Beberapa Tesis Tentang Judul Novel

Jika paragraf pertama novel bisa diibaratkan etalase toko, maka judul novel bisa diibaratkan papan nama toko tersebut.

Sampul Baru “Cantik itu Luka”, 2012

Jika tak ada halangan, “Cantik itu Luka” dengan sampul versi ketiga ini akan beredar 5 Januari 2012 16 Februari 2012.

Dongeng Gajah Melintasi Eropa

Jose Saramago dikenal dengan resep “what if” yang fantastis di novel-novelnya. Meskipun tak seheboh bagaimana jika semenanjung Iberia terpenggal dan hanyut ke laut (The Stone Raft), atau bagaimana jika sosok nama pena Fernando Pessoa muncul di hari kematiannya (The Year of the Death of Ricardo Reis), atau bagaimana jika separuh penduduk kota terserang kebutaan (Blindness), kali ini sang penulis menawarkan kisah: apa yang terjadi jika seekor gajah dibawa dari Lisbon ke Vienna di tahun 1551 (The Elephant Journey). Gajah jelas bukan binatang yang umum di Eropa barat, bahkan sekarang ini pun barangkali mereka cuma melihatnya di sirkus atau kebun binatang.

Bacaan dan Percik Ingatan

Queen-loana

Saya belum membaca novel Umberto Eco yang lain. Saya pernah menonton film “The Name of the Rose”, dan gara-gara film itu, saya kehilangan minat membaca novel aslinya. Meskipun begitu, barangkali didorong bacaan saya atas esai-esainya, saya tertarik membaca novel-novelnya yang lain. “The Mysterious Flame of Queen Loana” jadi korban pertama saya. Saya juga menemukan “Faucault’s Pendulum” dan “Baudolino” dari toko buku bekas, tapi setelah ini barangkali saya ingin membaca dulu “The Island of the Day Before”.

Sementara judul-judul itu masih dalam rencana baca, mari kita ngobrol soal “The Mysterious Flame of Queen Loana”. Sejujurnya, kesan awal pembukaan cerita novel ini agak mengingatkan saya pada sinetron: seorang lelaki tua terbangun dari koma, dan ia lupa ingatan. Lupa siapa istrinya, siapa anak-anaknya, teman-temannya, bahkan tak ingat namanya! Tapi tak ada hal baru di bawah langit, yang unik tentu saja bagaimana penulis mengolah bahan yang basi seperti itu menjadi menarik.

Dengan latar belakang sebagai profesor semiotika, Umberto Eco tahu betul bagaimana bermain-main dengan ceritanya. Si lelaki tua, Yambo, memang hilang ingatan. Tapi ada satu bagian yang dia tak lupa: apa-apa yang pernah dibacanya. Demikianlah ia mencoba menyibak tabir masa lalunya, siapa dirinya, dengan cara berkelana melalui buku-buku yang pernah dibacanya, dengan harapan memercikan “mysterious flame” di ingatannya. Petualangan membaca buku-buku masa kecil dan masa remajanya inilah, yang membuat novel ini tak sekadar cerita, tapi sekaligus menjadi sejenis kajian atas roman-roman dan komik-komik populer sebagai penanda zaman.

Sudut Pandang Allah dan Manusia

Setelah Snow dan The Museum of Innocence, akhirnya saya memutuskan untuk membaca My Name is Red. Meskipun saya masih lebih menikmati The Museum of Innocence, saya pikir ada hal menarik dari novel ini untuk diperbincangkan. Terutama satu hal yang jelas tampak sejak bab-bab pertama: novel ini pada dasarnya merupakan esai panjang mengenai seni. Yang diperbincangkan memang khususnya seni miniatur (menghias buku) dan ilustrasi, tapi saya pikir bisa diterapkan ke semua genre kesenian.

Menulis Novel Itu Seperti Seks

Saya memikirkan ini ketika sedang mendengarkan sebuah lagu. Pola bait lagu ini umum saja: A-A-B-A-B-C-A-B-D, dengan B sebagai refrain lagu dan C sebagai bridge dan D sebagai outro. Banyak lagu pop memakai pola ini, tapi baiklah, yang saya dengarkan adalah “Bad Day” yang dinyanyikan Daniel Powter. Bayangkan pola bait lagu ini sebagai seks, dengan refrain sebagai titik orgasme. Pertanyaannya, kenapa di awal ada pola A-A-B? Inilah bayangan saya: refrain lagu ini enak sekali. Menggelora. Meledak. Jika ini orgasme, kita tahu kita ingin menahannya dulu. Ingin mengulur waktu. Agar ia meledak lebih keras. Begitulah kenapa lagu ini dibuka dengan A-A (tahan) lalu B (refrain). Pola berikutnya kita sudah merasakan orgasme ini, kita ingin mengulangnya. Kita tak perlu mengulur waktu lebih lama, sebab jika terlalu lama, percintaan barangkali akan jatuh menjadi membosankan. Maka cukup A-B. Selepas itu, para pecinta barangkali akan lelah. Ia memerlukan “bridge”. Ia memerlukan pola nada yang sedikit berbeda, dengan tempo yang lebih turun. Saling manja, saling mengambil napas, saling mencoba membangkitkan kembali gairah. Dan akhirnya mulai bercinta lagi. A lagi. Dan kembali orgasme. B. Refrain. Setelah itu “outro”, saling cium, saling peluk, dengan napas tersengal. Sebelum tidur kelelahan. Dan saya pikir, ini juga bisa berlaku dalam penulisan novel …

Cantik itu Luka