Perlu Mengakrabi Sastra Mancanegara
Sebenarnya pelajaran sastra itu yang paling sederhana. Saya yakin semua penulis itu belajar sastra dari membaca dan mereka belajar menulis itu dari meniru apa yang mereka baca. Untuk mengajarkan sastra di sekolah itu sebetulnya cukup beri saja buku ke sekolah-sekolah itu. Biarkan para siswa itu belajar sastra. Masalahnya sekarang kalau di sekolah ada banyak buku tapi para siswa tak mau baca, itu berarti ada hal lain yang lebih menarik bagi mereka. Dan kita tidak bisa mengatakan kalau hal lain itu tidak lebih baik daripada membaca buku.
Merasa Nyaman dengan Selera Pribadi
Beberapa malam lalu, saya memperoleh email dari Intan Paramaditha dan Ugoran Prasad. Mereka salah dua penulis yang saya kagumi: meskipun bisa dibilang pelit menerbitkan karya. Saya bisa dikata jarang bertemu mereka (apalagi sekarang keduanya di Amerika), tapi sesekali kami mendiskusikan sesuatu lewat internet. Kembali ke email: mereka mengajak saya membuat proyek kecil (kami batasi bertiga saja) menyangkut hal yang barangkali tak pernah dilirik kebanyakan penulis (apalagi kritikus): Tribute to Abdullah Harahap, the master guru of Indonesian horor fiction.
Sejarah dalam Cerita Silat Kho Ping Hoo
“Raja yang memerintah di kerajaan Pajajaran (Pasundan) yang beribukota di Pakuan adalah Sri Baduga Maharaja yang disebut juga Ratu Dewata. Ratu Dewata memunyai seorang puteri yang terkenal sekali karena kecantikannya. Puteri ini bernama Diah Pitaloka Citraresmi …” Begitulah gaya khas Asmaraman S Kho Ping Hoo memberi latar sejarah dalam kisah fiksinya, Satria Gunung Kidul. Sudah [...]
