<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Eka Kurniawan Project &#187; Ratih Kumala</title>
	<atom:link href="http://ekakurniawan.com/blog/tag/ratih-kumala/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ekakurniawan.com</link>
	<description>Menulis dan petualangan-petualangan lainnya</description>
	<lastBuildDate>Tue, 10 Apr 2012 11:17:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Tariq Ali, Pertemuan dan Beberapa Hal Lucu</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/tariq-ali-pertemuan-dan-beberapa-hal-lucu-2977.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/tariq-ali-pertemuan-dan-beberapa-hal-lucu-2977.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Oct 2011 15:43:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[Benedict Anderson]]></category>
		<category><![CDATA[Eka Kurniawan]]></category>
		<category><![CDATA[New Left Review]]></category>
		<category><![CDATA[Ratih Kumala]]></category>
		<category><![CDATA[Tariq Ali]]></category>
		<category><![CDATA[Verso]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/blog/tariq-ali-pertemuan-dan-beberapa-hal-lucu-2977.php</guid>
		<description><![CDATA[<p>Saya merasa tersanjung sekali, dalam lawatannya ke Indonesia (utamanya ia menghadiri Ubud Writer and Reader's Festival dan satu ceramah di Salihara, Jakarta), penulis dan aktivis Tariq Ali berkesempatan bertemu dengan saya. Baiklah, barangkali ada yang bingung bagaimana kami bisa berjumpa, saya jelaskan bagaimana hal ini terjadi.</p>  <p>Beberapa waktu lalu, beberapa cerita pendek saya menarik minat Benedict Anderson, seorang pengamat Indonesia dari Cornell University. Bahkan ia menerjemahkan dua cerpen saya di jurnal "Indonesia". Selain itu, rupanya ia menyebut-nyebut nama saya dan novel saya di obituari mengenai Soeharto, yang diterbitkan di jurnal New Left Review. Tariq Ali mengenal baik Ben Anderson (keduanya sangat aktif menulis di New Left Review), dan melalui tulisan dan terjemahan Ben, Tariq Ali mengetahui nama saya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>
<p>
<div class='p_embed p_image_embed'> <a href="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2011-10-11/uEcCemGzxbbkyJrIIxEazAAvtHHDmdmgqzfHFaAmwkJbwJesDzGfFrkialpv/TariqAli_EkaKurniawan1.jpg.scaled1000.jpg"><img alt="Tariqali_ekakurniawan1" height="393" src="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2011-10-11/uEcCemGzxbbkyJrIIxEazAAvtHHDmdmgqzfHFaAmwkJbwJesDzGfFrkialpv/TariqAli_EkaKurniawan1.jpg.scaled500.jpg" width="500" /></a> </div>
</p>
<p>Saya merasa tersanjung sekali, dalam lawatannya ke Indonesia (utamanya ia menghadiri Ubud Writer and Reader&#8217;s Festival dan satu ceramah di Salihara, Jakarta), penulis dan aktivis Tariq Ali berkesempatan bertemu dengan saya. Baiklah, barangkali ada yang bingung bagaimana kami bisa berjumpa, saya jelaskan bagaimana hal ini terjadi.</p>
<p>Beberapa waktu lalu, beberapa cerita pendek saya menarik minat Benedict Anderson, seorang pengamat Indonesia dari Cornell University. Bahkan ia menerjemahkan dua cerpen saya di jurnal &#8220;Indonesia&#8221;. Selain itu, rupanya ia menyebut-nyebut nama saya dan novel saya di obituari mengenai Soeharto, yang diterbitkan di jurnal New Left Review. Tariq Ali mengenal baik Ben Anderson (keduanya sangat aktif menulis di New Left Review), dan melalui tulisan dan terjemahan Ben, Tariq Ali mengetahui nama saya.</p>
<p><span id="more-2977"></span>  </p>
<p>Tadi malam akhirnya kami bertemu tak jauh dari hotel tempatnya tinggal di daerah Kemang. Saya ditemani Richard Oh, Mikael Johani, Rahung dan Reiner, ngobrol dan makan malam bersama dia. Malam itu kami lebih banyak bicara tentang situasi politik. Antara lain mengenai rencana buku berikutnya, &#8220;The Future of America&#8221;. Juga ngobrol soal kenapa para pemimpin Komunis Indonesia yang terbunuh sampai sekarang belum juga ditemukan kuburannya, padahal di negara-negara lain hal ini mulai terungkap. Soal obrolannya mengenai hal ini, Rahung merekamnya dengan video.&nbsp;</p>
<p>Sementara itu mengenai urusan dengan saya, ia cuma meminta beberapa kopi novel saya. Melalui penerbitnya, Verso, dua tahun lalu ia memang pernah meminta buku-buku itu, tapi entah kenapa kiriman kami tak pernah sampai ke tangannya. Akhirnya saya berjanji besok siang dalam perjalanan ke studio saya akan mampir ke hotelnya dan membawakannya kedua novel saya, serta beberapa manuskrip yang juga dia minta.</p>
<p>
<div class='p_embed p_image_embed'> <a href="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2011-10-11/CaAhFIglDhzdkslywaJpcwtxFzoCuchClFwzAeCjtEfqdIbtHldqxAvuacHH/TariqAli_RatihKumala2.jpg.scaled1000.jpg"><img alt="Tariqali_ratihkumala2" height="375" src="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2011-10-11/CaAhFIglDhzdkslywaJpcwtxFzoCuchClFwzAeCjtEfqdIbtHldqxAvuacHH/TariqAli_RatihKumala2.jpg.scaled500.jpg" width="500" /></a> </div>
</p>
<p>Akhirnya siang tadi bersama Ratih Kumala, dalam perjalanan ke kantor, kami mampir ke hotelnya. Tariq Ali kebetulan ada di lobi. Istriku tanya apakah ia sudah makan siang. Karena belum, akhirnya kami makan siang bersama di satu restoran Jepang, di Codefin Kemang. Tak terasa, akhirnya kami bertiga ngobrol lagi. Dan kali ini dia menceritakan berbagai hal-hal lucu dan konyol di negara-negara Komunis yang dia kunjungi.</p>
<p>Salah satu negara yang diceritakannya, tentu saja Korea Utara. Kata dia, di negara itu, sopir yang mengantarnya ke sana-kemari sering berhenti selama beberapa waktu. Saat dia tanya untuk apa, si sopir jawab: untuk berpikir. Akhirnya dia bilang: sudah deh, kamu nggak usah berhenti-berhenti, aku gak akan bikin laporan yang menyusahkan ke atasanmu. Si sopir akhirnya ketawa ngakak bebas.</p>
<p>Dia juga bercerita tentang Museum Seni Nasional. Isinya? Di ruang pertama, ia melihat lukisan Kim Jong-il masih bayi. Ruang kedua, ada lukisan Kim Jong-il remaja. Ruang ketiga, ada lukisan Kim Jong-il sudah menikah, dan seterusnya. Garing banget, kan?</p>
<p>Dan, nah ini yang paling lucu. Saat kami masuk ke Codefin, pandangan Tariq Ali tertuju pada pajangan suratkabar &#8220;Koran Jakarta&#8221;. Dengan tak percaya, ia menoleh kepada kami dan bertanya: &#8220;Koran?&#8221; Awalnya kami tak menyadari apa yang salah dengan nama suratkabar itu, sampai kemudian aku dan Ratih tertawa. Buru-buru kami menjelaskan, &#8220;No, No. Koran dalam bahasa Indonesia artinya suratkabar. Kalau kitab agama Islam, di sini ditulis dengan &#8216;Q&#8217;. Quran.&#8221; Tariq Ali akhirnya mengangguk-angguk dan ikut tertawa. Dia bilang, di Pakistan kayaknya nggak akan ada yang berani kasih nama suratkabar dengan nama &#8220;Koran&#8221;, hahaha.</p>
<p>Untuk yang belum mengenal Tariq Ali, di luar buku-buku politiknya, ia menulis beberapa novel. Antara lain: &#8220;Kitab Salahuddin&#8221;, &#8220;Seorang Sultan di Palermo&#8221;, &#8220;Perempuan Batu&#8221; dan &#8220;Bayang-bayang Pohon Delima&#8221;. Keempatnya sudah tersedia dalam terjemahan bahasa Indonesia. Akhirnya, selepas makan siang kami berpisah, sambil berjanji untuk saling berhubungan. Tak lupa ia memberi kami salah satu novelnya, &#8220;Fear of Mirrors&#8221;. Di bukunya ia menulis pesan untuk kami, &#8220;Terima kasih untuk perkawanan dan solidaritas pada kunjungan pertamaku ke Jakarta.&#8221; Kami juga senang dan berterima kasih dengan pertemuan tadi, Kamerad. Semoga Anda menikmati suasana Jakarta, yang macet gila (seperti kota-kota Asia lainnya).</p>
</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/tariq-ali-pertemuan-dan-beberapa-hal-lucu-2977.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tak Sempat Menulis Blog</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/tak-sempat-menulis-blog-1464.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/tak-sempat-menulis-blog-1464.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 May 2010 09:27:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Ratih Kumala]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=1464</guid>
		<description><![CDATA[Karena kesibukan, saya tak sempat nulis blog. Pertama, saya sedang mempersiapkan penerbitan novel ketiga, yang menyita waktu. Kedua, saya sedang mengambil les Bahasa Belanda, juga bikin nggak bisa mikir yang lain. Di luar itu, saya memperoleh kabar gembira: usia kandungan istri saya, <a href="http://ratihkumala.com">Ratih Kumala</a>, sudah 5 minggu 3 hari. Kami mengetahuinya kemarin. Well, mungkin saya akan menulis blog yang panjang, karena itu? Hehe, siapa tahu? Mohon doa agar semuanya lancar. Salam.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Karena kesibukan, saya tak sempat nulis blog. Pertama, saya sedang mempersiapkan penerbitan novel ketiga, yang menyita waktu. Kedua, saya sedang mengambil les Bahasa Belanda, juga bikin nggak bisa mikir yang lain. Di luar itu, saya memperoleh kabar gembira: usia kandungan istri saya, <a href="http://ratihkumala.com">Ratih Kumala</a>, sudah 5 minggu 3 hari. Kami mengetahuinya kemarin. Well, mungkin saya akan menulis blog yang panjang, karena itu? Hehe, siapa tahu? Mohon doa agar semuanya lancar. Salam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/tak-sempat-menulis-blog-1464.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pakai Batik di Hari Batik</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/pakai-batik-di-hari-batik-1262.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/pakai-batik-di-hari-batik-1262.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Oct 2009 10:51:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[Batik]]></category>
		<category><![CDATA[Eka Kurniawan]]></category>
		<category><![CDATA[Foto]]></category>
		<category><![CDATA[Ratih Kumala]]></category>
		<category><![CDATA[UNESCO]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=1262</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini batik dikukuhkan sebagai &#8220;Kenangan Dunia&#8221; dari Indonesia oleh UNESCO. Karena saya enggak suka pakai kemeja, saya memakai kaus oblong batik. Istri saya, Ratih Kumala, tak kesulitan memperoleh batik dari lemarinya. She is a batik freak. Meskipun begitu, cita-cita saya untuk bisa membatik sendiri belum kesampaian. Mudah-mudahan lain hari.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_tn9p8W26Wqg/SsXagItVzZI/AAAAAAAAAT4/cwOeUTQLwkM/s400/eka-batik.jpg" border="0"/></p>
<p>Hari ini batik dikukuhkan sebagai &#8220;Kenangan Dunia&#8221; dari Indonesia oleh UNESCO. Karena saya enggak suka pakai kemeja, saya memakai kaus oblong batik. Istri saya, <a href="http://ratihkumala.com">Ratih Kumala</a>, tak kesulitan memperoleh batik dari lemarinya. She is a batik freak. Meskipun begitu, cita-cita saya untuk bisa membatik sendiri belum kesampaian. Mudah-mudahan lain hari.</p>
<p><img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_tn9p8W26Wqg/SsXaZJG7WTI/AAAAAAAAATw/7c7WGKNQQKk/s400/ratih-batik.jpg" border="0"/></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/pakai-batik-di-hari-batik-1262.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Kronik Betawi&#8221;, Novel Baru Ratih Kumala</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/kronik-betawi-novel-baru-ratih-kumala-1121.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/kronik-betawi-novel-baru-ratih-kumala-1121.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 May 2009 05:00:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[Novel]]></category>
		<category><![CDATA[Ratih Kumala]]></category>
		<category><![CDATA[Ulasan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=1121</guid>
		<description><![CDATA[Novel terbaru karya istriku, <a href="http://ratihkumala.com">Ratih Kumala</a>, berjudul <em>Kronik Betawi</em>. Ya, benar, ini tentang masyarakat Betawi di Jakarta. Berbeda dengan kedua novel sebelumnya, gaya bahasanya lebih ringan dan, tentu saja lucu. Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, mulai beredar 4 Juni 2009. Selamat membeli dan membaca.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Novel terbaru karya istriku, <a href="http://ratihkumala.com">Ratih Kumala</a>, berjudul <em>Kronik Betawi</em>. Ya, benar, ini tentang masyarakat Betawi di Jakarta. Berbeda dengan kedua novel sebelumnya, gaya bahasanya lebih ringan dan, tentu saja lucu. Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, mulai beredar 4 Juni 2009. Selamat membeli dan membaca.</p>
<p>Buat yang malas atau enggak sempat ke toko-buku, bisa pesan di sini seharga Rp. 40.000 (sama dengan harga di toko). Ongkos kirim gratis untuk wilayah Indonesia.  <span id="more-1121"></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/kronik-betawi-novel-baru-ratih-kumala-1121.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Obituari</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/obituari-457.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/obituari-457.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Aug 2008 17:15:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[Ratih Kumala]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=457</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini ayah mertua saya (Haris Fadillah, ayah Ratih Kumala) meninggal. Terima kasih untuk semua kiriman simpati dan doa. Baca &#8220;Obituari&#8221; di blog Ratih.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari ini ayah mertua saya (Haris Fadillah, ayah Ratih Kumala) meninggal. Terima kasih untuk semua kiriman simpati dan doa. <a href="http://ratihkumala.com/blog/obituari-237.php">Baca &#8220;Obituari&#8221; di blog Ratih</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/obituari-457.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Eka Kurniawan: An Unconventional Writer</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/eka-kurniawan-an-unconventional-writer-218.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/eka-kurniawan-an-unconventional-writer-218.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jun 2008 12:31:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi & Tribut]]></category>
		<category><![CDATA[Cantik itu Luka]]></category>
		<category><![CDATA[Corat-coret di Toilet]]></category>
		<category><![CDATA[Ratih Kumala]]></category>
		<category><![CDATA[The Jakarta Post]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=218</guid>
		<description><![CDATA[He has been compared to the late Indonesian man of letters, Pramoedya Ananta Toer, but</em> <strong>Eka Kurniawan</strong> <em>is averse to that confining, imposing description of “literary figure.” Best known for his sometimes brutal portrayal of ordinary lives, he speaks with</em> <strong>Maggie Tiojakin</strong> <em>about the roads yet traveled.</em>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><em>He has been compared to the late Indonesian man of letters, Pramoedya Ananta Toer, but</em> <strong>Eka Kurniawan</strong> <em>is averse to that confining, imposing description of “literary figure.” Best known for his sometimes brutal portrayal of ordinary lives, he speaks with</em> <strong>Maggie Tiojakin</strong> <em>about the roads yet traveled.</em></p></blockquote>
<p><a href="http://3.bp.blogspot.com/_tn9p8W26Wqg/SGjVSeXPfcI/AAAAAAAAAIs/7Z4Flq5i_Gw/s400/coverpaper-july-252x300.jpg"><img alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_tn9p8W26Wqg/SGjVSeXPfcI/AAAAAAAAAIs/7Z4Flq5i_Gw/s400/coverpaper-july-252x300.jpg" title="Jakarta Post" class="alignright" width="252" height="300" /></a><br />
Like many aspiring writers who need to pay the bills, Eka Kurniawan started out as a journalist. The 33-year-old native of Tasikmalaya, West Java, then submitted a few short stories to <em>Kompas</em> daily’s respected literary page, and they were accepted.</p>
<p>“People always asked me how it happened that I had my stories published in <em>Kompas</em>,” says the Gadjah Mada University graduate. “But there’s really no magic to it. I sent [the stories] out to the editorial department, even though I didn’t know anybody there.”</p>
<p>Gradually, his journalistic days of meeting deadlines came to an end.<br />
<span id="more-218"></span><br />
His first book, which established him as a serious writer, was published in 1999, titled <em>Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis</em> (Aksara Indonesia) A second book came out a year later, a compilation of short stories called <em>Corat-Coret di Toilet</em> (Toilet Graffiti, Aksara Indonesia.) By 2002, the year he published his debut novel, <em>Cantik Itu Luka</em> (Beauty is Scarred, Penerbit Jendela), he was well on his way to becoming one of the few influential writers in the country.</p>
<p>Benedict Anderson, the renowned Indonesian scholar and historian, in his article, “Exit Suharto: Obituary for a Mediocre Tyrant”, in the <em>New Left Review</em>, writes: “It is nice, after half a century, Pramoedya Ananta Toer has found a successor … the sheer beauty and elegance of [Eka’s] language, and the exuberance of [his] imagining, give one the exhilaration of watching the first snowdrops poke their little heads up toward a wintry sky.”</p>
<p>For some writers, such a compliment would be enough to put their head in the clouds. For Eka, however, it gives him more reason to keep his feet on the ground and remain himself.</p>
<p>“I respect Pramoedya very much,” confides Eka. “I’m very honored to be referred to as Pramoedya’s successor. But, at the same time, I don’t really know what to do with it. I can’t quite envision myself as a literary figure, because I have a hard time defining that label. What is a literary figure? I prefer to call myself a writer, because it suggests a profession.”</p>
<p>It is a profession, however, that gets little appreciation in this country.</p>
<p>Avoiding mainstream topics in his writing, Eka prefers to look beyond the normal stories of people living their day-to-day lives without alienating the essence of life itself. His most celebrated novel, <em>Cantik Itu Luka</em>, talks about a woman forced into the world of prostitution during colonial times. The woman gives birth to an ugly daughter whom she later calls Cantik (Beautiful).</p>
<p>“I try to see things not as they are, but as they should, would or could be,” explains Eka. “Generally, I’m inspired by a lot of things — newspaper stories, TV shows, books, etc. I think writers do have the obligation to expose themselves to what’s going on around them, analyze the reality as they see fit and repackage it in a way that will reach their audience.”</p>
<p>Amid the glut of chick-lit, song-lit and movie-to-book adaptations piling up in local bookstores, Eka finds it unfortunate that most emerging writers feel the need to conform to a generic style and the exploration of conventional themes.</p>
<p>“I’m not saying they’re bad books,” says Eka. “But my biggest concern is the fact that writers today have a tendency to adopt homogenous styles. It’s like they can’t break away from the trend, conveniently stuck in one place.”</p>
<p>Homogenous is not a term used to describe Eka; his short story titles include the provocative “Bercinta dengan Barbie” (Making Love to Barbie), “Lelaki Sakit” (A Sick Man), “Assurancetourix” and “Hikayat Si Orang Gila” (The Tale of a Mad Man).</p>
<p>Agus Noor, a writer with an equally unique storytelling voice, has described Eka as a “storyteller who gladly embraces the inheritance and history of literature from around the world.”</p>
<p>A devoted reader of Chairil Anwar’s prose and poetry, as well as Salman Rushdie’s sometimes controversial books, Eka believes that writers are made by the books they read. When people ask him what it takes to become a writer, Eka always tells them to read more.</p>
<p>“They don’t believe me, of course,” says Eka, chuckling. “They give me this look, as if I’m lying. But that’s the honest truth. The more I read, the better I write.”</p>
<p>Eka now lives in Jakarta with his wife, Ratih Kumala, an accomplished writer in her own right. A multitalented writer with a strong interest in graphic design and comic-book writing, Eka has set his eyes on new projects this year.</p>
<p>“There’s no limit,” he says. “I’m always trying to figure out new possibilities, new themes and new ways of communicating to the readers.”</p>
<div class="footnote">This profile published by <a href="http://www.thejakartapost.com/news/2008/06/28/eka-kurniawan-an-unconventional-writer.html">The Jakarta Post Weekender</a>, 28 June 2008.</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/eka-kurniawan-an-unconventional-writer-218.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebab Kode Adalah Puisi</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/sebab-kode-adalah-puisi-158.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/sebab-kode-adalah-puisi-158.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 May 2008 04:09:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[bumimanusia.or.id]]></category>
		<category><![CDATA[Google]]></category>
		<category><![CDATA[Jorge Luis Borges]]></category>
		<category><![CDATA[Kompas]]></category>
		<category><![CDATA[Ratih Kumala]]></category>
		<category><![CDATA[Wikipedia]]></category>
		<category><![CDATA[WordPress]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekakurniawan.com/blog/sebab-kode-adalah-puisi-158.php</guid>
		<description><![CDATA[Sekiranya Borges masih hidup, barangkali ia akan menjadi penulis paling getol <em>on-line</em>. Bagaimana tidak, banyak orang yang percaya, sebelum internet ditemukan, Borges telah "memimpikan" dunia internet dalam cerita-cerita pendeknya. Ingat perihal ensiklopedia yang disusun secara diam-diam oleh sekelompok orang sehingga menghasilkan dunia yang baru? Bukankah hal ini sekarang menjadi mungkin dengan perangkat lunak wiki sebagaimana dipergunakan di <a href="http://wikipedia.org">wikipedia.org</a>? Atau perihal teks yang bisa merujuk ke teks lain tanpa batas? Sejak ditemukan internet, kita sudah mengenal "link". ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="dropcaps">S</span>ekiranya Borges masih hidup, barangkali ia akan menjadi penulis paling getol <em>on-line</em>. Bagaimana tidak, banyak orang yang percaya, sebelum internet ditemukan, Borges telah &#8220;memimpikan&#8221; dunia internet dalam cerita-cerita pendeknya. Ingat perihal ensiklopedia yang disusun secara diam-diam oleh sekelompok orang sehingga menghasilkan dunia yang baru? Bukankah hal ini sekarang menjadi mungkin dengan perangkat lunak wiki sebagaimana dipergunakan di <a href="http://wikipedia.org">wikipedia.org</a>? Atau perihal teks yang bisa merujuk ke teks lain tanpa batas? Sejak ditemukan internet, kita sudah mengenal &#8220;link&#8221;. </p>
<p>Terlepas dari impian Borges tersebut, tak terelakkan internet telah menjadi rujukan penting bagi kebanyakan orang, termasuk para penulis. Saya mempergunakan Google Book untuk membaca beberapa catatan perjalanan orang-orang Eropa yang datang ke Indonesia di masa kolonial, untuk satu riset tulisan fiksi saya, misalnya. Demikian pula Google Map, dengan teknologi citra satelit yang konon paling telat umurnya dua tahun ke belakang, kita bisa memastikan detail geografis satu tempat. Dalam hal ini, Anda bisa jauh lebih akurat daripada Karl May sekiranya mengisahkan kehidupan suku Indian tanpa pergi ke Amerika.<br />
<span id="more-158"></span><br />
Tak disangsikan, internet telah membentuk kultur baru produksi dan reproduksi. Dalam dunia sastra di Indonesia, sederhananya, kultur itu telah berawal ketika penulis tak lagi pernah pergi ke kantor pos untuk mengirimkan naskah. Tentu saja kultur ini semestinya bisa jauh dari itu. Internet dipercaya tak sekadar sebagai narasumber yang mencengangkan untuk berbagai hal, dari bumbu yang tepat untuk satu resep masakan hingga racikan kimia yang tepat untuk meledakkan jembatan; yang lebih penting lagi, internet juga merupakan suatu media baru. Sebagaimana media baru umumnya, tentu saja ia memberi tantangan-tantangan baru bagi proses kreatif baru.</p>
<p>Sebagai misal, melalui internet dan dunia digital kita sekarang mengenal berbagai jenis lisensi untuk karya kreatif. Jika sebelumnya barangkali kita hanya memiliki dua dikotomi hak cipta: copyright dan domain publik, kini kita memiliki lebih banyak alternatif. Sebagai pemilik karya cipta, barangkali seorang pengarang tak menginginkan lisensi seketat copyright. Sebuah lembaga nirlaba bernama <a href="http://cerativecommon.org">Creative Common</a> menawarkan berbagai jenis lisensi yang fleksibel.</p>
<p>Software semacam Linux atau esai-esai di beberapa blog, juga banyak foto di flickr.com didistribusikan dengan lisensi semacam ini, sehingga Anda bisa mengambil dan mempergunakannya tanpa harus takut dikira membajak atau menjiplak. Kultur ini memungkinkan berkembang, saya pikir, hanya karena penetrasi internet yang luar biasa.</p>
<h3>Blog</h3>
<p><span class="dropcaps">S</span>aya tertarik mengamati ini, terutama setelah akhir-akhir ini banyak penulis semakin memaksimalkan fungsi-fungsi internet dengan membuat blog dan saya beranggapan ini perkembangan yang penting untuk dicatat. Jika sebelumnya para penulis lebih banyak berkerumun di komunitas-komunitas milis tertentu, akhir-akhir ini semakin banyak yang hadir secara individu, menuliskan pikiran-pikirannya melalui media bernama blog. Saya sendiri sebenarnya telah lama menjadi pengunjung tetap blog-blog penulis yang saya anggap bermutu untuk menunjukkan ini bukan hal baru, misalnya blog milik jurnalis <a href="http://andreashardono.blogspot.com">Andreas Harsono</a> atau milik kritikus film <a href="http://pakde.com">Totot Indrarto</a>.</p>
<p>Tengok misalnya beberapa penulis yang baru-baru ini memutuskan untuk menulis di blog: Ada <a href="http://djenar.com">Djenar Maesa Ayu</a> dan kritikus seni rupa <a href="http://adiwicaksono.com">Adi Wicaksono</a>, serta penyair <a href="http://binhadnurrohmat.com">Binhad Nurrohmat</a>. Mereka menyusul penulis-penulis lain yang telah lebih dulu. Beberapa yang saya ingat: penyair <a href="http://sejuta-puisi.blogspot.com">Hasan Aspahani</a>, <a href="http://jokpin.blogspot.com">Joko Pinurbo</a>, <a href="http://jengki.com">Wayan Sunarta</a>, cerpenis <a href="http://agusnoorfiles.wordpress.com">Agus Noor</a>, <a href="http://ratihkumala.com">Ratih Kumala</a>, <a href="http://ooknugroho.blogspot.com">Ook Nugroho</a>, juga Linda Christanty yang menulis di blog sendiri maupun blog milik situs <a href="http://pantau.or.id">pantau.or.id</a>.</p>
<p>Mungkin Anda masih sering kecele untuk memastikan, apa beda blog dengan website? Sebenarnya ini juga pertanyaan umum yang diajukan kepada saya oleh para penulis yang ingin memulai membuat blog. Secara sederhana, semua blog adalah website, tapi tidak sebaliknya. Situs seperti yahoo.com merupakan website, tapi jelas bukan blog. Ciri utama blog adalah website dengan konten yang terus di-update, dan pengaturan kontennya secara umum diurut berdasarkan waktu (mirip jurnal atau buku harian).</p>
<p>Ketika situs <a href="http://cybersastra.net">cybersastra.net</a> diluncurkan sekitar akhir 90an, pada dasarnya ia telah mempergunakan prinsip-prinsip blog. Demikian pula ketika tahun 2000 saya bersama dua penulis, Linda Christanty dan <a href="http://nuruddinasyhadie.com">Nuruddin Asyhadie</a> mendirikan situs <a href="http://bumimanusia.or.id">bumimanusia.or.id</a>, kami mempergunakan software open source yang pada dasarnya juga blog. Software semacam itu telah dibuat komunitas internet di masa-masa tersebut, meski dengan standar keamanan dan fleksibilitas yang barangkali masih rendah. Baru ketika software semacam <a href="http://www.ekakurniawan.com/movabletype.com">Movable Type</a> dan <a href="http://www.ekakurniawan.com/wordpress.org">WordPress</a> muncul, blog menjadi istilah yang populer. Ditambah pula layanan <a href="http://blogger.com">Blogger.com</a> (<a href="http://blogspot.com">blogpspot.com</a>) dari Google yang memungkin orang untuk membuat blog secara lebih gampang tanpa harus mengerti hal teknis instalasi software ke server. Hal ini semakin menjadi-jadi sekarang setelah munculnya fenomena Web 2.0 yang mengisyaratkan akan internet yang menunjang kreativitas sekaligus interaktivitas.</p>
<p>Kenapa saya beranggapan penulis yang membuat blog sebagai sesuatu yang penting? Masih ingat belum lama ini ketika jaringan kabel bawah laut di Pasifik terputus, dan terputus pula hubungan internet? Sebenarnya yang terputus adalah hubungan internet ke Amerika, sementara situs seperti <a href="http://kompas.co.id">kompas.co.id</a> atau <a href="http://detik.com">detik.com</a> yang menyimpan server di dalam negeri masih bisa diakses. Ini semestinya segera menyadarkan betapa kita membutuhkan konten lokal, dan secara pribadi saya berharap kepada para penulis dari berbagai disiplin: sastrawan, sejarawan, jurnalis, dosen dan lainnya. Hal ini akan semakin dimungkinkan jika mereka langsung bersentuhan secara personal di blog masing-masing.</p>
<p>Tentu saja konten lokal tersebut akan semakin berarti jika disimpan di server lokal. Itulah kenapa saya lebih suka menganjurkan untuk mempergunakan layanan blog lokal semacam <a href="http://dagdigdug.com">dagdigdug.com</a> atau <a href="http://www.ekakurniawan.com/blogdetik.com">blogdetik.com</a> (dengan catatan harus dicek apakah benar mereka menempatkan server di dalam negeri), atau melakukan instalasi domain sendiri sehingga bisa memutuskan untuk memilih layangan hosting, ketimbang mempergunakan <a href="http://wordpress.com">wordpress.com</a> atau <a href="http://blogger.com">blogger.com</a>.</p>
<p>Dengan semakin banyak penulis menulis di blog, bisalah secara sederhana kita mengharapkan suatu ketika tercapainya swasembada konten lokal; tentu saja terutama jika konten ini ditulis dalam bahasa Indonesia pula. Maka jika sesuatu terjadi pada jaringan internasional (kabel bawah laut putus, atau traffic mengalami kemacetan, misalnya), kita tak hanya masih bisa mempergunakan jaringan internet dalam negeri, tapi juga bisa mengakses konten-konten yang diperlukan.</p>
<h3>Media baru</h3>
<p><span class="dropcaps">S</span>ebagaimana berbagai teknologi baru, blog sebenarnya telah dipergunakan di Indonesia nyaris bersamaan dengan di belahan dunia lainnya. Selain kita masih membutuhkan konten yang lebih kaya, harus diakui kita masihlah “hanya sekadar” pengguna. Kita bukan pencipta wiki maupun berbagai perangkat lunak blog: hanya mempergunakan apa yang tersedia.</p>
<p>Meskipun begitu, ini bukan alasan untuk patah semangat. Menulis blog merupakan langkah kecil dari sesuatu yang kelak menanti. Ada banyak hal di depan media baru yang terus berkembang ini; ada berbagai peluang mengkreasi bentu-bentuk seni yang khas, sebagaimana mungkin kesusastraan yang hanya bisa dinikmati melalui media ini dan tidak di media yang lain, sehingga mau tidak mau kita mesti memberinya sebuah nama baru. Kita bisa merealisasikan gagasan Borges tentang ensiklopedia fiktif, kalau mau.</p>
<p>Sekali lagi, menulis blog bisa menjadi awal yang baik. Sebagaimana penyair Joko Pinurbo akhirnya dipaksa mengenali kode-kode HTML ketika harus memasukkan puisi-puisinya ke blog. Siapa tahu kelak ia mau mempelajari bahasa pemrograman seperti PHP, Javascript, atau lainya, sehingga kelak dari tangannya bisa ditulis puisi saiber yang sejati (dalam arti tak mungkin dinikmati di media non-saiber). Sebab, “<em>Code is poetry</em>,” kata para programer WordPress. Ya, siapa tahu?</p>
<div class="footnote">
Tulisan ini pernah diterbitkan di <a href="http://www.kompas.com/kompascetak.php/read/xml/2008/05/11/01543237/sebab.kode.adalah.puisi"><em>Kompas</em></a>, Minggu, 11 Mei 2008. Ada beberapa kesalahan ketik di pemuatan <em>Kompas</em>, yang saya perbaiki di versi blog ini. Blog Totot Indrarto tertulis pekde.com, seharusnya <a href="http://pakde.com">pakde.com</a>. Situs pantau.org seharusnya <a href="http://pantau.or.id">pantau.or.id</a>. Blog Ook Nugroho tertulis ooknurgoho.blogspot.com seharusnya <a href="http://ooknugroho.blogspot.com">ooknugroho.blogspot.com</a>.
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/sebab-kode-adalah-puisi-158.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dari Sampul Buku Binhad Hingga Blog Djenar</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/dari-sampul-buku-binhad-hingga-blog-djenar-140.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/dari-sampul-buku-binhad-hingga-blog-djenar-140.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Apr 2008 16:53:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[bumimanusia.or.id]]></category>
		<category><![CDATA[Cantik itu Luka]]></category>
		<category><![CDATA[Corat-coret di Toilet]]></category>
		<category><![CDATA[Desain Grafis]]></category>
		<category><![CDATA[Larutan Senja]]></category>
		<category><![CDATA[Ratih Kumala]]></category>
		<category><![CDATA[Sampul Buku]]></category>
		<category><![CDATA[WordPress]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekakurniawan.com/blog/dari-sampul-buku-binhad-hingga-blog-djenar-140.php</guid>
		<description><![CDATA[Di sela urusan tulis-menulis, jika memperoleh waktu luang ada dua hal yang saya suka lakukan: membuat grafis dan mengutak-atik internet (dari sekadar <em>browsing</em> sampai membongkar kode <a href="http://www.php.net/">PHP</a>). Soal grafis, saya memang pernah sekolah desain grafis (selain kuliah filsafat) waktu di Yogyakarta. Soal internet, saya tanya-tanya ke teman dan rajin membaca artikel-artikel manual yang bertebaran -- tapi jangan sekali-kali menganggap saya pinter soal ini karena kenyataannya memang jauh dari pinter.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> </p>
<p style="text-align: center;"><img src="http://farm3.static.flickr.com/2047/2403781332_043ee10bbe_o.jpg" alt="" /><br />
<span class="caption">Sampul Buku <em>Demonstran Sexy</em></span> </p>
<p>Di sela urusan tulis-menulis, jika memperoleh waktu luang ada dua hal yang saya suka lakukan: membuat grafis dan mengutak-atik internet (dari sekadar <em>browsing</em> sampai membongkar kode <a href="http://www.php.net/">PHP</a>). Soal grafis, saya memang pernah sekolah desain grafis (selain kuliah filsafat) waktu di Yogyakarta. Soal internet, saya tanya-tanya ke teman dan rajin membaca artikel-artikel manual yang bertebaran &#8212; tapi jangan sekali-kali menganggap saya pinter soal ini karena kenyataannya memang jauh dari pinter.</p>
<p>Buku-buku awal saya, (<em>Cantik itu Luka</em> versi penerbit Jendela, <em>Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis</em> semua versi tiga penerbit, <em>Corat-coret di Toilet</em>) saya bikin sendiri sampulnya. Buku orang lain yang pernah saya bikin, sejauh yang saya ingat: <em>Air Kaldera</em> (Joni Ariadinata), <em>Beatniks dan Puisi-puisi Lainnya</em> (Nuruddin Asyhadie), <em>Orang-orang Proyek</em> (Ahmad Tohari &#8212; versi Penerbit Jendela), <em>Sebuah Kitab yang Tak Suci</em> (Puthut EA) dan belum lama ini buku puisi baru Binhad Nurrohmat, <em>Demonstran Sexy</em>. Saya juga membuat ilustrasi untuk sampul dan isi buku kumpulan cerpen Ratih Kumala, <em>Larutan Senja</em>.<br />
<span id="more-140"></span><br />
Di luar itu, masih ada beberapa proyek desain lain yang pernah saya kerjakan, sebagian besar saya sudah lupa. Selain menggarap sampul buku, yang paling saya suka dari pekerjaan sebagai desainer adalah membuat grafis untuk t-shirt (kaus oblong). Waktu saya masih kuliah, saya sering membuat kaus oblong dengan grafis yang saya bikin sendiri. Meskipun hanya saya jual di antara teman-teman dengan cara selalu membawa kausnya di dalam tas punggung, saya memberinya label sebagaimana kaus yang dijual di toko. Labelnya bernama &#8220;Teteruga&#8221;, yang berarti kura-kura (seorang teman asal Irian memberi saya nama itu). Hasilnya lumayan untuk jajan dan membeli buku. Hehehe.</p>
<p>Bisnis &#8220;Teteruga&#8221; saya berhenti ketika krisis ekonomi tahun 1997, selain karena saya mulai sibuk untuk menyelesaikan kuliah dan menulis buku <em>Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis</em>. Meskipun begitu saya tak pernah berhenti membuat desain kaus oblong. Di komputer saya barangkali sudah lebih dari seratusan desain untuk oblong yang belum pernah dicetak. Jujur saja, suatu hari kalau saya cukup punya uang, saya ingin punya toko yang hanya menjual kaus oblong yang saya desain tersebut. Mudah-mudahan kesampaian (amin!).</p>
<p>Nah, mengenai internet, saya mulai memaksakan diri mengerti cara bikin halaman web ketika bersama teman-teman membuat situs <a href="http://bumimanusia.or.id">bumimanusia.or.id</a> (sudah tutup). Itu tahun 2000 dan waktu itu kalau tidak salah belum ada <a href="http://wordpress.org">WordPress</a> maupun <a href="http://blogger.com">Blogspot</a>! Meskipun sampai hari ini saya enggak ngerti logika bahasanya, saya mencoba untuk tahu cara mengedit PHP dan <a href="http://mysql.com">MySql</a> dan sejauh ini cukup berhasil untuk tidak membuat desain <strong>bumimanusia.or.id</strong> berantakan, (<em>bravo</em>!).</p>
<p>Beruntung ketika saya memulai blog ini, WordPress sudah ada. Bagi saya, WordPress benar-benar memudahkan orang untuk ngeblog, terutama untuk orang yang ingin memakai domain dan hosting sendiri seperti saya. Tinggal instal WordPress ke server, cari <em>theme</em> yang menarik, tinggal ngetik blog! Meskipun begitu, masih juga saya ingin mencoba mendesain sendiri blog di atas template WordPress ini. Dengan kemampuan PHP yang pas-pasan, saya mencoba membuat <em>theme</em> sendiri. Hasilnya adalah desain blog ini, yang dengan norak saya beri nama <strong>Faulkner for WordPress</strong>, (ceritanya biar nyaingin <em>theme</em> WordPress yang sangat terkenal bernama <a href="http://warpspire.com/hemingway">Hemingway</a> itu lho!).</p>
<p>Sekali lagi, WordPress membuat ngeblog jadi gampang. Dan untuk itu saya mulai membujuki teman-teman saya untuk mulai ngeblog. Kalau perlu saya akan bantuin untuk urusan membeli domain, sewa server, menginstal WordPress dan memilihkan <em>theme</em> yang cocok (selain <strong>Faulkner for WordPress</strong>, saya enggak janji punya waktu untuk membuat <em>theme</em> sendiri; paling banter mengedit sedikit dari <em>free theme</em> yang sudah ada). Yang pertama dibujuk, tentu saja istri saya. Ia ngeblog di <a href="http://ratihkumala.com">ratihkumala.com</a>. Teman saya di <strong>bumimanusia.or.id</strong>, Nuruddin Asyhadie, juga mulai ngeblog di <a href="http://nuruddinasyhadie.com">nuruddinasyhadie.com</a>. Nuredan (panggilan saya untuk Nuruddin), cukup <em>expert</em> untuk mengotak-atik sendiri WordPressnya hingga berantakan (haha).</p>
<p>Selanjutnya inilah tiga orang yang sudah berhasil saya bujuk membuat blog: Richard Oh di <a href="http://richardoh.net">richardoh.net</a>. Richard selain menulis tiga novel, juga dikenal sebagai sutradara film. Adi Wicaksono di <a href="http://adiwicaksono.com">adiwicaksono.com</a>. Adi dikenal sebagai penyair, juga sesekali menulis esai film dan seni rupa. Terakhir, Djenar Maesa Ayu juga mulai ngeblog di <a href="http://djenar.com">djenar.com</a>. Djenar selain menulis tiga kumpulan cerpen, satu novel, kini bertambah predikatnya sebagai sutradara film. Mereka membeli domain dan menyewa servernya sendiri, saya bantuin yang lebih teknis (gini-gini bolehlah jadi konsultan, caila!). <del datetime="2008-04-15T16:37:48+00:00">Khusus blog Djenar, karena masih bayi, masih dalam pengerjaan. Jadi mohon maaf jika kontennya masih berupa sampel, hehehe</del> (ayo, Bu, mulai nulis, ya!).</p>
<p>Bagaimanapun, <em>happy blogging</em>, Teman-teman. Siapa yang mau menyusul ngeblog?</p>
<h3>Update (Malam yang Sama, Beda Tanggal)</h3>
<p>Proyek desain terbaru, tentu saja merencanakan sampul buku novel ketiga saya, <em>Malam Seribu Bulan</em> yang sudah dijadwalkan terbit pertengahan tahun ini. Punya ide?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/dari-sampul-buku-binhad-hingga-blog-djenar-140.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

