Lelaki Harimau

Pada lanskap yang sureal, Margio adalah bocah yang menggiring babi ke dalam perangkap. Namun di sore ketika seharusnya rehat menanti musim perburuan, ia terperosok dalam tragedi pembunuhan paling brutal. Di balik motif-motif yang berhamburan, antara cinta dan pengkhianatan, rasa takut dan berahi, bunga dan darah, ia menyangkal dengan tandas. “Bukan aku yang melakukannya,” ia berkata dan melanjutkan, “Ada harimau di dalam tubuhku.”

“Eka menyajikan perkembangan menarik, dan akan kian kuat jika ia berhasil melebur habis pengaruh para pengilham besar. Lelaki Harimau ini lebih licin dari Cantik itu Luka.”
Nirwan Ahmad Arsuka

“Meski begitu, Lelaki Harimau, dilihat dari sudut itu, tetap saja menghadirkan kekhasannya sendiri. Selain pola alur yang demikian, Eka menggunakan kalimat-kalimat itu sebagai pintu masuk menghadirkan rangkaian peristiwa. Dengan demikian kalimat tidak hanya bertindak sebagai fondasi bagi pencerita untuk membangun peristiwa, juga sebagai pilar penyangga bagi peralihan peristiwa satu ke peristiwa lain melalui pergantian fokus cerita (focus of narration) dari tokoh yang satu ke tokoh yang lain. Dalam hal ini, Lelaki Harimau telah menunjukkan keunikannya sendiri.”
Maman S. Mahayana, Suara Pembaruan, 14/11/2004

“Kekuatan novel ini terletak terutama pada kekayaan dan ketepatan deskripsi pengalaman, pikiran, dan perasaan para tokoh utama yang membuat tingkah laku mereka menjadi meyakinkan secara psikologis. Kalau novel pertamanya dianggap aneh dan “tak bermakna” oleh Maman S Mahayana, antara lain karena alur cerita dan kelakuan tokoh-tokohnya “tidak masuk akal”, dengan terbitnya Lelaki Harimau terbukti secara gamblang bahwa Eka bukannya tidak mampu mengarang dengan alur yang realis dan masuk akal secara psikologis. Hanya, dalam Cantik Itu Luka memang bukan gaya penulisan ini yang menjadi pilihannya.”
Katrin Bandel, Kompas, 31102004

Judul Lainnya: