<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Eka Kurniawan Project &#187; WordPress</title>
	<atom:link href="http://ekakurniawan.com/blog/tag/wordpress/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ekakurniawan.com</link>
	<description>Menulis dan petualangan-petualangan lainnya</description>
	<lastBuildDate>Tue, 10 Apr 2012 11:17:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Drop Cap Shortcode</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/drop-cap-shortcode-2815.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/drop-cap-shortcode-2815.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Feb 2011 07:29:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[WordPress]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/blog/drop-cap-shortcode-2815.php</guid>
		<description><![CDATA[Yang memiliki blog mempergunakan <a href="http://wordpress.org">WordPress.org</a> (yang diinstal sendiri, bukan yang hosting di <a href="http://wordpress.com">WordPress.com</a>), dan ingin membuat Drop Cap sebagaimana banyak saya pakai di blog saya (termasuk di artikel ini), sila download di&#160;<a href="http://wordpress.org/extend/plugins/drop-cap-shortcode/">http://wordpress.org/extend/plugins/drop-cap-shortcode</a>. Itu plugin sederhana, tapi asyik buat bikin tampilan blog lebih mengingatkan ke masa-masa tipografi cetak. Cara pakainya juga gampang.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href='http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2011-02-20/DFExpzCtfhtJqeADtaAGBtAqGdpxnqfizBdJavDgwBFtaglyHmjJyuDmbmbD/screenshot-2.jpg.scaled1000.jpg'><img src="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2011-02-20/DFExpzCtfhtJqeADtaAGBtAqGdpxnqfizBdJavDgwBFtaglyHmjJyuDmbmbD/screenshot-2.jpg.scaled500.jpg" width="500" height="201"/></a> </p>
<p><span class="dropcaps">Y</span>ang memiliki blog mempergunakan <a href="http://wordpress.org">WordPress.org</a> (yang diinstal sendiri, bukan yang hosting di <a href="http://wordpress.com">WordPress.com</a>), dan ingin membuat Drop Cap sebagaimana banyak saya pakai di blog saya (termasuk di artikel ini), sila download di&nbsp;<a href="http://wordpress.org/extend/plugins/drop-cap-shortcode/">http://wordpress.org/extend/plugins/drop-cap-shortcode</a>. Itu plugin sederhana, tapi asyik buat bikin tampilan blog lebih mengingatkan ke masa-masa tipografi cetak. Cara pakainya juga gampang.</p>
<p>Kalau ada yang belum tau Drop Cap itu apa, bisa dijelaskan sedikit. Drop Cap merupakan huruf pertama di sebuah paragraf yang biasanya dibuat lebih besar (sekali), dan posisinya turun (lihat gambar, deh). Biasa dipergunakan di majalah, buku, atau koran. Di web, jarang sekali dipakai. Masalahnya lebih karena, bahkan untuk yang mengerti HTML dan CSS pun, berarti harus nambah-nambahin kode ke artikel, yang jelas ribet. Tapi dengan plugin ini, tugas tersebut jadi gampang. Gampang banget, malah (promosi). Baiklah, semoga plugin yang awalnya saya buat untuk keperluan blog sendiri ini, bisa bermanfaat. Sila memodifikasinya jika diperlukan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/drop-cap-shortcode-2815.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kompas Suka Tidak Teliti</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/kompas-suka-tidak-teliti-790.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/kompas-suka-tidak-teliti-790.php#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Jan 2009 15:01:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penulisan]]></category>
		<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Jurnalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Kompas]]></category>
		<category><![CDATA[WordPress]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=790</guid>
		<description><![CDATA[Foto oleh: Matt Callow, Some rights reserved. Kompas merupakan satu-satunya koran yang saya langganan tiap hari, dan hampir enggak pernah terlewat membacanya. Tapi jujur, saya sering terganggu dengan ketidaktelitian Kompas. Memang hal-hal kecil, sih, tapi sebagai koran besar, mestinya bisa diminimalisir dengan cek dan selalu ricek. Sebagai contoh, saya ingin memperlihatkan artikel hari ini mengenai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center"><a class="snap_noshots" href="http://www.flickr.com/photos/blackcustard/81680010/"><img src="http://3.bp.blogspot.com/_tn9p8W26Wqg/SYmR_k79ZVI/AAAAAAAAANY/SA35mH7gRNc/s400/korankopi.jpg" alt="" /></a><br/><br />
<small>Foto oleh: <a class="snap_noshots" href="http://www.flickr.com/photos/blackcustard/">Matt Callow</a>, <a class="snap_noshots" rel="license cc:license" href="http://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0/">Some rights reserved</a>.</small></p>
<p><em>Kompas</em> merupakan satu-satunya koran yang saya langganan tiap hari, dan hampir enggak pernah terlewat membacanya. Tapi jujur, saya sering terganggu dengan ketidaktelitian <em>Kompas</em>. Memang hal-hal kecil, sih, tapi sebagai koran besar, mestinya bisa diminimalisir dengan cek dan selalu ricek.</p>
<p>Sebagai contoh, saya ingin memperlihatkan artikel hari ini mengenai Matt Mullenweg di halaman 16 berjudul <a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/01/31/04220425/matt.mullenweg.antara.jazz.dan.wordpress">&#8220;Matt Mullenweg, Antara Jazz dan WordPress&#8221;</a>.</p>
<p>Pertama, antara pernyataan dan penjelasan kadang enggak nyambung. Sebagai contoh, saya kutip paragraf sembilan:<br />
<span id="more-790"></span></p>
<blockquote><p>&#8220;Di dunia maya tidak banyak penyedia blog gratisan. Kalau Anda ingin memiliki blog atau situs pribadi, Anda bisa mengambil dari <a href="http://blogger.com">Blogger</a>, <a href="http://multiply.com">Multiply</a>, <a href="http://livejournal.com">LiveJournal</a>, MoveableType (maksudnya mungkin <a href="http://movabletype.com">MovableType</a>), <a href="http://typepad.com">TypePad</a>, dan salah satunya dari <a href="http://wordpress.com">WordPress</a> yang disediakan Matt.&#8221;</p></blockquote>
<p>Bagaimana mungkin mengatakan &#8220;tidak banyak penyedia blog gratisan&#8221;, lha kalimat berikutnya malah menderet empat situs penyedia layanan gratis (dan yang enggak disebut bisa berjumlah puluhan, minus MovableType dan TypePad yang berbayar!).</p>
<p>Kedua, di alinea ketiga belas:</p>
<blockquote><p>&#8220;Matt tidak menyangkal kalau ia memperoleh pendapatan dengan mendirikan perusahaan di balik WordPress, seperti <a href="http://automattic.com">Automattic</a>, <a href="http://akismet.com">Akismet</a>, <a href="http://gravatar.com">Gravatar</a>, <a href="http://bbpress.org">bbPress</a>, <a href="http://intensedebate.com">IntenseDebate</a>, dan <a href="http://buddypress.com">BuddyPress</a>.&#8221;</p></blockquote>
<p>Kalimat itu mengindikasikan bahwa di balik WordPress ada perusahaan(-perusahaan) seperti Automattic, Akismet, Gravatar, bbPress, IntenseDebate dan BuddyPress. Jelas sekali penulisnya (Pepih Nugraha) enggak melakukan ricek. Di deratan nama-nama itu hanya Automattic yang merupakan nama perusahaan. Selebihnya merupakan &#8220;produk&#8221; dari Automattic (<a href="http://automattic.com/projects/">lihat di sini daftar produk Automattic</a>, yang mereka sebut sebagai &#8220;project&#8221;). Ini kan informasi yang gampang diricek dengan mengunjungi situs resmi perusahaan itu. Lagian, kan enggak masuk akal ada enam perusahaan di balik sebuah produk (WordPress). Yang lebih masuk akal (kalau mau nebak-nebak pun), kan ada &#8220;satu&#8221; perusahaan di balik enam produk.</p>
<p>Ketiga, dari alinea kedelapan belas:</p>
<blockquote><p>&#8220;Matt mengenang kembali masa-masa di tahun 2002 saat untuk pertama kalinya menciptakan peranti lunak sederhana untuk nge-blog yang ia namakan b2.&#8221;</p></blockquote>
<p>Kalau kita berkunjung ke situs <a href="http://en.wikipedia.com/wiki/Wordpress">Wikipedia</a>, dan sebenarnya ini sudah pengetahuan umum di penggiat WordPress, jelas informasi di atas salah. Matt tidak menciptakan software blog b2. B2 dibuat oleh programer bernama Michel Valdrighi. Matt kemudian membuat <em>fork</em> (istilah untuk membuat cabang program baru dari sebuah program lama) dari b2 yang kemudian dia beri nama WordPress (<a href="http://ma.tt/2003/01/the-blogging-software-dilemma/">lihat posting Matt sendiri mengenai awal ketika ia melakukan <em>fork</em> atas b2</a>).</p>
<p>Duh, sebenarnya mungkin ini hal-hal sepele. Tapi karena saya baca <em>Kompas</em> tiap hari, dan sering menemukan hal-hal sepele begini tidak ditulis semestinya, lama-lama jadi pengin mengeluarkan uneg-uneg ini.</p>
<p>Saya enggak tahu, apakah ini masalah wartawan yang malas melakukan cek dan ricek, atau masalah keterampilan berbahasa (sebagaimana saya tunjukkan di kasus pertama dan kedua, jika susunan kalimatnya diubah, kalimat itu mungkin bisa jadi memberikan informasi benar).</p>
<p>Segitu dulu aja, lah. Saya tulis ini karena saya gemar membaca <em>Kompas</em> tiap bangun tidur. Buat wartawan <em>Kompas</em>, maaf ya &#8230;.</p>
<p>Tambahan: Di laman ini saja ada 40+ layanan blog gratis jika Anda tertarik; <a href="http://mashable.com/2007/08/06/free-blog-hosts/">40+ Free Blog Hosts</a>.</p>
<h3>Update: 5 Februari 2009</h3>
<p>Perbincangan ini telah memperoleh banyak tanggapan di <a href="http://www.facebook.com/note.php?note_id=63813100489&#038;ref=mf">lingkaran Facebook saya</a>, termasuk dari <a href="http://pepihnugraha.blogspot.com/">Pepih Nugraha</a>, wartawan Kompas yang menulis artikel <a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/01/31/04220425/matt.mullenweg.antara.jazz.dan.wordpress">&#8220;Matt Mullenweg, Antara Jazz dan WordPress&#8221;</a>. Jika ada yang tertarik mengikuti perbincangan tersebut, sila berkunjung (dan menjadi &#8220;teman&#8221; saya) di <a href="http://www.facebook.com/note.php?note_id=63813100489&#038;ref=mf">Facebook</a>.</p>
<p>Sementara itu, Lily Yulianti Farid juga mengulasnya di blog <em>Kompasiana</em> dimana ia menjadi blogger tamu: <a href="http://lilyyulianti.kompasiana.com/2009/02/05/komentator-facebook-1-suara-pembaca-yang-dinote-kan/">&#8220;Komentator Facebook (1): Surat Pembaca yang Di&#8221;Note&#8221;-kan.&#8221;</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/kompas-suka-tidak-teliti-790.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Halaman dari Kategori Tertentu di WordPress</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/halaman-dari-kategori-tertentu-di-wordpress-1153.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/halaman-dari-kategori-tertentu-di-wordpress-1153.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jul 2008 06:53:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Hack]]></category>
		<category><![CDATA[WordPress]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=1153</guid>
		<description><![CDATA[WordPress memiliki dua jenis section: <strong>post</strong> dan <strong>page</strong>. Post untuk menulis blog biasa (dinamis), sementara page untuk menulis halaman yang cenderung statis. Halaman-halaman "page" biasanya berderet di atas menyerupai navigasi. Problemnya adalah ketika kita ingin membuat halaman "page" yang isinya dinamis seperti halaman "post".]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="dropcaps">W</span>ordPress memiliki dua jenis section: <strong>post</strong> dan <strong>page</strong>. Post untuk menulis blog biasa (dinamis), sementara page untuk menulis halaman yang cenderung statis. Halaman-halaman &#8220;page&#8221; biasanya berderet di atas menyerupai navigasi. Problemnya adalah ketika kita ingin membuat halaman &#8220;page&#8221; yang isinya dinamis seperti halaman &#8220;post&#8221;.</p>
<p>Misalnya: <strong>domain.com/blog</strong> dimana kita ingin menempatkan &#8220;blog&#8221; tidak di halaman utama. Atau: <strong>domain.com/esai</strong> dimana kita ingin membuat halaman <strong>esai</strong> yang isinya <strong>blog denga kategori esai</strong>.</p>
<p>WordPress mengatasinya dengan &#8220;page template&#8221;. Kita harus membuat dulu halaman php sebagai template (dan disimpan di folder themes yang dipergunakan). Misalnya: <strong>esai.php</strong>. Halaman ini harus berisi:<span id="more-1153"></span></p>
<pre>&lt;?php
/*
Template Name: Esai
*/

/* Untuk menentukan bahwa ini ada di "page"? */
$paged = get_query_var('paged');
query_posts('cat=2&amp;paged='.$paged);

/* cat=2, menunjukkan hanya category dengan id=2
/* kalau mau semua isi blog masuk, tulis cat=-0

/* ini untuk mengeluarkan tag "more". */
global $more;
$more = 0;

/* ambil file index.php untuk layout tampilan. */
load_template(TEMPLATEPATH . '/index.php');
?&gt;</pre>
<p>setelah itu, kamu bikin halaman <strong>Esai</strong> di admin WordPress (<strong>Write &#8211; Page</strong>). Di bagian bawah ada <strong>Paga Template</strong>, pilih <strong>Esai</strong>.</p>
<p>Jadi deh halaman Esai, yang muncul di navigasi atas, tapi isinya blog dengan kategori esai (yang di contoh memiliki id=2).</p>
<h3><strong>Untuk Halaman Depan</strong></h3>
<p><span class="dropcaps">P</span>roblemnya kalau kita mau menempatkan halaman semacam ini (katakanlah halaman Esai) untuk tampil di halaman depan (front page). Tentu saja WordPress menyediakan cara untuk ini yang umum diketahui: Masuk ke <strong>Setting</strong>, trus ke <strong>Reading</strong>. Di kolom <strong>Front page display:</strong> pilih <strong>A static page (select below)</strong>. Di pilihan <strong>Front page:</strong> kita pilih halaman <strong>Esai</strong>. Ini artinya, kita ingin halaman Esai (yang isinya blog dari kategori Esai) tampil di halaman depan, menggantikan default yang biasanya seluruh isi blog tampil.</p>
<p>Cara ini berhasil untuk halaman depan. Tapi sebagaimana sudah saya coba, begitu mengklik halaman berikutnya (katakanlah satu halaman ada 5 posting, nah halaman berikutnya berarti kita mau melihat halaman 6 sampai 10), keadaan mulai kacau. Ternyata WordPress tidak menampilkan halaman Esai dari posting ke 6 sampai 10, melainkan halaman blog secara keseluruhan dari posting 6 hingga 10. Artinya, ada posting-posting non kategori Esai yang juga masuk.</p>
<p>Coba bandingkan keadaanya antara: <strong>domain.com/page/2</strong> dan <strong>domain.com/esai/page/2</strong>. Asumsi kita mestinya isinya sama, karena halaman depan kita mempergunakan halaman esai. Ternyata yang sama hanya halaman satu, halaman dua dan berikutnya menampakkan perbedaan. Problem ini terjadi karena, pada <strong>domain.com/page/2</strong> Wodpress hanya mengambil template dari <strong>index.php</strong>, tanpa melalui template <strong>esai.php</strong> yang sudah kita buat. esai.php hanya dipanggil di halaman pertama saja.</p>
<p>Dengan keadaan seperti itu, cara diatas tidak bisa saya pakai (mungkin ada cara lain, saya belum tahu). Untuk menampilkan halaman depan (dan halaman-halaman berikutnya), dari satu kategori tertentu, saya memilih untuk melakukannya langsung dengan menambah kode di <strong>index.php</strong>. Tapi sebelumnya, karena <strong>index.php</strong> ini banyak dipergunakan oleh yang lain, kita bikin back-up dan dimpan misalnya dengan nama <strong>category.php</strong> (kalau file ini tidak ada, secara default semua kategori akan mempergunakan <strong>index.php</strong>, tapi kalau ada, akan mempergunakan <strong>category.php</strong>).</p>
<p>Cara ini relatif gampang. Edit <strong>index.php</strong> dan bubuhkan kode ini:</p>
<pre>&lt;!--UNTUK MEMILIH SATU KATEGORI SAJA--&gt;
&lt;?php query_posts($query_string.'&amp;cat=2'); ?&gt;
&lt;!--UNTUK MEMILIH SATU KATEGORI SAJA--&gt;</pre>
<p>tepat sebelum baris kode ini (yang pasti ada di setiap template index.php di folder theme yang dipergunakan):</p>
<pre>&lt;?php if (have_posts()) : ?&gt;</pre>
<p>penggunaan $query_string diperlukan untuk bisa menampilkan posting dari kategori yang sama di halaman depan maupun halaman-halaman berikutnya. cat=2 menunjukan kategori dengan id=2. Dengan cara ini, saya berhasil menampilkan halaman depan hanya dari kategori tertentu.</p>
<p>Ini mengatasi salah satu kelemahan WordPress yang tidak memiliki banyak section. Dengan cara ini, kita bisa bikin multi-blog. Tinggal bikin kategori blog1, blog2, dst. Kemudian bikin masing-masing kategori ini halaman sendiri sebagaimana contoh halaman esai di atas. Sehingga kita bisa memiliki lebih dari satu blog: domain.com/blog1, domain.com/blog2, dst.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/halaman-dari-kategori-tertentu-di-wordpress-1153.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebab Kode Adalah Puisi</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/sebab-kode-adalah-puisi-158.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/sebab-kode-adalah-puisi-158.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 May 2008 04:09:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[bumimanusia.or.id]]></category>
		<category><![CDATA[Google]]></category>
		<category><![CDATA[Jorge Luis Borges]]></category>
		<category><![CDATA[Kompas]]></category>
		<category><![CDATA[Ratih Kumala]]></category>
		<category><![CDATA[Wikipedia]]></category>
		<category><![CDATA[WordPress]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekakurniawan.com/blog/sebab-kode-adalah-puisi-158.php</guid>
		<description><![CDATA[Sekiranya Borges masih hidup, barangkali ia akan menjadi penulis paling getol <em>on-line</em>. Bagaimana tidak, banyak orang yang percaya, sebelum internet ditemukan, Borges telah "memimpikan" dunia internet dalam cerita-cerita pendeknya. Ingat perihal ensiklopedia yang disusun secara diam-diam oleh sekelompok orang sehingga menghasilkan dunia yang baru? Bukankah hal ini sekarang menjadi mungkin dengan perangkat lunak wiki sebagaimana dipergunakan di <a href="http://wikipedia.org">wikipedia.org</a>? Atau perihal teks yang bisa merujuk ke teks lain tanpa batas? Sejak ditemukan internet, kita sudah mengenal "link". ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="dropcaps">S</span>ekiranya Borges masih hidup, barangkali ia akan menjadi penulis paling getol <em>on-line</em>. Bagaimana tidak, banyak orang yang percaya, sebelum internet ditemukan, Borges telah &#8220;memimpikan&#8221; dunia internet dalam cerita-cerita pendeknya. Ingat perihal ensiklopedia yang disusun secara diam-diam oleh sekelompok orang sehingga menghasilkan dunia yang baru? Bukankah hal ini sekarang menjadi mungkin dengan perangkat lunak wiki sebagaimana dipergunakan di <a href="http://wikipedia.org">wikipedia.org</a>? Atau perihal teks yang bisa merujuk ke teks lain tanpa batas? Sejak ditemukan internet, kita sudah mengenal &#8220;link&#8221;. </p>
<p>Terlepas dari impian Borges tersebut, tak terelakkan internet telah menjadi rujukan penting bagi kebanyakan orang, termasuk para penulis. Saya mempergunakan Google Book untuk membaca beberapa catatan perjalanan orang-orang Eropa yang datang ke Indonesia di masa kolonial, untuk satu riset tulisan fiksi saya, misalnya. Demikian pula Google Map, dengan teknologi citra satelit yang konon paling telat umurnya dua tahun ke belakang, kita bisa memastikan detail geografis satu tempat. Dalam hal ini, Anda bisa jauh lebih akurat daripada Karl May sekiranya mengisahkan kehidupan suku Indian tanpa pergi ke Amerika.<br />
<span id="more-158"></span><br />
Tak disangsikan, internet telah membentuk kultur baru produksi dan reproduksi. Dalam dunia sastra di Indonesia, sederhananya, kultur itu telah berawal ketika penulis tak lagi pernah pergi ke kantor pos untuk mengirimkan naskah. Tentu saja kultur ini semestinya bisa jauh dari itu. Internet dipercaya tak sekadar sebagai narasumber yang mencengangkan untuk berbagai hal, dari bumbu yang tepat untuk satu resep masakan hingga racikan kimia yang tepat untuk meledakkan jembatan; yang lebih penting lagi, internet juga merupakan suatu media baru. Sebagaimana media baru umumnya, tentu saja ia memberi tantangan-tantangan baru bagi proses kreatif baru.</p>
<p>Sebagai misal, melalui internet dan dunia digital kita sekarang mengenal berbagai jenis lisensi untuk karya kreatif. Jika sebelumnya barangkali kita hanya memiliki dua dikotomi hak cipta: copyright dan domain publik, kini kita memiliki lebih banyak alternatif. Sebagai pemilik karya cipta, barangkali seorang pengarang tak menginginkan lisensi seketat copyright. Sebuah lembaga nirlaba bernama <a href="http://cerativecommon.org">Creative Common</a> menawarkan berbagai jenis lisensi yang fleksibel.</p>
<p>Software semacam Linux atau esai-esai di beberapa blog, juga banyak foto di flickr.com didistribusikan dengan lisensi semacam ini, sehingga Anda bisa mengambil dan mempergunakannya tanpa harus takut dikira membajak atau menjiplak. Kultur ini memungkinkan berkembang, saya pikir, hanya karena penetrasi internet yang luar biasa.</p>
<h3>Blog</h3>
<p><span class="dropcaps">S</span>aya tertarik mengamati ini, terutama setelah akhir-akhir ini banyak penulis semakin memaksimalkan fungsi-fungsi internet dengan membuat blog dan saya beranggapan ini perkembangan yang penting untuk dicatat. Jika sebelumnya para penulis lebih banyak berkerumun di komunitas-komunitas milis tertentu, akhir-akhir ini semakin banyak yang hadir secara individu, menuliskan pikiran-pikirannya melalui media bernama blog. Saya sendiri sebenarnya telah lama menjadi pengunjung tetap blog-blog penulis yang saya anggap bermutu untuk menunjukkan ini bukan hal baru, misalnya blog milik jurnalis <a href="http://andreashardono.blogspot.com">Andreas Harsono</a> atau milik kritikus film <a href="http://pakde.com">Totot Indrarto</a>.</p>
<p>Tengok misalnya beberapa penulis yang baru-baru ini memutuskan untuk menulis di blog: Ada <a href="http://djenar.com">Djenar Maesa Ayu</a> dan kritikus seni rupa <a href="http://adiwicaksono.com">Adi Wicaksono</a>, serta penyair <a href="http://binhadnurrohmat.com">Binhad Nurrohmat</a>. Mereka menyusul penulis-penulis lain yang telah lebih dulu. Beberapa yang saya ingat: penyair <a href="http://sejuta-puisi.blogspot.com">Hasan Aspahani</a>, <a href="http://jokpin.blogspot.com">Joko Pinurbo</a>, <a href="http://jengki.com">Wayan Sunarta</a>, cerpenis <a href="http://agusnoorfiles.wordpress.com">Agus Noor</a>, <a href="http://ratihkumala.com">Ratih Kumala</a>, <a href="http://ooknugroho.blogspot.com">Ook Nugroho</a>, juga Linda Christanty yang menulis di blog sendiri maupun blog milik situs <a href="http://pantau.or.id">pantau.or.id</a>.</p>
<p>Mungkin Anda masih sering kecele untuk memastikan, apa beda blog dengan website? Sebenarnya ini juga pertanyaan umum yang diajukan kepada saya oleh para penulis yang ingin memulai membuat blog. Secara sederhana, semua blog adalah website, tapi tidak sebaliknya. Situs seperti yahoo.com merupakan website, tapi jelas bukan blog. Ciri utama blog adalah website dengan konten yang terus di-update, dan pengaturan kontennya secara umum diurut berdasarkan waktu (mirip jurnal atau buku harian).</p>
<p>Ketika situs <a href="http://cybersastra.net">cybersastra.net</a> diluncurkan sekitar akhir 90an, pada dasarnya ia telah mempergunakan prinsip-prinsip blog. Demikian pula ketika tahun 2000 saya bersama dua penulis, Linda Christanty dan <a href="http://nuruddinasyhadie.com">Nuruddin Asyhadie</a> mendirikan situs <a href="http://bumimanusia.or.id">bumimanusia.or.id</a>, kami mempergunakan software open source yang pada dasarnya juga blog. Software semacam itu telah dibuat komunitas internet di masa-masa tersebut, meski dengan standar keamanan dan fleksibilitas yang barangkali masih rendah. Baru ketika software semacam <a href="http://www.ekakurniawan.com/movabletype.com">Movable Type</a> dan <a href="http://www.ekakurniawan.com/wordpress.org">WordPress</a> muncul, blog menjadi istilah yang populer. Ditambah pula layanan <a href="http://blogger.com">Blogger.com</a> (<a href="http://blogspot.com">blogpspot.com</a>) dari Google yang memungkin orang untuk membuat blog secara lebih gampang tanpa harus mengerti hal teknis instalasi software ke server. Hal ini semakin menjadi-jadi sekarang setelah munculnya fenomena Web 2.0 yang mengisyaratkan akan internet yang menunjang kreativitas sekaligus interaktivitas.</p>
<p>Kenapa saya beranggapan penulis yang membuat blog sebagai sesuatu yang penting? Masih ingat belum lama ini ketika jaringan kabel bawah laut di Pasifik terputus, dan terputus pula hubungan internet? Sebenarnya yang terputus adalah hubungan internet ke Amerika, sementara situs seperti <a href="http://kompas.co.id">kompas.co.id</a> atau <a href="http://detik.com">detik.com</a> yang menyimpan server di dalam negeri masih bisa diakses. Ini semestinya segera menyadarkan betapa kita membutuhkan konten lokal, dan secara pribadi saya berharap kepada para penulis dari berbagai disiplin: sastrawan, sejarawan, jurnalis, dosen dan lainnya. Hal ini akan semakin dimungkinkan jika mereka langsung bersentuhan secara personal di blog masing-masing.</p>
<p>Tentu saja konten lokal tersebut akan semakin berarti jika disimpan di server lokal. Itulah kenapa saya lebih suka menganjurkan untuk mempergunakan layanan blog lokal semacam <a href="http://dagdigdug.com">dagdigdug.com</a> atau <a href="http://www.ekakurniawan.com/blogdetik.com">blogdetik.com</a> (dengan catatan harus dicek apakah benar mereka menempatkan server di dalam negeri), atau melakukan instalasi domain sendiri sehingga bisa memutuskan untuk memilih layangan hosting, ketimbang mempergunakan <a href="http://wordpress.com">wordpress.com</a> atau <a href="http://blogger.com">blogger.com</a>.</p>
<p>Dengan semakin banyak penulis menulis di blog, bisalah secara sederhana kita mengharapkan suatu ketika tercapainya swasembada konten lokal; tentu saja terutama jika konten ini ditulis dalam bahasa Indonesia pula. Maka jika sesuatu terjadi pada jaringan internasional (kabel bawah laut putus, atau traffic mengalami kemacetan, misalnya), kita tak hanya masih bisa mempergunakan jaringan internet dalam negeri, tapi juga bisa mengakses konten-konten yang diperlukan.</p>
<h3>Media baru</h3>
<p><span class="dropcaps">S</span>ebagaimana berbagai teknologi baru, blog sebenarnya telah dipergunakan di Indonesia nyaris bersamaan dengan di belahan dunia lainnya. Selain kita masih membutuhkan konten yang lebih kaya, harus diakui kita masihlah “hanya sekadar” pengguna. Kita bukan pencipta wiki maupun berbagai perangkat lunak blog: hanya mempergunakan apa yang tersedia.</p>
<p>Meskipun begitu, ini bukan alasan untuk patah semangat. Menulis blog merupakan langkah kecil dari sesuatu yang kelak menanti. Ada banyak hal di depan media baru yang terus berkembang ini; ada berbagai peluang mengkreasi bentu-bentuk seni yang khas, sebagaimana mungkin kesusastraan yang hanya bisa dinikmati melalui media ini dan tidak di media yang lain, sehingga mau tidak mau kita mesti memberinya sebuah nama baru. Kita bisa merealisasikan gagasan Borges tentang ensiklopedia fiktif, kalau mau.</p>
<p>Sekali lagi, menulis blog bisa menjadi awal yang baik. Sebagaimana penyair Joko Pinurbo akhirnya dipaksa mengenali kode-kode HTML ketika harus memasukkan puisi-puisinya ke blog. Siapa tahu kelak ia mau mempelajari bahasa pemrograman seperti PHP, Javascript, atau lainya, sehingga kelak dari tangannya bisa ditulis puisi saiber yang sejati (dalam arti tak mungkin dinikmati di media non-saiber). Sebab, “<em>Code is poetry</em>,” kata para programer WordPress. Ya, siapa tahu?</p>
<div class="footnote">
Tulisan ini pernah diterbitkan di <a href="http://www.kompas.com/kompascetak.php/read/xml/2008/05/11/01543237/sebab.kode.adalah.puisi"><em>Kompas</em></a>, Minggu, 11 Mei 2008. Ada beberapa kesalahan ketik di pemuatan <em>Kompas</em>, yang saya perbaiki di versi blog ini. Blog Totot Indrarto tertulis pekde.com, seharusnya <a href="http://pakde.com">pakde.com</a>. Situs pantau.org seharusnya <a href="http://pantau.or.id">pantau.or.id</a>. Blog Ook Nugroho tertulis ooknurgoho.blogspot.com seharusnya <a href="http://ooknugroho.blogspot.com">ooknugroho.blogspot.com</a>.
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/sebab-kode-adalah-puisi-158.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tips Menulis Puisi di WordPress</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/tips-menulis-puisi-di-wordpress-177.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/tips-menulis-puisi-di-wordpress-177.php#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 May 2008 07:55:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penulisan]]></category>
		<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[WordPress]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekakurniawan.com/blog/tips-menulis-puisi-di-wordpress-177.php</guid>
		<description><![CDATA[Foto oleh: xfce, Some rights reserved. Karena berbagai kemudahannya, saya selalu menyarankan kepada beberapa teman yang ingin nge-blog dengan domain dan hosting sendiri, untuk mempergunakan WordPress. Sejujur nya, dibandingkan Textpattern atau Drupal, banyak hal yang tidak dimiliki WordPress memang; tapi menyangkut kemudahan, WordPress memberikan lebih banyak kenyamanan. Setelah membantu beberapa teman menginstalasi WordPress, ada baiknya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><center><a href="http://www.flickr.com/photos/thomasvdb/379546998/"><img src="http://bp0.blogger.com/_tn9p8W26Wqg/SCVUgy9-gKI/AAAAAAAAAHc/FF61l3zJb4c/s400/binary355.jpg" /></a><br />
<span class="caption">Foto oleh: <a class="snap_noshots" href="http://www.flickr.com/photos/thomasvdb/">xfce</a>, <a class="snap_noshots" href="http://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0/" rel="license cc:license">Some rights reserved</a>.<br />
</span></center><br />
Karena berbagai kemudahannya, saya selalu menyarankan kepada beberapa teman yang ingin nge-blog dengan domain dan hosting sendiri, untuk mempergunakan <a href="http://wordpress.org">WordPress</a>. Sejujur nya, dibandingkan <a href="http://textpattern.com">Textpattern</a> atau <a href="http://drupal.org">Drupal</a>, banyak hal yang tidak dimiliki WordPress memang; tapi menyangkut kemudahan, WordPress memberikan lebih banyak kenyamanan. Setelah membantu beberapa teman menginstalasi WordPress, ada baiknya mungkin saya membagi tips kecil menulis puisi di WordPress ini, yang saya peroleh dari masalah teman-teman. Dalam hal ini saya mempergunakan WordPress versi 2.5.1 (mestinya juga berlaku di <a href="http://wordpress.com">WordPress.com</a> dan <a href="http://blogspot.com">Blogspot.com</a>):<br />
<span id="more-177"></span><br />
Text editor WordPress mempergunakan kemudahan WYSIWYG (<em>What Yoy See is What You Get</em>). Kalau kamu cukup familiar dengan MSWords, icon-icon text-editornya pasti tak asing. Segala sesuatu tinggal ngeklik. Mau rata kanan seperti puisi-puisi Binhad Nurrohmat? Tinggal klik icon rata kanan. Beberapa teman yang penyair menemukan masalah justru ketika memasukkan puisi. Format WordPress kurang bisa membedakan &#8220;baris&#8221; dan &#8220;bait&#8221;, sebab setiap baris baru selalu dianggap paragraf (yang di puisi berarti bait) baru. Misalnya contoh puisi Chairil Anwar (<strong>Diponegoro</strong>):</p>
<blockquote><p>Di masa pembangunan ini</p>
<p>tuan hidup kembali</p>
<p>dan bara kagum menjadi api</p>
<p>di depan sekali tuan menanti</p>
<p>Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali [...]</p></blockquote>
<p>Padahal maunya begini:</p>
<blockquote><p>Di masa pembangunan ini<br />
tuan hidup kembali</p>
<p>dan bara kagum menjadi api</p>
<p>di depan sekali tuan menanti<br />
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali [...]</p></blockquote>
<p>Ini gampang. Text-editor WordPress memberikan dua pilihan: Visual dan HTML. Visual inilah yang kita pergunakan sehari-hari, dengan fasilitas WYSIWYG itu. Untuk mengubah format paragraf standar, kita harus masuk ke editor HTML. Baris puisi pertama, jika dilihat di HTML akan tampak begini:</p>
<pre style="border:1px solid #888;background:#eee;padding:0 10px 0 10px;font-size:12px;">
&#60;p&#62;Di masa pembangunan ini&#60;&#47;p&#62;
&#60;p&#62;tuan hidup kembali&#60;&#47;p&#62;
&#60;p&#62;dan bara kagum menjadi api&#60;&#47;p&#62;
&#60;p&#62;di depan sekali tuan menanti&#60;&#47;p&#62;
&#60;p&#62;Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali [...]&#60;&#47;p&#62;</pre>
<p>Agar puisi ini tampil seperti contoh kedua, kita harus mengedit kodenya menjadi begini:</p>
<pre style="border:1px solid #888;background:#eee;padding:0 10px 0 10px;font-size:12px;">
&#60;p&#62;Di masa pembangunan ini &#60;br &#47;&#62;
tuan hidup kembali&#60;&#47;p&#62;
&#60;p&#62;dan bara kagum menjadi api&#60;&#47;p&#62;
&#60;p&#62;di depan sekali tuan menanti &#60;br &#47;&#62;
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali [...]&#60;&#47;p&#62;</pre>
<p>Penjelasannya sederhana. Kode &#60;p&#62; &#8230; &#60;&#47;p&#62; merupakan kode untuk paragraf. Setiap baris baru (artinya kamu menekan tombol enter/return di keyboard), WordPress akan menerjemahkannya sebagai paragraf. Kode ini harus berpasangan. &#60;p&#62; (kode pembuka) dipakai di awal paragraf, &#60;&#47;p&#62; (kode penutup) dipakai di akhir paragraf. Agar paragraf menjadi baris, ganti saja &#60;&#47;p&#62; menjadi &#60;br &#47;&#62; (ini kode untuk ganti baris). Bedanya, setelah kode &#60;br &#47;&#62; di awal paragraf berikutnya jangan dicantumkan kode &#60;p&#62;, agar baris tersebut tidak menjadi paragraf baru.</p>
<p>Kode-kode ini mempergunakan standar XHTML, bukan HTML biasa. Kalau HTML biasa, kamu cukup memakai &#60;p&#62; dan &#60;br&#62; di awal baris tanpa harus mempergunakan penutup &#60;&#47;p&#62; atau pembuka-sekaligu-menutup-diri-sendiri &#60;br &#47;&#62;. Tapi mohon diperhatikan, HTML mungkin tak akan lagi menjadi standar, jadi mending pergunakan cara di atas. Silakan mencoba, dan semoga berguna.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/tips-menulis-puisi-di-wordpress-177.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dari Sampul Buku Binhad Hingga Blog Djenar</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/dari-sampul-buku-binhad-hingga-blog-djenar-140.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/dari-sampul-buku-binhad-hingga-blog-djenar-140.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Apr 2008 16:53:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[bumimanusia.or.id]]></category>
		<category><![CDATA[Cantik itu Luka]]></category>
		<category><![CDATA[Corat-coret di Toilet]]></category>
		<category><![CDATA[Desain Grafis]]></category>
		<category><![CDATA[Larutan Senja]]></category>
		<category><![CDATA[Ratih Kumala]]></category>
		<category><![CDATA[Sampul Buku]]></category>
		<category><![CDATA[WordPress]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekakurniawan.com/blog/dari-sampul-buku-binhad-hingga-blog-djenar-140.php</guid>
		<description><![CDATA[Di sela urusan tulis-menulis, jika memperoleh waktu luang ada dua hal yang saya suka lakukan: membuat grafis dan mengutak-atik internet (dari sekadar <em>browsing</em> sampai membongkar kode <a href="http://www.php.net/">PHP</a>). Soal grafis, saya memang pernah sekolah desain grafis (selain kuliah filsafat) waktu di Yogyakarta. Soal internet, saya tanya-tanya ke teman dan rajin membaca artikel-artikel manual yang bertebaran -- tapi jangan sekali-kali menganggap saya pinter soal ini karena kenyataannya memang jauh dari pinter.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> </p>
<p style="text-align: center;"><img src="http://farm3.static.flickr.com/2047/2403781332_043ee10bbe_o.jpg" alt="" /><br />
<span class="caption">Sampul Buku <em>Demonstran Sexy</em></span> </p>
<p>Di sela urusan tulis-menulis, jika memperoleh waktu luang ada dua hal yang saya suka lakukan: membuat grafis dan mengutak-atik internet (dari sekadar <em>browsing</em> sampai membongkar kode <a href="http://www.php.net/">PHP</a>). Soal grafis, saya memang pernah sekolah desain grafis (selain kuliah filsafat) waktu di Yogyakarta. Soal internet, saya tanya-tanya ke teman dan rajin membaca artikel-artikel manual yang bertebaran &#8212; tapi jangan sekali-kali menganggap saya pinter soal ini karena kenyataannya memang jauh dari pinter.</p>
<p>Buku-buku awal saya, (<em>Cantik itu Luka</em> versi penerbit Jendela, <em>Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis</em> semua versi tiga penerbit, <em>Corat-coret di Toilet</em>) saya bikin sendiri sampulnya. Buku orang lain yang pernah saya bikin, sejauh yang saya ingat: <em>Air Kaldera</em> (Joni Ariadinata), <em>Beatniks dan Puisi-puisi Lainnya</em> (Nuruddin Asyhadie), <em>Orang-orang Proyek</em> (Ahmad Tohari &#8212; versi Penerbit Jendela), <em>Sebuah Kitab yang Tak Suci</em> (Puthut EA) dan belum lama ini buku puisi baru Binhad Nurrohmat, <em>Demonstran Sexy</em>. Saya juga membuat ilustrasi untuk sampul dan isi buku kumpulan cerpen Ratih Kumala, <em>Larutan Senja</em>.<br />
<span id="more-140"></span><br />
Di luar itu, masih ada beberapa proyek desain lain yang pernah saya kerjakan, sebagian besar saya sudah lupa. Selain menggarap sampul buku, yang paling saya suka dari pekerjaan sebagai desainer adalah membuat grafis untuk t-shirt (kaus oblong). Waktu saya masih kuliah, saya sering membuat kaus oblong dengan grafis yang saya bikin sendiri. Meskipun hanya saya jual di antara teman-teman dengan cara selalu membawa kausnya di dalam tas punggung, saya memberinya label sebagaimana kaus yang dijual di toko. Labelnya bernama &#8220;Teteruga&#8221;, yang berarti kura-kura (seorang teman asal Irian memberi saya nama itu). Hasilnya lumayan untuk jajan dan membeli buku. Hehehe.</p>
<p>Bisnis &#8220;Teteruga&#8221; saya berhenti ketika krisis ekonomi tahun 1997, selain karena saya mulai sibuk untuk menyelesaikan kuliah dan menulis buku <em>Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis</em>. Meskipun begitu saya tak pernah berhenti membuat desain kaus oblong. Di komputer saya barangkali sudah lebih dari seratusan desain untuk oblong yang belum pernah dicetak. Jujur saja, suatu hari kalau saya cukup punya uang, saya ingin punya toko yang hanya menjual kaus oblong yang saya desain tersebut. Mudah-mudahan kesampaian (amin!).</p>
<p>Nah, mengenai internet, saya mulai memaksakan diri mengerti cara bikin halaman web ketika bersama teman-teman membuat situs <a href="http://bumimanusia.or.id">bumimanusia.or.id</a> (sudah tutup). Itu tahun 2000 dan waktu itu kalau tidak salah belum ada <a href="http://wordpress.org">WordPress</a> maupun <a href="http://blogger.com">Blogspot</a>! Meskipun sampai hari ini saya enggak ngerti logika bahasanya, saya mencoba untuk tahu cara mengedit PHP dan <a href="http://mysql.com">MySql</a> dan sejauh ini cukup berhasil untuk tidak membuat desain <strong>bumimanusia.or.id</strong> berantakan, (<em>bravo</em>!).</p>
<p>Beruntung ketika saya memulai blog ini, WordPress sudah ada. Bagi saya, WordPress benar-benar memudahkan orang untuk ngeblog, terutama untuk orang yang ingin memakai domain dan hosting sendiri seperti saya. Tinggal instal WordPress ke server, cari <em>theme</em> yang menarik, tinggal ngetik blog! Meskipun begitu, masih juga saya ingin mencoba mendesain sendiri blog di atas template WordPress ini. Dengan kemampuan PHP yang pas-pasan, saya mencoba membuat <em>theme</em> sendiri. Hasilnya adalah desain blog ini, yang dengan norak saya beri nama <strong>Faulkner for WordPress</strong>, (ceritanya biar nyaingin <em>theme</em> WordPress yang sangat terkenal bernama <a href="http://warpspire.com/hemingway">Hemingway</a> itu lho!).</p>
<p>Sekali lagi, WordPress membuat ngeblog jadi gampang. Dan untuk itu saya mulai membujuki teman-teman saya untuk mulai ngeblog. Kalau perlu saya akan bantuin untuk urusan membeli domain, sewa server, menginstal WordPress dan memilihkan <em>theme</em> yang cocok (selain <strong>Faulkner for WordPress</strong>, saya enggak janji punya waktu untuk membuat <em>theme</em> sendiri; paling banter mengedit sedikit dari <em>free theme</em> yang sudah ada). Yang pertama dibujuk, tentu saja istri saya. Ia ngeblog di <a href="http://ratihkumala.com">ratihkumala.com</a>. Teman saya di <strong>bumimanusia.or.id</strong>, Nuruddin Asyhadie, juga mulai ngeblog di <a href="http://nuruddinasyhadie.com">nuruddinasyhadie.com</a>. Nuredan (panggilan saya untuk Nuruddin), cukup <em>expert</em> untuk mengotak-atik sendiri WordPressnya hingga berantakan (haha).</p>
<p>Selanjutnya inilah tiga orang yang sudah berhasil saya bujuk membuat blog: Richard Oh di <a href="http://richardoh.net">richardoh.net</a>. Richard selain menulis tiga novel, juga dikenal sebagai sutradara film. Adi Wicaksono di <a href="http://adiwicaksono.com">adiwicaksono.com</a>. Adi dikenal sebagai penyair, juga sesekali menulis esai film dan seni rupa. Terakhir, Djenar Maesa Ayu juga mulai ngeblog di <a href="http://djenar.com">djenar.com</a>. Djenar selain menulis tiga kumpulan cerpen, satu novel, kini bertambah predikatnya sebagai sutradara film. Mereka membeli domain dan menyewa servernya sendiri, saya bantuin yang lebih teknis (gini-gini bolehlah jadi konsultan, caila!). <del datetime="2008-04-15T16:37:48+00:00">Khusus blog Djenar, karena masih bayi, masih dalam pengerjaan. Jadi mohon maaf jika kontennya masih berupa sampel, hehehe</del> (ayo, Bu, mulai nulis, ya!).</p>
<p>Bagaimanapun, <em>happy blogging</em>, Teman-teman. Siapa yang mau menyusul ngeblog?</p>
<h3>Update (Malam yang Sama, Beda Tanggal)</h3>
<p>Proyek desain terbaru, tentu saja merencanakan sampul buku novel ketiga saya, <em>Malam Seribu Bulan</em> yang sudah dijadwalkan terbit pertengahan tahun ini. Punya ide?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/dari-sampul-buku-binhad-hingga-blog-djenar-140.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

