<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Eka Kurniawan Project &#187; Muslim</title>
	<atom:link href="http://ekakurniawan.com/blog/tag/muslim/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ekakurniawan.com</link>
	<description>Menulis dan petualangan-petualangan lainnya</description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Feb 2012 03:49:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Obama&#8217;s Quote</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/obamas-quote-668.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/obamas-quote-668.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Jan 2009 18:26:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Quote]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=668</guid>
		<description><![CDATA[To the Muslim world, we seek a new way forward, based on mutual interest and mutual respect. To those leaders around the globe who seek to sow conflict, or blame their society&#8217;s ills on the West — know that your people will judge you on what you can build, not what you destroy. To those [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>To the Muslim world, we seek a new way forward, based on mutual interest and mutual respect. To those leaders around the globe who seek to sow conflict, or blame their society&#8217;s ills on the West — know that your people will judge you on what you can build, not what you destroy. To those who cling to power through corruption and deceit and the silencing of dissent, know that you are on the wrong side of history; but that we will extend a hand if you are willing to unclench your fist.
</p></blockquote>
<p>- <a href="http://news.yahoo.com/s/ap/20090120/ap_on_go_pr_wh/inauguration_obama_text">Obama&#8217;s Inaguration Quote</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/obamas-quote-668.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Catatan Lebaran</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/catatan-lebaran-484.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/catatan-lebaran-484.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Sep 2008 07:08:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=484</guid>
		<description><![CDATA[Ini salah satu sudut desa tempat sekarang ibu saya tinggal. Lebaran ini sepertinya saya tidak pulang, dan sebagai gantinya berkali-kali harus menelepon ibu saya, menanyakan kabar mereka di rumah. Pertama, tentu karena saya malas menghadapi kemacetan di jalan. Meskipun jalur mudik ke selatan tidak semacet jalur ke timur, tetap saja pulang menjelang Lebaran bukan satu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_484" class="wp-caption aligncenter" style="width: 365px"><a href="http://farm3.static.flickr.com/2121/2415405659_0a1da372c6.jpg"><img src="http://farm3.static.flickr.com/2121/2415405659_0a1da372c6.jpg" alt="Ini salah satu sudut desa tempat sekarang ibu saya tinggal." title="Kersagalih" width="355" height="266" class="size-medium wp-image-484" /></a>
<p class="wp-caption-text">Ini salah satu sudut desa tempat sekarang ibu saya tinggal.</p>
</div>
<p></p>
<p>Lebaran ini sepertinya saya tidak pulang, dan sebagai gantinya berkali-kali harus menelepon ibu saya, menanyakan kabar mereka di rumah. Pertama, tentu karena saya malas menghadapi kemacetan di jalan. Meskipun jalur mudik ke selatan tidak semacet jalur ke timur, tetap saja pulang menjelang Lebaran bukan satu perjalanan yang mengasyikan. Lebaran-lebaran tahun sebelumnya, saya lebih suka pulang dua atau tiga hari selepas Lebaran, ketika orang-orang justru kembali ke Jakarta.</p>
<p>Kedua, jika tidak ada halangan, saya akan ke Jepang akhir November untuk bicara tentang novel saya yang bakal terbit, &#8220;Malam Seribu Bulan&#8221;, atas undangan Tokyo University of Foreign Studies. Masih dua bulan, tapi saya harus mengurus visa di tengah kantor-kantor (termasuk kedutaan) yang terkena dampak tanggal-tanggal merah. Juga kesibukan mengurus tahap akhir novel saya, sebab novel itulah yang akan saya bicarakan di Jepang. Saya memutuskan untuk mendesain dan menata-letak sendiri buku ini, seperti yang saya lakukan di buku-buku pertama saya. Kalaupun saya mudik, tampaknya itu setelah urusan-urusan ini selesai saja.<br />
<span id="more-484"></span><br />
Ketiga, kalau mudik, terlalu banyak yang harus dikunjungi dalam waktu yang singkat. Orang tua saya sekarang tinggal di Tasikmalaya, sementara adik-adik saya tinggal di Pangandaran. Jarak keduanya sekitar dua jam perjalanan dengan mobil pribadi, melalui jalur <em>shortcut</em>.</p>
<p>Sebelumnya, seluruh keluarga saya tinggal di Pangandaran. Di sana saya menghabiskan masa sekolah menengah saya. Rumah di Tasikmalaya merupakan rumah kakek-nenek saya, tempat saya dilahirkan sekaligus sekolah dasar. Tiga tahun lalu nenek saya meninggal, dan setahun lalu kakek saya juga meninggal. Rumah itu akhirnya kosong. Ibu dan ayah saya akhirnya memutuskan untuk menempatinya, sementara adik-adik saya tentu lebih suka tetap di rumah Pangandaran. Begitulah awal kerepotan: kalau pulang akhirnya mengunjungi Pangandaran, juga Tasikmalaya.</p>
<p>Setelah ayah saya kena serangan stroke dan kesehatannya memburuk, ia tidak lagi bisa bekerja. Ibu saya merawatnya, dan karena itu juga tidak bekerja. Daripada menjalani hidup yang agak membosankan karena tak banyak aktifitas, ibu dan ayah saya kemudian memilih pindah ke rumah di Tasikmalaya itu. Itu kampung halaman mereka, dengan teman-teman masa kecil mereka dan kerabat akan menjadi tetangga mereka. Saya dan adik-adik akhirnya merelakan keputusan mereka untuk tinggal berdua saja di rumah itu, terutama jika itu membuat mereka bisa lebih nyaman dan senang.</p>
<p>Beberapa waktu lalu saya mengunjungi mereka di rumah itu. Rumah tersebut terletak di desa, satu jam perjalanan dari kota Tasikmalaya. Rumahnya sudah berbeda dengan rumah waktu saya dilahirkan. Ketika saya kecil, rumah kakek-nenek itu masih berupa rumah panggung khas rumah Sunda. Lantainya terbuat dari lampit (sejenis tikar) terbuat dari kulit pohon kiray. (Ah, saya bahkan belum tahu apa nama Indonesia dari pohon kiray ini. Pohon ini keluarga pohon palma, mirip aren atau pohon sagu, tumbuh di tanah rawa yang banyak airnya, pohonnya pendek nyaris tak memiliki batang, tapi dengan daun-daun dan pangkal daun panjang-tinggi menjulang). Atapnya terbuat dari daun kiray yang dianyam, dengan ijuk di bubungannya. Dindingnya anyaman bambu. Udara di dalam rumah selalu terasa dingin. Rumah panggung itu sudah hilang sekarang, diganti dengan rumah bergaya modern: tembok yang tertanam ke tanah, dengan kamar mandi di dalam, dan atap genting. Ah, sementara orang-orang desa menghamburkan uang untuk membangun rumah-rumah tembok ini, orang-orang kota membeli dengan harga murah rumah panggung mereka!</p>
<p>Di rumah tembok itulah sekarang ibu dan ayah saya tinggal. Mungkin di tempat yang sama pula dulu ibu saya dilahirkan (saya belum pernah menanyakannya). Kenyataannya, meskipun tempat itu hanyalah desa dengan segala keterbatasannya sebagaimana kebanyakan desa-desa di Indonesia, ayah dan ibu saya tampaknya senang berada di sana. Ibu saya bahkan pergi ke sawah dan mengurus sawah peninggalan kakek dan nenek saya. Saya tak pernah melihat ibu saya bertani. Ayah saya bukan keluarga petani dan sejak mereka menikah, mereka bekerja di bidang yang tak ada sangkut-pautnya dengan bertani. Tapi paman-paman saya bilang, ketika masih gadis, seperti gadis desa kebanyakan, ibu saya juga pergi ke sawah membantu nenek saya. Maka dengan modal ingatan masa gadisnya, ibu saya kembali mengurus sawah-sawah milik nenek. Ia bahkan sudah mengirimkan berasnya ke adik-adik saya di Pangandaran. Ia juga menawari saya untuk membawa beras, tapi saya tidak mengambilnya. Selain berat, saya cuma tinggal berdua, dan lebih sering makan di luar.</p>
<p>Di Pangandaran mereka meninggalkan dua rumah. Satu rumah dibangun ayah saya di halaman masjid Al-Furqon (artinya, &#8220;Pembeda&#8221;, nama lain dari Al-Quran). Ayah suka sekali dengan rumah itu, sebab dekat dengan masjid. Ketika belum terkena stroke, ia boleh dikatakan imam masjid itu, meskipun ia tak suka dengan panggilan &#8220;kyai&#8221;. Ia memimpin salat berjamaah di situ, bergantian dengan beberapa yang lain. Juga memberi khotbah di Jumat siang. Ia juga mengajari anak-anak tetangga mengaji. Saya sendiri bisa dibilang tidak belajar mengaji ke ayah saya, sebab pelajaran mengaji saya bisa dikatakan &#8220;tamat&#8221; oleh nenek saya. Latar belakang tradisi agama kakek dan nenek saya adalah tradisi santri-santri NU (ada banyak pesantren kecil dan besar NU di Tasikmalaya), dan dengan tradisi seperti itulah saya diajar ketika kecil. Di sisi lain, ayah saya mengurus masjid Muhammadiyah, dan pikirannya yang lebih modern tampaknya lebih cocok dengan itu. Begitulah, jika salat tarawih, nenek dan kakek saya salat dua puluh satu rakaat, sementara ayah saya sebelas saja. Saya? Sering lewat &#8230;</p>
<p>Rumah dekat masjid itu akhirnya ditempati adik saya yang sudah menikah. Rumah satu lagi ditempati dua adik saya yang lain. Saya punya lima orang adik. Dua yang lain tinggal di Yogyakarta. Jika pulang ke Pangandaran, rumah itu jadi terasa sepi. Kamar-kamar banyak yang kosong. Apalagi adik saya yang paling kecil, sudah remaja, lebih suka tidur di luar rumah, terutama di rumah teman-temannya (seperti saya juga begitu ketika seumur dengannya). Jika siang, ia bermain sepakbola. Kalaupun ada di rumah, ia asyik sendiri bermain PlayStation. Adik saya yang perempuan, yang tinggal bersamanya, pergi mengajar di sekolah menengah atas. Satu-satunya yang memenuhi keinginan kakek saya agar salah satu cucunya ada yang menjadi guru. Saya punya kamar di loteng, tempat saya menyimpan buku-buku zaman kuliah. Untunglah seorang sepupu saya sekarang tinggal di kamar itu, menjadikan rumah tersebut tak terlalu sepi.</p>
<p>Ce la vie, begitu kata orang Prancis. Adik saya yang tinggal di Yogya sempat menangis, kenapa kami harus tinggal terpencar-pencar begitu. Tapi peristiwa keluarga ini membuat kami bisa lebih bersikap toleran, dan melupakan ego sendiri. Jika di keluarga lain yang sering terjadi adalah anak-anak yang harus meninggalkan rumah untuk mimpi-mimpi mereka dan orang tua harus merelakannya; di keluarga saya yang terjadi adalah, kedua ayah dan ibu kami meninggalkan rumah untuk memilih cara hidup mereka sendiri. Mereka lebih menyukai kehidupan desa dimana ikan masih dipelihara di kolam dan pisang dimakan dari pohonnya. Saya dan adik-adik harus merelakannya.</p>
<p>Lebaran ini adik-adik saya pergi ke Tasikmalaya, menengok ayah dan ibu. Mungkin saat-saat lebaran seperti inilah, sebagaimana kebanyakan keluarga, mereka berkumpul. Sayang, sepertinya tahun ini saya tak akan ada di sana.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/catatan-lebaran-484.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Abu Nawas</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/abu-nawas-221.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/abu-nawas-221.php#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Jul 2008 09:12:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=221</guid>
		<description><![CDATA[Abu Nawas, merupakan penyair gay pertama di dunia muslim? Wallahu&#8217;alam. Saya malah berpikir itu tokoh fiktif. Baca di sini.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Abu Nawas, merupakan <a href="http://www.androphile.org/preview/Library/Mythology/Arabian/AbuNuwas/AbuNuwasBio.html">penyair gay pertama di dunia muslim</a>? <em>Wallahu&#8217;alam</em>. Saya malah berpikir itu tokoh fiktif. <a href="http://www.androphile.org/preview/Library/Mythology/Arabian/AbuNuwas/AbuNuwasBio.html">Baca di sini</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/abu-nawas-221.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rushdie dan Dunia yang Tak Lagi Senyap</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/rushdie-dan-dunia-yang-tak-lagi-senyap-101.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/rushdie-dan-dunia-yang-tak-lagi-senyap-101.php#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Mar 2008 15:03:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan]]></category>
		<category><![CDATA[Booker Prize]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Salman Rushdie]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekakurniawan.com/blog/?p=101</guid>
		<description><![CDATA["Jangan tinggalkan aku sekarang, atau aku tak akan memaafkanmu, dan aku akan membalas dendam, aku akan membunuhmu dan jika kau punya anak dari lelaki lain aku akan membunuh anak-anak itu juga," demikian kata Shalimar sang pencinta Muslim di pertengahan <em><a href="http://www.amazon.com/exec/obidos/ASIN/0679783482/ref=nosim/bumimanusia-20">Shalimar the Clown</a></em>.

Boonyi, sang kekasih Hindu, menjawab ancaman itu dengan enteng: "Betapa romantisnya kamu, mengatakan hal termanis!"]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Jangan tinggalkan aku sekarang, atau aku tak akan memaafkanmu, dan aku akan membalas dendam, aku akan membunuhmu dan jika kau punya anak dari lelaki lain aku akan membunuh anak-anak itu juga,&#8221; demikian kata Shalimar sang pencinta Muslim di pertengahan <em><a href="http://www.amazon.com/exec/obidos/ASIN/0679783482/ref=nosim/bumimanusia-20">Shalimar the Clown</a></em>.</p>
<p>Boonyi, sang kekasih Hindu, menjawab ancaman itu dengan enteng: &#8220;Betapa romantisnya kamu, mengatakan hal termanis!&#8221;<br />
<span id="more-101"></span><br />
Pertama kali dikenal dunia melalui <em><a href="http://www.amazon.com/exec/obidos/ASIN/0812976533/ref=nosim/bumimanusia-20">Midnight&#8217;s Children</a></em>, gayanya yang kompleks dan cenderung satir terhadap politik, sejarah dan agama (Islam) selalu mendatangkan kontroversi. Itulah <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Salman_Rushdie">Shalman Rushdie</a>. Puncaknya ketika ia menerbitkan <em><a href="http://www.amazon.com/exec/obidos/ASIN/0312270828/ref=nosim/bumimanusia-20">The Satanic Verses</a></em> yang menuai badai kemarahan dimana-mana dan mengharuskan sang pengarang bersembunyi bertahun-tahun, meski permintaan maaf sudah diberikannya. Peristiwa itu memberinya dua keadaan yang eksterm: ketakutan dan kemasyhuran laksana selebritas. Perlindungan ketat sekaligus perayaan berlebihan sebagai martir &#8220;kebebasan berekspresi&#8221;.</p>
<p>Akhir tahun 2005 lalu, novel kesembilannya baru saja terbit, <em>Shalimar the Clown</em>. Berkisah mengenai pembunuhan duta besar Amerika untuk India oleh sopir pribadinya yang berdarah Kashmir, Rushdie kembali dengan tema favoritnya tersebut. &#8220;Untuk hidup kembali,&#8221; katanya dalam <em>The Satanic Verses</em>, &#8220;kau harus mati terlebih dahulu.&#8221; Apa boleh buat, kepopuleran yang diperolehnya melalui <em>Midnight&#8217;s Children</em> dan <em>The Satanic Verses</em> terasa seperti membunuhnya. Usahanya untuk membebaskan diri dari bayang-bayang kedua novel tersebut (yang pertama disebut-sebut sebagai karya terbaiknya, peraih Booker of <a href="http://www.themanbookerprize.com">Booker Prize</a>, yang kedua karena kontroversi yang mengikutinya, meski juga memperoleh <a href="http://www.costabookawards.com/">Whitbread Prize</a>) dalam novel-novel berikutnya, serasa semakin membenamkannya dalam-dalam. Dua novel terakhirnya bahkan dianggap yang terburuk, jika tidak bisa dikatakan gagal belaka.</p>
<p>Ditulis oleh orang yang telah mengalami sendiri teror atas nama agama jauh sebelum dunia mengalaminya, <em>Shalimar the Clown</em> disebut-sebut sebagai kelahirannya kembali, disebut-sebut sebagai upayanya kembali ke tradisi awal kreatifnya, ke novel dengan kompleksitas cerita berskala saga. Barangkali berlebihan, barangkali tidak, tapi kehadiran novel ini disambut baik dalam situasi dunia yang diwarnai ketegangan dunia Barat dan Islam selepas peristiwa 11/09. Rushdie, yang sejak awal berada dalam pergumulan kedua dunia tersebut (kumpulan cerita pendeknya secara eksplisit diberi judul <em><a href="http://www.amazon.com/exec/obidos/ASIN/0099533014/ref=nosim/bumimanusia-20">East, West</a></em>), ditengok dan diperbincangkan kembali.</p>
<p>Tradisi kepenulisan Rushdie sendiri masih berada di gerombolan orang-orang keranjingan serupa <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Gunter_Grass">Gunter Grass</a> atau <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Italo_Calvino">Italo Calvino</a>. Ia memadukan tradisi realisme magis dengan tradisi oral India, sejarah, politik dan sosiologi agama, serta sedikit sentuhan sains fiksi di beberapa novelnya (terutama novel pertamanya, <em><a href="http://www.amazon.com/exec/obidos/ASIN/0812969995/ref=nosim/bumimanusia-20">Grimus</a></em>). Banyak pembaca sering melihat karya Rushdie sebagai sejenis metafor. Saleem Sinai dalam <em>Midnight&#8217;s Children</em> yang lahir tepat pada 15 Agustus 1947, hari kemerdekaan India, sebagai metafor untuk India sendiri. Mahound dalam <em>The Satanic Verses</em> sebagai Nabi Muhammad. Maka pembunuhan duta besar Amerika oleh seorang sopir yang Muslim dalam <em>Shalimar the Clown</em>, tak pelak membuat orang menafsirkannya sebagai sejenis metafor pula, yang tentu saja merupakan sesuatu yang sah. Hal ini ditambahi oleh kenyataan bahwa putri Maxmilian Ophuls, sang duta besar, juga diberi nama India, sebelum kelak menggantinya sendiri dengan nama Kashmir.</p>
<p>Pembunuhan itu sendiri sesungguhnya merupakan kisah cinta dan balas dendam yang sederhana. Tapi di balik itu, memang membentang konflik berkepanjangan, masa lalu maupun masa sekarang. Begitulah kemudian bagaimana peristiwa pembunuhan ini berbiak menjadi semacam pembunuhan politis. Berawal di tahun 1991, bergerak maju dan mundur, di tangan Rushdie kisah sederhana ini bisa menjadi begitu kompleks, berbaur dengan keajaiban, perang yang brutal, cinta terlarang antara pemuda Muslim dan gadis anak pendeta Hindu, dan perjalanan melintasi benua dari California ke Kashmir, Prancis, Inggris sebelum kembali ke California. Apakah sebagai seorang pencerita, yang menemukan kemilaunya juga antara lain melalui <em><a href="http://www.amazon.com/exec/obidos/ASIN/0571196934/ref=nosim/bumimanusia-20">Haroun and the Sea of Stories</a></em>, Rushdie telah kembali? Tentu perlu dibuktikan dengan membacanya.<br />
<center>***</center><br />
Seperti Saleem Sinai dalam <em>Midnight&#8217;s Children</em>, Salman Rushdie dilahirkan di Bombay tahun 1947 dari sebuah keluarga kelas menengah Muslim dan hijrah ke Pakistan ketika negara itu terbagi dua. Seperti Saladin Chamcha dalam <em>The Satanic Verses</em>, Rushdie mengenyam pendidikannya di Inggris. Kedua novel pertamanya ditulis di tengah waktu luangnya sebagai <em>copywriter</em> di sebuah biro iklan, sebelum ia memutuskan sepenuhnya sebagai penulis. Beruntung, setelah diterbitkan tahun 1981, <em>Midnight&#8217;s Children</em> memperoleh kesukseskan yang mencengangkan. Selain beberapa penghargaan terhormat, novel tersebut terjual seperempat juta kopi dalam tiga tahun pertama dan diterjemahkan ke lebih dari selusin bahasa.</p>
<p>Novel ini ditulis dalam bahasa Inggris, oleh orang yang pada saat itu telah berkebangsaan Inggris, tapi berkisah mengenai India dan Pakistan. Barangkali novel Inggris tentang India terbaik sejak <em><a href="http://www.amazon.com/exec/obidos/ASIN/0140620494/ref=nosim/bumimanusia-20">Kim</a></em> <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Rudyard_Kipling">Rudyard Kipling</a>. Tapi bagaimanapun, dengan berbagai cara, Rushdie selalu dilihat sebagai orang India, sesuatu yang menjadi sangat penting untuk melihat sudut pandang yang dipakai dalam novel-novelnya dan bukan semata-mata karena nama dan warna kulitnya. Berbeda dengan <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/V._S._Naipaul">V.S. Naipaul</a> yang sama-sama eksil, Rushdie tidak mencerabut diri dari akar-akarnya, malahan sebaliknya, ia selalu kembali ke pokok soal India.</p>
<p>Sebagaimana <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Milan_Kundera">Milan Kundera</a> yang selalu merayakan Ceko meski justru terusir dari sana. Mereka menambah deretan penulis yang eksil, baik secara terpaksa maupun atas pilihan sendiri. Rushdie tergolong penulis yang kedua, dimana keeksilan justru dipergunakan untuk melihat akar secara lebih berjarak.</p>
<p>Demikianlah dalam <em>Shalimar the Clown</em>, ia kembali untuk menengok Kashmir. Bagian mengenai Kashmir, malah bisa dikatakan bagian yang paling indah dalam novel ini, dibandingkan misalnya, penelusuran jejak Max Ophuls yang cenderung garing. Jika dalam <em>Midnight&#8217;s Children</em> dan <em>The Satanic Verses</em>, metafor Rusdhie tentang hal di luar tokoh-tokoh novel itu sendiri (India dalam <em>Midnight&#8217;s Children</em> misalnya) sama sekali tak pernah mengganggu keutuhan tokoh atau kisah sebagai sesuatu yang mandiri, sebaliknya terjadi dalam <em>Shalimar the Clown</em>. Dalam novel terbarunya ini, setiap tokoh tampak dipenuhi beban identitasnya. Shalimar kehilangan identitas pribadinya yang mandiri, dan harus terus-menerus diverifikasi sebagai seorang Muslim yang kemudian memperoleh identitas tambahan: fundamentalis. Demikian pula Max Ophuls: Yahudi Amerika, penguasa tanpa batas yang bisa merenggut apa pun.</p>
<p>Tapi bagaimanapun, Rushdie mengembalikan apa yang luput dari perhatian orang dan halaman depan surat kabar: Kashmir. &#8220;Untuk kenangan indah kakek-nenek Kashmirku, Dr. Ataullah dan Amir un nissa Butt,&#8221; kata Rushdie. Kashmir, bagi Rushdie, ibarat sebuah surga yang hilang, sebuah urusan yang memang sangat personal. Berawal sebagai peristirahatan musim panas para koloni Inggris yang penuh kedamaian, neraka itu datang sejak masa Perpisahan dimana Kashmir mulai terbagi dua. Sebuah wilayah kecil dikuasai Pakistan, sementara wilayah paling besar, dikuasai India dalam keadaan terus bergejolak. Konflik sektarian mengoyak-oyak tempat itu, diperebutkan penduduk yang mayoritas Muslim dan pemerintahan Hindu.</p>
<p>Meskipun begitu, kali ini <em>Shalimar the Clown</em> tidak ditulis orang yang barangkali menulis dalam keadaan ketika ia menulis <em>Midnight&#8217;s Children</em> atau bahkan <em>The Satanic Verses</em>. Hidup enam belas tahun di bawah fatwa mati Khomeini, yang pastinya tetap banyak dipegang teguh para fundamentalis, dan tinggal di perumahan mewah Manhattan, Rushdie bukan lagi seorang penulis dari dunia ketiga. Novel ini menjadi sejenis satir orang Barat yang melihat langit runtuh di sebuah dunia yang jauh, meskipun Rushdie mencoba bijak dengan mengatakan: &#8220;Tempat mana pun merupakan bagian tempat lainnya. Rusia, Amerika, London, Kashmir. Hidup kita, cerita kita, mengalir ke satu dan lain tempat, yang tak lagi milik kita, pribadi, terpisah … Dunia tak lagi hening.&#8221; </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/rushdie-dan-dunia-yang-tak-lagi-senyap-101.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

