Cerita Pendek “Pengantar Tidur Panjang”
Cerpen terbaru saya, “Pengantar Tidur Panjang” bisa dibaca di Kompas edisi 1 November 2009, halaman 20. Selamat membaca.
Cerpen “Taman Patah Hati”
Cerita pendek saya, “Taman Patah Hati” dimuat hari ini di Kompas. Jika tertarik, silakan membacanya di situs Kompas.
“Membakar Api”
Cerita pendek terbaru saya “Membakar Api” terbit di Kompas hari ini. Ilustrasinya bisa dilihat di blog pelukisnya, Julia Sarisetiati.
Kompas Suka Tidak Teliti
(Update: 5 Februari 2009)

Foto oleh: Matt Callow, Some rights reserved.
Kompas merupakan satu-satunya koran yang saya langganan tiap hari, dan hampir enggak pernah terlewat membacanya. Tapi jujur, saya sering terganggu dengan ketidaktelitian Kompas. Memang hal-hal kecil, sih, tapi sebagai koran besar, mestinya bisa diminimalisir dengan cek dan selalu ricek.
Sebagai contoh, saya ingin memperlihatkan artikel hari ini mengenai Matt Mullenweg di halaman 16 berjudul “Matt Mullenweg, Antara Jazz dan WordPress”.
Pertama, antara pernyataan dan penjelasan kadang enggak nyambung. Sebagai contoh, saya kutip paragraf sembilan:
Baca selengkapnya …
“Gerimis yang Sederhana” di Buku Kompas
Cerpen saya “Gerimis yang Sederhana” termuat di buku Cerpen Kompas Pilihan 2008 yang diluncurkan tadi malam. Yang belum sempat membacanya, sila di sini.
Cerpen Kompas Pilihan 2008
Lusa, 26 Juni, peluncuran buku Cerpen Kompas Pilihan 2008. Seperti biasa, Kompas merahasiakan siapa yang menang. Melihat ilustrasi undangan, saya mencoba menebak: “Samanasanta” karya F. Rahardi. Ada tebakan lain? UPDATE 25/6: Ternyata tebakan saya salah. Di Kompas hari ini, nama dan cerpen itu bahkan tak tercantum di buku tersebut. 26/6: Ternyata yang menang: “Cinta di Atas Perahu Cadik” karya Seno Gumira Ajidarma.
Fiksi the Movie
Nonton Fiksi, karya Mouly Surya, harus saya bilang: Apa dia bener-bener tahu kenapa pake judul “fiksi”? Dan ulasan Susi Ivvaty di Kompas hari ini, masih juga tanya: Fiksi dan realitas, apa bedanya? Duh! Mending bacalah tulisan tentang Borges ini.
Sebab Kode Adalah Puisi

Foto oleh: silvia di natale’S, Some rights reserved.
Sekiranya Borges masih hidup, barangkali ia akan menjadi penulis paling getol on-line. Bagaimana tidak, banyak orang yang percaya, sebelum internet ditemukan, Borges telah “memimpikan” dunia internet dalam cerita-cerita pendeknya. Ingat perihal ensiklopedia yang disusun secara diam-diam oleh sekelompok orang sehingga menghasilkan dunia yang baru? Bukankah hal ini sekarang menjadi mungkin dengan perangkat lunak wiki sebagaimana dipergunakan di wikipedia.org? Atau perihal teks yang bisa merujuk ke teks lain tanpa batas? Sejak ditemukan internet, kita sudah mengenal “link”.
Terlepas dari impian Borges tersebut, tak terelakkan internet telah menjadi rujukan penting bagi kebanyakan orang, termasuk para penulis. Saya mempergunakan Google Book untuk membaca beberapa catatan perjalanan orang-orang Eropa yang datang ke Indonesia di masa kolonial, untuk satu riset tulisan fiksi saya, misalnya. Demikian pula Google Map, dengan teknologi citra satelit yang konon paling telat umurnya dua tahun ke belakang, kita bisa memastikan detail geografis satu tempat. Dalam hal ini, Anda bisa jauh lebih akurat daripada Karl May sekiranya mengisahkan kehidupan suku Indian tanpa pergi ke Amerika.
Baca selengkapnya …
Bisakah “Hidup” dengan Menulis? Bisakah Hidup “Tanpa” Menulis?

Foto oleh: catatronic, Some rights reserved.
Yang saya maksud bukan pekerjaan yang penulisnya memperoleh upah bulanan dari perusahaan: katakanlah wartawan atau copy editor di perusahaan iklan. Yang saya maksud adalah, bisakah “hidup” hanya menjadi penulis tanpa terikat kepada perusahaan tertentu. Artinya, penulis bisa bekerja dimana saja, untuk siapa saja, dan bahkan, menulis apa yang disukainya saja — dan ia dibayar per tulisan yang dibuatnya?
Benar, ini sudah sangat sering ditanyakan. Saya akan mencoba menghitung-hitung (untuk ukuran Indonesia), juga sedikit membocorkan resep-resep yang dilakukan beberapa teman saya (yang memang bisa dikatakan sebagai “penulis penuh waktu”).
Baca selengkapnya …
Kenangan Getir Korban Tragedi Mei 1998
Oleh: Berto TukanSumber: kecoamerah.blogspot.com

Grafis oleh Derrick T, Some rights reserved.
Pembukaan
Sastra bersama ilmu filsafat merupakan mother of science. Sebagai ibu dari ilmu pengetahuan, di masa lampau sastra adalah milik kolektif rakyat. Rakyat mengkreasinya, memproduksinya dan dinikmati bersama-sama. Maka tak heran, karya-karya sastra lama tak memiliki pengarangnya yang jelas dan hanya dituliskan N.N. Hal ini berbeda dengan sekarang, di mana sastra terkesan sedikit jauh dengan masyarakat kebanyakan.
Dalam perjalanannya, sastra (baca karya sastra) mengalami banyak perubahan dan perkembangannya, sehingga kita mengenal banyak sekali aliran dan jenis karya sastra. Untuk sekadar contoh, fiksi sains, fiksi detektif, fiksi sejarah dan masih banyak lagi, mewarnai dunia sastra. Ini merupakan konsekuensi dari semakin kompleksnya kehidupan manusia dari hari ke hari. Maka, sastra yang dipercayai sebagai sebuah bentuk refleksi sastrawan terhadap kehidupan pun ikut menjadi kompleks, sekompleks kehidupan yang menjadi sumur inspirasi utamanya.
Baca selengkapnya …