Di puncak rezim yang penuh kekerasan, kisah ini bermula dari satu peristiwa: dua orang polisi memerkosa seorang perempuan gila, dan dua bocah melihatnya melalui lubang di jendela. Dan seekor burung memutuskan untuk tidur panjang. Di tengah kehidupan yang keras dan brutal, si burung tidur merupakan alegori tentang kehidupan yang tenang dan damai, meskipun semua orang berusaha membangunkannya.

 
“Eka Kurniawan: an unconventional writer.”
Weekender, The Jakarta Post

“Dalam Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, Eka menulis dengan semangat bermain-main yang cerdik dan lihai.”
Anton Kurnia, Jawa Pos

“Eka piawai menyisipkan makna yang tertebar di sana-sini.”
Heri CS, Suara Merdeka

“Seperti dua novel Eka sebelumnya, novel ini dipenuhi tokoh-tokoh dengan karakter yang “tidak waras”. Ketidakwarasan tokoh-tokohnya, di luar motif hasrat seks yang menggerakkan mereka, juga menjadi cermin dari ketidakwarasan zamannya.”
Aris Kurniawan, Koran Tempo

“Adakah main-main yang serius? Atau dibalik, adakah serius yang main-main? Bukalah buku Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas dan Anda akan mendapati implementasi dari kedua frasa ini sekaligus.”
T. Agus Khaidir, Harian Analisa

“Dialog dengan ‘kemaluan’ jadi ruang permenungan, melahirkan keyakinan-keyakinan tak biasa.”
Widyanuari Eko Putra, Kompas

“Eka Kurniawan’s Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (Love and Revenge) is an observation of masculinity that may come as an answer to a literary movement of woman writers who liberate themselves by discussing sexuality in their novels […] Wrapped in a Chinese kung fu-styled novel and almost as brutal and dark as Chuck Palahniuk’s Fight Club, Eka has maintained his place on the frontlines of Indonesian writers.”
Adisti Sukma Sawitri, The Jakarta Post

“Yang menjadi poin plus dari novel ini adalah cara penulis menjadikan penyakit Ajo Kawir tersebut menjadi sebuah alegori atas kehidupan yang tenang dan damai.”
Aliftya Amarilisyariningtyas, Kedaulatan Rakyat

“Sungguh sebuah fiksi yang apik, melenakan. Kita bisa merasa marah, sedih, tergugah di depannya, meski tahu itu hanya sebuah fiksi. Juga karya yang cerdas, di mana peristiwa-peristiwa sederhana mampu menebar renungan filosofis menyangkut kehidupan manusia.”
Andesta Herli, Singgalang

“Membaca novel ini, kita akan menemukan beberapa keistimewaan yang selama ini jarang diangkat oleh novelis Indonesia.”
Darul Azis, Tribun Jogja

Beberapa Ulasan


Sampul Lainnya

700-sdrhdt2014

Judul Lainnya: