<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Eka Kurniawan Project &#187; Novel</title>
	<atom:link href="http://ekakurniawan.com/blog/tag/novel/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ekakurniawan.com</link>
	<description>Menulis dan petualangan-petualangan lainnya</description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Feb 2012 03:49:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Beberapa Tesis Tentang Judul Novel</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/beberapa-tesis-tentang-judul-novel-3111.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/beberapa-tesis-tentang-judul-novel-3111.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Feb 2012 18:30:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penulisan]]></category>
		<category><![CDATA[Judul]]></category>
		<category><![CDATA[Knut Hamsun]]></category>
		<category><![CDATA[Milan Kundera]]></category>
		<category><![CDATA[Novel]]></category>
		<category><![CDATA[William Faulkner]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=3111</guid>
		<description><![CDATA[<p>Jika paragraf pertama novel bisa diibaratkan etalase toko, maka judul novel bisa diibaratkan papan nama toko tersebut. Judul merupakan sejenis "brand", di mana keseluruhan novel barangkali bisa dicitrakan dalam sebaris judul tersebut. Serupa "Warung Ice" tetanggamu, jika kamu mendengar nama itu disebut, kamu langsung membayangkan apa saja yang dijual di warung itu.</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>
<div class='p_embed p_image_embed'> <a href="http://getfile6.posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2012-02-08/hnCrzlufivdBjtBonfHkFJksrcfHJaGxybkhfDphzxzcECxJwzpqErkCavwa/buku.jpg.scaled1000.jpg"><img alt="Buku" height="338" src="http://getfile3.posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2012-02-08/hnCrzlufivdBjtBonfHkFJksrcfHJaGxybkhfDphzxzcECxJwzpqErkCavwa/buku.jpg.scaled500.jpg" width="500" /></a> </div>
</p>
<p>Jika paragraf pertama novel bisa diibaratkan etalase toko, maka judul novel bisa diibaratkan papan nama toko tersebut. Judul merupakan sejenis &#8220;brand&#8221;, di mana keseluruhan novel barangkali bisa dicitrakan dalam sebaris judul tersebut. Serupa &#8220;Warung Ice&#8221; tetanggamu, jika kamu mendengar nama itu disebut, kamu langsung membayangkan apa saja yang dijual di warung itu.</p>
<p>Judul yang asyik memiliki karakter filosofis, puitis, kiasan, tapi juga deskriptif mengenai isi novel, serta mengakomodir tujuan praktis: memancing rasa ingin tahu pembaca. Judul paling asyik yang pernah saya baca, ditulis oleh Milan Kundera: <em>The Unbearable Lightness of Being</em>. Saya pikir judul tersebut merepresentasikan hal yang telah saya maksud di atas.</p>
<p><span id="more-3111"></span></p>
<p>Dari karya ke karya, para penulis biasanya bergerak di tema-tema yang saling berkaitan. Bisa dikatakan, ada tema besar yang menjadi minat penulis, dan nyaris selalu terulang di karya-karyanya. Pola ini juga bisa terlihat dari cara mereka memilih judul. Judul-judul karya Milan Kundera, dekat dengan tema &#8220;lelucon&#8221;: <em>The Joke</em>, <em>The Book of Laughter and Forgetting</em>, <em>Laughable Loves</em>; Gunter Grass dekat dengan judul-judul berbau fabel: <em>Dog Years</em>, <em>Cat and Mouse</em>, <em>From the Diary of a Snail</em>, <em>The Flounder</em>; Haruki Murakamid dekat dengan judul-judul berbau kebudayaan barat: <em>Norwegian Wood</em>&nbsp;(dari lagu The Beatless), <em>Kafka on the Shore</em>&nbsp;(dari nama penulis Ceko berbahasa Jerman, Franz Kafka), <em>1Q84</em>&nbsp;(dari judul novel George Orwell, <em>1984</em>), <em>Sputnik Sweetheart</em>&nbsp;(dari nama pesawat luar angkasa Rusia).</p>
<p>Ada judul-judul yang diambil dari nama/julukan tokohnya: <em>Anna Karenina</em>&nbsp;(Tolstoy), <em>The Idiot&nbsp;</em>(Dostoyevski), <em>Madame Bovary</em>&nbsp;(Gustave Flaubert), <em>Gadis Pantai</em>&nbsp;(Pramoedya Ananta Toer). Saya pikir, untuk menjadikannya judul, tokoh-tokoh itu mesti berkarakter kuat, dan tentu saja demikian menonjol di novel tersebut, dan barangkali novel itu memang tentang si tokoh. Perkecualian, tentu harus merupakan hasil pemikiran yang matang. Misalnya, saya pikir, novel <em>Bumi Manusia</em>&nbsp;akan menjadi aneh jika diberi judul &#8220;Minke&#8221; atau &#8220;Nyai Ontosoroh&#8221;. Meskipun karakter mereka kuat di sana, tapi novel itu tidak spesifik tentang salah satu di antara mereka.</p>
<p>Judul juga bisa tidak berhubungan langsung dengan karya yang diberi judul. Ia bisa merupakan upaya mengaitkannya dengan karya atau referensi lain. Knut Hamsun menulis novel <em>Pan</em>, tidak bercerita tentang Pan &#8212; dewi cinta dalam mitologi Skandinavia, tapi memang bercerita tentang cinta. William Faulkner menulis novel <em>Absalom, Absalom</em>, tentu dengan maksud untuk mereferensi ke kisah Al-Kitab mengenai Absalom. James Joyce menulis <em>Ulysses</em>, mau tak mau kita juga mereferensikannya ke kisah Ulysses dalam mitologi Yunani.</p>
<p>Tesis-tesis tentang judul novel ini, saya pikir bisa juga diterapkan untuk judul jenis-jenis karya lainnya.</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/beberapa-tesis-tentang-judul-novel-3111.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sampul Baru &#8220;Cantik itu Luka&#8221;, 2012</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/sampul-baru-cantik-itu-luka-2012-3004.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/sampul-baru-cantik-itu-luka-2012-3004.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Dec 2011 13:14:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gambar dan Desain]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Cantik itu Luka]]></category>
		<category><![CDATA[Desain]]></category>
		<category><![CDATA[Novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=3004</guid>
		<description><![CDATA[<p>Jika tak ada halangan, "Cantik itu Luka" dengan sampul versi ketiga ini akan beredar <del>5 Januari 2012</del> 16 Februari 2012. Lebih lengkap mengenai buku ini, sila <a href="http://ekakurniawan.com/books/cantik-itu-luka" title="Cantik itu Luka">baca di sini</a>.</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>
<div class='p_embed p_image_embed'> <a href="http://getfile8.posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2011-12-23/imGhIzrGIJCalznzEhAGoDnalByhosnzrycAqGmalusdHfaDrwdJfjqrcoII/CIL_new1000.jpg.scaled1000.jpg"><img alt="Cil_new1000" height="342" src="http://getfile4.posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2011-12-23/imGhIzrGIJCalznzEhAGoDnalByhosnzrycAqGmalusdHfaDrwdJfjqrcoII/CIL_new1000.jpg.scaled500.jpg" width="500" /></a></div>
</p>
<p>Jika tak ada halangan, &#8220;Cantik itu Luka&#8221; dengan sampul versi ketiga ini akan beredar <del>5 Januari 2012</del> 16 Februari 2012. Lebih lengkap mengenai buku ini, sila <a href="http://ekakurniawan.com/books/cantik-itu-luka" title="Cantik itu Luka">baca di sini</a>.</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/sampul-baru-cantik-itu-luka-2012-3004.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dongeng Gajah Melintasi Eropa</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/dongeng-gajah-melintasi-eropa-2968.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/dongeng-gajah-melintasi-eropa-2968.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Aug 2011 14:32:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan]]></category>
		<category><![CDATA[Jose Saramago]]></category>
		<category><![CDATA[Novel]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[The Elephant Journey]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/blog/dongeng-gajah-melintasi-eropa-2968.php</guid>
		<description><![CDATA[Jose Saramago dikenal dengan resep "what if" yang fantastis di novel-novelnya. Meskipun tak seheboh bagaimana jika semenanjung Iberia terpenggal dan hanyut ke laut (<em>The Stone Raft</em>), atau bagaimana jika sosok nama pena Fernando Pessoa muncul di hari kematiannya (<em>The Year of the Death of Ricardo Reis</em>), atau bagaimana jika separuh penduduk kota terserang kebutaan (<em>Blindness</em>), kali ini sang penulis menawarkan kisah: apa yang terjadi jika seekor gajah dibawa dari Lisbon ke Vienna di tahun 1551 (<em>The Elephant Journey</em>). Gajah jelas bukan binatang yang umum di Eropa barat, bahkan sekarang ini pun barangkali mereka cuma melihatnya di sirkus atau kebun binatang.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>
<p>
<div class='p_embed p_image_embed'> <a href="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2011-08-21/vgomnwrafcCrkvfqAnEuvEHcJjaHnExBwavJECakonjEjrergkawnIitkhxd/elephantjourney.jpg.scaled1000.jpg"><img alt="Elephantjourney" height="298" src="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2011-08-21/vgomnwrafcCrkvfqAnEuvEHcJjaHnExBwavJECakonjEjrergkawnIitkhxd/elephantjourney.jpg.scaled500.jpg" width="500" /></a> </div>
</p>
<p>Jose Saramago dikenal dengan resep &#8220;what if&#8221; yang fantastis di novel-novelnya. Meskipun tak seheboh bagaimana jika semenanjung Iberia terpenggal dan hanyut ke laut (<em>The Stone Raft</em>), atau bagaimana jika sosok nama pena Fernando Pessoa muncul di hari kematiannya (<em>The Year of the Death of Ricardo Reis</em>), atau bagaimana jika separuh penduduk kota terserang kebutaan (<em>Blindness</em>), kali ini sang penulis menawarkan kisah: apa yang terjadi jika seekor gajah dibawa dari Lisbon ke Vienna di tahun 1551 (<em>The Elephant Journey</em>). Gajah jelas bukan binatang yang umum di Eropa barat, bahkan sekarang ini pun barangkali mereka cuma melihatnya di sirkus atau kebun binatang.</p>
<p>Satu malam, Saramago pergi makan bersama rekannya di sebuah restoran bernama &#8220;Gajah&#8221;. Di dalamnya ada ukiran kayu berderet, yang ternyata berupa bangunan-bangunan dari berbagai negara Eropa, yang menyiratkan sejenis jalur perjalanan. Saramago kemudian diberitahu rekannya, itu perupakan ilustrasi perjalanan seekor gajah di abad enam belas dari Lisbon ke Vienna. Dengan seketika otak pendongengnya bekerja: pasti ada sesuatu yang bisa diceritakan dari perjalanan gajah tersebut.</p>
<p><span id="more-2968"></span></p>
<p>Di sinilah dengan jeli bagaimana ia merajut kisah perjalanan seekor gajah melintasi benua Eropa menjadi &#8220;kisah yang lain&#8221;. Yakni tentang kisah seorang asing di negeri asing (pawang si gajah bernama Subhro, dibawa langsung dari India, negeri asal si gajah); Tentang hamba dan rajanya (Subhro dan raja Portugis, kemudian Subrho dengan bangsawan Austria, kepada siapa gajah itu diberikan); kisah mengenai ekspedisi militer (ya, rombongan gajah itu dikawal oleh satu pasukan tentara); dan tentu saja kisah hubungan manusia dan binatang (apalagi jika antara manusia-manusia di sekitarnya dengan si gajah).</p>
<p>Bahkan kisah ini pun menyeret wilayah politik agama, bahkan perbenturan agama Hindu dan Katolik, serta kemudian antara Katolik dan Protestan. Dikisahkan, di tengah perjalanan, Subhro bercerita tentang makna gajah bagi orang India kepada komandan pasukan. Subhro tentu saja bilang, bahwa gajah di India berarti Ganesha, salah satu dewa mereka. Rupanya hal ini dianggap bidah oleh penduduk yang mendengar bahwa seekor gajah dianggap sebagai dewa/tuhan. Urusan ini dengan segera sampai ke telinga pastor gereja lokal.</p>
<p>Situasi cerita ini di tengah zaman Inkuisisi. Artinya: bidah dan sejenisnya, ancamannya jelas tak cuma ditangkap, mungkin juga dibakar layaknya penyihir. Menganggap seekor gajah sebagai tuhan, tentu tak ada tempat di masyarakat Eropa masa itu. Demikianlah si gajah bahkan sudah terancam jauh sebelum sampai tempat tujuan. Tapi di tempat lain, si gajah justru kali ini berhasil dimanfaatkan gereja Katolik. Kemampuannya untuk mengikuti perintah sang pawang, dimanfaatkan untuk melewati dan menghormat di depan patung seorang santa. Kelakuan ini dengan cepat dianggap sebagai mukjizat. Dalam hal ini, gereja Katolik sedang membutuhkan lebih banyak mikjizat dalam rangka menghadapi gerakan Protestan yang semakin meluas di Eropa.</p>
<p>Sebagaimana biasa, di tangan Saramago, kisah mengenai perjalanan seekor gajah tak semata-mata menjadi &#8220;kisah mengenai perjalanan seekor gajah&#8221;. Selalu lebih dari itu.</p>
<p>Tapi yang menarik perhatian saya, dan dungunya saya baru menyadarinya sekarang setelah membaca beberapa novelnya, adalah gaya narasinya yang seringkali melantur. Maksud saya, jika ia sedang menceritakan sesuatu, kemudian sampai pada obyek A, ia akan melantur dulu menceritakan A, sebelum kembali ke arus utama cerita. Awalnya saya selalu menganggap ini sebagai sejenis gangguan ketika membaca novel-novelnya (di luar kalimat dan paragrafnya yang panjang-panjang). Tapi kemudian saya sadar: itu strateginya untuk memperlihatkan bahwa sang narator, tengah bicara langsung dengan pendengar/pembacanya. Dan lanturan itu diperlukan seringkali untuk memberi konteks yang lebih luas.</p>
<p>Lihat saja bagian pembukanya. Pada dasarnya ia ingin mengabarkan bahwa ide memberikan hadiah gajah itu datang dari permaisuri. Tapi Saramago berputar dulu mengisahkan (atau berceramah) mengenai pentingnya &#8220;ranjang kerajaan&#8221; dalam berbagai hal kebijakan (hahaha!). Dan mengenai narator yang ngobrol asyik dengan pembacanya, maksud saya adalah, narator ini sengaja memberi jarak yang ketara dengan ceritanya. Katakanlah cerita novel ini bersetting tahun 1551, tapi si narator sengaja tak mencoba berada di tempat yang sama dengan cerita, melainkan memilih berada di tempat yang sama dengan pembaca (yakni tahun 2000an) dengan mengatakan: &#8220;Sayang sekali fotografi belum ditemukan di abad enam belas &#8230;&#8221;</p>
<p>Seperti orang mendongeng, benar-benar mendongeng secara lisan, yang kebetulan saja dituliskan. Seperti itulah saya kira novel (dan novel-novelnya yang lain) Saramago ini.</p>
</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/dongeng-gajah-melintasi-eropa-2968.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bacaan dan Percik Ingatan</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/bacaan-dan-percik-ingatan-2950.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/bacaan-dan-percik-ingatan-2950.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Jul 2011 08:08:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Novel]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[The Mysterious Flame of Queen Loana]]></category>
		<category><![CDATA[Umberto Eco]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/blog/bacaan-dan-percik-ingatan-2950.php</guid>
		<description><![CDATA[<p><div class='p_embed p_image_embed'> <a href="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/ekakurniawan/gKZZQNkplqdrdoSYqznw4XILMoyIpVOdS5FA5zBb8NYqvWZhE9LjEPUKWhEq/queen-loana.jpg"><img alt="Queen-loana" height="320" src="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/ekakurniawan/Dgh1z4hWWe174bFgFtkE0BBbd3ZoU6TE3t5dtyWh6XDmepLR5yeCl2TX19aK/queen-loana.jpg.scaled.500.jpg" width="500" /></a> </div></p> <p>Saya belum membaca novel Umberto Eco yang lain. Saya pernah menonton film "The Name of the Rose", dan gara-gara film itu, saya kehilangan minat membaca novel aslinya. Meskipun begitu, barangkali didorong bacaan saya atas esai-esainya, saya tertarik membaca novel-novelnya yang lain. "The Mysterious Flame of Queen Loana" jadi korban pertama saya. Saya juga menemukan "Faucault's Pendulum" dan "Baudolino" dari toko buku bekas, tapi setelah ini barangkali saya ingin membaca dulu "The Island of the Day Before". <p /> Sementara judul-judul itu masih dalam rencana baca, mari kita ngobrol soal "The Mysterious Flame of Queen Loana". Sejujurnya, kesan awal pembukaan cerita novel ini agak mengingatkan saya pada sinetron: seorang lelaki tua terbangun dari koma, dan ia lupa ingatan. Lupa siapa istrinya, siapa anak-anaknya, teman-temannya, bahkan tak ingat namanya! Tapi tak ada hal baru di bawah langit, yang unik tentu saja bagaimana penulis mengolah bahan yang basi seperti itu menjadi menarik. <p /> Dengan latar belakang sebagai profesor semiotika, Umberto Eco tahu betul bagaimana bermain-main dengan ceritanya. Si lelaki tua, Yambo, memang hilang ingatan. Tapi ada satu bagian yang dia tak lupa: apa-apa yang pernah dibacanya. Demikianlah ia mencoba menyibak tabir masa lalunya, siapa dirinya, dengan cara berkelana melalui buku-buku yang pernah dibacanya, dengan harapan memercikan "mysterious flame" di ingatannya. Petualangan membaca buku-buku masa kecil dan masa remajanya inilah, yang membuat novel ini tak sekadar cerita, tapi sekaligus menjadi sejenis kajian atas roman-roman dan komik-komik populer sebagai penanda zaman. </p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>
<div class='p_embed p_image_embed'> <a href="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/ekakurniawan/gKZZQNkplqdrdoSYqznw4XILMoyIpVOdS5FA5zBb8NYqvWZhE9LjEPUKWhEq/queen-loana.jpg"><img alt="Queen-loana" height="320" src="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/ekakurniawan/Dgh1z4hWWe174bFgFtkE0BBbd3ZoU6TE3t5dtyWh6XDmepLR5yeCl2TX19aK/queen-loana.jpg.scaled.500.jpg" width="500" /></a> </div>
</p>
<p>Saya belum membaca novel Umberto Eco yang lain. Saya pernah menonton film &#8220;The Name of the Rose&#8221;, dan gara-gara film itu, saya kehilangan minat membaca novel aslinya. Meskipun begitu, barangkali didorong bacaan saya atas esai-esainya, saya tertarik membaca novel-novelnya yang lain. &#8220;The Mysterious Flame of Queen Loana&#8221; jadi korban pertama saya. Saya juga menemukan &#8220;Faucault&#8217;s Pendulum&#8221; dan &#8220;Baudolino&#8221; dari toko buku bekas, tapi setelah ini barangkali saya ingin membaca dulu &#8220;The Island of the Day Before&#8221;.
<p /> Sementara judul-judul itu masih dalam rencana baca, mari kita ngobrol soal &#8220;The Mysterious Flame of Queen Loana&#8221;. Sejujurnya, kesan awal pembukaan cerita novel ini agak mengingatkan saya pada sinetron: seorang lelaki tua terbangun dari koma, dan ia lupa ingatan. Lupa siapa istrinya, siapa anak-anaknya, teman-temannya, bahkan tak ingat namanya! Tapi tak ada hal baru di bawah langit, yang unik tentu saja bagaimana penulis mengolah bahan yang basi seperti itu menjadi menarik.
<p /> Dengan latar belakang sebagai profesor semiotika, Umberto Eco tahu betul bagaimana bermain-main dengan ceritanya. Si lelaki tua, Yambo, memang hilang ingatan. Tapi ada satu bagian yang dia tak lupa: apa-apa yang pernah dibacanya. Demikianlah ia mencoba menyibak tabir masa lalunya, siapa dirinya, dengan cara berkelana melalui buku-buku yang pernah dibacanya, dengan harapan memercikan &#8220;mysterious flame&#8221; di ingatannya. Petualangan membaca buku-buku masa kecil dan masa remajanya inilah, yang membuat novel ini tak sekadar cerita, tapi sekaligus menjadi sejenis kajian atas roman-roman dan komik-komik populer sebagai penanda zaman. <br /><span id="more-2950"></span><br />Meskipun tentu saja beda maksud dan tujuan, bagian-bagian tertentu novel ini mengingatkan saya pada film &#8220;Cinema Paradiso&#8221;. Ganti film di &#8220;Cinema Paradiso&#8221; dengan buku dan komik, maka akan jadi &#8220;The Mysterious Flame of Queen Loana&#8221;. Tentu saja tidak persis seperti itu. Barangkali saya teringat hal itu karena novel dan film sama-sama berlatar Italia, dengan kisah mengenai lelaki tua yang mengenang kembali masa lalunya. Ingatan semacam itu tentu sah, sebab kenangan tak lebih merupakan &#8220;sejarah personal&#8221;. Setiap benda selalu memercikan api sejarah, tapi sejarah yang terkuak barangkali berbeda dari satu orang ke orang lain. Itulah teman novel ini secara umum.
<p /> Untuk pembaca yang semata-mata menginginkan cerita dan petualangan, drama maupun roman, bagian kedua novel ini (yang merupakan bagian paling panjang), mungkin akan terasa membosankan. Isinya melulu bercerita tentang buku, komik, majalah, dan sesekali musik, dengan referensi ke sana-kemari. Tapi sebagaimana melalui esai-esainya, Eco mencacah bacaan-bacaan itu menjadi percik-percik, tak hanya sejarah kehidupan masa kecil dan masa remaja Yambo, tapi juga sejarah Italia dan Fasisme yang diingat Yambo.
<p /> Melalui bacaan semacam Micky Tikus dan Donal Bebek, kita diajak berkelana pada sejarah industri buku, budaya penerjemaan, proses adaptasi budaya, bahkan politik yang pasang-surut antara Italia dan Amerika. Beberapa buku yang dibahas barangkali kita kenal karena merupakan &#8220;bacaan dunia&#8221;, tapi beberapa barangkali asing dan hanya dimengerti oleh pembaca Italia (atau paling tidak Eropa).
<p /> Sepanjang membaca novel ini, jujur saya malah berkelana sendiri membayangkan saya dalam posisi Yambo. Bacaan saya tentu jauh berbeda dengan Yambo, tapi menarik juga melacak masa lalu sendiri (dan negeri kita) melalui bacaan. Pertama barangkali saya akan membaca ulang novel-novel serial Wiro Sableng yang saya baca pada umur belasan, dan mencoba mencari tahu, &#8220;percik ingatan&#8221; macam apa yang saya peroleh dari sana. Mungkin saya akan membaca kembali majalah Bobo dari tahun 80an awal, membaca Paman Kikuk, Husin dan Asta. Membaca Si Janggut. Semakin besar saya membaca komik-komik silat, membaca cersil Kho Ping Hoo, kisah-kisah misteri Abdullah Harahap. Zaman jatuh cinta pertama kali kepada seorang gadis, saya sedang membaca serial &#8220;Lupus&#8221;.
<p /> Apakah kita bisa membaca politik negeri ini melalui bacaan-bacaan populer semacam itu? Saya yakin, sebagaimana Umberto Eco melakukannya melalui novel ini, bisa dilakukan. Tapi tentu saja membutuhkan ketekunan, dan kejelian &#8220;membaca&#8221; dan menafsir.
<p /> Melalui penjelajahan bacaan-bacaan masa kecilnya pula, Yambo mengenang kembali sejarah negerinya di bawah fasisme. Ini bagian paling menarik di bagian kedua buku itu. Kita tahu, fasisme memiliki kecenderungan untuk menyeragamkan makna. Tapi mungkinkah tafsir orang atas sesuatu sama? Tentu saja mungkin, jika pikiran kita terpenjara. Tapi Yambo, yang baru bangun dari koma, dan sebagian ingatannya bermasalah, menunjukkan bahwa pikiran yang bebas bisa membawanya kemana pun. Dan &#8220;percik misterius&#8221; di dalam ingatan, seperti mesin waktu yang akan melemparkan kita entah ke mana. </p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/bacaan-dan-percik-ingatan-2950.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sudut Pandang Allah dan Manusia</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/sudut-pandang-allah-dan-manusia-2819.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/sudut-pandang-allah-dan-manusia-2819.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Feb 2011 14:32:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan]]></category>
		<category><![CDATA[My Name is Red]]></category>
		<category><![CDATA[Novel]]></category>
		<category><![CDATA[Orhan Pamuk]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Snow]]></category>
		<category><![CDATA[The Museum of Innocence]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/blog/sudut-pandang-allah-dan-manusia-2819.php</guid>
		<description><![CDATA[Setelah <em>Snow</em> dan <em>The Museum of Innocence</em>, akhirnya saya memutuskan untuk membaca <em>My Name is Red</em>. Meskipun saya masih lebih menikmati <em>The Museum of Innocence</em>, saya pikir ada hal menarik dari novel ini untuk diperbincangkan. Terutama satu hal yang jelas tampak sejak bab-bab pertama: novel ini pada dasarnya merupakan esai panjang mengenai seni. Yang diperbincangkan memang khususnya seni miniatur (menghias buku) dan ilustrasi, tapi saya pikir bisa diterapkan ke semua genre kesenian.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah <em>Snow</em> dan <em><a href="http://ekakurniawan.com/?p=2461">The Museum of Innocence</a></em>, akhirnya saya memutuskan untuk membaca <em>My Name is Red</em>. Meskipun saya masih lebih menikmati <em>The Museum of Innocence</em>, saya pikir ada hal menarik dari novel ini untuk diperbincangkan. Terutama satu hal yang jelas tampak sejak bab-bab pertama: novel ini pada dasarnya merupakan esai panjang mengenai seni. Yang diperbincangkan memang khususnya seni miniatur (menghias buku) dan ilustrasi, tapi saya pikir bisa diterapkan ke semua genre kesenian.</p>
<p>Dengan cerdik, Orham Pamuk membungkus perbincangan panjang mengenai seni ini dalam balutan kisah misterius pembunuhan seorang miniaturis, serta kisah cinta yang ruwet antara Black dan Shekure. Sementara kita diajak untuk mencari tahu siapa pembunuh sang miniaturis, kita dipaparkan oleh bukti-bukti, motif-motif, yang semuanya justru mengacu ke perdebatan mengenai seni. Utamanya, perdebatan mengenai seni barat dan seni timur. Pemisahan seni barat dan seni timur ini tentunya sulit ditarik garis tegas, meskipun bolehlah dalam versi novel ini disederhanakan dengan cara: seni timur mengacu kepada &#8220;apa yang dilihat Allah&#8221;, sementara seni barat mengacu kepada &#8220;apa yang dilihat manusia&#8217;.<span id="more-2819"></span></p>
<p>Apa yang dilihat oleh Allah, pada dasarnya penjelasan filosofis atas &#8220;idealisme&#8221;. Seniman melukis kuda atau pohon sebagai &#8220;ide mengenai kuda&#8221; atau &#8220;ide mengenai pohon&#8221;. Sementara apa yang dilihat oleh manusia, bisalah kita rujuk kepada &#8220;materialisme&#8221;. Seniman melukis kuda atau pohon, sebagaimana &#8220;mereka melihat kuda&#8221; atau &#8220;mereka melihat pohon.&#8221; Salah satu yang paling menonjol dalam perbedaan ini tentu saja: sudut panang dan keunikan setiap obyek.</p>
<p>Sekali lagi, membedakan barat sebagai &#8220;materialis&#8221; dan timur sebagai &#8220;idealis&#8221;, tentu terlalu menyederhanakan. Dalam hal ini, Pamuk akhirnya mengeluarkan kutipan singkat, yang malah jadi sejenis olok-olok untuk para seniman yang tengah berdebat hingga saling bunuh itu, bahwa &#8220;Kepunyaan Allah apa yang di barat dan di timur.&#8221; Kita tahu, itu kutipan dari Al-Quran, Al-Baqoroh 115.</p>
<p>Oh ya, stuktur novel ini ditulis dari berbagai sudut pandang tokoh-tokohnya. Termasuk dari sudut pandang orang mati dan seekor anjing. Ah, ini sih tidak istimewa. Saya pikir William Faulkner melakukannya lebih keren di novel <em>As I Lay Dying</em>. Tapi barangkali ada maksudnya juga Orhan Pamuk melakukan ini: ia ingin bicara tentang sudut pandang. Sebab memang itulah tema besar dalam diskusi seni di novel ini.</p>
<p>Ceritanya, sang sultan ingin dilukis dengan cara orang-orang barat dilukis: mirip, detail, dan terutama: bagaikan dilihat oleh manusia. Sehingga ketika orang melihatnya, serasa mereka melihat sang sultan sendiri. Nah, melukis dengan sudut pandang manusia inilah yang dianggap subversif, mengancam sudut pandang Allah. Tak hanya subversif, tapi mungkin sudah penistaan. Itulah awal mula motif pembunuhan ini.</p>
<p>Di luar itu, tentu lebih banyak detail mengenai kedua mazhab idealis dan materialis ini. Sebagian besar Pamuk ceritakan melakui fabel-fabel, atau kisah para miniaturis terdahulu. Saya ingin mengutip salah satunya, mengenai &#8220;style&#8221; dan &#8220;signature&#8221;. Atau &#8220;gaya&#8221; dan &#8220;tandatangan&#8221;. Melalui tiga parabel mengenai hal itu, disimpulkan bahwa pertama, &#8220;gaya&#8221; merupakan &#8220;ketidaksempurnaan&#8221;. Kedua, lukisan yang &#8220;sempurna&#8221; tak memerlukan &#8220;tandatangan&#8221;. Maka, ketiga, &#8220;tandatangan&#8221; dan &#8220;gaya&#8221; tak lebih merupakan perayaan &#8220;ketidaksempurnaan&#8221;.</p>
<p>Baiklah, seperti pengulas yang baik pada umumnya, saya tak perlu membocorkan terlalu banyak isi buku ini. Sekadar info, novel ini sudah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dengan judul &#8220;Namaku Merah Kirmizi&#8221; (jika saya tak salah ingat, ya). Saya membaca versi Inggris, jadi saya tak tahu bagaimana kualitas terjemahan Bahasa Indonesianya. Mudah-mudahan saja bagus. Selamat membaca.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/sudut-pandang-allah-dan-manusia-2819.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menulis Novel Itu Seperti Seks</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/menulis-novel-itu-seperti-seks-2465.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/menulis-novel-itu-seperti-seks-2465.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Jan 2011 07:59:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penulisan]]></category>
		<category><![CDATA[Novel]]></category>
		<category><![CDATA[Seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/blog/menulis-novel-itu-seperti-seks-2465.php</guid>
		<description><![CDATA[Saya memikirkan ini ketika sedang mendengarkan sebuah lagu. Pola bait lagu ini umum saja: A-A-B-A-B-C-A-B-D, dengan B sebagai refrain lagu dan C sebagai bridge dan D sebagai outro. Banyak lagu pop memakai pola ini, tapi baiklah, yang saya dengarkan adalah "Bad Day" yang dinyanyikan Daniel Powter. Bayangkan pola bait lagu ini sebagai seks, dengan refrain sebagai titik orgasme. Pertanyaannya, kenapa di awal ada pola A-A-B? Inilah bayangan saya: refrain lagu ini enak sekali. Menggelora. Meledak. Jika ini orgasme, kita tahu kita ingin menahannya dulu. Ingin mengulur waktu. Agar ia meledak lebih keras. Begitulah kenapa lagu ini dibuka dengan A-A (tahan) lalu B (refrain). Pola berikutnya kita sudah merasakan orgasme ini, kita ingin mengulangnya. Kita tak perlu mengulur waktu lebih lama, sebab jika terlalu lama, percintaan barangkali akan jatuh menjadi membosankan. Maka cukup A-B. Selepas itu, para pecinta barangkali akan lelah. Ia memerlukan "bridge". Ia memerlukan pola nada yang sedikit berbeda, dengan tempo yang lebih turun. Saling manja, saling mengambil napas, saling mencoba membangkitkan kembali gairah. Dan akhirnya mulai bercinta lagi. A lagi. Dan kembali orgasme. B. Refrain. Setelah itu "outro", saling cium, saling peluk, dengan napas tersengal. Sebelum tidur kelelahan. Dan saya pikir, ini juga bisa berlaku dalam penulisan novel ... ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="ekavatar" src="http://ekakurniawan.com/wordpress/wp-content/uploads/ekavatar.gif">Saya memikirkan ini ketika sedang mendengarkan sebuah lagu. Pola bait lagu ini umum saja: A-A-B-A-B-C-A-B-D, dengan B sebagai refrain lagu dan C sebagai bridge dan D sebagai outro. Banyak lagu pop memakai pola ini, tapi baiklah, yang saya dengarkan adalah &#8220;Bad Day&#8221; yang dinyanyikan Daniel Powter. Bayangkan pola bait lagu ini sebagai seks, dengan refrain sebagai titik orgasme. Pertanyaannya, kenapa di awal ada pola A-A-B? Inilah bayangan saya: refrain lagu ini enak sekali. Menggelora. Meledak. Jika ini orgasme, kita tahu kita ingin menahannya dulu. Ingin mengulur waktu. Agar ia meledak lebih keras. Begitulah kenapa lagu ini dibuka dengan A-A (tahan) lalu B (refrain). Pola berikutnya kita sudah merasakan orgasme ini, kita ingin mengulangnya. Kita tak perlu mengulur waktu lebih lama, sebab jika terlalu lama, percintaan barangkali akan jatuh menjadi membosankan. Maka cukup A-B. Selepas itu, para pecinta barangkali akan lelah. Ia memerlukan &#8220;bridge&#8221;. Ia memerlukan pola nada yang sedikit berbeda, dengan tempo yang lebih turun. Saling manja, saling mengambil napas, saling mencoba membangkitkan kembali gairah. Dan akhirnya mulai bercinta lagi. A lagi. Dan kembali orgasme. B. Refrain. Setelah itu &#8220;outro&#8221;, saling cium, saling peluk, dengan napas tersengal. Sebelum tidur kelelahan. Dan saya pikir, ini juga bisa berlaku dalam penulisan novel &#8230; <br />
<span id="more-2465"></span><br />
<br />Baiklah, mari kita bayangkan penulis novel yang buruk. Penulis novel yang buruk pasti sama dengan pecinta yang buruk. Jika klimaks adalah orgasme, barangkali kita tak pernah memperoleh orgasme. Barangkali orgasme keceplosan di tempat yang salah. Demikian pula penulis novel amatir akan sama dengan pecinta amatir. Pola-nya barangkali sesederhana A-B-C. Buka celana-orgasme-ngorok.
<p /> Saya bayangkan, novel yang baik minimal seperti percintaan dengan pola A-A-B-A-B-C-A-B-D semacam lagu di atas. Sekali lagi, dalam musik pola bait ini rasa-rasanya sangat umum di musik pop. Bahkan bisa dibilang &#8220;default&#8221;. Hampir semua lagu serupa itu. Tentu saja pencipta lagu-lagu yang jenius, bisa mengacak-acak pola ini lebih gila. Lebih panjang, barangkali. Lebih tak terduga. Tapi mari bayangkan musik yang umum saja. Sebagaimana para pecinta, saya pikir lebih banyak yang memakai pola umum juga. Yang &#8220;standar&#8221;. Jadi, itulah kenapa saya bilang &#8220;minimal&#8221;.
<p /> Baiklah, saya akan coba membayangkan novel dengan pola seperti itu. Kita akan membuka dengan pola A: ada masalah yang menggemaskan di antara tokoh-tokoh novel, demikian novel dibuka. Hingga tiba-tiba ada tokoh lain yang akan membuka kedok-kedok permasalahan itu. Di sini kita tahan dulu. Pola A diulang kembali: kedatangan tokoh baru itu malah menambah permasalahan semakin menggemaskan. Kita semakin ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Hingga akhirnya salah satu tokoh merasa harus membuka kedok. Ledakkan. Kita masuk pola B: ketika satu kedok dibuka, kedok-kedok tokoh lain mulai terbuka. Motivasi-motivasi mereka terbuka. Mereka saling gasak, saling sikut. Tapi tentu saja cerita belum selesai.
<p /> Karena kedok-kedok itu sudah kebuka, muncul masalah baru. Pola A kembali. Konflik mereka semakin menggemaskan. Tapi jangan ditahan terlalu lama. Nanti membosankan. Satu tokoh tak tahan menghadapi masalah di antara mereka. Ia mengambil pistol dan menembak kepalanya. Meledak. Pola B. Tokoh yang lain mulai saling menyalahkan. Saling membuka borok. Saling cabik. Mereka semua terkapar berdarah-darah.
<p /> Di sini kita perlu &#8220;bridge&#8221;. Pola C. Kita perlu menurunkan tempo. Kita barangkali flashback untuk mencari tahu latar belakang masalah mereka sebenarnya. Mencari latar belakang tokoh-tokohnya. Biarkan pembaca mengambil napas. Biarkan pecinta saling bercanda, saling meraba untuk membangkitkan gairah kembali. Ketika badan sudah mulai hangat, ciuman mulai kembali bergelora. Masuk kembali ke pola A:
<p /> Dalam keadaan berdarah-darah, babak belur, mereka mulai mencari cara menyelesaikan persoalan di antara mereka. Tapi karena mereka punya cara pandang yang berbeda terhadap masalah, pencarian mereka malah menimbulkan perdebatan baru. Yang satu mengusulkan ini, yang lain mengusulkan itu. Tak ada jalan. Buntu. Hingga salah satu tokoh, sentral konflik, tahu bagaimana menyelesaikan masalah tersebut. Masuk klimaks terakhir. Pola B. Si tokoh berjalan ke tengah rel. Lokomotif menabraknya. Masalah dengan sendirinya selesai.
<p /> Tinggal tokoh-tokoh yang tersisa menangisi kepergiannya, atau menertawakannya. Outro. Pola D.
<p /> Tentu saja adakalanya kita tak perlu bercinta dengan pola &#8220;default&#8221; semacam itu. Adakalanya kita memang perlu bercinta dengan cepat. A-A-B. A-B-C-B. Banyak alasan untuk bercinta cepat. Mungkin kamu membayar pasanganmu di tempat pelacuran dan harus selesai dalam satu jam. Mungkin kamu ngebet ingin bercinta di bandara, dan melakukannya buru-buru di dalam toilet. Atau di dalm lift. Waktu hanyalah urusan kuantitas. Percintaan yang pendek bisa tetap berkualitas, tergantung bagaimana kamu memainkannya. Demikianlah banyak novel-novel pendek juga mampu menghadirkan kualitas adidaya: &#8220;The Old Man and the Sea&#8221; Hemingway. &#8220;As I Lay Dying&#8221; Faulkner. &#8220;Metamorphosis&#8221; Kafka.
<p /> Tapi bisa juga kita bercinta panjang. Multi-orgasme. Tujuh hari tujuh malam. Untuk yang ini, kita bisa melirik ke karya-karya &#8220;grandeur&#8221; macam &#8220;Anna Karenina&#8221; Tolstoy. &#8220;Don Quixote&#8221; Cervantes. &#8220;One Hundred Years of Solitude&#8221; Marquez. Atau bahkan &#8220;In Search of Lost Time&#8221; Proust.
<p /> Akhirnya, menulis novel kurang lebih seperti seks. Itu seni. Seni mengelola waktu, seni mengelola emosi, seni mengelola impuls. Seni untuk mengetahui kapan partner kita mulai hangat. Seni yang tidak hanya asal orgasme, kecuali ingin menjadi penulis novel yang memang asal orgasme.
<p /> Terakhir, maaf buat yang belum pernah melakukan seks, buat anak-anak di bawah umur, yang barangkali tak akan mengerti metafora ini. Juga maaf jika saya salah tentang musik di atas. Saya bukan ahli musik. Saya hanya penyuka musik dan lagu &#8220;Bad Day&#8221; salah satu lagu favorit saya. Bagaimanapun saya yakin akan lebih asyik jika tulisan ini dibaca sambil mendengarkan lagu itu. Dan semoga metafora ini tidak berlebihan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/menulis-novel-itu-seperti-seks-2465.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Shadow of the Wind</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/the-shadow-of-the-wind-2157.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/the-shadow-of-the-wind-2157.php#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Nov 2010 10:25:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan]]></category>
		<category><![CDATA[Carlos Ruiz Zafon]]></category>
		<category><![CDATA[Novel]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[The Shadow of the Wind]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/wordpress/blog/the-shadow-of-the-wind-2157.php</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu lalu, saya menghabiskan waktu luang dengan membaca novel Carlos Ruiz Zafon, The Shadow of the Wind. Jika kamu suka membaca buku petualangan, menyibak misteri, dengan tokoh anak belasan tahun terlibat dalam roman percintaan, buku ini akan saya rekomendasikan. Sejujurnya, buku semacam itulah yang saya baca untuk menghibur diri. Tak jauh berbeda dengan buku-buku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>
<p><a href='http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2010-11-13/nfAIEuhcbxiiFIptAgrctDFHrAAcoBczbczjdHdyBqqfIwruIagxsuDIhmFa/Shadow-of-the-Wind.jpg.scaled1000.jpg'><img src="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2010-11-13/nfAIEuhcbxiiFIptAgrctDFHrAAcoBczbczjdHdyBqqfIwruIagxsuDIhmFa/Shadow-of-the-Wind.jpg.scaled500.jpg" width="500" height="390"/></a> </p>
<p>Beberapa waktu lalu, saya menghabiskan waktu luang dengan membaca novel Carlos Ruiz Zafon, <em>The Shadow of the Wind</em>. Jika kamu suka membaca buku petualangan, menyibak misteri, dengan tokoh anak belasan tahun terlibat dalam roman percintaan, buku ini akan saya rekomendasikan. Sejujurnya, buku semacam itulah yang saya baca untuk menghibur diri. Tak jauh berbeda dengan buku-buku yang saya baca belasan tahun lalu.</p>
<p>Sebagaimana kebanyakan novel yang baik: bab-bab pertama buku ini dibuka langsung oleh permasalah yang misterius. Daniel, anak seorang penjual buku antik, menemukan sebuah novel karya Julian Carax berjudul <em>The Shadow of the Wind</em> di Kuburan Buku. Itu semacam perpustakaan tersembunyi dimana buku-buku disimpan. Dalam sekali baca, ia segera menyukai novel tersebut, dan tentu saja berusaha untuk menemukan karya lain dari penulis yang sama.</p>
<p>Di sinilah kemudian misteri itu muncul: ia tak menemukan novel lain karya penulis tersebut dimana-mana, meskipun jelas penulis tersebut menulis banyak novel. Informasi selanjutnya, Daniel segera tahu bahwa ternyata ada seseorang, selama bertahun-tahun, juga memburu novel-novel karya Carax. Untuk apa? Untuk dibakar dan dihancurkan. Seluruh isi novel tebal ini kemudian adalah petualangan Daniel untuk mencari tahu, siapa orang misterius yang menghancurkan karya-karya Carax, dan apa motivasinya?<span id="more-2157"></span></p>
<p><em>The New York Times Book Review</em> menyebut Zafon sebagai, &#8220;Gabriel Garcia Marquez meets Umberto Eco meets Jorge Luis Borges for a sprawling magic show, exasperatingly tricky, and mostly wonderful &#8230;&#8221; Jujur saja, menurut saya agak berlebihan. Novel ini sesederhana karya detektif, dengan Daniel dan teman-temannya berperan sebagai detektif amatir. Kecuali barangkali sama-sama ditulis dalam bahasa Spanyol, saya tak tahu dimana kesamaannya, baik secara teknis maupun tema, dengan novel-novel Marquez.</p>
<p>Tentu saja, novel ini penuh trik-trik yang menipu, dengan putaran-putaran tak terduga di dalam plotnya. Sesuatu yang sekilas akan mengingatkan kita kepada Borges. Apalagi tema cerita berkisar di sekitar buku, yang merupakan tema kebanyakan cerpen Borges. Dan kita juga tahu, Borges banyak mempergunakan trik-trik cerita detektif dalam cerpen-cerpennya. Tapi perbedaan mendasar: trik-trik tipuan dalam cerpen-cerpen Borges, sebagian besar merupakan lelucon filsafat. Di novel ini, itu tak lebih merupakan kebutuhan plot.</p>
<p>Baiklah, itu hanya pandangan saya. Di luar itu, novel ini tetap asyik dibaca. Ia mencampurkan kisah percintaan, petualangan, politik, dalam sebuah tragedi keluarga. Dan semuanya dilacak dari seorang penulis yang buku-bukunya menghilang secara misterius, dengan <em>setting</em> kota Barcelona tahun 1945. Jika ada waktu luang, saya tak akan keberatan membaca novel berikutnya dari Zafon, yang tampaknya merupakan skuel dari novel ini, yakni <em>The Angel&#8217;s Game</em>.</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/the-shadow-of-the-wind-2157.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jose Saramago dan &#8220;Apa yang Terjadi, Jika &#8230;&#8221;</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/jose-saramago-dan-apa-yang-terjadi-jika-1332.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/jose-saramago-dan-apa-yang-terjadi-jika-1332.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 16:38:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan]]></category>
		<category><![CDATA[Jose Saramago]]></category>
		<category><![CDATA[Novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/blog/jose-saramago-dan-apa-yang-terjadi-jika-1332.php</guid>
		<description><![CDATA[Itulah Jose Saramago. Kita mengenalnya sebagai novelis dimana novel-novelnya selalu beraroma “apa yang terjadi, jika …” Apa yang terjadi jika nama samaran menjadi tokoh sebenarnya dan pemilik nama samaran justru menjadi hantu, seperti itulah barangkali ringkasan pendek novel <em>The Year of the Death of Ricardo Reis</em>. Tentu saja novel-novelnya jauh melampaui sekadar “apa yang terjadi, jika …”, tapi kita tak mungkin mengabaikan fakta itu sebagai strategi prosanya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“<em>But loneliness is not living alone, loneliness is the inability to keep someone or something withing us company</em>,” kata Jose Saramago di salah satu novelnya yang barangkali bisa dibilang terbaik, <em>The Year of the Death of Ricardo Reis</em>.</p>
<p>Ironinya, tema kesepian itu dikontraskan dengan kehadiran sosok lain dalam kehidupan Ricardo Reis: penyair terkenal Portugal bernama Fernando Pessoa. Dikisahkan, Ricardo Reis, seorang dokter sekaligus penyair, kembali ke negerinya setelah 16 tahun tinggal di Brazil. Tahunnya: 1936. Ia tiba di Lisbon, tinggal di hotel. Waktu kedatangannya boleh dikatakan berbarengan dengan kematian Fernando Pessoa. Di hotel itulah kemudian ia bertemu hantu penyair tersebut.<br />
<span id="more-1332"></span><br />
Fakta itu mungkin tidak menarik bagi kebanyakan orang yang tidak mengenal siapa Ricardo Reis dan siapa Fernando Pessoa. Fernando Pessoa merupakan tokoh nyata, penyair terkenal dari Portugal. Selain menerbitkan puisi atas namanya, Pessoa juga dikenal sering menerbitkan puisi dengan beberapa nama pena yang berbeda, dengan gaya puisi yang juga berbeda. Salah satu nama penanya yang cukup dikenal adalah: Ricardo Reis.</p>
<p>Di dunia nyata, Fernando Pessoa merupakan sosok penyair dan Ricardo Reis hanyalah nama samaran. Di novel ini, Ricardo Reis menjadi tokoh utama dan Fernando Pessoa hanyalah hantu. Bahkan gagasan ini saja membuat novel ini terasa istimewa.</p>
<p>Itulah Jose Saramago. Kita mengenalnya sebagai novelis dimana novel-novelnya selalu beraroma “apa yang terjadi, jika …” Apa yang terjadi jika nama samaran menjadi tokoh sebenarnya dan pemilik nama samaran justru menjadi hantu, seperti itulah barangkali ringkasan pendek novel <em>The Year of the Death of Ricardo Reis</em>. Tentu saja novel-novelnya jauh melampaui sekadar “apa yang terjadi, jika …”, tapi kita tak mungkin mengabaikan fakta itu sebagai strategi prosanya.</p>
<p>Perhatikan novelnya yang lain. Dalam <em>Blindness</em>, ia seolah bertanya, apa yang terjadi jika muncul wabah kebutaan yang menular ke setiap penduduk kota, bahkan negeri? Dalam <em>The Stone Raft</em>, ia bertanya apa yang terjadi, jika semenanjung Iberia tiba-tiba terpisah dari daratan Eropa dan terapung-apung di lautan? Apa yang terjadi, jika Yesus menulis sendiri Injilnya dalam <em>The Gospel According to Jesus Christ</em>? Apa yang terjadi, jika seseorang menonton video dan tiba-tiba melihat salah satu aktor persis sebagaimana dirinya, kecuali kumis, dalam <em>The Double</em>? Apa yang terjadi, jika malaikat maut ingin beristirahat dari mencabut nyawa manusia dalam <em>Death Interupted</em>?</p>
<p>Dengan gaya seperti itu, novel-novelnya tak hanya kental dengan gaya “realisme magis” yang terkenal itu, tapi sebenarnya lebih mendekati kafkaisme: dunia yang absurd ditampilkan dalam gaya realis yang ironik sekelas Gogol. Kita tahu Kafka memakai strategi yang kurang lebih sama: apa yang terjadi, jika orang tak bersalah tiba-tiba ditangkap dalam <em>The Trial</em>, dan apa yang terjadi, jika seorang pedagang keliling tiba-tiba bangun menjadi sejenis kecoa dalam <em>Metamorphosis</em>.</p>
<p>Strategi “apa yang terjadi, jika …” jelas tidak ditemukan Kafka, apalagi Saramago. Itu strategi kuno yang dipakai para pendongeng, para juru cerita, untuk memikat pembaca di awal, dan mempertahankan pembaca di sepanjang cerita.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/jose-saramago-dan-apa-yang-terjadi-jika-1332.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yang Melukai Halimunda, Kerabat Macondo Itu</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/yang-melukai-halimunda-kerabat-macondo-itu-1236.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/yang-melukai-halimunda-kerabat-macondo-itu-1236.php#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Aug 2009 18:58:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi & Tribut]]></category>
		<category><![CDATA[Berto Tukan]]></category>
		<category><![CDATA[Cantik itu Luka]]></category>
		<category><![CDATA[Novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=1236</guid>
		<description><![CDATA[<div class="author"><em>oleh</em> <strong>Berto Tukan, <a href="http://kecoamerah.blogspot.com/2009/07/yang-melukai-halimunda-kerabat-macondo.html">Kecoa Merah</a></strong></div>

Menarik membandingkan STK dan CIL. Pasalnya, dalam pembacaan sepintas pun terlihat bagaimana kesamaan antara kedua karya ini; pertama sama-sama menggunakan gaya realisme magis. Realisme magis sendiri merupakan gaya penulisan yang menggunakan surealisme dan realisme secara bersamaan dan tak terpisahkan. Istilah ini diambil dari kasanah seni lukis oleh kritikus sastra untuk mencandrakan karya Marquez, Grass (dalam novel The Tin Drum) Borges, Okri serta Eka Kurniawan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="author"><em>oleh</em> <strong>Berto Tukan, <a href="http://kecoamerah.blogspot.com/2009/07/yang-melukai-halimunda-kerabat-macondo.html">Kecoa Merah</a></strong></div>
<div class="reviewbox" style="background: #ecebe7 url(http://ekakurniawan.com/wordpress/wp-content/uploads/cil40pt.png) no-repeat top left;"><strong><a href="http://ekakurniawan.com/books/cantik-itu-luka">Cantik itu Luka</a></strong>, Gramedia Pustaka Utama, 2002, 2004 <br /><a href="http://ekakurniawan.com/blog/resensitribute/cantik-itu-luka">Baca resensi lainnya</a> &middot; <a href="http://www.gramediashop.com/book/detail/9792225056/Cantik-Itu-Luka">Beli Sekarang</a> &middot;</div>
<p><span class="dropcaps">T</span>entu judul di atas akan mengingatkan anda pada dua novel tebal yang sempat menarik perhatian para penikmat sastra dan buku itu. Ya benar! Macondo adalah sebuah kota imajiner dalam Seratus Tahun Kesunyian (STK) karya Gabriel Garcia Marquez dan Cantik Itu Luka bold (CIL) karya Eka Kurniawan berkisah di Halimunda. Tentu sudah sering kedua tempat ini dan kedua karya ini dibahas dalam berbagai kaca mata pembacaan. Karya sastra memang tak pernah bisa habis untuk dibahas.</p>
<p>Lihatlah Layar Terkembang, Romeo dan Juliet, atau Madame Bovary. Apakah ketiganya sudah bosan diperbincangkan? Menurut hemat saya tidak. Kreatifitas pengarang bisa dipandang sebagai kerja tanpa sadar untuk mengungkapkan sesuatu yang tidak disadari pula. Jadi, karya sastra mengungkapkan sesuatu yang tak disadari dalam keadaan yang tak sadar (Kutha Ratna, 2008). Di sinilah peran pembacaan atas karya sastra nampak; mencari yang tak disadari sebagai hasil kerja yang tanpa sadar pula.<br />
<span id="more-1236"></span><br />
Maka, setiap pembacaan dengan kaca mata pembacaannya masing-masing sangat mungkin mengungkapkan ketidak sadaran-ketidak sadaran yang berbeda-beda. Sama dengan hasil pembacaan saya atas STK dan CIL yang berkelindan-bersetubuh dengan hasil pembacaan saya atas hasil pembacaan-pembacaan terhadap STK dan CIL lainnya yang terkristalkan dalam tulisan ini; mencoba mengungkapkan sesuatu yang (mungkin) tak terungkap.</p>
<p style="text-align:center">***</p>
<p><span class="dropcaps">M</span>enarik membandingkan STK dan CIL. Pasalnya, dalam pembacaan sepintas pun terlihat bagaimana kesamaan antara kedua karya ini; pertama sama-sama menggunakan gaya realisme magis. Realisme magis sendiri merupakan gaya penulisan yang menggunakan surealisme dan realisme secara bersamaan dan tak terpisahkan. Istilah ini diambil dari kasanah seni lukis oleh kritikus sastra untuk mencandrakan karya Marquez, Grass (dalam novel The Tin Drum) Borges, Okri serta Eka Kurniawan. Elleke Boehmer (dalam Bandel, 2003) mengatakan, bahwa gaya realisme magis merupakan gaya yang cocok bagi penceritaan tanah-tanah pascakolonial untuk menceritakan dirinya dengan kaca matanya sendiri. Kedua, STK dan CIL punya atribut-atribut cerita yang hampir-hampir mirip.</p>
<p>Salah satu yang paling kentara adalah kedua novel ini menyertakan pohon silsilah. STK tentang silsilah keluarga Buendia sedangkan CIL silsilah keturunan Ted Stammler. Keduanya mengambil latar tempat kota imajiner, seperti yang diungkapkan pada awal tulisan ini. Peristiwa moksa terdapat pada keduanya; Maman Gendeng di CIL dan Si Cantik Remedios dalam STK. Perlindungan terhadap keperawananpun terdapat pada keduanya; Ursula dengan “…celana dalam yang panjang buatan ibunya dari kain layar yang diperkuat dengan tali kulit yang disiliang-menyilang dan bagian depannya ditutup dengan gesper besi tebal.” (STK, hal.27). Sedangkan Alamanda dalam CIL menggunakan “…celana dalam terbuat dari logam dengan kunci gembok yang tampaknya tak memiliki lubang anak kunci untuk membukanya.” (CIL, hal. 248) Bahkan, Alamanda menggunakan semacam mantra khusus. Inces akan sering ditemukan dalam kedua novel ini. Si Cantik Remeditos muncul kembali dalam persamaan berikut; keluguan dua tokoh perempuan yang cantiknya tak terkira, bahkan akibat kecantikan itu, laki-laki yang melihatnya dipastikan akan demam tinggi dalam beberapa minggu; Rengganis Si Cantik dalam CIL dan Si Cantik Remeditos dalam STK. Bedanya, Si Cantik Remeditos akhirnya moksa. Berarti, kecantikan dan keluguannya tak tersentuh apa pun. Sedangkan Rengganis Si Cantik diperkosa oleh saudaranya sendiri, Krisan, hingga melahirkan seorang anak. Kedua novel berakhir dengan pandangan yang cenderung nihilis; STK dengan ketak-bersisaan ‘dinasti’ keluarga Buendia di Macondo dan CIL diakhiri dengan kenyataan, bahwa kutukan Ma Gedik ternyata akan terus berlanjut.</p>
<p style="text-align:center">***</p>
<p><span class="dropcaps">M</span>enengok pendapat Elleke Boehmer di atas, tentu saja kedua novel ini lebih indah bila dibaca dengan kaca mata postkolonialisme. Kaca mata satu ini yang adalah varian postmodernisme mengandaikan adanya pengetahuan sejarah kolonial dari tanah pascakolonial tempat karya itu lahir. Maka itu, dengan penuh kerendahan hati, tulisan ini hanya akan lebih fokus pada CIL dengan sedikit-sedikit menengok STK.</p>
<p>Adalah menarik ketika melihat tokoh sentral CIL adalah Dewi Ayu. Walau pun banyak yang mengatakan bahwa cerita ini bercerita tentang keturunan Ted Stammler, kata Stammlet sendiri sangat jarang muncul. Saya lebih condong menyebut cerita ini sebagai kisah Dewi Ayu dan keturunannya. Dewi Ayu sendiri adalah indo tiga perempat Belanda, seperempat Indonesia. Indo merupakan warisan kolonial yang paling nyata. Biasanya, seorang Indo akan lebih condong pada darah Belandanya. Ini akan ditujukan pula dengan penggunaan nama Belanda bagi Indo. Sekolah-sekolah modern barat a la Belanda sangat berperan dalam konstruksi pembeda-bedaan ini. Sekolah-sekolah Belanda bahkan akan menamakan semua muridnya dengan nama Belanda. Minke dalam tetralogi Buruh Pramoedya serta Rusli (periksa lagi) dalam Salah Asuhan Marah Rusli pun demikian. Adalah sesuatu yang aneh ketika Henri Stamler dan Aneu Stamler menamai anak mereka dengan Dewi Ayu. Namun baiklah kita menerima Dewi Ayu sebagai Indo yang lebih memilih Indonesia ketimbang Belanda. Hal ini semakin dibuktikan dengan kekeras-kepalaan Dewi Ayu untuk tetap tinggal di Halimunda ketika semua keluarganya meninggalkan Indonesia.</p>
<p>Dari pandangan yang berbeda, sosok Dewi Ayu bisa dilihat sebagai simbol tanah Indonesia pasca VOC yang masih tetap eksotis, indah dan menantang untuk disetubuhi. Barat cenderung menampilkan diri sebagai laki-laki, maskulin, agresif dan timur (tanah kolonial) sering disimbolkan dengan perempuan perawan, cantik rupawan, lugu dan siap untuk ditaklukan laki-laki. Kolonialisme Indonesia dalam CIL adalah Indonesia pasca VOC (yang ditandai dengan Dewi Ayu: nama Indonesia dengan darah campuran: warisan VOC). Maka tak heranlah ketika Komandan Bloedenkamp (mewakili Jepang) menghadapi Dewi Ayu (simbol Indonesia) yang menyerahkan diri tanpa syarat, Komandan itu memperkosa dengan “…menyerangnya dengan ganas, langsung tanpa basa-basi…” (CIL, hal. 77) sedangkan Dewi Ayu hanya bisa menghindar ketika laki-laki itu hendak mencium bibirnya. Dewi Ayu dan beberapa perempuan lainnya selanjutnya menjadi “penghibur jiwa-jiwa tentara Jepang” di rumah pelacuran Mama Kalong di Halimunda. Dari rumah pelacuran Mama Kalong jaman jepang inilah Dewi Ayu melahirkan Alamanda. Belakangan, Alamanda yang hasil persetubuhan Dewi Ayu dan Jepang menikah dengan Sodancho, seorang gerilyawan massa Jepang yang hebat yang menjadi pemimpin militer di Halimunda.<br />
(versi awal sebuah tulisan di PendarPena No.6.tahun 1. mei 2008, sastra)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/yang-melukai-halimunda-kerabat-macondo-itu-1236.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>A Short History of Tractors in Ukrainian</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/a-short-history-of-tractors-in-ukrainian-1158.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/a-short-history-of-tractors-in-ukrainian-1158.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Jun 2009 12:22:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan]]></category>
		<category><![CDATA[Marina Lewycka]]></category>
		<category><![CDATA[Novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=1158</guid>
		<description><![CDATA[Ketika saya membaca bagian awal novel ini, sekonyong saya merasa suka. Pertama-tama adalah alasan personal. Persis sebagaimana pembukaan novel itu: Sekitar dua tahun lalu, nenek saya meninggal. Kakek saya, yang tinggal sendirian di desa, memutuskan untuk menikah lagi. Calon istri barunya seorang janda yang jauh lebih muda daripada kakek.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika saya membaca bagian awal novel ini, sekonyong saya merasa suka. Pertama-tama adalah alasan personal. Persis sebagaimana pembukaan novel itu: Sekitar dua tahun lalu, nenek saya meninggal. Kakek saya, yang tinggal sendirian di desa, memutuskan untuk menikah lagi. Calon istri barunya seorang janda yang jauh lebih muda daripada kakek.</p>
<p>Bisa dibayangkan, ibu saya, anaknya yang paling tua, merupakan yang paling sewot. Jika tidak salah, ia masih marah saat Kakek menjelang meniggal. Tentu saja adik-adik ibu saya yang lain juga ngedumel. Hanya ada satu orang paman saya yang tampaknya merestui pernikahan ini, dengan alasan yang mencoba masuk akal: kakek sudah tua, butuh seseorang yang akan mengurus.<br />
<span id="more-1158"></span><br />
Paman saya inilah yang menelepon saya dan memberitahu. Mencari dukungan, tentu saja. Paman saya rupanya sudah memperhitungkan, akan mudah memperoleh dukungan dari saya. Pertama, saya cucu paling dekat dengan kakek. Kedua, saya terlalu rasional dan tak mau ambil pusing. Dan benarlah, saya mendukung pernikahan kakek dan mencoba meluluhkan hati ibu saya, meskipun tak pernah berhasil.</p>
<p>Akhirnya, terbukti saya dan paman yang satu itu tampaknya salah. Ketika kakek meninggal (hanya beberapa minggu setelah menikah, sebenarnya), barang di rumah kakek hilang dibawa istri baru dan anak-anak tirinya. Tak cuma itu, mereka juga berhasil menuntut sebidang tanah. Apa boleh buat. Kakek meminta maaf pada ibu saya dan anak-anaknya yang lain mengenai keteledoran itu, menjelang meninggal. Saya mencoba mengambil hikmah: tak apalah memberi rejeki kepada orang lain (dalam hal ini nenek tiri saya itu, yang sampai sekarang, saya bahkan belum pernah melihat orangnya).</p>
<p>Novel <em>A Short History of Tractors in Ukrainian</em> (karya Marina Lewycka, vesi Indonesia diterjemahkan oleh Gramedia Pustaka Utama) kurang lebih menceritakan hal yang sama. Si Kakek adalah Nikolai, insinyur asal Ukrania yang bermigrasi ke Inggris setelah invasi Sovyet ke negaranya. Tak lama setelah istrinya meninggal, ia memutuskan untuk menikah dengan perempuan Ukraina yang jauh lebih muda, Valentina.</p>
<p>Motif pernikahan ini sudah jelas: Valentina hanya mencari ijin tinggal di Inggris, dan tentu saja harta. Sementara Nikolai, selain butuh teman tinggal, juga memang dengan tulus ingin membantu seseorang dari negaranya terbebas (kalau bisa, ia ingin membebaskan seluruh orang Ukraina). Di luar itu, ada dua perempuan anak Nikolai yang jelas menentang pernikahan tanpa cinta ini.</p>
<p>Di tengah pertarungan antara Nikolai-Valentina yang ingin membuktikan mereka saling mencintai dan kedua kakak-beradik yang panik si perempuan jalang Valentina akan merampok warisan mereka, terbentang sejarah kelam Ukraina di bawah pendudukan Sovyet. Sejarah ini tergambar dalam tulisan singkat Nikolai, yang ditulisnya di tengah-tengah urusan dengan Valentina, mengenai sejarah traktor.</p>
<p>Lucu. Novel komedi kelas atas! Kamu hanya perlu membaca bab pertama, untuk tahu bahwa novel ini akan membuatmu nyengir, dan terus menikmatinya. Bahkan meskipun kamu tidak punya Kakek yang tinggal sendirian dan mendadak ingin menikah dengan perempuan yang jauh lebih muda seperti yang saya dan tokoh novel ini alami. Percayalah!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/a-short-history-of-tractors-in-ukrainian-1158.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

