Jose Saramago dan “Apa yang Terjadi, Jika …”
“But loneliness is not living alone, loneliness is the inability to keep someone or something withing us company,” kata Jose Saramago di salah satu novelnya yang barangkali bisa dibilang terbaik, The Year of the Death of Ricardo Reis.
Baca selengkapnya …
Yang Melukai Halimunda, Kerabat Macondo Itu
Oleh: Berto TukanSumber: Kecoa Merah

Tentu judul di atas akan mengingatkan anda pada dua novel tebal yang sempat menarik perhatian para penikmat sastra dan buku itu. Ya benar! Macondo adalah sebuah kota imajiner dalam Seratus Tahun Kesunyian (STK) karya Gabriel Garcia Marquez dan Cantik Itu Luka bold (CIL) karya Eka Kurniawan berkisah di Halimunda. Tentu sudah sering kedua tempat ini dan kedua karya ini dibahas dalam berbagai kaca mata pembacaan. Karya sastra memang tak pernah bisa habis untuk dibahas. Lihatlah Layar Terkembang, Romeo dan Juliet, atau Madame Bovary. Apakah ketiganya sudah bosan diperbincangkan? Menurut hemat saya tidak. Kreatifitas pengarang bisa dipandang sebagai kerja tanpa sadar untuk mengungkapkan sesuatu yang tidak disadari pula. Jadi, karya sastra mengungkapkan sesuatu yang tak disadari dalam keadaan yang tak sadar (Kutha Ratna, 2008). Di sinilah peran pembacaan atas karya sastra nampak; mencari yang tak disadari sebagai hasil kerja yang tanpa sadar pula. Maka, setiap pembacaan dengan kaca mata pembacaannya masing-masing sangat mungkin mengungkapkan ketidak sadaran-ketidak sadaran yang berbeda-beda. Sama dengan hasil pembacaan saya atas STK dan CIL yang berkelindan-bersetubuh dengan hasil pembacaan saya atas hasil pembacaan-pembacaan terhadap STK dan CIL lainnya yang terkristalkan dalam tulisan ini; mencoba mengungkapkan sesuatu yang (mungkin) tak terungkap.
Baca selengkapnya …
A Short History of Tractors in Ukrainian

Ketika saya membaca bagian awal novel ini, sekonyong saya merasa suka. Pertama-tama adalah alasan personal. Persis sebagaimana pembukaan novel itu: Sekitar dua tahun lalu, nenek saya meninggal. Kakek saya, yang tinggal sendirian di desa, memutuskan untuk menikah lagi. Calon istri barunya seorang janda yang jauh lebih muda daripada kakek.
Bisa dibayangkan, ibu saya, anaknya yang paling tua, merupakan yang paling sewot. Jika tidak salah, ia masih marah saat Kakek menjelang meniggal. Tentu saja adik-adik ibu saya yang lain juga ngedumel. Hanya ada satu orang paman saya yang tampaknya merestui pernikahan ini, dengan alasan yang mencoba masuk akal: kakek sudah tua, butuh seseorang yang akan mengurus.
Baca selengkapnya …
The Unbearable Lightness of Being: Politik itu Kitsch

Estetika di mana kotoran (tai) diabaikan dan dianggap tak ada merupakan estetika kitsch, kata Milan Kundera di bagian akhir novel The Unbearable Lightness of Being. Jika saya tak salah ingat, berkali-kali ia membicarakan hal yang sama di novel yang lain. Mungkin di The Joke atau di Life is Elsewhere. Yang jelas, gagasan (atau kemuakan) atas kitsch barangkali merupakan salah satu yang penting dalam novel-novelnya.
Dan tentu saja kitsch yang paling tak disukainya adalah kitsch gaya estetika Komunis Rusia. Sudah menjadi rahasia umum, Kundera membenci hampir segala hal mengenai Rusia. Bahkan tak jarang ia menolak wawancara jika diketahuinya wartawan tertentu berasal dari Rusia. Sebagaimana umum diketahui, ia harus meninggalkan negerinya (Ceko) tak lama setelah negeri itu diinvasi tentara Rusia, dan tinggal di Paris sampai hari ini. Tema mengenai invasi itu, bahkan sudah muncul sejak novel pertamanya, The Joke.
Baca selengkapnya …
“Kronik Betawi”, Novel Baru Ratih Kumala

Novel terbaru karya istriku, Ratih Kumala, berjudul Kronik Betawi. Ya, benar, ini tentang masyarakat Betawi di Jakarta. Berbeda dengan kedua novel sebelumnya, gaya bahasanya lebih ringan dan, tentu saja lucu. Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, mulai beredar 4 Juni 2009. Selamat membeli dan membaca.
Buat yang malas atau enggak sempat ke toko-buku, bisa pesan di sini seharga Rp. 40.000 (sama dengan harga di toko). Ongkos kirim gratis untuk wilayah Indonesia. Silakan tinggalkan komentar untuk pemesanan buku. Baca selengkapnya …
“Bisikan Arwah” Abdullah Harahap
(Update: Tribute to Abdullah Harahap)
Tak terasa sudah hampir tujuh bulan proyek “Tribute to Abdullah Harahap” berlangsung (lihat posting katalog buku Abdullah Harahap). Saya, Intan Paramaditha dan Ugoran Prasad sudah beberapa kali bertemu untuk mendiskusikan proyek kami, dan terus berjalan. Pertemuan terakhir, kami melakukannya melalui Yahoo Messanger karena saat itu berada di tempat yang berjauhan.
Dalam diskusi terakhir kami, saya memberikan laporan mengenai pembacaan saya atas novel Bisikan Arwah. Novel itu bisa menjadi kasus untuk bagian telaah saya: tentang arwah, dendam, dan konteks sosialnya.
Baca selengkapnya …
“Dreamer” Knut Hamsun: Perempuan Tuh, Ya …
Dreamer barangkali bukan novel Knut Hamsun yang paling sering dibicarakan. Bahkan seringkali terlewat dalam pembahasan karya-karyanya. Tapi begitulah, Hamsun. Bahkan di novel yang awalnya tampak sederhana ini, di akhir cerita menjadi tidak begitu sederhana.
Saya cuma ingin berbagi akhir ceritanya, tapi gambaran mengenai awal cerita tentu harus diberikan: Tokoh utamanya Ove Rolandsen. Bayangkan saja dia sebagai anak muda bengal yang kerjanya merayu para gadis kesana-sini. Dia bekerja sebagai operator telegraf. Di luar pekerjaan dan hobinya merayu para gadis, ia sering mengurung diri di kamar untuk melakukan berbagai percobaan kimia.
Baca selengkapnya …
Peluncuran Bilangan Fu
Semalam dari peluncuran novel Ayu Utami, Bilangan Fu. Saya sudah beli bukunya sejak dua mingguan lalu, tapi baru baca satu halaman. Kalimat keduanya membuat saya sejenak bertanya-tanya: “Kau pasti enggan percaya jika kubilang padaku ada sebuah stoples selai [...].” (cetak tebal dari saya), selebihnya saya harus kembali ke pekerjaan (*grin*).
Bagaimana Menulis Novel? (2)
Foto oleh: Ella’s Dad, Some rights reserved.
Saya terpaksa menulis posting ini sepenggal-sepenggal karena masih di tengah proses “membereskan” novel saya. Dan saya memposting ini, sama seperti semula, juga sebagai catatan untuk mengingat-ingat.
Barangkali saya pernah mengatakannya: novel ketiga saya berlatar masuk dan perkembangan Islam di Nusantara. Ada dua hal yang harus saya perbaiki dalam beberapa hari ini. Pertama, konsistensi menyangkut penanggalan. Saya memutuskan untuk mempergunakan penanggalan Hijriah dalam novel ini. Itu berarti saya harus mengkonversi semua penanggalan Masehi ke Hijriah. Kedua, saya juga harus membereskan beberapa transliterasi Arab ke Bahasa Indonesia agar lebih konsisten. Kalau ada yang tahu sejenis software untuk konversi penanggalan dan rujukan transliterasi yang baku, let me know.
Sekarang kembali ke “Bagaimana Menulis Novel” Bagian 2.
Baca selengkapnya …
Bilangan Fu
Baru tahu, Ayu Utami sudah mengeluarkan novel baru: Bilangan Fu. Akan di-launch tanggal 20 Juli. Kapan saya? Kapan kamu?
