<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Eka Kurniawan Project &#187; Musik</title>
	<atom:link href="http://ekakurniawan.com/blog/tag/musik/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ekakurniawan.com</link>
	<description>Menulis dan petualangan-petualangan lainnya</description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Feb 2012 03:49:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Slash dan Konser Obat Sakit Hati</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/slash-dan-konser-obat-sakit-hati-2147.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/slash-dan-konser-obat-sakit-hati-2147.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Aug 2010 10:17:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan]]></category>
		<category><![CDATA[Guns N' Roses]]></category>
		<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Slash]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/wordpress/slash-dan-konser-obat-sakit-hati-2147.php</guid>
		<description><![CDATA[Saya bertemu seorang teman di depan pintu masuk pertunjukan &#8220;Slash World Tour, Featuring Myles Kennedy&#8221;. Teman saya tampak berseri-seri, membawa serta sekitar 50 orang temannya, sambil berkomentar, &#8220;Kita menunggu ini selama 15 tahun!&#8221; Mungkin dia ada benarnya. Kalau mau dihitung lebih tepat, saya sudah ingin melihat Slash (lebih tepatnya seluruh personil Guns N&#8217; Roses) sejak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>
<p><a href='http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2010-08-04/HhAEBxtdfswHeeDAhFyjlGghlrAoIcsHEfwpapCAavpEfABffAzevCHIqqzx/slash-poster.jpg.scaled1000.jpg'><img src="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2010-08-04/HhAEBxtdfswHeeDAhFyjlGghlrAoIcsHEfwpapCAavpEfABffAzevCHIqqzx/slash-poster.jpg.scaled500.jpg" width="500" height="375"/></a> </p>
<p>Saya bertemu seorang teman di depan pintu masuk pertunjukan &#8220;Slash World Tour, Featuring Myles Kennedy&#8221;. Teman saya tampak berseri-seri, membawa serta sekitar 50 orang temannya, sambil berkomentar, &#8220;Kita menunggu ini selama 15 tahun!&#8221;</p>
<p>Mungkin dia ada benarnya. Kalau mau dihitung lebih tepat, saya sudah ingin melihat Slash (lebih tepatnya seluruh personil Guns N&#8217; Roses) sejak dua puluh tahun lalu. Tapi hasrat itu sejujurnya memudar (dengan perasaan seperti ditinggal pacar) saat mereka bubar (lebih tepatnya, sejak Guns N&#8217; Roses hanya menyisakan Axl Rose seorang diri). Harapan itu semakin memudar dari tahun ke tahun, bersama dengan selera musik saya yang berkembang dan berganti-ganti.</p>
<p><span id="more-2147"></span></p>
<p>Tapi rupanya sihir itu tak lenyap begitu saja. Ketika Axl merilis album atas nama Guns N&#8217; Roses, <em>Chinese Democracy</em>, saya tetap membeli dan mendengarkannya. Ketika Slash meluncurkan album <em>R &amp; R</em>, saya juga membeli dan mendengarkannya. Puncaknya ketika Slash akhirnya datang untuk konser bersama Myles Kennedy di Istora Senayan, 3 Agustus 2010 kemarin, saya memutuskan untuk membeli tiket dan menontonnya. Dengan itu, saya mencoba berdamai kembali dengan masa remaja saya.</p>
<p>Pada tahun 1989, saya masih berumur 14 tahun. Untuk ukuran anak yang tinggal di kota kecil (Pangandaran) yang tak memiliki toko kaset, toko buku maupun bioskop (pernah ada bioskop, tapi kemudian ditutup kembali), saya mungkin anomali: saya suka membaca (yay, hingga akhirnya menjadi seorang penulis novel), saya suka menonton film (saya menulis ratusan episode film tv), dan saya suka mendengarkan musik (hanya karena tahu diri saja, saya tidak jadi anak band).</p>
<p>Perkenalan saya dengan musik terjadi melalui seorang oom, yang kemudian tinggal bersama kami. Dia memperkenalkan saya dengan Genesis, Toto, REM. Juga musik-musik populer saat itu: New Kids on the Block, Jason Donovan, Madonna, Roxette. Tapi dengan cepat saya memperoleh selera sendiri: musik hardrock. Saya mulai mendengarkan Guns N&#8217; Roses, Metallica, Motley Crue, Nirvana, Pearl Jam, Skid Row.</p>
<p>Guns N&#8217; Roses memperoleh tempat tersendiri di masa remaja saya. Pertama kali mendengar lagu mereka melalui Knockin&#8217; on Heaven&#8217;s Door di album OST <em>Days of Thunder</em>. Tahun 1991, ketika <em>Use Your Illusions I &amp; II</em>&nbsp;keluar, saya mungkin salah satu anak remaja pertama yang memiliki album itu di Pangandaran. Setahun kemudian saya sudah memiliki album <em>Appetite for Destruction</em>&nbsp;dan <em>GN&#8217;R Lies</em>. Personil favorit saya sebenarnya bukan Axl Rose maupun Slash, tapi Izzy Stradlin&#8217;. Saya suka dengan penampilan kalemnya, dan terutama, kemampuannya menciptakan lagu dan lirik.</p>
<p>Lirik-lirik lagu yang diciptakan Izzy bagi saya membuat GN&#8217;R berkarakter. Lirik-liriknya lebih kasar, penuh kritik dan sindiran, sekaligus penuh metafora mengejutkan. Axl memang penulis lirik lagu juga, tapi lirik Axl terasa lebih manis buat saya. Saat-saat itu pula, saya mulai sering mengurung diri di kamar, memainkan gitar dan menulis lagu. Jika tak salah ingat, mungkin puluhan lagu saya bikin saat itu. Karena tak percaya diri, saya hanya menyimpan sendiri lagu-lagu tersebut hingga hilang tak karuan.</p>
<p>Seperti anak-anak lainnya, tentu saja saya pernah bermimpi jadi anak band. Tentu saya pernah mengalami pergi ke studio musik bersama teman-teman, dan ngeband. Tapi segera saya sadar, menjadi penulis lebih cocok buat saya. Meskipun begitu, kecintaan saya terhadap musik tak juga hilang. Juga terhadap Guns N&#8217; Roses.</p>
<p>Hingga akhirnya mereka bubar. Lebih tepatnya, personilnya dipecat semua hingga hanya menyisakan seorang Axl Rose. Masa-masa itu bersamaan dengan bunuh dirinya Kurt Cobain, dan berakhir pula legenda singkat Nirvana. Si anak remaja yang baru lulus SMA, merasa tak yakin lagi, apakah ia harus menyukai musik kembali? Band-band yang disukainya tak lagi ada. Harapan untuk melihat konser mereka sirna. Bahkan harapan untuk mendengar lagu-lagu baru mereka juga punah.</p>
<p>Itu masa-masa yang tidak enak buat saya. Kalau dipikir saat ini, rasanya aneh sekali, betapa besar pengaruh kedua band itu (GN&#8217;R dan Nirvana) kepada saya, sampai saya malas mendengarkan musik lagi. Selama beberapa tahun, saya nyaris tak tahu band-band baru, lagu-lagu baru. Bisa dibilang saya tak lagi membeli album siapa pun. Tapi sisi baiknya: saat-saat itu saya mulai banyak membaca buku, pergi menonton film lebih sering.</p>
<p>Baru di tahun-tahun terakhir, terutama setelah saya lulus kuliah, saya berdamai kembali dengan musik. Kembali mendengarkan lagu-lagu GN&#8217;R atau Nirvana rada menyakitkan hati untuk saya saat itu. Tapi mendengarkan band-band baru juga terasa aneh. Saat itulah saya mencoba mendengarkan lagu-lagu lama, dan awal petualangan saya dengan musik Rolling Stones (yay, sebenarnya GN&#8217;R pula yang memperkenalkan saya dengan mereka jauh hari melalui lagi &#8220;Sympathy for the Devil&#8221;, &#8220;Dead Flowers&#8221; dan &#8220;Salt of the Earth&#8221;), Queen (lewat GN&#8217;R juga, saya melihat video Tribute to Freddy Mercury, Axl menyanyikan &#8220;Bohemian Rhapsody&#8221; bersama Elton John, dan &#8220;We Will Rock You&#8221;).</p>
<p>Tapi itu berhasil membuat saya mendengarkan kembali musik. Terutama sebenarnya musik barat. Bagusnya, mungin karena umur, selera saya juga bertambah. Saya mendengarkan kembali Genesis, REM yang sudah saya kenal sebelumnya. Saya juga kembali mendengarkan band-band 90an, meskipun tak langsung mendengarkan GN&#8217;R dan Nirvana: melalui Pearl Jam. Saya juga mulai mendengarkan beberapa musik hiphop.</p>
<p>Sebenarnya baru ketika Axl mengeluarkan <em>Chinese Democracy</em>&nbsp;saya mulai mendengarkan kembali lagu-lagu mereka. Saya membeli kembali album-album mereka, video konser di Tokyo, video Welcome to the Video.</p>
<p>Hingga Slash datang ke Jakarta.</p>
<p>Awalnya saya tak ingin menontonnya. Sejujurnya saya masih sakit hati kenapa mereka bubar. Istri saya menyuruh saya menonton, tahu pasti saya menginginkannya. Tapi dia tidak mengerti rasa kecewa saya, yang saya simpan bertahun-tahun. Tentu saja saya tidak bisa menyalahkan mereka: personil band masuk dan keluar, band berdiri dan bubar, itu hal biasa. Selama bertahun-tahun saya menyalahkan diri saya sendiri: kenapa mencintai musik mereka sedemikian rupa.</p>
<p>Tapi berkali-kali saya meyakinkan diri sendiri: musik mereka memang penting mengisi masa remaja saya, dan sampai saat ini harus saya akui, musik mereka masih tetap hebat. Tapi saya juga harus sadar, saya sudah mendengarkan lebih banyak musik, dan banyak yang lebih hebat dari yang pernah mereka buat. Lagipula, hidup saya masih baik-baik saja, bahkan mungkin jauh lebih baik, ketika mereka tak lagi menciptakan musik. Saya sudah berhasil melewati masa-masa sulit kehidupan remaja saya.</p>
<p>Begitulah, di dua hari terakhir, saya pergi ke penjualan tiket dan memperoleh satu tiket.</p>
<p>Meskipun begitu, tetap saja saya lebih berharap mendengarkan lagu-lagu GN&#8217;R di konser Slash. Saya pikir demikian pula penonton lain di Istora Senayan malam tadi. Saya hanya mendengar sambil lalu lagu-lagunya bersama Velvet Revolver. Lagu-lagu solonya yang baru beredar, belum cukup lama untuk akrab di telinga. Saya hanya mendengar lagu &#8220;Starlight&#8221; yang dibawakan Myles Kennedy secara berulang-ulang. Selebihnya, saya ingin menonton Slash membawakan lagu-lagu GN&#8217;R.</p>
<p>Pertunjukan Slash dibuka dengan lagu &#8220;Ghost&#8221; dari album solonya. Lagu itu aslinya dinyanyikan oleh Ian Astbury. Tapi Myles Kennedy mampu mencengangkan saya. Dia penyanyi hebat yang tampaknya bisa membawakan lagu apa saja. Dan memang begitu. Dan tebakan saya soal penonton yang ingin mendengarkan lagu-lagu GN&#8217;R benar adanya. Ketika intro lagu &#8220;Nightrain&#8221; terdengar, penonton segera berdiri dan berteriak histeris. Demikian pula ketika Myles bilang ia akan membawakan lagu &#8220;Civil War&#8221;. Penonton kembali histeris dan ikut menyanyikan lagu tersebut.</p>
<p>Momen yang paling mengharukan untuk saya sebenarnya adalah ketika Slash membawakan solo gitar. Selama bertahun-tahun, jika saya ingin mendengar musik mereka, saya sering memutar video konser mereka di Tokyo. Bagian yang paling saya suka adalah ketika Slash membawakan solo gitar, membawakan lagu &#8220;Love Story&#8221; dari OST film <em>Godfather</em>. Saking sukanya bagian itu, saya sering mencoba menirukannya setiap kali saya memegang gitar. Sungguh saya tak mengira, Slash membawakan lagu itu secara solo, persis sebagaimana saya sering melihatnya di video.</p>
<p>Apalagi selepas solo itu, persis seperti dugaan saya, Slash menyambungnya dengan intro &#8220;Sweet Child O&#8217; Mine&#8221;. Semua penonton mengetahui lagu itu dan serempak kembali bernyanyi. Selain lagu-lagu itu, Slash juga membawakan lagu GN&#8217;R dari <em>Appetite</em>, &#8220;Rocket Queen&#8221;.</p>
<p>Tebakan saya kembali benar. Konser ini akan ditutup dengan lagu GN&#8217;R lain: &#8220;Paradise City&#8221;. Hits lama dari album pertama mereka. Di album solonya, Slash menggandeng Fergie (penyanyi The Black Eyed Peas) untuk menyanyikan lagu ini, dan menurut saya, vokal Fergie sungguh keren menyanyikan lagu &#8220;Paradise City&#8221;. Apalagi ditambah vokal rapper Cyperss Hill. Di konser ini, Myles kembali menunjukkan kapasitasnya sebagai penyanyi papan atas. Saya berani bilang, selain Slash, Myles memang bintang pertunjukan ini.</p>
<p>Pertunjukan sudah usai. Dua puluh tahun sudah berlalu sejak saya pertama kali mendengar musik GN&#8217;R. Saya berharap dengan ini, saya bisa sedikit membebaskan diri dari harapan-harapan anak remaja yang kecewa. Personil band datang dan pergi. Band baru datang, band lama bubar. Itu hal lumrah terjadi di setiap zaman dan di setiap tempat. GN&#8217;R dan Slash mungkin representasi harapan-harapan saya yang tak terjadi. Saya harus menerima, kekecewaan juga hal paling lumrah dalam hidup sehari-hari.</p>
<p>Semoga bisa berjumpa kembali, Slash!</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/slash-dan-konser-obat-sakit-hati-2147.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Marina and The Diamonds</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/marina-and-the-diamonds-2143.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/marina-and-the-diamonds-2143.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Jul 2010 10:12:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan]]></category>
		<category><![CDATA[Marina and The Diamonds]]></category>
		<category><![CDATA[Musik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/wordpress/marina-and-the-diamonds-2143.php</guid>
		<description><![CDATA[Hollywood infected your brain You wanted kissing in the rain Living in a movie scene Puking American dreams I’m obsessed with the mess that’s America - Marina and the Diamonds, Hollywood Saya baru saja mendownload lagu &#8220;Seventeen&#8221; dari Marina and the Diamonds (free dari websitenya). Boleh dibilang, dia salah satu penyanyi favorit saya. Pertamakali mendengar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>
<p><img src="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2010-07-28/nAibFiBBDAxCFtfFJzijxtwcdtBwaoAfFGBItpvbyBDChHiDrimEnxikhict/thefamilyjewels.jpg.scaled500.jpg" width="210" height="210"/> </p>
<blockquote><p>Hollywood infected your brain <br />You wanted kissing in the rain <br />Living in a movie scene <br />Puking American dreams <br />I’m obsessed with the mess that’s America <br /><cite>- Marina and the Diamonds, <em>Hollywood</em></cite> </p></blockquote>
<p>Saya baru saja mendownload lagu &#8220;Seventeen&#8221; dari Marina and the Diamonds (free dari websitenya). Boleh dibilang, dia salah satu penyanyi favorit saya.
<p /> Pertamakali mendengar lagunya melalui saluran teve &#8220;V&#8221;, dengan videoklip &#8220;Hollywood&#8221; versi akustik. Lagu dan vokalnya terasa unik, sehingga selama beberapa waktu, saya sering hanya menyetel saluran teve musik (V atau MTV), untuk menunggu klip lagu tersebut. Tak berapa lama, klip lagu tersebut muncul yang versi original. <br /><span id="more-2143"></span> <br />Selama beberapa hari, saya mencoba bertanya-tanya kepada siapa pun apakah ada yang mengenal Marina and the Diamonds? Nggak ada yang menanggapi. Tentu saja untuk ukuran pendatang baru, serta fakta vokal dan musiknya bukan pop biasa, bukan hal yang gampang untuk beredar di peta musik. Tampaknya bahkan radio-radio Jakarta saat itu tak ada yang memutarnya.
<p /> Saya sempat berkeliling toko musik Jakarta untuk memperoleh albumnya, <em>The Family Jewels</em>. Saya pesimis ada label Indonesia yang sudah merilis album tersebut, tapi saya mencoba optimis mungkin ada toko musik yang mengimpor dan menjualnya. Hasilnya nihil. Tapi akhirnya, dengan berbagai upaya, akhirnya saya bisa memperoleh album tersebut.
<p /> Hasilnya? Inilah album musik yang paling saya nikmati dalam beberapa bulan terakhir. Saya membeli beberapa album musik dari penyanyi/band lain, tapi selalu kembali mendengarkan lagu-lagunya. Di laptop, saat sedang bekerja, saya membiarkannya bernyanyi di iTunes. Jika sedang jalan-jalan di mal, saya dengarkan lewat iPod. Bahkan saya masukan pula file satu album ke handphone saya.
<p /> Saya tak mengerti banyak musik, tapi saya suka mendengarkan musik. Saya mungkin tak bisa menerangkan, kenapa musik tertentu enak didengar dan saya suka. Tapi barangkali musik tak perlu keterangan apa pun. Meskipun begitu, saya tak keberatan untuk merekomendasikan Marina agar kamu dengar. Kamu bisa googling namanya (nama lengkapnya: Marina and the Diamonds) untuk mencari tahu dia. Kunjungi <a href="http://www.marinaandthediamonds.com/" title="Marina and the Diamonds" target="_blank">websitenya</a>, dia sering memberi lagunya secara gratis. Tinggal download.
<p /> Kalau kamu sudah mendengarkan lagu-lagunya, entah suka atau tidak, sila berbagi dengan saya.</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/marina-and-the-diamonds-2143.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Diana Rahasia Hatiku</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/diana-rahasia-hatiku-2097.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/diana-rahasia-hatiku-2097.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Jul 2010 08:57:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan]]></category>
		<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Pertunjukan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=2097</guid>
		<description><![CDATA[Pertama-tama, saya lebih merasa ini sebuah konser daripada drama musikal. Kedua, hmm ... pertunjukan ini mengingatkan saya (juga kamu sekalian yang sudah menonton keduanya, saya yakin) dengan film "Across the Universe". Apalagi fakta bahwa pertunjukan ini berdasarkan lagu-lagu Koes Plus, sementara film itu berpijak pada lagu-lagu The Beatles.

Ketiga, saya kok merasa pertunjukan ini seperti pertarungan antara sutradara (Garin Nugroho), penata musik (Yockie Suryoprayogo), dan kareografer (Eko Supriyanto). Dan siapa yang menang?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pertama-tama, saya lebih merasa ini sebuah konser daripada drama musikal. Kedua, hmm &#8230; pertunjukan ini mengingatkan saya (juga kamu sekalian yang sudah menonton keduanya, saya yakin) dengan film &#8220;Across the Universe&#8221;. Apalagi fakta bahwa pertunjukan ini berdasarkan lagu-lagu Koes Plus, sementara film itu berpijak pada lagu-lagu The Beatles.</p>
<p>Ketiga, saya kok merasa pertunjukan ini seperti pertarungan antara sutradara (Garin Nugroho), penata musik (Yockie Suryoprayogo), dan kareografer (Eko Supriyanto). Dan siapa yang menang?<br />
<span id="more-2097"></span><br />
Pertunjukan ini dihelat dalam rangka ulang tahun Kompas yang ke-45. Sebagai gagasan, saya bahkan sudah mendengar ide drama musikal lagu-lagu Koes Plus ini sejak ulang tahun yang lalu. Naskah ditulis oleh Bre Redana dan Agus Noor. Perpaduan antara gaya dongeng Bre (ya, ada kisah tentang kelelawar yang kebetulan Koes Plus juga punya lagu tentang itu) dan kritik/lelucon sosial/politik ala Agus, kentara di pertunjukan ini.</p>
<p>Sayang sekali aktor-aktornya lebih siap menyanyi daripada berakting. Dialog-dialog penuh kritik politik dibawakan dengan datar (oh, jangan bandingkan dengan aktor-aktor Gandrik saat mereka membawakan naskah Agus), tak membuat penonton berpikir apalagi tertawa. Dalam hal ini, apresiasi saya mesti ditujukan kepada satu penampil: Sheila Marcia. Di tengah begitu banyak bintang, hanya dia tampaknya yang berkedip-kedip sendirian. Dia bernyanyi, dan membawakan peran dengan wajar.</p>
<p>Kembali kepada pertarungan sutradara, penata musik, dan kareografer: sejak awal saya sudah membayangkan pasti sulit menyatukan ketiga nama besar tersebut. Benar saja. Ketiganya tampil habis-habisan sampai saya bingung, bagian mana sebenarnya yang harus ditonjolkan?</p>
<p>Sebagai sutradara, Garin asyik dengan permainan visual di tiga layar besar di belakang panggung, serta properti-properti ukuran jumbo yang hilir mudik seolah takut tak terlihat. Berbagai citra ditumpang-tindihkan. Ada wajah John Lennon (ya, bisa dimaklumi), Kurt Cobain (apa hubungannya?), Michael Jackson (makin nggak ngerti). Ketiga layar terus-menerus menyala, dan pada saat yang bersamaan, musik juga hampir tak ada henti dan para penari bergerak memenuhi panggung.</p>
<p>Ini maksud saya mengenai &#8220;pertarungan&#8221; tersebut: saya membayangkan, mestinya dalam pertunjukan semacam itu ada saat-saat dimana background layar besar itu padam, penari diam, lalu membiarkan musik mengambil alih panggung. Pada saat-saat dramatik, mesti ada momen panggung gelap dan hanya terdengar musik, atau suara aktor.</p>
<p>Bisa juga, sesekali musik jeda. Hening. Biarkan gambar di layar bicara sendiri. Atau biarkan penari bergerak diiringi musik saja, tanpa keriuhan layar dan properti yang hilir-mudik.</p>
<p>Ah, itu tak terjadi. Gambar di layar, tarian dan musik ingin menonjol semua. Mereka berebutan mencuri perhatian. Mata dan telinga saya jadi sibuk sendiri. Sampai-sampai, duet Eet Syahrani (dengan raungan gitar elektrik) dan Tohpati (dengan gitar akustik) yang mestinya memikat, menjadi tak bisa menjadi fokus perhatian.</p>
<p>Oh ya, lagu-lagu Koes Plus diaransemen ulang yang saya kira cukup modern dan enak didengar telinga sekarang. Sebagai pertunjukan musik (bukan drama!), dalam aspek ini saya menikmatinya (mesti kadang-kadang dengan memejamkan mata). Tapi ini pun bukan tanpa gangguan. Saya tak tahu apakah ini masalah akustik panggung, posisi tempat duduk saya, atau memang kesengajaan (untuk mencipatakan kesan lama?), saya merasa mendengarkan pertunjukan &#8220;mono&#8221;. Nggak stereo. Aransemen musiknya keren, tapi datang ke telinga, sebagaimana aspek pertunjukan yang lain, seolah-olah dalam volume sama-rata.</p>
<p>Bagaimanapun, selamat ulang tahun, Kompas. Kita mesti lebih sering melakukan &#8220;percobaan&#8221; semacam ini. Pertunjukan serupa &#8220;Diana&#8221; masih barang langka di Jakarta. Bahkan ketika teman les Bahasa Belanda tahu saya nonton acara ini, komentarnya mencengangkan, &#8220;Hah? Koes Plus? Itu lagu oma-opa kita kali. Lo pantesan keliatan jadul!&#8221; Hmmm &#8230;</p>
<p>* <strong>Catatan Pertunjukan</strong>: &#8220;Diana Rahasia Hatiku&#8221;, 6 Juli 2010, JCC Senayan Jakarta.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/diana-rahasia-hatiku-2097.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>backspacer</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/backspacer-1349.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/backspacer-1349.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Dec 2009 09:16:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan]]></category>
		<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Pearl Jam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/blog/backspacer-1349.php</guid>
		<description><![CDATA[Jika Tuan pernah duduk di bar atau kafe, lalu muncul perempuan seksi nan cantik mencari seseorang (jelas bukan Tuan), dan Tuan berpikir, kenapa perempuan cantik nan seksi itu tak mencari aku saja? Kapan aku menjadi satu-satunya lelaki yang dicari perempuan cantik nan seksi di bar? Jika benar Tuan berpikiran demikian, memang Tuan harus mendengar dan bakal menyukai lagu "Johnny Guitar". Kenapa? Sebab lagu itu "elo banget".]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jujur saja saya tidak mengikuti semua album Pearl Jam. Saya bahkan tak ingat berapa album yang sudah mereka hasilkan (oh tentu, bisa buka Wikipedia kalau mau, tapi saya malas melakukannya). Di antara beberapa album yang saya ingat, praktis hanya satu album yang sering saya dengar: &#8220;Ten&#8221;. Saya suka lagu si &#8220;Jeremy&#8221;, anak yang bunuh diri di depan teman-teman sekelasnya, saya suka &#8220;Even Flow&#8221;, dan terutama suka cara nyanyi vokalisnya. Serak sekaligus sengau.<br />
<span id="more-1349"></span><br />
Mungkin karena itu album pertama mereka. Mungkin karena itu album perkenalan pertama saya dengan mereka. Maklum, saat itu saya masih ABG (albumnya masih dalam bentuk kaset, yang sekarang pasti susah setengah mati untuk memutarnya, tapi beruntunglah sekarang ada mp3 yang bisa diputar di handphone tanpa merek sekalipun), dan terpesona dengan segala yang berbau rock. Ketika semua teman sekolah saya tergila-gila dengan Nirvana (oh, saya juga!), mendengarkan Pearl Jam bisa terlihat &#8220;berbeda&#8221;. Terlihat lebih &#8220;cool&#8221;. Bahkan terlihat lebih intelek (kalau mau terlihat lebih intelek lagi, dengarkan Soundgarden &#8211; kata si ABG), meskipun sumpah mati tak bikin lebih keren di depan gadis-gadis cantik. Mungkin juga karena album itu sampai sekarang tetap merupakan album terbaik mereka?</p>
<p>Di luar album itu, saya hanya mendengar beberapa potong lagu dari album-album yang berbeda: &#8220;Daughter&#8221; (lagu favorit saya setelah &#8220;Jeremy&#8221;), cover version &#8220;Last Kiss&#8221; (dulu awal-awal nongkrong di Jalan Jaksa saya suka menyanyikannya, diiringi home band sebuah kafe, sambil agak mabok, diseling lagu &#8220;Dead Flowers&#8221; dari The Rolling Stones). Saya juga menyukai lagu &#8220;Better Man&#8221; dan &#8220;Wishlists&#8221;.</p>
<p>Lalu beberapa hari terakhir ini saya melihat video klip &#8220;Just Breathe&#8221; di MTV (kecuali bagian musiknya, saya benci saluran ini, kelewat banyak reality show yang enggak penting). Eddie Vedder bukan lagi pemuda zaman tahun 90an. Di sudut matanya sudah tampak garis lipatan kulit. Rambutnya memang masih gondrong (apakah dia sudah punya anak? Apakah dia mengantar anaknya pergi sekolah seperti bapak-bapak lain setiap pagi?). Saya merasa punya teman yang sama-sama beranjak tua (tentu saja saya masih jauh lebih muda daripada dia). Saya memutuskan untuk mendengarkan seluruh lagu di album terbaru mereka.</p>
<p>Seorang teman sempat heran melihat selera musik saya dan bertanya, &#8220;Masih suka nge-metal?&#8221; Mungkin dalam bayangannya, saya masih berambut gondrong, kurus kerempeng, jeans ketat, dan mendengarkan musik rock kenceng-kenceng. Enggak lah. Enam tahun lagi saya 40 (katanya hidup berawal di umur 40, jadi hidup saya sebenarnya belum juga mulai. Masih pemanasan. Tapi tetap saja saya lebih tua daripada dua puluh tahun lalu). Lagipula saya tak pernah membayangkan Pearl Jam sebagai &#8220;heavy metal&#8221;. &#8220;Grunge&#8221; aja enggak (silakan protes).</p>
<p>Di tengah gempuran Black Eyed Peas (tapi sungguh, saya suka melihat penampilan Fergie), Kanye West, Katy Perry (oke, sih), bahkan Lady Ga Ga (apalagi -OMG- Rihana) di tv, ditambah band-band lokal yang musik maupun liriknya Masya Allah (ya, kecuali beberapa band boleh dibilang oke), mendengarkan lagu-lagu di &#8220;Backspacer&#8221; terasa sebagai pengalaman yang menghibur (benar-benar terima kasih kepada beberapa teman yang merekomendasikannya, yang meyakinkan saya bahwa enggak rugi mengeluarkan 75 ribu rupiah). Dunia masih membutuhkan musik rock, percayalah! Dan di antara banyak lagu rock yang hanya kencang dan bising terdengar, masih bisa kita temukan lagu-lagu bagus yang diaransemen juga dengan baik. Ah, jadi merasa berumur 18 tahun lagi (enggak perlu dibayangkan, Tuan mungkin bakal sirik!)</p>
<p>Saya enggak tahu kenapa album ini dikasih nama &#8220;Backspacer&#8221;. Saya tak menemukan frasa itu di judul lagu maupun lirik. Mungkin bisa dicari info di Wikipedia atau tempat lain, tapi lagi-lagi saya malas. Masa dengar lagu saja harus bolak-balik cari referensi ke internet. Emangnya baca cerita pendek? (Haha, ada penulis-penulis cerita pendek yang suka memasukkan nama-nama dan frasa-frasa hebat dan asing, membuat pembaca yang rajin harus bolak-balik ke halaman Google).</p>
<p>Satu-satunya ingatan hanya membawa ke papan kunci komputer. Di sebelah kanan, biasanya ada tombol &#8220;Backspace&#8221; (di komputer Windows. Enggak tahu kenapa, komputer Mac tidak menyukai tombol itu dan menggantinya dengan &#8220;Delete&#8221; yang berbeda dengan &#8220;Del&#8221; di komputer Windows). Sebagai seorang penulis, saya sering menggunakan tombol itu. Alasannya sederhana: saya peragu, setiap kali menulis, lebih banyak kata/kalimat yang di-&#8221;backspace&#8221; daripada yang akhirnya dipakai.</p>
<p>Bolehlah saya membayangkan Eddie Vedder, ketika menulis lirik pake komputer (bukannya lebih enak tulis tangan, lebih eksotis?), ia pasti sering menekan tombol &#8220;backspace&#8221;. Maka jadilah ia seorang &#8220;backspacer&#8221;. Haha. Buat saya pun, analisa ini memang terdengar agak digampangkan. Jadi, maaf, kalau analisanya kurang filosofis. Tapi lebih baik begini, kan, daripada nyomot kalimat-kalimat Umberto Eco atau Jacques Derrida tapi enggak nyambung, hanya agar terlihat filosofis dan berteori, seperti yang sering dilakukan para analis-pemikir-aktivis &#8220;pop culture&#8221;? (kalau boleh jujur, mereka ini sebenarnya philosopher-wanna-be yang pengin kelihat gaul aja dengan ngomongin hal-hal populer, bener enggak?)</p>
<p>Perhatian: tulisan ini barangkali mengandung &#8220;adult content&#8221;, kata-kata kasar dan sinis, jadi bacalah di bawah panduan orang tua, kakek-nenek, atau teman yang lebih pintar. Jika Tuan merasa tersindir atau sakit hati, seratus persen bukan tanggung jawab saya. (Tapi maaf, pengumumannya agak telat).</p>
<p>Kembali ke album &#8220;Backspacer&#8221;. Saya merekomendasikan lagu &#8220;Just Breathe&#8221; dan &#8220;The End&#8221; untuk orang-orang mellow nan melankolis (seperti saya, ehm). Untuk yang lebih serius, cobalah mendengar &#8220;Johnny Guitar&#8221;. Jika Tuan pernah duduk di bar atau kafe, lalu muncul perempuan seksi nan cantik mencari seseorang (jelas bukan Tuan), dan Tuan berpikir, kenapa perempuan cantik nan seksi itu tak mencari aku saja? Kapan aku menjadi satu-satunya lelaki yang dicari perempuan cantik nan seksi di bar? Jika benar Tuan berpikiran demikian, memang Tuan harus mendengar dan bakal menyukai lagu &#8220;Johnny Guitar&#8221;. Kenapa? Sebab lagu itu &#8220;elo banget&#8221;. Percaya, deh.</p>
<p>Tapi mending dengerin semua lagu di album itu, seperti yang saya lakukan. Bisa didengerin sambil tiduran, sambil lihat hujan yang mulai sering turun di bulan Desember ini (paling tidak di Jakarta).</p>
<p>Backspace! Backspace!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/backspacer-1349.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Darah Juang</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/darah-juang-1075.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/darah-juang-1075.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Mar 2009 16:22:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Obituari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=1075</guid>
		<description><![CDATA[Di sini negeri kami
Tempat padi terhampar
Samuderanya kaya raya
Tanah kami subur, Tuhan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di sini negeri kami<br />
Tempat padi terhampar<br />
Samuderanya kaya raya<br />
Tanah kami subur, Tuhan &#8230;</p>
<p>Di negeri permai ini,<br />
Berjuta rakyat bersimbah luka<br />
Anak kurus tak sekolah<br />
Pemuda desa tak kerja</p>
<p>Mereka dirampas haknya<br />
Tergusur dan lapar<br />
Bunda relakan darah juang kami,<br />
Tuk membebaskan rakyat</p>
<p>Mereka dirampas haknya<br />
Tergusur dan lapar<br />
Bunda relakan darah juang kami,<br />
Padamu kami berjanji<br />
Padamu kami berbakti<br />
<span id="more-1075"></span><br />
Ketika masuk Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, senior kami (berbeda dari kampus-kampus atau bahkan fakultas lain yang saya dengar) tidak memberi plonco fisik di saat Ospek. Malahan mereka mengajari kami keberanian mengemukakan pendapat, dan di lain hari, mengajarkan kami lagu-lagu yang kelak sering kami nyanyikan di jalan-jalan menjelang Soeharto jatuh.</p>
<p>Lagu di atas merupakan salah satu lagu yang saya hapal sejak pertama masuk kuliah. Hanya catatan lirik lagu, tanpa partitur, tapi saya yakin setiap orang yang mengenal lagu itu bisa menyanyikannya dengan tepat. Melodinya sederhana, dan menyiratkan sebuah hymne yang sebenarnya. Baru belakangan saya tahu lagu itu diciptakan agak keroyokan, di antaranya oleh seorang aktifis bernama Andi Munajat.</p>
<p>Tiga hari yang lalu ia baru saja meninggal dunia karena kecelakaan. Sejujurnya saya tak mengenalnya dengan baik. Meskipun kami satu fakultas, ia jauh di atas saya, dan ketika saya masuk tahun 1993, ia sudah hampir tak pernah ada di kampus.</p>
<p>Satu-satunya ingatan samar saya hanyalah mengenai seorang lelaki asing yang tiba-tiba masuk ke kantor <em>Pijar</em>. Itu nama majalah mahasiswa Fakultas Filsafat, tempat saya beraktifitas semasa kuliah. Tiba-tiba ada lelaki asing masuk dan tidur di ruangan <em>Pijar</em>. Ia tak bicara, tidak memperkenalkan diri, dan langsung tidur di pojok.</p>
<p>Kebingungan, saya bertanya kepada salah satu senior saya, &#8220;Siapa tuh orang?&#8221; Jawabannya sederhana, &#8220;Ia yang bikin majalah ini.&#8221; Belakangan saya tahu namanya Andi Munajat. Namanya selalu saya ingat, sebenarnya karena hal kebetulan lainnya: ia orang Pangandaran, meskipun kami tak pernah bertemu di sana, dan saya bahkan tak tahu rumahnya di mana. Saya mengingat namanya karena senang mempunyai tetangga misterius sepertinya.</p>
<p>Sekarang ia sudah pergi. Meskipun saya tak pernah lagi mengunjungi kampus, saya yakin lagu yang ikut digubahnya masih dinyanyikan mahasiswa-mahasiswa, tak hanya di Yogyakarta, tapi juga di kota-kota lain. Bahkan mungkin oleh kelompok-kelompok mahasiswa yang berbeda ideologi dengannya.</p>
<p>Tuhan selalu memanggil yang terbaik selagi masih muda, itulah yang terjadi. Tapi sebagaimana tersirat di lirik lagunya, darah juang itu harus direlakan. Selamat jalan, Andi, tetangga yang tak sempat saya kenal &#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/darah-juang-1075.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shine A Light</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/shine-a-light-911.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/shine-a-light-911.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Mar 2009 14:16:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan]]></category>
		<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[The Rolling Stones]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=911</guid>
		<description><![CDATA[Ada masa-masa ketika saya malas sekali mendengar musik. Saya merasa musik-musik yang datang dari pemusik-pemusik kemudian, tak sehebat pemusik yang saya kenal sebelumnya. Itu masa-masa sulit buat saya untuk mendengarkan rekaman apa pun, atau mendengarkan radio, dengan penuh selera. Karena tidak bisa masuk ke musik yang lebih baru, saya mencoba mendengar musik dari generasi yang lebih tua dari saya. Saat itulah saya berkenalan dengan musik The Rolling Stones.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Enggak pernah terpikir sebelumnya bahwa saya akan menonton film <em>Shine A Light</em> di bioskop. Bukan kebiasaan bioskop Indonesia memutar film dokumenter. Eh, kemarin saya melihat iklannya di Kompas: film itu diputar di Studio XXI Plaza Senayan. Sementara istri keliling-keliling mal, saya memanjakan diri menonton film itu.</p>
<p>Hanya ada sekitar lima belas orang saja yang nonton. Kebanyakan bapak-bapak tua. Hehe, dalam hal ini saya jadi merasa terlihat aneh. Sejujurnya, memang saya bisa dianggap telat menyukai The Rolling Stones. Meskipun pernah mendengar beberapa lagunya, saya baru benar-benar meminati musik mereka di masa kuliah.<br />
<span id="more-911"></span><br />
Barangkali sebagaimana orang seumuran saya, musik glam-rock dari masa akhir 80an hingga heavy metal dan <em>grunge</em> di akhir 90an lebih saya minati di masa itu. Saya kehilangan selera atas musik-musik tersebut di awal masa kuliah saya. Benar, di masa itu glam-rock dan heavy metal mulai redup dengan kedatangan <em>grunge</em>, dan <em>grunge</em> mulai redup dengan marajalelanya hip-hop.</p>
<p>Ada masa-masa ketika saya malas sekali mendengar musik. Saya merasa musik-musik yang datang dari pemusik-pemusik kemudian, tak sehebat pemusik yang saya kenal sebelumnya. Itu masa-masa sulit buat saya untuk mendengarkan rekaman apa pun, atau mendengarkan radio, dengan penuh selera. Karena tidak bisa masuk ke musik yang lebih baru, saya mencoba mendengar musik dari generasi yang lebih tua dari saya. Saat itulah saya berkenalan dengan musik The Rolling Stones.</p>
<p>Maka ketika mendengar Martin Scorsese (sutradara Hollywood yang antara lain membuat film <em>Goodfellas</em> dan meraih Oscar untuk <em>The Departed</em>) akan membuat film dokumenter mengenai The Rolling Stones, saya langsung memasukkannya ke dalam list yang akan saya tonton. Saya membayangkan akan membeli (paling tidak bajakannya, hehe) DVD itu untuk ditonton di komputer. Eh, tak disangka saya bisa menontonnya di bioskop.</p>
<p>Film dibuka dengan perdebatan antara The Rolling Stones dan Martin Scorsese mengenai tata-letak panggung. Pada dasarnya ini film konser. Mereka bermain di Beacon Theatre, New York pada 29 Oktober dan 1 November 2006, diselilingi beberapa rekaman wawancara The Rolling Stones di masa muda (salah satu wawancara itu menanyakan, &#8220;Apa yang akan kamu lakukan di umur 60?&#8221; Saat itu Mick Jagger menjawab, &#8220;Saya sudah bisa membayangkannya&#8221; &#8230; dan kenyataannya, di umur segitu, mereka masih bermusik dengan riang!).</p>
<p>Ya, salah satu yang saya kagumi adalah stamina mereka. Sepanjang pertunjukan, Jagger yang sudah keriput itu masih demikian enerjik. Kakinya tak pernah berhenti berjingkrak, dan tubuhnya sangat lentur untuk dibawa menari. Luar biasa. Demikian pula vokalnya. Bahkan ketika ia duet dengan Christina Aguilera, terlihat bahwa Aguilera yang masih belia itu malah agak keteteran. Demikian pula Keith Richard, di usia senja, ia masih memegang gitar dengan seluruh gayanya: cengkeramannya demikian erat, kadang-kadang ia melepaskan kedua tangannya dari gitar bagaikan membiarkan gitar hidup sendiri dan ia memperhatikan.</p>
<p>Lalu tiba-tiba Jagger berkata, mereka akan membawakan sebuah lagu, yang sebebarnya mereka gubah di awal karir mereka. Awalnya mereka tak pernah menyanyikan lagu tersebut, karena merasa komposisinya tidak istimewa dan terlalu rendah diri untuk membawakannya. Malahan mereka membiarkannya dinyanyikan orang lain. Lalu Keith dan Ronnie Wood mulai masuk ke intro lagu itu: &#8220;As Tears Go Bye&#8221;.</p>
<p>Tak tertahankan, saya ikut bernyanyi. Hehehe &#8230; Benar-benar enggak bisa tahan kalau mendengar lagu itu. Saya hapal lirik lagu itu di luar kepala. Sejujurnya, saya mengenal lagu ini pertama kali bukan karena dinyanyikan The Rolling Stones, tapi saat dinyanyikan oleh penyanyi Prancis (benar enggak ya?), Vanessa Paradis.</p>
<p>Ada adegan mengharukan ketika Mick dan Keith berduet, mereka bernyanyi dengan mix yang sama hingga di satu saat, kepala mereka saling menempel dan saling menyandarkan pipi. Wow, sudah berapa lama mereka bersama, dengan segala keakraban, pertengkaran dan berbagai masalah? Penonton di teater itu pun tampak bersorak melihat keakraban tersebut. Meskipun saya bukan datang dari generasi mereka, dan mengenal band ini ketika mereka sudah uzur, tak bisa tidak saya merasa kagum dengan daya tahan mereka untuk tetap bersama, bahkan memainkan musik yang tetap sama: rock and roll dan blues!</p>
<p>Saya hanya bisa berharap mereka masih terus sehat dan panjang umur, serta mengeluarkan album studio orisinil baru. Album terakhir mereka, <em>A Bigger Bang</em>, merupakan salah satu album favorit saya. Dan untuk kali ini, saya benar-benar berterima kasih untuk Studio 21 yang bersedia memutar film itu di bioskop, walau yang menonton hanya lima belas orang. Ini benar-benar hari Minggu yang menyenangkan, meskipun sebelum nonton saya merasa agak mengantuk. Hehe &#8230;</p>
<p>Trims, Mick, Keith, Ronnie dan Charlie.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/shine-a-light-911.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Beli Chinese Democracy</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/beli-chinese-democracy-540.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/beli-chinese-democracy-540.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Nov 2008 08:50:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[Musik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=540</guid>
		<description><![CDATA[Setelah nunggu 14 tahun, akhirnya beli album baru Guns N&#8217; Roses, Chinese Democracy. Bisa jadi teman perjalanan di pesawat setelah diunggah ke iPod. Selamat datang lagi, dah, Axl!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ekakurniawan.com/blog/chinese-democracy-guns-n-roses-akhirnya-rilis-511.php">Setelah nunggu 14 tahun</a>, akhirnya beli album baru Guns N&#8217; Roses, <em>Chinese Democracy</em>. Bisa jadi teman perjalanan di pesawat setelah diunggah ke iPod. Selamat datang lagi, dah, Axl!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/beli-chinese-democracy-540.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Chinese Democracy&#8221; Guns N&#8217; Roses Akhirnya Rilis!</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/chinese-democracy-guns-n-roses-akhirnya-rilis-511.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/chinese-democracy-guns-n-roses-akhirnya-rilis-511.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Oct 2008 17:00:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[Guns N' Roses]]></category>
		<category><![CDATA[Musik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=511</guid>
		<description><![CDATA[Saya sempat menulis tentang kemungkinan terbitnya "Chinese Democracy" tahun ini, terutama setelah bocornya <a href="http://ekakurniawan.com/blog/11-lagu-baru-guns-n-roses-225.php">11 Lagu Baru Guns N' Roses</a> di internet. Kabar itu akhirnya menjadi nyata. <a href="http://www.gunsnroses.com/">Geffen mengumumkan, album terbaru Guns N' Roses tersebut akan beredar di seluruh dunia mulai 23 November</a>. Album ini akan memuat 14 lagu, 3 di antaranya belum pernah bocor di internet:]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya sempat menulis tentang kemungkinan terbitnya &#8220;Chinese Democracy&#8221; tahun ini, terutama setelah bocornya <a href="http://ekakurniawan.com/blog/11-lagu-baru-guns-n-roses-225.php">11 Lagu Baru Guns N&#8217; Roses</a> di internet. Kabar itu akhirnya menjadi nyata. <a href="http://www.gunsnroses.com/">Geffen mengumumkan, album terbaru Guns N&#8217; Roses tersebut akan beredar di seluruh dunia mulai 23 November</a>. Album ini akan memuat 14 lagu, 3 di antaranya belum pernah bocor di internet:</p>
<p>1. Chinese Democracy; 2. Shackler&#8217;s Revenge; 3. Better; 4. Street Of Dreams; 5. If The World; 6. There Was A Time; 7. Catcher In The Rye; 8. Scraped; 9. Riad N&#8217; The Bedouins; 10. Sorry; 11. I.R.S.; 12. Madagascar; 13. This I Love; 14. Prostitute. <em>Ooops, gak sabar nunggu</em>!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/chinese-democracy-guns-n-roses-akhirnya-rilis-511.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>11 Lagu Baru Guns N&#8217; Roses</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/11-lagu-baru-guns-n-roses-225.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/11-lagu-baru-guns-n-roses-225.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Jul 2008 15:52:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan]]></category>
		<category><![CDATA[Guns N' Roses]]></category>
		<category><![CDATA[Musik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=225</guid>
		<description><![CDATA[Seperti jutaan penggemar Guns N' Roses, sudah empat belas tahun (14 tahun!) saya menunggu album baru mereka, yang konon akan diberi judul <em>Chinese Democracy</em>. Saya tak peduli album itu akan diberi nama apa, saya hanya berharap album itu segera berada di rak toko.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="dropcaps">S</span>eperti jutaan penggemar Guns N&#8217; Roses, sudah empat belas tahun (14 tahun!) saya menunggu album baru mereka, yang konon akan diberi judul <em>Chinese Democracy</em>. Saya tak peduli album itu akan diberi nama apa, saya hanya berharap album itu segera berada di rak toko.</p>
<p>Dan seperti kebanyakan penggemar Guns N&#8217; Roses, saya selalu antusias menyambut lagu-lagu mereka yang bocor di internet. Beberapa merupakan rekaman yang diambil dari pertunjukan. Beberapa lagi merupakan versi demo, terpenggal-penggal. Tapi belum lama ini beredar <a href="http://www.antiquiet.com/features/2008/06/weve-got-chinese-democracy-and-its-worth-the-wait/">sembilan lagu baru mereka di internet</a>, yang konon merupakan versi master studio. Dengan sedikit gerilya di internet, saya memperoleh lagu-lagu itu dan harus saya akui, beberapa versi lagu-lagu itu sudah pernah saya dengar sebelumnya. Tapi emang ada beberapa lagu yang sudah jauh lebih bersih dan lengkap dari versi demo, serta satu lagu yang tidak diketahui judulnya.<br />
<span id="more-225"></span><br />
Dengan bocoran lagu-lagu sebelumnya, praktis saya sudah pernah mendengar 11 lagu baru mereka. Tak ada yang yakin lagu-lagu mana yang akan masuk ke <em>Chinese Democracy</em>. Yang jelas, saya menikmati sebagian besar lagu-lagu tersebut. Memang tak ada lagi sentuhan <em>rhythm</em> dari Izzy Stradlin&#8217;. Enggak ada melodi gitar yang mengiris sebagaimana biasa dibawakan Slash. Juga nggak ada sentuhan Seattle musik dari bass Duff McKagan. Juga tak ada gebugan drum Steven Addler maupun Matt Sorum (saya lebih suka Steven yang <em>sound</em>-nya sedikit nge-<em>dance</em> sebagaimana di album <em>Appetite</em>, daripada Matt yang <em>hardrock</em>, mengingatkan saya pada pukulan Phil Collins di Genesis, di <em>Use Your Illusions</em>). Yang ada hanyalah Axl Rose dan teman-teman barunya.</p>
<p>Ini sebelas lagu yang sudah saya dengar:</p>
<p><strong>Better</strong>, konon materi yang paling disukai Axl untuk album ini. Dibuka dengan intro gitar yang agak kasar, saya terpikat terutama dengan trek drum-nya. Rasanya baru kali ini GNR mempergunakan pukulan drum seperti ini. Jika saya membandingkan, kira-kira berada di antara <em>Appetite</em> dan <em>Use Your Illusions</em>. Lagu kedua, <strong>The Blues</strong>, merupakan eksperimen <em>blues</em> yang asyik. Dasar lagu ini tampaknya memang <em>blues</em>, tapi diaransemen dalam bentuk yang khas GNR (<em>beat</em> yang dipercepat, iringan piano di latar belakang, berbaur dengan distorsi gitar). Saya tak tahu siapa yang main piano, Axl sendiri atau Dizzy Reed?</p>
<p>Lagu <strong>Chinese Democracy</strong> diawali dengan intro bisikan-bisikan, serta musik yang lamat-lamat, lalu tiba-tiba muncul kocokan gitar. Kembali kita menemukan <em>beat</em> drum seperti sudah mulai dikenal di lagu &#8220;Better&#8221;. <strong>If the World</strong> merupakan lagu yang baru saya dengar. Saya bertanya-tanya, apakah intro lagu ini mempergunakan sitar? GNR pernah mempergunakan sitar di salah satu lagu <em>Use Your Illusions</em>. <strong>IRS</strong> merupakan lagu yang sudah saya dengar sejak beberapa bulan lalu. <strong>Madagascar</strong> merupakan versi lagu yang lebih bersih dari versi demo yang pernah saya dengar. Axl tampaknya kembali dengan lagu epik, serupa yang pernah kita dengar di lagu &#8220;Estranged&#8221; (<em>Use Your Illusions II</em>).</p>
<p><strong>Rhyad and Bedouins</strong>, dibuka dengan kocokan gitar yang mengingatkan saya ke nomor lagu-lagu di album pertama mereka. <strong>There was a Time</strong> juga merupakan versi yang sudah lebih bersih, dibuka dengan intro <em>choir</em> yang enggak ada di versi demo. Selain kedelapan lagu yang menyebar di internet belum lama ini, termasuk juga sebuah lagu slow yang belum ketahuan apa judulnya. Mereka hanya menyebut judulnya <strong>New Song</strong>.</p>
<p>Di luar itu saya sudah mendengar dua lagu lain: <strong>Catcher in the Rye</strong>, sejenis epik lain yang tampaknya juga diciptakan Axl sendiri. Satu lagu yang baru saya dengar akhir-akhir ini, <strong>Strip Bar</strong>, tampaknya sudah bocor lama dan tidak terdapat di 9 lagu yang keluar belakangan. Banyak orang yang mengira ini lagu lama, karena <em>sound</em>-nya memang mengingatkan ke lagu-lagu mereka di <em>GNR Lies</em>. Lagipula tampaknya ini masih versi demo. Meski musiknya bersih, tapi tampak belum dipoles.</p>
<p>Secara umum, materi-materi lagu ini memang berbeda dengan materi album sebelumnya. Saya bahkan merasa, musik mereka jauh lebih variatif lagi daripada yang sudah mereka sajikan di <em>Use Your Illusions</em> (yang mencapai tiga puluh lagu!). Lebih dari itu, dengan personel yang sebagian besar baru, Axl tampaknya memang mencoba memperoleh yang terbaik dari komposisi personel baru tersebut.</p>
<p>Terakhir, ya, harus saya akui, seluruh lagu-lagu itu saya dengar secara ilegal. Meskipun begitu, saya bisa jamin, jika album itu keluar, saya pasti akan mengeluarkan uang untuk membelinya, sebagaimana saya memiliki lima album mereka. Sebagaimana saya selalu membeli lagi album mereka setiap kali salah satu album hilang terselip entah dimana. Sebagaimana tahun lalu saya membeli album <em>Greatest Hits</em> mereka, meskipun tak ada satu pun materi baru di dalamnya!</p>
<p>Dan ini mungkin keterlaluan: seandainya album <em>Chinese Democracy</em> harus diundur empat belas tahun lagi, entahlah, mungkin saya tetap menunggu. Sebab, sebagaimana untuk kebanyakan orang, bukankah musik terbaik adalah apa yang kamu dengar ketika berumur 15 tahun? Dan ketika saya berumur 15 tahun, hanya dua band yang saya paling banyak dengar: GNR dan Nirvana. Tuhan sudah mengambil yang satu, hanya tersisa satu!!!</p>
<h3>Update:</h3>
<p>Ini perbincangan saya di milis <a href="http://groups.yahoo.com/group/Apresiasi-Sastra">Apresiasi-Sastra</a> dengan Akmal N. Basral, menanggapi posting saya di atas.</p>
<h3>Akmal N. Basral, 8 Juli:</h3>
<p>eka stradlin&#8217;,<br />
menurut saya sebetulnya udah nggak ada lagi yang namanya  guns n&#8217;roses. yang dua unsur utamanya adalah axl dan slash (yang lain penggembiralah) :)) setelah mereka bubar, gnr juga lenyap. menyejarah.</p>
<p>yang tersisa cuma: axl rose dkk &amp; velvet revolver (slash, mckagan, &amp; sorum) sebagai dua cabang besar.</p>
<p>salah satu lagu mereka (&#8220;november rain&#8221;) pernah beberapa kali dibahas di sini, karena jadi pemantik  terciptanya &#8220;malam, hujan&#8221;-nya hary b. kori&#8217;un, dan &#8220;hujan, sehujan-hujannya november&#8221; dari hasan aspahani.  lagu yang berasal dari cerpen del james &#8220;without you&#8221; ini (kelak dipecah dalam tiga lagu: &#8220;don&#8217;t cry&#8221;, &#8220;november rain&#8221; dan &#8220;estranged&#8221; &#8212; yang belakangan ini lagu favorit krisna diantha) pernah juga diulik di milis ini:</p>
<p><a href="http://groups.yahoo.com/group/Apresiasi-Sastra/message/18127">http://groups.yahoo.com/group/Apresiasi-Sastra/message/18127</a><br />
(puisi &#8220;sehujan-hujannya november hujan&#8221; dari hasan aspahani bisa dilongok di sini):<br />
<a href="http://groups.yahoo.com/group/Apresiasi-Sastra/message/31765">http://groups.yahoo.com/group/Apresiasi-Sastra/message/31765</a></p>
<p>formasi waktu gitaris kedua masih izzi stradlin&#8217; (bukan gilby clarke, yang gayanya di-copy paste gitaris slank, abdee negara), dan drummer steven adler (sebelum matta sorum), memang formasi romantik yang paling banyak dikenang (meski kalau live, gebukan adler sering out of tempo, &#8220;lari&#8221;). secara kualitas, power, dan disiplin, jauh lebih bagus matt sorum.</p>
<p>terbukti  permainan seksi ritem (rhythm  section) yang  lebih  oke itu justru  terbuhul antara  duffmckagan dan matt sorum yang bukan cuma terajut di gnr,  tapi juga berlanjut mulai dari slash&#8217;s snakepit (gilby clarke mulai masuk di sini), neurotic outsiders (yang NYARIS saya tonton langsung di cbgb, tapi nggak kebagian tiket karena antrean yang mengular padahal cbgb cuma &#8220;seupil&#8221; besarnya), dan velvet revolver (yang lebih cocok disebut gnr informal kalau banyaknya jumlah anggota dari band awal yang menjadi penentu siapa yang lebih sah sebagai &#8220;pewaris&#8221;), dibanding antara mckagan-adler.</p>
<p>salam,<br />
~a~</p>
<h3>eka kurniawan, 8 Juli:</h3>
<p>kalo ini masalahnya formatur-asli, ya mungkin udah enggak ada guns n&#8217; roses. tapi kalo soal GNR adalah axl + slash, kayaknya enggak setuju.</p>
<p>emang keduanya tampak bagai front-men, seperti mick-keith di rolling stones, atau robert plant dan jimmy page di led zeppelin. tapi kalo merhatiin warna musik GNR, susah untuk mengatakan bahwa yang tiga lainnya adalah penggemira.</p>
<p>ngetesnya begini saja: ketika mick jagger bikin solo, kita masih bisa merasa musiknya sama dengan musik rolling stones.</p>
<p>tapi ketika anggota GNR solo (izzy stradlin and the juju hound, slash&#8217;s snakepit, dan solo duff mckagan &#8212; saya belum pernah dengar Addler&#8217;s Appetite), musik mereka dengan sangat ketara berbeda satu sama lain &#8212; seperti pecahan-pecahan GNR sebenarnya.</p>
<p>lagu-lagu izzy hanya mengingatkan kita kepada lagu2 GNR tertentu: pretty tied up, dust n bones, you ain&#8217;t the first.</p>
<p>lagu-lagu slash hanya bisa disandingkan dg lagu GNR macam Coma atau Locomotive. demikian pula solo album Duff hanya mengingatkan kita kepada lagu GNR serupa So Fine (dimana Duff memang nyanyi).</p>
<p>dan musik GNR? Musik GNR adalah campur aduk seluruh selera musik mereka. warna rock n roll mereka saya pikir diciptakan oleh rhythm Izzy. bahkan ketika Izzy diganti Gilby, Gilby meniru habis kocokan Izzy (atau lebih tepatnya, GNR mencari gitaris yang punya selera rock-n-roll serupa Izzy, yang sayangnya menurutku, mereka hanya menemukan gitaris second-rate!). suara blues dan heavy jelas berasal dari seksi gitar Slash. Slash sebenarnya tidak bisa dibandingkan posisinya dengan Keith di Rolling Stones (kecuali sebagai front-man kedua), tapi barangkali sama dengan posisi Page di LZ, dengan sound heavy metal dan sayatan blues. bahkan keduanya (slash dan page), mempergunakan gitar yang sama&#8221; les paul dari gibson.</p>
<p>duff? oh, tentu saja dia yang memberi roh punk-seattle ke GNR. duff-lah yang membuat GNR tidak semata-mata rock n roll atau heavy metal. duff juga yang membuat GNR, berbeda dengan trend di<br />
akhir 80an itu, yang didominasi heavy metal. keberadaan duff di GNR seolah-olah jadi penanda, jembatan, bagi munculnya musik grunge seatle dengan kehadiran Nirvana dan Pearl Jam beberapa waktu kemudian.</p>
<p>tentu saja selain mereka, kita juga harus melihat kontribusi musik axl (meskipun dia tak banyak memainkan alat musik). kita bisa melacak referensi musiknya sangat berbeda dengan keempat temannya: queen dan, yup, elton john! itu dua dari beberapa. kita tak pernah mendengar proyek solo-nya, tapi pernyataan musiknya bisa ditemukan di beberapa lagu GNR yang ditulisnya seorang diri: November Rain, Estranged. tapi menurut saya, pernyataan yang paling tegas adalah My Words (yang barangkali paling jarang diperhatikan). Tak hanya lagu itu ditulisnya sendiri, tapi sebagian besar instrumen juga ia mainkan sendiri. Dari lagu itu pula kita tahu sumbangannya kepada musik GNR: key section (keyboard dan piano, serta komputer synthesizer).</p>
<p>dengan bocornya beberapa lagu Chinese Democracy, yang bisalah kita anggap sebagai proyek solo Axl (dengan nama Guns N Roses), pernyataan musik itu semakin jelas. lagu-lagu itu penuh dengan seksi synthesizer, bergaya industrial music, sesuatu yang pernah juga sangat digandrungi oleh freddy mercury &#8212; pujaannya axl.</p>
<p>tulisan panjang ini hanya argumen saya untuk mengatakan, ketiga pemain lain jelas bukan &#8220;penggembira&#8221;. apalagi jika disodorkan fakta bahwa sebagian besar lagu GNR diciptan oleh Axl dan Izzy (bahkan Izzy lebih banyak). Duet mereka sebagai pencipta lagu sering disejajarkan dengan Lennon-McCartney dan (ini barangkali lebih cocok) Jagger-Richard (karena seperti Izzy, Keith Richard juga memainkan rhythm, bahkan dengan jenis gitar yang sama pula dari Gibson!)</p>
<p>Velvet Revolver vs Axl and the Gank? setelah bertahun-tahun, saya berhasil untuk melepaskan pretensi berharap mendengarkan GNR (yang asli) dari keduanya. dengan cara itu, saya bisa menikmati keduanya dan menganggapnya sebagai musik yang berbeda. bahkan berbeda dari GNR (meski axl masih memakai nama itu).</p>
<p>matt sorum tampaknya memang lebih cocok dg musiknya duff dan slahs, dan sebenarnya dengan selera musik axl juga. tapi addler justru nyambung dengan rhythm izzy yang rock n roll. perbedaan ini memang mencolok antara album Appetite dan Use Your Illusions, dimana Appetite lebih terasa rock n rollnya karena beat yang (saya istilahkan) nge-&#8221;dance&#8221;, sementara Use Your Illusions lebih kerasa hard-rock dan balada yang lebih powerful (dan beberapa lagu menuntut daya tahan berlebih karena panjang).</p>
<p>btw, mereka memang hebat, tak hanya musik, tapi juga kualitas literer lirik lagu mereka. mereka belajar bikin lirik kepada guru yang benar: rolling stones dan bob dylan.</p>
<h3>Akmal N. Basral, 8 Juli</h3>
<p>eka, trims penjelasannya.<br />
ayo &#8216;get in the ring&#8217; lagi. :)</p>
<p>1./<br />
memang, formasi axl-izzy-slash-duff-steven, adalah formasi favorit (hampir) semua penggemar gnr, meski nama &#8220;guns&#8221; muncul dari gitaris sebelum slash bergabung: tracii guns.  (dan duff serta steven  yang sebetulnya juga pengganti pemain bas dan drum formasi awal gnr: ole beich dan rob gardner).</p>
<p>tapi mereka berlimalah yang memiliki &#8220;chemistry&#8221; pas untuk menjadi menjadi gnr. seperti para alkemis jaman pertengahan yang bisa mengubah batu menjadi emas.</p>
<p>2./<br />
jika metode pengecekan kadar &#8220;ke-gun-n&#8217;-roses-an&#8221; sebuah lagu gnr diteroka terbalik dari yang eka sarankan maka apakah &#8220;sweet child o&#8217;mine&#8221; akan bisa mencapai popularitasnya sekarang tanpa intro ciamik slash, dan vokal unik axl? atau &#8220;welcome to the jungle&#8221; atau &#8220;patience&#8221; (meski  digubah  izzy, namun aransemen yang memadukan kekhasan siulan axl pada intro, serta solo gitar slash pada refrain dan outro lagu, yang membuat &#8220;patience&#8221; begitu powerful sebagai sebuah komposisi pop-balada)?</p>
<p>izzy memang penting dalam &#8220;masa pertumbuhan&#8221; gnr. tapi kalau duet axl-slash dipadankan bak plant/page di led zep, maka peran izzy, sependengaran saya, tak akan sepenting john paul jones di led zep, meski dua-duanya sama-sama pendiam. dan tak tergantikan.</p>
<p>jika duet axl-slash dipadankan dengan lennon/mccartney, maka peran izzy bahkan tak bisa mendekati peran george harrison dalam the beatles. tak tergantikan.</p>
<p>jika axl-slash dipadankan dengan mick-keith, peran izzy memang kira-kira setara dengan ron wood (sebagai gitaris lho ya, bukan song writer). artinya memang, dengan segala hormat terhadap kerendahan hati &#8220;the silent one&#8221; dari &#8220;the most dangerous band in the world&#8221; ini, fungsinya: tergantikan (replaceable).</p>
<p>sayang memang penggantinya cuma sekualitas gilby clarke, tapi pernah ada masa ketika posisi ritem gitar itu sedang &#8220;diasongkan&#8221; gnr kepada gitaris lain yang tertarik &#8212; salah seorang yang paling ngebet adalah zakk wylde (ozzy osbourne).  slash dan zakk merasa cocok, tapi berdasarkan kabar yang beredar, keduanya sepakat untuk tidak berada dalam satu band karena gnr &#8220;nggak cukup besar untuk dua gitaris hebat&#8221;.</p>
<p>jadi strategi untuk memilih gilby (yang menggantikan peran izzy sebagai gitaris), memang hanya untuk makin menampilkan kemonceran slash sebagai first guitarist.</p>
<p>di sisi lain: kalau memang izzy seorang song writer yang hebat (di luar karyanya di gnr), ada nggak sih karyanya, misalnya di ju ju hounds, yang popularitasnya melebihi, misalnya, &#8220;patience&#8221;? (dalam standar telinga awam ya, bukan penggemar fanatik izzy).</p>
<p>artinya lagi eka, besar kemungkinan &#8212; karena memang ini dugaan saya dari dulu &#8212; kinclongnya lagu-lagu gnr (terutama yang ditulis izzy), muncul karena kekuatan ARANSEMEN lagu itu sendiri, bukan pada struktur kompositorisnya an sich. utamanya tentu saja dari  sound gitar slash  yang sangat menonjol di zaman itu, bahkan sampai sekarang.</p>
<p>3./<br />
&#8220;mereka belajar menulis lirik dari guru yang benar: rolling stones dan bob  dylan.&#8221;</p>
<p>menurut saya, jangan lupakan juga &#8220;del james factor&#8221;. mereka juga &#8220;beruntung&#8221; punya road manajer-cum-cerpenis-cum-novelis bernama del james (adalberto miranda).</p>
<p>del james yang membantu menulis lirik sejumlah lagu hebat gnr seperti &#8220;the gardens&#8221;, &#8220;yesterday&#8221;, dan secara tidak langsung trilogi &#8220;don&#8217;t cry&#8221;, &#8220;november rain&#8221;, serta &#8220;estranged&#8221;, yang berasal dari cerpennya &#8220;without you&#8221; yang terdapat pada antologi &#8220;the language of fear&#8221;.</p>
<p>(kalimat  &#8220;There are no coincidences, only chance and fate exist&#8221; pada film &#8220;signs&#8221;, diakui sang sutradara m. night shyamalan diambil dari halaman pembuka antologi &#8220;the language of fear&#8221;).</p>
<p>4./<br />
&#8220;izzy dan keith richards memainkan jenis gitar yang sama dari gibson&#8221;.</p>
<p>sebetulnya sebelum &#8220;era gibson&#8221;, yang dianggap sebagai tribute izzy untuk keith adalah karena dua-duanya pengguna &#8230; fender telecaster (tele), terutama tipe hollow body.  ini berbeda dengan kecenderungan para gitaris top lainnya seperti jimi hendrix atau ritchie blackmore yang lebih suka menggunakan fender stratocaster (strat)</p>
<p>baru setelah era tele ini, keith menggunakan gibson (les paul), yang juga kadang-kadang dimainkan izzy (tapi hampir selalu dimainkan slash).</p>
<p>tapi pada jaman itu, paling tidak sampai akhir era 80-an, empat jenis gitar itu (tele, strat, les paul, dan gibson sg) praktis memang merupakan favorit para gitaris, di atas tipe lain seperti rickenbacker, atau jenis-jenis yang dikeluarkan ibanez.</p>
<p>5./<br />
duff mckagan, sependengaran saya, termasuk pemain bas dan penulis lagu yang, &#8220;so-so&#8221; saja. dia memang &#8220;pelengkap yang pas&#8221; untuk kecocokan alkemis gnr, tapi bukan kontributor yang inovatif (seperti mike mills di r.e.m), karismatis (seperti idolanya sid vicious dari the sex pistols) apalagi jenius (seperti john paul jones di led zep, atau sir macca di beatles).</p>
<p>itu sebabnya saya sebut izzy-duff-dan steven sebagai &#8220;penggembira&#8221;, meski mereka tetap membawa warna personal kepada gnr (siapa yang tidak?).</p>
<p>6./<br />
saya berani bertaruh eka (dengan cd &#8220;chinese democracy&#8221; sebagai hadiah?), seandainya duet axl-slash masih akur, belum pecah kongsi, maka siapapun penulis lagunya, siapapun penulis syairnya, siapapun gitaris keduanya, siapapun pemain basnya, siapapun drummernya, sekali lagi sepanjang axl-slash masih bisa kerjasama, maka mereka akan mampu melahirkan karya-karya yang hebat, komposisi-komposisi yang lebih bagus dari lagu-lagu velvet revolver atau &#8220;gnr edisi milenium&#8221;.</p>
<p>karena mereka jalan sendiri-sendiri, baik axl maupun slash, tak bisa lagi mengulangi, apalagi melebihi, pencapaian yang mereka raih ketika masih akur. keduanya adalah &#8220;the other half&#8221; bagi yang lain.</p>
<p>sayang dua-duanya tambeng. :)</p>
<p>~a~</p>
<h3>Eka Kurniawan, 8 Juli:</h3>
<p>soal kehebatan &#8220;patience&#8221; yang dipengaruhi oleh aransemen dan bukan karena notasi lagu aslinya: bagaimana dengan &#8220;the spaghetti incident?&#8221; yang masih terdapat duet slash-axl dan tanpa izzy?</p>
<p>bahkan bisa disebut, album itu dijejali lagu-lagu &#8220;yang sudah teruji&#8221; (cover version) dalam arti, axl dan slash sebenarnya tinggal mengaransemen?</p>
<p>sebagian besar penggemar gnr kayaknya sepakat, itu album yang anti-klimaks. payah dan hambar dan nyaris nggak ada improvisasi. &#8216;since i don&#8217;t have&#8217; you dan &#8220;aint it fun&#8221; bahkan nyaris nggak ada bedanya dengan versi orisinal.</p>
<p>menyebut keberhasilan welcome to the jungle dan sweet child o&#8217; mine sebagai keberhasilan duet vokalis dan lead gitar, menurutku merupakan bias industri musik (terutama rock). sudah umum diketahui vokalis selalu jadi front man, dan melodi gitar memang diberi tempat yang khusus dalam<br />
musik rock.</p>
<p>soal &#8220;tergantikan&#8221; dan &#8220;tak tergantikan&#8221; menurutku kurang relevan. jika mengacu kepada formasi &#8220;terbaik&#8221; mereka, mestinya semua &#8220;tak tergantikan&#8221; karena begitu diganti, jelas berubah. tapi jika mengacu ke de facto: semuanya &#8220;tergantikan&#8221; (bahkan axl yang masih bertahan pun, dalam beberapa konser terakhir sering ditandem dan diganti sebastian bach, ex-skid row).</p>
<h4>Update 24 Oktober 2008</h4>
<p>Album Chinese Democracy akhirnya rilis, <a href="http://ekakurniawan.com/blog/chinese-democracy-guns-n-roses-akhirnya-rilis-511.php">baca di sini</a>!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/11-lagu-baru-guns-n-roses-225.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>“Get in the Ring”</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/get-in-the-ring-128.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/get-in-the-ring-128.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Mar 2008 15:34:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi & Tribut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekakurniawan.com/blog/get-in-the-ring-128.php</guid>
		<description><![CDATA[Untuk ukuran lagu Guns N&#8217; Roses yang barangkali hanya dikenal penggemar berat GN&#8217;R, anak-anak muda dalam video ini layak diacungi jempol untuk usaha cover version mereka yang meyakinkan dalam menyanyikan &#8220;Get in the Ring&#8221;!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><center><object width="355" height="296"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/dTz8MLR1ZAM&#038;color1=0xe1600f&#038;color2=0xfebd01&#038;hl=en"></param><param name="wmode" value="transparent"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/dTz8MLR1ZAM&#038;color1=0xe1600f&#038;color2=0xfebd01&#038;hl=en" type="application/x-shockwave-flash" wmode="transparent" width="355" height="296"></embed></object></center><br />
Untuk ukuran lagu <a href="http://gunsnroses.com">Guns N&#8217; Roses</a> yang barangkali hanya dikenal penggemar berat GN&#8217;R, anak-anak muda dalam video ini layak diacungi jempol untuk usaha <em>cover version</em> mereka yang meyakinkan dalam menyanyikan &#8220;Get in the Ring&#8221;!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/get-in-the-ring-128.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

