<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Eka Kurniawan Project &#187; Malam Seribu Bulan</title>
	<atom:link href="http://ekakurniawan.com/blog/tag/malam-seribu-bulan/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ekakurniawan.com</link>
	<description>Menulis dan petualangan-petualangan lainnya</description>
	<lastBuildDate>Tue, 10 Apr 2012 11:17:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>&#8220;Malam Seribu Bulan&#8221; di Tokyo University of Foreign Studies</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/malam-seribu-bulan-di-tokyo-university-of-foreign-studies-551.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/malam-seribu-bulan-di-tokyo-university-of-foreign-studies-551.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Dec 2008 01:07:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[Cantik itu Luka]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Malam Seribu Bulan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=551</guid>
		<description><![CDATA[Hari-hari saya berada di Tokyo semakin cerah. Hanya sekali hujan turun, yakni malam ketika saya usai mengikuti seminar. Di luar yang saya kira, seminar itu bukan bagian dari seminar yang lebih luas; tapi benar-benar merupakan seminar sehari. Ada lima orang di forum yang membicarakan novel saya. Pertama, Pak Toru Aoyama yang berlaku sebagai tuan rumah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_686" class="wp-caption aligncenter" style="width: 365px"><img src="http://3.bp.blogspot.com/_tn9p8W26Wqg/ST6TilyErkI/AAAAAAAAAMQ/GcyrVrdtyCE/s400/seminar2.jpg" alt="Seminar di Tokyo University of Foreign Studies. Foto oleh Ratih Kumala." title="seminar1" width="355" height="266" class="size-full wp-image-686" /><p class="wp-caption-text">Seminar di Tokyo University of Foreign Studies. Foto oleh Ratih Kumala.</p></div>
<p>Hari-hari saya berada di Tokyo semakin cerah. Hanya sekali hujan turun, yakni malam ketika saya usai mengikuti seminar. Di luar yang saya kira, seminar itu bukan bagian dari seminar yang lebih luas; tapi benar-benar merupakan seminar sehari.</p>
<p>Ada lima orang di forum yang membicarakan novel saya. Pertama, Pak Toru Aoyama yang berlaku sebagai tuan rumah sekaligus moderator. Terus ada Shiho Sawai, peneliti Jepang yang memberikan konteks mengenai kesusastraan Indonesia. Terus ada kritikus sastra Jepang yang mengulas novel <em>Bi wa Kizu</em> (<em>Cantik itu Luka</em>). Dua lainnya adalah saya dan penerjemah untuk saya.<br />
<span id="more-551"></span><br />
Saya kebagian membicarakan mengenai novel saya <em>Malam Seribu Bulan</em>, dan sesekali menanggapi komentar mengenai novel pertama saya, <em>Cantik itu Luka</em>. Karena novel tersebut belum terbit, saya memberi semacam ringkasan cerita bagi novel itu. Hal ini sebenarnya agak menyulitkan saya, soalnya novel itu tak cuma sekadar merupakan gagasan cerita, tapi juga mengandung gagasan bentuk yang berhubungan dengan cerita. Tanpa melihat novelnya secara utuh, rasanya sulit mengenali gagasan bentuknya. Tapi tak apa, kami kemudian lebih banyak membicarakan ide cerita novel tersebut.</p>
<p>Karena pusat studi yang mengadakan seminar ini merupakan pusat studi Asia Tenggara, sastra, dan Islam, mereka sangat tertarik dengan representasi Islam dalam novel <em>Malam Seribu Bulan</em>. Tentu saya tak berpretensi untuk mewakili gambaran umum Islam di masyarakat Indonesia, tentu tidak juga di dunia kesusastraan kita. Sebagai pembanding, maka Shiho bicara mengenai komunitas Forum Lingkar Pena (FLP) yang banyak mengklaim sastra mereka sebagai &#8220;sastra Islami&#8221;. Saya sendiri tak akan mengatakan novel saya sebagai novel Islami, tapi bahwa <em>Malam Seribu Bulan</em> mengangkat isu mengenai agama Islam, bisa dikatakan benar. Tampaknya itulah yang membuat mereka kemudian mengundang saya untuk mempresentasikan novel ini.</p>
<p>Pada dasarnya saya tak biasa membicarakan isi cerita novel saya dengan ringkas, maka saya tak akan mengulangnya di sini. Tapi pada intinya, novel ini berkisah mengenai Syekh Ruhayat Jamil bersama empat muridnya. Saya menceritakan Syekh Ruhayat Jamil sejak masa nenek moyangnya mendirikan padepokan mereka, melintasi berbagai timbul-tenggelamnya perkembangan Islam di Indonesia: sejak kedatangan orang-orang Turki di Kerajaan Aceh; Perang Padri; Wali Songo di Jawa; pendirian organisasi Islam modern semacam Sarekat Islam, Nu, Muhammadiyah, peristiwa Darul Islam; para pemuda yang berbondong-bondong sekolah militer ke Pakistan. Ya, kira-kira itulah yang ada di novel ini. Semua kisah keluarga Ruhayat Jamil ini diceritakan dalam empat versi (yang kadang sama kadang berbeda jauh) serta empat gaya (ada yang mengkopi gaya prosaik Quran hingga alusi-alusi Nizami, gaya bercerita Kisah 1001 Malam hingga lelucon-lelucon sufistik Nasrudin). Keempat versi kisah ini merupakan usaha &#8220;kanonisasi&#8221;, sebagaimana sering terjadi dalam berbagai kelahiran kitab suci.</p>
<p>Saya tak akan membicarakannya lebih jauh. Jika tertarik, segera membeli bukunya ketika waktunya terbit (hehehe).</p>
<p>Bagaimanapun, itu kali pertama saya membicarakan novel ini di depan publik. <em>Malam Seribu Bulan</em> sebenarnya saya rencanakan terbit November ini, tapi beberapa kesulitan dalam pengeditan membuat saya terpaksa mengundurnya kembali. Mungkin Januari atau Februari, mudah-mudahan target ini bisa tercapai. Sekembali ke Jakarta, saya tampaknya akan liburan selama satu atau dua minggu untuk menyelesaikan pengeditan novel ini.</p>
<p>Mengenai <em>Cantik itu Luka</em>, ada respon pembaca Jepang yang unik dan di luar dugaan saya. Ada adegan di novel itu ketika Kliwon menculik Alamanda ke tengah laut, dan di sana mereka terpaksa makan ikan mentah. Nah, dalam versi Indonesia, itu berarti sebuah &#8220;keterpaksaan&#8221; yang menderitakan. Tapi di Jepang, karena mereka doyan ikan mentah, efek itu enggak berhasil. Hehehe &#8230;</p>
<p>Begitulah. Selepas seminar, waktu saya dan Ratih lebih longgar lagi. Kami memutuskan pergi ke Tokyo Tower (norak ya, tapi di Jakarta pun, saya baru pergi ke Monas tahun lalu, itupun karena nganter keponakan, hehe), serta ini yang paling kami suka: Ghibli Museum. Tapi cerita mengenai itu besok aja, ya &#8230; Salam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/malam-seribu-bulan-di-tokyo-university-of-foreign-studies-551.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Melihat Gadis Manga di Shibuya</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/melihat-gadis-manga-di-shibuya-543.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/melihat-gadis-manga-di-shibuya-543.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Dec 2008 02:14:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[Malam Seribu Bulan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=543</guid>
		<description><![CDATA[Sudah tiga hari saya dan Ratih berada di Tokyo. Acara utama kami baru akan dilakukan siang ini. Saya diundang ke Tokyo University of Foreign Studies &#8211; TUFS &#8211; untuk membicarakan novel ketiga saya Malam Seribu Bulan, baru akan terbit awal tahun depan. Pengundang saya adalah Prof. Toru Aoyama. Ia tampaknya, sebagaimana diberitahu teman saya yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_683" class="wp-caption aligncenter" style="width: 365px"><a href="http://ekakurniawan.com/blog/melihat-gadis-manga-di-shibuya-543.php/inokashira1" rel="attachment wp-att-683"><img src="http://1.bp.blogspot.com/_tn9p8W26Wqg/ST6Sw2ptjmI/AAAAAAAAAMI/uO7pAImJR9c/s400/inokashira.jpg" alt="Di Taman Inokashira. Foto oleh Ratih Kumala." title="inokashira1" width="355" height="266" class="size-full wp-image-683" /></a><p class="wp-caption-text">Di Taman Inokashira. Foto oleh Ratih Kumala.</p></div>
<p>Sudah tiga hari saya dan Ratih berada di Tokyo. Acara utama kami baru akan dilakukan siang ini. Saya diundang ke Tokyo University of Foreign Studies &#8211; TUFS &#8211; untuk membicarakan novel ketiga saya <em>Malam Seribu Bulan</em>, baru akan terbit awal tahun depan. </p>
<p>Pengundang saya adalah Prof. Toru Aoyama. Ia tampaknya, sebagaimana diberitahu teman saya yang bekerja di NHK, mengepalai pusat studi mengenai sastra, Islam, dan Asia Tenggara. Seminar kami pun ada hubungannya dengan pusat studi tersebut.<br />
<span id="more-543"></span><br />
Saya belum bisa membicarakan seminar tersebut, karena baru hari ini. Selama tiga hari kami di Tokyo, akhirnya saya dan istri mempergunakannya dengan berjalan-jalan saja. Dari Indonesia, kami menumpang peswat Garuda yang dipenuhi oleh remaja-remaja Jepang, yang tampaknya baru berlibur dari Bali. Beberapa di antaranya menenteng papan surf. Di Narita, seorang gadis yang masih terbata-bata berbahasa Indonesia bernama Miho datang menjemput. Saya tertidur di dalam bis yang membawa kami ke hotel di Kishijoji. Capek, hehe.</p>
<p>Orang-orang Jepang, sebagaimana yang kami tahu, sangat ramah. Bahkan saya terkesan dengan urusan imigrasi yang cepat, setelah mengalami tujuh jam tertahan di imigrasi bandara LAX, Los Angeles tahun lalu. Satu-satunya masalah, kebanyakan tidak berbahasa Inggris. Lebih parahnya, barangkali karena dandanan kami hehe, mereka dengan cueknya sering mengajak kami berbahasa Jepang, membuat saya dan Ratih buru-buru bilang, &#8220;<em>Sorry, we can&#8217;t speak Japanese</em>&#8220;. Kebetulan Ratih bisa mengatakan kalimat itu dalam bahasa Jepang.</p>
<p>Di Tokyo, kami tinggal di Kichijoji. Sekitar seperempat jam dengan kereta ke pusat Tokyo. Kami baru tahu, dulunya distrik ini merupakan permukiman seniman. Banyak toko suvenir yang membuat kami kegirangan. Benar, saya dan Ratih suka sekali melihat toko-toko kecil yang menjajakan suvenir, termasuk t-shirt dan pakaian lucu-lucu. Kami juga dua kali pergi ke Taman Inokashira. kebetulan musim gugur belum berakhir, jadi kami bisa melihat dedaunan berwarna merah dan kuning. Jika musim semi, orang datang ke taman itu untuk melihat bunga-bunga bermekaran, termasuk bunga Sakura.</p>
<p>Diantar teman kami, Lily Yulianti Farid yang tinggal dan bekerja di Tokyo, kami akhirnya pergi ke Harajuku. Hehe, itu memang salah satu rencana kami. Entah kenapa, sebagai penulis, kami lebih suka pergi ke tempat seperti itu daripada ke museum seni atau teater. Lily sempat bilang, kaum intelek biasanya risih pergi ke Harajuku. Ia bahkan bilang, teman-teman Jepangnya, yang terpelajar dan aktivis, akan merasa malu kalau kepergok berada di sana. Tapi kami cuek saja. Saya bukan pengamat budaya masa. Kami pergi ke sana karena memang senang melihat toko-toko pakaian, mode-mode yang asyik di lihat, dan tentu saja juga senang melihat penyanyi hiphop beratraksi di teras stasiun. Malam itu, kami melihat segerombolan penggemar <em>rock and roll</em> berjoget dan berdandan ala Elvis Presley di depan pintu masuk Kuil Meiji.</p>
<p>Yang membuat kami agak tergelak adalah kenyataan bahwa kebanyakan remaja Tokyo, berjalan dengan menekan telapak kaki bagian luar. Itu membuat kaki mereka sedikit membentuk huruf O atau huruf Y terbalik. Tentu saja itu bukan kelainan, melainkan trend agar terlihat seksi. Gaya itu mereka tiru dari gaya gadis-gadis di <em>manga</em>. Perhatikan cara tokoh-tokoh komik <em>Sailor Moon</em> atau sejenisnya berdiri, kakinya selalu dengan sikap seperti itu: kedua paha agak dirapatkan, tapi kedua betis agak direnggangkan. Konon hal seperti itu seksi. Tentu saja kalau mempraktekannya, pasti merepotkan. Tapi mereka tetap melakukannya, hehe.</p>
<p>Ledakan gadis-gadis seperti itu terdapat di Shibuya, terutama di sekitar patung Hachiko. Kami sampai berpendapat, sol sepatu mereka harus benar-benar kuat atau akan cepat rusak.</p>
<p>Ngomong-ngomong soal Hachiko, kami sempat berfoto di depan patung anjing bernama Hachiko itu. Konon itu nama anjing sungguhan. Ia lahir tahun 1923 dan dimiliki oleh seorang profesor dari Universitas Tokyo bernama Eisaburo Ueno. Tiap hari, sang profesor berangkat ke kampus dengan membawa Hachiko hingga stasiun Shibuya, lalu Hachiko ditinggal di sana untuk pulang sendirian. Nanti ia akan datang lagi untuk menjemput pak profesor pulang kerja. Semua pelanggan stasiun mengenal baik profesor dan anjingnya ini.</p>
<p>Tapi suatu hari, sang profesor meninggal di kampusnya. Meskipun begitu, Hachiko tetap datang ke stasiun Shibuya untuk menjemputnya. Ia terus melakukannya hingga 10 atau 11 tahun, tak tahu jika majikannya sudah meninggal. Untuk mengenang kesetiaan Hachiko, sebuah patung anjing didirikan di muka stasiun Shibuya itu, setahun sebelum Hachiko sendiri meninggal.</p>
<p>Terakhir, setelah mengunjungi Harajuku, kami berencana mengunjungi Museum Ghibli, sepuluh menit dari hotel kami. Saya menyukai karya-karya animasi Hayao Miyazaki, dan ketika tahu kami akan tinggal di Kichijoji, mengunjungi museum itu jadi salah satu yang terbayang. Tapi ternyata enggak bisa asal datang terus beli tiket, hehe &#8230; harus pesan dulu. Mudah-mudahan sih kesampaian.</p>
<p>Sekarang, saya harus bersiap-siap pergi ke TUFS, dengan <em>print-out</em> <em>Malam Seribu Bulan</em> yang saya bungkus dari Jakarta. Itu bungkusan kesayangan saya akhir-akhir ini, hehe &#8230; Salam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/melihat-gadis-manga-di-shibuya-543.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Malam Seribu Bulan &#8211; Novel Baru</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/malam-seribu-bulan-novel-baru-127.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/malam-seribu-bulan-novel-baru-127.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Mar 2008 05:13:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[Malam Seribu Bulan]]></category>
		<category><![CDATA[Novel]]></category>
		<category><![CDATA[Ulasan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekakurniawan.com/blog/malam-seribu-bulan-novel-baru-127.php</guid>
		<description><![CDATA[Dua hari lalu, Mirna, editor saya dari Gramedia menelepon: menagih janji untuk mengirimkan naskah lengkap novel ketiga saya: Malam Seribu Bulan. Sebenarnya sudah saya kirim bab pertama, tapi masih ada sembilan belas bab lainnya bertahan di komputer saya. Meskipun begitu, saya janji novel itu sudah akan saya kirim kepadanya (di antara 30 hari) bulan April [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dua hari lalu, Mirna, editor saya dari <a href="http://gramedia.com">Gramedia</a> menelepon: menagih janji untuk mengirimkan naskah lengkap novel ketiga saya: <em>Malam Seribu Bulan</em>. Sebenarnya sudah saya kirim bab pertama, tapi masih ada sembilan belas bab lainnya bertahan di komputer saya. Meskipun begitu, saya janji novel itu sudah akan saya kirim kepadanya (di antara 30 hari) bulan April ini. Ugh, kalau dihitung-hitung, novel ini sudah berumur hampir empat tahun saya tulis! Mudah-mudahan hasilnya tidak mengecewakan dan saya tak lagi melanggar janji untuk menerbitkannya pertengahan tahun ini. Dukung, ya!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/malam-seribu-bulan-novel-baru-127.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

