<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Eka Kurniawan Project &#187; Kompas</title>
	<atom:link href="http://ekakurniawan.com/blog/tag/kompas/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ekakurniawan.com</link>
	<description>Menulis dan petualangan-petualangan lainnya</description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Feb 2012 03:49:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Fiksimini di Kompas</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/fiksimini-di-kompas-1456.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/fiksimini-di-kompas-1456.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Apr 2010 04:56:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksimini]]></category>
		<category><![CDATA[Kompas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/blog/fiksimini-di-kompas-1456.php</guid>
		<description><![CDATA[Sila baca artikel tentang fiksimini di Kompas <a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/04/11/04200771/mengunyah.fiksimini.sepanjang.hari"  alt="">"Mengunyah Fiksimini Sepanjang Hari"</a>, atau ikuti akun kami di <a href="http://twitter.com/fiksimini"  alt="">twitter.com/fiksimini</a>. Fiksimini juga bisa diakses di web <a href="http://fiksimini.com"  alt="">fiksimini</a>. Akun twitter dan web tersebut dikelola oleh saya, Agus Noor dan Clara Ng. Selamat menikmati cerita di bawah 140 karakter!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sila baca artikel tentang fiksimini di Kompas <a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/04/11/04200771/mengunyah.fiksimini.sepanjang.hari"  alt="">&#8220;Mengunyah Fiksimini Sepanjang Hari&#8221;</a>, atau ikuti akun kami di <a href="http://twitter.com/fiksimini"  alt="">twitter.com/fiksimini</a>. Fiksimini juga bisa diakses di web <a href="http://fiksimini.com"  alt="">fiksimini</a>. Akun twitter dan web tersebut dikelola oleh saya, Agus Noor dan Clara Ng. Selamat menikmati cerita di bawah 140 karakter!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/fiksimini-di-kompas-1456.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita Pendek &#8220;Pengantar Tidur Panjang&#8221;</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/cerita-pendek-pengantar-tidur-panjang-1300.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/cerita-pendek-pengantar-tidur-panjang-1300.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Nov 2009 09:32:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Kompas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=1300</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen terbaru saya, &#8220;Pengantar Tidur Panjang&#8221; bisa dibaca di Kompas edisi 1 November 2009, halaman 20. Selamat membaca.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerpen terbaru saya, <a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/11/01/03055318/pengantar.tidur.panjang">&#8220;Pengantar Tidur Panjang&#8221;</a> bisa dibaca di <a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/11/01/03055318/pengantar.tidur.panjang"><em>Kompas</em> edisi 1 November 2009, halaman 20</a>. Selamat membaca.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/cerita-pendek-pengantar-tidur-panjang-1300.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerpen &#8220;Taman Patah Hati&#8221;</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/cerpen-taman-patah-hati-1254.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/cerpen-taman-patah-hati-1254.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Aug 2009 07:23:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Kompas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=1254</guid>
		<description><![CDATA[Cerita pendek saya, &#8220;Taman Patah Hati&#8221; dimuat hari ini di Kompas. Jika tertarik, silakan membacanya di situs Kompas.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerita pendek saya, &#8220;<a href="http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/23/03111180/taman.patah.hati">Taman Patah Hati</a>&#8221; dimuat hari ini di <em><a href="http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/23/03111180/taman.patah.hati">Kompas</a></em>. Jika tertarik, silakan membacanya di <a href="http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/23/03111180/taman.patah.hati">situs <em>Kompas</em></a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/cerpen-taman-patah-hati-1254.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Membakar Api&#8221;</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/membakar-api-908.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/membakar-api-908.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Mar 2009 00:01:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Kompas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=908</guid>
		<description><![CDATA[Cerita pendek terbaru saya &#8220;Membakar Api&#8221; terbit di Kompas hari ini. Ilustrasinya bisa dilihat di blog pelukisnya, Julia Sarisetiati.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerita pendek terbaru saya <a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/03/01/01422284/membakar.api">&#8220;Membakar Api&#8221;</a> terbit di <a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/03/01/01422284/membakar.api"><em>Kompas</em> hari ini</a>. Ilustrasinya bisa dilihat di blog pelukisnya, <a href="http://sarijuleha.blogspot.com/2009/03/ilustrasi-cerpen-kompas.html">Julia Sarisetiati</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/membakar-api-908.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kompas Suka Tidak Teliti</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/kompas-suka-tidak-teliti-790.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/kompas-suka-tidak-teliti-790.php#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Jan 2009 15:01:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penulisan]]></category>
		<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Jurnalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Kompas]]></category>
		<category><![CDATA[WordPress]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=790</guid>
		<description><![CDATA[Foto oleh: Matt Callow, Some rights reserved. Kompas merupakan satu-satunya koran yang saya langganan tiap hari, dan hampir enggak pernah terlewat membacanya. Tapi jujur, saya sering terganggu dengan ketidaktelitian Kompas. Memang hal-hal kecil, sih, tapi sebagai koran besar, mestinya bisa diminimalisir dengan cek dan selalu ricek. Sebagai contoh, saya ingin memperlihatkan artikel hari ini mengenai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center"><a class="snap_noshots" href="http://www.flickr.com/photos/blackcustard/81680010/"><img src="http://3.bp.blogspot.com/_tn9p8W26Wqg/SYmR_k79ZVI/AAAAAAAAANY/SA35mH7gRNc/s400/korankopi.jpg" alt="" /></a><br/><br />
<small>Foto oleh: <a class="snap_noshots" href="http://www.flickr.com/photos/blackcustard/">Matt Callow</a>, <a class="snap_noshots" rel="license cc:license" href="http://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0/">Some rights reserved</a>.</small></p>
<p><em>Kompas</em> merupakan satu-satunya koran yang saya langganan tiap hari, dan hampir enggak pernah terlewat membacanya. Tapi jujur, saya sering terganggu dengan ketidaktelitian <em>Kompas</em>. Memang hal-hal kecil, sih, tapi sebagai koran besar, mestinya bisa diminimalisir dengan cek dan selalu ricek.</p>
<p>Sebagai contoh, saya ingin memperlihatkan artikel hari ini mengenai Matt Mullenweg di halaman 16 berjudul <a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/01/31/04220425/matt.mullenweg.antara.jazz.dan.wordpress">&#8220;Matt Mullenweg, Antara Jazz dan WordPress&#8221;</a>.</p>
<p>Pertama, antara pernyataan dan penjelasan kadang enggak nyambung. Sebagai contoh, saya kutip paragraf sembilan:<br />
<span id="more-790"></span></p>
<blockquote><p>&#8220;Di dunia maya tidak banyak penyedia blog gratisan. Kalau Anda ingin memiliki blog atau situs pribadi, Anda bisa mengambil dari <a href="http://blogger.com">Blogger</a>, <a href="http://multiply.com">Multiply</a>, <a href="http://livejournal.com">LiveJournal</a>, MoveableType (maksudnya mungkin <a href="http://movabletype.com">MovableType</a>), <a href="http://typepad.com">TypePad</a>, dan salah satunya dari <a href="http://wordpress.com">WordPress</a> yang disediakan Matt.&#8221;</p></blockquote>
<p>Bagaimana mungkin mengatakan &#8220;tidak banyak penyedia blog gratisan&#8221;, lha kalimat berikutnya malah menderet empat situs penyedia layanan gratis (dan yang enggak disebut bisa berjumlah puluhan, minus MovableType dan TypePad yang berbayar!).</p>
<p>Kedua, di alinea ketiga belas:</p>
<blockquote><p>&#8220;Matt tidak menyangkal kalau ia memperoleh pendapatan dengan mendirikan perusahaan di balik WordPress, seperti <a href="http://automattic.com">Automattic</a>, <a href="http://akismet.com">Akismet</a>, <a href="http://gravatar.com">Gravatar</a>, <a href="http://bbpress.org">bbPress</a>, <a href="http://intensedebate.com">IntenseDebate</a>, dan <a href="http://buddypress.com">BuddyPress</a>.&#8221;</p></blockquote>
<p>Kalimat itu mengindikasikan bahwa di balik WordPress ada perusahaan(-perusahaan) seperti Automattic, Akismet, Gravatar, bbPress, IntenseDebate dan BuddyPress. Jelas sekali penulisnya (Pepih Nugraha) enggak melakukan ricek. Di deratan nama-nama itu hanya Automattic yang merupakan nama perusahaan. Selebihnya merupakan &#8220;produk&#8221; dari Automattic (<a href="http://automattic.com/projects/">lihat di sini daftar produk Automattic</a>, yang mereka sebut sebagai &#8220;project&#8221;). Ini kan informasi yang gampang diricek dengan mengunjungi situs resmi perusahaan itu. Lagian, kan enggak masuk akal ada enam perusahaan di balik sebuah produk (WordPress). Yang lebih masuk akal (kalau mau nebak-nebak pun), kan ada &#8220;satu&#8221; perusahaan di balik enam produk.</p>
<p>Ketiga, dari alinea kedelapan belas:</p>
<blockquote><p>&#8220;Matt mengenang kembali masa-masa di tahun 2002 saat untuk pertama kalinya menciptakan peranti lunak sederhana untuk nge-blog yang ia namakan b2.&#8221;</p></blockquote>
<p>Kalau kita berkunjung ke situs <a href="http://en.wikipedia.com/wiki/Wordpress">Wikipedia</a>, dan sebenarnya ini sudah pengetahuan umum di penggiat WordPress, jelas informasi di atas salah. Matt tidak menciptakan software blog b2. B2 dibuat oleh programer bernama Michel Valdrighi. Matt kemudian membuat <em>fork</em> (istilah untuk membuat cabang program baru dari sebuah program lama) dari b2 yang kemudian dia beri nama WordPress (<a href="http://ma.tt/2003/01/the-blogging-software-dilemma/">lihat posting Matt sendiri mengenai awal ketika ia melakukan <em>fork</em> atas b2</a>).</p>
<p>Duh, sebenarnya mungkin ini hal-hal sepele. Tapi karena saya baca <em>Kompas</em> tiap hari, dan sering menemukan hal-hal sepele begini tidak ditulis semestinya, lama-lama jadi pengin mengeluarkan uneg-uneg ini.</p>
<p>Saya enggak tahu, apakah ini masalah wartawan yang malas melakukan cek dan ricek, atau masalah keterampilan berbahasa (sebagaimana saya tunjukkan di kasus pertama dan kedua, jika susunan kalimatnya diubah, kalimat itu mungkin bisa jadi memberikan informasi benar).</p>
<p>Segitu dulu aja, lah. Saya tulis ini karena saya gemar membaca <em>Kompas</em> tiap bangun tidur. Buat wartawan <em>Kompas</em>, maaf ya &#8230;.</p>
<p>Tambahan: Di laman ini saja ada 40+ layanan blog gratis jika Anda tertarik; <a href="http://mashable.com/2007/08/06/free-blog-hosts/">40+ Free Blog Hosts</a>.</p>
<h3>Update: 5 Februari 2009</h3>
<p>Perbincangan ini telah memperoleh banyak tanggapan di <a href="http://www.facebook.com/note.php?note_id=63813100489&#038;ref=mf">lingkaran Facebook saya</a>, termasuk dari <a href="http://pepihnugraha.blogspot.com/">Pepih Nugraha</a>, wartawan Kompas yang menulis artikel <a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/01/31/04220425/matt.mullenweg.antara.jazz.dan.wordpress">&#8220;Matt Mullenweg, Antara Jazz dan WordPress&#8221;</a>. Jika ada yang tertarik mengikuti perbincangan tersebut, sila berkunjung (dan menjadi &#8220;teman&#8221; saya) di <a href="http://www.facebook.com/note.php?note_id=63813100489&#038;ref=mf">Facebook</a>.</p>
<p>Sementara itu, Lily Yulianti Farid juga mengulasnya di blog <em>Kompasiana</em> dimana ia menjadi blogger tamu: <a href="http://lilyyulianti.kompasiana.com/2009/02/05/komentator-facebook-1-suara-pembaca-yang-dinote-kan/">&#8220;Komentator Facebook (1): Surat Pembaca yang Di&#8221;Note&#8221;-kan.&#8221;</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/kompas-suka-tidak-teliti-790.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Gerimis yang Sederhana&#8221; di Buku Kompas</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/gerimis-yang-sederhana-di-buku-kompas-216.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/gerimis-yang-sederhana-di-buku-kompas-216.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jun 2008 04:03:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Kompas]]></category>
		<category><![CDATA[Ulasan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=216</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen saya &#8220;Gerimis yang Sederhana&#8221; termuat di buku Cerpen Kompas Pilihan 2008 yang diluncurkan tadi malam. Yang belum sempat membacanya, sila di sini.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerpen saya <a href="http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0712/16/seni/4074816.htm" target="_blank">&#8220;Gerimis yang Sederhana&#8221;</a> termuat di buku <em>Cerpen Kompas Pilihan 2008</em> yang diluncurkan tadi malam. Yang belum sempat membacanya, sila <a href="http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0712/16/seni/4074816.htm" target="_blank">di sini</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/gerimis-yang-sederhana-di-buku-kompas-216.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerpen Kompas Pilihan 2008</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/cerpen-kompas-pilihan-2008-215.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/cerpen-kompas-pilihan-2008-215.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jun 2008 04:03:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Kompas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=215</guid>
		<description><![CDATA[Lusa, 26 Juni, peluncuran buku Cerpen Kompas Pilihan 2008. Seperti biasa, Kompas merahasiakan siapa yang menang. Melihat ilustrasi undangan, saya mencoba menebak: &#8220;Samanasanta&#8221; karya F. Rahardi. Ada tebakan lain? UPDATE 25/6: Ternyata tebakan saya salah. Di Kompas hari ini, nama dan cerpen itu bahkan tak tercantum di buku tersebut. 26/6: Ternyata yang menang: &#8220;Cinta di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lusa, 26 Juni, peluncuran buku <em>Cerpen Kompas Pilihan 2008</em>. Seperti biasa, <em>Kompas</em> merahasiakan siapa yang menang. Melihat ilustrasi <a href="http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/06/18/undangan-cerpen-kompas-pilihan-2008/">undangan</a>, saya mencoba menebak: <a href="http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0707/15/seni/3681254.htm">&#8220;Samanasanta&#8221;</a> karya F. Rahardi. Ada tebakan lain? UPDATE 25/6: Ternyata tebakan saya salah. Di <a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/25/01244842/langkan"><em>Kompas</em> hari ini</a>, nama dan cerpen itu bahkan tak tercantum di buku tersebut. 26/6: Ternyata yang menang: <a href="http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0706/10/seni/3582783.htm">&#8220;Cinta di Atas Perahu Cadik&#8221;</a> karya Seno Gumira Ajidarma.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/cerpen-kompas-pilihan-2008-215.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebab Kode Adalah Puisi</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/sebab-kode-adalah-puisi-158.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/sebab-kode-adalah-puisi-158.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 May 2008 04:09:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[bumimanusia.or.id]]></category>
		<category><![CDATA[Google]]></category>
		<category><![CDATA[Jorge Luis Borges]]></category>
		<category><![CDATA[Kompas]]></category>
		<category><![CDATA[Ratih Kumala]]></category>
		<category><![CDATA[Wikipedia]]></category>
		<category><![CDATA[WordPress]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekakurniawan.com/blog/sebab-kode-adalah-puisi-158.php</guid>
		<description><![CDATA[Sekiranya Borges masih hidup, barangkali ia akan menjadi penulis paling getol <em>on-line</em>. Bagaimana tidak, banyak orang yang percaya, sebelum internet ditemukan, Borges telah "memimpikan" dunia internet dalam cerita-cerita pendeknya. Ingat perihal ensiklopedia yang disusun secara diam-diam oleh sekelompok orang sehingga menghasilkan dunia yang baru? Bukankah hal ini sekarang menjadi mungkin dengan perangkat lunak wiki sebagaimana dipergunakan di <a href="http://wikipedia.org">wikipedia.org</a>? Atau perihal teks yang bisa merujuk ke teks lain tanpa batas? Sejak ditemukan internet, kita sudah mengenal "link". ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="dropcaps">S</span>ekiranya Borges masih hidup, barangkali ia akan menjadi penulis paling getol <em>on-line</em>. Bagaimana tidak, banyak orang yang percaya, sebelum internet ditemukan, Borges telah &#8220;memimpikan&#8221; dunia internet dalam cerita-cerita pendeknya. Ingat perihal ensiklopedia yang disusun secara diam-diam oleh sekelompok orang sehingga menghasilkan dunia yang baru? Bukankah hal ini sekarang menjadi mungkin dengan perangkat lunak wiki sebagaimana dipergunakan di <a href="http://wikipedia.org">wikipedia.org</a>? Atau perihal teks yang bisa merujuk ke teks lain tanpa batas? Sejak ditemukan internet, kita sudah mengenal &#8220;link&#8221;. </p>
<p>Terlepas dari impian Borges tersebut, tak terelakkan internet telah menjadi rujukan penting bagi kebanyakan orang, termasuk para penulis. Saya mempergunakan Google Book untuk membaca beberapa catatan perjalanan orang-orang Eropa yang datang ke Indonesia di masa kolonial, untuk satu riset tulisan fiksi saya, misalnya. Demikian pula Google Map, dengan teknologi citra satelit yang konon paling telat umurnya dua tahun ke belakang, kita bisa memastikan detail geografis satu tempat. Dalam hal ini, Anda bisa jauh lebih akurat daripada Karl May sekiranya mengisahkan kehidupan suku Indian tanpa pergi ke Amerika.<br />
<span id="more-158"></span><br />
Tak disangsikan, internet telah membentuk kultur baru produksi dan reproduksi. Dalam dunia sastra di Indonesia, sederhananya, kultur itu telah berawal ketika penulis tak lagi pernah pergi ke kantor pos untuk mengirimkan naskah. Tentu saja kultur ini semestinya bisa jauh dari itu. Internet dipercaya tak sekadar sebagai narasumber yang mencengangkan untuk berbagai hal, dari bumbu yang tepat untuk satu resep masakan hingga racikan kimia yang tepat untuk meledakkan jembatan; yang lebih penting lagi, internet juga merupakan suatu media baru. Sebagaimana media baru umumnya, tentu saja ia memberi tantangan-tantangan baru bagi proses kreatif baru.</p>
<p>Sebagai misal, melalui internet dan dunia digital kita sekarang mengenal berbagai jenis lisensi untuk karya kreatif. Jika sebelumnya barangkali kita hanya memiliki dua dikotomi hak cipta: copyright dan domain publik, kini kita memiliki lebih banyak alternatif. Sebagai pemilik karya cipta, barangkali seorang pengarang tak menginginkan lisensi seketat copyright. Sebuah lembaga nirlaba bernama <a href="http://cerativecommon.org">Creative Common</a> menawarkan berbagai jenis lisensi yang fleksibel.</p>
<p>Software semacam Linux atau esai-esai di beberapa blog, juga banyak foto di flickr.com didistribusikan dengan lisensi semacam ini, sehingga Anda bisa mengambil dan mempergunakannya tanpa harus takut dikira membajak atau menjiplak. Kultur ini memungkinkan berkembang, saya pikir, hanya karena penetrasi internet yang luar biasa.</p>
<h3>Blog</h3>
<p><span class="dropcaps">S</span>aya tertarik mengamati ini, terutama setelah akhir-akhir ini banyak penulis semakin memaksimalkan fungsi-fungsi internet dengan membuat blog dan saya beranggapan ini perkembangan yang penting untuk dicatat. Jika sebelumnya para penulis lebih banyak berkerumun di komunitas-komunitas milis tertentu, akhir-akhir ini semakin banyak yang hadir secara individu, menuliskan pikiran-pikirannya melalui media bernama blog. Saya sendiri sebenarnya telah lama menjadi pengunjung tetap blog-blog penulis yang saya anggap bermutu untuk menunjukkan ini bukan hal baru, misalnya blog milik jurnalis <a href="http://andreashardono.blogspot.com">Andreas Harsono</a> atau milik kritikus film <a href="http://pakde.com">Totot Indrarto</a>.</p>
<p>Tengok misalnya beberapa penulis yang baru-baru ini memutuskan untuk menulis di blog: Ada <a href="http://djenar.com">Djenar Maesa Ayu</a> dan kritikus seni rupa <a href="http://adiwicaksono.com">Adi Wicaksono</a>, serta penyair <a href="http://binhadnurrohmat.com">Binhad Nurrohmat</a>. Mereka menyusul penulis-penulis lain yang telah lebih dulu. Beberapa yang saya ingat: penyair <a href="http://sejuta-puisi.blogspot.com">Hasan Aspahani</a>, <a href="http://jokpin.blogspot.com">Joko Pinurbo</a>, <a href="http://jengki.com">Wayan Sunarta</a>, cerpenis <a href="http://agusnoorfiles.wordpress.com">Agus Noor</a>, <a href="http://ratihkumala.com">Ratih Kumala</a>, <a href="http://ooknugroho.blogspot.com">Ook Nugroho</a>, juga Linda Christanty yang menulis di blog sendiri maupun blog milik situs <a href="http://pantau.or.id">pantau.or.id</a>.</p>
<p>Mungkin Anda masih sering kecele untuk memastikan, apa beda blog dengan website? Sebenarnya ini juga pertanyaan umum yang diajukan kepada saya oleh para penulis yang ingin memulai membuat blog. Secara sederhana, semua blog adalah website, tapi tidak sebaliknya. Situs seperti yahoo.com merupakan website, tapi jelas bukan blog. Ciri utama blog adalah website dengan konten yang terus di-update, dan pengaturan kontennya secara umum diurut berdasarkan waktu (mirip jurnal atau buku harian).</p>
<p>Ketika situs <a href="http://cybersastra.net">cybersastra.net</a> diluncurkan sekitar akhir 90an, pada dasarnya ia telah mempergunakan prinsip-prinsip blog. Demikian pula ketika tahun 2000 saya bersama dua penulis, Linda Christanty dan <a href="http://nuruddinasyhadie.com">Nuruddin Asyhadie</a> mendirikan situs <a href="http://bumimanusia.or.id">bumimanusia.or.id</a>, kami mempergunakan software open source yang pada dasarnya juga blog. Software semacam itu telah dibuat komunitas internet di masa-masa tersebut, meski dengan standar keamanan dan fleksibilitas yang barangkali masih rendah. Baru ketika software semacam <a href="http://www.ekakurniawan.com/movabletype.com">Movable Type</a> dan <a href="http://www.ekakurniawan.com/wordpress.org">WordPress</a> muncul, blog menjadi istilah yang populer. Ditambah pula layanan <a href="http://blogger.com">Blogger.com</a> (<a href="http://blogspot.com">blogpspot.com</a>) dari Google yang memungkin orang untuk membuat blog secara lebih gampang tanpa harus mengerti hal teknis instalasi software ke server. Hal ini semakin menjadi-jadi sekarang setelah munculnya fenomena Web 2.0 yang mengisyaratkan akan internet yang menunjang kreativitas sekaligus interaktivitas.</p>
<p>Kenapa saya beranggapan penulis yang membuat blog sebagai sesuatu yang penting? Masih ingat belum lama ini ketika jaringan kabel bawah laut di Pasifik terputus, dan terputus pula hubungan internet? Sebenarnya yang terputus adalah hubungan internet ke Amerika, sementara situs seperti <a href="http://kompas.co.id">kompas.co.id</a> atau <a href="http://detik.com">detik.com</a> yang menyimpan server di dalam negeri masih bisa diakses. Ini semestinya segera menyadarkan betapa kita membutuhkan konten lokal, dan secara pribadi saya berharap kepada para penulis dari berbagai disiplin: sastrawan, sejarawan, jurnalis, dosen dan lainnya. Hal ini akan semakin dimungkinkan jika mereka langsung bersentuhan secara personal di blog masing-masing.</p>
<p>Tentu saja konten lokal tersebut akan semakin berarti jika disimpan di server lokal. Itulah kenapa saya lebih suka menganjurkan untuk mempergunakan layanan blog lokal semacam <a href="http://dagdigdug.com">dagdigdug.com</a> atau <a href="http://www.ekakurniawan.com/blogdetik.com">blogdetik.com</a> (dengan catatan harus dicek apakah benar mereka menempatkan server di dalam negeri), atau melakukan instalasi domain sendiri sehingga bisa memutuskan untuk memilih layangan hosting, ketimbang mempergunakan <a href="http://wordpress.com">wordpress.com</a> atau <a href="http://blogger.com">blogger.com</a>.</p>
<p>Dengan semakin banyak penulis menulis di blog, bisalah secara sederhana kita mengharapkan suatu ketika tercapainya swasembada konten lokal; tentu saja terutama jika konten ini ditulis dalam bahasa Indonesia pula. Maka jika sesuatu terjadi pada jaringan internasional (kabel bawah laut putus, atau traffic mengalami kemacetan, misalnya), kita tak hanya masih bisa mempergunakan jaringan internet dalam negeri, tapi juga bisa mengakses konten-konten yang diperlukan.</p>
<h3>Media baru</h3>
<p><span class="dropcaps">S</span>ebagaimana berbagai teknologi baru, blog sebenarnya telah dipergunakan di Indonesia nyaris bersamaan dengan di belahan dunia lainnya. Selain kita masih membutuhkan konten yang lebih kaya, harus diakui kita masihlah “hanya sekadar” pengguna. Kita bukan pencipta wiki maupun berbagai perangkat lunak blog: hanya mempergunakan apa yang tersedia.</p>
<p>Meskipun begitu, ini bukan alasan untuk patah semangat. Menulis blog merupakan langkah kecil dari sesuatu yang kelak menanti. Ada banyak hal di depan media baru yang terus berkembang ini; ada berbagai peluang mengkreasi bentu-bentuk seni yang khas, sebagaimana mungkin kesusastraan yang hanya bisa dinikmati melalui media ini dan tidak di media yang lain, sehingga mau tidak mau kita mesti memberinya sebuah nama baru. Kita bisa merealisasikan gagasan Borges tentang ensiklopedia fiktif, kalau mau.</p>
<p>Sekali lagi, menulis blog bisa menjadi awal yang baik. Sebagaimana penyair Joko Pinurbo akhirnya dipaksa mengenali kode-kode HTML ketika harus memasukkan puisi-puisinya ke blog. Siapa tahu kelak ia mau mempelajari bahasa pemrograman seperti PHP, Javascript, atau lainya, sehingga kelak dari tangannya bisa ditulis puisi saiber yang sejati (dalam arti tak mungkin dinikmati di media non-saiber). Sebab, “<em>Code is poetry</em>,” kata para programer WordPress. Ya, siapa tahu?</p>
<div class="footnote">
Tulisan ini pernah diterbitkan di <a href="http://www.kompas.com/kompascetak.php/read/xml/2008/05/11/01543237/sebab.kode.adalah.puisi"><em>Kompas</em></a>, Minggu, 11 Mei 2008. Ada beberapa kesalahan ketik di pemuatan <em>Kompas</em>, yang saya perbaiki di versi blog ini. Blog Totot Indrarto tertulis pekde.com, seharusnya <a href="http://pakde.com">pakde.com</a>. Situs pantau.org seharusnya <a href="http://pantau.or.id">pantau.or.id</a>. Blog Ook Nugroho tertulis ooknurgoho.blogspot.com seharusnya <a href="http://ooknugroho.blogspot.com">ooknugroho.blogspot.com</a>.
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/sebab-kode-adalah-puisi-158.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bisakah &#8220;Hidup&#8221; dengan Menulis? Bisakah Hidup &#8220;Tanpa&#8221; Menulis?</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/bisakah-hidup-dengan-menulis-111.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/bisakah-hidup-dengan-menulis-111.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Mar 2008 17:15:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penulisan]]></category>
		<category><![CDATA[Jorge Luis Borges]]></category>
		<category><![CDATA[Kompas]]></category>
		<category><![CDATA[Koran Tempo]]></category>
		<category><![CDATA[Umberto Eco]]></category>
		<category><![CDATA[Writer's Block]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekakurniawan.com/blog/?p=111</guid>
		<description><![CDATA[Yang saya maksud bukan pekerjaan yang penulisnya memperoleh upah bulanan dari perusahaan: katakanlah wartawan atau <em>copy editor</em> di perusahaan iklan. Yang saya maksud adalah, bisakah "hidup" hanya menjadi penulis tanpa terikat kepada perusahaan tertentu. Artinya, penulis bisa bekerja dimana saja, untuk siapa saja, dan bahkan, menulis apa yang disukainya saja -- dan ia dibayar per tulisan yang dibuatnya?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.ekakurniawan.com/blog/bisakah-hidup-dengan-menulis-111.php#update"><br />
<h3>(Update)</h3>
<p></a><br />
<span class="dropcaps">Y</span>ang saya maksud bukan pekerjaan yang penulisnya memperoleh upah bulanan dari perusahaan: katakanlah wartawan atau <em>copy editor</em> di perusahaan iklan. Yang saya maksud adalah, bisakah &#8220;hidup&#8221; hanya menjadi penulis tanpa terikat kepada perusahaan tertentu. Artinya, penulis bisa bekerja dimana saja, untuk siapa saja, dan bahkan, menulis apa yang disukainya saja &#8212; dan ia dibayar per tulisan yang dibuatnya?</p>
<p>Benar, ini sudah sangat sering ditanyakan. Saya akan mencoba menghitung-hitung (untuk ukuran Indonesia), juga sedikit membocorkan resep-resep yang dilakukan beberapa teman saya (yang memang bisa dikatakan sebagai &#8220;penulis penuh waktu&#8221;).<br />
<span id="more-111"></span><br />
Pertama-tama, saya mengasumsikan menjadi penulis penuh waktu berarti enggan untuk hidup di ruang dan waktu tertentu (bekerja di kantor dari pukul 9 sampai 5 sore). Sering saya mendengar keluhan teman-teman (yang masih ngantor) bahwa mereka, &#8220;Tak punya waktu memadai untuk menulis.&#8221;</p>
<p>Tentu saja problem ini tidak berlaku untuk semua orang. Penulis seperti <a href="http://sepanjangbraga.blogspot.com/">Kurnia Effendi</a>, nyatanya bisa tetap produktif menulis sementara ia tetap bekerja (yang juga menyibukkan) di satu perusahaan otomotif. Tapi baiklah, kita asumsikan, berkonsentrasi penuh kepada penulisan barangkali jauh lebih baik daripada harus membagi perhatian dengan pekerjaan lain. Paling tidak itu berlaku bagi saya. Terakhir kali saya bekerja (kantoran) lebih dari dua tahun lalu sebagai editor naskah di satu rumah produksi. Ketika saya memutuskan untuk menulis novel baru, saya merasa membutuhkan waktu yang lebih luang: maka saya berhenti bekerja (kantoran).</p>
<h3>1. Untuk Apa Menulis?</h3>
<p><span class="dropcaps">P</span>ertama-tama, mari bertanya dulu: untuk apa saya menulis? Pertanyaan ini bisa diajukan untuk profesi apa pun. Kakek saya (ia baru saja meninggal belum lama ini), menanam padi untuk dimakannya sendiri (dibagi-bagikan ke keluarga anak-anaknya); sementara petani lain menanam padi untuk dijual. Tentu saja kakek saya tak mungkin berharap memperoleh penghasilan sebagaimana petani komersial (meskipun bisa saja salah satu anaknya mengirimi ia uang lebih banyak daripada seandainya beras yang ia hasilkan dijual ke cukong).</p>
<p>Begitu pula penulis: ada penulis yang memang menulis untuk mencari uang, di sisi lain ada penulis yang sama sekali tak memedulikan uang (saya menghindari kata &#8220;idealis&#8221;, sebab penulis yang menulis untuk mencari uang juga tidak bisa dikatakan &#8220;tidak idealis&#8221; &#8212; jujur saja, kata ini sangat rancu dan perlu dibedah aspek filosofisnya, hehehe). Berdasarkan maksudnya, tentu saja tulisan ini dimaksudkan untuk penulis yang ingin memperoleh penghasilan dari tulisannya.</p>
<h3>2. Menjual Tulisan</h3>
<p><span class="dropcaps">S</span>emua orang tahu, secara kasar, semakin banyak orang yang suka dengan karya seseorang, maka semakin besar kemungkinan ia memperoleh penghasilan. Ini hukum pasar yang sederhana saja.</p>
<p>Belajar dari para penjual yang baik, ada dua kemungkinan seorang penulis bisa menjual tulisannya.</p>
<p><strong>Pertama:</strong> menulis apa yang sekiranya disukai oleh kebanyakan pembaca. Pergi ke toko buku dan cari buku yang <em>best-seller</em>. Atau baca surat kabar dan majalah, dan cari tahu tulisan seperti apa yang disukai surat kabar atau majalah tersebut. Artinya, penulis menyesuaikan &#8220;selera&#8221;nya dengan selera pasar (bisa pembeli buku atau redaktur, atau klien lain).</p>
<p><strong>Kedua: </strong>Jika risih dengan pilihan pertama (meskipun bagi saya kualitas karya tak ada hubungannya dengan pilihan pertama atau kedua), alternatif lainnya adalah: menulis apa dan dengan cara yang disukai saja, tapi bikin pembaca menyukainya. Artinya, penulis berupaya membuat &#8220;selera&#8221; pembaca mengikuti &#8220;selera&#8221; penulis. Pilihan ini membutuhkan strategi pemasaran, tentu saja.</p>
<p>Tentu saja yang paling gampang adalah, jika &#8220;kebetulan&#8221; selera penulis dan pembaca umum sama. Yang ini anggap saja anugerah Tuhan!</p>
<h3>3. Berapa?</h3>
<p><span class="dropcaps">J</span>ika seorang penulis sudah memutuskan ia ingin memperoleh penghasilan dari tulisannya, juga sudah memilih apakah ia akan menyesuaikan selera tulisannya dengan selera pembaca atau membuat selera pembaca mengikuti seleranya, ia bisa mulai bertanya: berapa yang bisa ia peroleh dari tulisan? Beberapa teman saya yang masih pemula sering menanyakan hal ini, dan itu wajar sebab ia tak ingin penghasilannya tiba-tiba <em>drop</em> (maklum ia harus menghindari kemarahan istri dan kerewelan anak yang minta uang saku).</p>
<p>Sejauh ini, ada beberapa cara memperoleh uang dari tulisan yang sudah umum, dan penghasilan yang diperoleh juga tergantung dari hal itu:</p>
<p><strong>Pertama, menulis buku.</strong> Pada umumnya, penghasilan dari penjualan buku untuk penulis adalah royalti sebesar 10% dari harga buku (bisa kurang bisa lebih, tergantung negosiasi). Bayangkan jika seorang menulis buku cerita yang sangat digemari: bukunya terjual katakanlah 15.000 kopi dengan harga Rp. 30.000,-. Itu artinya ia memperoleh Rp. 30.000 x 15.000 x 10% = Rp. 45.000.000. Jika ia menulis 2 buku setahun, penghasilannya Rp. 90.000.000 setahun (hayo, jangan lupa bayar pajak penghasilan). Penulis mestinya bisa memperkirakan secara kasar, kira-kira berapa banyak bukunya bisa terjual. Dengan cara itu, penulis juga bisa memperkirakan penghasilannya. Tidak bisa memperkirakan? Sebagai gambaran, buku puisi (dengan sedih harus saya katakan), barangkali hanya bisa terjual 1000 kopi (menurut yang saya dengar dari beberapa penerbit) dengan harga rata-rata tak lebih dari Rp. 20.000. Silakan menghitung sendiri.</p>
<p><strong>Kedua, menulis untuk media massa.</strong> Secara umum, penghasilannya sangat tergantung dari medianya. Sebagai gambaran, honorarium tulisan di <em>Kompas</em> berkisar antara Rp. 500.000 hingga Rp. 2.000.000. <em>Koran Tempo</em> rata-rata Rp. 850.000. Majalah seperti <em>Playboy</em> membayar cerita pendek saya Rp. 2.000.000. Majalah <em>Esquire</em> dan <em>Java Kini</em> membayar tulisan Rp. 1.000.000. Tapi jangan dilupakan, masih ada surat kabar lokal yang barangkali hanya membayar tulisan Rp. 100.000. Katakanlah, kita membuat rata-rata setiap media membayar Rp. 500.000. Untuk memperoleh penghasilan Rp. 3.000.000 setiap bulan, seorang penulis hanya perlu menulis 6 tulisan per bulan. Ia bisa menulis cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, bahkan catatan perjalanan! Banyak hal bisa ditulis. Sebagai tambahan: bagi yang gemar makan, bisa menulis catatan kuliner. Bagi yang menyukai gossip, menulis tentang gaya hidup. Apa pun bisa ditulis, kan? Bahkan kalau menulis cerita bersambung, honornya bisa sekitar Rp. 200.000 per pemuatan (kalikan saja, jika dimuat selama 365 hari!) atau dibayar rata sebesar Rp. 10.000.000. Hmm &#8230;</p>
<p><strong>Ketiga, menulis untuk televisi.</strong> Untuk penulis yang malas bekerja di kantor tapi tak keberatan dengan tekanan kerja dan jadwal <em>deadline</em>, menulis naskah untuk acara televisi bisa menjadi pilihan yang menyenangkan. Seperti sudah saya bilang, saya pernah bekerja sebagai editor naskah di satu rumah produksi, karena itu saya bisa dikatakan tahu penghasilan para penulis naskah televisi (tapi saya tak akan menyebut nama-nama penulisnya, sebab ini menyangkut rahasia dapur mereka). Honorarium dihitung per episode acara: untuk pemula barangkali Rp. 1.000.000 per episode, untuk yang sudah punya nama bisa sampai Rp. 10.000.000 (jangan lupa bayar pajak juga! hehe) per episode. Biasanya ini berlaku untuk sinetron. Hitung sendiri, jika sinetron itu ditayangkan per minggu! Hitung pula berapa jika sinetronnya ditayangkan 4 hari dalam satu minggu seperti sering terjadi sekarang-sekarang ini! Jangan heran kalau penghasilan penulis jauh melebihi penghasilan editornya, hehe.</p>
<p>Menulis untuk televisi tak hanya berarti menulis naskah sinetron. Hampir setiap acara pasti membutuhkan penulis. Saya sendiri pernah menulis naskah untuk acara jalan-jalan memperkenalkan produk. Lumayan, kerjanya jalan-jalan masuk ke toko-toko di mall. Naskahnya cuma satu halaman ketik. Honornya Rp. 1.000.000 per naskah. Lumayan, kan?</p>
<h3>4. Beberapa Alternatif Lain</h3>
<p><span class="dropcaps">K</span>ebanyakan penulis menggabungkan semua itu untuk menambah penghasilan mereka. Seorang teman penyair (nama tidak usah disebut, ya), yang barangkali tidak bisa mengharapkan royalti daru dua buku puisinya, menulis artikel di surat kabar paling tidak 5 kali dalam sebulan. Ia juga menjadi pembicara berbagai acara diskusi penulisan (honornya dari Rp 500.000 hingga Rp. 2.000.000) yang bisa dilakukannya paling tidak sekali sebulan.</p>
<p>Alternatif lain? Menjadi penulis hantu (<em>ghost writer</em>). Banyak <em>public figur</em> yang ingin menulis untuk menambah-nambah reputasinya. Kebanyakan dari mereka mungkin benar-benar tidak bisa menulis, beberapa di antaranya tak punya waktu untuk menulis. Mereka biasanya menyewa penulis hantu, yakni menyewa penulis untuk menulis atas nama si <em>public figur</em>. Bisa sekadar artikel untuk media massa, bisa pula menulis buku. Honornya tergantung negosiasi.</p>
<p>Dan jangan dilupakan kemungkinan untuk menulis naskah teater (saya belum pernah melakukannya, tapi lagi mau belajar dengan anak-anak Taeter Garasi), menulis lirik lagu, menulis <em>press release</em> (banyak perusahaan tak bisa menulis <em>release</em> dengan baik, juga tak memiliki kontak dengan media), atau menulis <em>company profile</em>. Ada juga kemungkinan memperoleh penghasilan tambahan jika karyamu meraih penghargaan (karya terbaik Khatulistiwa Literary Award mencapai Rp. 100.000.000). Atau cobalah mengirim aplikasi untuk residensi atau <em>felowship</em> (novel pertama saya, <em>Cantik itu Luka</em>, ditulis dengan <em>grant</em> dari Akademi Kebudayaan Yogyakarta).</p>
<h3>5. Saya?</h3>
<p><span class="dropcaps">S</span>aat ini saya penulis penuh waktu, dalam arti saya tak terikat dengan perusahaan apa pun dan sebagian besar waktu saya didedikasikan untuk menulis. Saya menulis buku, satu buku saya sudah diterjemahkan ke bahasa Jepang (ini bisa menjadi gambaran, selain cetak ulang, penerjemahan juga bisa melipatgandakan penghasilan penulis buku dari royalti &#8212; juga hitung seandainya novel diapdaptasi ke bentuk lain, misalnya film). Saya juga menulis untuk koran maupun majalah. Saya menjadi pembicara berbagai topik penulisan. Kadang saya menulis naskah untuk televisi. Saya juga kadang menjadi penulis hantu (saya menulis untuk orang lain tanpa menyebut nama saya). Oh ya, saya juga menulis blog (yang ini <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Pro_bono">pro bono</a>, hehe)!</p>
<p>Tapi saya harus jujur, tidak semua penghasilan saya berasal dari menulis. Saya juga memiliki proyek desain grafis, meskipun juga tidak terikat. Saya juga tak keberatan bekerja kantoran, tapi jika saya memerlukan waktu lebih luang (biasanya untuk proyek penulisan yang panjang seperti novel), saya berhenti dan mengurangi aktivitas yang lain.</p>
<p>Bagaimanapun, jika kamu punya pekerjaan yang menyenangkan (buatmu), mungkin ada baiknya tidak ditinggalkan. Kadang-kadang hal itu sangat membantu penulisan &#8212; paling tidak memberi perspektif yang lebih luas untuk tulisan. <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Gabriel_Garcia_Marquez">Gabriel Garcia Marquez</a> seorang wartawan &#8212; kita bisa melihat pekerjaannya sebagai wartawan memberi pengaruh yang positif untuk karya-karya kreatifnya. <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Jorge_Luis_Borges">Jorge Luis Borges</a> penjaga perpustakaan &#8212; dan tanpa itu saya kira cerpen-cerpennya tak akan seperti yang kita kenal. <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Umberto_Eco">Umberto Eco</a> seorang dosen. Ahmad Tohari seorang pemimpin sebuah pesantren. <a href="http://dee-idea.blogspot.com/">Dewi Lestari (Dee)</a>, seorang penyanyi. Dan mereka tetap bisa menulis, bukan? Bagus pula!</p>
<p>Semoga kamu juga!!!</p>
<div id="update">
<h3>Update, 7 April 2008</h3>
</div>
<p>Di atas semuanya, hal yang sebenarnya paling penting ditanyakan, terutama buat saya adalah: Bisakah hidup &#8220;tanpa&#8221; menulis?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/bisakah-hidup-dengan-menulis-111.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>56</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenangan Getir Korban Tragedi Mei 1998</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/kenangan-getir-korban-tragedi-mei-1998-13.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/kenangan-getir-korban-tragedi-mei-1998-13.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Jan 2008 06:27:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi & Tribut]]></category>
		<category><![CDATA[Berto Tukan]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Kompas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekakurniawan.com/blog/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[<div class="author"><em>oleh</em> <strong>Berto Tukan, <a href="http://kecoamerah.blogspot.com/2008/01/kenangan-getir-korban-tragedi-mei.html">Kecoa Merah</a></strong></div>

Dalam tulisan ini, saya mencoba membahas cerpen <strong>Gerimis yang Sederhana</strong> dari pendekatan sosiologi sastra. Maksud penggunaan pendekatan Sosiologi Sastra adalah untuk menelusuri keterkaitan cerpen tersebut dengan peristiwa sejarah serta dampaknya sekarang terhadap subyek dan obyeknya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="author"><em>oleh</em> <strong>Berto Tukan, <a href="http://kecoamerah.blogspot.com/2008/01/kenangan-getir-korban-tragedi-mei.html">Kecoa Merah</a></strong></div>
<h3>Pembukaan</h3>
<p>Sastra bersama ilmu filsafat merupakan <em>mother of science</em>. Sebagai ibu dari ilmu pengetahuan, di masa lampau sastra adalah milik kolektif rakyat. Rakyat mengkreasinya, memproduksinya dan dinikmati bersama-sama. Maka tak heran, karya-karya sastra lama tak memiliki pengarangnya yang jelas dan hanya dituliskan N.N. Hal ini berbeda dengan sekarang, di mana sastra terkesan sedikit jauh dengan masyarakat kebanyakan.</p>
<p>Dalam perjalanannya, sastra (baca karya sastra) mengalami banyak perubahan dan perkembangannya, sehingga kita mengenal banyak sekali aliran dan jenis karya sastra. Untuk sekadar contoh, fiksi sains, fiksi detektif, fiksi sejarah dan masih banyak lagi, mewarnai dunia sastra. Ini merupakan konsekuensi dari semakin kompleksnya kehidupan manusia dari hari ke hari. Maka, sastra yang dipercayai sebagai sebuah bentuk refleksi sastrawan terhadap kehidupan pun ikut menjadi kompleks, sekompleks kehidupan yang menjadi sumur inspirasi utamanya.<br />
<span id="more-13"></span><br />
Dalam kasus karya sastra sejarah, walau pun tak bisa dijadikan bahan rujukan utama memahami sejarah, pembaca bisa mengambil banyak pelajaran tentang sejarah dari sana. Dengan membaca <em>Ibunda</em>, Maxim Gorkhi misalnya, kita bisa menjadi lebih dekat dengan peristiwa Revolusi Bolsevhik. Begitu juga posisi <em>Soru Buldog</em>, <em>Rintihan Burung Kedasih</em> karya Pandir Kelana terhadap pemahaman atas masa revolusi kemerdekaan Indonesia. Dalam karya-karya sastra Indonesia mutakhir, khususnya cerpen yang tersebar di banyak media di negeri ini, sastra sejarah masih banyak kita temukan. Lebih jauh lagi, saya melihat tema sastra yang diangkat adalah tema-tema besar semisal G30S, Aceh, serta kerusuhan-kerusuhan pra-reformasi negeri ini. Di sini terlihat bagaimana sastra mengambil fungsinya sebagai memoria passionis, sebuah perlawanan terhadap lupa. Cerpen <strong>Gerimis yang Sederhana</strong> karya Eka Kurniawan<sup>1</sup> bisa dikatagorikan dalam sastra memoria passionis ini.</p>
<div class="sidenote"><sup>1</sup> Gerimis yang Sederhana dipublikasikan di Harian Umum <em>Kompas</em> edisi hari Minggu, 16 Desember 2007.</div>
<p>Dalam tulisan ini, saya mencoba membahas cerpen <strong>Gerimis yang Sederhana</strong> dari pendekatan sosiologi sastra. Maksud penggunaan pendekatan Sosiologi Sastra adalah untuk menelusuri keterkaitan cerpen tersebut dengan peristiwa sejarah serta dampaknya sekarang terhadap subyek dan obyeknya. Pemilihan atas cerpen <strong>Gerimis yang Sederhana</strong> dilandasi pada beberapa alasan. Pertama, cerpen ini termasuk karya sastra yang masih segar. Dalam pengertian baru dipublikasikan, sehingga bisa dianggap sebagai produk baru. Kedua, gaya dan sudut pandang cerpen ini yang menurut hemat saya berbeda dengan cerpen-cerpen sejenis lainnya. Sehingga, cerpen ini menarik dibaca dan tentunya menarik juga untuk dikaji.</p>
<h3>Menengok Kembali Sejarah Getir</h3>
<p>Cerpen Gerimis yang Sederhana tidak menjabarkan secara terperinci kapan setting waktu fiktif terjadinya cerita. Namun, dari beberapa informasi sekilas dalam cerpen ini, bisa disimpulkan bahwa setting waktunya adalah tahun 2007-2008-an.</p>
<blockquote><p>Ia terlihat agak gugup. Setelah 1998, pikirnya, ini kali pertama aku (Mei, penulis) bertemu orang dari Jakarta<sup>2</sup>.</p></blockquote>
<div class="sidenote"><sup>2</sup> Kutipan dari baris ke baris ke-2 sampai 5, paragraph dua, cerpen <strong>Gerimis yang Sederhana</strong>, Eka Kurniawan, <em>Kompas</em>, 16 Desember 2007, hal. 26.</div>
<p>Dari kutipan di atas tampak bahwa sejak tahun 1998, Efendi-lah orang pertama dari Jakarta yang berhubungan dengan Mei. Tahun 1998 merupakan sebuah ‘mitos’ umum Indonesia. Di tahun itulah terjadi reformasi dan beberapa peristiwa pra-reformasi yang cukup mendebarkan.</p>
<p>Nama tokoh perempuan protagonist dalam cerpen ini—Mei, menyiratkan sesuatu bila kita melihat keterpautannya dengan tahun 1998, satu-satunya keterangan tahun yang diutarakan secara tersurat dalam cerpen ini. Terlepas dari Mei adalah nama seorang tokoh cerpen ini, Mei juga adalah penamaan atas sebuah bulan dalam penanggalan Romawi yang kita kenal sekarang.</p>
<p>“Mei” dengan pengertian di atas akan memunculkan spesifikasi waktu yang disampaikan secara tersirat bila dihubungkan dengan 1998 yakni bulan Mei tahun 1998. Mei 1998 mengingatkan pada peristiwa Tragedi Mei 1998 yang merupakan salah satu tragedi berdarah, sebuah peristiwa ‘pembantaian‘ terhadap masyarakat Indonesia keturunan Tionghoa di Jakarta. Ketragisan dan kengerian peristiwa itu dapat digambarkan dari tulisan Benny G Setiono yang dikutip di bawah ini:</p>
<blockquote><p>Tanggal 13-15 Mei 2004 ini genap enam tahun terjadinya tragedi yang telah merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Tionghoa. Tiga belas pasar, 2.479 ruko,40 mall,1.604 toko,45 bengkel,387 kantor, 9 SPBU, 8 bus dan kendaraan umum lainnya, 1.119 mobil, 821 sepeda motor dan 1.026 rumah tinggal habis dijarah, dirusak dan dibakar selama berlangsungnya aksi anarkhis tersebut.</p>
<p>Yang paling menyedihkan, dalam tragedi itu terjadi perkosaan massal terhadap puluhan kalau bukan ratusan perempuan Tionghoa yang dilakukan secara brutal. Juga terjadi pembunuhan sadis terhadap lebih dari seribu orang rakyat kecil yang terdiri dari anak-anak, remaja dan ibu-ibu rumah tangga yang berhasil diprovokasi untuk menyerbu beberapa mal dan menjarah barang-barang namun kemudian dikunci dan dibakar hidup-hidup oleh para provokator, penggerak aksi-aksi anarkhis tersebut<sup>3</sup>.</p></blockquote>
<div class="sidenote"><sup>3</sup> Dikutip dari artikel “Apa Kabar Tragedi Mei 1998” oleh Benny G. Setiono, <em>Suara Pembaruan</em> 13 Mei 2004.</div>
<p>Memang sudah ada beberapa karya sastra (khususnya cerpen) yang mengangkat tragedi Mei 1998 ini. Sebagai contoh misalnya cerpen <strong>Clara</strong>, Seno Gumira Adjidharma, serta beberapa cerpen Veven Sp. Wardhana dalam kumpulan cerpen <em>Namaku Pheng Hwa</em>. Posisi <strong>Gerimis yang Sederhana</strong> agak berbeda dengan beberapa cerpen di atas. Bila <strong>Clara</strong> misalnya, mengangkat langsung peristiwa yang terjadi pada saat itu, <strong>Gerimis yang Sederhana</strong> lebih mendekati peristiwa itu dari sisi ‘kenangan sang korban’.</p>
<h3>Trauma Berkepanjangan Korban Mei 1998</h3>
<p>Tokoh Mei adalah orang Indonesia yang ‘rupa-rupanya’ berpindah ke Amerika tepatnya New York lantaran peristiwa Mei 1998 itu. Peristiwa 1998 meninggalkan sebuah ketakutan dan trauma berkepanjangan untuk Mei. Hal ini terlihat pada paragraf IX, ketika Mei tengah bercakap-cakap dengan sepupunya lewat telepon genggam. Ketika itu, Mei diceritakan tengah memandang Efendi yang sedang makan di sebuah restoran cepat saji. Namun Mei tak mau menemui Efendi, karena ada pengemis di dalam restoran itu. Saat itulah sepupu Mei menelpon. Setelah mengetahui bahwa Mei tak mau masuk restoran lantaran ada pengemis di dalamnya, sepupunya berkata:</p>
<blockquote><p>“Ya ampun, Mei. Ini Amerika. Pengemis di sini enggak sama de….” Suara di sana tak melanjutkan kalimat tersebut, seolah disadarkan pada sesuatu. Setelah bisu sejenak, sepupunya kemudian menambahkan, “Maaf.<sup>4</sup>”</p></blockquote>
<div class="sidenote"><sup>4</sup> Op cit, Kurniawan, 2007.</div>
<p>Sebuah tragedi dan tindakan kekerasan bisa saja menimbulkan trauma bagi korbannya. Hal ini terlihat pada tokoh Mei. Bahkan, untuk menceritakan tragedi yang dialaminya itu pun, Mei seakan-akan kebingungan dan tak tahu bagaimana cara menceritakannya. Hal itu terlihat pada dialog Mei dengan Efendi;</p>
<blockquote><p>“Tahun 1998 di Jakarta, seorang pengemis nyaris me…,”<br />
Mei tak melanjutkan kata-katanya, kebingungan. “Gimana ya, aku mengatakannya?”</p></blockquote>
<p>Sebuah cerpen terbuka—<strong>Gerimis yang Sederhana</strong> menurut hemat saya bisa dikatagorikan dalam jenis ini—memungkinkan penglanjutan cerita dengan bebas atau penafsiran bebas dari pembacanya. Kalimat Mei yang terputus pada ‘….me….” di atas pun dari sisi ini, bisa dilanjutkan dan direka-reka bebas oleh pembacanya. Saya lebih cenderung untuk melanjutkan kata kerja berawalan me—, di atas dengan kata perkosa. Jadi, kalimat itu menjadi lengkap demikian:</p>
<blockquote><p>“Tahun 1998 di Jakarta, seorang pengemis nyaris me(mperkosa saya-penulis)…,”</p></blockquote>
<p>Sebuah pemerkosaan untuk seorang perempuan merupakan sebuah tamparan yang teramat keras atas hidupnya. Mungkin hal ini berlaku juga untuk kasus Mei di atas. Walau pun kejadian tersebut hanya ‘nyaris’, tapi sudah cukup mendatangkan trauma yang berkepanjangan untuk Mei.</p>
<h3>Mereka yang ‘Eksil’<sup>5</sup>, Mereka yang Rindu Rumah</h3>
<div class="sidenote"><sup>5</sup> Kata ‘eksil’ biasanya memang hanya ditujukan pada mereka-mereka yang tinggal atau terasing dari negerinya sendiri dengan alas an politis. Kata eksil di sini saya pinjam untuk penyebutan-penyebutan terhadap mereka yang akhirnya tinggal jauh dari tanah air mereka sendiri, akibat kekerasan dan lain sebagainya, sama seperti tokoh Mei.</div>
<p>Tokoh Mei dalam <strong>Gerimis yang Sederhana</strong> bisa jadi adalah salah satu contoh korban tragedi-tragedi berdarah negeri ini yang akhirnya memilih untuk menetap jauh dari tanah air dengan berbagai alasan. Tokoh Mei menurut saya memilih tinggal di luar negeri (New York, Amerika) karena ingin menjauh dari bayang-bayang kekerasan yang menjadi mimpi buruknya dan tak kembali ke tanah air lantaran masih membekas dengan kuatnya trauma itu. Bahkan, bisa saja tokoh Mei ini memilih untuk tidak kembali.</p>
<p>Namun demikian, masih tersisa rindu dan kangen akan tanah airnya, rumahnya, Indonesianya. Hal ini terlihat pada kalimat di paragraph-paragraf terakhir cerpen ini;</p>
<blockquote><p>Lagi-lagi kemudian Mei tertawa, sambil memukuli kemudi dan berkata. “Hampir sepuluh tahun dan aku belum pernah ketawa serupa ini. Lelaki memang tolol sekali, ya?”</p>
<p>Mei masih tertawa, sepanjang jalan terdengar serupa gerimis yang sederhana<sup>6</sup>.</p></blockquote>
<div class="sidenote"><sup>6</sup> Op cit, Kurniawan, 2007.</div>
<p>Sebelumnya, digambarkan bahwa Mei tertawa terpingkal-pingkal ketika Efendi menceritakan bahwa cincin kawinnya yang dicopot dan disimpannya di kantong celananya, ikut raib bersamaan recehan yang diberikannya pada pengemis di restoran cepat saji tadi. Mei tertawa dan mengatakan, bahwa dahulu ia juga mengenal laki-laki yang selalu mencopot cincin kawinnya bila berkenalan dengan perempuan baru. Dan kenyataan, kini ia menemukan hal yang sama pada Efendi membuatnya merasa sangat lucu.</p>
<p>Kita bisa mengartikan, Mei mengenal laki-laki serupa Efendi itu pada waktu ia berada di Indonesia. Kelakuan ‘bodoh’ Efendi adalah sebuah kebiasaan yang dilakukan laki-laki Indonesia kebanyakan. Di sini kita menemukan kenyataan, tokoh Mei secara tersirat punya kerinduan yang mendalam terhadap Indonesia. Ia sempat berujar, hampir sepuluh tahun ia tak tertawa serupa ini.</p>
<p>‘Cincin kawin’ membuat Mei terkenang juga pada seseorang yang sempat dikenalnya dulu. Seseorang yang sangat mungkin adalah kenalan Mei ketika masih ada di Jakarta. Ingatan itu membawa kebahagiaan yang diungkapkan Mei lewat tawa berkepanjangan. Kenangan akan Jakarta (Indonesia) membahagialan Mei. Namun, kalimat akhir cerpen tersebut; sepanjang jalan terdengar serupa gerimis yang sederhana, menyimbolkan sesuatu yang menyakitkan.</p>
<p>Gerimis bisa menyimbolkan bermacam-macam hal. Gerimis bisa menyimbolkan sesuatu yang jelek, sesuatu yang membawa ketidak-bahagiaan. Gerimis dengan simbol seperti itu ada dalam puisi Chairil Anwar, <strong>Senja di Pelabuhan Kecil</strong>. Di puisi itu, Chairil menggambarkan gerimis sebagai faktor yang membuat hari cepat menjadi malam. Rupa-rupanya, ‘gerimis’ yang serupa bisa diberlakukan juga terhadap ‘gerimis’ dalam cerpen ini. Gerimis menggambarkan kegetiran, sebuah kegetiran yang sederhana, sebuah kegetiran tak berarti, sebuah kegetiran kecil yang mungkin sekali akan dilupakan oleh bangsa ini.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Bila kita masih percaya karya sastra sebagai manifestasi kenyataan hidup, maka cerpen Gerimis yang Sederhana mengingatkan kita pada para korban tragedi Mei 1998 yang entah tersebar di penjuru dunia mana saja sekarang. Ketakutan dan trauma berkepanjangan seperti dirasakan oleh tokoh Mei dalam <strong>Gerimis yang Sederhana</strong>, mungkin menahan bahkan mematikan rasa rindu mereka pada Indonesia.</p>
<p>Karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Pepatah lama ini mungkin bisa menggambarkan memori korban Mei 1998. Betapa begitu banyak kenangan manis dan kehidupan indah di Indonesia khususnya Jakarta yang sempat mereka rasakan, hilang menjadi dendam dan kebencian tak terkira lantaran peristiwa mengerikan yang terjadi dalam tiga hari saja.</p>
<p>Membaca <strong>Gerimis yang Sederhana</strong> kita diingatkan pada peristiwa sejarah yang menakutkan dan memalukan itu. Maka, sebagai sebuah karya sastra Memorria Passionis, cerpen ini telah menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik. Setidak-tidaknya hati nurani kita, para pembaca, diketuk dan diingatkan, bangsa kita pernah melakukan kesalahan besar pada sesamanya sendiri dan tentunya janganlah lagi kita ulangi.</p>
<div class="footnote">
<h3>Daftar Bacaan:</h3>
<p>Cerpen &#8220;Gerimis yang Sederhana&#8221;, Eka Kurniawan, <a href="http://kompas.com">Harian Umum Kompas</a>, Minggu, 16 Desember 2007.<br />
<em>Sosiologi Sastra, Sebuah Pengantar Ringkas</em>; Sapardi Djoko Damono, PPPB Depdikbud, Jakarta 1984.<br />
<em>Sosiologi Sastra</em>; Robert Escarpit, YOI, Jakarta, 2005.<br />
<em>Sejarah Kecil, Pettite Historie</em>; Rosihan Anwar, Penerbit Buku Kompas, Jakarta 2003.<br />
<em>Gender Dalam Sastra</em>; M. Josephina Kumaat Mantik, WWS, Jakarta, 2006.<br />
&#8220;Memoria Passionis Sastra&#8221; (artikel); Yoseph Yapi Taum; Kompas, 05 Juni 2007.<br />
&#8220;Apa Kabar Tragedi Mei 1998&#8243; (artikel); Benny G. Setiono, Suara Pembaruan, 13 Mei 2004.</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/kenangan-getir-korban-tragedi-mei-1998-13.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

