<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Eka Kurniawan Project &#187; Sastra</title>
	<atom:link href="http://ekakurniawan.com/blog/tag/sastra/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ekakurniawan.com</link>
	<description>Menulis dan petualangan-petualangan lainnya</description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Feb 2012 03:49:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Dongeng Gajah Melintasi Eropa</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/dongeng-gajah-melintasi-eropa-2968.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/dongeng-gajah-melintasi-eropa-2968.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Aug 2011 14:32:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan]]></category>
		<category><![CDATA[Jose Saramago]]></category>
		<category><![CDATA[Novel]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[The Elephant Journey]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/blog/dongeng-gajah-melintasi-eropa-2968.php</guid>
		<description><![CDATA[Jose Saramago dikenal dengan resep "what if" yang fantastis di novel-novelnya. Meskipun tak seheboh bagaimana jika semenanjung Iberia terpenggal dan hanyut ke laut (<em>The Stone Raft</em>), atau bagaimana jika sosok nama pena Fernando Pessoa muncul di hari kematiannya (<em>The Year of the Death of Ricardo Reis</em>), atau bagaimana jika separuh penduduk kota terserang kebutaan (<em>Blindness</em>), kali ini sang penulis menawarkan kisah: apa yang terjadi jika seekor gajah dibawa dari Lisbon ke Vienna di tahun 1551 (<em>The Elephant Journey</em>). Gajah jelas bukan binatang yang umum di Eropa barat, bahkan sekarang ini pun barangkali mereka cuma melihatnya di sirkus atau kebun binatang.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>
<p>
<div class='p_embed p_image_embed'> <a href="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2011-08-21/vgomnwrafcCrkvfqAnEuvEHcJjaHnExBwavJECakonjEjrergkawnIitkhxd/elephantjourney.jpg.scaled1000.jpg"><img alt="Elephantjourney" height="298" src="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2011-08-21/vgomnwrafcCrkvfqAnEuvEHcJjaHnExBwavJECakonjEjrergkawnIitkhxd/elephantjourney.jpg.scaled500.jpg" width="500" /></a> </div>
</p>
<p>Jose Saramago dikenal dengan resep &#8220;what if&#8221; yang fantastis di novel-novelnya. Meskipun tak seheboh bagaimana jika semenanjung Iberia terpenggal dan hanyut ke laut (<em>The Stone Raft</em>), atau bagaimana jika sosok nama pena Fernando Pessoa muncul di hari kematiannya (<em>The Year of the Death of Ricardo Reis</em>), atau bagaimana jika separuh penduduk kota terserang kebutaan (<em>Blindness</em>), kali ini sang penulis menawarkan kisah: apa yang terjadi jika seekor gajah dibawa dari Lisbon ke Vienna di tahun 1551 (<em>The Elephant Journey</em>). Gajah jelas bukan binatang yang umum di Eropa barat, bahkan sekarang ini pun barangkali mereka cuma melihatnya di sirkus atau kebun binatang.</p>
<p>Satu malam, Saramago pergi makan bersama rekannya di sebuah restoran bernama &#8220;Gajah&#8221;. Di dalamnya ada ukiran kayu berderet, yang ternyata berupa bangunan-bangunan dari berbagai negara Eropa, yang menyiratkan sejenis jalur perjalanan. Saramago kemudian diberitahu rekannya, itu perupakan ilustrasi perjalanan seekor gajah di abad enam belas dari Lisbon ke Vienna. Dengan seketika otak pendongengnya bekerja: pasti ada sesuatu yang bisa diceritakan dari perjalanan gajah tersebut.</p>
<p><span id="more-2968"></span></p>
<p>Di sinilah dengan jeli bagaimana ia merajut kisah perjalanan seekor gajah melintasi benua Eropa menjadi &#8220;kisah yang lain&#8221;. Yakni tentang kisah seorang asing di negeri asing (pawang si gajah bernama Subhro, dibawa langsung dari India, negeri asal si gajah); Tentang hamba dan rajanya (Subhro dan raja Portugis, kemudian Subrho dengan bangsawan Austria, kepada siapa gajah itu diberikan); kisah mengenai ekspedisi militer (ya, rombongan gajah itu dikawal oleh satu pasukan tentara); dan tentu saja kisah hubungan manusia dan binatang (apalagi jika antara manusia-manusia di sekitarnya dengan si gajah).</p>
<p>Bahkan kisah ini pun menyeret wilayah politik agama, bahkan perbenturan agama Hindu dan Katolik, serta kemudian antara Katolik dan Protestan. Dikisahkan, di tengah perjalanan, Subhro bercerita tentang makna gajah bagi orang India kepada komandan pasukan. Subhro tentu saja bilang, bahwa gajah di India berarti Ganesha, salah satu dewa mereka. Rupanya hal ini dianggap bidah oleh penduduk yang mendengar bahwa seekor gajah dianggap sebagai dewa/tuhan. Urusan ini dengan segera sampai ke telinga pastor gereja lokal.</p>
<p>Situasi cerita ini di tengah zaman Inkuisisi. Artinya: bidah dan sejenisnya, ancamannya jelas tak cuma ditangkap, mungkin juga dibakar layaknya penyihir. Menganggap seekor gajah sebagai tuhan, tentu tak ada tempat di masyarakat Eropa masa itu. Demikianlah si gajah bahkan sudah terancam jauh sebelum sampai tempat tujuan. Tapi di tempat lain, si gajah justru kali ini berhasil dimanfaatkan gereja Katolik. Kemampuannya untuk mengikuti perintah sang pawang, dimanfaatkan untuk melewati dan menghormat di depan patung seorang santa. Kelakuan ini dengan cepat dianggap sebagai mukjizat. Dalam hal ini, gereja Katolik sedang membutuhkan lebih banyak mikjizat dalam rangka menghadapi gerakan Protestan yang semakin meluas di Eropa.</p>
<p>Sebagaimana biasa, di tangan Saramago, kisah mengenai perjalanan seekor gajah tak semata-mata menjadi &#8220;kisah mengenai perjalanan seekor gajah&#8221;. Selalu lebih dari itu.</p>
<p>Tapi yang menarik perhatian saya, dan dungunya saya baru menyadarinya sekarang setelah membaca beberapa novelnya, adalah gaya narasinya yang seringkali melantur. Maksud saya, jika ia sedang menceritakan sesuatu, kemudian sampai pada obyek A, ia akan melantur dulu menceritakan A, sebelum kembali ke arus utama cerita. Awalnya saya selalu menganggap ini sebagai sejenis gangguan ketika membaca novel-novelnya (di luar kalimat dan paragrafnya yang panjang-panjang). Tapi kemudian saya sadar: itu strateginya untuk memperlihatkan bahwa sang narator, tengah bicara langsung dengan pendengar/pembacanya. Dan lanturan itu diperlukan seringkali untuk memberi konteks yang lebih luas.</p>
<p>Lihat saja bagian pembukanya. Pada dasarnya ia ingin mengabarkan bahwa ide memberikan hadiah gajah itu datang dari permaisuri. Tapi Saramago berputar dulu mengisahkan (atau berceramah) mengenai pentingnya &#8220;ranjang kerajaan&#8221; dalam berbagai hal kebijakan (hahaha!). Dan mengenai narator yang ngobrol asyik dengan pembacanya, maksud saya adalah, narator ini sengaja memberi jarak yang ketara dengan ceritanya. Katakanlah cerita novel ini bersetting tahun 1551, tapi si narator sengaja tak mencoba berada di tempat yang sama dengan cerita, melainkan memilih berada di tempat yang sama dengan pembaca (yakni tahun 2000an) dengan mengatakan: &#8220;Sayang sekali fotografi belum ditemukan di abad enam belas &#8230;&#8221;</p>
<p>Seperti orang mendongeng, benar-benar mendongeng secara lisan, yang kebetulan saja dituliskan. Seperti itulah saya kira novel (dan novel-novelnya yang lain) Saramago ini.</p>
</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/dongeng-gajah-melintasi-eropa-2968.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bacaan dan Percik Ingatan</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/bacaan-dan-percik-ingatan-2950.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/bacaan-dan-percik-ingatan-2950.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Jul 2011 08:08:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Novel]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[The Mysterious Flame of Queen Loana]]></category>
		<category><![CDATA[Umberto Eco]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/blog/bacaan-dan-percik-ingatan-2950.php</guid>
		<description><![CDATA[<p><div class='p_embed p_image_embed'> <a href="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/ekakurniawan/gKZZQNkplqdrdoSYqznw4XILMoyIpVOdS5FA5zBb8NYqvWZhE9LjEPUKWhEq/queen-loana.jpg"><img alt="Queen-loana" height="320" src="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/ekakurniawan/Dgh1z4hWWe174bFgFtkE0BBbd3ZoU6TE3t5dtyWh6XDmepLR5yeCl2TX19aK/queen-loana.jpg.scaled.500.jpg" width="500" /></a> </div></p> <p>Saya belum membaca novel Umberto Eco yang lain. Saya pernah menonton film "The Name of the Rose", dan gara-gara film itu, saya kehilangan minat membaca novel aslinya. Meskipun begitu, barangkali didorong bacaan saya atas esai-esainya, saya tertarik membaca novel-novelnya yang lain. "The Mysterious Flame of Queen Loana" jadi korban pertama saya. Saya juga menemukan "Faucault's Pendulum" dan "Baudolino" dari toko buku bekas, tapi setelah ini barangkali saya ingin membaca dulu "The Island of the Day Before". <p /> Sementara judul-judul itu masih dalam rencana baca, mari kita ngobrol soal "The Mysterious Flame of Queen Loana". Sejujurnya, kesan awal pembukaan cerita novel ini agak mengingatkan saya pada sinetron: seorang lelaki tua terbangun dari koma, dan ia lupa ingatan. Lupa siapa istrinya, siapa anak-anaknya, teman-temannya, bahkan tak ingat namanya! Tapi tak ada hal baru di bawah langit, yang unik tentu saja bagaimana penulis mengolah bahan yang basi seperti itu menjadi menarik. <p /> Dengan latar belakang sebagai profesor semiotika, Umberto Eco tahu betul bagaimana bermain-main dengan ceritanya. Si lelaki tua, Yambo, memang hilang ingatan. Tapi ada satu bagian yang dia tak lupa: apa-apa yang pernah dibacanya. Demikianlah ia mencoba menyibak tabir masa lalunya, siapa dirinya, dengan cara berkelana melalui buku-buku yang pernah dibacanya, dengan harapan memercikan "mysterious flame" di ingatannya. Petualangan membaca buku-buku masa kecil dan masa remajanya inilah, yang membuat novel ini tak sekadar cerita, tapi sekaligus menjadi sejenis kajian atas roman-roman dan komik-komik populer sebagai penanda zaman. </p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>
<div class='p_embed p_image_embed'> <a href="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/ekakurniawan/gKZZQNkplqdrdoSYqznw4XILMoyIpVOdS5FA5zBb8NYqvWZhE9LjEPUKWhEq/queen-loana.jpg"><img alt="Queen-loana" height="320" src="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/ekakurniawan/Dgh1z4hWWe174bFgFtkE0BBbd3ZoU6TE3t5dtyWh6XDmepLR5yeCl2TX19aK/queen-loana.jpg.scaled.500.jpg" width="500" /></a> </div>
</p>
<p>Saya belum membaca novel Umberto Eco yang lain. Saya pernah menonton film &#8220;The Name of the Rose&#8221;, dan gara-gara film itu, saya kehilangan minat membaca novel aslinya. Meskipun begitu, barangkali didorong bacaan saya atas esai-esainya, saya tertarik membaca novel-novelnya yang lain. &#8220;The Mysterious Flame of Queen Loana&#8221; jadi korban pertama saya. Saya juga menemukan &#8220;Faucault&#8217;s Pendulum&#8221; dan &#8220;Baudolino&#8221; dari toko buku bekas, tapi setelah ini barangkali saya ingin membaca dulu &#8220;The Island of the Day Before&#8221;.
<p /> Sementara judul-judul itu masih dalam rencana baca, mari kita ngobrol soal &#8220;The Mysterious Flame of Queen Loana&#8221;. Sejujurnya, kesan awal pembukaan cerita novel ini agak mengingatkan saya pada sinetron: seorang lelaki tua terbangun dari koma, dan ia lupa ingatan. Lupa siapa istrinya, siapa anak-anaknya, teman-temannya, bahkan tak ingat namanya! Tapi tak ada hal baru di bawah langit, yang unik tentu saja bagaimana penulis mengolah bahan yang basi seperti itu menjadi menarik.
<p /> Dengan latar belakang sebagai profesor semiotika, Umberto Eco tahu betul bagaimana bermain-main dengan ceritanya. Si lelaki tua, Yambo, memang hilang ingatan. Tapi ada satu bagian yang dia tak lupa: apa-apa yang pernah dibacanya. Demikianlah ia mencoba menyibak tabir masa lalunya, siapa dirinya, dengan cara berkelana melalui buku-buku yang pernah dibacanya, dengan harapan memercikan &#8220;mysterious flame&#8221; di ingatannya. Petualangan membaca buku-buku masa kecil dan masa remajanya inilah, yang membuat novel ini tak sekadar cerita, tapi sekaligus menjadi sejenis kajian atas roman-roman dan komik-komik populer sebagai penanda zaman. <br /><span id="more-2950"></span><br />Meskipun tentu saja beda maksud dan tujuan, bagian-bagian tertentu novel ini mengingatkan saya pada film &#8220;Cinema Paradiso&#8221;. Ganti film di &#8220;Cinema Paradiso&#8221; dengan buku dan komik, maka akan jadi &#8220;The Mysterious Flame of Queen Loana&#8221;. Tentu saja tidak persis seperti itu. Barangkali saya teringat hal itu karena novel dan film sama-sama berlatar Italia, dengan kisah mengenai lelaki tua yang mengenang kembali masa lalunya. Ingatan semacam itu tentu sah, sebab kenangan tak lebih merupakan &#8220;sejarah personal&#8221;. Setiap benda selalu memercikan api sejarah, tapi sejarah yang terkuak barangkali berbeda dari satu orang ke orang lain. Itulah teman novel ini secara umum.
<p /> Untuk pembaca yang semata-mata menginginkan cerita dan petualangan, drama maupun roman, bagian kedua novel ini (yang merupakan bagian paling panjang), mungkin akan terasa membosankan. Isinya melulu bercerita tentang buku, komik, majalah, dan sesekali musik, dengan referensi ke sana-kemari. Tapi sebagaimana melalui esai-esainya, Eco mencacah bacaan-bacaan itu menjadi percik-percik, tak hanya sejarah kehidupan masa kecil dan masa remaja Yambo, tapi juga sejarah Italia dan Fasisme yang diingat Yambo.
<p /> Melalui bacaan semacam Micky Tikus dan Donal Bebek, kita diajak berkelana pada sejarah industri buku, budaya penerjemaan, proses adaptasi budaya, bahkan politik yang pasang-surut antara Italia dan Amerika. Beberapa buku yang dibahas barangkali kita kenal karena merupakan &#8220;bacaan dunia&#8221;, tapi beberapa barangkali asing dan hanya dimengerti oleh pembaca Italia (atau paling tidak Eropa).
<p /> Sepanjang membaca novel ini, jujur saya malah berkelana sendiri membayangkan saya dalam posisi Yambo. Bacaan saya tentu jauh berbeda dengan Yambo, tapi menarik juga melacak masa lalu sendiri (dan negeri kita) melalui bacaan. Pertama barangkali saya akan membaca ulang novel-novel serial Wiro Sableng yang saya baca pada umur belasan, dan mencoba mencari tahu, &#8220;percik ingatan&#8221; macam apa yang saya peroleh dari sana. Mungkin saya akan membaca kembali majalah Bobo dari tahun 80an awal, membaca Paman Kikuk, Husin dan Asta. Membaca Si Janggut. Semakin besar saya membaca komik-komik silat, membaca cersil Kho Ping Hoo, kisah-kisah misteri Abdullah Harahap. Zaman jatuh cinta pertama kali kepada seorang gadis, saya sedang membaca serial &#8220;Lupus&#8221;.
<p /> Apakah kita bisa membaca politik negeri ini melalui bacaan-bacaan populer semacam itu? Saya yakin, sebagaimana Umberto Eco melakukannya melalui novel ini, bisa dilakukan. Tapi tentu saja membutuhkan ketekunan, dan kejelian &#8220;membaca&#8221; dan menafsir.
<p /> Melalui penjelajahan bacaan-bacaan masa kecilnya pula, Yambo mengenang kembali sejarah negerinya di bawah fasisme. Ini bagian paling menarik di bagian kedua buku itu. Kita tahu, fasisme memiliki kecenderungan untuk menyeragamkan makna. Tapi mungkinkah tafsir orang atas sesuatu sama? Tentu saja mungkin, jika pikiran kita terpenjara. Tapi Yambo, yang baru bangun dari koma, dan sebagian ingatannya bermasalah, menunjukkan bahwa pikiran yang bebas bisa membawanya kemana pun. Dan &#8220;percik misterius&#8221; di dalam ingatan, seperti mesin waktu yang akan melemparkan kita entah ke mana. </p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/bacaan-dan-percik-ingatan-2950.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dua Novel Isaac Bashevis Singer</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/dua-novel-isaac-bashevis-singer-2916.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/dua-novel-isaac-bashevis-singer-2916.php#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 May 2011 17:46:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Isaac Bashevis Singer]]></category>
		<category><![CDATA[Nobel]]></category>
		<category><![CDATA[Polandia]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Shosha]]></category>
		<category><![CDATA[The Slave]]></category>
		<category><![CDATA[Yahudi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/blog/dua-novel-isaac-bashevis-singer-2916.php</guid>
		<description><![CDATA[Isaac Bashevis Singer, barangkali bukan nama yang dikenal umum, meskipun ia salah satu penulis yang memperoleh Nobel Kesusatraan (1978). Saya menemukan namanya secara tak sengaja melalui cerita bersambung di majalah Femina (lupa judulnya, lupa edisi kapan), dan saya diingatkan kembali ketika membaca komentar pendeknya atas karya Knut Hamsun (juga lupa di mana). Dari sana saya coba mencari tahu tentangnya, membaca di satu tempat bahwa karya-karyanya memang sangat terpengaruh oleh Knut Hamsun.

Sekali waktu istri saya menonton film "Yentl" di televisi, dan tampak kegirangan menemukan film itu. Katanya ia sudah lama ingin menontonnya. Saya tanya, apa ceritanya? Setelah ia menceritakan secara singkat, saya langsung komentar, "Itu seperti tema-tema cerita Isaac Bashevis Singer. Barangkali diangkat dari karyanya." Intinya, kisahnya mengenai kaum Yahudi. Tapi berbeda dengan kisah-kisah Yahudi yang sering kami baca di novel atau tonton di film, ini bukan kisah Yahudi yang gelap, dikejar-kejar atau di-gheto-kan Nazi, dan sejenisnya. Tapi tentang kehidupan sehari-hari orang Yahudi, dengan roman percintaan, dan problem-problem teologis maupun sosial-agama. Saya cari di internet, dan ternyata tebakan saya benar, "Yentl" merupakan salah satu cerita pendeknya. Tentu saja ini memberi saya minat tambahan untuk mulai membaca satu-dua karyanya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>
<p> <a href="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/ekakurniawan/3tcJyYxNHcdx5pohR9k4RNH4PupN0N4zbW2b4PINbzr1qHQSA9swW0bqrA2r/IsaacBashevis.jpg"><img alt="Isaacbashevis" height="335" src="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/ekakurniawan/MgygXgj0gQzNeS45dNKr4WWQaRDFBxcYd8jDDLMoU1n5Cm2k3Bb99j43j9aI/IsaacBashevis.jpg.scaled.500.jpg" width="500" /></a> </p>
<p>Isaac Bashevis Singer, barangkali bukan nama yang dikenal umum, meskipun ia salah satu penulis yang memperoleh Nobel Kesusatraan (1978). Saya menemukan namanya secara tak sengaja melalui cerita bersambung di majalah Femina (lupa judulnya, lupa edisi kapan), dan saya diingatkan kembali ketika membaca komentar pendeknya atas karya Knut Hamsun (juga lupa di mana). Dari sana saya coba mencari tahu tentangnya, membaca di satu tempat bahwa karya-karyanya memang sangat terpengaruh oleh Knut Hamsun.
<p /> Sekali waktu istri saya menonton film <em>Yentl</em> di televisi, dan tampak kegirangan menemukan film itu. Katanya ia sudah lama ingin menontonnya. Saya tanya, apa ceritanya? Setelah ia menceritakan secara singkat, saya langsung komentar, &#8220;Itu seperti tema-tema cerita Isaac Bashevis Singer. Barangkali diangkat dari karyanya.&#8221; Intinya, kisahnya mengenai kaum Yahudi. Tapi berbeda dengan kisah-kisah Yahudi yang sering kami baca di novel atau tonton di film, ini bukan kisah Yahudi yang gelap, dikejar-kejar atau di-gheto-kan Nazi, dan sejenisnya. Tapi tentang kehidupan sehari-hari orang Yahudi, dengan roman percintaan, dan problem-problem teologis maupun sosial-agama. Saya cari di internet, dan ternyata tebakan saya benar, <em>Yentl</em> merupakan salah satu cerita pendeknya. Tentu saja ini memberi saya minat tambahan untuk mulai membaca satu-dua karyanya. <br /><span id="more-2916"></span>
<p /> Kesempatan itu datang bersamaan dengan sampainya pesanan dua novelnya, <em>The Slave</em> dan <em>Shosha</em>. Saya memesannya dari internet, dari toko buku bekas (selain jarang edisi baru, saya memang suka dengan buku bekas, tapi soal ini kapan-kapan saya cerita). Dalam dua minggu, saya membaca kedua novel itu hingga selesai, menyingkirkan dulu novel-novel lain yang belum saya baca. Benarlah memang, gayanya mendekati cara Hamsun menulis. Tapi seperti banyak ditulis kritikus, Hamsun sering bermain di wilayah ego karakter utamanya; sementara Singer bermain di wilayah ego karakter utamanya, yang berbenturan dengan tuntutan sosial agama/komunitas Yahudi.
<p /> Novel <em>The Slave</em> sangat menyiratkan hal itu. Dengan latar Polandia abad ketujuh belas, kisah berputar mengenai Jacob, seorang anak rabi yang saleh. Setelah kota tempatnya tinggal diserbu bangsa Cossack, dan banyak orang Yahudi dibunuh, diperkosa, Jacob dijual sebagai budak kepada seorang petani desa. Di sanalah ia bertemu dengan anak si petani, Wanda seorang janda, yang jatuh cinta kepadanya. Di tengah padang rumput, di tengah ancaman kematian (orang-orang di desa itu menganggap Yahudi sebagai penyakit yang bisa membawa petaka), dikelilingi gunung-gunung dan bukit-bukit, kisah cinta mereka terajut.
<p /> Jacob tak menyangkal memiliki hasrat berahi kepada Wanda, tapi ia tak berani berbuat lebih jauh, dan hanya memendam saja hasrat itu. Ia punya istri dan dua anak yang entah dimana (saat itu ia belum tahu mereka termasuk korban pembantaian Cossack). Tapi yang lebih penting lagi, ia tak berani memenuhi hasrat berahinya karena sadar, zinah merupakan dosa. Itu yang pertama. Yang kedua, bahkan jika ia berpikir tentang pernikahan, juga dosa jika ia menikahi perempuan kafir (Wanda seorang Kristen, tapi digambarkan bahwa penghuni desa itu meskipun secara legal beragama Kristen, tapi masih banyak yang percaya pada adat/agama/ritual penyembah berhala). Ketiga, bahkan jika Wanda bersedia masuk menjadi &#8220;anak Israel&#8221; (yakni menjadi Yahudi), juga terlarang jika ia menjadi Yahudi karena cinta, dan bukan karena percaya kepada Tuhan.
<p /> Di sinilah Jacob terlibat pertarungan antara hasrat daging-tubuhnya, dan ikatan moral-jiwanya. Dan di sini pulalah, perjalanan perdebatan antara hukum-hukum agama yang mengikat, dan tafsir yang mencoba membebaskan diri dari ikatan tersebut. (Saya jadi terpikirkan hal ini: ketika kita menghadapi hukum agama yang tidak sejalan dengan apa yang kita kehendaki/pikirkan, di titik itulah kita mulai mencoba memberi tafsir. Saya pikir hal ini tak hanya terjadi pada Jacob dan hukum-hukum agama Yahudi-nya, tapi barangkali terjadi atas semua umat agama dan hukum-hukum agama mereka. Siapa tahu?)
<p /> Jika Jacob merupakan gambaran sosok saleh yang harus melakukan perbuatan dosa dan bagaimana ia mencari pembenaran atas tindakannya (atau mencoba menghapus dosanya, atau mencoba mencari kompromi), hal sebaliknya terjadi pada Aaron dalam novel <em>Shosha</em> (dengan latar belakang tahun-tahun sebelum penyerbuan Hitler ke Polandia). Aaron, meskipun sama-sama anak rabi, sejak awal digambarkan sudah tidak saleh. Ia tak lagi melakukan ritual agama, ia juga kumpul kebo dengan pacarnya, meniduri dua perempuan temannya, dan meniduri pelayan di kamar pondokannya. Intinya, ia orang yang agak bejat dari sudut pandang moral agama. Tapi ketika ia bertemu dengan Shosha, gadis masa kecilnya, ia mencoba menjadi orang saleh.
<p /> Meskipun dilihat dari sudut pandang yang berbeda, di sini cinta menjadi peletup bagaimana orang berperilaku terhadap agama. Di kedua novel, agama kemudian, alih-alih merupakan hubungan antara manusia dan Tuhan, tak lebih menjadi sejenis syarat dan prasyarat dalam hubungan berkomunitas. Jacob dan Aaron, dengan karakter yang berbeda, beragama lebih karena tuntutan komunitas Yahudi di sekitarnya. Dalam kasus Jacob, bahkan meskipun ia terkurung di tengah padang rumput dan jauh dari orang-orang Yahudi, tekanan itu tetap terasa. Dalam kasus Aaron, bahkan meskipun ia sudah tidur dengan banyak perempuan, meskipun Shosha agak sakit (kekanak-kanakan dan rada terbelakang), ketika ia berbaring di ranjang bersama Shosha (sebelum mereka menikah), ia tetap tak mau menyentuhnya.
<p /> Tapi pada titik lain, kisah cinta Aaron kepada Shosha dan Jacob kepada Wanda, justru memperlihatkan sesuatu yang tampak ilahiah: tak terelakkan, sejenis takdir, di luar rasio, di luar ikatan-ikatan sosial. Perjalanan kisah cinta mereka tampak seperti perjalanan spiritual. Bahkan kemudian Wanda digambarkan sebagai orang suci (sejenis santa atau wali). Demikian pula gambaran Shosha sejak awal: tanpa dosa. Atau barangkali benarlah apa kata kebanyakan orang, bahwa pada dasarnya inti dari agama, inti dari ajaran Tuhan, adalah cinta? Dan cinta paling mudah digambarkan melalui hubungan antara lelaki dan perempuan, juga melibatkan nafsu daging-tubuh, selain dorongan jiwa yang tak terjelaskan.
<p /> Saya pikir, kedua novel merupakan pintu yang bagus untuk mengenal karya-karya Isaac Bashevis Singer. Saya berharap bisa membaca beberapa novelnya yang lain. Dan terakhir, saya pikir penulis-penulis yang tertarik menggarap aspek-aspek sosial agama dalam karya mereka, juga bisa belajar melalui Singer. Kenapa tidak?
<p /></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/dua-novel-isaac-bashevis-singer-2916.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sudut Pandang Allah dan Manusia</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/sudut-pandang-allah-dan-manusia-2819.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/sudut-pandang-allah-dan-manusia-2819.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Feb 2011 14:32:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan]]></category>
		<category><![CDATA[My Name is Red]]></category>
		<category><![CDATA[Novel]]></category>
		<category><![CDATA[Orhan Pamuk]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Snow]]></category>
		<category><![CDATA[The Museum of Innocence]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/blog/sudut-pandang-allah-dan-manusia-2819.php</guid>
		<description><![CDATA[Setelah <em>Snow</em> dan <em>The Museum of Innocence</em>, akhirnya saya memutuskan untuk membaca <em>My Name is Red</em>. Meskipun saya masih lebih menikmati <em>The Museum of Innocence</em>, saya pikir ada hal menarik dari novel ini untuk diperbincangkan. Terutama satu hal yang jelas tampak sejak bab-bab pertama: novel ini pada dasarnya merupakan esai panjang mengenai seni. Yang diperbincangkan memang khususnya seni miniatur (menghias buku) dan ilustrasi, tapi saya pikir bisa diterapkan ke semua genre kesenian.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah <em>Snow</em> dan <em><a href="http://ekakurniawan.com/?p=2461">The Museum of Innocence</a></em>, akhirnya saya memutuskan untuk membaca <em>My Name is Red</em>. Meskipun saya masih lebih menikmati <em>The Museum of Innocence</em>, saya pikir ada hal menarik dari novel ini untuk diperbincangkan. Terutama satu hal yang jelas tampak sejak bab-bab pertama: novel ini pada dasarnya merupakan esai panjang mengenai seni. Yang diperbincangkan memang khususnya seni miniatur (menghias buku) dan ilustrasi, tapi saya pikir bisa diterapkan ke semua genre kesenian.</p>
<p>Dengan cerdik, Orham Pamuk membungkus perbincangan panjang mengenai seni ini dalam balutan kisah misterius pembunuhan seorang miniaturis, serta kisah cinta yang ruwet antara Black dan Shekure. Sementara kita diajak untuk mencari tahu siapa pembunuh sang miniaturis, kita dipaparkan oleh bukti-bukti, motif-motif, yang semuanya justru mengacu ke perdebatan mengenai seni. Utamanya, perdebatan mengenai seni barat dan seni timur. Pemisahan seni barat dan seni timur ini tentunya sulit ditarik garis tegas, meskipun bolehlah dalam versi novel ini disederhanakan dengan cara: seni timur mengacu kepada &#8220;apa yang dilihat Allah&#8221;, sementara seni barat mengacu kepada &#8220;apa yang dilihat manusia&#8217;.<span id="more-2819"></span></p>
<p>Apa yang dilihat oleh Allah, pada dasarnya penjelasan filosofis atas &#8220;idealisme&#8221;. Seniman melukis kuda atau pohon sebagai &#8220;ide mengenai kuda&#8221; atau &#8220;ide mengenai pohon&#8221;. Sementara apa yang dilihat oleh manusia, bisalah kita rujuk kepada &#8220;materialisme&#8221;. Seniman melukis kuda atau pohon, sebagaimana &#8220;mereka melihat kuda&#8221; atau &#8220;mereka melihat pohon.&#8221; Salah satu yang paling menonjol dalam perbedaan ini tentu saja: sudut panang dan keunikan setiap obyek.</p>
<p>Sekali lagi, membedakan barat sebagai &#8220;materialis&#8221; dan timur sebagai &#8220;idealis&#8221;, tentu terlalu menyederhanakan. Dalam hal ini, Pamuk akhirnya mengeluarkan kutipan singkat, yang malah jadi sejenis olok-olok untuk para seniman yang tengah berdebat hingga saling bunuh itu, bahwa &#8220;Kepunyaan Allah apa yang di barat dan di timur.&#8221; Kita tahu, itu kutipan dari Al-Quran, Al-Baqoroh 115.</p>
<p>Oh ya, stuktur novel ini ditulis dari berbagai sudut pandang tokoh-tokohnya. Termasuk dari sudut pandang orang mati dan seekor anjing. Ah, ini sih tidak istimewa. Saya pikir William Faulkner melakukannya lebih keren di novel <em>As I Lay Dying</em>. Tapi barangkali ada maksudnya juga Orhan Pamuk melakukan ini: ia ingin bicara tentang sudut pandang. Sebab memang itulah tema besar dalam diskusi seni di novel ini.</p>
<p>Ceritanya, sang sultan ingin dilukis dengan cara orang-orang barat dilukis: mirip, detail, dan terutama: bagaikan dilihat oleh manusia. Sehingga ketika orang melihatnya, serasa mereka melihat sang sultan sendiri. Nah, melukis dengan sudut pandang manusia inilah yang dianggap subversif, mengancam sudut pandang Allah. Tak hanya subversif, tapi mungkin sudah penistaan. Itulah awal mula motif pembunuhan ini.</p>
<p>Di luar itu, tentu lebih banyak detail mengenai kedua mazhab idealis dan materialis ini. Sebagian besar Pamuk ceritakan melakui fabel-fabel, atau kisah para miniaturis terdahulu. Saya ingin mengutip salah satunya, mengenai &#8220;style&#8221; dan &#8220;signature&#8221;. Atau &#8220;gaya&#8221; dan &#8220;tandatangan&#8221;. Melalui tiga parabel mengenai hal itu, disimpulkan bahwa pertama, &#8220;gaya&#8221; merupakan &#8220;ketidaksempurnaan&#8221;. Kedua, lukisan yang &#8220;sempurna&#8221; tak memerlukan &#8220;tandatangan&#8221;. Maka, ketiga, &#8220;tandatangan&#8221; dan &#8220;gaya&#8221; tak lebih merupakan perayaan &#8220;ketidaksempurnaan&#8221;.</p>
<p>Baiklah, seperti pengulas yang baik pada umumnya, saya tak perlu membocorkan terlalu banyak isi buku ini. Sekadar info, novel ini sudah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dengan judul &#8220;Namaku Merah Kirmizi&#8221; (jika saya tak salah ingat, ya). Saya membaca versi Inggris, jadi saya tak tahu bagaimana kualitas terjemahan Bahasa Indonesianya. Mudah-mudahan saja bagus. Selamat membaca.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/sudut-pandang-allah-dan-manusia-2819.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Shadow of the Wind</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/the-shadow-of-the-wind-2157.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/the-shadow-of-the-wind-2157.php#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Nov 2010 10:25:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan]]></category>
		<category><![CDATA[Carlos Ruiz Zafon]]></category>
		<category><![CDATA[Novel]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[The Shadow of the Wind]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/wordpress/blog/the-shadow-of-the-wind-2157.php</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu lalu, saya menghabiskan waktu luang dengan membaca novel Carlos Ruiz Zafon, The Shadow of the Wind. Jika kamu suka membaca buku petualangan, menyibak misteri, dengan tokoh anak belasan tahun terlibat dalam roman percintaan, buku ini akan saya rekomendasikan. Sejujurnya, buku semacam itulah yang saya baca untuk menghibur diri. Tak jauh berbeda dengan buku-buku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>
<p><a href='http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2010-11-13/nfAIEuhcbxiiFIptAgrctDFHrAAcoBczbczjdHdyBqqfIwruIagxsuDIhmFa/Shadow-of-the-Wind.jpg.scaled1000.jpg'><img src="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2010-11-13/nfAIEuhcbxiiFIptAgrctDFHrAAcoBczbczjdHdyBqqfIwruIagxsuDIhmFa/Shadow-of-the-Wind.jpg.scaled500.jpg" width="500" height="390"/></a> </p>
<p>Beberapa waktu lalu, saya menghabiskan waktu luang dengan membaca novel Carlos Ruiz Zafon, <em>The Shadow of the Wind</em>. Jika kamu suka membaca buku petualangan, menyibak misteri, dengan tokoh anak belasan tahun terlibat dalam roman percintaan, buku ini akan saya rekomendasikan. Sejujurnya, buku semacam itulah yang saya baca untuk menghibur diri. Tak jauh berbeda dengan buku-buku yang saya baca belasan tahun lalu.</p>
<p>Sebagaimana kebanyakan novel yang baik: bab-bab pertama buku ini dibuka langsung oleh permasalah yang misterius. Daniel, anak seorang penjual buku antik, menemukan sebuah novel karya Julian Carax berjudul <em>The Shadow of the Wind</em> di Kuburan Buku. Itu semacam perpustakaan tersembunyi dimana buku-buku disimpan. Dalam sekali baca, ia segera menyukai novel tersebut, dan tentu saja berusaha untuk menemukan karya lain dari penulis yang sama.</p>
<p>Di sinilah kemudian misteri itu muncul: ia tak menemukan novel lain karya penulis tersebut dimana-mana, meskipun jelas penulis tersebut menulis banyak novel. Informasi selanjutnya, Daniel segera tahu bahwa ternyata ada seseorang, selama bertahun-tahun, juga memburu novel-novel karya Carax. Untuk apa? Untuk dibakar dan dihancurkan. Seluruh isi novel tebal ini kemudian adalah petualangan Daniel untuk mencari tahu, siapa orang misterius yang menghancurkan karya-karya Carax, dan apa motivasinya?<span id="more-2157"></span></p>
<p><em>The New York Times Book Review</em> menyebut Zafon sebagai, &#8220;Gabriel Garcia Marquez meets Umberto Eco meets Jorge Luis Borges for a sprawling magic show, exasperatingly tricky, and mostly wonderful &#8230;&#8221; Jujur saja, menurut saya agak berlebihan. Novel ini sesederhana karya detektif, dengan Daniel dan teman-temannya berperan sebagai detektif amatir. Kecuali barangkali sama-sama ditulis dalam bahasa Spanyol, saya tak tahu dimana kesamaannya, baik secara teknis maupun tema, dengan novel-novel Marquez.</p>
<p>Tentu saja, novel ini penuh trik-trik yang menipu, dengan putaran-putaran tak terduga di dalam plotnya. Sesuatu yang sekilas akan mengingatkan kita kepada Borges. Apalagi tema cerita berkisar di sekitar buku, yang merupakan tema kebanyakan cerpen Borges. Dan kita juga tahu, Borges banyak mempergunakan trik-trik cerita detektif dalam cerpen-cerpennya. Tapi perbedaan mendasar: trik-trik tipuan dalam cerpen-cerpen Borges, sebagian besar merupakan lelucon filsafat. Di novel ini, itu tak lebih merupakan kebutuhan plot.</p>
<p>Baiklah, itu hanya pandangan saya. Di luar itu, novel ini tetap asyik dibaca. Ia mencampurkan kisah percintaan, petualangan, politik, dalam sebuah tragedi keluarga. Dan semuanya dilacak dari seorang penulis yang buku-bukunya menghilang secara misterius, dengan <em>setting</em> kota Barcelona tahun 1945. Jika ada waktu luang, saya tak akan keberatan membaca novel berikutnya dari Zafon, yang tampaknya merupakan skuel dari novel ini, yakni <em>The Angel&#8217;s Game</em>.</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/the-shadow-of-the-wind-2157.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Bisikan Arwah&#8221; Abdullah Harahap</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/bisikan-arwah-abdullah-harahap-arwah-dan-dendam-965.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/bisikan-arwah-abdullah-harahap-arwah-dan-dendam-965.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Mar 2009 10:29:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan]]></category>
		<category><![CDATA[Abdullah Harahap]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Horor]]></category>
		<category><![CDATA[Novel]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=965</guid>
		<description><![CDATA[Tak terasa sudah hampir tujuh bulan proyek &#8220;Tribute to Abdullah Harahap&#8221; berlangsung (lihat posting katalog buku Abdullah Harahap). Saya, Intan Paramaditha dan Ugoran Prasad sudah beberapa kali bertemu untuk mendiskusikan proyek kami, dan terus berjalan. Pertemuan terakhir, kami melakukannya melalui Yahoo Messanger karena saat itu berada di tempat yang berjauhan. Dalam diskusi terakhir kami, saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tak terasa sudah hampir tujuh bulan proyek &#8220;Tribute to Abdullah Harahap&#8221; berlangsung (lihat posting <a href="http://ekakurniawan.com/blog/katalog-pertama-abdullah-harahap-461.php">katalog buku Abdullah Harahap</a>). Saya, Intan Paramaditha dan Ugoran Prasad sudah beberapa kali bertemu untuk mendiskusikan proyek kami, dan terus berjalan. Pertemuan terakhir, kami melakukannya melalui Yahoo Messanger karena saat itu berada di tempat yang berjauhan.</p>
<p>Dalam diskusi terakhir kami, saya memberikan laporan mengenai pembacaan saya atas novel <em>Bisikan Arwah</em>. Novel itu bisa menjadi kasus untuk bagian telaah saya: tentang arwah, dendam, dan konteks sosialnya.<br />
<span id="more-965"></span><br />
Sebagai awal, ada baiknya saya memberikan sejenis sinopsis mengenai novel ini. Novel dibuka dengan tokoh Iwan, pengantin baru yang saat itu sedang cuti menikah, berada di desa tempat istrinya (Mira). Di desa itu, ia bertemu dengan arwah Parta yang menyerupai siluman ular. Parta kemudian mempergunakan Iwan untuk membalas dendam.</p>
<p>Dendam pertama Parta ditujukan kepada Sukarya, kemudian kepada seorang perempuan bernama Eka (<em>What&#8217;s a name!</em>).</p>
<p>Baiklah, kita mundur sejenak ke masa lalu Parta. Parta tinggal di desa itu sebagai pemuda gembala miskin. Ia sudah jatuh cinta sejak masa remaja kepada Eka, yang merupakan &#8220;kembang desa&#8221;. Tapi rupanya cinta Parta bertepuk sebelah tangan. Eka tak pernah sekalipun menanggapi cinta Parta, malahan ia bergonta-ganti lelaki lain. Semua lelaki itu umumnya orang-orang kaya di desa.</p>
<p>Merasa kekayaan bisa menaklukkan hati Eka, Parta mendatangi seorang dukun yang menjadi perantaranya untuk berhubungan dengan siluman ular. Parta dijanjikan kekayaan, tentu dengan syarat-syarat.</p>
<p>Singkat cerita, Parta menjadi kaya dan berhasil menaklukkan hati Eka. Salah satu syarat itu ialah ia tak boleh menikah, maka mereka hanya melakukan kumpul kebo. Eka yang pada dasarnya hanya mau berhubungan dengan Parta karena kekayaan, diam-diam juga menjalin hubungan asmara dengan lelaki lain. Hingga akhirnya mereka sama-sama mengetahui rahasia masing-masing: Parta tahu dirinya dikhianati Eka, sementara Eka tahu Parta memperoleh kekayaan dengan bersekutu kepada siluman ular.</p>
<p>Akhirnya, penduduk desa membunuh Parta, dipimpin oleh Sukarya.</p>
<p>Sangat jelas motif balas dendam Parta kepada Sukarya dan Eka. Yang satu karena membunuhnya, yang lain karena mengkhianatinya.</p>
<p>Kemudian, ini adalah beberapa catatan yang saya buat atas pembacaan novel tersebut (terima kasih buat Intan atas notulensi pembicaraan kita): <em>Pertama</em>, arwah dalam novel ini (dan pada dasarnya dalam sebagian besar novel Abdullah Harahap) memerlukan mediasi untuk menjalankan laku balas dendamnya. Ini menyiratkan kepercayaan atas dualime tubuh-jiwa, sebagaimana dianut dalam teologi Islam/Kristen.</p>
<p>Dalam hal ini, arwah yang mati menyisakan jiwa (yang tetap hidup). Namun ketika jiwa ini berhubungan dengan dunia, ia memerlukan &#8220;tubuh&#8221;. Dalam hal novel ini, arwah Parta mempergunakan tubuh Iwan sebagai medium untuk menjalani misinya di dunia.</p>
<p>Ada pertanyaan yang kemudian agak mengganggu: di antara dualisme tubuh-jiwa ini, kemudian ada &#8220;siluman ular&#8221;. Siluman tampaknya bisa keluar masuk antara jiwa dan tubuh. Ia bisa berhubungan baik di dunia jiwa (arwah), maupun di dunia tubuh. Dalam hal ini mungkin harus mencari referensi ke alam mitologi Arab dengan membandingkannya dengan &#8220;jin&#8221;, atau Cina (&#8220;siluman&#8221;), mengingat karakteristiknya di novel ini mirip.</p>
<p><em>Pembicaraan kedua</em>, adalah kebiasaan memunculkan binatang buruk rupa sebagai nama siluman: ular, babi, srigala, monyet. Dalam hal ini, mungkin sudah agak berbeda dari karakter siluman di Cina (ya, siluman ular di Cina digambarkan cantik dan baik hati, bukan?). Fakta ini barangkali hanya menunjukkan bahwa siluman sebagai antagonis &#8220;jahat&#8221;, tapi mungkin juga &#8230;</p>
<p>Ini mungkin ada hubungannya dengan seksualitas? Siluman-siluman ini, dalam beberapa kasus, paling tidak dalam novel ini, juga memperlihatkan hasrat seksual. Siluaman uar (Parta), memerkosa Mira, meskipun mempergunakan tubuh Iwan, suaminya (dalam hal ini, Mira tak merasa sedang menghadapi suaminya). </p>
<p>(Intan memiliki catatan yang lebih lengkap mengenai hal ini, jika waktunya luang, mungkin bisa dikeluarkan dulu ke blog): percintaan istri dengan siluman &#8211;> obsesi lelaki? Perempuan lebih terpuaskan oleh siluman daripada oleh lelaki biasa. Laki2 (boring) ingin bisa bercinta seperti siluman? (atau mungkin karena keinginan seks perempuan menikah di luar suaminya hanya memungkinkan lewat hipnotis/ kesurupan bersama siluman) </p>
<p><em>Ketiga</em>, siluman sebagai &#8220;harapan&#8221; (Ugo mestinya bisa membikin catatan yang lebih lengkap mengenai ini). Manusia yang tertindas, baik melalui pengucilan masyarakat maupun kemiskinan, mencari harapan singkat dengan bersekutu dengan siluman. Siluman juga dipercaya sebagai jalan lain mengembalikan tatanan yang pincang itu, melalui mekanisme dendam.</p>
<p>Yup, catatan ini masih merupakan catatan kasar, hanya sebuah pembacaan ringkas. Semoga catatan yang lebih memadai bisa kami buat di akhir proyek. Tanggapan dan masukan akan sangat berarti &#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/bisikan-arwah-abdullah-harahap-arwah-dan-dendam-965.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sastra dan Cyber</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/sastra-dan-cyber-885.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/sastra-dan-cyber-885.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Feb 2009 11:29:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Jurnal Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=885</guid>
		<description><![CDATA[Ada tulisan tentang sastra cyber dan seputarnya di Jurnal Nasional, dimana saya sempat diwawancarai untuk tulisan tersebut. Baca di blog penulisnya, Grathia Pitaloka.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada tulisan tentang sastra <em>cyber</em> dan seputarnya di Jurnal Nasional, dimana saya sempat diwawancarai untuk tulisan tersebut. Baca di blog penulisnya, <a href="http://cabiklunik.blogspot.com/2009/02/oase-budaya-raibnya-kasta-dunia-sastra.html">Grathia Pitaloka</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/sastra-dan-cyber-885.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Dreamer&#8221; Knut Hamsun: Perempuan Tuh, Ya &#8230;</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/dreamer-knut-hamsun-perempuan-tuh-ya-869.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/dreamer-knut-hamsun-perempuan-tuh-ya-869.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Feb 2009 13:40:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan]]></category>
		<category><![CDATA[Feminisme]]></category>
		<category><![CDATA[Knut Hamsun]]></category>
		<category><![CDATA[Novel]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=869</guid>
		<description><![CDATA[Saya cuma ingin berbagi akhir ceritanya, tapi gambaran mengenai awal cerita tentu harus diberikan: Tokoh utamanya Ove Rolandsen. Bayangkan saja dia sebagai anak muda bengal yang kerjanya merayu para gadis kesana-sini. Dia bekerja sebagai operator telegraf. Di luar pekerjaan dan hobinya merayu para gadis, ia sering mengurung diri di kamar untuk melakukan berbagai percobaan kimia.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Dreamer</em> barangkali bukan novel Knut Hamsun yang paling sering dibicarakan. Bahkan seringkali terlewat dalam pembahasan karya-karyanya. Tapi begitulah, Hamsun. Bahkan di novel yang awalnya tampak sederhana ini, di akhir cerita menjadi tidak begitu sederhana.</p>
<p>Saya cuma ingin berbagi akhir ceritanya, tapi gambaran mengenai awal cerita tentu harus diberikan: Tokoh utamanya Ove Rolandsen. Bayangkan saja dia sebagai anak muda bengal yang kerjanya merayu para gadis kesana-sini. Dia bekerja sebagai operator telegraf. Di luar pekerjaan dan hobinya merayu para gadis, ia sering mengurung diri di kamar untuk melakukan berbagai percobaan kimia.<br />
<span id="more-869"></span><br />
Tempat kejadian perkara: di sebuah desa nelayan, bagian utara Norwegia. Jadi bisa dibayangkan semua orang di kota itu kenal baik satu sama lain.</p>
<p>Ove Rolandsen punya tunangan bernama Marie van Loos. Meskipun begitu, Ove terus-terusan merayu Olga, Elise (anak juragan ikan kaya bernama Mack), serta bahkan <em>flirting</em> dengan istri pendeta! Benar-benar anak bengal, deh.</p>
<p>Olga yang masih kecil berhasil untuk tidak meladeninya. Elise si anak orang kaya, dengan angkuh tak mau meladeninya, padahal Ove berjuang mati-matian untuk bisa memperoleh cintanya. Istri pendeta? Ya mana mungkin lah. Meskipun tak ada hasil, kelakuan Ove membikin tunangannya kesal. Marie akhirnya memutuskan hubungan mereka dan pulang ke kota asalnya.</p>
<p>Singkat cerita, Mack kecurian dan merasa kesal. Tak ada yang mengaku. Mack akhirnya bikin pengumuman, siapa yang bisa menemukan pencuri itu, akan diberi hadiah, termasuk pencurinya jika mengaku. Ove sedang membutuhkan uang, dia memutuskan mengaku sebagai pencuri.</p>
<p>Ove mempergunakan uang itu untuk mengembangkan penemuannya, dan berhasil memperoleh paten. Tapi pada saat yang sama, pencuri sesungguhnya ketemu. Mack marah padanya dan hendak menjebloskannya ke penjara, tapi diam-diam Elise melarangnya.</p>
<p>Kita singkat lagi ceritanya: Ove akhirnya menawarkan kerjasama pengembangan penemuannya dengan Mack, dengan syarat ia ikut memiliki pabrik Mack. Mereka pun jadi partner dan bersahabat. Lalu tiba hari ketika Elise akan bertunangan.</p>
<p>Di sinilah ujung ceritanya: Di tengah kesibukannya, Ove mengunjungi pesta tunangan Elise. Di saat yang sama, ia berkirim telegram kepada Marie agar mau kembali kepadanya. Dia bilang kepada Marie bahwa dirinya sudah berubah (memang benar, diringkas dengan kalimat pendek: &#8220;musim panas adalah musim untuk bermimpi, tapi sudah berakhir&#8221;). Elise mendengar soal itu.</p>
<p>Apa yang dilakukan Elise? Ia membatalkan pertunangannya dan mengirim telegram kepada Marie bahwa Ove bohong. Bahwa Ove sama sekali tak berubah. Dan di paragraf terakhir, Elise pergi pulang bersama Ove. <em>What&#8217;s a woman</em>!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/dreamer-knut-hamsun-perempuan-tuh-ya-869.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Perasaan-Perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya&#8221; dan &#8220;Print-on-Demand&#8221;</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/buku-cindil-855.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/buku-cindil-855.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Feb 2009 09:15:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=855</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu lalu, di Facebook saya melihat sejenis pemberitahuan: Gunawan Maryanto menerbitkan kumpulan puisi (pertamanya) berjudul "Perasaan-Perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya". Di woro-woro itu diberitahu, buku dicetak dalam format POD (<em>Print on Demand</em>) dan hanya bisa dipesan lewat web penerbitnya <a href="http://omahsore.web.id">omahsore.web.id</a> (artinya, mungkin enggak akan ada di toko). Saya langsung memesannya dan beberapa hari kemudian, buku sudah datang.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu lalu, di Facebook saya melihat sejenis pemberitahuan: Gunawan Maryanto menerbitkan kumpulan puisi (pertamanya) berjudul &#8220;Perasaan-Perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya&#8221;. Di woro-woro itu diberitahu, buku dicetak dalam format POD (<em>Print on Demand</em>) dan hanya bisa dipesan lewat web penerbitnya <a href="http://omahsore.web.id">omahsore.web.id</a> (artinya, mungkin enggak akan ada di toko). Saya langsung memesannya dan beberapa hari kemudian, buku sudah datang.</p>
<p>Wow. Pertama-tama, saya kagun karena model bisnis dan penerbitan semacam ini ternyata bekerja dengan baik. Saya pesan, dan beberapa hari kemudian kurir datang mengantarkan pesanan. Sebenarnya saya ingin mengomentari, sistem kurir ini mungkin tidak terlalu efisien dan saya barangkali lebih menyarankan sistem paket atau pos. Waktu itu saya tak berkomentar banyak, masih mengagumi sistem yang hebat ini. Bagaimana tidak? Saya tidak ke toko buku, saya bahkan tidak ke ATM, tapi saya langsung memperoleh buku yang saya inginkan!<br />
<span id="more-855"></span><br />
Saya langsung mengirim pesan ke penerbitnya bahwa buku sudah sampai. Balasan penerbit adalah menanyakan kesan-kesan saya atas usaha pertama mereka itu, serta sekiranya saya punya ide-ide tertentu untuk model penerbitan semacam ini. Saya langsung pula membalas.</p>
<p>POD sebenarnya merupakan teknologi yang sudah ada sejak beberapa tahun terakhir di Amerika. Di Indonesia, beberapa percetakan besar mulai melirik teknologi ini, meskipun pemanfaatannya jauh dari maksimal. Kendala utama, tentu saja karena bahkan bisnis buku konvensional pun masih terbatas pada jumlah 1000-3000 eksemplar. Di Amerika, jumlah sebesar itu mungkin sudah dilakukan oleh POD dan tidak dengan mesin cetak biasa, meskipun pada dasarnya, kita bisa mencetak &#8220;hanya&#8221; satu eksemplar buku dengan teknologi ini.</p>
<p>Saya bertemu Chindil (panggilan Gunawan Maryanto) sekitar beberapa minggu sebelum buku itu terbit dan ia sudah mengatakan rencananya menerbitkan buku itu secara POD. Kami sepakat bahwa, terutama, buku puisi sangatlah sulit untuk menembus penerbitan konvensional. Meskipun saya tidak percaya penulis sekelas dia kesulitan memperoleh penerbit konvensional, saya antusias dengan rencananya. Paling tidak, teknologi itu harus dipergunakan. Kedua, mungkin usahanya akan merangsang penyair lain (yang lebih kesulitan memperoleh penerbit hanya karena buku puisi &#8220;tidak laku&#8221; padahal bukunya layak untuk diapresiasi) untuk melakukan hal yang sama.</p>
<p>Maka, tentu saja usul saya kepada penerbit omahsore itu adalah, tentu saja untuk memfokuskan diri pada pasar yang spesifik. Pilihan mereka pada buku puisi sudah tepat, tapi bisa tidak terbatas dengan itu. Buku-buku kajian, tesis-tesis doktoral, karya-karya eksperimen, jelas memiliki problem yang sama dengan buku puisi menghadapi penerbit besar. Buku-buku semacam ini barangkali akan memperoleh tempat yang tepat dengan sistem POD. Dan jangan lupa, buku-buku &#8220;<em>out of print</em>&#8220;. Ini buku-buku penting yang pernah diterbitkan massal, sudah hilang dari pasaran, tapi jika dicetak ulang barangkali tak akan memperoleh pembeli yang signifikan. Kenapa tidak dilayani pula dengan sistem POD?</p>
<p>omahsore langsung membalas: kami sudah menyusun daftar buku &#8220;<em>out-of-print</em>&#8221; yang menjadi incaran untuk diterbitkan ulang dengan sistem POD. Hehehe &#8230;</p>
<p>Sebenarnya, apa itu POD? Secara sederhana, ini adalah sistem cetak digital. Dengan sistem ini, kita bisa mencetak buku satu eksemplar, keluar dari mesin benar-benar sudah berbentuk buku! Investasi dengan sistem ini juga relatif sederhana: kita hanya perlu mendesain buku (biasanya memakai <em>software</em> semacam InDesign dari Adobe untuk layout dan Photoshop atau Illustrator untuk sampul), dan simpan dalam bentuk PDF dengan resolusi tinggi. Dengan file itu, kita tinggal mencetak setiap buku yang dipesan pembeli. Tak ada yang pesan, ya tak perlu dicetak. Ini menghemat banyak investasi cetak dan tentu saja gudang.</p>
<p>Karena sistem cetaknya bisa dibilang digital (biasanya tinta laser), barangkali kita juga harus memperlakukan buku dengan sistem ini dengan sedikit berbeda. Setelah saya memperoleh dan melirik-lirik buku tersebut, ini adalah beberapa catatan lain yang saya kirim ke penerbit:</p>
<p>Pertama, ukuran huruf terlalu kecil. Tentu saja itu bukan masalah digital atau tidak, tapi lebih pada masalah desain. Kedua, kertasnya terlalu terang (HVS), dan saya menyarankan kertas yang lebih redup untuk membuat mata nyaman. Ketiga, sampul yang dilaminasi glossy menurut saya tidak cocok untuk sistem cetak ini. Kenapa? Tekstur cetak digital sampai hari ini masih lebih kasar daripada cetak offset, dan dengan laminasi glossy, itu malah semakin kelihatan. Saya menyarankan untuk mempergunakan kertas yang sedikit bertekstur, dan jangan pakai laminasi apa pun, untuk membuatnya lebih redup dan menyatu dengan kertas.</p>
<p>Dan inilah kelebihan POD! omahsore tampaknya menerima beberapa usul saya tersebut dan mereka menghadiahi saya buku tersebut dalam edisi yang telah diperbaiki. Ya, hanya dengan POD Anda bisa memperbaiki cetakan dengan cepat. Saya memperoleh kiriman buku kedua hari ini, dan, well, saya suka sekali dengan tampilannya yang baru. Huruf lebih besar, kertas kecoklatan, dan sampul tanpa laminasi. Terutama saya menyukai sampulnya (desainnya tetap). Selain tanpa laminasi sehingga desain tampak lebih menyatu dengan permukaan kertas, saya menyukai sedikit trik (saya tak tahu siapa yang menginginkannya, penerbit atau percetakan) yang dipergunakan. Trik ini barangkali hanya akan disadari oleh orang yang ngerti cetak-mencetak dan desain: sampul itu mempergunakan jenis kertas (Ivory?) satu muka. Itu istilah untuk menyebut kertas yang di satu sisi lebih licin (seperti ada lapisan lilin), sementara sisi lain kasar . Biasanya, permukaan licin yang akan ditimpa oleh tinta cetak. Buku ini mempergunakannya justru dengan terbalik, dan hasilnya &#8230; lihat sendiri, deh! Hehe &#8230;</p>
<p>Selamat buat Chindil dan terima kasih buat omahsore untuk kiriman buku keduanya! Sukses selalu. Maaf, malah belum sempat ngomongin puisinya. Hehehe &#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/buku-cindil-855.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>We Don&#8217;t Have a World-Class Author</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/we-don%e2%80%99t-have-a-world-class-author-624.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/we-don%e2%80%99t-have-a-world-class-author-624.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Dec 2008 11:53:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta Globe]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=624</guid>
		<description><![CDATA[“Let’s face it, after Pramoedya, we don’t have a world-class author the equal of Haruki Murakami, Mo Yan or Orhan Pamuk.” Itu memang komentar saya. Dikutip oleh Richard Oh untuk kolomnya di JakartaGlobe, berjudul &#8220;Why Aren’t More Indonesian Literary Works Being Published Abroad?&#8221;.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“<em>Let’s face it, after Pramoedya, we don’t have a world-class author the equal of Haruki Murakami, Mo Yan or Orhan Pamuk</em>.” Itu memang komentar saya. Dikutip oleh Richard Oh untuk kolomnya di JakartaGlobe, berjudul <a href="http://www.thejakartaglobe.com/life-times/article/4003.html">&#8220;Why Aren’t More Indonesian Literary Works Being Published Abroad?&#8221;</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/we-don%e2%80%99t-have-a-world-class-author-624.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

