Gelak Sedih dan Cerita-cerita Lainnya

Edisi Gramedia Pustaka Utama, 2005
Ilustrasi sampul oleh Sigit Yulianto

Penerbit:

Aksara Indonesia, 2000 (Corat-coret di Toilet),
Gramedia Pustaka Utama, 2005

Tautan:

Harga: Rp. 37.500,-
Pesan di Sini
Baca Review di Sini
Baca Preview di Google Book

Daftar Isi:

Gelak Sedih (2006)
Gelak Sedih
Hujan
Bercinta dengan Barbie
Dongeng Terindah untuk Alamanda
Perempuan yang Bercinta dengan Iblis
Lelaki Sakit
Kasih Tak Sampai
Assurancetourix
Bibi

Corat-coret di Toilet (1999)
Peter Pan
Dongeng Sebelum Tidur
Corat-coret di Toilet
Teman Kencan
Rayuan Dusta untuk Marietje
Hikayat Si Orang Gila
Si Cantik yang Tak Boleh Keluar Malam
Siapa Kirim Aku Bunga?
Kisah

Kini di sinilah aku, sakit dan tampaknya hidupku akan berakhir. Aku berpikir mungkin sebenarnya penyakitku sungguh-sungguh bisa disembuhkan. Tetapi, masalahnya penyakitku begitu ruwet, serupa puisi kesedihan. Obatnya barangkali ada di suatu tempat, begitu mahal sehingga bahkan kami tak pernah mendengarnya. Pernah juga kudengar penyakit-penyakit aneh di radio dua band yang tak seharusnya bicara penyakit, dan kucoba kucocokkan dengan gejala-gejalaku. Aku membuat diagnosis sendiri dan merasa yakin atas dua atau tiga jenis penyakit. Tetapi, radio itu mengatakannya seolah menderita penyakit tersebut bagaikan piknik dan tersesat.
dari cerpen “Lelaki Sakit”

"Cerita-cerita pendek Eka Kurniawan adalah cermin kehidupan. Adalah cermin kita semua yang tak lagi mampu merespons bombardir penderitaan kecuali menerimanya sebagai sebuah kewajaran yang bahkan sangat mungkin setelah ‘bercermin’ pun kita tetap tak sadar jika sedang tergelak dalam kesedihan.”
Djenar Maesa Ayu

"Dari satu cerita ke cerita lainnya, kita benar-benar menikmati petualangan gaya bercerita. Seperti menyaksikan akrobat tukang cerita. Kau akan merasakan bagaimana sinisme dan lelucon, melankoli dan fantasi, sejarah dan dongeng, yang nyata dan yang ngibul – dikocok sedemikian rupa menjadi kisah yang menyegarkan, dan kadang penuh kejutan. Eka rupanya menyadari, betapa sebagai pencerita, ia mesti tidak berhenti pada satu gaya atau ‘orientasi estetis’ tertentu. Ia melakukan itu tidak dalam semangat seorang modernis-pembaharu kesiangan, tetapi lebih sebagai seorang tukang cerita yang dengan riang mau menerima warisan dan sejarah (sastra) dari pelbagai penjuru dunia. Ia rupanya seorang ‘ahli waris dunia’ yang tak terbebani, tetapi malah bisa dengan leluasa memungut, mengolah atau terkadang meledeknya.”
Agus Noor

Cantik itu Luka