Merasa Nyaman dengan Selera Pribadi

Beberapa malam lalu, saya memperoleh email dari Intan Paramaditha dan Ugoran Prasad. Mereka salah dua penulis yang saya kagumi: meskipun bisa dibilang pelit menerbitkan karya. Saya bisa dikata jarang bertemu mereka (apalagi sekarang keduanya di Amerika), tapi sesekali kami mendiskusikan sesuatu lewat internet. Kembali ke email: mereka mengajak saya membuat proyek kecil (kami batasi bertiga saja) menyangkut hal yang barangkali tak pernah dilirik kebanyakan penulis (apalagi kritikus): Tribute to Abdullah Harahap, the master guru of Indonesian horor fiction.

Valentine: 10 Novel Cinta Paling Menyebalkan

Mumpung Valentine (latah …), saya mencoba mendaftar 10 novel cinta paling menyebalkan. Alih-alih mempergunakan kata “terbaik”, saya mempergunakan kata “menyebalkan” justru untuk menghormati karya-karya berikut ini. Bukankah karya yang baik selalu merupakan gangguan … dan menyebalkan? 1. Dracula (Bram Stoker) Saya selalu percaya, lebih dari sekadar novel gothic, Dracula sesungguhnya novel cinta. Cinta macam apa? [...]

Melankoli Marquez

Sepuluh tahun lalu, dalam cerita pendek berjudul “Sleeping Beauty and the Airplane”, Gabriel Garcia Marquez membayangkan naratornya sebagai seorang feodal Jepang yang keranjingan melihat perempuan cantik sedang tidur. Seketika saya menyadari rujukan yang dimaksudnya adalah tokoh-tokoh dalam kebanyakan novel Yasunari Kawabata. Dan melihat gaya lirisisme di cerita pendek itu, serta cara pandang atas tubuh perempuan, saya juga mulai merasa ia terobsesi kepada gaya neosensualisme penulis besar Jepang tersebut. Puncak obsesinya, saya pikir bisa dilihat di novel terbarunya, Memories of My Melancholy Whores.

Cantik itu Luka