Tariq Ali, Pertemuan dan Beberapa Hal Lucu
Saya merasa tersanjung sekali, dalam lawatannya ke Indonesia (utamanya ia menghadiri Ubud Writer and Reader’s Festival dan satu ceramah di Salihara, Jakarta), penulis dan aktivis Tariq Ali berkesempatan bertemu dengan saya. Baiklah, barangkali ada yang bingung bagaimana kami bisa berjumpa, saya jelaskan bagaimana hal ini terjadi.
Beberapa waktu lalu, beberapa cerita pendek saya menarik minat Benedict Anderson, seorang pengamat Indonesia dari Cornell University. Bahkan ia menerjemahkan dua cerpen saya di jurnal “Indonesia”. Selain itu, rupanya ia menyebut-nyebut nama saya dan novel saya di obituari mengenai Soeharto, yang diterbitkan di jurnal New Left Review. Tariq Ali mengenal baik Ben Anderson (keduanya sangat aktif menulis di New Left Review), dan melalui tulisan dan terjemahan Ben, Tariq Ali mengetahui nama saya.
Tak Sempat Menulis Blog
Karena kesibukan, saya tak sempat nulis blog. Pertama, saya sedang mempersiapkan penerbitan novel ketiga, yang menyita waktu. Kedua, saya sedang mengambil les Bahasa Belanda, juga bikin nggak bisa mikir yang lain. Di luar itu, saya memperoleh kabar gembira: usia kandungan istri saya, Ratih Kumala, sudah 5 minggu 3 hari. Kami mengetahuinya kemarin. Well, mungkin saya akan menulis blog yang panjang, karena itu? Hehe, siapa tahu? Mohon doa agar semuanya lancar. Salam.
Pakai Batik di Hari Batik
Hari ini batik dikukuhkan sebagai “Kenangan Dunia” dari Indonesia oleh UNESCO. Karena saya enggak suka pakai kemeja, saya memakai kaus oblong batik. Istri saya, Ratih Kumala, tak kesulitan memperoleh batik dari lemarinya. She is a batik freak. Meskipun begitu, cita-cita saya untuk bisa membatik sendiri belum kesampaian. Mudah-mudahan lain hari.
“Kronik Betawi”, Novel Baru Ratih Kumala
Novel terbaru karya istriku, Ratih Kumala, berjudul Kronik Betawi. Ya, benar, ini tentang masyarakat Betawi di Jakarta. Berbeda dengan kedua novel sebelumnya, gaya bahasanya lebih ringan dan, tentu saja lucu. Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, mulai beredar 4 Juni 2009. Selamat membeli dan membaca.
Obituari
Hari ini ayah mertua saya (Haris Fadillah, ayah Ratih Kumala) meninggal. Terima kasih untuk semua kiriman simpati dan doa. Baca “Obituari” di blog Ratih.
Eka Kurniawan: An Unconventional Writer
He has been compared to the late Indonesian man of letters, Pramoedya Ananta Toer, but Eka Kurniawan is averse to that confining, imposing description of “literary figure.” Best known for his sometimes brutal portrayal of ordinary lives, he speaks with Maggie Tiojakin about the roads yet traveled.
