The Day The Dog Died

Ini merupakan komik kolaborasi saya (cerita) dan Agung Arif Budiman (gambar). Di masa kuliah, bersama satu teman lain (Andy Seno Aji) kami bikin kelompok komik bernama Komikaze. Komik “The Day the Dog Died” sebenarnya direncanakan agak panjang, tapi karena sama-sama sibuk, akhirnya jadi sebuah fragmen pendek. Selamat menikmati.
Lone Wolf and Cub: “Character that Stands Out”

© Kazuo Koike & Goseki Kojima. Hanya untuk referensi.
Saya menyukai Lone Wolf and Cub pertama-tama barangkali karena karakter gambarnya yang tak jauh berbeda dengan komik silat Indonesia tahun 70an. Dengan kata lain, berbeda dengan manga kebanyakan yang cenderung meng-karikaturkan (dengan penekanan kuat terhadap bentuk kanak-kanak di satu sisi, namun mengandung unsur sensual di sisi lain). Lebih jelasnya, saya menyukai komik ini (atau apalah namanya: novel grafis boleh, manga boleh, cergam tentu juga boleh — buat saya tidak ada bedanya), karena karakter gambarnya yang realis di satu sisi, dan metaforis di sisi lain.
Kedua, di luar kecenderungan saya untuk menyukai segala cersil (cerita silat), saya menyukai gaya naratif komik ini. Berbeda dengan kebanyakan cersil Cina yang cenderung kompleks (dengan puluhan, bahkan kadang ratusan tokoh dihubungkan dengan alur cerita yang silang-menyilang — ciri yang menurut saya juga dipakai oleh penulis kita Asmaraman S. Kho Ping Hoo), Lone Wolf and Cub justru hanya mengisahkan perjalanan Ogami Itto dan anaknya, Daigoro sebagai seorang pembunuh bayaran. Sebagaimana para samurai memiliki “kode samurai” atau ronin juga memiliki “kode ronin” sebagai patokan etika mereka, Ogami Itto memutuskan untuk menempuh jalan pembunuh bayaran, tentu juga dengan moralnya sendiri. Kode etik utama yang ia pegang adalah: ia harus tahu kenapa harus membunuh seseorang.
Baca selengkapnya …
V dan Novel Grafis Gelap
© Alan Moore & David Lloyd. Hanya untuk referensi.
Masih ingat novel terkenal karya George Orwell berjudul 1984 (Nineteen Eighty Four)? Novel itu berkisah mengenai rezim fasis di mana seluruh aktivitas warga negaranya dikontrol oleh penguasa. Tak ada tindakan yang tak terlihat, dan tak ada ucapan yang tak terdengar. Orwell merupakan penulis Inggris, dan negeri yang ditulis di novelnya itu juga mengacu kepada Inggris.
Baca selengkapnya …
Jangan Ada Ganteng di Antara Kita

Foto oleh: jurek d., Some rights reserved.
Membaca komik Eko Nugroho, pentolan kelompok komikus Daging Tumbuh, berjudul The Konyol (Orakel, 2005), mengingatkan saya kepada sebaris kalimat dalam sebuah grafis mereka: “Jangan Ada Ganteng di Antara Kita.” Kalimat itu aneh, tapi terasa lucunya. Atmosfir seperti itulah yang saya pikir menyelimuti seluruh komik strip dalam buku tersebut.
Sedikit mengingatkan saya juga kepada kartunis Malaysia, Lat, karakter-karakter Eko memperlihatkan gambar dalam satu garis yang nyaris tanpa putus, dengan kecenderungan memanjang-manjangkan hidung dan mulut. Gambaran seperti itu memberi karakter-karakternya sejenis roman kanak-kanak yang sedang mewek, tampang yang menyebalkan sekaligus menggemaskan.
Baca selengkapnya …
