Mengintip Sejarah Industri Manga

Membaca novel grafis (atau dalam istilah penulisnya “gekiga”) “Hanyut” karya Yoshihiro Tatsumi, serasa membaca tiga biografi sekaligus: biografi sang mangaka, yang di buku disamarkan bernama Hiroshi Katsumi; biografi industri manga; dan tentu saja kalau mau berlebihan (sebenarnya tidak berlebihan dalam konteks buku ini) biografi Jepang pasca-perang. Kalau kita melihat perjalanan hidup Hiroshi berjuang untuk meraih [...]

Apa yang Saya Suka dari Komik Jadul Indonesia

Baiklah, saya sendiri suka manga. Saya pembaca setia Kungfu Boy, Dragon Ball. Saya bahkan membaca manga untuk cewek macam Sailor Moon. Lebih suka lagi Lone Wolf and Cub. Saya juga penggemar komik Belgia-Prancis macam Asterix, Lucky Luke, Tintin. Hmm, tapi tak begitu tergila-gila komik Amerika, kecuali komik-komik Frank Miller. Tapi itu semua tak menghilangkan antusiasme saya melototin komik Indonesia.

Ini beberapa hal yang saya suka dari komik Indonesia lawas:

The Day The Dog Died

Ini merupakan komik kolaborasi saya (cerita) dan Agung Arif Budiman (gambar). Di masa kuliah, bersama satu teman lain (Andy Seno Aji) kami bikin kelompok komik bernama Komikaze. Komik “The Day the Dog Died” sebenarnya direncanakan agak panjang, tapi karena sama-sama sibuk, akhirnya jadi sebuah fragmen pendek. Selamat menikmati.

Lone Wolf and Cub: “Character that Stands Out”

Lone Wolf and Cub pertama-tama barangkali karena karakter gambarnya yang tak jauh berbeda dengan komik silat Indonesia tahun 70an. Dengan kata lain, berbeda dengan manga kebanyakan yang cenderung meng-karikaturkan (dengan penekanan kuat terhadap bentuk kanak-kanak di satu sisi, namun mengandung unsur sensual di sisi lain). Lebih jelasnya, saya menyukai komik ini (atau apalah namanya: novel grafis boleh, manga boleh, cergam tentu juga boleh — buat saya tidak ada bedanya), karena karakter gambarnya yang realis di satu sisi, dan metaforis di sisi lain.

V dan Novel Grafis Gelap

Masih ingat novel terkenal karya George Orwell berjudul 1984 (Nineteen Eighty Four)? Novel itu berkisah mengenai rezim fasis di mana seluruh aktivitas warga negaranya dikontrol oleh penguasa. Tak ada tindakan yang tak terlihat, dan tak ada ucapan yang tak terdengar. Orwell merupakan penulis Inggris, dan negeri yang ditulis di novelnya itu juga mengacu kepada Inggris.

Jangan Ada Ganteng di Antara Kita

Melalui peristiwa-peristiwa keseharian, yang bahkan cenderung biografis dimana Eko sering memunculkan karakter istri dan anaknya, ia menampilkan dunia yang lebih “real”, yang tidak ideal sebab di sana tak ada pahlawan yang memberantas ketidakadilan atau sosok superbijak yang penuh kritik dan tanpa cela. Tapi juga tak kemudian menjadi kelam, bahkan cenderung riang, dengan humor-humor yang sebab begitu sederhananya, sering di luar dugaan.

Cantik itu Luka