Beberapa Tesis Tentang Judul Novel
Jika paragraf pertama novel bisa diibaratkan etalase toko, maka judul novel bisa diibaratkan papan nama toko tersebut. Judul merupakan sejenis “brand”, di mana keseluruhan novel barangkali bisa dicitrakan dalam sebaris judul tersebut. Serupa “Warung Ice” tetanggamu, jika kamu mendengar nama itu disebut, kamu langsung membayangkan apa saja yang dijual di warung itu.
Politik itu Kitsch
Estetika di mana kotoran (tai) diabaikan dan dianggap tak ada merupakan estetika kitsch, kata Milan Kundera di bagian akhir novel The Unbearable Lightness of Being. Jika saya tak salah ingat, berkali-kali ia membicarakan hal yang sama di novel yang lain. Mungkin di The Joke atau di Life is Elsewhere. Yang jelas, gagasan (atau kemuakan) atas kitsch barangkali merupakan salah satu yang penting dalam novel-novelnya.
Tirai Koyak Novel
Hal pertama yang diperbincangkannya adalah “sejarah novel”. Menurut Kundera, sejarah kesenian (di mana di dalamnya juga turut serta “sejarah novel”), berbeda dengan pengertian “sejarah” dalam bidang lain. Katakanlah, jika kita membicarakan mengenai “sejarah Jerman” atau “sejarah ilmu pengetahuan”, di sana sejarah memiliki kandungan makna yang berarti “kemajuan”. Ada proses yang mengarah ke sesuatu yang lebih baru dalam tahapan waktu. Nah, ini tidak berlaku dalam kesenian!
