<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Eka Kurniawan Project &#187; Puisi</title>
	<atom:link href="http://ekakurniawan.com/blog/tag/puisi/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ekakurniawan.com</link>
	<description>Menulis dan petualangan-petualangan lainnya</description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Feb 2012 03:49:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>&#8220;Perasaan-Perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya&#8221; dan &#8220;Print-on-Demand&#8221;</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/buku-cindil-855.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/buku-cindil-855.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Feb 2009 09:15:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=855</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu lalu, di Facebook saya melihat sejenis pemberitahuan: Gunawan Maryanto menerbitkan kumpulan puisi (pertamanya) berjudul "Perasaan-Perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya". Di woro-woro itu diberitahu, buku dicetak dalam format POD (<em>Print on Demand</em>) dan hanya bisa dipesan lewat web penerbitnya <a href="http://omahsore.web.id">omahsore.web.id</a> (artinya, mungkin enggak akan ada di toko). Saya langsung memesannya dan beberapa hari kemudian, buku sudah datang.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu lalu, di Facebook saya melihat sejenis pemberitahuan: Gunawan Maryanto menerbitkan kumpulan puisi (pertamanya) berjudul &#8220;Perasaan-Perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya&#8221;. Di woro-woro itu diberitahu, buku dicetak dalam format POD (<em>Print on Demand</em>) dan hanya bisa dipesan lewat web penerbitnya <a href="http://omahsore.web.id">omahsore.web.id</a> (artinya, mungkin enggak akan ada di toko). Saya langsung memesannya dan beberapa hari kemudian, buku sudah datang.</p>
<p>Wow. Pertama-tama, saya kagun karena model bisnis dan penerbitan semacam ini ternyata bekerja dengan baik. Saya pesan, dan beberapa hari kemudian kurir datang mengantarkan pesanan. Sebenarnya saya ingin mengomentari, sistem kurir ini mungkin tidak terlalu efisien dan saya barangkali lebih menyarankan sistem paket atau pos. Waktu itu saya tak berkomentar banyak, masih mengagumi sistem yang hebat ini. Bagaimana tidak? Saya tidak ke toko buku, saya bahkan tidak ke ATM, tapi saya langsung memperoleh buku yang saya inginkan!<br />
<span id="more-855"></span><br />
Saya langsung mengirim pesan ke penerbitnya bahwa buku sudah sampai. Balasan penerbit adalah menanyakan kesan-kesan saya atas usaha pertama mereka itu, serta sekiranya saya punya ide-ide tertentu untuk model penerbitan semacam ini. Saya langsung pula membalas.</p>
<p>POD sebenarnya merupakan teknologi yang sudah ada sejak beberapa tahun terakhir di Amerika. Di Indonesia, beberapa percetakan besar mulai melirik teknologi ini, meskipun pemanfaatannya jauh dari maksimal. Kendala utama, tentu saja karena bahkan bisnis buku konvensional pun masih terbatas pada jumlah 1000-3000 eksemplar. Di Amerika, jumlah sebesar itu mungkin sudah dilakukan oleh POD dan tidak dengan mesin cetak biasa, meskipun pada dasarnya, kita bisa mencetak &#8220;hanya&#8221; satu eksemplar buku dengan teknologi ini.</p>
<p>Saya bertemu Chindil (panggilan Gunawan Maryanto) sekitar beberapa minggu sebelum buku itu terbit dan ia sudah mengatakan rencananya menerbitkan buku itu secara POD. Kami sepakat bahwa, terutama, buku puisi sangatlah sulit untuk menembus penerbitan konvensional. Meskipun saya tidak percaya penulis sekelas dia kesulitan memperoleh penerbit konvensional, saya antusias dengan rencananya. Paling tidak, teknologi itu harus dipergunakan. Kedua, mungkin usahanya akan merangsang penyair lain (yang lebih kesulitan memperoleh penerbit hanya karena buku puisi &#8220;tidak laku&#8221; padahal bukunya layak untuk diapresiasi) untuk melakukan hal yang sama.</p>
<p>Maka, tentu saja usul saya kepada penerbit omahsore itu adalah, tentu saja untuk memfokuskan diri pada pasar yang spesifik. Pilihan mereka pada buku puisi sudah tepat, tapi bisa tidak terbatas dengan itu. Buku-buku kajian, tesis-tesis doktoral, karya-karya eksperimen, jelas memiliki problem yang sama dengan buku puisi menghadapi penerbit besar. Buku-buku semacam ini barangkali akan memperoleh tempat yang tepat dengan sistem POD. Dan jangan lupa, buku-buku &#8220;<em>out of print</em>&#8220;. Ini buku-buku penting yang pernah diterbitkan massal, sudah hilang dari pasaran, tapi jika dicetak ulang barangkali tak akan memperoleh pembeli yang signifikan. Kenapa tidak dilayani pula dengan sistem POD?</p>
<p>omahsore langsung membalas: kami sudah menyusun daftar buku &#8220;<em>out-of-print</em>&#8221; yang menjadi incaran untuk diterbitkan ulang dengan sistem POD. Hehehe &#8230;</p>
<p>Sebenarnya, apa itu POD? Secara sederhana, ini adalah sistem cetak digital. Dengan sistem ini, kita bisa mencetak buku satu eksemplar, keluar dari mesin benar-benar sudah berbentuk buku! Investasi dengan sistem ini juga relatif sederhana: kita hanya perlu mendesain buku (biasanya memakai <em>software</em> semacam InDesign dari Adobe untuk layout dan Photoshop atau Illustrator untuk sampul), dan simpan dalam bentuk PDF dengan resolusi tinggi. Dengan file itu, kita tinggal mencetak setiap buku yang dipesan pembeli. Tak ada yang pesan, ya tak perlu dicetak. Ini menghemat banyak investasi cetak dan tentu saja gudang.</p>
<p>Karena sistem cetaknya bisa dibilang digital (biasanya tinta laser), barangkali kita juga harus memperlakukan buku dengan sistem ini dengan sedikit berbeda. Setelah saya memperoleh dan melirik-lirik buku tersebut, ini adalah beberapa catatan lain yang saya kirim ke penerbit:</p>
<p>Pertama, ukuran huruf terlalu kecil. Tentu saja itu bukan masalah digital atau tidak, tapi lebih pada masalah desain. Kedua, kertasnya terlalu terang (HVS), dan saya menyarankan kertas yang lebih redup untuk membuat mata nyaman. Ketiga, sampul yang dilaminasi glossy menurut saya tidak cocok untuk sistem cetak ini. Kenapa? Tekstur cetak digital sampai hari ini masih lebih kasar daripada cetak offset, dan dengan laminasi glossy, itu malah semakin kelihatan. Saya menyarankan untuk mempergunakan kertas yang sedikit bertekstur, dan jangan pakai laminasi apa pun, untuk membuatnya lebih redup dan menyatu dengan kertas.</p>
<p>Dan inilah kelebihan POD! omahsore tampaknya menerima beberapa usul saya tersebut dan mereka menghadiahi saya buku tersebut dalam edisi yang telah diperbaiki. Ya, hanya dengan POD Anda bisa memperbaiki cetakan dengan cepat. Saya memperoleh kiriman buku kedua hari ini, dan, well, saya suka sekali dengan tampilannya yang baru. Huruf lebih besar, kertas kecoklatan, dan sampul tanpa laminasi. Terutama saya menyukai sampulnya (desainnya tetap). Selain tanpa laminasi sehingga desain tampak lebih menyatu dengan permukaan kertas, saya menyukai sedikit trik (saya tak tahu siapa yang menginginkannya, penerbit atau percetakan) yang dipergunakan. Trik ini barangkali hanya akan disadari oleh orang yang ngerti cetak-mencetak dan desain: sampul itu mempergunakan jenis kertas (Ivory?) satu muka. Itu istilah untuk menyebut kertas yang di satu sisi lebih licin (seperti ada lapisan lilin), sementara sisi lain kasar . Biasanya, permukaan licin yang akan ditimpa oleh tinta cetak. Buku ini mempergunakannya justru dengan terbalik, dan hasilnya &#8230; lihat sendiri, deh! Hehe &#8230;</p>
<p>Selamat buat Chindil dan terima kasih buat omahsore untuk kiriman buku keduanya! Sukses selalu. Maaf, malah belum sempat ngomongin puisinya. Hehehe &#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/buku-cindil-855.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Catatan Perjalanan</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/catatan-perjalanan-619.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/catatan-perjalanan-619.php#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Dec 2008 18:49:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=619</guid>
		<description><![CDATA[di simpang lampu merah ini, ke arah menuju barat, masihkah belok kiri jalan terus? di belakang ada kemilau subuh, dengan warna emasnya yang selalu begitu.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>di simpang lampu merah ini,<br />
ke arah menuju barat,<br />
masihkah belok kiri jalan terus?<br />
di belakang ada kemilau subuh,<br />
dengan warna emasnya yang selalu begitu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/catatan-perjalanan-619.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adonis</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/adonis-528.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/adonis-528.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Nov 2008 08:47:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penulisan]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=528</guid>
		<description><![CDATA[Hujan lebat pada Senin sore kemarin, tak menghalangi niat saya untuk menempuh setengah jam perjalanan ke Komunitas Salihara. Saya sudah meniatkan kunjungan ini sejak dua minggu sebelumnya. Acara malam itu adalah ceramah umum yang akan dibawakan oleh Adonis, dengan tema &#8220;Kebenaran Puisi dan Kebenaran Agama&#8220;. Siapakah Adonis, sehingga saya rela meninggalkan meja kerja saya yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center"><a href="http://1.bp.blogspot.com/_tn9p8W26Wqg/ST6WWmgajCI/AAAAAAAAAMo/_HIV4LPA894/s400/adonis.jpg"><img src="http://1.bp.blogspot.com/_tn9p8W26Wqg/ST6WWmgajCI/AAAAAAAAAMo/_HIV4LPA894/s1600/adonis.jpg"/></a></p>
<p>Hujan lebat pada Senin sore kemarin, tak menghalangi niat saya untuk menempuh setengah jam perjalanan ke Komunitas Salihara. Saya sudah meniatkan kunjungan ini sejak dua minggu sebelumnya. Acara malam itu adalah ceramah umum yang akan dibawakan oleh <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Adonis_(poet)">Adonis</a>, dengan tema &#8220;<em>Kebenaran Puisi dan Kebenaran Agama</em>&#8220;.</p>
<p>Siapakah Adonis, sehingga saya rela meninggalkan meja kerja saya yang selama berminggu-minggu ini menjadi sarang bagi berlembar-lembar draft akhir novel saya? Adonis bisa dibilang penyair Arab paling penting sekarang ini. Bahkan boleh dibilang, ia penyair paling kuat sebagai kandidat peraih Nobel Kesusastraan di tahun-tahun terakhir sekaligus tahun-tahun ke depan.<br />
<span id="more-528"></span><br />
Sejujurnya saya tak tahu banyak perihal Adonis. Lebih tepatnya, saya tak akrab dengan puisi-puisi Arab. Justru karena itu saya ingin sekali datang dan mendengarkan ceramahnya. Saya bahkan menyiapkan bolpen untuk mencatat hal-hal menarik, persis sebagaimana saya lakukan dulu ketika masih masuk ke ruang kuliah dan mendengarkan ceramah dosen saya. Di luar dugaan, meskipun hujan deras yang seringkali menghalangi orang Jakarta keluar rumah, gedung teater Salihara dijejali orang. Tempat duduk penuh dan sebagian orang terpaksa berdiri demi mendengar ceramahnya. Untung saya masuk lebih awal sehingga memperoleh tempat duduk.</p>
<p>Di samping kiri saya ada Hakim, sutradara film yang segera merilis film debutnya Desember ini, suami dari sutradara Nan Achnas. Di samping kanan ada Zaim Rofiqi, penyair. Di belakang tempat duduk saya ada Seno Joko, kakak kelas saya di UGM sekaligus wartawan Tempo. Di depan ada Bagus Takwin, dosen filsafat UI. Itu sekadar untuk memperlihatkan beragam latar-belakang pengunjung yang datang untuk mendengar ceramah Adonis.</p>
<p>Setelah Anya Rompas dan Sitok Srengenge membacakan dua puisi Adonis yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia (buku terjemahan ini akan segera terbit), Adonis langsung memulai ceramahnya. Ia berceramah dalam bahasa Arab. Tentu saja hanya anak-anak yang pernah mengenyam pendidikan pesantren (dan itu pasti enggak semuanya) yang bisa mengerti. Untung saja bagi sebagian besar orang yang tak mengerti bahasa Arab, disediakan <em>slide</em> terjemahannya sehingga kita bisa mengikuti ceramah tersebut.</p>
<p>(Hal ini dengan sedih mengingatkan saya kepada fakta bahwa sebagian besar orang Indonesia, paling tidak saya, bisa membaca huruf Arab. Bahkan sampai sekarang, meskipun tidak saya lakukan tiap hari, saya masih bisa membaca Al Quran tanpa kesulitan. Tapi sialnya, saya tak tahu apa pun arti bacaan tersebut. Sejak jaman kuliah, saya mulai &#8220;hanya&#8221; membuka Al Quran yang ada terjemahannya, sebab saya tak lagi mau membaca sesuatu yang saya tak tahu apa artinya. Saya tak mengerti, kenapa anak kecil disuruh mengaji, bukannya disuruh membaca buku terjemahan dulu baru setelah itu diajar mengaji? Ah, pusing!)</p>
<p>Dan ceramah Adonis, saya senang tidak melewatkannya (sebab belum tentu hari lain ia mampir ke Indonesia, kan?), sangat inspiratif sekaligus cerdas. Kesan saya, selain orang kreatif, Adonis juga seorang intelektual yang berkelas. Ceramahnya bisa dibilang provokatif. Bahkan Zaim sempat berbisik, &#8220;Kalo dia ceramah begini di negaranya, barangkali dia bisa ditembak mati.&#8221; Seperti inilah kalimat pembuka ceramahnya:</p>
<p>&#8220;Seperti anda ketahui, wahyu Islam merendahkan puisi &#8211; sebagaimana Plato memandangnya sebagai kesesatan.&#8221; Dan dalam acara tanya jawab, ia sempat mengutip pendapat bahwa di dunia ini hanya ada dua jenis manusia: &#8220;Pertama, manusia berakal yang tidak beragama, dan kedua, manusia beragama yang tidak berakal.&#8221; Saya sendiri menganggapnya lelucon. Adonis mengaku ia tidak menyesal dilahirkan sebagai Muslim. Jika ia banyak mengkritik Islam, itu ia lakukan, &#8220;Karena saya mencintai Islam. Kalau saya tidak mencintainya, buat apa saya memikirkannya? Saya memikirkannya karena saya menganggap Islam penting buat hidup saya.&#8221; Ia juga berpendapat, atheisme merupakan &#8220;agama&#8221; paling tua.</p>
<p>Hm. Menurut Adonis, wahyu agama (dalam hal ini Islam) telah membatalkan wahyu puisi justru dengan bahasa puisi sendiri. Wahyu agama diturunkan dengan bahasa Arab, padahal bahasa itu telah menjadi milik para penyair dan puisi, jauh sebelum Islam diturunkan. Jika puisi pada awalnya dianggap sebagai sumber pengetahuan dalam menemukan &#8220;yang benar&#8221; atau &#8220;kebenaran&#8221;, dengan kedatangan wahyu agama, puisi direndahkan menjadi sekadar perkakas. Mengapa? Sebab hakekat kebenaran dalam puisi adalah &#8220;perubahan&#8221;. Sementara wahyu agama datang dengan ide &#8220;firman Tuhan yang terakhir&#8221;, dan &#8220;penutup para nabi&#8221;. Artinya? Wahyu agama menyiratkan &#8220;kebenaran&#8221; sudah final, sudah selesai. Tak ada tempat bagi puisi!</p>
<p>Saya tak akan membahas semua isi ceramahnya di sini. Barangkali cepat-atau lambat ceramah tersebut (yang sudah ada terjemahannya) mungkin akan diterbitkan atau disebarkan. Silakan cari sendiri makalah tersebut selengkapnya (makalahnya panjang, hingga mencapai 15 halaman). Kesan saya secara umum, sebagai penyair, Adonis memang &#8220;berkelas&#8221;. Sepulang dari Salihara, di dalam taksi, saya terus-menerus berpikir, adakah penyair Indonesia yang &#8220;berkelas&#8221; semacam itu?</p>
<p>Sekali lagi, sebagai penyair, Adonis tak hanya luar biasa pencapaian puisi-puisinya, tapi juga memiliki pergulatan &#8220;akademis&#8221; dengan puisi dan lingkungannya. Ia melakukan riset mengenai sejarah puisi Arab. Dan jangan lupa desertasinya yang empat jilid tebal itu, mengenai Arab dan Islam. Di Indonesia? Banyak penyair bagus dan hebat. Tapi adakah yang bisa berceramah mengenai puisi pra-Indonesia? Adakah yang menulis desertasi tentang Negarakrtagama? Sampai titik ini, saya jadi kuatir jangan-jangan kita memang masih jauh dari memperoleh penyair &#8220;kelas dunia&#8221; dalam arti kapasitasnya yang melebihi sebagai &#8220;sekadar&#8221; pengrajin puisi.</p>
<p>Mudah-mudahan kekuatiran saya tak beralasan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/adonis-528.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sampul Buku “Bulu Mata Susu”</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/sampul-buku-bulu-mata-susu-481.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/sampul-buku-bulu-mata-susu-481.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Sep 2008 10:08:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gambar dan Desain]]></category>
		<category><![CDATA[Desain Grafis]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Sampul Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=481</guid>
		<description><![CDATA[Hampir sebulan terakhir saya mengerjakan desain buku puisi Ramon Damora berjudul Bulu Mata Susu. Setelah mencoba beberapa kemungkinan, ini merupakan desain yang akhirnya di-approve oleh sang penyair. Di blog Ramon Damora, bisa dilihat dua versi sebelumnya, sebelum berakhir dengan desain ini. Sila menunggu bukunya di toko!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_tn9p8W26Wqg/StWqWPefoQI/AAAAAAAAAUg/JBRTbEylEuM/s1600-h/bulumatasusu.jpg"><img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 294px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_tn9p8W26Wqg/StWqWPefoQI/AAAAAAAAAUg/JBRTbEylEuM/s400/bulumatasusu.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5392403427934314754" border="0" /></a></p>
<p>Hampir sebulan terakhir saya mengerjakan desain buku puisi <a href="http://ramondamora.com/">Ramon Damora</a> berjudul <em>Bulu Mata Susu</em>. Setelah mencoba beberapa kemungkinan, ini merupakan desain yang akhirnya di-<em>approve</em> oleh sang penyair. <a href="http://ramondamora.com/menuju-bulu-mata-susu-1">Di blog Ramon Damora</a>, bisa dilihat dua versi sebelumnya, sebelum berakhir dengan desain ini. Sila menunggu bukunya di toko!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/sampul-buku-bulu-mata-susu-481.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tips Menulis Puisi di WordPress</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/tips-menulis-puisi-di-wordpress-177.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/tips-menulis-puisi-di-wordpress-177.php#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 May 2008 07:55:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penulisan]]></category>
		<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[WordPress]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekakurniawan.com/blog/tips-menulis-puisi-di-wordpress-177.php</guid>
		<description><![CDATA[Foto oleh: xfce, Some rights reserved. Karena berbagai kemudahannya, saya selalu menyarankan kepada beberapa teman yang ingin nge-blog dengan domain dan hosting sendiri, untuk mempergunakan WordPress. Sejujur nya, dibandingkan Textpattern atau Drupal, banyak hal yang tidak dimiliki WordPress memang; tapi menyangkut kemudahan, WordPress memberikan lebih banyak kenyamanan. Setelah membantu beberapa teman menginstalasi WordPress, ada baiknya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><center><a href="http://www.flickr.com/photos/thomasvdb/379546998/"><img src="http://bp0.blogger.com/_tn9p8W26Wqg/SCVUgy9-gKI/AAAAAAAAAHc/FF61l3zJb4c/s400/binary355.jpg" /></a><br />
<span class="caption">Foto oleh: <a class="snap_noshots" href="http://www.flickr.com/photos/thomasvdb/">xfce</a>, <a class="snap_noshots" href="http://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0/" rel="license cc:license">Some rights reserved</a>.<br />
</span></center><br />
Karena berbagai kemudahannya, saya selalu menyarankan kepada beberapa teman yang ingin nge-blog dengan domain dan hosting sendiri, untuk mempergunakan <a href="http://wordpress.org">WordPress</a>. Sejujur nya, dibandingkan <a href="http://textpattern.com">Textpattern</a> atau <a href="http://drupal.org">Drupal</a>, banyak hal yang tidak dimiliki WordPress memang; tapi menyangkut kemudahan, WordPress memberikan lebih banyak kenyamanan. Setelah membantu beberapa teman menginstalasi WordPress, ada baiknya mungkin saya membagi tips kecil menulis puisi di WordPress ini, yang saya peroleh dari masalah teman-teman. Dalam hal ini saya mempergunakan WordPress versi 2.5.1 (mestinya juga berlaku di <a href="http://wordpress.com">WordPress.com</a> dan <a href="http://blogspot.com">Blogspot.com</a>):<br />
<span id="more-177"></span><br />
Text editor WordPress mempergunakan kemudahan WYSIWYG (<em>What Yoy See is What You Get</em>). Kalau kamu cukup familiar dengan MSWords, icon-icon text-editornya pasti tak asing. Segala sesuatu tinggal ngeklik. Mau rata kanan seperti puisi-puisi Binhad Nurrohmat? Tinggal klik icon rata kanan. Beberapa teman yang penyair menemukan masalah justru ketika memasukkan puisi. Format WordPress kurang bisa membedakan &#8220;baris&#8221; dan &#8220;bait&#8221;, sebab setiap baris baru selalu dianggap paragraf (yang di puisi berarti bait) baru. Misalnya contoh puisi Chairil Anwar (<strong>Diponegoro</strong>):</p>
<blockquote><p>Di masa pembangunan ini</p>
<p>tuan hidup kembali</p>
<p>dan bara kagum menjadi api</p>
<p>di depan sekali tuan menanti</p>
<p>Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali [...]</p></blockquote>
<p>Padahal maunya begini:</p>
<blockquote><p>Di masa pembangunan ini<br />
tuan hidup kembali</p>
<p>dan bara kagum menjadi api</p>
<p>di depan sekali tuan menanti<br />
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali [...]</p></blockquote>
<p>Ini gampang. Text-editor WordPress memberikan dua pilihan: Visual dan HTML. Visual inilah yang kita pergunakan sehari-hari, dengan fasilitas WYSIWYG itu. Untuk mengubah format paragraf standar, kita harus masuk ke editor HTML. Baris puisi pertama, jika dilihat di HTML akan tampak begini:</p>
<pre style="border:1px solid #888;background:#eee;padding:0 10px 0 10px;font-size:12px;">
&#60;p&#62;Di masa pembangunan ini&#60;&#47;p&#62;
&#60;p&#62;tuan hidup kembali&#60;&#47;p&#62;
&#60;p&#62;dan bara kagum menjadi api&#60;&#47;p&#62;
&#60;p&#62;di depan sekali tuan menanti&#60;&#47;p&#62;
&#60;p&#62;Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali [...]&#60;&#47;p&#62;</pre>
<p>Agar puisi ini tampil seperti contoh kedua, kita harus mengedit kodenya menjadi begini:</p>
<pre style="border:1px solid #888;background:#eee;padding:0 10px 0 10px;font-size:12px;">
&#60;p&#62;Di masa pembangunan ini &#60;br &#47;&#62;
tuan hidup kembali&#60;&#47;p&#62;
&#60;p&#62;dan bara kagum menjadi api&#60;&#47;p&#62;
&#60;p&#62;di depan sekali tuan menanti &#60;br &#47;&#62;
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali [...]&#60;&#47;p&#62;</pre>
<p>Penjelasannya sederhana. Kode &#60;p&#62; &#8230; &#60;&#47;p&#62; merupakan kode untuk paragraf. Setiap baris baru (artinya kamu menekan tombol enter/return di keyboard), WordPress akan menerjemahkannya sebagai paragraf. Kode ini harus berpasangan. &#60;p&#62; (kode pembuka) dipakai di awal paragraf, &#60;&#47;p&#62; (kode penutup) dipakai di akhir paragraf. Agar paragraf menjadi baris, ganti saja &#60;&#47;p&#62; menjadi &#60;br &#47;&#62; (ini kode untuk ganti baris). Bedanya, setelah kode &#60;br &#47;&#62; di awal paragraf berikutnya jangan dicantumkan kode &#60;p&#62;, agar baris tersebut tidak menjadi paragraf baru.</p>
<p>Kode-kode ini mempergunakan standar XHTML, bukan HTML biasa. Kalau HTML biasa, kamu cukup memakai &#60;p&#62; dan &#60;br&#62; di awal baris tanpa harus mempergunakan penutup &#60;&#47;p&#62; atau pembuka-sekaligu-menutup-diri-sendiri &#60;br &#47;&#62;. Tapi mohon diperhatikan, HTML mungkin tak akan lagi menjadi standar, jadi mending pergunakan cara di atas. Silakan mencoba, dan semoga berguna.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/tips-menulis-puisi-di-wordpress-177.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jantung Lebah Ratu &#8211; Nirwan Dewanto</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/jantung-lebah-ratu-nirwan-dewanto-153.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/jantung-lebah-ratu-nirwan-dewanto-153.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Apr 2008 01:10:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Ulasan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekakurniawan.com/blog/jantung-lebah-ratu-nirwan-dewanto-153.php</guid>
		<description><![CDATA[Dari GoetheHouse semalam, buku puisi Indonesia bertambah satu: Jantung Lebah Ratu (Gramedia Pustaka Utama) karya Nirwan Dewanto. Meskipun telah menggeluti sastra sejak awal 80an, ini merupakan buku puisi pertama Nirwan (di luar itu pernah ada manuskrip berjudul Buku Cacing). Mengiringi peluncuran buku ini, Nirwan sempat melakukan wawancara dengan penyair Ook Nugroho. Transkip wawancara bisa dibaca [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari GoetheHouse semalam, buku puisi Indonesia bertambah satu: <em>Jantung Lebah Ratu</em> (Gramedia Pustaka Utama) karya Nirwan Dewanto. Meskipun telah menggeluti sastra sejak awal 80an, ini merupakan buku puisi pertama Nirwan (di luar itu pernah ada manuskrip berjudul <em>Buku Cacing</em>). Mengiringi peluncuran buku ini, Nirwan sempat melakukan wawancara dengan penyair Ook Nugroho. Transkip wawancara bisa dibaca di <a href="http://ooknugroho.blogspot.com/2008/04/wawancara-nirwan-dewanto-1.html">ooknugroho.blogspot.com</a>. Selamat datang <em>Jantung Lebah Ratu</em>, tetap bergairah penulis Indonesia!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/jantung-lebah-ratu-nirwan-dewanto-153.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dian Sastro Membaca Puisi “Aku dan Tuhanku” karya Sutan Takdir Alisjahbana</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/dian-sastro-membaca-puisi-aku-dan-tuhanku-karya-sutan-takdir-alisjahbana-143.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/dian-sastro-membaca-puisi-aku-dan-tuhanku-karya-sutan-takdir-alisjahbana-143.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Apr 2008 04:05:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[Dian Sastrowardojo]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi & Tribut]]></category>
		<category><![CDATA[Sutan Takdir Alisjahbana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekakurniawan.com/blog/dian-sastro-membaca-puisi-aku-dan-tuhanku-karya-sutan-takdir-alisjahbana-143.php</guid>
		<description><![CDATA[Dian Sastrowardoyo membacakan puisi Sutan Takdir Alisjahbana (1908-1994) &#8220;Aku dan Tuhanku&#8221; pada acara 100 Tahun STA (11 Februari 2008). Pembacaan ini dilakukan di rumah peristirahatan keluarga STA di Tugu, Cisarua, Bogor, Jawa Barat. Trims, Dian! Trims YouTube!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><center><br />
<object width="355" height="296"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/3ydFHjHgSeI&#038;hl=en"></param><param name="wmode" value="transparent"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/3ydFHjHgSeI&#038;hl=en" type="application/x-shockwave-flash" wmode="transparent" width="355" height="296"></embed></object><br />
</center><br />
<a href="http://blog.diansastrowardoyo.net">Dian Sastrowardoyo</a> membacakan puisi <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sutan_Takdir_Alisjahbana">Sutan Takdir Alisjahbana</a> (1908-1994) &#8220;Aku dan Tuhanku&#8221; pada acara 100 Tahun STA (11 Februari 2008). Pembacaan ini dilakukan di rumah peristirahatan keluarga STA di Tugu, Cisarua, Bogor, Jawa Barat. Trims, Dian! Trims YouTube!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/dian-sastro-membaca-puisi-aku-dan-tuhanku-karya-sutan-takdir-alisjahbana-143.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bon Voyage, Mr. President</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/bon-voyage-mr-presiden-20.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/bon-voyage-mr-presiden-20.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Jan 2008 16:48:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[Obituari]]></category>
		<category><![CDATA[Persona]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekakurniawan.com/blog/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[Kita tahu itu baru terjadi setahun kemudian: 1998. Selepas itu, kita semua tahu apa yang terjadi. Bagi saya: serasa tak ada yang terjadi ... Sampai saat ketika di warung melihat kematiannya, saya merasa presiden Indonesia masih yang itu: Soeharto. Sepuluh tahun berlalu, tak banyak yang berubah ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>&#8220;Sebagaimana sering kita baca di novel dan komik,&#8221; katanya, &#8220;Penjahat besar yang keji, bengis, kotor dan bau neraka memang susah dikalahkan dan sulit mati.&#8221;<br />
- &#8220;Peter Pan&#8221; (<em>Gelak Sedih</em>, 2005/<em>Corat-coret di Toilet</em>, 2000)</p></blockquote>
<p>Judul di atas saya kutip dari satu cerpennya Gabriel Garcia Marquez, &#8220;Bon Voyage, Mr. President&#8221; (<em>Strange Pilgrims</em>), saya ucapkan untuk mengiringi kepergian mantan presiden kita, Soeharto, hari ini (27 Januari 2008 siang). Jujur saja saya terlambat mengetahuinya. Seharian saya duduk di samping televisi, tapi tak memerhatikan apa pun, sampai kemudian saya turun dan pergi ke warung makan jam empat sore. Di warung televisi sedang menayangkan kabar mengenai &#8220;tujuh hari berkabung nasional.&#8221;</p>
<p>Kalau kemudian saya merasa sore itu agak murung, yah, itu karena saya selalu merasa murung mendengar seseorang yang meninggal. Mengenai kemarian Soeharto, jujur saja saya tidak sedih, juga tidak bahagia. Rasanya agak mati rasa. Dua minggu sebelumnya, ketika sang mantan presiden masuk rumah sakit dan tampaknya &#8220;parah&#8221;, saya bergumam pada diri sendiri, &#8220;Sekarang, ia bakal pergi.&#8221; Saya menunggui televisi selama beberapa hari, membaca koran dengan rajin, untuk mengetahui perkembangannya. Ternyata tak semudah itu buatnya pergi. Saya mulai bosan, dan itulah alasannya kenapa saya tak memerhatikan televisi sampai sore.<br />
<span id="more-20"></span><br />
Entahlah, bagi saya, dalam kenangan purba saya, di Indonesia hanya ada satu presiden: Soeharto. Meskipun suah lama ia turun dan beberapa presiden sudah menggantikannya (lebih banyak dari yang pernah saya bayangkan), bagi saya terasa presiden hanya satu: Soeharto. Jika saya membayangkan pemerintahan, penguasa, yang terbayang oleh saya tetap Soeharto. Itu tetap terjadi meskipun ia sudah jarang keluar rumah dan sakit-sakitan. Saya pikir, mungkin serupa itu yang pernah terpikirkan oleh generasi anak-anak yang lahir tahun 70an.</p>
<p>Ketika pertama kali mengenal bahwa kita hidup memiliki seorang &#8220;presiden&#8221;, yang waktu itu adalah Soeharto, bisa dikatakan saya tak menaruh perhatian sama sekali. Tidak ada rasa kagum, tidak juga benci. Tidak pernah terpikirkan untuk mengirim surat kepadanya, sebagaimana banyak dilakukan anak-anak lain (salah satunya istriku ketika SMP), tidak pula terpikir untuk membakar fotonya. Kira-kira kalau dalam bahasa Inggris, &#8220;indeferent&#8221; gitu.</p>
<p>Hingga ketika saya SMA, saya mulai merasa &#8220;ada yang salah&#8221;. Waktu itu saya jadi anak yang agak &#8220;susah&#8221;, paling tidak begitu kata ayah, ibu, dan guru-guru saya. Saya mulai malas sekolah, hingga akhirnya mereka memang mengeluarkan saya sebelum saya menyelesaikan kelas satu. Setelah tiga bulan dibujuk, akhirnya saya kembali ke sekolah. Tentu sekolah yang lain, sekolah yang mau menerima saya di kelas dua meski saya tak punya raport kelas satu. Sebuah sekolah yang isinya anak-anak yang bisa dikatakan, tidak diterima di sekolah lain. Satu kelas isinya cuma dua puluh tiga orang. Isinya mulai dari anak gadis yang hamil di luar nikah sampai jagoan teler. Entah kenapa, saya merasa nyaman di sekolah itu dan menemukan mainan baru: menulis. Inilah kenapa saya tiba-tiba ngomongin soal sekolah di sana: hal pertama yang saya tulis adalah mengenai Presiden Soeharto, pemerintahannya, Orde Baru dan ideologi Pancasila.</p>
<p>Saya lupa persis apa yang saya tulis dengan penuh kemarahan itu. Yang saya ingat, saya menempelnya di majalah dinding. Ngomong-ngomong soal majalah dinding, itu kali pertama ada majalah dinding di sekolah itu. Nyatanya anak-anak yang &#8220;tak banyak diharapkan&#8221; itu, ketika saya mengajak membuat majalah dinding, sangat antusias. Mereka belum pernah menulis, tapi begitu bergairah untuk menulis. Kami mengerjakannya di akhir pekan dengan harapan, hari Senin sudah terpampang dan anak-anak lain akan mulai membacanya.</p>
<p>Antusiasme teman-teman saya hanya bertahan satu edisi. Hari Senin, guru pembimbing menurunkan majalah dinding itu, dan menyobek-nyobek tulisan saya. Sampai saat ini saya masih bertanya-tanya, apa sebenarnya yang saya tulis. Saya menulisnya di Sabtu sore, dan Senin sudah disobek habis. Tak ada yang saya ingat. Tapi sejak saat itu saya memperoleh cap &#8220;anak badung&#8221; jenis lain di sekolah, dan terus mendapat perhatian semua guru sampai akhir kelas tiga. Mereka terus memperhatikan seandainya saya mempengaruhi teman-teman saya: padahal kenyataannya, teman-teman sayalah yang banyak mempengaruhi saya (paling tidak soal minum minuman keras murahan dan rokok yang dicampur antara ganja dan kecubung). Lupakan soal itu. Yang jelas sejak saat itu saya mulai memikirkan soal &#8220;Soeharto&#8221; ini.</p>
<p>Saya mulai belajar politik dari teman-teman kuliah saya di Yogya. Saya ikut kurpol, kursus politik. Saya ikut turun ke jalan. Meskipun begitu, hasrat terbesar saya tetaplah menjadi penulis (saya menyerah untuk menjadi politikus &#8230;). Karena awalnya saya berhasrat menjadi penyair (yah, semua penulis saya pikir awalnya berhasrat menjadi penyair), saya mulai menulis puisi-puisi politik. Tak satu pun pernah saya publikasikan. Tapi saya ingat satu puisi, saya lupa judulnya, yang saya tulis ketika Presiden Soeharto datang ke kampus saya, Universitas Gadjah Mada:</p>
<blockquote><p><em>presiden datang,<br />
saya tak bisa pergi sekolah</em></p></blockquote>
<p>Saya masih ingat karena puisi itu memang cuma dua baris. Saya tulis setelah saya mengendarai motor hendak kuliah, tapi seluruh jalan masuk ke kampus dijaga polisi. Saya pulang dan menulis beberapa puisi. Itu tahun 1994. Saya merasa punya &#8220;personalisasi&#8221; kemarahan saya. Tapi puncaknya, tentu saja tahun 1997.</p>
<p>Saat itu menjelang pemilihan umum. Para aktivis kebanyakan menghilang. Kebanyakan dikejar-kejar sejak tahun 1996. Sebagian di antara mereka memilih untuk menyembunyikan diri. Sebagian yang lain benar-benar tertangkap. Sebagian lagi, kita tahu hilang. Benar-benar hilang sampai hari ini! Mati pun tak ada yang tahu dimana mayatnya terbujur. Oh ya, kita masih punya banyak alasan untuk marah, jika mau membuat daftar lebih panjang. Kembali ke tahun 1997, ketika suasana hening dan penuh rasa takut, kami (beberapa mahasiswa saja &#8230;) memutuskan untuk pertama kali sejak pertengahan 1996 yang heboh itu untuk kembali turun ke jalan. Menjelang pemilu.</p>
<p>Tuntutan kami saat itu: menolak pemilu. Tapi intinya adalah: &#8220;Kami tak mau lagi Presiden Soeharto.&#8221; Aksi turun ke jalan itu hanya beberapa puluh menit saja. Begitu kami tiba di jalan depan Fakultas Hukum UGM, orang-orang yang tadinya kami kira penonton, tiba-tiba menyerbu dan menangkapi kami. Tak lama tentara datang. Saya dilemparkan dua orang tak dikenal ke atas truk bersama beberapa orang lain, dibawa ke Kodim. Besoknya satu gerombolan mahasiswa juga ditangkap dan dibawa ke tempat yang sama.</p>
<p>Sejak itu saya tak lagi peduli dengan kuliah (lagipula skripsi saya mengenai Pramoedya Ananta Toer ditolak oleh fakultas), dan yang saya inginkan saat itu cuma satu: turunkan Presiden Soeharto.</p>
<p>Kita tahu itu baru terjadi setahun kemudian: 1998. Selepas itu, kita semua tahu apa yang terjadi. Bagi saya: serasa tak ada yang terjadi &#8230; Sampai saat ketika di warung melihat kematiannya, saya merasa presiden Indonesia masih yang itu: Soeharto. Sepuluh tahun berlalu, tak banyak yang berubah &#8230;</p>
<p><em>Bon Voyage, Mr. President</em>!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/bon-voyage-mr-presiden-20.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Asrul Sani: Puisi Gigantis dan Cerpen Rumah</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/asrul-sani-puisi-gigantis-dan-cerpen-rumah-26.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/asrul-sani-puisi-gigantis-dan-cerpen-rumah-26.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 May 2007 17:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Kompas]]></category>
		<category><![CDATA[Persona]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekakurniawan.com/blog/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[Melalui kajian puisi dan cerpen Asrul Sani yang nisbiah jarang jumlahnya dibandingkan dengan esainya, terlihat bahwa cerpen-cerpen Asrul adalah cerpen ide, puisi-puisinya sarat dengan beban ide. Dalam sepucuk esainya mengenai puisi Angkatan 45, atau dengan ungkapannya disebut sebagai generasi saya sendiri, Asrul Sani menulis: &#8220;Kita harus sampai pada puisi ’gigantis’ yang menyeluruh—sebagai imbangan dari robekan-robekan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Melalui kajian puisi dan cerpen Asrul Sani yang nisbiah jarang jumlahnya dibandingkan dengan esainya, terlihat bahwa cerpen-cerpen Asrul adalah cerpen ide, puisi-puisinya sarat dengan beban ide.</p></blockquote>
<p>Dalam sepucuk esainya mengenai puisi Angkatan 45, atau dengan ungkapannya disebut sebagai generasi saya sendiri, Asrul Sani menulis: &#8220;Kita harus sampai pada puisi ’gigantis’ yang menyeluruh—sebagai imbangan dari robekan-robekan sepintas lalu yang diberikan emosi—yang mempunyai sumber pada serba manusia, serba hidup yang tak terbatas pada dunia. Dalam puisi ini emosi hanya pendorong ’perasaan’ yang dialami penyair untuk dirasakan penikmat.&#8221;<br />
<span id="more-26"></span><br />
Petikan itu terdapat dalam esai &#8220;Deadlock pada Puisi Emosi-Semata&#8221;, yang pada dasarnya mencoba mengkritik kecenderungan generasi saya sendiri yang terlampau menekankan diri pada emosi, lupa bahwa itu hanya pendorong berpuisi. Asrul menunjukkan bahwa Angkatan 45 pada dasarnya mengulang kesalahan Pujangga Baru. Angkatan 45 terlalu sibuk dengan kebebasan, Pujangga Baru tersuntuk melulu dalam urusan keindahan. </p>
<p>Apa pula yang ia maksud dengan puisi gigantis itu? Bisakah kita menganggapnya sebagai kecenderungan puitik Asrul? Soal ini kita bisa periksa dalam kumpulan puisi Asrul satu-satunya yang pernah diterbitkan, <em>Mantera</em> (1975). </p>
<blockquote><p>Mari kita ke Utara//Saudara, di sana bukan Utara.//Ah, kalau begitu anakku telah dibawa ke Selatan.</p></blockquote>
<div class="sidenote">
<strong>Asrul Sani</strong> lahir di Rao, Pasaman, Sumatera Barat, 10 Juni 1926 dan meninggal pada 11 Januari 2004.<br />
<strong>Karyanya:</strong><br />
<em>Tiga Menguak Takdir</em> (puisi bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin, 1950)<br />
<em>Pagar Kawat Berduri</em> (film, 1963)<br />
<em>Apa yang Kau Cari, Palupi</em> (film, 1970)<br />
<em>Dari Suatu Masa dari Suatu Tempa</em>t (cerita pendek, 1972)<br />
<em>Salah Asuhan</em> (film, 1974)<br />
<em>Mantera</em> (puisi, 1975)<br />
<em>Bulan di Atas Kubura</em>n (film, 1976)<br />
<em>Kemelut Hidup</em> (film, 1978)<br />
<em>Di Bawah Lindungan Ka&#8217;bah</em> (film, 1978)<br />
<em>Nagabonar</em> (film, 1987)<br />
<em>Mahkamah</em> (drama, 1988)<br />
<em>Surat-Surat Kepercayaan</em> (esai, 1997).
</div>
<p>Dari penggalan puisi &#8220;Kenanglah Bapa, Kenanglah Bapa&#8221; barangkali kita belum juga menemukan maksud gigantis itu. Puisi yang juga muncul dalam kumpulan <em>Tiga Menguak Takdir</em> (bersama Chairil Anwar dan Rivai Avin, 1950) memperlihatkan corak yang berbeda mencolok dengan puisi rekan-rekannya. Jika Chairil kita patok sebagai pelopor Angkatan 45 dan <em>Tiga Menguak Takdir </em>sebagai (sesuai dengan pengakuan mereka bertiga) pandangan hidup (atau tujuan takdir) Angkatan Gelanggang (yang notabene cikal bakal Angkatan 45), kita bisa menemukan kecenderungan Asrul yang agak beda. Ironisnya, ideologi angkatan ini sebagaimana kita kenali dari Surat Kepercayaan Gelanggang justru dikemukakan oleh Asrul seorang. </p>
<p>Untuk lebih jelasnya bisa dikatakan, Asrul Sani merupakan penggagas ideologi Angkatan 45, namun yang kita kenal mengenai angkatan ini barangkali justru tak sebagaimana yang diangankan oleh sang penggagas. Ini pula yang mungkin mendorongnya menulis kritik mengenai angkatannya sendiri. </p>
<p>Perkara ini akan lebih bisa dimengerti pertama-tama jika kita juga bisa memahami pandangan Angkatan 45 atas angkatan sebelumnya, Pujangga Baru. Dalam hal ini, terutama kita akan melihat pandangan-pandangan Asrul Sani dan kemudian bagaimana penulis ini memformulasikan gagasan mengenai apa yang harus dilakukan generasinya dalam rangka mengoreksi Pujangga Baru. Dari titik inilah kemudian kita bisa melihat bahwa dari ideologi Gelanggang yang dikembangkan Asrul Sani ini ke mana Angkatan 45 mengalir. Di dalamnya tentu kita akan temukan Asrul Sani. Di sini pun kita akan menemukan soal apakah Asrul dengan karya-karyanya, terutama puisinya, mengikuti kecenderungan generasinya, ataukah ia berkelas kepala dengan gagasannya sendiri? </p>
<p>Memang benar, STA sebagai salah satu ideolog Pujangga Baru sangat menganjurkan menengok ke Barat, kepada modernisme, kepada kebaruan. Namun, sosok yang kemudian dikenal sebagai &#8220;Raja Penyair Pujangga Baru&#8221; tak lain adalah Amir Hamzah. Pada puisi-puisi Amir Hamzah kita akan menemukan suatu dunia puitik yang tegang. Dengan kata lain, memang ada kehendak untuk kebaruan, namun ekornya terlampau kuat dan panjang menjulur ke tradisi sendiri. Pandangannya yang cenderung ke Timur—juga secara bahasa cenderung ke bahasa Melayu—sering membuat Amir Hamzah bahkan dipandang sebagai seorang nostalgis. </p>
<p>Asrul Sani menulis satu puisi untuk penyair ini, &#8220;Sebagai Kenangan Kepada Amir Hamzah, Penyair yang Terbunuh&#8221;. <em>Rahsia kita hanya disembunyikan laut//Tiada mungkin di sana hati akan merindu lagi//Sayang engkau tiada kenal gelombang//Gelombang dari rahsia pencalang//Gelombang dari nahkoda yang tiada tahu pulang</em>. </p>
<p>Dari puisi ini Asrul bahkan tampak menunjukkan karakter lain Amir Hamzah: sifatnya yang cenderung melankolis. Baris Sayang engkau tiada kenal gelombang bahkan menyiratkan Amir Hamzah yang teratur dan tertata, tanpa gejolak. Hal lain yang kemudian akan dikenal sebagai karakter Amir Hamzah, dan kemudian Pujangga Baru, tentu saja kecenderungannya berindah- indah. </p>
<p>&#8220;Seni yang dihasilkan oleh Pujangga Baru ialah seni yang hendak memperoleh kedudukan sebagai usaha yang menghasilkan keindahan,&#8221; tulis Asrul Sani yang menurutnya sangat dipengaruhi oleh kaum ’80 di Belanda. Keindahan ini dibentuk melalui segala bunga kata, royal perumpamaan, dan mengemukakan segala yang puitis. Di sinilah Pujangga Baru terbentuk menganggap keindahan sebagai puisi itu sendiri. Dengan istilah yang agak sarkas, Asrul menyebutkan Pujangga Baru bagaikan menganggap sebuah kamar sebagai rumah. </p>
<p>Angkatan 45 ingin mengubah pandangan ini. Sebagai antipode atas keindahan yang dianut Pujangga Baru, mereka memperkenalkan dogma emosi yang hidup. Namun, itulah yang kemudian dianggap Asrul Sani sebagai &#8220;meninggalkan suatu dogma untuk mengambil dogma yang lain.&#8221; Artinya, para penyair Angkatan 45 keluar dari kamar yang satu, masuk ke ruang lain, dan menganggap ruang baru itu sebagai rumah. Di sini ia merasakan penting membuka jendela seluas-luasnya dan berhenti menganggap penglihatan sebentar sebagai substansi. </p>
<h3>Ahli waris dunia </h3>
<p>Keyakinan ini ia tulis dalam kalimat pembuka Surat Kepercayaan Gelanggang yang terkenal itu, &#8220;Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri.&#8221; Mengikuti kritik Asrul terhadap angkatannya sendiri dan Pujangga Baru di atas, kita akan segera sadar bahwa ideologi Gelanggang itu barangkali bukan milik Angkatan 45, melainkan milik Asrul Sani seorang. Asrul Sani-lah yang menginginkan keluar dari satu dogma, tanpa harus terkubur dalam dogma lain, dengan menjadikan dunia sebagai warisan sahnya sendiri. </p>
<p>Dari sinilah kita bisa melihat puisi-puisinya, kemudian cerpen-cerpennya, dan memandang sejauh apa ia bisa menafsirkan pemikirannya itu ke dalam karya sastranya. </p>
<p>Tampaknya benar, dalam puisi-puisi Asrul kita tak menemukan keindahan dalam arti Pujangga Baru: kalimat yang berbunga-bunga maupun perumpamaan yang berlebihan. <em>Dalam malam biru//Wajahmu di jendela//Senyuman lentera//Hatiku malam gelap</em> (&#8220;Wajah&#8221;). Perumpamaan yang digunakannya cenderung bersifat paralel (misalnya biru untuk warna malam atau senyuman bagaikan lentera di dalam gelap untuk hatiku). Bandingkan dengan puisi Amir Hamzah &#8220;Berdiri Aku&#8221; ini: </p>
<blockquote><p>Dalam rupa maha sempurna//Rindu sendu mengharu kalbu//Ingin datang merasa sentosa//Menyecap hidup bertentu tuju. </p></blockquote>
<p>Kita juga bisa melihat usahanya untuk tak jatuh ke dalam puisi emosi sebagaimana ia tuduhkan kepada Angkatan 45. <em>Sekali ia pergi tiada bertopi//Ke pantai landasan matahari//Dan bermimpi tengah hari//Akan negeri jauhan</em>. Demikian ia menulis dalam puisi &#8220;Anak Laut&#8221;. Bandingkan dengan puisi Chairil Anwar yang juga bercerita tentang laut, &#8220;Senja di Pelabuhan Kecil&#8221;: </p>
<blockquote><p>Ini kali tidak ada yang mencari cinta// di antara gudang, rumah tua, pada cerita//tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut//mengembus diri dalam mempercaya mau berpaut.</p></blockquote>
<p>Dalam puisi Chairil kita merasakan keterlibatan penyair di dalam puisinya. Barangkali inilah yang dimaksud Asrul sebagai &#8220;emosi&#8221;, sementara dalam puisi Asrul, ada kesan penyair membuat jarak. </p>
<p>Apakah kita juga bisa menemukan puisi gigantis sebagaimana yang ia anjurkan? Pada dasarnya, sebagaimana ia ungkapkan sendiri, ia tak menolak &#8220;keindahan&#8221; maupun &#8220;emosi&#8221; dalam puisi. Baginya, semua itu hanyalah unsur pendukung puisi, selain unsur lain yang menurutnya harus dilengkapi. Dengan cara itulah puisi akan menyeluruh dan menjadi gigantis. </p>
<p>Pada hemat saya, yang kemudian terjadi, puisi-puisi Asrul justru tampak bagaikan puisi yang kepenuhan. Hasratnya untuk menyeluruh membuat tak satu unsur pun di dalam puisinya menonjol. Lihatlah puisi &#8220;Kau Begitu Sawo Mateng, Cintaku!&#8221; ini: <em>Aku cinta kau//karena kau begitu sawo-mateng cintaku//Sekali aku boleh belai rambut//Kemudian kausuruh aku minta diri</em>. Tak ada perumpamaan yang penuh imajinasi selayaknya Pujangga Baru, juga tak ada aku lirik yang menggelora, berdarah daging, serupa puisi &#8220;generasi saya sendiri&#8221;. </p>
<p>Sejenak kita coba menoleh pada puisi berikut: <em>Ini cerita manusia//yang punya kelampauan di hari ini//dan pandang keakanan punya batas//dalam ruang kaca jendela//Semoga akan berlaku segala mau//dan ia bebas dari timpaan nasib//seperti Oedipus dari Theba//mengawini ibu membunuh bapa</em> (dari puisi &#8220;Buangan&#8221;). </p>
<p>Hasrat menyeluruh ini juga membawanya kepada kecenderungan untuk naratif. Ada upaya menjadikan puisi seperti prosa yang diharapkan bisa menampung ide-ide secara bulat. Akan tetapi, alih-alih menjadi puisi naratif atau prosa liris, puisinya malah menemukan bentuk yang tidak ke mana-mana. Dalam puisi di atas, misalnya, daripada menceritakan apa yang terjadi (bukankah ia menulis baris <em>ini cerita manusia</em>?), ia memberikan baris <em>seperti Oedisipus dari Theba</em> (dengan kata lain, jika ingin tahu cerita yang ingin ia sampaikan, cukup tahu cerita <em>Oedipus dari Theba</em> saja). </p>
<p>Barangkali memang bukan pada tempatnya puisi menanggung beban menyeluruh serupa dengan kehendaknya. Dalam puisi, bukankah kadang-kadang sebuah cacat dan kesederhanaan barangkali merupakan keistimewaan? Barangkali menyadari hal ini, kita tak pernah melihat Asrul menjadi lebih produktif dalam puisi dan namanya sebagai penyair jauh di balik bayang-bayang nama seangkatannya. Namanya malah melambung sebagai penulis esai dan kualitasnya terdapat di dalam cerpen-cerpennya. </p>
<h3>Beri aku rumah </h3>
<p>Kumpulan cerpen Asrul Sani satu-satunya, <em>Dari Suatu Masa, Dari Suatu Tempat</em>, terbit pada 1972. Pembaca tentu masih ingat perumpamaan kamar yang dianggap rumah ketika Asrul membicarakan Pujangga Baru. Juga mengenai berpindah dari satu kamar dan masuk kamar lain. Kamar baru itu pun dianggap rumah saat membicarakan Angkatan 45. Secara eksplisit Asrul mengungkapkan hasrat membangun rumah yang sesungguhnya, yang substantif, rumah yang menyeluruh. Tema ini muncul beberapa kali dalam cerpen-cerpennya. </p>
<p>Contoh terbaik barangkali cerpen &#8220;Beri Aku Rumah&#8221;. Cerita ini mengisahkan seorang tamu yang diperikan sebagai &#8220;seorang yang tak punya rumah, seorang prajurit yang tak punya pasukan&#8221;. Cerita berisikan dialog antara sang tamu dan yang dikunjungi perihal mencari rumah untuk bernaung. Yang dimaksud rumah tentu saja bukan sekadar rumah harfiah. Maknanya lebih bisa dipahami dari kutipan berikut ini: </p>
<blockquote><p>Guru-guru besar itu tidak dapat memberikan apa-apa kepada saya. Sedangkan yang saya kehendaki dari mereka sebetulnya banyak.</p></blockquote>
<p>Itulah pengetahuan menyeluruh. Yang holistik. Pemahaman yang tak sepenggal-penggal dan pandangan yang tak sepintas. Hasrat ini dalam cerpen itu tak hanya tema sentral dialog kedua tokohnya, tetapi juga memengaruhi strategi literer pengungkapannya. </p>
<p>Cerita dibuka dengan dialog antara narator dan kamu: <em>Ada sebuah ceritaku untukmu</em>. Kalimat yang datang di beberapa baris kemudian, <em>Lebih baik kau minum kopimu dahulu selama ia masih panas</em>, menyiratkan bahwa dialog ini bersifat langsung dan bukan dalam makna kamu yang fiktif (misalnya pembaca). Bagian kedua berisi cerita sang narator mengenai datangnya seorang tamu. <em>Dahulu kami sekolah bersama-sama dan diam sekamar</em>. Kalimat ini dengan tekanan pada kami memperlihatkan keterlibatan kamu sebagai pendengar. Jadi, di sini ada tiga tokoh. </p>
<p>Bagian ketiga dalam bentuk paragraf dialog-dialog panjang merupakan kisah si tamu yang diceritakan kepada narator. <em>Sekali di D. pernah saya berkenalan dengan seorang nyonya</em>. (Sang narator menggunakan panggilan aku, sementara saya digunakan sang tamu). Dari dialog mereka kita segera tahu bahwa sang tamu adalah seorang mahasiswa. Cerita ini ditutup dengan pembukaan tabir: <em>karena mahasiswa itu ialah aku sendiri</em>. </p>
<p>Dari sini kita bisa berasumsi bahwa kamu di pembuka cerita juga adalah aku sendiri. Dengan begitu, jelas cerita ini sesungguhnya merupakan monolog interior yang menggunakan tiga-diri yang berbeda. Subyek yang dikenali melalui diri kamu, aku, sekaligus ia. Sebuah strategi literer untuk menjadikan subyek (yang adalah tema cerita ini) menyeluruh yang bisa dibilang istimewa sebab penulisannya mendahului &#8220;Yang Lain&#8221; karya Jorge Luis Borges (cerita terjadi tahun 1969, diterbitkan tahun 1975) yang kurang lebih menggarap subyek yang sama. </p>
<p>Kita bisa mengatakan bahwa pada dasarnya cerpen-cerpen Asrul Sani merupakan cerpen ide. Gagasan dituangkan ke dalam bentuk cerita. Melihat puisi-puisinya, kita juga mungkin menyadari ada beban ide di dalamnya yang, apa boleh buat, memang menjadi lebih menarik ketika diungkapkan dalam bentuk cerpen. </p>
<p>Dalam esai &#8220;Dua Hasil Realisme Italia&#8221;, ia menulis: Pengarang-pengarang sekarang, tidak lagi menggambarkan tokoh pahlawan sebagai tujuan, tetapi sebagai alat [...] sekiranya kita hendak memasukkan anasir &#8220;pikiran&#8221; ke dalam kesusastraan sekarang, maka adalah pikiran ini pikiran yang menjawab dalam suasana masyarakat di mana menggeletak filsafat-filsafat akademis yang kandas, di mana berbagai teori kehilangan harganya benar. </p>
<p>Memang benar tulisan itu tengah mengetengahkan ramalan Concourt bersaudara atas kesusastraan abad ke-20. Akan tetapi, anutan tersebut tampaknya juga dipegang oleh Asrul Sani. Namun, segera ia mengingatkan dalam esainya yang lain: Seniman sudah menjadi hanya-intelek, intelek ini kemudian beroleh kecenderungan menjadi orator (&#8220;Richard Wright: Seniman Yang Jadi Intelektual&#8221;). Asrul secara tak langsung menyarankan suatu kesadaran bahwa &#8220;kesenimanan&#8221; dan &#8220;kepujanggaan&#8221; terlalu kecil bagi masalah dunia yang begitu besar. </p>
<p>Demikianlah dalam cerita pendek &#8220;Bola Lampu&#8221;, Asrul tak hanya mengisahkan perjaka yang tergila-gila kepada lampu (dan lupa kepada lampu yang lain). Pada dasarnya cerpen ini berkisah mengenai pertarungan gagasan idealis dan realistis, serta ejekan yang menggelora akan idealisme Platonis. Seorang idealis lain bisa kita temukan dalam &#8220;Sahabat Saya Cordiaz&#8221;. Tentu saja cerpen ini melampaui sekadar itu. Ini cerpen tentang identitas dan pada titik tertentu juga bisa dikatakan sebagai (lagi-lagi) cerita mengenai &#8220;rumah&#8221;: Bangsa saya banyak sudah yang menjadi orang Belanda, mengapa pula tidak akan diberi kesempatan kepadanya untuk menjadi orang Spanyol. </p>
<p>Satu hal yang jelas, cerita di dalam buku ini pada umumnya berkisah di masa seputar Revolusi Kemerdekaan. Ini penting dikemukakan untuk melihat watak menyeluruh dalam karyanya. Dibandingkan dengan cerita bertema sejenis dari penulis lain (misalnya karya Idrus atau Pramoedya), Asrul biasanya tak memusatkan ceritanya pada karakter atau sosok tertentu, melainkan pada kompleksitas yang dihadapi karakter-karakter tersebut. Dalam &#8220;Dari Suatu Masa, Dari Suatu Tempat&#8221;, kita menemukan banyak karakter yang ambil bagian sama-rata. Demikian pula dalam &#8220;Oktober 1945&#8243;. </p>
<p>Di sana memang ada tokoh utama, tetapi yang pokok terutama adalah apa yang terjadi di sekitar tokoh utama. Dengan cara seperti ini, dalam cerita-ceritanya, beragam aspek bisa ditemukan. Sikap narator yang menjaga jarak dengan subyek cerita (bahkan dalam cerita yang mengisahkan aku-diri) menjadi lebih berhasil ketimbang apa yang ia lakukan dalam puisi-puisinya.</p>
<div class="footnote">Tulisan ini pernah dimuat di lembar <strong>Bentara</strong>, <a href="http://kompas.com"><em>Kompas</em></a>, 31 Mei 2007</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/asrul-sani-puisi-gigantis-dan-cerpen-rumah-26.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

