Agar Pram Tak Jadi Berhala

oleh Damhuri Muhamad, Media Indonesia

Di sinilah pentingnya kajian komprehensif yang dilakukan sastrawan muda, Eka Kurniawan, lewat bukunya Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis. Buku ini dapat dianggap sebagai yang pertama membincang Pram dari sudut pandang anak muda. Eka hendak meluruskan kesimpangsiuran pemahaman terhadap realisme sosialis sebagai pijakan estetik kepengarangan Pram.

Realisme Pramoedya Ananta Toer

Pengaruh realisme sosialis jelas bukan sesuatu yang mengada-ada, sebab Pramoedya sendiri kerap mengungkapkan antusiasmenya terhadap aliran tersebut. Ia antara lain pernah menulis makalah dalam kesempatan memberikan prasaran untuk sebuah seminar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada tanggal 26 Januari 1963, dengan judul Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia. Selain oleh Pramoedya, klaim realisme sosialis juga dipergunakan oleh Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) sebagai dasar kreatif mereka.

Pengantar Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis

oleh Goenawan Mohamad

Di tahun 1963, ia menyusun satu risalah tentang “Realisme Sosialis”, doktrin yang bagi Pramoedya dapat dan semestinya diterapkan sebagai dasar praktek sastra dan kritiknya. Meskipun dalam wawancaranya dengan Tempo 4 Mei 1999 ia mengatakan, “Saya tak pernah membela realisme sosialis”, risalah yang kemudian diterbitkan dalam bentuk buku dengan judul Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia itu adalah advokasi yang bersemangat untuk doktrin itu

Datang Satu-Satu, Pergi Satu-Satu

“Mengapa orang-orang ini tak ramai-ramai lahir dan ramai-ramai mati? Aku ingin dunia ini seperti pasarmalam.” Demikian tulis Pramoedya dalam novelnya yang paling mengesankan, Bukan Pasarmalam. Ada daya hidup dalam tekanan kalimat seperti itu, namun sekaligus rasa tak berdaya. Demikian pula kesan ketika mendengar namanya, terutama dua hari terakhir ketika stasiun televisi menayangkan sang Maestro berbaring di ranjang Rumah Sakit St. Carolus dalam keadaan koma.

Realisme Sosialis a-la Pramoedya

oleh Nur Mursidi, guebisa.com

Siapa tak kenal dengan Pramoedya Ananta Toer? Seperti dikemukakan A Teeuw ia adalah sastrawan, penulis cerita dan pengarang prosa Indonesia nomer wahid dan tanpa saingan dalam abad ke-20. Selain itu, ia adalah satu-satunya sastrawan Indonesia yang pernah dicalonkan untuk mendapatkan hadiah Nobel di bidang sastra. Ungkapan A, Teeuw dan pencalonan terhadap dirinya itu, sebenarnya tidaklah berlebihan.

Ideologi Koran Sastra dan Pramoedya

oleh Mulyadi J. Amalik, Sriwijaya Post

Buku ini menyajikan secara ringan bagaimana perjalanan Pram bersama gerakan kesenian realisme sosialisnya. Sudut analisis penulis 90% dititikberatkan pada perspekif Lekra, termasuk dalam menilai kubu Manifes. Buku ini cocok disandingkan dengan buku Prahara Budaya: Kilas Balik Ofensi Lekra/PKI Dkk susunan DS Moeljanto dan Taufiq Ismail, terbitan Mizan dan HU Republika tahun 1995.

Cantik itu Luka