Capaian Eksperimentasi Novel Lelaki Harimau

oleh Maman S. Mahayana, Suara Pembaruan

Pemanfaatan -atau lebih tepat eksplorasi-setiap kata dan kalimat tampak begitu cermat dalam usahanya merangkai setiap peristiwa. Eka seperti hendak menunjukkan dirinya sebagai “eksperimentalis” yang sukses bukan lantaran faktor kebetulan. Ada kesungguhan yang luar biasa dalam menata setiap peristiwa dan kemudian mengelindankannya menjadi struktur cerita.

Pascakolonialitas dalam Novel Cantik itu Luka

Tetapi Kutukanku akan Terus Berjalan

oleh Katrin Bandel, Meja Budaya

Membaca kalimat pertama novel Cantik Itu Luka, kita seperti membaca sebuah pengumuman: INI BUKAN NOVEL REALIS (dalam arti: realis konvensional). Dalam sebuah novel realis konvensional tidak ada tokoh yang “bangkit dari kuburan setelah dua puluh satu tahun kematian” (hal. 1). Tentu bukan kebetulan pengarang memilih adegan ini – yang bukan kejadian paling awal secara kronologis dalam Cantik Itu Luka – sebagai adegan pembuka novelnya.

Air Bah dalam Novel “Cantik itu Luka”

oleh Maman S. Mahayana, Media Indonesia

Dalam karya yang bermaksud mencampakkan logika, kejanggalan itu tak terlalu jadi soal. Tetapi masalahnya lain ketika ia mengangkat latar waktu pada zaman tertentu. Dewi Ayu, keturunan Belanda, pelacur zaman Jepang, dan melanjutkan karier kepelacurannya selepas merdeka. Di sinilah soalnya. Periksalah Khotbah di Atas Bukit, Ziarah, Godlob atau karya-karya yang mencampakkan logika. Di sana, latar waktu bisa terjadi kapan saja dengan lokasi yang juga bisa di mana saja. Dengan begitu, titik tekan pada gagasan atau pemikiran filosofis, bisa berlaku di sembarang waktu dan tempat. Ia sekaligus menunjukkan bahwa gagasan tak terikat ruang dan waktu.

Cantik itu Luka