Air Bah dalam Novel “Cantik itu Luka”

oleh Maman S. Mahayana, Media Indonesia

Dalam karya yang bermaksud mencampakkan logika, kejanggalan itu tak terlalu jadi soal. Tetapi masalahnya lain ketika ia mengangkat latar waktu pada zaman tertentu. Dewi Ayu, keturunan Belanda, pelacur zaman Jepang, dan melanjutkan karier kepelacurannya selepas merdeka. Di sinilah soalnya. Periksalah Khotbah di Atas Bukit, Ziarah, Godlob atau karya-karya yang mencampakkan logika. Di sana, latar waktu bisa terjadi kapan saja dengan lokasi yang juga bisa di mana saja. Dengan begitu, titik tekan pada gagasan atau pemikiran filosofis, bisa berlaku di sembarang waktu dan tempat. Ia sekaligus menunjukkan bahwa gagasan tak terikat ruang dan waktu.

Katak dalam Matryoshka

Bagi saya, dunia tempurung sesungguhnya serupa dengan mainan ‘kotak China’ atau matryoshka, sebuah kotak yang jika dibuka kita akan menemukan kotak lain yang lebih kecil, menemukan kotak lebih kecil lagi, dan demikian seterusnya. Mainan ini juga bisa dibaca sebaliknya: kotak kecil dibungkus kotak lebih besar, dibungkus kotak lebih besar lagi, dan seterusnya. Maka persoalan apakah seekor katak ada di dalam tempurung atau tidak tak lebih dari masalah apakah yang melihat itu berada di tempurung yang sama dengan si katak atau tidak?

Hidup untuk Berkisah

Kelak para pembacanya tahu novel-novel dan cerita-cerita pendek tersebut, perlahan namun pasti, tengah menggiringnya ke novel paling akbar. Karya yang disebut-sebut Pablo Neruda sebagai “Don Quixote-nya Amerika Latin”. Itu adalah One Hundred Years of Solitude, yang ditulis berbulan-bulan nyaris menelantarkan isteri dan uang belanja mereka. Di novel itulah segalanya tumpah, dan kita serasa melihat suatu campur-aduk yang mencengangkan, seolah deretan tradisi sastra diramu di sana, dan kemudian menjadi miliknya.

Cantik itu Luka