<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Eka Kurniawan Project &#187; Nobel</title>
	<atom:link href="http://ekakurniawan.com/blog/tag/nobel/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ekakurniawan.com</link>
	<description>Menulis dan petualangan-petualangan lainnya</description>
	<lastBuildDate>Tue, 10 Apr 2012 11:17:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Dua Novel Isaac Bashevis Singer</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/dua-novel-isaac-bashevis-singer-2916.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/dua-novel-isaac-bashevis-singer-2916.php#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 May 2011 17:46:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Isaac Bashevis Singer]]></category>
		<category><![CDATA[Nobel]]></category>
		<category><![CDATA[Polandia]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Shosha]]></category>
		<category><![CDATA[The Slave]]></category>
		<category><![CDATA[Yahudi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/blog/dua-novel-isaac-bashevis-singer-2916.php</guid>
		<description><![CDATA[Isaac Bashevis Singer, barangkali bukan nama yang dikenal umum, meskipun ia salah satu penulis yang memperoleh Nobel Kesusatraan (1978). Saya menemukan namanya secara tak sengaja melalui cerita bersambung di majalah Femina (lupa judulnya, lupa edisi kapan), dan saya diingatkan kembali ketika membaca komentar pendeknya atas karya Knut Hamsun (juga lupa di mana). Dari sana saya coba mencari tahu tentangnya, membaca di satu tempat bahwa karya-karyanya memang sangat terpengaruh oleh Knut Hamsun.

Sekali waktu istri saya menonton film "Yentl" di televisi, dan tampak kegirangan menemukan film itu. Katanya ia sudah lama ingin menontonnya. Saya tanya, apa ceritanya? Setelah ia menceritakan secara singkat, saya langsung komentar, "Itu seperti tema-tema cerita Isaac Bashevis Singer. Barangkali diangkat dari karyanya." Intinya, kisahnya mengenai kaum Yahudi. Tapi berbeda dengan kisah-kisah Yahudi yang sering kami baca di novel atau tonton di film, ini bukan kisah Yahudi yang gelap, dikejar-kejar atau di-gheto-kan Nazi, dan sejenisnya. Tapi tentang kehidupan sehari-hari orang Yahudi, dengan roman percintaan, dan problem-problem teologis maupun sosial-agama. Saya cari di internet, dan ternyata tebakan saya benar, "Yentl" merupakan salah satu cerita pendeknya. Tentu saja ini memberi saya minat tambahan untuk mulai membaca satu-dua karyanya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>
<p> <a href="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/ekakurniawan/3tcJyYxNHcdx5pohR9k4RNH4PupN0N4zbW2b4PINbzr1qHQSA9swW0bqrA2r/IsaacBashevis.jpg"><img alt="Isaacbashevis" height="335" src="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/ekakurniawan/MgygXgj0gQzNeS45dNKr4WWQaRDFBxcYd8jDDLMoU1n5Cm2k3Bb99j43j9aI/IsaacBashevis.jpg.scaled.500.jpg" width="500" /></a> </p>
<p>Isaac Bashevis Singer, barangkali bukan nama yang dikenal umum, meskipun ia salah satu penulis yang memperoleh Nobel Kesusatraan (1978). Saya menemukan namanya secara tak sengaja melalui cerita bersambung di majalah Femina (lupa judulnya, lupa edisi kapan), dan saya diingatkan kembali ketika membaca komentar pendeknya atas karya Knut Hamsun (juga lupa di mana). Dari sana saya coba mencari tahu tentangnya, membaca di satu tempat bahwa karya-karyanya memang sangat terpengaruh oleh Knut Hamsun.
<p /> Sekali waktu istri saya menonton film <em>Yentl</em> di televisi, dan tampak kegirangan menemukan film itu. Katanya ia sudah lama ingin menontonnya. Saya tanya, apa ceritanya? Setelah ia menceritakan secara singkat, saya langsung komentar, &#8220;Itu seperti tema-tema cerita Isaac Bashevis Singer. Barangkali diangkat dari karyanya.&#8221; Intinya, kisahnya mengenai kaum Yahudi. Tapi berbeda dengan kisah-kisah Yahudi yang sering kami baca di novel atau tonton di film, ini bukan kisah Yahudi yang gelap, dikejar-kejar atau di-gheto-kan Nazi, dan sejenisnya. Tapi tentang kehidupan sehari-hari orang Yahudi, dengan roman percintaan, dan problem-problem teologis maupun sosial-agama. Saya cari di internet, dan ternyata tebakan saya benar, <em>Yentl</em> merupakan salah satu cerita pendeknya. Tentu saja ini memberi saya minat tambahan untuk mulai membaca satu-dua karyanya. <br /><span id="more-2916"></span>
<p /> Kesempatan itu datang bersamaan dengan sampainya pesanan dua novelnya, <em>The Slave</em> dan <em>Shosha</em>. Saya memesannya dari internet, dari toko buku bekas (selain jarang edisi baru, saya memang suka dengan buku bekas, tapi soal ini kapan-kapan saya cerita). Dalam dua minggu, saya membaca kedua novel itu hingga selesai, menyingkirkan dulu novel-novel lain yang belum saya baca. Benarlah memang, gayanya mendekati cara Hamsun menulis. Tapi seperti banyak ditulis kritikus, Hamsun sering bermain di wilayah ego karakter utamanya; sementara Singer bermain di wilayah ego karakter utamanya, yang berbenturan dengan tuntutan sosial agama/komunitas Yahudi.
<p /> Novel <em>The Slave</em> sangat menyiratkan hal itu. Dengan latar Polandia abad ketujuh belas, kisah berputar mengenai Jacob, seorang anak rabi yang saleh. Setelah kota tempatnya tinggal diserbu bangsa Cossack, dan banyak orang Yahudi dibunuh, diperkosa, Jacob dijual sebagai budak kepada seorang petani desa. Di sanalah ia bertemu dengan anak si petani, Wanda seorang janda, yang jatuh cinta kepadanya. Di tengah padang rumput, di tengah ancaman kematian (orang-orang di desa itu menganggap Yahudi sebagai penyakit yang bisa membawa petaka), dikelilingi gunung-gunung dan bukit-bukit, kisah cinta mereka terajut.
<p /> Jacob tak menyangkal memiliki hasrat berahi kepada Wanda, tapi ia tak berani berbuat lebih jauh, dan hanya memendam saja hasrat itu. Ia punya istri dan dua anak yang entah dimana (saat itu ia belum tahu mereka termasuk korban pembantaian Cossack). Tapi yang lebih penting lagi, ia tak berani memenuhi hasrat berahinya karena sadar, zinah merupakan dosa. Itu yang pertama. Yang kedua, bahkan jika ia berpikir tentang pernikahan, juga dosa jika ia menikahi perempuan kafir (Wanda seorang Kristen, tapi digambarkan bahwa penghuni desa itu meskipun secara legal beragama Kristen, tapi masih banyak yang percaya pada adat/agama/ritual penyembah berhala). Ketiga, bahkan jika Wanda bersedia masuk menjadi &#8220;anak Israel&#8221; (yakni menjadi Yahudi), juga terlarang jika ia menjadi Yahudi karena cinta, dan bukan karena percaya kepada Tuhan.
<p /> Di sinilah Jacob terlibat pertarungan antara hasrat daging-tubuhnya, dan ikatan moral-jiwanya. Dan di sini pulalah, perjalanan perdebatan antara hukum-hukum agama yang mengikat, dan tafsir yang mencoba membebaskan diri dari ikatan tersebut. (Saya jadi terpikirkan hal ini: ketika kita menghadapi hukum agama yang tidak sejalan dengan apa yang kita kehendaki/pikirkan, di titik itulah kita mulai mencoba memberi tafsir. Saya pikir hal ini tak hanya terjadi pada Jacob dan hukum-hukum agama Yahudi-nya, tapi barangkali terjadi atas semua umat agama dan hukum-hukum agama mereka. Siapa tahu?)
<p /> Jika Jacob merupakan gambaran sosok saleh yang harus melakukan perbuatan dosa dan bagaimana ia mencari pembenaran atas tindakannya (atau mencoba menghapus dosanya, atau mencoba mencari kompromi), hal sebaliknya terjadi pada Aaron dalam novel <em>Shosha</em> (dengan latar belakang tahun-tahun sebelum penyerbuan Hitler ke Polandia). Aaron, meskipun sama-sama anak rabi, sejak awal digambarkan sudah tidak saleh. Ia tak lagi melakukan ritual agama, ia juga kumpul kebo dengan pacarnya, meniduri dua perempuan temannya, dan meniduri pelayan di kamar pondokannya. Intinya, ia orang yang agak bejat dari sudut pandang moral agama. Tapi ketika ia bertemu dengan Shosha, gadis masa kecilnya, ia mencoba menjadi orang saleh.
<p /> Meskipun dilihat dari sudut pandang yang berbeda, di sini cinta menjadi peletup bagaimana orang berperilaku terhadap agama. Di kedua novel, agama kemudian, alih-alih merupakan hubungan antara manusia dan Tuhan, tak lebih menjadi sejenis syarat dan prasyarat dalam hubungan berkomunitas. Jacob dan Aaron, dengan karakter yang berbeda, beragama lebih karena tuntutan komunitas Yahudi di sekitarnya. Dalam kasus Jacob, bahkan meskipun ia terkurung di tengah padang rumput dan jauh dari orang-orang Yahudi, tekanan itu tetap terasa. Dalam kasus Aaron, bahkan meskipun ia sudah tidur dengan banyak perempuan, meskipun Shosha agak sakit (kekanak-kanakan dan rada terbelakang), ketika ia berbaring di ranjang bersama Shosha (sebelum mereka menikah), ia tetap tak mau menyentuhnya.
<p /> Tapi pada titik lain, kisah cinta Aaron kepada Shosha dan Jacob kepada Wanda, justru memperlihatkan sesuatu yang tampak ilahiah: tak terelakkan, sejenis takdir, di luar rasio, di luar ikatan-ikatan sosial. Perjalanan kisah cinta mereka tampak seperti perjalanan spiritual. Bahkan kemudian Wanda digambarkan sebagai orang suci (sejenis santa atau wali). Demikian pula gambaran Shosha sejak awal: tanpa dosa. Atau barangkali benarlah apa kata kebanyakan orang, bahwa pada dasarnya inti dari agama, inti dari ajaran Tuhan, adalah cinta? Dan cinta paling mudah digambarkan melalui hubungan antara lelaki dan perempuan, juga melibatkan nafsu daging-tubuh, selain dorongan jiwa yang tak terjelaskan.
<p /> Saya pikir, kedua novel merupakan pintu yang bagus untuk mengenal karya-karya Isaac Bashevis Singer. Saya berharap bisa membaca beberapa novelnya yang lain. Dan terakhir, saya pikir penulis-penulis yang tertarik menggarap aspek-aspek sosial agama dalam karya mereka, juga bisa belajar melalui Singer. Kenapa tidak?
<p /></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/dua-novel-isaac-bashevis-singer-2916.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menulis Novel Bersama Mario Vargas Llosa</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/menulis-novel-bersama-mario-vargas-llosa-2192.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/menulis-novel-bersama-mario-vargas-llosa-2192.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Dec 2010 11:47:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penulisan]]></category>
		<category><![CDATA[Ulasan]]></category>
		<category><![CDATA[Letters to a Young Novelist]]></category>
		<category><![CDATA[Mario Vargas Llosa]]></category>
		<category><![CDATA[Nobel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/blog/menulis-novel-bersama-mario-vargas-llosa-2192.php</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini, 10 Desember 2010, Mario Vargas Llosa memperoleh anugerah Nobel Kesusastraan dari Akademi Swedia. Saya ingin berbagi bacaan saya atas bukunya, "Letters to a Young Novelist". Seperti terlihat dari judulnya, buku ini bicara tentang proses dan pikiran-pikirannya mengenai penulisan novel. Saya pikir, ini akan sangat berguna bagi siapa pun yang tertarik untuk menjadi penulis novel, muda maupun tua.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href='http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/ekakurniawan/lHnpgavUCL1a09eynGcgrawNYzHbs4lC9q1AuT8Z7p4ktdMioEF4FsRoRQac/vargas-llosa.jpg'><img src="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/ekakurniawan/Ytk3bPVaaTVyyrPZOdz0mT0JueKopCX0vZWURYqXlXWKSQDeVFIz0DDP1FJw/vargas-llosa.jpg.scaled.500.jpg" width="500" height="400"/></a> </p>
<p>Hari ini, 10 Desember 2010, Mario Vargas Llosa memperoleh anugerah Nobel Kesusastraan dari Akademi Swedia. Saya ingin berbagi bacaan saya atas bukunya, &#8220;Letters to a Young Novelist&#8221;. Seperti terlihat dari judulnya, buku ini bicara tentang proses dan pikiran-pikirannya mengenai penulisan novel. Saya pikir, ini akan sangat berguna bagi siapa pun yang tertarik untuk menjadi penulis novel, muda maupun tua.
<p /> Sebagaimana kebanyakan penulis lain, di masa awal karirnya, Llosa sangat ingin menulis surat kepada sastrawan-sastrawan besar yang dikaguminya: Faulkner, Hemingway, Malraux, Dos Passos, Camus, Sartre. Tentu saja ia ingin meminta nasihat: bagaimana sih menjadi seorang penulis? Ia tak pernah memiliki keberanian mengirimkan surat kepada mereka. Ia menyadari banyak penulis muda mengalami hal seperti dia. Maka ketika ada seseorang yang memiliki keberanian mengirim surat dengan pertanyaan semacam itu, Llosa dengan senang hati membalasnya. Buku ini merupakan isi dari surat-surat mengenai bagaimana menjadi penulis tersebut.
<p />
<p><span id="more-2192"></span></p>
<p /> Bagian pertama dibuka dengan surat berjudul &#8220;Parabel Cacing Pita&#8221;. Llosa mengingatkan siapa pun yang memutuskan untuk memasuki dunia kesusastraan, ia harus bersiap masuk ke dunia pelayanan, yang tak lebih dari perbudakan. Apa maksudnya? Ia bercerita tentang seorang perempuan Paris tahun 60an bernama Jose Maria. Perempuan ini, demi menjaga agar tubuhnya tetap langsing (karena ia menganggap tubuh langsing berarti cantik), ia memutuskan untuk memakan cacing pita. Cacing ini menyatu dengan tubuhnya, hidup dan berkembang biak. Jose Maria tetap makan dan minum (terutama susu), tapi itu bukan untuk dirinya, melainkan untuk si cacing pita. Jose Maria bisa dianggap martir untuk kecantikan.
<p /> Kesusastraan tak lebih dari seekor cacing pita bagi seorang penulis. Penulis harus siap diperbudak olehnya. Ia menjalani hidup, membaca buku, menonton teater, berjam-jam mendiskusikan politik, film, teman. Untuk siapa? Bukan untuk dirinya, melainkan pada akhirnya untuk kesusastraan yang telah dipilihnya. Tetapi perbudakan ini, percayalah, merupakan perbudakan yang dihasilkan oleh kebebasan memilih. Keputusan untuk menjadi penulis haruslah merupakan keputusan dari kehendak bebas.
<p /> Surat kedua berjudul &#8220;Catoblepas&#8221;, dan menjawab pertanyaan pendek, &#8220;Darimana cerita datang?&#8221; dan &#8220;Bagaimana novelis memperoleh gagasan mereka?&#8221; Jawabannya sederhana: semua cerita berakar di kehidupan orang yang menuliskannya; pengalaman merupakan sumber aliran fiksi. Ini bukan berarti novel selalu merupakan biografi telanjang; yang sering terjadi, di setiap fiksi, bahkan yang sangat imajinatif, sangatlah sulit untuk menguak titik awalnya, titik rahasia yang terhubung ke pengalaman si penulis.
<p /> Menulis novel serupa pekerjaan penari striptis dengan arah yang berkebalikan. Penari striptis, perlahan-lahan menanggalkan pakaiannya, sampai akhirnya mempertontonkan ketelanjangannya di panggung. Penulis novel melakukannya dengan cara terbalik: ketelanjangan (pengalamannya/biografinya), perlahan-lahan dibungkus sedikit demi sedikit dalam balutan fiksi. Hingga hasil akhirnya (novel), mungkin orang tak lagi bisa melihat napas biografis di karya tersebut.
<p /> Penulis novel kurang-lebih seperti &#8220;catoblapes&#8221;. Itu binatang mistik yang memakan dirinya sendiri. Binatang ini muncul di karya Flaubert, &#8220;The Temptation of Saint Anthony&#8221; dan di karya Borges &#8220;Book of Imaginary Beings&#8221;. Kurang-lebih seperti itulah penulis: menguras cerita dari pengalaman hidupnya sendiri. Memakan dirinya sendiri, kalau perlu sampai habis.
<p /> Surat ketiga berjudul &#8220;Kekuatan Persuasi&#8221;. Ya, bagian ini mulai masuk ke permasalahan penulisan novel. Llosa mengingatlah, sangatlah sulit memisahkan isi dan bentuk novel, terutama di novel yang baik. Novel yang buruk, memang bisa tampak begitu terpisah, dan itulah mengapa novel itu buruk. Di novel yang baik, apa isi novel dan bagaimana (bentuk) cerita diceritakan, menjadi berkelindan. Mungkin jika kamu diberitahu bahwa &#8220;Metamorfosa&#8221; adalah cerita tentang pemuda aneh yang berubah jadi kecoa, kamu tak akan tertarik dan menganggap itu cerita aneh. Tapi karena kamu membacanya dengan cara &#8220;Kafka bercerita&#8221;, kamu tiba-tiba terhanyut oleh cerita itu. Di sinilah yang dimaksud Llosa bahwa isi dan bentuk di novel yang baik, tak terpisahkan. Di sinilah kemudian penulis harus memiliki apa yang disebut &#8220;kekuatan persusasi&#8221;.
<p /> Untuk melengkapi sebuah novel dengan &#8220;kekuatan persuasi&#8221;, sangat diperlukan kamu bercerita sehingga hampir semua pengalaman personal implisit di dalam plot dan karakternya, dan pada saat yang sama menyalurkan kepada pembaca ilusi otonomi dari kehidupan nyata yang didiaminya. Dengan kata lain, cerita di dalam novel harus bisa mandiri, otonom, bergerak dalam dunianya sendiri. Tentu saja &#8220;otonomi&#8221; ini hanya ilusi saja. Otonomi ini bagian dari fiksi juga. Dengan cara ini, sebuah novel yang baik, membuat pembaca &#8220;hidup di dalamnya&#8221;.
<p /> Menarik? Ya, pembahasan tentang penulisan novel dari Llosa ini sangat menarik. Inspiratif. Ia juga membuat perbandingan, dengan merujuk ke karya-karya penulis lain. Saya hanya akan mengutip tiga surat saja, dari seluruhnya berisi dua belas surat di buku ini. Saya tak hendak mengutip seluruhnya, karena barangkali itu hanya membuat kamu malas membaca bukunya. Ingat baik-baik, menjadi seorang penulis, kamu harus bersiap-siap memberi makan kepada kesusastraan di dalam dirimu. Jika salah satunya kamu merasa harus membaca buku Llosa ini, tentu saja saya sarankan membaca bukunya langsung, dan bukan sekadar kutipan sana-sini semacam tulisan saya ini.
<p /> Dan itulah memang maksud saya. Ini hanya sekadar makanan pembuka bagi kamu, siapa tahu berminat membaca buku ini, dan berminat menjadi penulis novel. Novel yang baik tentu saja, jika bukan novel yang hebat sekalian.
<p /></p>
<h3>Rujukan</h3>
<p>Mario Vargas Llosa, 2002, <em>Letters to a Young Novelist</em>, Diterjemahkan oleh Natasha Wimmer, Farrar Straus and Giroux, New York.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/menulis-novel-bersama-mario-vargas-llosa-2192.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perlu Mengakrabi Sastra Mancanegara</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/perlu-mengakrabi-sastra-mancanegara-532.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/perlu-mengakrabi-sastra-mancanegara-532.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Nov 2008 11:18:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi & Tribut]]></category>
		<category><![CDATA[Jurnal Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Kho Ping Hoo]]></category>
		<category><![CDATA[Nobel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=532</guid>
		<description><![CDATA[Sebenarnya pelajaran sastra itu yang paling sederhana. Saya yakin semua penulis itu belajar sastra dari membaca dan mereka belajar menulis itu dari meniru apa yang mereka baca. Untuk mengajarkan sastra di sekolah itu sebetulnya cukup beri saja buku ke sekolah-sekolah itu. Biarkan para siswa itu belajar sastra. Masalahnya sekarang kalau di sekolah ada banyak buku tapi para siswa tak mau baca, itu berarti ada hal lain yang lebih menarik bagi mereka. Dan kita tidak bisa mengatakan kalau hal lain itu tidak lebih baik daripada membaca buku.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sebagai penulis muda yang karyanya telah dikenal luas sampai ke Jepang, bagaimana pendapat Anda tentang kemungkinan sastrawan Indonesia meraih Nobel?</strong></p>
<p>Kalau saya <em>sih</em> optimistis saja. Untuk mendapatkan Nobel itu kan juga disebabkan banyak faktor. Bagi saya pribadi Nobel tidak selalu identik dengan kualitas. Kalau saya bilang optimistis itu lebih berarti kepada pemikiran kalau sastra Indonesia itu adalah bagian dari sastra dunia. Maksud saya nanti suatu saat, penulis kita bisa sejajar dengan penulis-penulis dari negara lain, bisa menjadi penulis yang <em>enggak</em> cuma jago kandang. Artinya kita punya potensi tapi harus diakui juga kalau pergaulan kita dengan sastra mancanegara juga belum terlalu intim. Kalau istilah petinju, kita itu kurang <em>sparing partner</em>. Kalau kita tidak terlalu banyak bergaul dengan sastra berkualitas dari mancanegara kita juga sulit menentukan standar estetikanya.<br />
<span id="more-532"></span><br />
<strong>Apakah Anda sendiri bergaul dengan karya mancanegara?</strong></p>
<p>Saya mencoba bergaul dengan karya sastra mancanegara, minimal sebagian besar yang saya baca karya-karya sastra dari luar. Perbandingannya dengan bacaan sastra Indonesia mungkin satu banding dua, satu karya Indonesia dan dua karya luar negeri. Karena tidak terlalu banyak karya di Indonesia yang asyik untuk dibaca, dibandingkan dengan begitu banyaknya karya luar. Dari situ saya juga mencoba untuk mengukur sudah sejauh mana kita sudah jadi penulis. Dari situ kita tahu diri, kalau kita memang belum menghasilkan karya bagus, ya berarti memang belum bagus karena kita tahu ada yang lebih bagus. Kalau kita berada dalam lingkup yang sempit, jangan-jangan kalau dilihat dari luar, sastra di Indonesia malah tidak ada apa-apanya. Tahun 1960an misalnya, Iwan Simatupang menulis novel eksistensialis, orang-orang begitu terpana, kagum, padahal kalau dilihat sama orang Prancis ya hal biasa saja. Itu terjadi karena di Indonesia <em>nggak</em> ada <em>aja</em> yang kayak gitu, jadi orang-orang melihatnya wah hebat &#8230;</p>
<p><strong>Jadi mengimpor ide dari luar bagi sastra di Indonesia itu <em>nggak</em> apa-apa?</strong></p>
<p>Saya pikir impor atau ekspor ide itu tidak masalah. Karena dalam pergaulan kebudayaan itu akan selalu terjadi. Point saya, seharusnya kita jangan kaget lagi dengan ide-ide dari mancanegara. Malah mestinya lebih bagus kalau kita mengimpor sesuatu dari luar negeri dan kita bisa membuatnya lebih bagus dari barang aslinya. Kita jangan melihatnya dari sudut pandang Indonesia saja. Ambil contoh misalnya tren di Amerika Latin ketika yang disebut realisme magis, itu kan juga bukan murni dari Amerika Latin. Mereka terinspirasi novel Spanyol dan Arab. Tapi mereka bisa mengolahnya menjadi sesuatu yang baru. Mereka tidak sekadar mengimpor tapi menawarkan hal yang baru lagi.</p>
<p><strong>Wah pandangan Anda sangan kosmopolit sekali ya. Menurut hemat Anda apakah hal itu penting bagi sastra Indonesia?</strong></p>
<p>Pertama-tama untuk bisa berpikir secara kosmopolit saya menghindari untuk bilang &#8220;sastra Indonesia&#8221;, tapi cukup sastra saja. Saya sendiri tak peduli apakah karya itu sastra Indonesia atau bukan. Soalnya, kalau sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang, kita tak bisa <em>ngomong kalo</em> itu sastra Indonesia lagi. Sebetulnya sejarah kesusastraan itu beda dengan sejarah ilmu pengetahuan lainnya. Misalnya ditemukan sesuatu yang baru, yang lama jadi tak terpakai lagi. Dalam kesusastraan tidak begitu, ada penemuan baru, yang lama masih bisa tetap dinikmati. Jadi dalam sastra itu apa yang disebut estetika atau sastra yang baru itu kita harus memahami kesusastraan itu saja dulu. Misalnya kita jadi penyair hari ini untuk menggantikan Joko Pinurbo atau Chairil Anwar. Kita bisa lebih bagus dari mereka atau mungkin lebih jelek dari mereka. Dalam sastra sebenarnya kita ini mencoba menemukan kembali sudut pandang yang baru, yang niatnya bukan menggugurkan yang lain. Dalam kesenian, kita tidak bisa mengatakan musik sekarang lebih bagus dari karya Beethoven.</p>
<p><strong>Soal bagus dan jelek. Kedengarannya Anda sedang berbicara soal standarisasi karya?</strong></p>
<p>Standarisasi itu tidak ada. Saya pikir persoalan standarisasi estetika itu soal tarik-ulur. Artinya standar itu ada berdasarkan sudut pandang perorangan atau kelompok. Artinya standar itu ada tapi lebih kepada faktor subyektif. Sudut pandang yang beda. Kalau kemudian ada standar yang lebih dominan, itu hubungannya kepada siapa yang memiliki otoritas. Dan kadang-kadang itu pula bisa berpengaruh. Artinya, katakanlah seorang Pramoedya Ananta Toer dalam konteks kesusastraan Indonesia, meskipun dia seorang diri, saya pikir dia memiliki otoritas yang cukup besar. Semisal dia mengatakan, kalau dia suka seorang penulis, bisa jadi itu cukup berpengaruh pada yang lain. Anak sekolah tentu saja dipengaruhi oleh sebuah institusi yang bernama Departemen Pendidikan Nasional karena institusi inilah yang punya otoritas yang menentukan apa yang harus dibaca oleh siswa. Atau seorang wartawan ketika menulis bahwa sebuah novel bagus, maka kemungkinan juga hal itu bisa memengaruhi orang lain.</p>
<p><strong>Kalau Anda tidak percaya pada standarisasi, bagaimana Anda bisa menilai sebuah karya? Sekarang kan banyak orang yang membuat standarisasinya masing-masing. Ada yang tak setuju soal seksualitas dalam karya sastra, ada yang setuju?</strong></p>
<p>Saya lebih suka menghargai orang yang sadar. Artinya kalau seseorang tidak suka pada sebuah karya tertentu dia jangan baca. Saya sadar bahwa selera seseorang atau sebuah komunitas itu tidak bisa dipaksakan untuk diterima oleh orang lain. Itu tidak boleh. Kalaupun itu terjadi, itu harus dilawan. Itu tidak boleh terjadi.</p>
<p><strong>Anda menyinggung soal komunitas, apakah Anda sepakat dengan munculnya komunitas-komunitas kesenian dan sastra di Indonesia?</strong></p>
<p>Secara pribadi saya menganggap komunitas itu perlu karena banyak hal positif yang bisa kita harapkan dari komunitas. Dulu waktu awal-awal jadi penulis saya tidak bergabung ke komunitas mana pun, sekarang juga saya tidak menjadi bagian dari komunitas mana pun. Artinya komunitas bisa diperlukan dalam arti ada tujuan tertentu yang bisa kita harapkan dari sebuah komunitas, misal sebagai tempat pembelajaran. Artinya itu tergantung kebutuhan penulis. Sebetulnya komunitas sastra itu tidak di Indonesia saja. Misalnya di Jerman selepas Perang Dunia Kedua, kesusastraan di sana ambruk seambruk-ambruknya karena banyak pemuda yang ikut berperang, bisa dikatakan tidak ada penulis, tidak ada penerbitan, pokoknya tidak ada yang mau menghidupkan dunia kesusastraan. Sehingga prajurit-prajurit yang pulang perang itu menjadi penulis dan menyebut diri mereka sebagai penulis muda, padahal umur mereka tak muda lagi, ada yang 40 tahun bahkan. Itu terjadi karena tak ada lagi yang muda. Mereka bikin komunitas yang dinamakan Grup 47 karena didirikan tahun 1947. Komunitas itu didirikan untuk mengisi kekosongan karena tidak ada penerbitan, diskusi. Dan dari komunitas itu dilahirkan penulis-penulis yang salah satunya menerima Nobel, Gunter Grass. Dia adalah anggota junior dari Grup 47 itu. Kemudian Grup 47 ini melahirkan banyak penulis yang cukup berpengaruh. Saking berpengaruhnya para penulis baru menganggap Grup 47 ini seolah-olah penentu segalanya, jadi hegemoni. Di sisi lain seorang penulis tak bisa bekerja sendiri karena dia membutuhkan penerbitan, membutuhkan jurnal kesusastraan, mau tidak mau kita harus membentuk sebuah komunitas. Dan ketika komunitas itu menjadi besar, muncul kesan ada hegemoni dari komunitas itu. Dan akibatnya kita bisa lihat muncul berbagai persoalan dari sana, ada pertentangan dan sebagainya. Jadi itu bukan terjadi di Indonesia saja.</p>
<p><strong>Bagaimana menurut Anda idealnya sebuah komunitas?</strong></p>
<p>Saya pikir mau tidak mau sebuah komunitas mestinya punya agenda tersendiri. Kalau tidak punya agenda saya pikir aneh kalau ada sekelompok orang mendirikan komunitas. Agenda-agenda dan kepentingan itu tidak mustahil akan berbenturan dengan komunitas lain dan itu sangat natural terjadi. Apakah komunitas seperti itu kontraproduktif dengan kesusastraan? Saya sendiri sering merasakan kebanyakan dari kita terlalu banyak berantemnya. Sehingga kalau saya melihat dari sudut pandang itu saya katakan itu kontraproduktif. Sebenarnya begini, bagi saya simpel <em>aja</em>. Kalau kita tidak suka dengan novel-ovel yang kita tidak suka ya <em>nggak</em> usah dibaca. Kalau kita punya standar estetika sendiri, ya kita tawarkan. Misalnya saya sendiri banyak tidak suka dengan beberapa genre dalam sastra, misalnya novel-novel populer tidak terlalu menarik bagi saya. Tapi daripada saya berdebat dan kemudian kita ngomong novel seperti itu harus dilarang karena tidak mendidik dan sebagainya, itu malah kontraproduktif. Bagi saya lebih kita cari novel yang kita suka dan kita menulis novel yang kita maui, itu malah produktif. Saya pikir adalah kontraproduktif kalau melarang orang melakukan sesuatu. Menurut saya itu cara yang sangat tidak beradab.</p>
<p><strong>Anda menulis sebuah karya non-fiksi tentang Pramoedya Ananta Toer. Dan agaknya Anda terinspirasi banyak darinya. Bisa diceritakan kenapa harus Pram?</strong></p>
<p>Saya suka Pram karena pertama dulu saya tak mengenal Pram sebagai orang yang banyak dibicarakan. Saya sendiri tak pernah baca karya Pram sebelumnya. Dari dulu sampai sekarang penulis yang paling saya suka adalah Kho Ping Hoo. Kemudian waktu kuliah saya baca <em>Bumi Manusia</em>. Buat saya pribadi di Indonesia ini cuma ada dua penulis favorit, Kho Ping Hoo dan Pram, karena mereka punya cara menceritakan sesuatu dengan asyik. Mungkin karena saya juga suka sejarah. Pram dan Kho Ping Hoo sama-sama ceritanya berlatarbelakang sejarah. Mereka juga punya teknik naratif yang sebetulnya sederhana, tapi justru karena kesederhanaannya itu saya jadi suka. Kita bisa terperangkap dalam ceritanya karena kesederhanaan teknik berceritanya. Bahkan bisa dibilang novel-novel Pram itu linier, strukturnya searah. Kalau ada percabangan itu pun sedikit. Kalau kita tercengang oleh alat yang canggih kan itu biasa, tapi kalau kita tercengang oleh alat yang sederhana, itu kan berarti ada sesuatu yang luar biasa.</p>
<p><strong>Indonesia termasuk negara yang paling memprihatinkan jika dilihat dari pelajaran sastra di sekolah. Anda punya pendapat soal ini?</strong></p>
<p>Sebenarnya pelajaran sastra itu yang paling sederhana. Saya yakin semua penulis itu belajar sastra dari membaca dan mereka belajar menulis itu dari meniru apa yang mereka baca. Untuk mengajarkan sastra di sekolah itu sebetulnya cukup beri saja buku ke sekolah-sekolah itu. Biarkan para siswa itu belajar sastra. Masalahnya sekarang kalau di sekolah ada banyak buku tapi para siswa tak mau baca, itu berarti ada hal lain yang lebih menarik bagi mereka. Dan kita tidak bisa mengatakan kalau hal lain itu tidak lebih baik daripada membaca buku.</p>
<div class="footnote">Wawancara ini sesungguhnya dilakukan persis setahun lalu, November 2007. Wawancara dilakukan di restoran Bakmi Gadjah Mada, di Jalan Sunda, dengan  <strong>Bonnie Triyana</strong>. Transkip perbincangan kami kemudian dimuat di <em>Jurnal Nasional</em>, 9 Desember 2007. Saya baru menemukan kliping korannya belum lama ini, karena ternyata terselip di dasar <em>mailbox</em>.</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/perlu-mengakrabi-sastra-mancanegara-532.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jose Saramago (Juga) Ngeblog</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/jose-saramago-juga-ngeblog-519.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/jose-saramago-juga-ngeblog-519.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Oct 2008 11:20:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Jose Saramago]]></category>
		<category><![CDATA[Nobel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=519</guid>
		<description><![CDATA[Jose Saramago, penulis <em>Baltazar &#38; Blimunda</em> dan <em>Blindness</em>, juga peraih Nobel Kesusastraan 1998, ternyata juga nge-blog. Asli, ia sendiri yang menulisnya. Sayang blognya dalam bahasa <a href="http://caderno.josesaramago.org/">Portugis</a> dan <a href="http://cuaderno.josesaramago.org/">Spanyol</a>. Tapi konon edisi Inggrisnya juga akan diluncurkan. Kedua versi (bahasa) blognya mempergunakan <a href="http://wordpress.org">Wordpress</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="dropcaps">J</span>ose Saramago, penulis <em>Baltazar &amp; Blimunda</em> dan <em>Blindness</em>, juga peraih Nobel Kesusastraan 1998, ternyata juga nge-blog. Asli, ia sendiri yang menulisnya. Sayang blognya dalam bahasa <a href="http://caderno.josesaramago.org/">Portugis</a> dan <a href="http://cuaderno.josesaramago.org/">Spanyol</a>. Tapi konon edisi Inggrisnya juga akan diluncurkan. Kedua versi (bahasa) blognya mempergunakan <a href="http://wordpress.org">WordPress</a>.</p>
<p>Meski sudah berumur 85 tahun, Saramago gaul juga. Kita tunggu saja, apa dia juga mau gabung di <a href="http://facebook.com">Facebook</a> dan <a href="http://friendster.com">Friendster</a> atau tidak, ya? Hehehe &#8230; Lihat, enggak seperti penulis tua lainnya, di foto Saramago juga tampaknya nyaman mengetik di depan komputer. Enggak tanggung-tanggung, ia pakai desktop dan juga laptop. Oke, deh kakek &#8230; <em>Yahoo Messenger</em>-an, yuk!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/jose-saramago-juga-ngeblog-519.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

