Menciptakan Karakter

Saya selalu mengingat resep dari Kazuo Koike, komikus Jepang yang terkenal dengan manga Lone Wolf and Cub mengenai keberhasilannya menulis komik: “Character that stands out.” Resep yang sama, saya pikir bisa dipergunakan dalam menulis novel atau cerita pendek. Dengan cara inilah, kita bisa memejamkan mata dan mengingat seperti apa Minke dalam Bumi Manusia (Pramoedya Ananta [...]

Membaca “Sekali Peristiwa di Banten Selatan”

Barangkali disebabkan kecenderungan politik dan ideologinya, serta plot yang cenderung didaktis, novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan sering dikesampingkan para pengamat karya Pramoedya Ananta Toer, jika tidak dianggap karyanya yang paling tidak berhasil.

A. Teeuw dalam Citra Manusia Indonesia dalam Karya Sastra Pramoedya Ananta Toer, hanya membahas novel ini dalam sub bab pendek dibandingkan bahasan atas karya Pramoedya yang lain. A. Teeuw, misalnya menulis: “Watak-watak semuanya digambar dengan warna hitam-putih, latarnya sangat konvensional.” Benar bahwa karakter di novel ini tidak penuh warna sebagaimana kita temukan dalam novel-novel puncak Pramoedya, tapi mengatakannya sebagai hitam-putih tentu penyederhanaan berlebihan. Tokoh Juragan Musa, sang antagonis, bisa menjadi contoh yang menarik.

Sepuluh Tahun “Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis”

Akhir Agustus 1999 itu, buku pertama saya Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis keluar dari percetakan dan beredar di toko buku. Beberapa waktu sebelumnya, saya juga baru diwisuda, lulus dari Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada. Buku pertama yang memberi saya keberanian untuk menjadi seorang penulis.

Tetralogi Buru dan Novel ‘Modern’

Tetralogi Buru bisa dibilang merupakan satu upaya Pramoedya Ananta Toer untuk menjawab apa itu menjadi Indonesia. Di akhir tahun 50an, ketika perkara menjadi Indonesia sedang hangat, jika tak bisa dikatakan panas, ia mulai memikirkan satu seri novel yang bisa mencari dan melacak jejak-jejak nasionalisme Indonesia.

Majalah Tempo: “Indonesia yang Kuimpikan”

Telah beredar majalah Tempo edisi khusus dalam rangka 100 tahun kebangkitan nasional. Judul sampulnya: “Indonesia yang Kuimpikan”. Di dalamnya ada ulasan mengenai 100 buku/teks dalam seabad Indonesia (1908-2008) yang dianggap membawa pengaruh pada kehidupan bangsa Indonesia, serta mampu menjelaskan peristiwa penting dalam sejarah Indonesia.

Pramoedya Ananta Toer and Socialist Realism Literature

Initially written a thesis for his philosophy degree in Universitas Gadjah Mada, Eka, evidently deferential to Pramoedya but at the same time also critically sensible, offers a comprehensive basic text on (as the title suggests) Pramoedya Ananta Toer and (his role in) the growth of Socialistic Realism in relation to the global movement as well as local figures/parties. Covering general as well as specific historical facts with lucid clarity, the book assumes little familiarity with Indonesian history and is accessible to general readers.

Cantik itu Luka