<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Eka Kurniawan Project &#187; Lelaki Harimau</title>
	<atom:link href="http://ekakurniawan.com/blog/tag/lelaki-harimau/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ekakurniawan.com</link>
	<description>Menulis dan petualangan-petualangan lainnya</description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Feb 2012 03:49:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Lanskap &#8220;Lelaki Harimau&#8221;</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/lanskap-lelaki-harimau-3081.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/lanskap-lelaki-harimau-3081.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Jan 2012 10:17:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[Foto]]></category>
		<category><![CDATA[Lelaki Harimau]]></category>
		<category><![CDATA[Pangandaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=3081</guid>
		<description><![CDATA[<p>Foto di atas saya ambil belum lama ketika saya ke Pangandaran. Sepuluhan tahun lalu, lanskap itulah yang menginspirasi saya menulis paragraf pembuka novel "Lelaki Harimau", dan ternyata belum banyak berubah sampai sekarang. </p>
<p>Berminat membandingkan foto di atas dengan pembukaan novel tersebut? Sila baca paragraf pertama ini:]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>
<p>
<div class='p_embed p_image_embed'> <a href="http://getfile5.posterous.com/getfile/files.posterous.com/ekakurniawan/KwiJZSWSkM0MB5T9tNl77fhHWFJgTRpb77KIgdtcVXFkEpwpbtIA0RgL2TjW/lh-lanskap.jpg"><img alt="Lh-lanskap" height="375" src="http://getfile6.posterous.com/getfile/files.posterous.com/ekakurniawan/9tbLInQ5RsTtQwnayA2cdkbmUMg06zTpMWuGARQvuzcG9jTK0sy2jzTLwelg/lh-lanskap.jpg.scaled.500.jpg" width="500" /></a> </div>
</p>
<p>Foto di atas saya ambil belum lama ketika saya ke Pangandaran. Sepuluhan tahun lalu, lanskap itulah yang menginspirasi saya menulis paragraf pembuka novel &#8220;Lelaki Harimau&#8221;, dan ternyata belum banyak berubah sampai sekarang. </p>
<p>Berminat membandingkan foto di atas dengan pembukaan novel tersebut? Sila baca paragraf pertama ini: <br /><span id="more-3081"></span> </p>
<blockquote><p>Senja ketika Margio membunuh Anwar Sadat, Kyai Jahro tengah masyuk dengan ikan-ikan di kolamnya, ditemani aroma asin yang terbang di antara batang kelapa, dan bunyi falseto laut, dan badai jinak merangkak di antara ganggang, dadap, dan semak lantana. Kolamnya menggenang di tengah perkebunan cokelat, yang meranggas kurang rawat, buah-buahnya kering dan kurus tak lagi terbedakan dengan rawit, hanya berguna bagi pabrik tempe yang merampok daunnya setiap petang. Di tengah perkebunan, mengalir sungai kecil penuh dengan ikan gabus dan belut, dikelilingi rawa yang menampung tumpahan arus kala banjir. Orang-orang datang, selang berapa lama selepas perkebunan dinyatakan bangkrut tumbang, untuk memberi patok-patok dan menanam padi di rawa-rawa itu, mengusir eceng gondok dan rimba raya kangkung. Kyai Jahro datang bersama mereka, menanam padi untuk satu musim, terlalu banyak minta diurus dan menggerogoti waktu. Kyai Jahro yang bahkan tak mengenal apa makna bintang waluku mengganti padi dengan kacang yang lebih tangguh, tak minta banyak urus, namun dua karung kacang tanah di musim panen tak alang membuatnya bertanya-tanya, dengan cara apa ia mesti memamahnya. Demikianlah petak tersebut berakhir menjadi kolam, dilemparkan ke sana benih muzair dan nila, dan jadi kesenangannya untuk memberi pakan setiap senja, melihat mulut mereka cuap-cuap di permukaan air menggenang.</p></blockquote>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/lanskap-lelaki-harimau-3081.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kabar Baik untuk “Lelaki Harimau”</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/kabar-baik-untuk-lelaki-harimau-2155.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/kabar-baik-untuk-lelaki-harimau-2155.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Oct 2010 10:24:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[Lelaki Harimau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/wordpress/kabar-baik-untuk-lelaki-harimau-2155.php</guid>
		<description><![CDATA[Di tengah kabar sedih mengenai bencana alam, pagi ini saya memperoleh kabar baik mengenai novel &#8220;Lelaki Harimau&#8221;. Novel itu akan diterjemahkan ke satu bahasa dan draft kontrak segera dikirim. Pembicaraan mengenai kontrak ini memang agak bertele-tele, jika tak salah ingat sudah hampir setahun. Beberapa waktu lalu saya sempat bertemu seorang sutradara film yang sedang mengikuti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>
<p><a href='http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2010-11-01/fahAszsjgalgJgvpxHhEoowoFweFqbevsEoiuivujxohoDxEBIFxrcqksatp/lh.jpg.scaled1000.jpg'><img src="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2010-11-01/fahAszsjgalgJgvpxHhEoowoFweFqbevsEoiuivujxohoDxEBIFxrcqksatp/lh.jpg.scaled500.jpg" width="500" height="321"/></a> </p>
<p>Di tengah kabar sedih mengenai bencana alam, pagi ini saya memperoleh kabar baik mengenai novel &#8220;Lelaki Harimau&#8221;. Novel itu akan diterjemahkan ke satu bahasa dan draft kontrak segera dikirim. Pembicaraan mengenai kontrak ini memang agak bertele-tele, jika tak salah ingat sudah hampir setahun. Beberapa waktu lalu saya sempat bertemu seorang sutradara film yang sedang mengikuti acara di luar negeri. Dia bilang bertemu orang yang &#8220;sedang menerjemahkan novel Lelaki Harimau&#8221;. Tentu saja saya agak terkejut, karena pembicaraan mengenai kontrak saja belum selesai. Tapi mengingat novel &#8220;Cantik itu Luka&#8221; yang sudah diselesaikan penerjemahannya ke Bahasa Jepang sebelum saya dihubungi untuk penerbitan, saya memutuskan untuk tak ambil pusing.
<p /> Tentu saja saya senang novel-novel saya bisa diterbitkan di dalam bahasa lain. Tapi saya ingin sealamiah mungkin. Jika layak, mungkin seharusnya diterbitkan. Jika tidak, orang akan melupakannya dengan segera dan saya berharap bisa menulis sesuatu yang lebih baik. Hari-hari ini saya juga mendengar beberapa karya penulis lain juga akan diterbitkan dalam bahasa asing. Saya harap ini awal yang baik untuk kesusastraan Indonesia. Good luck, buat mereka semua.
<p /> Terakhir saya tak akan menyebutkan lebih dulu dalam bahasa apa, dan penerbit apa &#8220;Lelaki Harimau&#8221; akan terbit. Saya akan memberi kabar lanjutan jika saatnya sudah siap rilis. Doakan, ya.</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/kabar-baik-untuk-lelaki-harimau-2155.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Beli Buku Kami di Gramedia Online</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/beli-buku-kami-di-gramedia-online-2156.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/beli-buku-kami-di-gramedia-online-2156.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Oct 2010 10:24:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[Cantik itu Luka]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta Tak Ada Mati]]></category>
		<category><![CDATA[Gelak Sedih]]></category>
		<category><![CDATA[Kronik Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Larutan Senja]]></category>
		<category><![CDATA[Lelaki Harimau]]></category>
		<category><![CDATA[Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/wordpress/kios-kecil-di-tokopedia-2156.php</guid>
		<description><![CDATA[Buat teman-teman yang kesulitan memperoleh buku saya (dan Ratih Kumala), sekarang bisa langsung membeli dari GramediaShop di sini untuk buku-buku saya, dan di sini untuk buku-buku Ratih Kumala.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Buat teman-teman yang kesulitan memperoleh buku saya (dan <a href="http://ratihkumala.com" title="Ratih Kumala's Little Blog">Ratih Kumala</a>), sekarang bisa langsung membeli dari <a href="http://www.gramediashop.com/book/author/Eka_Kurniawan">GramediaShop</a> <a href="http://www.gramediashop.com/book/author/Eka_Kurniawan">di sini untuk buku-buku saya</a>, dan <a href="http://www.gramediashop.com/book/author/Ratih_Kumala">di sini untuk buku-buku Ratih Kumala</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/beli-buku-kami-di-gramedia-online-2156.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Google Books</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/google-books-220.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/google-books-220.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jun 2008 06:24:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta Tak Ada Mati]]></category>
		<category><![CDATA[Gelak Sedih]]></category>
		<category><![CDATA[Google]]></category>
		<category><![CDATA[Lelaki Harimau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=220</guid>
		<description><![CDATA[Dua buku saya sudah bisa dilihat preview-nya di Google Books. Dari situ kalau tertarik, bisa langsung beli ke penerbitnya. Emang Google dan Gramedia, keren deh! Kalo mau coba, sila kunjungi judul-judul ini: Lelaki Harimau, Gelak Sedih. Judul yang lain semoga nyusul. Update (19 Juli): Buku saya yang lain di Google Book: Cinta Tak Ada Mati.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dua buku saya sudah bisa dilihat preview-nya di <a href="http://books.google.com">Google Books</a>. Dari situ kalau tertarik, bisa langsung beli ke penerbitnya. Emang <a href="http://google.com">Google</a> dan <a href="http://gramedia.com">Gramedia</a>, keren deh! Kalo mau coba, sila kunjungi judul-judul ini: <a href="http://books.google.com/books?id=SyVYnFwHoGsC&amp;printsec=frontcover#PPP1,M1">Lelaki Harimau</a>, <a href="http://books.google.com/books?id=x-bqTY4ZZ6MC&amp;printsec=frontcover">Gelak Sedih</a>. Judul yang lain semoga nyusul. <strong>Update (19 Juli)</strong>: Buku saya yang lain di Google Book: <a href="http://books.google.com/books?id=gvbwAcsWF3IC&#038;printsec=frontcover&#038;dq=eka+kurniawan">Cinta Tak Ada Mati</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/google-books-220.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Menulis Novel? (2)</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/bagaimana-menulis-novel-2-217.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/bagaimana-menulis-novel-2-217.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jun 2008 17:27:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penulisan]]></category>
		<category><![CDATA[Bagaimana Menulis Novel]]></category>
		<category><![CDATA[Cantik itu Luka]]></category>
		<category><![CDATA[Lelaki Harimau]]></category>
		<category><![CDATA[Novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=217</guid>
		<description><![CDATA[Saya terpaksa menulis posting ini sepenggal-sepenggal karena masih di tengah proses "membereskan" novel saya. Dan saya memposting ini, sama seperti semula, juga sebagai catatan untuk mengingat-ingat.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="dropcaps">S</span>aya terpaksa menulis posting ini sepenggal-sepenggal karena masih di tengah proses &#8220;membereskan&#8221; novel saya. Dan saya memposting ini, sama seperti semula, juga sebagai catatan untuk mengingat-ingat.</p>
<p>Barangkali saya pernah mengatakannya: novel ketiga saya berlatar masuk dan perkembangan Islam di Nusantara. Ada dua hal yang harus saya perbaiki dalam beberapa hari ini. Pertama, konsistensi menyangkut penanggalan. Saya memutuskan untuk mempergunakan penanggalan Hijriah dalam novel ini. Itu berarti saya harus mengkonversi semua penanggalan Masehi ke Hijriah. Kedua, saya juga harus membereskan beberapa transliterasi Arab ke Bahasa Indonesia agar lebih konsisten. Kalau ada yang tahu sejenis <em>software</em> untuk konversi penanggalan dan rujukan transliterasi yang baku, <em>let me know</em>.</p>
<p>Sekarang kembali ke &#8220;Bagaimana Menulis Novel&#8221; Bagian 2.<br />
<span id="more-217"></span><br />
<strong>3. Nada dan Irama</strong><br />
<span class="dropcaps">J</span>ujur saja, saya tak tahu harus memakai istilah apa. Saya mempergunakan kata &#8220;nada&#8221; sebagai padanan kata &#8220;<em>tone</em>&#8221; dalam bahasa Inggris, dan &#8220;irama&#8221; dari &#8220;<em>rhythm</em>&#8220;. Sebagaimana dalam lagu, saya percaya dalam novel juga ada yang disebut &#8220;nada&#8221; dan &#8220;irama&#8221;. Istilah ini saya rujuk sebagai &#8220;cara seseorang menulis&#8221;. Berbeda dengan cerita pendek, saya menaruh perhatian yang besar terhadap &#8220;nada&#8221; dalam novel. Kenapa? Sederhana saja: novel berdurasi panjang, sangat mudah bagi seorang penulis untuk &#8220;terpeleset&#8221;, atau kalau dalam nyanyian, sangat mudah untuk menjadi fals.</p>
<p>Baiklah, saya akan mencoba membuatnya lebih jelas. Barangkali kita pernah membaca sebuah tulisan yang kita anggap santai, ringan. Di tempat lain, kita membaca sebuah tulisan yang membuat kita nyengir-nyengir kecil. Ada juga tulisan yang membuat kita berpikir, tapi tanpa harus membuat kepala terbakar. Saya percaya, itu sangat tergantung &#8220;nada&#8221; yang dipakai. Dengan kata lain, kita bisa menulis hal yang sama dengan nada yang berbeda. Seorang penulis harus memilih satu pilihan nada tertentu yang paling cocok untuk novelnya.</p>
<p>Dalam <em>Cantik itu Luka</em>, saya mempergunakan penulisan yang cenderung sederhana, dengan kata-kata sehari-hari. Saya pikir saya tak perlu mengatakan kenapa saya memilih itu. Tapi jika kamu membaca novel saya berikutnya, <em>Lelaki Harimau</em>, pasti bisa menemukan bahwa saya memakai pilihan kata dan cara menulis yang berbeda. Dengan kata lain, saya memakai &#8220;nada&#8221; yang berbeda. Kurang lebih itulah maksud saya.</p>
<p>Sementara itu, &#8220;irama&#8221; tidak saya samakan dengan plot. Irama lebih mengacu kepada bagaimana kita mengatur aliran intensitas cerita. Misalnya dimana kita harus meringkas sebuah fragmen, dimana kita berpanjang-panjang.</p>
<p>Problemnya, sekali lagi, novel nyaris tidak mungkin ditulis dalam sekali tulis. Bahkan novel yang ditulis secara <em>spartan</em> pun, saya yakin, pasti membutuhkan waktu beberapa hari. Dan pasti ada jeda istirahat. Dalam kasus saya, jika tak hati-hati, kadang-kadang, kita bisa &#8220;terpeleset&#8221;. Irama dari satu bab ke bab berantakan. Bab pertama cerita berjalan cepat, bab kedua cepat, bab ketiga cepat, eh, bab keempat tiba-tiba bertele-tele. Di novel yang ditulis selama berbulan-bulan, di mana bab pertama ditulis bulan Januari dan bab kelima ditulis bulan November, dengan mudah keterpelesetan ini bisa terjadi.</p>
<p>Begitu pula dengan nada menulis. Bahkan suasana hati seorang penulis bisa sangat berpengaruh terhadap tulisannya.</p>
<p>Tentu saja saya tak bermaksud bahwa sebuah novel harus ditulis dengan nada dan irama yang sama sepanjang novel. Itu hanya akan menciptakan sebuah novel yang monoton dan datar, kan? Maksud saya lebih tertuju pada, nada dan irama ini harus diperhatikan, jangan sampai turun atau naik, atau berbelok, di tempat yang tak semestinya.</p>
<p>Sekali lagi, dalam kasus saya, karena novel ditulis dalam rentang waktu yang lama, tak mungkin menjaga nada dan irama ini persis sebagaimana yang diinginkan. Cara paling praktis yang sejauh ini sudah dua kali saya lakukan adalah: setelah menyelesaikan sebuah draft, saya menulis ulang semuanya secara berkesinambungan, sehingga nada dan irama tulisan lebih terjaga. Barangkali ada cara yang lebih mudah: melakukan penyuntingan yang ketat di akhir penulisan. Ini yang saya pilih untuk novel ketiga.</p>
<p>Barangkali ada yang bisa mengungkapkan hal ini lebih jelas dari saya? Maklum saya bukan teoritis novel &#8230;</p>
<p>(<em>bersambung</em>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/bagaimana-menulis-novel-2-217.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>30</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Menulis Novel? (1)</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/bagaimana-menulis-novel-1-206.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/bagaimana-menulis-novel-1-206.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jun 2008 20:49:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penulisan]]></category>
		<category><![CDATA[Bagaimana Menulis Novel]]></category>
		<category><![CDATA[Cantik itu Luka]]></category>
		<category><![CDATA[Lelaki Harimau]]></category>
		<category><![CDATA[Novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=206</guid>
		<description><![CDATA[Bulan lalu saya berjanji untuk menyerahkan naskah novel saya ke penerbit. Harus saya akui, saya mengurungkannya: mundur lagi. Ada beberapa hal di dalam novel itu yang harus saya perbaiki dan saya masih mencari-cari cara terbaik. Untuk itu, hari-hari ini saya kembali menggelar karpet di ruang tamu. Buku-buku referensi kembali digelar di sekeliling karpet. Begitu pula naskah yang sudah saya <em>print-out</em>, agar saya bisa mengecek kembali. Komputer sedia setiap saat.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="dropcaps">B</span>ulan lalu saya berjanji untuk menyerahkan naskah novel saya ke penerbit. Harus saya akui, saya mengurungkannya: mundur lagi. Ada beberapa hal di dalam novel itu yang harus saya perbaiki dan saya masih mencari-cari cara terbaik. Untuk itu, hari-hari ini saya kembali menggelar karpet di ruang tamu. Buku-buku referensi kembali digelar di sekeliling karpet. Begitu pula naskah yang sudah saya <em>print-out</em>, agar saya bisa mengecek kembali. Komputer sedia setiap saat.</p>
<p>Bagaimanapun, meski saya merasa ada sesuatu yang enggak bener, bukan hal yang gampang untuk melacaknya <em>dimana</em>. Satu-satunya hal yang mungkin saya kerjakan, adalah mengingat-ingat kembali urutan kerja saya. Dalam hal ini disiplin kerja saya cukup memudahkan pelacakan ini. Saya terbiasa bekerja dengan agak metodis. Saya akan menuliskannya di sini, berdasarkan pengalaman saya menulis dua novel sebelumnya. Ini untuk mengingatkan saya, sekaligus barangkali ada yang tertarik mencontek cara kerja saya (hehe):<br />
<span id="more-206"></span></p>
<h3>1. Bab Pertama</h3>
<p><span class="dropcaps">S</span>eperti paragraf pertama dalam cerita pendek atau esai, bab pertama dalam sebuah novel selalu saya anggap penting. Bahkan saya tak akan pernah menulis bab kedua jika bab pertama belum yakin. Bab yang lain bisa saya tulis dengan acak, tapi tidak bab pertama. Bab pertama bagaikan resepsionis sebuah hotel, atau percakapan pertama dengan seorang gadis. Jika saya merasa berhasil dengan bab ini, saya bisa merasa yakin dengan keseluruhan novel. Jika bab ini gagal, saya akan merasa sia-sia menyelesaikan sisanya.</p>
<p>Kafka merupakan guru terbaik saya dalam menulis bab pertama. Bagi saya, ia tak hanya terbaik dalam menulis bab pertama, tapi juga yang terbaik dalam menulis paragraf pertama. Perhatikan kutipan dari <strong>The Trial</strong>: <em>Someone must have traduced Joseph K., for without having done anything wrong he was arrested one fine morning</em>. Atau dari <strong>Metamorphosis</strong> yang terkenal itu: <em>When Gregor Samsa woke up one morning from unsettling dreams, he found himself changed in his bed into a monstrous vermin</em>. (Terjemahan keduanya bisa berbeda dari satu versi ke versi lain).</p>
<p>Kenapa saya menganggap Kafka istimewa? Dalam karya-karyanya, Kafka selalu langsung masuk ke dalam masalah di kalimat pertama! Tak ada prolog yang bertele-tele. Dan yang terpenting kemudian, ia memberi rasa ingin tahu. Saya tahu ada banyak penulis juga mempergunakan metode ini, tapi saya merasa Kafka merupakan satu yang terbaik.</p>
<h3>2. Arsitektur Novel</h3>
<p><span class="dropcaps">M</span>ungkin ini tak menyenangkan bagi kebanyakan penulis, tapi saya melakukannya: Sejak awal saya sudah merencanakan berapa bab yang ingin saya tulis. Bahkan lebih dari itu, saya juga merencanakan berapa halaman sebuah novel akan saya tulis. Kalaupun ada perubahan, pasti saya lakukan di akhir, ketika saya mengedit. Sebagai contoh, <em>Lelaki Harimau</em> sejak awal sudah saya bayangkan berisi lima bab, dan <em>Cantik itu Luka</em> sebanyak dua puluh bab (di akhir, saya membuang dua bab, menjadi hanya delapan belas bab).</p>
<p>Kenapa saya demikian ketat soal ini? Pertama-tama, meskipun saya percaya dengan improvisasi, saya juga percaya dengan rancang-bangun sebuah karya. Jika saya merencanakan sebuah novel dalam lima bab, saya bisa merancang-bangun beragam aspek novel tersebut dalam setiap babnya. Di bab berapa saya perkenalkan seorang tokoh? Di bab mana sebuah klimaks harus saya letakkan? Dimana problem baru harus muncul? Mana bab yang mestinya melodrama, dan mana bab yang sebaiknya tragis?</p>
<p>Mungkinkah sebuah karya dirancang aspek kuantitasnya sejak awal (jumlah bab, jumlah halaman)? Bagi saya sangat mungkin. Barangkali karena saya terbiasa menulis dengan batasan tertentu untuk media, saya juga menjadi terbiasa menebak, cerita tertentu bisa saya tulis lima puluh halaman atau tiga ratus halaman.<em> Cantik itu Luka</em> tak mungkin saya tulis hanya dua ratus halaman, begitu pula <em>Lelaki Harimau</em> tak akan pernah saya paksakan ditulis lima ratus halaman. Masing-masing memiliki proporsinya masing-masing.</p>
<p>Dalam hal arsitektur novel, Gabriel Garcia Marquez saya pikir yang terbaik. Kita bisa merasakan aliran yag dinamis dari bab ke bab dalam novelnya. Seperti sebuah alur yang sempurna. Ia bukan tipe penulis yang linear, tapi aliran plotnya tak pernah tersendat. Misalnya, ia selalu melakukan <em>flashback</em> di tempat yang tepat, di bab yang mestinya memang <em>flashback</em>. Bayangkan jika bab kedua <strong>One Hundred of Solitude</strong> bukan kisah mengenai nenek-moyang keluarga Buendia ketika desa mereka diserang bajak laut Francis Drake. Di bab mana lagi bagian itu bisa ditempatkan?</p>
<p>(bersambung)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/bagaimana-menulis-novel-1-206.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>51</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>From New Left Review 50</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/from-new-left-review-50-174.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/from-new-left-review-50-174.php#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 May 2008 05:49:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Quote]]></category>
		<category><![CDATA[Benedict Anderson]]></category>
		<category><![CDATA[Cantik itu Luka]]></category>
		<category><![CDATA[Lelaki Harimau]]></category>
		<category><![CDATA[New Left Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekakurniawan.com/blog/from-new-left-review-50-174.php</guid>
		<description><![CDATA[It is nice that, after half a century, Pramoedya Ananta Toer has found a successor. The young Sundanese Eka Kurniawan has published two astonishing novels in the past half-decade. If one considers their often nightmarish plots and characters, one could say there is no hope. But the sheer beauty and elegance of their language, and [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>It is nice that, after half a century, Pramoedya Ananta Toer has found a successor. The young Sundanese Eka Kurniawan has published two astonishing novels in the past half-decade. If one considers their often nightmarish plots and characters, one could say there is no hope. But the sheer beauty and elegance of their language, and the exuberance of their imagining, give one the exhilaration of watching the first snowdrops poke their little heads up towards a wintry sky.</p></blockquote>
<p><a href="http://www.newleftreview.org/?page=article&#038;view=2714">(Benedict Anderson, <strong>Exit Suharto: Obituary for a Mediocre Tyrant</strong>, <em>New Left Review</em>, March-April 2008)</a><br />
<span id="more-174"></span></p>
<blockquote><p>Eka, a great admirer of Pramoedya, wrote a first-class academic thesis, since published, on the older writer&#8217;s complex relationship with &#8216;socialist realism&#8217;. The two novels are <em>Cantik Itu Luka</em> ['Beautiful', a Wound] (2002) and <em>Lelaki Harimau</em> [Man Tiger] (2004). The first is a huge, rather unwieldy, surreal recapitulation of the past century of Indonesian history set in a sort of isolated Macondo somewhere on the south coast of Java. The second is a brilliant, tight-knit and frightening village tragedy, also set somewhere on that barren littoral.</p></blockquote>
<p><a href="http://www.newleftreview.org/?page=article&#038;view=2714">(Benedict Anderson, <strong>Exit Suharto: Obituary for a Mediocre Tyrant</strong>, <em>New Left Review</em>, March-April 2008)</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/from-new-left-review-50-174.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kembali ke Realisme yang Lebih Menyentuh</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/kembali-ke-realisme-yang-lebih-menyentuh-14.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/kembali-ke-realisme-yang-lebih-menyentuh-14.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Dec 2007 06:32:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi & Tribut]]></category>
		<category><![CDATA[Cantik itu Luka]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta Tak Ada Mati]]></category>
		<category><![CDATA[Corat-coret di Toilet]]></category>
		<category><![CDATA[Gelak Sedih]]></category>
		<category><![CDATA[Kompas]]></category>
		<category><![CDATA[Lelaki Harimau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekakurniawan.com/blog/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[<div class="author"><em>oleh</em> <strong>Roslan Jomel, <a href="http://roslanjomel.blogspot.com/2007/12/kembali-kepada-realisme-yang-lebih.html">roslanjomel.blogspot.com</a></strong></div>

Setelah membuat cetakan salinan cerpen-cerpen Eka Kurniawan, saya akan memesan segelas teh tarik, dan mula membaca baris demi baris di dalam restoran India Muslim. Sebaik sahaja cerpen <strong>Caronang</strong>, <strong>Kasih Tak Sampai</strong>, <strong>Kutukan Dapur</strong> mempengaruhi saya, jangkaan saya, gaya yang sebegitu (realisme magis?) akan berkekalan mengikuti mata pena penulisannya. Saya membayangkan, Eka Kurniawan akan menjungkirkan realiti melalui cerpen-cerpen terbaharunya nanti, dan itu membuatkan saya tambah asyik menanti.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="author"><em>oleh</em> <strong>Roslan Jomel, <a href="http://roslanjomel.blogspot.com/2007/12/kembali-kepada-realisme-yang-lebih.html">roslanjomel.blogspot.com</a></strong></div>
<p>Salam Hormat.<br />
Kebetulan sahaja, saya mula jatuh cinta kepada gaya penulisan Eka Kurniawan. Makanya, saya ingin sahaja tahu perkembangan terkininya dengan menembusi jaringan maya. Bagaimana saya boleh terserempak dengan laman <a href="http://sriti.com">sriti.com</a>, pun juga suatu kebetulan. Tetapi, alam ini sebegitu cantik dan berseni, bukan diciptakan secara kebetulan. Tuhan telah mengatur dengan secanggih-canggihnya kehidupan di atas muka bumi buat manusia (yang berfikir). Tidak seperti yang disangka oleh saintis barat. Dunia ini bukan bola kimia yang terapung. Maka itu, mimpi pun terasa indah.<br />
<span id="more-14"></span><br />
Setelah membuat cetakan salinan cerpen-cerpen Eka Kurniawan, saya akan memesan segelas teh tarik, dan mula membaca baris demi baris di dalam restoran India Muslim. Sebaik sahaja cerpen <strong>Caronang</strong>, <strong>Kasih Tak Sampai</strong>, <strong>Kutukan Dapur</strong> mempengaruhi saya, jangkaan saya, gaya yang sebegitu (realisme magis?) akan berkekalan mengikuti mata pena penulisannya. Saya membayangkan, Eka Kurniawan akan menjungkirkan realiti melalui cerpen-cerpen terbaharunya nanti, dan itu membuatkan saya tambah asyik menanti. Seno Gumira, penulis terkemuka Indonesia telah mengandaikan bahawa masa depan sastera Indonesia terletak atas nama Eka Kurniawan. Menurut Maman S Mahayana dalam buku <em>Bermain Dengan Cerpen</em>, (diubah mengikut bahasa saya sendiri) penulisan Eka Kurniawan membawa bersama-sama gaya istimewa yang khas dan sentiasa sahaja karya-karyanya memukau. Oleh kerana belum tertemui buku-buku yang memuatkan karya Eka Kurniawan di Malaysia (Novel -<em>Lelaki Harimau</em>, <em>Cantik Itu Luka</em>. Antologi Cerpen &#8211; <em>Corat-coret Di Toilet</em>, <em>Cinta Tak Ada Mati</em>, <em>Gelak Sedih</em>) maka saya akan mengklik laman <a href="http://sriti.com">sriti.com</a> pada setiap hari minggu. Penantian saya bukan semata-mata kepada cerpen Eka Kurniawan, malah, saya jatuh cinta kepada cerpen-cerpen Agus Noor, Djenar Maesa Ayu, Hudan Hidayat, Hamsad Rangkuti juga Pak Budi Darma.</p>
<p>Bahawa gaya realisme magis yang menjadi <em>trade mark</em> (dengan izin) kepada setiap prosa Eka Kurniawan akan berkekalan, sebelum itu juga, saya sudah sedia maklum akan pengaruh Gabriel Garcia Marquez terhadap dirinya. Tetapi silap. Dunia telah berputar terlalu cepat, fenomena bencana alam yang ganjil dan manusia-manusianya sudah terlalu lama menderita oleh siri peperangan. Gaya yang absurd dileburkan oleh kehidupan semasa. Penulis-penulis besar antarabangsa kini kembali menjadi realis (lihat sahaja pada antologi cerpen <em>Orang-Orang Bloomington</em> tulisan Pak Budi Darma), atau mungkin, Mario Vhargas Llhosa yang menjadi maestronya ketika ini. Sosiobudaya yang penuh dengan permasalahannya kini, ya, kepura-puraan politik, agamawan yang tersesat, kebejatan yang lain-lainya, mungkin sahaja, mendorong dunia kontemporari ini sudah tidak peduli lagi dengan gaya satira atau mengampu-ampu pihak tertentu? Alam ini meminta karyawan seninya kembali kepada diri sendiri, mengasah mata penanya setajam dan sejujurnya demi tuntutan realiti teks sastera. Tidak terkecuali karya terbaharu Eka Kurniawan yang kebetulan saya temui di laman sriti.com. Terima kasih banyak-banyak pengelola laman <a href="http://sriti.com">sriti.com</a>! Saya di Malaysia, berasa terhutang budi kepada pihak saudara di seberang sana. </p>
<p>Cerpen-cerpen <strong>Gincu ini Merah, Sayang</strong>, <strong>Sakit</strong>, <strong>Penafsir Kebahagiaan</strong>, <strong>Gerimis Yang Sederhana</strong> (terbaharu, terbit di <em><a href="http://kompas.com">Kompas</a></em><a href="http://kompas.com"></a>) telah menarik pergelangan tangan saya kepada gerak-geri kehidupan manusia-manusia modennya. Rupa-rupanya ada kawan-kawan di sebelah kita dengan secebis kisah hariannya, menuntut bakat dakwat pena penulis untuk dirakam sejujurnya akan pengalaman mereka, untuk dijadikan cerpen atau pun puisi. Tak kira siapa pun mereka. Pengawal Keselamatan, kerani di kilang plastik, jurujual di pasaraya bahagian pakaian perempuan, penganggur mahu pun tukang bersih di pejabat kerajaan. Bukankah mereka ini memiliki kisah-kisah yang menarik, dan terlupa diperdalami kehidupan harian mereka? Bukankah mereka ini yang kerap ditemui setiap hari pada pandangan mata penulis? Untuk itu, saya teringat kembali puisi-puisi Allahyarham T Alias Taib. </p>
<p>Timbul persoalan di sini, mengapa kita terlalu beria-ia menulis sesuatu tema yang besar-besar sahaja kepada pembacanya? Lihat sahaja filem-filem dari Iran yang memaparkan kisah yang sebegitu mudah tetapi amat menyentuh jiwa penonton-penontonnya, berbanding filem-filem fantasi futuristik ciptaan Hollywood tetapi kosong jiwanya. Pada setiap kali penulis memindah pergolakan dunia antarabangsa yang tidak terjangkau oleh manusia biasa, penulis terlupa untuk merenung persekitaran tempatan dengan manusia-manusia kecilnya di celahan kotaraya. Kadang-kadang karya itu dipenuhi fakta-fakta dan maklumat-maklumat, hinggakan apabila membacanya, pembaca bertanya &#8211; &#8220;apa ini bukan karya sastera atau karya sastera ini terkorban kesan artistiknya?&#8221;. Itu khayalan saya sahaja. Apakah yang dimahukan oleh teks-teks sedemikian jikalau bukan menayangkan bayang-bayang akademiknya, supaya pembaca terasa akan kecanggihan teks karyanya? Pun itu khayalan saya sahaja. Maka maafkan saya jika bertanya sebodoh itu.</p>
<p>Cerpen-cerpen terbaharu oleh Eka Kurniawan, barangkali sahaja dikutip dari pemerhatian pekanya terhadap keadaan manusia-manusia sekeliling, makanya, cerpen-cerpen itu kedengarannya mudah, remeh-temeh dan lurus kerana kenaifan watak-wataknya. Mengenangkan itu, katakan sahaja teks-teks cerpen itu bernada lucu. Ya, memang terasa kelucuannya. Apatah lagi setelah saya selesai membaca <strong>Penafsir Kebahagiaan</strong> (yang berlatarkan bumi Amerika Syarikat)yang berakhir dengan penyesalan yang memedihkan hati dua orang anak beranak itu. Cuba kesani kekalutan emosi di bawah ini, yang saya petik pada penghujung cerpen itu,</p>
<blockquote><p>&#8220;Aku tidak tahu apakah harus memanggilnya anak atau cucu,&#8221; gumam Markum, masih agak kesal.</p>
<p>&#8220;Aku tak keberatan menganggapnya adik,&#8221; kata Jimi.</p></blockquote>
<p>Setelah baris demi baris dibaca, kisah yang membawa dua beranak itu datang ke bumi Amerika Syarikat, bayi yang dikandung oleh perempuan bernama Lucy atau pun Siti itu, siapakah bapanya, siapa yang akan bertanggungjawab, tetapi, begitulah detik itu dibiarkan terapung oleh Eka Kurniawan. Tiada kesudahan yang menggembirakan. Sebagai pembaca, saya amat merasa tertekan, kerana, peristiwa sebegitu, mungkinkah benar-benar berlaku? Itulah magisnya cerpen dan penulisnya sudah tentu merencanakan penyelesaiannya setragis sedemikian. Dan jikalau cerpen <strong>Gincu ini Merah, Sayang</strong> atau <strong>Gerimis Yang Sederhana</strong> dibaca, mahu tidak mahu, pembaca akan mengigit bibir bawahnya, tanda tersentuh? Kehidupan ini mudah benar kelihatan seperti teka-teki, dan seniman yang prihatin akan menggantungkan kanvas kehidupan, hitam putih atau kelabunya, sejujur mungkin. Pesanan moral? Jangan ditanya saya.</p>
<p>Salam hormat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/kembali-ke-realisme-yang-lebih-menyentuh-14.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Proses Kreatif: Penulis sebagai si Juru Masak</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/penulis-sebagai-si-juru-masak-109.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/penulis-sebagai-si-juru-masak-109.php#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Oct 2006 12:50:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penulisan]]></category>
		<category><![CDATA[Cantik itu Luka]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta Tak Ada Mati]]></category>
		<category><![CDATA[Lelaki Harimau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekakurniawan.com/blog/?p=109</guid>
		<description><![CDATA[Tugas pertama seorang penulis, menurut saya, kurang lebih mirip dengan juru masak, yakni: tidak membuat tulisan yang tidak enak dibaca. Menulis apa pun, baik sekadar surat pembaca maupun traktat filsafat, sebaiknya memang enak dibaca. Percuma bukan, menulis ratusan halaman jika orang hanya betah membaca satu-dua paragraf? Percuma bukan, memasak berloyang-loyang jika orang hanya tahan makan satu suap?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tugas pertama seorang penulis, menurut saya, kurang lebih mirip dengan juru masak, yakni: tidak membuat tulisan yang tidak enak dibaca. Menulis apa pun, baik sekadar surat pembaca maupun traktat filsafat, sebaiknya memang enak dibaca. Percuma bukan, menulis ratusan halaman jika orang hanya betah membaca satu-dua paragraf? Percuma bukan, memasak berloyang-loyang jika orang hanya tahan makan satu suap?</p>
<p>Dalam proses kreatif saya sebagai penulis, saya belajar banyak dari para juru masak (dan bukan kebetulan jika saya pernah menulis sebuah cerita pendek mengenai juru masak terkenal abad kesembilan belas, berjudul “Kutukan Dapur”, dalam <em>Cinta tak Ada Mati</em>). Seperti para juru masak, saya selalu berusaha memperoleh bahan-bahan terbaik (segar dan bergizi) untuk setiap tulisan.</p>
<p>Kecuali singkong yang dibakar di ladang, kita tahu sebagian besar makanan yang kita makan merupakan olahan dari berbagai bahan. Ada buah kol, kentang, wortel, dan ceker ayam dalam sup yang dibikin ibu saya setiap kali saya pulang (sebab itu makanan favorit saya). Demikian pula dalam sebuah tulisan, kita bisa menemukan pengalaman hidup penulis, peradaban suatu zaman, atau mungkin analisa mengenai arsitektur sebuah kota.<br />
<span id="more-109"></span><br />
Dalam novel pertama saya, <em>Cantik itu Luka</em>, saya mencambur beberapa bahan yang menjadi favorit saya: filsafat, mitologi, sejarah, dan folklore. Dalam novel kedua saya, <em>Lelaki Harimau</em>, dalam adonan saya terdapat sebuah peristiwa nyata dan sebuah dongeng turun-temurun. Aha, ya, tampaknya ada bahan-bahan yang kontradiktif: filsafat dan mitologi? Folklore dan sejarah? Peristiwa nyata dan dongeng?</p>
<p>Orang-orang di kampung saya tak terbiasa memakan roti dan daging. Tapi saya sudah lama terbiasa makan burger (makanan praktis buat orang yang tak suka makan berlama-lama seperti saya). Dan jangan lupa, di beberapa tempat, orang makan nasi dengan pisang, atau makan pisang dengan ikan (kalau ini sungguh saya tidak bisa). Saya pikir juru masak yang baik selalu memiliki cara untuk mencampur bahan apa pun, sebagaimana penulis yang baik mestinya tak bermasalah membaurkan fakta dan fiksi.</p>
<p>Mengenali bahan dengan baik, tentu merupakan syarat untuk bisa mengolah bahan-bahan ini menjadi baik pula. Seorang juru masak yang baik mestinya tahu apa yang terkandung di dalam makaroni, kalau perlu hingga nilai gizi per takarannya.</p>
<p>Dalam <em>Cantik itu Luka</em>, gagasan utama penulisan novel itu berawal dari pertanyaan mengenai sejarah. Pertama-tama tentu saya harus membongkar dulu asumsi-asumsi filosofisnya (kebetulan saya belajar di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, sehingga tak terlalu kesulitan untuk memetakan berbagai pandangan mengenai filsafat sejarah).</p>
<p>Kedua, tentu saya juga mesti masuk ke materi-materi sejarah di mana novel itu akan diletakkan (saya berpikir, cara terbaik membahas filsafat sejarah dalam sebuah novel tentu harus mengisahkan sebuah momen sejarah tertentu). Karena saya bukan ahli sejarah, saya mempergunakan materi-materi skunder yang ditulis oleh para sejarawan, terutama meliputi masa awal Perang Dunia II hingga masa pemerintahan Soeharto. Dari penelitian ini, misalnya, saya tahu Perusahaan Unilever telah memproduksi Blueband sejak masa kolonial (dan barangkali tak banyak yang tahu, perusahaan itu masih milik Belanda).</p>
<p>Karena pokok novel ini adalah filsafat sejarah (dengan kata lain, novel tentang sejarah dan bukan novel sejarah), saya harus membuka diri pada pandangan lain mengenai sejarah. Jika kita membuka ulang tradisi babad kita (misalnya <em>Pararaton</em>, <em>Negarakrtagama</em>, atau <em>Babad Tanah Jawi</em>), kita melihat pandangan sejarah yang khas Jawa: sejarah hidup berkelindan bersama kepercayaan, folklore, dan mitologi. Itulah mengapa folklore dan mitologi hadir pula dalam novel ini.</p>
<p>Dan jangan lupa, di dalam satu adonan, tak hanya bahan-bahan pokok yang hadir, namun juga ada bumbu-bumbu. Bumbu-bumbu ini seringkali justru yang membuat bahan-bahan pokok terasa lebih enak. Saya pikir, demikian pula di dalam sebuah novel, atau tulisan apa pun, kita membutuhkan bumbu untuk membuat tulisan menjadi lebih manis atau asin, atau pedas (dalam tulisan berarti lebih tragis, dramatis, memilukan, atau apalah).</p>
<p>Dalam tulisan, kita hadirkan hal-hal yang barangkali tak pokok, tapi berjasa membuat hal yang pokok menjadi menarik: di sana hadir lelucon, interupsi, lanturan, deskrisi. Selama tidak berlebihan, apalagi mengalahkan yang pokok, bumbu akan sangat berguna bagi hidangan akhir.<br />
Saya tak mungkin melupakan bahasa dalam pembahasan ini, sebagai satu hal yang membuat tulisan menjadi mungkin. Saya tak ingin mempersamakan bahasa dengan perkakas. Tidak, perkakas adalah perkakas: laptop, kertas, pensil, barangkali fungsinya akan sama dengan wajan dan pisau. Bahasa, dalam dunia si juru masak, barangkali lebih tepat dikatakan sebagai api. Ya, api untuk menggoreng, memanggang, atau membakar, itulah bahasa.</p>
<p>Sebagaimana juru masak harus mengenali api, demikian pula penulis mengenali bahasanya. Api yang terlalu panas akan membuat gosong (mentah di dalam). Bahasa yang terlalu berkobar-kobar, hanya menyengat di mata, ketika dibaca, barangkali tak ada isinya. Demikian pula bahasa yang tak terlampau bertenaga, hanya membuat tulisan mentah, tak peduli betapa penting bahan di dalamnya.</p>
<p>Dalam berbahasa, saya tak hanya peduli pada gramatika, tapi juga perdebatan mengenai gramatika (saya sarankan untuk membaca <em>Of Gramatology</em> Derrida). Seorang penulis juga semestinya (barangkali sepele bagi kebanyakan penulis, tapi di sinilah perbedaan penulis yang serius dan tidak), membekali diri dengan kamus. Paling tidak <em>Kamus Besar Bahasa Indonesia</em>, bukan?</p>
<p>Untuk hal ini, saya punya kebiasaan untuk menghapal nama-nama, terutama nama-nama benda-benda. Bagi penulis yang berbahasa ibu bukan bahasa Indonesia (sebagian besar penulis Indonesia dibesarkan dalam bahasa daerah), sering menjadi problem untuk memberi nama-nama benda dalam bahasa Indonesia. Kamus dan kebiasaan mencatat menjadi hal penting.</p>
<p>Dari sini, kembali belajar dari juru masak yang baik, saya percaya menjadi penulis yang baik bukanlah (sebagaimana banyak dianjurkan buku pelajaran menulis) “menulis apa yang kita paling tahu”, tapi justru sebaliknya, “menulis apa yang paling tidak tahu”. Saya percaya ini, karena pengetahuan saya barangkali tak jauh berbeda dengan yang pengetahuan orang lain, dan apa maknanya berbagi pengetahuan yang sama-sama kita tahu? Menulis apa yang tidak diketahui, pada akhirnya membawa kita pada tradisi yang baik: penelitian.</p>
<p>Oh ya, juru masak yang baik tak hanya bisa membuat masakan yang bergizi, tapi mestinya piawai juga membuat adonan beracun, bukan? Hati-hati jika membaca, sebaiknya cuci tangan dulu.</p>
<div class="footnote">Artikel ini saya tulis untuk majalah <em>Matabaca</em> edisi November 2006.</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/penulis-sebagai-si-juru-masak-109.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lelaki Harimau (Review #2)</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/lelaki-harimau-review-2-82.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/lelaki-harimau-review-2-82.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Nov 2005 09:49:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi & Tribut]]></category>
		<category><![CDATA[Cantik itu Luka]]></category>
		<category><![CDATA[H Tanzil]]></category>
		<category><![CDATA[Lelaki Harimau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekakurniawan.com/blog/?p=82</guid>
		<description><![CDATA[<div class="author"><em>oleh</em> <strong>H Tanzil, <a href="http://bukuygkubaca.blogspot.com/2005/11/lelaki-harimau.html">bukuygkubaca.blogspot.com</a></strong></div>

Novel ini dibuat dengan alur cerita secara <em>flash back</em>, dimulai dari terdengarnya berita matinya Anwar Sadat di tangan Margio secara keji yaitu dengan mengigit leher Anwar Sadat hingga nyaris putus seperti harimau membunuh mangsanya. Ketika Margio ditangkap karena perbuatannya itu ia mengelak bahwa bukan dirinya yang membunuh melainkan harimau yang ada di dalam tubuhnyalah yang melakukan perbuatan keji tersebut. Margio merasa dirinya dikuasai oleh harimau jadi-jadian yang merupakan warisan dari kakeknya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="author"><em>oleh</em> <strong>H Tanzil, <a href="http://bukuygkubaca.blogspot.com/2005/11/lelaki-harimau.html">bukuygkubaca.blogspot.com</a></strong></div>
<div class="reviewbox" style="background: #ecebe7 url(http://ekakurniawan.com/wordpress/wp-content/uploads/lh40pt.png) no-repeat top left;"><strong><a href="http://ekakurniawan.com/books/lelaki-harimau">Lelaki Harimau</a></strong>, Gramedia Pustaka Utama, 2004 <br /><a href="http://ekakurniawan.com/blog/resensitribute/lelaki-harimau">Baca resensi lainnya</a> &middot; <a href="http://www.gramediashop.com/book/detail/9792207996/Lelaki-Harimau">Beli Sekarang</a> &middot;</div>
<p>Eka Kurniawan adalah penulis muda berbakat dimana novel pertamanya &#8220;Cantik Itu Luka&#8221; (2002) banyak mendapat sambutan positif dari para pengamat sastra Indonesia. Seolah ingin mengokohkan dirinya sebagai novelis, kali ini Eka Kurniawan melahirkan novel terbarunya yang berjudul &#8220;Lelaki Harimau&#8221;. Berbeda dengan <em>Cantik Itu Luka</em> yang mengusung gaya realisme magis, novel <em>Lelaki Harimau</em> ini ditulis dengan gaya realisme. Katrin Bandel seorang pengamat Sastra Indonesia dari Universitas Hamburg dalam salah satu ulasannya mengatakan &#8220;mungkin novel ini dapat dikatakan sebgai novel psikologis karena kekuatan novel ini terletak pada kekayaan dan ketepatan deskripsi pengalaman, pikiran, dan perasaan para tokoh utamanya yang membuat tingkah laku mereka menjadi meyakinkan secara psikologis.&#8221;</p>
<p><span id="more-82"></span><br />
Novel ini dibuat dengan alur cerita secara <em>flash back</em>, dimulai dari terdengarnya berita matinya Anwar Sadat di tangan Margio secara keji yaitu dengan mengigit leher Anwar Sadat hingga nyaris putus seperti harimau membunuh mangsanya. Ketika Margio ditangkap karena perbuatannya itu ia mengelak bahwa bukan dirinya yang membunuh melainkan harimau yang ada di dalam tubuhnyalah yang melakukan perbuatan keji tersebut. Margio merasa dirinya dikuasai oleh harimau jadi-jadian yang merupakan warisan dari kakeknya.</p>
<p>Perlahan-lahan motif pembunuhan ini akan terkuak dan baru benar-benar jelas terbuka pada kalimat akhir novel ini. Dalam novel ini pembaca juga diajak mengenal latar belakang keluarga Margio jauh sebelum Margio dilahirkan. Margio dilahirkan dari sebuah keluarga yang tidak bahagia, ayahnya (Komar) senantiasa bertindak kasar terhadap ibunya (Nuraeni) bahkan anak-anaknyapun tidak luput dari perlakuan kasarnya. Lambat laun Margio membenci ayahnya dan diam-diam berniat untuk membunuhnya, namun hal ini urung dilakukan karena Komar terburu mati dalam tidurnya karena sakit. Sebelum Komar mati, tidak tahan dengan perlakuan kasar suaminya, Nuraeni berselingkuh dengan Anwar Sadat majikannya hingga akhirnya Nuraeni hamil dan melahirkan seorang anak yang akhirnya meninggal sebelum sempat diberi nama. Tahu ibunya mencintai Anwar Sadat dan hanya memperoleh kebahagian darinya, Margio pergi menemui Anwar Sadat dan menyatakan bahwa ibunya sangat mencintainya. Namun tanpa diduga jawaban dari Anwar Sadat sangat menyakitkan Margio sehingga membuat dirinya terpukul hingga akhirnya ia membunuh Anwar Sadat.</p>
<p>Walau novel ini tidak setebal dan sekompleks novel pertamanya, semua tokoh dalam cerita tragis ini diungkapkan oleh Eka Kurniawan dengan menarik dan penuh simpati , pembaca diajak untuk menyelami dan mengamati perasaan, pikiran dan perkembangan psikologis para tokoh-tokohnya sehingga novel ini menjadi menarik untuk dibaca. Tidak berlebihan jika Katrin Bandel menyebutnya sebagai novel psikologis.</p>
<p>Novel ini dibuat dengan alur cerita secara <em>flash back</em>, dimulai dari terdengarnya berita matinya Anwar Sadat di tangan Margio secara keji yaitu dengan mengigit leher Anwar Sadat hingga nyaris putus seperti harimau membunuh mangsanya. Ketika Margio ditangkap karena perbuatannya itu ia mengelak bahwa bukan dirinya yang membunuh melainkan harimau yang ada di dalam tubuhnyalah yang melakukan perbuatan keji tersebut. Margio merasa dirinya dikuasai oleh harimau jadi-jadian yang merupakan warisan dari kakeknya.</p>
<p>Perlahan-lahan motif pembunuhan ini akan terkuak dan baru benar-benar jelas terbuka pada kalimat akhir novel ini. Dalam novel ini pembaca juga diajak mengenal latar belakang keluarga Margio jauh sebelum Margio dilahirkan. Margio dilahirkan dari sebuah keluarga yang tidak bahagia, ayahnya (Komar) senantiasa bertindak kasar terhadap ibunya (Nuraeni) bahkan anak-anaknyapun tidak luput dari perlakuan kasarnya. Lambat laun Margio membenci ayahnya dan diam-diam berniat untuk membunuhnya, namun hal ini urung dilakukan karena Komar terburu mati dalam tidurnya karena sakit. Sebelum Komar mati, tidak tahan dengan perlakuan kasar suaminya, Nuraeni berselingkuh dengan Anwar Sadat majikannya hingga akhirnya Nuraeni hamil dan melahirkan seorang anak yang akhirnya meninggal sebelum sempat diberi nama. Tahu ibunya mencintai Anwar Sadat dan hanya memperoleh kebahagian darinya, Margio pergi menemui Anwar Sadat dan menyatakan bahwa ibunya sangat mencintainya. Namun tanpa diduga jawaban dari Anwar Sadat sangat menyakitkan Margio sehingga membuat dirinya terpukul hingga akhirnya ia membunuh Anwar Sadat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/lelaki-harimau-review-2-82.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

