Dongeng Gajah Melintasi Eropa

Jose Saramago dikenal dengan resep “what if” yang fantastis di novel-novelnya. Meskipun tak seheboh bagaimana jika semenanjung Iberia terpenggal dan hanyut ke laut (The Stone Raft), atau bagaimana jika sosok nama pena Fernando Pessoa muncul di hari kematiannya (The Year of the Death of Ricardo Reis), atau bagaimana jika separuh penduduk kota terserang kebutaan (Blindness), kali ini sang penulis menawarkan kisah: apa yang terjadi jika seekor gajah dibawa dari Lisbon ke Vienna di tahun 1551 (The Elephant Journey). Gajah jelas bukan binatang yang umum di Eropa barat, bahkan sekarang ini pun barangkali mereka cuma melihatnya di sirkus atau kebun binatang.

Bacaan dan Percik Ingatan

Queen-loana

Saya belum membaca novel Umberto Eco yang lain. Saya pernah menonton film “The Name of the Rose”, dan gara-gara film itu, saya kehilangan minat membaca novel aslinya. Meskipun begitu, barangkali didorong bacaan saya atas esai-esainya, saya tertarik membaca novel-novelnya yang lain. “The Mysterious Flame of Queen Loana” jadi korban pertama saya. Saya juga menemukan “Faucault’s Pendulum” dan “Baudolino” dari toko buku bekas, tapi setelah ini barangkali saya ingin membaca dulu “The Island of the Day Before”.

Sementara judul-judul itu masih dalam rencana baca, mari kita ngobrol soal “The Mysterious Flame of Queen Loana”. Sejujurnya, kesan awal pembukaan cerita novel ini agak mengingatkan saya pada sinetron: seorang lelaki tua terbangun dari koma, dan ia lupa ingatan. Lupa siapa istrinya, siapa anak-anaknya, teman-temannya, bahkan tak ingat namanya! Tapi tak ada hal baru di bawah langit, yang unik tentu saja bagaimana penulis mengolah bahan yang basi seperti itu menjadi menarik.

Dengan latar belakang sebagai profesor semiotika, Umberto Eco tahu betul bagaimana bermain-main dengan ceritanya. Si lelaki tua, Yambo, memang hilang ingatan. Tapi ada satu bagian yang dia tak lupa: apa-apa yang pernah dibacanya. Demikianlah ia mencoba menyibak tabir masa lalunya, siapa dirinya, dengan cara berkelana melalui buku-buku yang pernah dibacanya, dengan harapan memercikan “mysterious flame” di ingatannya. Petualangan membaca buku-buku masa kecil dan masa remajanya inilah, yang membuat novel ini tak sekadar cerita, tapi sekaligus menjadi sejenis kajian atas roman-roman dan komik-komik populer sebagai penanda zaman.

Dua Novel Isaac Bashevis Singer

Isaac Bashevis Singer, barangkali bukan nama yang dikenal umum, meskipun ia salah satu penulis yang memperoleh Nobel Kesusatraan (1978). Saya menemukan namanya secara tak sengaja melalui cerita bersambung di majalah Femina (lupa judulnya, lupa edisi kapan), dan saya diingatkan kembali ketika membaca komentar pendeknya atas karya Knut Hamsun (juga lupa di mana). Dari sana saya coba mencari tahu tentangnya, membaca di satu tempat bahwa karya-karyanya memang sangat terpengaruh oleh Knut Hamsun.

Sekali waktu istri saya menonton film “Yentl” di televisi, dan tampak kegirangan menemukan film itu. Katanya ia sudah lama ingin menontonnya. Saya tanya, apa ceritanya? Setelah ia menceritakan secara singkat, saya langsung komentar, “Itu seperti tema-tema cerita Isaac Bashevis Singer. Barangkali diangkat dari karyanya.” Intinya, kisahnya mengenai kaum Yahudi. Tapi berbeda dengan kisah-kisah Yahudi yang sering kami baca di novel atau tonton di film, ini bukan kisah Yahudi yang gelap, dikejar-kejar atau di-gheto-kan Nazi, dan sejenisnya. Tapi tentang kehidupan sehari-hari orang Yahudi, dengan roman percintaan, dan problem-problem teologis maupun sosial-agama. Saya cari di internet, dan ternyata tebakan saya benar, “Yentl” merupakan salah satu cerita pendeknya. Tentu saja ini memberi saya minat tambahan untuk mulai membaca satu-dua karyanya.

Sudut Pandang Allah dan Manusia

Setelah Snow dan The Museum of Innocence, akhirnya saya memutuskan untuk membaca My Name is Red. Meskipun saya masih lebih menikmati The Museum of Innocence, saya pikir ada hal menarik dari novel ini untuk diperbincangkan. Terutama satu hal yang jelas tampak sejak bab-bab pertama: novel ini pada dasarnya merupakan esai panjang mengenai seni. Yang diperbincangkan memang khususnya seni miniatur (menghias buku) dan ilustrasi, tapi saya pikir bisa diterapkan ke semua genre kesenian.

The Shadow of the Wind

Beberapa waktu lalu, saya menghabiskan waktu luang dengan membaca novel Carlos Ruiz Zafon, The Shadow of the Wind. Jika kamu suka membaca buku petualangan, menyibak misteri, dengan tokoh anak belasan tahun terlibat dalam roman percintaan, buku ini akan saya rekomendasikan. Sejujurnya, buku semacam itulah yang saya baca untuk menghibur diri. Tak jauh berbeda dengan buku-buku [...]

“Bisikan Arwah” Abdullah Harahap

Tak terasa sudah hampir tujuh bulan proyek “Tribute to Abdullah Harahap” berlangsung (lihat posting katalog buku Abdullah Harahap). Saya, Intan Paramaditha dan Ugoran Prasad sudah beberapa kali bertemu untuk mendiskusikan proyek kami, dan terus berjalan. Pertemuan terakhir, kami melakukannya melalui Yahoo Messanger karena saat itu berada di tempat yang berjauhan. Dalam diskusi terakhir kami, saya [...]

Cantik itu Luka