Beberapa Tesis Tentang Judul Novel
Jika paragraf pertama novel bisa diibaratkan etalase toko, maka judul novel bisa diibaratkan papan nama toko tersebut. Judul merupakan sejenis “brand”, di mana keseluruhan novel barangkali bisa dicitrakan dalam sebaris judul tersebut. Serupa “Warung Ice” tetanggamu, jika kamu mendengar nama itu disebut, kamu langsung membayangkan apa saja yang dijual di warung itu.
“Dreamer” Knut Hamsun: Perempuan Tuh, Ya …
Saya cuma ingin berbagi akhir ceritanya, tapi gambaran mengenai awal cerita tentu harus diberikan: Tokoh utamanya Ove Rolandsen. Bayangkan saja dia sebagai anak muda bengal yang kerjanya merayu para gadis kesana-sini. Dia bekerja sebagai operator telegraf. Di luar pekerjaan dan hobinya merayu para gadis, ia sering mengurung diri di kamar untuk melakukan berbagai percobaan kimia.
Merasa Nyaman dengan Selera Pribadi
Beberapa malam lalu, saya memperoleh email dari Intan Paramaditha dan Ugoran Prasad. Mereka salah dua penulis yang saya kagumi: meskipun bisa dibilang pelit menerbitkan karya. Saya bisa dikata jarang bertemu mereka (apalagi sekarang keduanya di Amerika), tapi sesekali kami mendiskusikan sesuatu lewat internet. Kembali ke email: mereka mengajak saya membuat proyek kecil (kami batasi bertiga saja) menyangkut hal yang barangkali tak pernah dilirik kebanyakan penulis (apalagi kritikus): Tribute to Abdullah Harahap, the master guru of Indonesian horor fiction.
Valentine: 10 Novel Cinta Paling Menyebalkan
Mumpung Valentine (latah …), saya mencoba mendaftar 10 novel cinta paling menyebalkan. Alih-alih mempergunakan kata “terbaik”, saya mempergunakan kata “menyebalkan” justru untuk menghormati karya-karya berikut ini. Bukankah karya yang baik selalu merupakan gangguan … dan menyebalkan? 1. Dracula (Bram Stoker) Saya selalu percaya, lebih dari sekadar novel gothic, Dracula sesungguhnya novel cinta. Cinta macam apa? [...]
