“Perasaan-Perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya” dan “Print-on-Demand”

buku-cindil
Beberapa waktu lalu, di Facebook saya melihat sejenis pemberitahuan: Gunawan Maryanto menerbitkan kumpulan puisi (pertamanya) berjudul “Perasaan-Perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya”. Di woro-woro itu diberitahu, buku dicetak dalam format POD (Print on Demand) dan hanya bisa dipesan lewat web penerbitnya omahsore.web.id (artinya, mungkin enggak akan ada di toko). Saya langsung memesannya dan beberapa hari kemudian, buku sudah datang.

Wow. Pertama-tama, saya kagun karena model bisnis dan penerbitan semacam ini ternyata bekerja dengan baik. Saya pesan, dan beberapa hari kemudian kurir datang mengantarkan pesanan. Sebenarnya saya ingin mengomentari, sistem kurir ini mungkin tidak terlalu efisien dan saya barangkali lebih menyarankan sistem paket atau pos. Waktu itu saya tak berkomentar banyak, masih mengagumi sistem yang hebat ini. Bagaimana tidak? Saya tidak ke toko buku, saya bahkan tidak ke ATM, tapi saya langsung memperoleh buku yang saya inginkan!
Baca selengkapnya …

Catatan Perjalanan

di simpang lampu merah ini,
ke arah menuju barat,
masihkah belok kiri jalan terus?
di belakang ada kemilau subuh,
dengan warna emasnya yang selalu begitu.

Adonis

Hujan lebat pada Senin sore kemarin, tak menghalangi niat saya untuk menempuh setengah jam perjalanan ke Komunitas Salihara. Saya sudah meniatkan kunjungan ini sejak dua minggu sebelumnya. Acara malam itu adalah ceramah umum yang akan dibawakan oleh Adonis, dengan tema “Kebenaran Puisi dan Kebenaran Agama“.

Siapakah Adonis, sehingga saya rela meninggalkan meja kerja saya yang selama berminggu-minggu ini menjadi sarang bagi berlembar-lembar draft akhir novel saya? Adonis bisa dibilang penyair Arab paling penting sekarang ini. Bahkan boleh dibilang, ia penyair paling kuat sebagai kandidat peraih Nobel Kesusastraan di tahun-tahun terakhir sekaligus tahun-tahun ke depan.
Baca selengkapnya …

Sampul Buku “Bulu Mata Susu”

Hampir sebulan terakhir saya mengerjakan desain buku puisi Ramon Damora berjudul Bulu Mata Susu. Setelah mencoba beberapa kemungkinan, ini merupakan desain yang akhirnya di-approve oleh sang penyair. Di blog Ramon Damora, bisa dilihat dua versi sebelumnya, sebelum berakhir dengan desain ini. Sila menunggu bukunya di toko!

Jantung Lebah Ratu – Nirwan Dewanto

Dari GoetheHouse semalam, buku puisi Indonesia bertambah satu: Jantung Lebah Ratu (Gramedia Pustaka Utama) karya Nirwan Dewanto. Meskipun telah menggeluti sastra sejak awal 80an, ini merupakan buku puisi pertama Nirwan (di luar itu pernah ada manuskrip berjudul Buku Cacing). Mengiringi peluncuran buku ini, Nirwan sempat melakukan wawancara dengan penyair Ook Nugroho. Transkip wawancara bisa dibaca di ooknugroho.blogspot.com. Selamat datang Jantung Lebah Ratu, tetap bergairah penulis Indonesia!

Dian Sastro Membaca Puisi “Aku dan Tuhanku” karya Sutan Takdir Alisjahbana




Dian Sastrowardoyo membacakan puisi Sutan Takdir Alisjahbana (1908-1994) “Aku dan Tuhanku” pada acara 100 Tahun STA (11 Februari 2008). Pembacaan ini dilakukan di rumah peristirahatan keluarga STA di Tugu, Cisarua, Bogor, Jawa Barat. Trims, Dian! Trims YouTube!

Pelajaran Membaca Warna


Foto oleh: ishrona, Some rights reserved.

kuning hijau hitam merah biru abu-abu oranye
coklat pink ungu kuning hijau
hitam merah biru abu-abu oranye coklat pink
ungu kuning hijau hitam merah biru
abu-abu oranye coklat pink ungu kuning hijau
hitam merah biru abu-abu oranye coklat pink ungu kuning
Baca selengkapnya …

Puisi 1: ʞılɐqɹǝʇ uɐsılnʇ


˙pǝʌɹǝsǝɹ sʇɥƃıɹ ǝɯos… ıpnɐs :ɥǝlo oʇoɟ

˙ɐɔɐqıp ɥɐsns ƃuɐʎ uɐsılnʇ ɥoʇuoɔ nʇɐs uɐʞɐdnɹǝɯ ʞılɐqɹǝʇ uɐsılnʇ ¿uɐʞnq ‘ɹɐuǝq ˙ɐɔɐqıp ƃuɐdɯɐƃ ƃuɐʎ uɐsılnʇ ɐpɐdıɹɐp ɐɔɐqıp ɥɐsns ɥıqǝl ƃuɐɯǝɯ ɐɔɐqıp ɥɐsns ƃuɐʎ uɐsılnʇ :ɹɐuǝq sɐlǝɾ lɐɥ nʇɐs ıdɐʇ ‘ƃuɐdɯɐƃ ƃuɐʎ uɐsılnʇ ɐpɐdıɹɐp snƃɐq ɥıqǝl ɐɔɐqıp ɥɐsns ƃuɐʎ uɐsılnʇ ɐʍɥɐq ɐʇɐʞɹǝq uıƃuı ʞɐʇ ɐʎɐs ¿ɐɔɐqıp ɥɐsns ƃuɐʎ ɐɹɐɔ uɐƃuǝp sılnuǝɯ ɐsıq nɐlɐʞ ƃuɐdɯɐƃ ɐɹɐɔ uɐƃuǝp sılnuǝɯ snɹɐɥ ɐdɐuǝʞ
Baca selengkapnya …

Bon Voyage, Mr. President


Foto oleh Chaval Brasil, Some rights reserved.

“Sebagaimana sering kita baca di novel dan komik,” katanya, “Penjahat besar yang keji, bengis, kotor dan bau neraka memang susah dikalahkan dan sulit mati.”
- “Peter Pan” (Gelak Sedih, 2005/Corat-coret di Toilet, 2000)

Judul di atas saya kutip dari satu cerpennya Gabriel Garcia Marquez, “Bon Voyage, Mr. President” (Strange Pilgrims), saya ucapkan untuk mengiringi kepergian mantan presiden kita, Soeharto, hari ini (27 Januari 2008 siang). Jujur saja saya terlambat mengetahuinya. Seharian saya duduk di samping televisi, tapi tak memerhatikan apa pun, sampai kemudian saya turun dan pergi ke warung makan jam empat sore. Di warung televisi sedang menayangkan kabar mengenai “tujuh hari berkabung nasional.”

Kalau kemudian saya merasa sore itu agak murung, yah, itu karena saya selalu merasa murung mendengar seseorang yang meninggal. Mengenai kemarian Soeharto, jujur saja saya tidak sedih, juga tidak bahagia. Rasanya agak mati rasa. Dua minggu sebelumnya, ketika sang mantan presiden masuk rumah sakit dan tampaknya “parah”, saya bergumam pada diri sendiri, “Sekarang, ia bakal pergi.” Saya menunggui televisi selama beberapa hari, membaca koran dengan rajin, untuk mengetahui perkembangannya. Ternyata tak semudah itu buatnya pergi. Saya mulai bosan, dan itulah alasannya kenapa saya tak memerhatikan televisi sampai sore.
Baca selengkapnya …

Asrul Sani: Puisi Gigantis dan Cerpen Rumah

Melalui kajian puisi dan cerpen Asrul Sani yang nisbiah jarang jumlahnya dibandingkan dengan esainya, terlihat bahwa cerpen-cerpen Asrul adalah cerpen ide, puisi-puisinya sarat dengan beban ide.

poetry3-355
Foto oleh J. Salmoral, Some rights reserved.

Dalam sepucuk esainya mengenai puisi Angkatan 45, atau dengan ungkapannya disebut sebagai generasi saya sendiri, Asrul Sani menulis: “Kita harus sampai pada puisi ’gigantis’ yang menyeluruh—sebagai imbangan dari robekan-robekan sepintas lalu yang diberikan emosi—yang mempunyai sumber pada serba manusia, serba hidup yang tak terbatas pada dunia. Dalam puisi ini emosi hanya pendorong ’perasaan’ yang dialami penyair untuk dirasakan penikmat.”
Baca selengkapnya …