemukan seorang gadis muda duduk di meja makan dan bicara dengan penuh percaya diri, memang mengintimidasi. Sampai-sampai si lelaki menyuruh si anak gadis untuk membeli saja majalah film (daripada mikirin masa depan dunia). Saya sering melihat lelaki yang terintimidasi oleh perempuan dengan cara seperti ini, sebagaimana orang tua oleh anak muda. Dan itu menyedihkan. Atau menurut Shirley Jackson, menggelikan. “The Daemon Lover”. Kisah kocak yang lain, tentang seorang gadis yang dipermainkan lelaki pemberi-harapan-palsu. Shirley Jackson memang pengamat yang jitu, dengan dingin memblejeti sisi menggelikan maupun menyedihkan dari manusia, perempuan maupun lelaki. Di hari pernikahannya si gadis mencari-cari calon suaminya yang menghilang. Dia bertanya ke sana-sini, dan pada saat itu pula kita melihat aneka warna manusia, sekilas demi sekilas, tapi seperti di cerpen-cerpen lainnya, membentuk juga watak konyol (dan bengis) masyarakat. “Like Mother Used to Make”. Seperti kamu memelihara seekor kucing, dan kucing itu kemudian menjadi raja di rumahmu sementara kamu menjadi budak. Pesan moral: jangan kelewat baik, orang-orang akan merampokmu. “Trial by Combat”. Cerpen-cerpen karikaturalnya, terus-terang, mengingatkan saya kepada O. Henry. Tentu saja dengan warna yang lebih urban, olok-olokan kejam kepada tokoh-tokohnya, terutama kepada kelemahan jiwa mereka. Tentang seseorang yang jengkel karena kehilangan barang-barang sepele, dan ketika menemukan siapa pencurinya … baca saja ceritanya. “The Villager”. Shirley Jackson merupakan biang yang sering membuat tokoh-tokohnya tiba-tiba menjadi aktor dalam situasi kikuk dan aneh. Tidak, mereka tidak mendadak berubah karakter. Mereka semata-mata memerankan seseorang lain dalam situasi yang aneh. Katakanlah di cerpen ini, seseorang datang ke sebuah apartemen kosong untuk melihat perabot yang akan dijual. Mendadak muncul calon pembeli lain, dan si orang pertama, dalam kekikukkan yang aneh, menemukan dirinya berpura-pura menjadi tuan rumah pemilik perabot. Tentu saja di bagian seperti itulah kisah-kisah ini demikian kocak, sekaligus menguak bagian terdalam dari jiwa-jiwa yang rawan, seperti orang-orang desa yang terserak di kota besar macam New York ini. “My Life with R.H. Macy”. Satir gokil tentang karyawan Macy (ini nama jaringan toko). Bagi tempat kerjanya, ia hanya dikenal dengan kode: 13-3138. Tiba-tiba saya membayangkan sebuah novel tanpa nama-nama, kecuali deretan angka seperti itu. Bisa mampus mengingatnya dan untunglah ini cuma cerita super pendek.

“The Witch”. Pernah ngelarang anak untuk ngobrol dengan orang asing? Pernah juga menyuruh anak untuk bersikap ramah kepada orang lain? Bagaimana kalau anak bersikap ramah dengan seorang penyihir? Shirley Jackson selalu berhasil membuat kita gelisah dengan kelakuan tokoh-tokohnya. Mereka senang saling menyiksa satu sama lain. Kalau tak mau menderita, mendingan kita tertawa di atas penderitaan mereka. “The Renegade”. Anjing. Ini memang tentang anjing. Gara-gara anjing mengigit ayam peliharaan, hidup menjadi anjing. Urusan sepele, di tangan Jackson menjadi drama satu babak yang anjing. Kita harus belajar perkara ini dari Jackson: menciptakan arus tenang di permukaan untuk menyembunyikan arus kencang di kedalaman. Anjing. “After You, My Dear Alphonso.” Saya dibikin nyengir oleh rasa terluka Nyonya Wilson, yang menawari seorang anak negro baju-baju bekas anaknya. Si anak negro menolaknya karena punya baju banyak di rumah. Terluka. Benar-benar terluka sampai si nyonya ngomong, “Banyak anak sepertimu, Boyd, yang akan sangat berterima kasih untuk pakaian yang diberikan seseorang dengan sangat baik kepada mereka.” Ledekan perih untuk rasialisme. Seolah anak negro selalu harus jadi tempat orang berderma. “Charles”. Ketika anakmu untuk pertama kali masuk ke taman kanak-kanak, kamu berpikir tahapan baru dalam hidupmu berubah. Juga anakmu. Kamu bangga anakmu tumbuh. Yang kamu tidak sadar, barangkali anakmu tumbuh menjadi sesuatu yang tak kamu duga. Kembali Shirley Jackson menikammu dengan telikungan cerita ala sopir bajaj Jakarta. Kamu harus selalu berpegangan erat jika tak mau terpelanting. “Afternoon in Linen”. Sama seperti cerpen sebelumnya, ini tentang kelakuan anak-anak. Kali ini seorang gadis kecil yang jago main piano dan bikin puisi. Setidaknya itulah yang dikatakan si nenek. Ia tak pernah tahu, si anak punya pendapat sendiri mengenai dirinya sendiri, dan tak ada yang bisa mencegahnya. Kadang-kadang orangtua memang perlu dipermalukan di muka umum. Setidaknya begitulah menurut Shirley Jackson. “Flower Garden”. Kesongongan orang tua, masyarakat, dan rasialisme (atau dengan kata lain: kesongonan kulit putih), merupakan tema yang berkali-kali muncul di cerita-ceritanya. Ia selalu menemukan sudut paling menarik untuk diceritakan. Bayangkan seorang janda beranak satu pindah ke satu kota. Lalu untuk mengurus kebun bunganya, ia memperkerjakan seorang negro duda yang kalau bekerja bertelanjang dada. Bayangkan apa yang dipikirkan lingkungannya yang puritan dan penuh prasangka itu. “Dorothy and My Grandmother and the Sailors.” Kembali Shirley Jackson mengolok-olok praduga masyarakat. Kali ini tentang para pelaut yang dibayangkan bejat dan suka mengganggu anak-anak gadis.

Setelah separoh dari cerpen-cerpennya saya baca, saya mulai merasa Shirley Jackson merupakan penulis yang kejam. Bahkan cenderung brutal. Brutal mengolok-olok, kejam memblejeti topeng-topeng karakternya. Ia seperti pyton pembunuh, yang dengan dingin membelit dengan cerita-ceritanya. Perlahan, tapi makin lama makin kencang, hingga membuat orang terengah-engah menggapai oksigen. Demikian perlahan, cerita-ceritanya sekilas tampak seperti rekaman percakapan, atau lebih tepatnya gosip ibu-ibu (dan bapak-bapak) di lingkungan rumah, dan ketika sampai di ujung cerita, kita baru sadar telah tercengkeram dengan hebat. “Colloquy.” Percakapan aneh antara dokter (yang pasti jengkel dan tak sabar) dengan pasennya. Apa sih kegilaan? “Elizabeth”. Saya paling tak suka membaca kisah tentang para penulis, atau lingkungan mereka (meskipun ada beberapa perkecualian). Cerpen ini bercerita tentang seorang agen sastra, tapi tak banyak bicara soal pekerjaan itu. Justru ia bicara tentang hal yang bisa terjadi di mana pun, di kantor mana pun: perasaan cemburu. Selalu menarik mengamati bagaimana seseorang dibakar api cemburu dan pada saat yang sama menampik perasaan tersebut. Hingga akhirnya terbakar sendiri oleh api tersebut. “A Fine Old Firm.” Sekali lagi percakapan para perempuan. Di luar perkara arus tenang di permukaan dan arus deras yang mengalir di kedalaman, percakapan-percakapan di cerita-cerita Shirley Jackson juga memancarkan kilau yang berpencaran ke mana-mana, barangkali dipantulkan oleh riak-riak dalam percakapan tersebut. Dua ibu yang baru pertama kali bertemu, membicarakan dua anak lelaki mereka yang bersahabat dan sedang membela negara di tempat jauh. Tampak sederhana tapi riaknya menyenangkan untuk dinikmati. “The Dummy.” Dua nyonya masuk ke restoran dan meledak dalam kejengkelan. Sekali lagi, Shirley Jackson memang garang dan brutal. “Seven Types of Ambiguity.” Sepasang lelaki-perempuan tua masuk ke toko buku ingin membeli beberapa koleksi buku. Pokoknya buku yang keren, macam Dickens. Aku suka Dickens waktu kecil. Pokoknya yang kayak Dickens. Saya tak tahu apakah Shirley Jackson sedang menertawakan orang-orang snob yang sok melek sastra, yang saya tahu, ia kemudian menghadirkan bocah kecil yang sering datang ke toko itu untuk numpang baca (tapi tak mampu beli). Kadang-kadang memang perlu seseorang memberi tahu apa artinya senang membaca, dan bukan sekadar gaya-gayaan suka membaca. “Come Dance with Me in Ireland.” Kembali ke isu prasangka. Kali ini korbannya seorang penjual asongan yang pingsan di depan rumah. Ia kelaparan atau mabok? Antara menolong orang kelaparan dan melarang membawa masuk lelaki asing ke rumah, mana yang lebih penting?

Cerpen-cerpen Shirley Jackson bukan jenis cerita yang penuh drama. Sekilas ia tampak seperti sketsa, bahkan pada cerita-ceritanya yang panjang sekalipun. Ia membiarkan orang-orangnya bicara satu sama lain. Kadang-kadang ia mengeluarkan isi hati mereka, pikiran mereka. Ia akan membuka ceritanya dengan kejadian-kejadian yang sangat biasa: tokohnya bangun tidur, atau bertemu seseorang dan bicara, atau sedang memasak dan mendengar anaknya bicara dengan seseorang. Ia bahkan sering tak terlalu peduli, setidaknya tidak berlebihan, kepada lanskap. Ia menjelaskan sekilas tentang rumah, apartemen, jalanan kota, atau kantor. Sekilas saja. Yang terpenting dalam cerpen-cerpennya selalu manusia dan apa yang mereka bicarakan. “Of Course”. Setiap bertemu sekelompok orang dan sebagian di antara mereka adalah perempuan berjilbab, saya selalu bingung harus memutuskan sesuatu dalam sepersekian detik: apakah perlu bersalaman atau tidak? Soalnya kadang ada yang mau salaman, dan ada yang tidak (saya sendiri senang bersalaman dengan orang). Kalau di antaranya ada yang bilang, “Maaf saya tak bersalaman dengan yang bukan muhrim”, saya kira saya akan tersenyum dan berkata, “Tentu saja.” Of course. Sial, cerpen ini bahkan bisa diterapkan untuk banyak situasi, bahkan di tempat dengan peradaban dan kerumitan sosial yang jauh berbeda. “Pillar of Salt”. Problem manusia modern, bahkan sejak masa Shirley Jackson, ternyata tetap sama: bagaimana mengelola waktu. Bahkan banyak di antara kita tak tahu bagaimana caranya bersenang-senang di waktu liburan. Tahu-tahu kita sudah menghabiskan beberapa hari dan tak merasa telah menikmati hidup. Waktu dan tempat tak hanya merupakan dua perkara kosmologis, tapi juga bisa menjadi pembunuh yang keji. “Men With Their Big Shoes”. Pernah merasa pembantu rumah tanggamu berkuasa melebihi dirimu di rumah? Tidak persis seperti itu, memang. Juga tak persis seperti kucing peliharaan yang menindas tuannya. Tapi perasaan memiliki kuasa penuh atas orang lain mungkin hanya perkara untuk menutupi bahwa kita tak memiliki kuasa apa-apa sebenarnya. Cerpen-cerpen Shirley Jackson, terutama di cerpen ini, seperti puncak dari sejenis filsafat. Filsafat kejengkelan dan prasangka diri yang berlebihan. “The Tooth”. Ini komedi yang gila-gilaan tentang seorang perempuan yang harus melakukan perjalanan mempergunakan bus malam ke New York karena sakit gigi. Jangan tertawa. Sakit gigi sama sekali tak lucu. Saya pernah mengalaminya. Beberapa kali. Dan ini tidak lucu. Cuma Shirley Jackson yang membuatnya terasa lucu, sebab dia memang sadis dan kurang ajar. “Got A Letter from Jimmy”. Seperti pelampiasan dendam kaum perempuan terhadap kaum lelaki. Jangan pikir lelaki juga tak cengeng dan kalau sudah bertengkar, sering membuatnya berlarut-larut. “The Lottery”. Sering disebut-sebut sebagai cerpen terbaiknya. Ketika dimuat pertama kali di The New Yorker, cerpen ini memperoleh tanggapan (surat-surat berdatangan ke meja redaksi) paling banyak dalam sejarah mereka, sebagian besar terkejut oleh kebrutalan cerpen ini (tak hanya surat berisi makian, tapi juga bahkan banyak yang memutuskan berhenti berlangganan majalah itu). Sekali lagi, Shirley Jackson memang brutal, dan cerpen ini memang puncaknya. Segala hal yang saya sebut-sebut di cerpen-cerpen sebelumnya, nyaris bisa ditemukan di cerpen ini. Ketenangan yang menggoda, percakapan-percakapan sepele yang seolah tanpa juntrungan, tokoh-tokoh yang berseliweran, lanskap yang sekilas-sekilas saja. Kejadiannya hanya sekitar dua jam, di suatu hari bertanggal 27 Juni, hari di mana kota itu (sebagaimana kota-kota lain) mengadakan undian. Semua orang datang bergegas agar tak kehilangan momen penting tersebut. Anak-anak datang lebih dulu, penuh kegembiraan. Orangtua mereka datang kemudian. Sekilas tampak seperti acara kota sebagaimana biasa, hingga kau tahu, bahwa ini tidak biasa. Ini bukan sesuatu yang kau inginkan terjadi di kotamu. Kau tak akan merasa bahwa cerpen ini merupakan cerpen horor, tapi ia lebih meneror dari kebanyakan cerpen horor yang pernah kau baca.

Kita Semua Medioker dengan Cara Sendiri

Belakangan beberapa teman penulis ikutan marah dengan fenomena ustadz karbitan. Ustadz yang menurut mereka enggak punya riwayat pendidikan panjang dalam soal agama, enggak jelas sanad keilmuannya, tapi dengan mudah berkhotbah bahkan di layar televisi nasional. Hasilnya tentu saja kegaduhan dan pendapat-pendapat yang tak jelas dasarnya. Hal yang sama juga terjadi ketika orang tak punya latar pendidikan dan kepakaran dalam soal sejarah atau antropologi, tiba-tiba bicara tentang agama yang dianut Majapahit, atau tentang siapa yang membangun Borobudur. Sebagian jengkel, marah, meskipun ada juga yang menanggapinya sebagai sejenis lelucon. Jujur saja, kadang saya pengin juga bertanya, kok elo enggak marah dan jengkel dan tersinggung, kalau melihat fenomena yang sama di kesusastraan atau kesenian? Banyak kok yang enggak jelas riwayat keilmuannya, tapi koar-koar seolah paling tahu tentang kesusastraan, tapi jadi juri misalnya, tapi jadi pemegang meja editor misalnya (dan lulusan filsafat sok-sokan nulis novel)? Kadang memang mudah marah untuk hal-hal lain, dan mudah memaafkan jika itu terjadi di lingkungan sendiri. Permisif, kata orang. Kita marah untuk fenomena di bidang ilmu agama atau sejarah, menuntut mereka untuk menegakkan kompetensi, memberlakukan ilmu-ilmu terebut dengan standar yang ketat; tapi abai untuk menuntut hal yang sama di bidang sendiri. Kenapa? Mungkin karena berpendapat, semua orang boleh bersastra dan semua orang boleh membicarakan hal itu. Ini fenomena yang sama dengan kebiasaan kita, kaum penulis dan seniman, yang garang mengkritik praktek-praktek kekuasaan. Kita benci kekuasaan yang korup, benci raja yang tak mau turun dari singgasana. Tapi pernahkah terpikir bahwa kita sendiri adalah “raja-raja kecil” dalam kesusastraan yang tak mau turun dari singgasana? Yang memiliki kekuasaan sedikit kemudian menyalahgunakan kekuasaan tersebut? Sederhana saja: jika di koran ada 52 minggu setahun, berapa banyak yang mau turun dari “singgasana” dengan tak menulis cerpen di sana, untuk memberi tempat pada tunas baru (ya saya tahu, pertanyaan ini menjengkelkan)? Tentu saja kritik seperti itu ada, tapi biasanya dari gembel jelata. Raja jarang mengkritik raja, apalagi mengkritik dirinya sendiri. Baiklah, kembali kepada kompetensi. Produk bawaan dari zaman modern. Rohnya masih gentayangan tentu saja sampai sekarang. Sebagian orang masih berharap hanya ustadz atau santri yang boleh bicara tentang ilmu agama. Sebagian masih berharap profesor atau peneliti yang melakukan kajian dengan standar ilmiah bicara tentang sejarah. Profesor fisika yang menerangkan apakah bumi itu bulat atau datar, dan bagaimana posisi planet-planet. Kita marah karena kuatir, tradisi keilmuan yang telah dibangun berabad-abad bisa runtuh oleh ocehan-ocehan tak jelas dari gerombolan medioker ini. Tapi sekali lagi, elo enggak marah jika hal itu terjadi di kesusastraan atau kesenian? Itu juga terjadi, dan mungkin lebih sering. Atau karena sering banget, sampai kebanyakan tidak sadar dan lupa untuk marah dan jengkel? Mungkin. Saya juga pernah marah, juga pernah jengkel. Mungkin karena saya menganggap kesusastraan sama pentingnya dengan ilmu sejarah, ilmu agama, antropologi atau fisika. Atau bahkan lebih penting. Tapi itu kemarin dulu, sih. Sekarang sudah enggak jengkel lagi. Sudah selow. Pascamodernisme sudah mengajari kita, bukan? Bahwa iklan obat kuat bisa sama pentingnya dengan tetralogi buru Pramoedya, dari aspek semiotik, sejarah maupun estetik? Bahwa segala sesuatu, termasuk kebenaran, adalah konstruksi pemaknaan yang relatif (tergantung siapa yang ngomong, di mana, di zaman apa, konteksnya apa). Dan berlaku sebaliknya, dong: mau gembel atau profesor, raja maupun jelata, boleh dong ngomong politik, sejarah, agama, atau sastra? Orang boleh merasa risi dengan fenomena kaum medioker bicara gaduh di sana-sini seolah-olah ahli, tapi pikirkanlah: kita semua medioker kok, dengan cara sendiri-sendiri. Satu-satunya hal yang perlu dilakukan, saya rasa, adalah kejujuran untuk mengungkapkan kekurangan di bidang-bidang ini (yang kita geluti atau tidak), semacam disclaimer, tanpa mengurangi hak-hak siapa pun untuk memiliki gagasan dan pendapat. Sejarah ilmu (juga filsafat, sastra, seni, dll), kenyataannya juga dipenuhi oleh gagasan-gagasan konyol dan tolol, dan dengan itulah peradaban berjalan. Saya sendiri percaya bumi itu datar. Datar sedatar-datarnya, tapi massa membuat ruang dan waktu melengkung. Datar seperti permukaan bola. Saya memang tak percaya surga tempat pesta seks (kalau mau, bisa melakukannya di dunia). Tapi seperti Borges, saya percaya di surga ada perpustakaan yang sangat komplet di mana saya bisa membaca semua buku yang ada (jangan tanya saya apa dalilnya, saya enggak tahu). Kalau mau jengkel, setidaknya jengkellah pada hal-hal yang lebih dekat dulu, siapa tahu itu membuat peradaban maju lebih cepat. Ambil segelas bir (atau kopi), duduk manis, dan nikmati hidup. Terakhir, jangan tersinggung dengan tulisan ini. Sesama medioker mbok jangan gampang tersinggung.

Disclaimer: penulis tak pernah belajar sastra secara formal, hanya gandrung baca dan tidak seberapa banyak. Kemudian sok-sokan menulis empat novel dan beberapa kumpulan cerita. Secara formal belajar filsafat, itu pun lulus dengan nilai pas-pasan

The Call of Cthulhu and Other Weird Stories, H.P. Lovecraft

Kesusastraan dengan cara sederhana merupakan dua kutub penjelajahan terhadap yang gelap, yang tak diketahui, didorong oleh rasa ingin tahu maupun hasrat untuk menguasai. Penjelajahan pertama adalah menafsir hal-hal gelap menjadi sesuatu yang bisa dipahami, dengan menjalin simpul-simpul yang mencuat ke dunia yang lebih benderang. Ini berlaku untuk novel-novel detektif maupun fiksi sains, bahkan dalam cerpen-cerpen filosofis nan magis Borges. Penjelajahan kedua adalah menceburkan diri ke dalam kegelapan, melihat sendiri ada apa di sana, bahkan meskipun hasilnya merupakan sesuatu yang tak terjelaskan alias tetap gelap. Ini berlaku untuk kebanyakan novel-novel horor, weird, sebagian fiksi sains, dan saya kira H.P. Lovecraft berada di sana. Ia merupakan penunjuk jalan, pemandu dunia gelap, dan sialnya ia tak pernah bermaksud menjadi pemandu yang baik dalam arti membebaskan kita dari ketersesatan. H.P. Lovecraft bisa dianggap sebagai pemandu dunia gelap dan ia sendiri adalah bagian dari dunia itu, bagian dari terornya sendiri. Itulah yang paling brengsek dari penulis satu ini. Sebagian besar cerpen-cerpennya, setidaknya di kumpulan The Call of Cthulhu and Other Weird Stories ini, merupakan sejenis laporan yang dituliskan, atau diceritakan oleh penyintas dunia gelap yang sanggup melarikan diri dari teror. Itu cara terbaik untuk menggambarkan dunia Lovecraft. Paparannya yang membabi buta adalah kegandrungannya terhadap peta: ia menghadirkan apa saja untuk menggambarkan lanskap di sekeliling dunianya. Dalam cerpen yang paling mendekati mimpi buruk, “The Shadow Over Innsmouth” di mana si tokoh terjebak di satu kota aneh (dengan bus yang menuju kota itu hanya berisi tiga penumpang saking tak ada yang mau lewat di sana, dan penduduk dari daerah lain yang terpaksa bekerja di sana tak berani kelayapan di malam hari, dan makhluk-makhluk berbadan manusia dan berkepala ikan bisa lewat di depanmu), Lovecraft menggambarkan peta kota itu. Jalan-jalannya, gedung-gedungnya, taman-tamannya. Bagian mana yang terpapar sinar rembulan, bagian mana yang menguarkan aroma amis. Di cerpen “The Haunter of the Dark”, ia menggambar peta sebuah gereja tua, yang menyimpan misteri berbeda bagi pengunjung nekat yang berbeda. Sebagai pemandu, tentu ia memang harus melakukannya. Peta itu bukan untuk membuat kita mengerti hamparan lanskap di sana; tapi terutama dibuat agar kita mengerti, di sanalah teror itu akan berada dan kita sadar hanya celah-celah kecil yang bisa membuat kita terbebas dari sana. Kita memerlukan peta semacam itu sebab, dalam cerpen-cerpennya, Lovecraft selalu mengajak kita ke sebuah dunia yang kita kenali, tapi sekaligus dunia lain. Dunia lain dalam makna yang sebenarnya: kaum pendatang dari negeri antah-berantah, makhluk yang tak pernah ada dalam khasanah bumi dan penghuninya, makhluk semi dewa. Cerpen-cerpennya penuh dengan kisah dan upacara pemujaan terhadap makhluk-makhluk ini, dan menampilkan ekspresi yang bengis dari manusia: tak berdaya dan menjadi budak, jika bukan buronan. Kadang-kadang dunia asing itu muncul dalam bentuknya yang paling aneh, tidak mawujud kecuali dalam berkas cahaya seperti di cerpen “The Colour Out of Space”. Cahaya itu datang bersamaan dengan jatuhnya batu meteor ke sebuah lahan peternakan, dan sejak itu, cahaya tersebut menjadi teror “yang mengisap kehidupan”. Orang-orang di kota Arkham (kota ini selalu muncul, secara langsung atau tidak) bahkan tak berani membicarakannya lagi. Melalui kisah-kisah horor atau aneh (kadang dengan balutan fiksi sains dalam cerpen semacam “Herbert West — Reanimator”, sisi lain dari Frankenstein yang kocak sekilagus mengerikan), Lovecraft menyajikan tragedi manusia menghadapi dunia lain yang asing dan gelap. Kita mencoba bersahabat dengan kegelapan untuk terjebak di dalamnya, dan mencoba melawan hanya untuk dikalahkan. Lovecraft tak menyajikan dunia terang yang menghibur, ia pemandu kejam dunia kegelapan itu sendiri.

A Grain of Wheat, Ngũgĩ wa Thiong’o

“Kami pergi ke gereja. Mubia, dengan jubah putih, membuka Injil. Ia berkata, berlututlah untuk berdoa. Kami berlutut. Mubia berkata: Pejamkan mata. Kami melakukannya. Kau tahu, ia tetap membuka mata sehingga ia bisa tetap membaca. Ketika kami membuka mata, tanah kami telah lenyap dan pedang api berdiri berjaga.” Saya tak menemukan ungkapan sesederhana sekaligus tepat ke jantungnya tentang kolonialisme, melebihi apa yang saya baca di novel Ngũgĩ wa Thiong’o, penulis Kenya, A Grain of Wheat. Seseorang pernah mengingatkan saya bahwa agama, uang dan negara (bangsa, kerajaan, dan segala ide tentang komunitas-bangsa) merupakan tiga kekuatan yang sering menyatukan umat manusia. Saya bisa menambahkan: tiga hal itu juga yang sering menghancur-leburkan manusia dan peradabannya. Persekutuan agama dan hasrat menyebarkan peradaban dan nilai-nilai serta kerakusan yang didorong oleh uang telah menyebabkan kolonialisme, salah satu kebrutalan dalam sejarah dunia modern, dan ide tentang negara-bangsa berkelindan di sana membuatnya semakin rumit. Jelas ini novel politik, dalam tradisi yang sangat gamblang tentang perjuangan kaum tertindas melawan kaum penindas. Kisahnya sendiri berkelindan di sekitar hari-hari menjelang kemerdekaan Kenya dari pendudukan Britania, melibatkan beberapa tokoh yang tak hanya membuat novel ini sebagai sebuah novel sejarah, tapi juga sebuah epik sosial dalam sebuah pertanyaan besar, “Apa artinya menjadi bebas, menjadi merdeka?” Kita dihadapkan kepada aksi-aksi heroik, tapi sekaligus dihajar oleh pertanyaan mendasar, apa artinya menjadi pahlawan? Siapa sebenarnya pahlawan? Setelah membaca novel ini, saya rasa hal terbaik untuk membicarakannya adalah dengan mengambil satu-dua kutipan darinya dan melihat kembali apa yang terpancar dari sana. “Pengecut hidup untuk melihat ibunya sementara sang pemberani mati di medan pertarungan,” begitu novel ini berkata di satu tempat. Perjuangan kaum tertindas melawan para penindas, kita tahu tak sesederhana satu pihak lemah melawan pihak yang kuat. Novel ini menunjukkan hal yang lebih rumit dari itu: adalah perjuangan melawan ambisi-ambisi pribadi, baik di kalangan kaum tertindas maupun penindasnya sendiri. Aksi paling heroik justru bukanlah ketika seorang pahlawan berdiri menghadapi musuh dan menembaknya dengan dingin, atau bertahan dalam interogasi yang membawanya pada penyiksaan fisik; tapi justru ketika kita menghadapi manusia-manusia yang mengakui kelemahan-kelemahannya, kebusukannya, bahkan pengkhianatan-pengkhianatannya. Tak hanya pengkhianatan kepada kawan-kawan seperjuangan, tapi terutama pengkhianatan kepada tanah air dan bangsanya. Seluruh sosok di novel ini, dengan cara yang menyakitkan, pahlawan di hari kemerdekaan sekaligus pengkhianat dan pengecut yang menyedihkan, dan mereka menyambut hari tersebut dalam kabut ketidakpastian [dan bukan ironi: pejuang yang dipuji-puji di novel ini, yang kemudian menjadi penguasa Kenya, di kemudian hari mengirim penulis novel ini ke penjara]. Penuh kebrutalan tapi juga kejujuran, Ngũgĩ tak hanya melucuti watak-watak kolonial yang bengis, rakus, juga menelanjangi watak-watak budak yang menyerah dan menerima keadaan. Ada satu episode kecil tentang sebuah keluarga. Si ayah sering menyiksa si ibu, hingga akhirnya si anak lelaki datang melawan ayahnya. Tapi apa yang terjadi? Si ibu datang dan membela si ayah, menyerang si anak. “Baru belakangan ia melihat begitu banyak orang Kenya dengan bangga mempertahankan perbudakannya di mana ia bisa mengerti reaksi ibunya,” demikian si anak menyadari. Seperti kebanyakan novel politik, kisah ini juga memperlihatkan arsitektur tentang kekuasaan yang tak selalu bersikap dikotomis penindas dan tertindas. Sebagian kaum tertindas bersekutu dengan penindasnya, memperoleh sedikit kekuasaan, untuk menindas yang jauh lebih lemah. Kaum tertindas mengkhianati kawannya sendiri, untuk memperoleh sedikit kekuasaan, agar bisa bertahan di dunia yang menghancur-leburkan segala. Dan bahkan di antara pejabat-pejabat kolonial, mereka saling sikut, untuk mempertahankan kuasa masing-masing, sehingga bolehlah kita tengok apa yang dikatakan novel ini di bagian nyaris akhir: “Belakangan, kesadaran akan kuasa, kemampuan untuk menghancurkan kehidupan manusia hanya dengan menarik pelatuk, begitu memberi obsesi kepadanya sehingga menjadi kebutuhan.”

The Street of Crocodiles, Bruno Schulz

Seorang pencerita adalah seorang penyihir yang mengubah benda-benda menjadi apa pun yang diinginkannya, persis sebagaimana dilakukan anak-anak dengan mainan mereka. Saya menyadari hal itu ketika satu hari melihat anak saya menjadikan botol bekas sebagai pesawat terbang, boneka sebagai monster, kotak-kotak pembungkus sebagai makanan yang lezat terhidang di atas meja, dan kolong meja sebagai istana megahnya, sambil menjadikan dirinya sendiri seorang puteri dari kerajaan antah berantah. Bruno Schulz adalah salah satu penyihir itu, penyihir yang memiliki kualitas terbaik sifat kekanak-kanakan abadi, yang menjadikan kecoa sebagai penyusup misterius di kolong meja, burung-burung membangun imperium dan menguasai loteng apartemen, seorang gelandangan yang tertidur di rerumputan menjelma Dewa Pan, koleksi perangko sebagai ensiklopedia yang mengetahui segala tempat dan seluruh sejarah dunia, dan peta kota dihidupkan menjadi lanskap tempat banyak peristiwa terjadi. Seorang pencerita adalah seorang penyihir yang bertarung dalam pertarungan abadi menghadapi kebosanan, melawan dunia yang beku dan hanya berputar dari satu musim ke musim lain dalam kemonotonan yang hambar. Cerita-cerita Schulz, yang sialnya hanya menyisakan dua kumpulan tipis The Street of Crocodiles dan Sanotarium Under the Sign of the Hourglass, serta tiga cerita pendek yang terpisah (buku yang saya baca merangkum semuanya), dipentaskan di lanskap yang seperti itu. Yang kehambarannya lebih menyiksa dan menderitakan melebihi sebagian besar tragedi umat manusia. Ia tak memerlukan dunia yang dilanda perang, ia tak memerlukan kota yang dilanda wabah penyakit, ia juga tak membutuhkan dunia misterius yang mengancam, maupun asmara yang menggelegak. Ia hanya membutuhkan lanskap kota dan musim yang membosankan, dan ia melawannya dengan keedanan seorang Don Quixote, sebab yang terpenting bagaimana ia menyihir semua itu menjadi lanskap yang hidup, dengan lelucon dan kesedihannya sendiri. Seorang pencerita adalah seorang penyihir yang menujum pembacanya dengan ramuan apa pun yang ada di tangannya. Di permukaan, kita tahu tak ada yang fantastik dari lanskap cerita-cerita Schulz. Ia hanya menceritakan sebuah keluarga, dari sudut pandang seorang anak (kadang ia menjelma remaja, lain kali menjadi lelaki dewasa). Seorang ayah yang gila, seorang ibu, kakak perempuan, penjaga toko, kadang-kadang muncul paman dan tetangga. Semuanya terjadi di apartemen mereka, kadang melebar ke kota, ke toko, ke sanotarium. Di luar itu, ia hanya memberi bumbu musim panas, atau musim semi, malam, topan. Sejujurnya saya sempat diserang pertanyaan, “Cerita macam apa ini? Mau dibawa ke mana kita?” Tapi di bawah permukaan, keluarga itu menjelma makhluk-makhluk fantastis, dengan peperangan, penemuan-penemuan spektakuler, petualangan asmara, pengalaman mencekam, dan saya kira hanya sedikit penulis, salah satunya Schulz, mampu melakukan hal itu untuk membuat kita terjebak di sana, diseret oleh pengaruhnya, tak berdaya untuk melepaskan diri. Seorang pencerita adalah seorang penyihir yang menjebak kita di dunia ambang, dunia nyata yang kita kenali, sekaligus di dunia imajinasi yang asing dengan segala pengaruhnya: membuat kita senang ataupun takut. Kita tak pernah benar-benar yakin, ketika si anak tersesat dari gedung teater ke rumah hanya untuk mengambil dompet ayahnya, apakah ia mengalami petualangan yang nyata atau khayalan. Apakah kota dan sanotarium itu dunia mimpi atau kenyataan sesungguhnya. Bahkan Schulz memaksa kita untuk berada di ambang fantasi, metafor atau sejenis hiperbola, ketika misalnya menulis, “Ia demikian tak punya pikiran di mana ia kadang membuat saus putih dari surat dan kertas tagihan tua”, sebagaimana kita selalu berada dalam kebimbangan apakah sedang menghadapi situasi komedi atau tragedi. Kita bisa memercayai segala hal yang terjadi di sini, sekaligus meragukannya. Jebakan dunia ambang ini, saya rasa, sudah terjadi bahkan di bentuknya. Apakah yang kita hadapi ini sekumpulan cerita yang bisa berdiri sendiri, atau sebuah novel yang aneh? Kamu bisa menganggap satu di antaranya, atau meragukan keduanya. Ia adalah kesinambungan sekaligus keterputusan di sana-sini. Seorang pencerita adalah seorang penyihir yang seringkali menakutkan, memiliki dunia sendiri yang kadang tak dipahami oleh manusia-manusia awam. Saya selalu menaruh curiga kepada novel-novel yang menyenangkan. Sebab, seperti makanan yang penuh dengan gula atau garam, seenak apa pun seringkali memberi jebakan berbagai penyakit. Makanan yang sehat, kata ibu saya, lebih sering tak enak dimakan. Buku yang baik, yang mengganggu saya, juga seringkali begitu. Saya tak akan bilang buku ini menyenangkan. Membacanya menuntut tak hanya nyali dan ketabahan, tapi juga pengendalian diri. Saya merasa bukan bagian dari buku ini, terlempar dan tertolak. Tapi ketika menyelesaikannya, ia menyisakan rasa pahit yang lama, yang tak mau hilang, dan bagian-bagian terbaik dari isinya terus menghantui saya setelah itu. Saya yakin ia tak akan pergi, akan terus bersemayam, seperti wajah monster menakutkan jika kau pernah sekali saja menemukannya. “Sebab buku-buku yang biasa itu seperti meteor. Masing-masing dari mereka memiliki satu momen, momen ketika ia menjulang menjerit seperti burung hong, seluruh halamannya membara. Untuk momen tunggal itu kita mencintainya, meskipun setelahnya mereka luruh menjadi abu.” Schulz jelas tak menulis buku macam begitu. Ia menciptakan monster. Seorang pencerita adalah penyihir yang membuka banyak pintu dan berbagai kemungkinan, bahkan meskipun ia hanya meninggalkan sedikit saja untuk kita. Hidup Schulz terbilang tragis. Ketika tentara Nazi datang ke kotanya, sebagai seorang Yahudi, ia tak sempat melarikan diri. Bakat menggambarnya menarik minat seorang perwira Jerman, yang memintanya menggambar mural untuk kamar anak. Ia memperoleh perlindungan. Sial, pelindungnya membunuh Yahudi lain, dan Jerman pelindung Yahudi itu membalas dendam. Menembak mati Schulz di jalan sambil berkata kepada kolega Jermannya: “Kau bunuh Yahudiku, kubunuh milikmu.” Ia hanya meninggalkan buku ini, serta setumpuk gambar dan surat-surat, tapi saya kira buku ini merupakan pintu luar biasa. Pintu yang bisa membawamu ke berbagai kemungkinan. Sejenis pintu yang telah dibuka oleh Kafka atau Cervantes. Pintu yang mustahil untuk ditutup kembali.

The Seven Madmen, Roberto Arlt

Makhluk-makhluk di novel ini tak hanya sekumpulan orang-orang gila, sampah masyarakat dan yang terabaikan, tapi juga sekaligus sebagai barang mainan dari dunia yang bengis. Buenos Aires bagi Roberto Arlt (seperti Jerusalem bagi Yesus, kata Roberto Bolaño), adalah padang gembalaan dengan domba-domba yang minta diselamatkan sekaligus sadar bahwa dunia hanya akan meluluh-lantakkan mereka, jika bukan dihancurkan oleh diri sendiri. Oleh ketololan dan kegilaan. Kesusastraan Argentina dari kejauhan, dari negeri tropis yang melenakan ini, seringkali berada di bawah bayang-bayang keglamoran Borges (juga Bioy Casares): intelek, penuh permainan, metafisis, dan tentu saja menyihir. Kehidupan yang berbaur dengan mitologi, sosok-sosok setengah filsuf, para gaucho yang beradu duel pisau, hingga teka-teki personal yang misterius. Tapi tidak, Kawan. Kesusastraan Argentina juga memperlihatkan sisi baliknya yang brengsek, gelap, kacau, dalam diri Roberto Arlt, yang hidup sezaman dengan Borges (meskipun lebih pendek). Brengsek bahkan dalam tingkatan yang paling menyedihkan: novel-novelnya dijejali dengan kesalahan tatabahasa dan logika yang ugal-ugalan (seperti disinggung Nick Caistor, penerjemahnya). Bagi para pemuja, ia jenius; bagi para pembenci, ia sampah. Dan seperti tokoh-tokohnya, Arlt merupakan yang terabaikan. Menggelandang ke sana-kemari, sesekali muncul kembali pengaruhnya dalam diri penulis belakangan. Cortazar atau Bolaño, bisa disebut. The Seven Madmen bisa dikatakan, sekali lagi, tentang orang-orang gila yang mencoba mengubah dunia. Atau lebih tepatnya, menghancurkan dunia yang telah menghancurkan mereka, yang telah melahirkan mereka dalam ketidakbahagiaan akut. Ketidakbahagiaan yang sudah bersemayam di dalam diri mereka, seperti dikatakan salah satu karakter, Hipólita. Pusat dari kegilaan ini barangkali terletak di diri Si Peramal, yang meyakinkan sekelompok orang gila lainnya untuk mendirikan kelompok rahasia dengan tujuan utama: melancarkan revolusi. Novel ini ditulis dan diterbitkan, persis beberapa tahun sebelum masa-masa yang penuh gejolak dalam politik Argentina, ketika tentara berkali-kali berusaha mengambil-alih kekuasaan, sebelum akhirnya berhasil dilakukan oleh Peron. Kejeniusan Arlt terletak bagaimana ia bisa menangkap seluruh keresahan itu, juga kegilaan, di zaman yang tak menentu. Rencana revolusi mereka barangkali merupakan rencana paling tolol yang pernah ada dalam sejarah revolusi, sebab mereka tak tahu persis apa dasar moral, dasar keyakinan, dari revolusi mereka. Si Peramal berkali-kali menyebut Lenin, juga Mussolini, juga bandit abad kesembilan belas bernama Abdala-Abn-Maimun, bahkan mengagumi organisasi Klu-Klux-Klan. Buat Si Peramal sebenarnya sederhana saja. Ia bisa menghasut kaum buruh dan merah dengan gagasan-gagasan revolusioner ala komunis, tapi menghadapi orang-orang religius, kita bisa mengumbar ayat-ayat kitab suci. Yang penting menggalang massa, yang penting membuat mereka senang. “Kebahagiaan manusia terletak dalam kebohongan metafisikal,” jika ada satu kutipan paling penting dari mulutnya, inilah kutipan itu, dan bisa jadi jika ada, inilah inti dasar revolusi yang diangan-angankannya. Dan kembali ia berkata melanjutkan sambil menerangkan si bandit Maimun yang dikaguminya: “Izinkan kukatakan bahwa pemimpin gerakan ini seorang sinis yang luar biasa, yang tak memercayai apa pun. Kita akan mengikuti contoh mereka. Kita akan menjadi Bolshevik, Katolik, fasis, ateis, militeris, tergantung tingkat inisiasi.” Bangsat betul, bukan? Ini dunia yang tidak dijejali pahlawan, tapi sekaligus tidak mengglorifikasi anti-pahlawan. Mereka bukan pahlawan juga bukan anti-pahlawan. Mereka hanya gembel-gembel yang penuh dengan ketulusan, impian, cinta kasih, sekaligus kesedihan, luka, kejahatan dan kedengkian. Gembel di luar dan gembel di dalam. Sebab, seperti kemudian dikatakan kembali oleh Si Peramal, semua manusia pada dasarnya gila, setidaknya di dalam pikiran. Yang membedakan satu dan yang lainnya: ada yang mengungkapkan pikiran-pikiran sintingnya, ada yang mendekamnya. Si tokoh utama (sebenarnya saya ragu mengatakan dia sebagai tokoh utama, mengingat kemunculan dirinya seringkali menjadi pengantar bagi kemunculan sosok-sosok lainnya di novel ini), Remo Erdosain bisa dibilang menyimpan kesintingannya rapat-rapat. Ia mencoba menghadapi hidup seolah semuanya baik-baik saja, padahal kita tahu, segala sesuatu di luar dirinya merupakan kekejian yang tak ada ampun untuk dirinya. Ia memandang dirinya sendiri sebagai penemu. Ia membayangkan banyak penemuan, dan bermimpi mewujudkan penemuannya serta menghasilkan uang. Tapi itu tak pernah terjadi. Uang tak pernah datang kepadanya dan penemuan-penemuan itu hanyalah gagasan-gagasan naif. Hidupnya berakhir menjadi tukang tagih, yang dengan sedikit kecerdikannya, bisa mencuri uang dari tuannya, yang belakangan menjadi masalah besar yang membuatnya terbenam jauh ke dalam lumpur dunia. Persoalannya tak hanya itu: ia menikahi seorang perempuan, yang tak hanya tidak pernah diciumnya, tapi juga tak pernah berani disetubuhinya. Ketika ia akhirnya mencoba menjamah isterinya, si isteri menolak, dan itu memaksanya untuk menghabiskan perkawinan mereka dalam masturbasi. Hingga satu hari, ia melihat isterinya pergi dengan lelaki lain. Ke mana-mana ia membawa pistol di saku celananya, dan memang pantas sekali jika ia punya pikiran untuk menembak kepalanya. Hanya satu pelor, logam kecil, dan segala ketidakadilan dunia dan ketidakbahagiaannya akan berakhir. Tapi makhluk-makhluk brengsek Buenos Aires ini dilahirkan untuk melata lebih lama, bahkan meskipun mereka tak sanggup sekadar menertawakan nasib, dan malahan berpikir untuk meluluh-lantakkan dunia untuk menatanya kembali. Arlt membawa mereka pada akhir yang jenius, juga menyedihkan sebenarnya. Memikirkan semua rencana revolusi itu, mereka terhenyak ketika seorang tentara berkata: “Organisasi kaum buruh bereaksi dan mengumumkan pemogokan; kata-kata ‘revolusi’ dan ‘Bolshevisme’ akan menyebarkan ketakutan sekaligus harapan. Kemudian, ketika serangkaian bom telah melanda seluruh kota, ketika semua selebaran sudah dibaca, dan agitasi revolusi sudah mencapai puncaknya, itulah waktu ketika kami orang militer mengambil alih …” Novel ini tak hanya membicarakan tujuh orang gila, tapi juga dunia yang sinting. Kita harus membaca lebih banyak Arlt, sambil mencabik-cabik apa yang kita pikir tentang novel dan kesusastraan.

The Man In The High Castle, Philip K. Dick

Di mana letak keindahan sebuah obyek, katakanlah benda seni? Di mana terletak keistimewaannya, nilainya? Di mana letak kesejarahan dari sepucuk senjata yang telah mengarungi banyak peperangan? “Di pikiran. Bukan di pistol itu,” kata Wyndam-Matson salah satu tokoh dalam The Man In The High Castle karya Philip K. Dick. Sebenarnya novel ini berkisah tentang sebuah andai-andai: jika Perang Dunia II ternyata dimenangi oleh Jerman dan Jepang, dan Amerika harus dibagi di antara kedua negara itu. Di masa seperti itulah kemudian muncul novel yang malah menceritakan andai-andai sebaliknya: Ternyata Sekutu menang (dan dunia dibagi di antara pengaruh Amerika dan Sovyet). Lelucon-lelucon politik dan ideologinya mengasyikkan, tapi sempilan-sempilannya tentang seni yang sebenarnya tak banyak, malah menarik perhatian saya. Seperti yang sudah saya buka di atas, di sana-sini kita bisa menemukan pembicaraan tentang seni, kadang sampai tingkat yang lumayan filosofis, kadang dalam tingkat ejekan atas selera seni kaum fasis (juga kapitalistik dengan produksi massalnya). Untuk membuktikan pernyataannya, Wyndam-Matson memperlihatkan dua geretan Zippo yang serupa. Satu di antaranya ada di saku Franklin D. Roosevelt ketika ia dibunuh. Bisa diketahui yang mana? Menurutnya, tidak. Sebab tak ada “penampakan lapisan mistis” atau “aura” dari benda itu. Kita sendiri yang menciptakan “aura” tersebut. Isu ini selalu menarik perhatian saya, tentang bagaimana sebuah karya memiliki nilai tertentu, dan benda lain dianggap sampah. Dan kita tahu, nilai-nilai itu bisa berubah, tak hanya karena yang menilai berbeda, tapi juga karena ruang dan waktu yang berbeda. Maka saya kira, eksploitasi karya seni (untuk tujuan apa pun), pada dasarnya merupakan eksploitasi pikiran manusia. Bentuklah pikiran manusia, satu generasi atau satu bangsa, maka akan terbentuk pula “selera” mereka mengenai seni seperti apa yang baik dan bagus, atau sampah. Bayangkan misalnya kesusastraan Indonesia. Saya sering curiga, kita tergila-gila dengan kesusastraan yang menampilkan watak-watak pahlawan. Sosok yang mau berjuang dan bahkan berkorban untuk orang lain, untuk kebenaran, atau untuk sebuah nilai. Sosok yang bisa jadi panutan. Saya yakin pikiran ini tentu saja dibangun oleh wacana yang barangkali sejarahnya jauh ke belakang, entah di mana. Karena itulah sangat jarang, bukannya tak ada, kita menemukan watak-watak yang sebaliknya: yang brengsek, sampah, tak membela apa-apa kecuali nafsu bejatnya sendiri. Padahal saya yakin, kesusastraan tak hanya membutuhkan model ideal, tapi juga cermin untuk melihat kebusukan, kelemahan dan sisi gelap manusia. Kembali ke novel ini, ada ejekan menarik mengenai selera kaum fasis Jerman, yang diucapkan karakter yang lain: “Aku suka Verdi dan Puccini. Apa yang kita dapatkan di New York hanyalah musik Jerman yang berat dari Wagner dan Orff yang bombastis, dan setiap minggu kita harus pergi ke pertunjukan dramatik Partai Nazi Amerika yang klise di Taman Madison Square, dengan bendera-bendera, genderang, terompet dan kembang api.” Tentu saja Nazi memang menyukai tontonan macam begitu. Seperti dikatakan Walter Benjamin (izinkan melipir sedikit, dengan mengutip dari esai “The Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction”), “Kaum fasis mengestetikkan kehidupan politik.” Atau jika boleh mempergunakan kata-kata sendiri, kaum fasis menciptakan aura dengan cara seperti itu, cara yang jitu untuk menggiring massa ke dalam politik, tapi pada saat yang sama membutakan mereka dari politik itu sendiri. Dibutakan oleh “aura”. (Saya bahkan yakin, kumis Hitler yang seperti itu juga memang sengaja sebagai upaya “mengestetikkan kehidupan politik”). Bayangkan orang-orang lapar, yang terpinggirkan secara sosial dan politik. Bukannya berpikir kritis, mengorganisir diri dan melawan secara politik, mereka malah silau oleh aura yang dibangun dalam kerangka “mengestetikkan kehidupan politik” ini: oleh jargon, oleh pawai-pawai (dengan sepeda motor tanpa helm?), emblem-emblem di baju seragam, bahkan oleh cara berpakaian Pemimpin Besar. Membawa pentungan, bahkan pedang, seolah sedang mempertunjukan sebuah teater. Mereka masuk ke dalam barisan, merasa bagian dari “aura” tersebut. Tak perlu jauh-jauh ke masa Perang Dunia II, gejala semacam itu bisa kita lihat hari-hari ini di mana-mana. Di sini, di barat maupun di timur. Ketergila-gilaan kepada aura ini bahkan bisa menciptakan sentimen yang absurd. Ketika si orang Jepang di novel ini mengusulkan si tokoh utama, Childan, untuk memproduksi massal (dengan cetakan) perhiasan logam (yang diciptakan oleh “artis” Amerika dengan tangan satu per satu), ia merasa tersinggung. Nasionalismenya terluka. Mental negeri jajahannya terbakar. Saya benar-benar tertawa di bagian ini, terutama karena Amerika yang kita kenal merupakan negeri yang dipenuhi “produksi massal”. Mungkin itu cara Philip K. Dick mengejek negerinya. Bagaimana melawan bias “aura” ini, yang tentu saja dikendalikan oleh sejenis otoritas (baik karena ideologi seperti kaum fasis, atau sekadar alasan komersial dari para pedagang)? Walter Benjamin punya jawabannya, alih-alih mengestetikkan politik, lebih baik “mempolitikkan seni.” Kata Benjamin, itu jawaban kaum komunis terhadap selera estetis fasisme. Hm, novel ini membawa saya ke mana-mana, ternyata.

Older posts

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑