Bisakah “Hidup” dengan Menulis? Bisakah Hidup “Tanpa” Menulis?

Yang saya maksud bukan pekerjaan yang penulisnya memperoleh upah bulanan dari perusahaan: katakanlah wartawan atau copy editor di perusahaan iklan. Yang saya maksud adalah, bisakah “hidup” hanya menjadi penulis tanpa terikat kepada perusahaan tertentu. Artinya, penulis bisa bekerja dimana saja, untuk siapa saja, dan bahkan, menulis apa yang disukainya saja — dan ia dibayar per tulisan yang dibuatnya?

La Cage aux Folles – Cerpen

Satu cerpen saya, La Cage aux Folles diterbitkan dalam antologi 100 Cerpen Indonesia Terbaik 2008 dari Anugerah Sastra Pena Kencana. Cerpen ini pertamakali diterbitkan di Koran Tempo, 15 Juli 2007 dan akan diterbitkan pula dalam buku antologi bersama 4 penulis lain, berjudul L.A. Underlover (mudah-mudahan segera terbit).

Bersihar Lubis dan Interogator yang Dungu

Hanya karena mengutip pernyataan Joesoef Ishak bahwa “kejaksaan dungu”, ia diadili pada 21 November 2007.

Saya berpendapat, orang yang anti terhadap hak-hak setiap individu untuk mengemukakan pendapat (termasuk menulis, kolom maupun sekadar blog seperti saya), “memang dungu”.

Datang Satu-Satu, Pergi Satu-Satu

“Mengapa orang-orang ini tak ramai-ramai lahir dan ramai-ramai mati? Aku ingin dunia ini seperti pasarmalam.” Demikian tulis Pramoedya dalam novelnya yang paling mengesankan, Bukan Pasarmalam. Ada daya hidup dalam tekanan kalimat seperti itu, namun sekaligus rasa tak berdaya. Demikian pula kesan ketika mendengar namanya, terutama dua hari terakhir ketika stasiun televisi menayangkan sang Maestro berbaring di ranjang Rumah Sakit St. Carolus dalam keadaan koma.

Dua Novel Pembunuh Bapak

oleh Aquarini Priyatna Prabasmoro, Koran Tempo

Keluarga “normal” itu sendiri dilawan dalam Cantik itu Luka sejak awal. Inses yang dipandang rendah dalam kehidupan masyarakat justru ditampilkan sebagai cinta yang agung. Maka menikahlah Henri Stamler dan Aneu Stamler, dan dari keduanya lahirlah Dewi Ayu, perempuan tiga-perempat bule yang sangat cantik. Dewi Ayu kemudian menikahi Ma Gedik yang seharusnya menjadi suami dari neneknya sendiri.

Cantik itu Luka