<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Eka Kurniawan Project &#187; Manga</title>
	<atom:link href="http://ekakurniawan.com/blog/tag/manga/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ekakurniawan.com</link>
	<description>Menulis dan petualangan-petualangan lainnya</description>
	<lastBuildDate>Tue, 10 Apr 2012 11:17:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Mengintip Sejarah Industri Manga</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/mengintip-sejarah-industri-manga-2145.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/mengintip-sejarah-industri-manga-2145.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Aug 2010 10:15:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan]]></category>
		<category><![CDATA[Cergam]]></category>
		<category><![CDATA[Komik]]></category>
		<category><![CDATA[Manga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/wordpress/mengintip-sejarah-industri-manga-2145.php</guid>
		<description><![CDATA[Membaca novel grafis (atau dalam istilah penulisnya &#8220;gekiga&#8221;) &#8220;Hanyut&#8221; karya Yoshihiro Tatsumi, serasa membaca tiga biografi sekaligus: biografi sang mangaka, yang di buku disamarkan bernama Hiroshi Katsumi; biografi industri manga; dan tentu saja kalau mau berlebihan (sebenarnya tidak berlebihan dalam konteks buku ini) biografi Jepang pasca-perang. Kalau kita melihat perjalanan hidup Hiroshi berjuang untuk meraih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>
<p><img src="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/ekakurniawan/FrXBKquDKG7muPYtNrU4sukCLFPOhHnoXRoavUqynDSpYN8DriYlGW6WdQos/hanyut.jpg" width="442" height="152"/> </p>
<p>Membaca novel grafis (atau dalam istilah penulisnya &#8220;gekiga&#8221;) &#8220;Hanyut&#8221; karya Yoshihiro Tatsumi, serasa membaca tiga biografi sekaligus: biografi sang mangaka, yang di buku disamarkan bernama Hiroshi Katsumi; biografi industri manga; dan tentu saja kalau mau berlebihan (sebenarnya tidak berlebihan dalam konteks buku ini) biografi Jepang pasca-perang.
<p /> Kalau kita melihat perjalanan hidup Hiroshi berjuang untuk meraih impiannya menjadi mangaka (pembuat komik), pada dasarnya kita bisa melihat perjuangan umum para seniman. Terutama sebagai penulis (dan jujur saja, sebelum ingin jadi penulis saya sempat tergila-gila ingin menjadi komikus), saya bisa merasakan tahapan-tahapan karirnya yang berat. <br /><span id="more-2145"></span>
<p /> Sebagai pemula, dia memulainya dengan menggambar manga empat kotak. Atau di sini lebih dikenal dengan komik strip. Komik lucu yang tamat dalam empat panel. Saya ingat zaman dulu, di Indonesia juga subur komik-komik seperti ini. Bahkan sampai menciptakan perkumpulan-perkumpulan. Yang saya ingat ada &#8220;Karoeng&#8221; (Kartunis Bandung), maklum waktu kecil saya bacaannya koran dan majalah Jawa Barat.
<p /> Seperti Hiroshi di Jepang, para pembuat komik strip mengawali karir dengan mengirim komik satu halaman ke majalah atau koran. Honornya kadang hanya berupa medali, contoh cetak, tapi tidak jarang uang yang lumayan. Apalagi kalau memenangkan hadiah. Kurang-lebih sama dengan yang dilakukan para penulis: mengirimkan puisi/cerita pendek ke majalah atau koran.
<p /> Kalau kita membandingkan industri komik Jepang pasca-perang dengan Indonesia tahun 60-70an pada dasarnya juga sama. Para penerbit, yang menikmati pertumbuhan ekonomi tinggi, mulai meminta para mangaka empat kotak ini untuk membuat komik-komik lebih panjang. Komik-komik 20an halaman, mereka gabung dengan komik lain menjadi semacam antologi.
<p /> Antologi-antologi ini banyak sekali jumlahnya. Ada yang khusus manga sejarah, manga thriller, manga roman. Karena antologi ini rutin, seringkali penerbitannya jadi penopang keuangan para mangaka. Di kemudian hari, antologi-antologi ini berkembang menjadi majalah manga.
<p /> Sebenarnya industri manga saat itu masih amburadul juga. Penerbit tidak membayar mangaka berdasarkan royalti, tapi honor berdasarkan jumlah halaman. Kondisi yang sama saya pikir terjadi di industri komik kita di masa lalu. Komik jadi, dibayar tunai, setelah itu naskah berada di tangan penerbit. Kondisi yang sama juga terlihat dari keadaan penerbit-penerbit tersebut. Sebagian besar penerbit manga saat itu bisa dibilang berskala rumahan (kios di Pasar Senen, dalam kasus industri komik Jakarta). Kebanyakan penerbit, awalnya adalah distributor atau memang penjual buku.
<p /> Toko buku juga belum merata. Distribusi komik mengandalkan &#8220;taman bacaan&#8221; (sama, kan?). Kondisi ini ada untung-ruginya. Ruginya, buku disewa oleh pembaca dan tidak menambah nilai komersial bagi penerbit. Tapi untungnya, taman bacaan-taman bacaan ini di lain pihak menjadi pembeli yang tetap. Dengan kata lain, setiap manga terbit sudah hampir pasti ada pembelinya: taman bacaan. Kondisi yang kurang sama di puncak kejayaan komik kita.
<p /> Tapi sebagaimana disinggung penerbit buku ini, <a href="http://nalar.co.id" title="Penerbit Nalar" target="_blank">Nalar</a>, ketika modernisasi masuk ke industri komik, industri manga di Jepang dengan sigap berubah memodernisasi diri. Di Indonesia hal itu tidak terjadi: dan akhirnya industri komik mati.
<p /> Perubahan itu antara lain: dengan daya beli yang meningkat, taman bacaan mulai turun popularitasnya, tapi toko buku mulai menjamur. Perubahan ini berdampak pada manajemen penerbitan. Mereka mulai menata diri. Sayang sekali, di Indonesia bisa dibilang tak ada penerbit komik yang berhasil bermetamorfosa menjadi penerbit modern. Padahal era taman bacaan sudah habis.
<p /> Perubahan lain juga terjadi di area penciptaan. Digambarkan para mangaka kadang-kadang dikumpulkan dalam satu tempat (kos-kosan/apartemen) untuk menghasilkan manga. Persis seperti para penulis skenario sinetron yang dikurung para produsen (ya, saya tahu soal ini, hehe). Dari sini tampak sekali industri manga Jepang memang sigap memasuki manga yang lebih terindustrialisasi.
<p /> Tapi tentu saja yang paling menarik adalah pergulatan Hiroshi dengan medium seninya. Jika seorang Hiroshi saja terus-menerus memikirkan keseniannya, tak heran jika manga (sebagai seni maupun industri), bisa maju seperti sekarang. Hiroshi mencoba membandingkan manga dengan karya-karya sastra. Ia bahkan mencoba mencari cara untuk mengadopsi cara film ke dalam manga.
<p /> Yang paling saya ingat adalah &#8220;teori&#8221;nya bahwa, jika panel penuh dengan detil, itu membawa pembaca pada suasana statis. Mereka akan diam untuk melihat gambar lebih lama. Tapi jika gambar lebih sederhana dan diberi balon dialog, suasana menjadi dinamis, mengalir. Dari sana, detail atau tidaknya sebuah panel, pada dasarnya bisa juga dipakai untuk mengatur irama cerita. Edan, kan, bisa mikir sejauh itu?
<p /> Terakhir sekali lagi, selain merupakan biografi sang penulis dan industri manga yang digelutinya, komik empat jilid ini juga bisa dibilang rekaman sejarah Jepang secara umum pasca-perang. Tiga &#8220;biografi&#8221; ini saling berkelindan dan saling mempengaruhi, tentu saja. Buku yang asyik dibaca, meskipun di ujungnya membuat sedikit sedih: kenapa industri komik kita tak berhasil melewati pancarobanya? Tapi baiklah, saya yakin selalu ada kesempatan kedua untuk industri komik kita. Ya, saya yakin.</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/mengintip-sejarah-industri-manga-2145.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lone Wolf and Cub: &#8220;Character that Stands Out&#8221;</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/lone-wolf-and-cub-129.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/lone-wolf-and-cub-129.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Apr 2008 17:06:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan]]></category>
		<category><![CDATA[Komik]]></category>
		<category><![CDATA[Manga]]></category>
		<category><![CDATA[Novel Grafis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekakurniawan.com/blog/lone-wolf-and-cub-129.php</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://www.amazon.com/exec/obidos/ASIN/1569715025/ref=nosim/bumimanusia-20">Lone Wolf and Cub</a></em> pertama-tama barangkali karena karakter gambarnya yang tak jauh berbeda dengan komik silat Indonesia tahun 70an. Dengan kata lain, berbeda dengan <em>manga</em> kebanyakan yang cenderung meng-karikaturkan (dengan penekanan kuat terhadap bentuk kanak-kanak di satu sisi, namun mengandung unsur sensual di sisi lain). Lebih jelasnya, saya menyukai komik ini (atau apalah namanya: novel grafis boleh, manga boleh, cergam tentu juga boleh -- buat saya tidak ada bedanya), karena karakter gambarnya yang realis di satu sisi, dan metaforis di sisi lain.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.amazon.com/exec/obidos/ASIN/1569715025/ref=nosim/bumimanusia-20">Lone Wolf and Cub</a></em> pertama-tama barangkali karena karakter gambarnya yang tak jauh berbeda dengan komik silat Indonesia tahun 70an. Dengan kata lain, berbeda dengan <em>manga</em> kebanyakan yang cenderung meng-karikaturkan (dengan penekanan kuat terhadap bentuk kanak-kanak di satu sisi, namun mengandung unsur sensual di sisi lain). Lebih jelasnya, saya menyukai komik ini (atau apalah namanya: novel grafis boleh, manga boleh, cergam tentu juga boleh &#8212; buat saya tidak ada bedanya), karena karakter gambarnya yang realis di satu sisi, dan metaforis di sisi lain.<br /><span id="more-129"></span><br />Kedua, di luar kecenderungan saya untuk menyukai segala cersil (cerita silat), saya menyukai gaya naratif komik ini. Berbeda dengan kebanyakan cersil Cina yang cenderung kompleks (dengan puluhan, bahkan kadang ratusan tokoh dihubungkan dengan alur cerita yang silang-menyilang &#8212; ciri yang menurut saya juga dipakai oleh penulis kita Asmaraman S. Kho Ping Hoo), <em>Lone Wolf and Cub</em> justru hanya mengisahkan perjalanan Ogami Itto dan anaknya, Daigoro sebagai seorang pembunuh bayaran. Sebagaimana para samurai memiliki &#8220;kode samurai&#8221; atau ronin juga memiliki &#8220;kode ronin&#8221; sebagai patokan etika mereka, Ogami Itto memutuskan untuk menempuh jalan pembunuh bayaran, tentu juga dengan moralnya sendiri. Kode etik utama yang ia pegang adalah: ia harus tahu kenapa harus membunuh seseorang.</p>
<p>Begitulah komik ini sesungguhnya dibangun oleh episode-episode singkat (antara 30-50 halaman), di mana di setiap epidose Ogami Itto harus menyelesaikan misinya membunuh seseorang. Episode-episode ini jadinya serupa cerita pendek, karena di setiap misi pembunuhan, terdapat sebuah kisah mengenai latar-belakang dan motif pembunuhan tersebut. Meksipun setiap episode temanya selalu sama, yakni: hubungan antara pembunuh bayaran, pemesan dan korban, penulis <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Kazuo_Koike">Kazuo Koike</a> bisa mengolahnya menjadi sesuatu yang selalu berbeda dan unik di setiap episode. Kadang-kadang kita bersimpati kepada si klien, kadang kepada korban, kadang malah berpikir: yup, memang brutal sekali!</p>
<p>Di balik kisah brutal semacam itu, tak jarang secara ironik keluar sejenis filsafat hidup yang aneh tapi agak <em>make sense</em>. Sebagai contoh, Ogami Itto sering memakai kepolosan anaknya yang masih kecil untuk memancing korbannya. Banyak orang (termasuk kliennya), menganggap tindakan melibatkan anak kecil dalam pekerjaan kotor semacam itu sebagai sangat tidak bermoral. Tapi dengan enteng Ogami Itto menjawab: &#8220;Seorang ayah mengetahui hati anaknya, sebagaimana hanya seorang anak bisa mengerti hati ayahnya.&#8221; Saya yakin filosofi macam begini tak mungkin dipelajari di padepokan manapun: ini hanya bisa keluar dari seorang ayah yang hidup-mati bersama anaknya!</p>
<p>Tentu saja, di atas segalanya, daya tarik utama komik ini sebenarnya mungkin berawal dari karakter Ogami Itto sendiri. Dikisahkan sebelum menjadi pembunuh bayaran, ia sebenarnya algojo Shogun, dengan pedang datonuki di tangannya. Tugas utamanya membunuh para daimyo yang sepuku, atas nama Shogun. Belakangan ia dicurangi oleh klan Yagyu yang membunuh keluarganya, sekaligus memfitnahnya hingga menjadi kriminal dan buronan. Selama pelarian dan perjalanan penuh dendam inilah, Ogami Itto memutuskan menempuh &#8220;jalan menuju neraka&#8221;, sebagai pembunuh bayaran.</p>
<p>&#8220;<em>Character that stands out</em>!&#8221; begitu memang Kazuo Koike selalu memberikan resep mengenai keberhasilannya. Bagi saya, karakter yang menonjol memang menjadi pondasi bagi alur kisah yang juga kuat. Tak ada kisah yang hebat tanpa karakter yang menonjol di dalamnya!</p>
<p>Meskipun begitu, sekali lagi, ilustrasi dari <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Goseki_Kojima">Goseki Kojima</a> melengkapi kesempurnaan komik ini. Tanpa tangan Kojima, saya rasanya tak percaya komik ini akan sehebat yang saya kenal sekarang (Koike pernah bekerjasama dengan ilustrator lain, terutama setelah Kojima meninggal, tapi tak pernah meraih pencapaian yang diraih duet ini dalam <em>Lone Wolf and Cub</em> serta berlanjut misalnya dalam <em>Path of the Assassin</em> dan <em>Samurai Executioner</em>). Ilustrasi Kojima tak hanya filmis, tapi juga ia bisa memberi ekspresi tak hanya kepada tokoh, tapi juga kepada benda-benda. Dalam ilustrasi Kojima, tak hanya tokoh yang bisa marah, misalnya, tapi juga hujan dan sungai. Goresannya tak hanya bersifat deskriftif, sebagaimana kebanyakan komik, namun juga memberi impresi.</p>
<p>Terakhir, bagi siapa pun yang ingin membuat cerita silat dan/atau komik, menurut saya <em>Lone Wolf and Cub</em> harus menjadi salah satu referensi. Atau bahkan, jangan membuat cerita silat dan/atau komik sebelum membaca buku 28 jilid ini. Jika saya membuat daftar 100 komik yang harus dibaca sebelum mati, hmmm, barangkali daftar saya dari nomor 1 sampai 28 adalah buku ini. Dan itu, sungguh, sama sekali tak berlebihan.</p>
<p><strong>nb.</strong><br />Sila baca juga tulisan saya tentang cerita silat yang lain:<br /><a href="http://www.ekakurniawan.com/blog/sejarah-dalam-cerita-silat-kho-ping-hoo-27.php">Sejarah dalam Cerita Silat Kho Ping Hoo</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/lone-wolf-and-cub-129.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

