Interupsi Horor Budak Abdullah Harahap

oleh Sica Harum, Media Indonesia

Tiga penulis itu berbagi kajian. Intan mengkaji aspek gender dalam cerita Abdullah. Adapun Ugo membahas sejarah hantu dan simbol-simbol mistis. “Aku lebih ke hubungan sosial antar-manusianya dan politik. Yang aku temukan dalam karya Abdullah Harahap ialah pranata sosial selalu tidak berfungsi. Cara penyelesaian di novel itu selalu di dunia lain,” kata Eka. Intan mengamini, masyarakat dalam kisah Abdullah mencari cara penyelesaian di luar institusi buatan negara. “Ada semacam ketidakpercayaan pada negara,” katanya.

Melankoli Marquez

Sepuluh tahun lalu, dalam cerita pendek berjudul “Sleeping Beauty and the Airplane”, Gabriel Garcia Marquez membayangkan naratornya sebagai seorang feodal Jepang yang keranjingan melihat perempuan cantik sedang tidur. Seketika saya menyadari rujukan yang dimaksudnya adalah tokoh-tokoh dalam kebanyakan novel Yasunari Kawabata. Dan melihat gaya lirisisme di cerita pendek itu, serta cara pandang atas tubuh perempuan, saya juga mulai merasa ia terobsesi kepada gaya neosensualisme penulis besar Jepang tersebut. Puncak obsesinya, saya pikir bisa dilihat di novel terbarunya, Memories of My Melancholy Whores.

Kosmologi Borges

Untuk membuatnya menjadi lebih jelas, para sejarawan menciptakan kebenaran kronik peristiwa dengan ditopang oleh fragmen-fragmen yang diakui kebenarannya secara metodik. Fragmen-fragmen inilah yang bisa diverifikasi. Dalam dunia fiksi Borges kemudian, bukan fragmen-fragmen ini yang dipertaruhkan (sekali lagi, bahkan banyak di antaranya sungguh khayali), justru plot (atau metodenya) yang bisa diverifikasi, sehingga memberi satu kesimpulan peristiwa yang utuh.

Sikap Lirik

Sikap lirik dari aku narator barangkali lazim dalam satu pembacaan puisi, dan jarang dilakukan dalam pembacaan prosa. Tapi saya ingin melakukannya untuk pembacaan atas tiga kumpulan cerpen Puthut EA, Sebuah Kitab yang Tak Suci (2001), Dua Tangisan pada Satu Malam (2003), dan Sarapan Pagi Penuh Dusta (2004). Tentu bukan lantaran cerpen-cerpen ini gagal sebagai “cerita”, namun lebih didorong oleh asumsi, yang semoga tidak sembrono, bahwa setiap prosa mestinya juga suatu puisi yang menggantikan kata-kata dengan deretan peristiwa-peristiwa. Begitu seringnya penulis ini mempergunakan protagonis orang pertama semakin menyiratkan bahwa cerpen-cerpen ini serupa puisi yang menemukan bentuknya dalam “sejenis” prosa cerita pendek.

Denting Gelas Copycat, Membaca Lelaki Harimau

oleh Nuruddin Asyhadie, Media Indonesia

Memasuki lanskap Lelaki Harimau, novela Eka Kurniawan yang terbit tahun ini, kita seakan berada di tengah simpang siur dan tumpang tindihnya bahasa-bahasa Byron, Kafka, Virginia Woolf, Edgar Alan Poe, Faulkner, Marquez, hingga Morrison, tanpa suatu keinginan untuk mensintesiskannya, mengejek, bahkan menjadikannya sebagai tekstur, hanya seperti membuat sesuatu dari materi apapun yang yang ada, bricolage, interstyle. Novela ini adalah seni pastiche, meminjam idiom Jameson, penggunaan topeng bahasa, pengungkapan dalam bahasa mati.

Cantik itu Dilukai

oleh Muhidin M. Dahlan, Media Indonesia

Cantik Itu merupakan campuran dari pelbagai gaya pemikiran yang memang menjadi minat penulisnya selama ini: surealisme-sejarah-filsafat. Maka kita bisa mencium bau aroma Franz Kafka–juga Gabriel Garcia Marquez–dalam novel ini. Bahkan, sejak paragraf pertama: Sore hari di akhir pekan bulan Maret, Dewi Ayu bangkit dari kuburan setelah dua puluh satu tahun kematian. (Bandingkan dengan paragraf pertama Metamorfosis-nya Kafka: Kala Gregor Samsa terjaga di suatu pagi dari mimpi-mimpi buruknya, dia menemukan dirinya berubah menjadi seekor kecoa yang menakutkan).

Cantik itu Luka