30  June  2008

Eka Kurniawan: An Unconventional Writer

He has been compared to the late Indonesian man of letters, Pramoedya Ananta Toer, but Eka Kurniawan is averse to that confining, imposing description of “literary figure.” Best known for his sometimes brutal portrayal of ordinary lives, he speaks with Maggie Tiojakin about the roads yet traveled.
Like many aspiring writers who need to pay [...]

11  June  2008

Merasa Nyaman dengan Selera Pribadi

Foto oleh: Tom@HK, Some rights reserved.

Beberapa malam lalu, saya memperoleh email dari Intan Paramaditha dan Ugoran Prasad. Mereka salah dua penulis yang saya kagumi: meskipun bisa dibilang pelit menerbitkan karya. Saya bisa dikata jarang bertemu mereka (apalagi sekarang keduanya di Amerika), tapi sesekali kami mendiskusikan sesuatu lewat internet. Kembali ke email: mereka mengajak saya membuat [...]

30  May  2008

Tetralogi Buru dan Novel ‘Modern’

Foto oleh: Boby Dimitrov, Some rights reserved.

Tetralogi Buru bisa dibilang merupakan satu upaya Pramoedya Ananta Toer untuk menjawab apa itu menjadi Indonesia. Di akhir tahun 50an, ketika perkara menjadi Indonesia sedang hangat, jika tak bisa dikatakan panas, ia mulai memikirkan satu seri novel yang bisa mencari dan melacak jejak-jejak nasionalisme Indonesia.
Jawaban Pramoedya adalah kembali ke [...]

19  May  2008

Majalah Tempo: “Indonesia yang Kuimpikan”

Telah beredar majalah Tempo edisi khusus dalam rangka 100 tahun kebangkitan nasional. Judul sampulnya: “Indonesia yang Kuimpikan”. Di dalamnya ada ulasan mengenai 100 buku/teks dalam seabad Indonesia (1908-2008) yang dianggap membawa pengaruh pada kehidupan bangsa Indonesia, serta mampu menjelaskan peristiwa penting dalam sejarah Indonesia.
Saya promosikan edisi ini karena saya menulis salah satu artikel di dalamnya [...]

Quote: From New Left Review 50 - 3 May 2008 »
It is nice that, after half a century, Pramoedya Ananta Toer has found a successor. The young Sundanese Eka Kurniawan has published two astonishing novels in the past half-decade. If one considers their often nightmarish plots and characters, one could say there is no hope. But the sheer beauty and elegance of their language, and the exuberance of their imagining, give one the exhilaration of watching the first snowdrops poke their little heads up towards a wintry sky.
(Benedict Anderson, Exit Suharto: Obituary for a Mediocre Tyrant, New Left Review, March-April 2008) (Read Comments: 8)
20  February  2008

Bersihar Lubis dan Interogator yang Dungu

Hanya karena mengutip pernyataan Joesoef Ishak bahwa “kejaksaan dungu”, ia diadili pada 21 November 2007.

Saya berpendapat, orang yang anti terhadap hak-hak setiap individu untuk mengemukakan pendapat (termasuk menulis, kolom maupun sekadar blog seperti saya), “memang dungu”.

16  February  2008

Yoko dan Siau Liong Lie

16 tahun kemudian ternyata Yoko tidak menemukan Siau Liong Lie. Ia memutuskan untuk melompat dari jurang sebagaimana kekasihnya (jujur: ada satu adegan sepasang kekasih melompat ke jurang di Cantik itu Luka, yang saya ambil dari episode Yoko dan Siau Liong Lie ini, hehehe). Oh ya, endingnya mereka tidak mati, kok. Mereka bertemu di lembah (yang ada danaunya). Saya ingat adegan pertemuan ini: Yoko menyadari Siau Liong Lie masih hidup karena menemukan pesan yang ditulis di sayap lebah … busyet, ini cerita silat banget, kan!

23  January  2008

Pramoedya Ananta Toer and Socialist Realism Literature

Foto oleh gari.baldi, Some rights reserved.
Initially written a thesis for his philosophy degree in Universitas Gadjah Mada, Eka, evidently deferential to Pramoedya but at the same time also critically sensible, offers a comprehensive basic text on (as the title suggests) Pramoedya Ananta Toer and (his role in) the growth of Socialistic Realism in relation to [...]

20  November  2006

Agar Pram Tak Jadi Berhala

Foto oleh ThunderChild5, Some rights reserved.
Sudah jamak diketahui, sebagian besar pengagum karya-karya Pramoedya Ananta Toer adalah kalangan anak-anak muda penggila sastra. Tapi kekaguman itu belum disertai kajian kritis dan berimbang terhadap sosok kepengarangannya yang masih tampak bermuka dua itu. Belakangan ini, para pembaca setia itu nyaris tergelincir pada kekaguman yang berlebihan. Kecenderungan ini telah mendedahkan [...]

05  August  2006

Realisme Pramoedya Ananta Toer

Foto oleh ThunderChild5, Some rights reserved.
Sebagai salah seorang sastrawan Indonesia, menurut Umar Kayam, Pramoedya Ananta Toer merupakan seorang figur transisional. Umurnya di sekitar angka yang sama dengan kebanyakan sastrawan Angkatan 45, tetapi latar belakang pendidikan (di mana ia tidak termasuk yang bersekolah pada sekolah menengah Belanda) dan latar belakang budaya Jawa-nya yang begitu kuat, membuatnya [...]