Merasa Nyaman dengan Selera Pribadi
Foto oleh: Tom@HK, Some rights reserved.
Beberapa malam lalu, saya memperoleh email dari Intan Paramaditha dan Ugoran Prasad. Mereka salah dua penulis yang saya kagumi: meskipun bisa dibilang pelit menerbitkan karya. Saya bisa dikata jarang bertemu mereka (apalagi sekarang keduanya di Amerika), tapi sesekali kami mendiskusikan sesuatu lewat internet. Kembali ke email: mereka mengajak saya membuat proyek kecil (kami batasi bertiga saja) menyangkut hal yang barangkali tak pernah dilirik kebanyakan penulis (apalagi kritikus): Tribute to Abdullah Harahap, the master guru of Indonesian horor fiction.
Tak hanya girang, bisa dibilang saya tersanjung dengan ajakan itu. Abdullah Harahap! Bertahun-tahun saya bergaul dengan para penulis, hampir bisa dikatakan tak pernah bertemu orang yang bisa memperbincangkan penulis ini dengan antusias. Atau barangkali hampir tak ada penulis yang pernah membacanya? Atau membacanya, namun tak menganggapnya ada?
Writer’s Block, Bagian 2: Lubang Cacing
+ Writer’s Block Bagian 1: Jalan Belukar

Foto oleh: miss pupik, Some rights reserved.
Dalam menyikapi writer’s block, saya selalu merujuk kepada sebuah pepatah lama: sedia payung sebelum hujan. Ya, menurut saya, cara terbaik untuk menghindari writer’s block adalah persiapan yang memadai. Jika payung kita anggapkan sebagai perkakas menghindari hujan; dalam bayangan saya, tentu ada juga perkakas yang dibutuhkan seorang penulis ketika hendak menulis. Perkakas inilah yang saya pikir barangkali bisa membebaskan diri kita dari writer’s block.
Pertama-tama, setelah beberapa kali menderita writer’s block ini, saya selalu menghindari diri menulis saat saya belum tahu apa atau bagaimana saya akan menulis. Bagi saya jauh lebih mudah untuk duduk dan memikirkan gagasan tulisan sebelum menghadapi layar komputer. Jika otak saya tidak cukup memadai (karena lelah, misalnya) untuk membayangkan apa yang akan saya tulis, saya ambil kertas dan membuat catatan.
Baca selengkapnya …
Novel dan Psikologi

Foto oleh chaosinjune, Some rights reserved.
Lelaki tua itu sudah genap delapan puluh empat hari tak memperoleh ikan. Kita tahu itu merupakan pembukaan kisah Lelaki Tua dan Laut Ernest Hemingway. Kita juga tahu lelaki tua itu kemudian membuktikan dirinya masih nelayan yang boleh diperhitungkan. Setelah berhari-hari melaut, ia akhirnya berhasil mengalahkan seekor ikan marlin besar.
Novel itu sering dirujuk sebagai novel eksistensialis paling berhasil. Pembuktian bahwa manusia mampu mengalahkan alam. Saya tak akan memperdebatkan hal itu. “Mereka mengalahkanku, Manolin,” kata lelaki tua itu. “Mereka benar-benar mengalahkanku.” Akhir dari kisah itu sesungguhnya tak hanya bahwa si lelaki mengalahkan marlin besar.
Baca selengkapnya …
Merayakan Pembacaan
”Aku menemukanmu dalam pelarian,” tulis Intan Paramaditha dalam pembukaan cerita pendek “Mak Ipah dan Bunga-Bunga”, (Sihir Perempuan, Kata Kita, 2005).

Foto oleh kevindooley, Some rights reserved.
Perhatikan dengan saksama kalimat pembuka itu. Siapa yang sedang dalam pelarian? Aku atau kamu, atau keduanya? Kalimat yang tak memberi kepastian apa pun seperti itu dengan mudah kita temukan dalam hampir setiap buku kumpulan cerpen atau novel yang datang dari para penulis generasi paling mutakhir.
Baca selengkapnya …
Denting Gelas Copycat, Membaca Lelaki Harimau
Oleh: Nuruddin Asyhadie
Foto oleh seeks2dream, Some rights reserved.
Kehidupan sastra adalah kehidupan tiruan, denting gelas para copycat. Sejarah sastra sendiri tersaji sebagai sejarah mutasi tak bertepi. Adakah kisah lain di luar Ramayana dan Mahabaratha? Karya seagung Illiad Homerus pun lahir dan menyusu pada dua maha epos tersebut; Alenka adalah purwarupa Troya, demikian pula relasi Shinta dengan Helena, Atalas (Syiwa) dengan Atlas, pertarungan Indra vs Writa dengan pergulatan Zeus vs Typhon atau Herkules vs Kakkus. Siapa pula yang bisa menjamin bahwa Mahabaratha dan Ramayana bukan sebuah salinan dari kisah-kisah lain yang muncul sebelum 600 tahun SM?
Baca selengkapnya …
