<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Eka Kurniawan Project &#187; Jurnalisme</title>
	<atom:link href="http://ekakurniawan.com/blog/tag/jurnalisme/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ekakurniawan.com</link>
	<description>Menulis dan petualangan-petualangan lainnya</description>
	<lastBuildDate>Tue, 10 Apr 2012 11:17:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Kompas Suka Tidak Teliti</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/kompas-suka-tidak-teliti-790.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/kompas-suka-tidak-teliti-790.php#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Jan 2009 15:01:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penulisan]]></category>
		<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Jurnalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Kompas]]></category>
		<category><![CDATA[WordPress]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=790</guid>
		<description><![CDATA[Foto oleh: Matt Callow, Some rights reserved. Kompas merupakan satu-satunya koran yang saya langganan tiap hari, dan hampir enggak pernah terlewat membacanya. Tapi jujur, saya sering terganggu dengan ketidaktelitian Kompas. Memang hal-hal kecil, sih, tapi sebagai koran besar, mestinya bisa diminimalisir dengan cek dan selalu ricek. Sebagai contoh, saya ingin memperlihatkan artikel hari ini mengenai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center"><a class="snap_noshots" href="http://www.flickr.com/photos/blackcustard/81680010/"><img src="http://3.bp.blogspot.com/_tn9p8W26Wqg/SYmR_k79ZVI/AAAAAAAAANY/SA35mH7gRNc/s400/korankopi.jpg" alt="" /></a><br/><br />
<small>Foto oleh: <a class="snap_noshots" href="http://www.flickr.com/photos/blackcustard/">Matt Callow</a>, <a class="snap_noshots" rel="license cc:license" href="http://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0/">Some rights reserved</a>.</small></p>
<p><em>Kompas</em> merupakan satu-satunya koran yang saya langganan tiap hari, dan hampir enggak pernah terlewat membacanya. Tapi jujur, saya sering terganggu dengan ketidaktelitian <em>Kompas</em>. Memang hal-hal kecil, sih, tapi sebagai koran besar, mestinya bisa diminimalisir dengan cek dan selalu ricek.</p>
<p>Sebagai contoh, saya ingin memperlihatkan artikel hari ini mengenai Matt Mullenweg di halaman 16 berjudul <a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/01/31/04220425/matt.mullenweg.antara.jazz.dan.wordpress">&#8220;Matt Mullenweg, Antara Jazz dan WordPress&#8221;</a>.</p>
<p>Pertama, antara pernyataan dan penjelasan kadang enggak nyambung. Sebagai contoh, saya kutip paragraf sembilan:<br />
<span id="more-790"></span></p>
<blockquote><p>&#8220;Di dunia maya tidak banyak penyedia blog gratisan. Kalau Anda ingin memiliki blog atau situs pribadi, Anda bisa mengambil dari <a href="http://blogger.com">Blogger</a>, <a href="http://multiply.com">Multiply</a>, <a href="http://livejournal.com">LiveJournal</a>, MoveableType (maksudnya mungkin <a href="http://movabletype.com">MovableType</a>), <a href="http://typepad.com">TypePad</a>, dan salah satunya dari <a href="http://wordpress.com">WordPress</a> yang disediakan Matt.&#8221;</p></blockquote>
<p>Bagaimana mungkin mengatakan &#8220;tidak banyak penyedia blog gratisan&#8221;, lha kalimat berikutnya malah menderet empat situs penyedia layanan gratis (dan yang enggak disebut bisa berjumlah puluhan, minus MovableType dan TypePad yang berbayar!).</p>
<p>Kedua, di alinea ketiga belas:</p>
<blockquote><p>&#8220;Matt tidak menyangkal kalau ia memperoleh pendapatan dengan mendirikan perusahaan di balik WordPress, seperti <a href="http://automattic.com">Automattic</a>, <a href="http://akismet.com">Akismet</a>, <a href="http://gravatar.com">Gravatar</a>, <a href="http://bbpress.org">bbPress</a>, <a href="http://intensedebate.com">IntenseDebate</a>, dan <a href="http://buddypress.com">BuddyPress</a>.&#8221;</p></blockquote>
<p>Kalimat itu mengindikasikan bahwa di balik WordPress ada perusahaan(-perusahaan) seperti Automattic, Akismet, Gravatar, bbPress, IntenseDebate dan BuddyPress. Jelas sekali penulisnya (Pepih Nugraha) enggak melakukan ricek. Di deratan nama-nama itu hanya Automattic yang merupakan nama perusahaan. Selebihnya merupakan &#8220;produk&#8221; dari Automattic (<a href="http://automattic.com/projects/">lihat di sini daftar produk Automattic</a>, yang mereka sebut sebagai &#8220;project&#8221;). Ini kan informasi yang gampang diricek dengan mengunjungi situs resmi perusahaan itu. Lagian, kan enggak masuk akal ada enam perusahaan di balik sebuah produk (WordPress). Yang lebih masuk akal (kalau mau nebak-nebak pun), kan ada &#8220;satu&#8221; perusahaan di balik enam produk.</p>
<p>Ketiga, dari alinea kedelapan belas:</p>
<blockquote><p>&#8220;Matt mengenang kembali masa-masa di tahun 2002 saat untuk pertama kalinya menciptakan peranti lunak sederhana untuk nge-blog yang ia namakan b2.&#8221;</p></blockquote>
<p>Kalau kita berkunjung ke situs <a href="http://en.wikipedia.com/wiki/Wordpress">Wikipedia</a>, dan sebenarnya ini sudah pengetahuan umum di penggiat WordPress, jelas informasi di atas salah. Matt tidak menciptakan software blog b2. B2 dibuat oleh programer bernama Michel Valdrighi. Matt kemudian membuat <em>fork</em> (istilah untuk membuat cabang program baru dari sebuah program lama) dari b2 yang kemudian dia beri nama WordPress (<a href="http://ma.tt/2003/01/the-blogging-software-dilemma/">lihat posting Matt sendiri mengenai awal ketika ia melakukan <em>fork</em> atas b2</a>).</p>
<p>Duh, sebenarnya mungkin ini hal-hal sepele. Tapi karena saya baca <em>Kompas</em> tiap hari, dan sering menemukan hal-hal sepele begini tidak ditulis semestinya, lama-lama jadi pengin mengeluarkan uneg-uneg ini.</p>
<p>Saya enggak tahu, apakah ini masalah wartawan yang malas melakukan cek dan ricek, atau masalah keterampilan berbahasa (sebagaimana saya tunjukkan di kasus pertama dan kedua, jika susunan kalimatnya diubah, kalimat itu mungkin bisa jadi memberikan informasi benar).</p>
<p>Segitu dulu aja, lah. Saya tulis ini karena saya gemar membaca <em>Kompas</em> tiap bangun tidur. Buat wartawan <em>Kompas</em>, maaf ya &#8230;.</p>
<p>Tambahan: Di laman ini saja ada 40+ layanan blog gratis jika Anda tertarik; <a href="http://mashable.com/2007/08/06/free-blog-hosts/">40+ Free Blog Hosts</a>.</p>
<h3>Update: 5 Februari 2009</h3>
<p>Perbincangan ini telah memperoleh banyak tanggapan di <a href="http://www.facebook.com/note.php?note_id=63813100489&#038;ref=mf">lingkaran Facebook saya</a>, termasuk dari <a href="http://pepihnugraha.blogspot.com/">Pepih Nugraha</a>, wartawan Kompas yang menulis artikel <a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/01/31/04220425/matt.mullenweg.antara.jazz.dan.wordpress">&#8220;Matt Mullenweg, Antara Jazz dan WordPress&#8221;</a>. Jika ada yang tertarik mengikuti perbincangan tersebut, sila berkunjung (dan menjadi &#8220;teman&#8221; saya) di <a href="http://www.facebook.com/note.php?note_id=63813100489&#038;ref=mf">Facebook</a>.</p>
<p>Sementara itu, Lily Yulianti Farid juga mengulasnya di blog <em>Kompasiana</em> dimana ia menjadi blogger tamu: <a href="http://lilyyulianti.kompasiana.com/2009/02/05/komentator-facebook-1-suara-pembaca-yang-dinote-kan/">&#8220;Komentator Facebook (1): Surat Pembaca yang Di&#8221;Note&#8221;-kan.&#8221;</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/kompas-suka-tidak-teliti-790.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bersihar Lubis dan Interogator yang Dungu</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/bersihar-lubis-dan-interogator-yang-dungu-71.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/bersihar-lubis-dan-interogator-yang-dungu-71.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Feb 2008 08:51:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penulisan]]></category>
		<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Jurnalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Koran Tempo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekakurniawan.com/blog/?p=71</guid>
		<description><![CDATA[Hanya karena mengutip pernyataan Joesoef Ishak bahwa "kejaksaan dungu", ia diadili pada <a href="http://artculture-indonesia.blogspot.com/2007/11/ac-i-diadili-karena-menulis-opini-mari.html">21 November 2007</a>.

Saya berpendapat, orang yang anti terhadap hak-hak setiap individu untuk mengemukakan pendapat (termasuk menulis, kolom maupun sekadar blog seperti saya), "memang dungu".]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mas Bambang Bujono (mantan Pemimpin Redaksi majalah <em>D&#038;R</em>), biasanya ia dipanggil kebanyakan rekannya dengan panggilan Mas Bambu, mengingatkan hari ini Bersihar Lubis akan divonis oleh Pengadilan Negeri Depok. Ini perkara terbaru menyangkut kebebasan menulis. Lebih jelasnya, Bersihar Lubis dikriminalkan oleh kejaksaan hanya karena ia menulis! Selamat datang di rezim anti tulisan, selamat datang di negeri yang tidak intelek!</p>
<p>Semuanya berawal dari kolom Bersihar Lubis di <em>Koran Tempo</em>, 17 Maret 2007 berjudul <a href="http://korantempo.com/korantempo/2007/03/17/Opini/krn,20070317,50.id.html">&#8220;Kisah Interogator yang Dungu&#8221;</a> (website <em>Koran Tempo</em> butuh <em>password</em> untuk bisa membaca artikel tersebut).<br />
<span id="more-71"></span><br />
Kolom itu diawali oleh sebuah kisah mengenai Joesoef Ishak. Joesoef Ishak adalah seorang jurnalis, ia pernah bergabung dengan <em>Harian Merdeka</em>, dan selepas keluar dari penjara (1965, 1966, 1967) di tahun 80an terutama dikenal sebagai editor. Bersama Pramoedya Ananta Toer, ia mendirikan penerbit Hasta Mitra. Karena keberaniannya menerbitkan karya-karya Pramoedya inilah, Joesoef Ishak dipanggil dan diinterogasi Kejaksaan Agung.</p>
<p>Waktu itu, Joesoef sebenarnya memberi saran kepada Kejaksaan Agung untuk menggelar simposium yang obyektif dalam menilai karya Pramoedya. Tapi dengan sok tahu, menurut kisah Joesoef di kolom tersebut, Kejaksaan Agung menolak simposium dengan alasan, mereka &#8220;lebih paham dengan siapa pun bahwa <em>Bumi Manusia</em> dan <em>Anak Semua Bangsa</em> adalah karya sastra Marxis&#8221; (saya kutip dari kolom Bersihar Lubis).</p>
<p><center><a href="http://arifkurniawan.wordpress.com/dukung-bersihar-lubis/"><img src="http://owbertku.files.wordpress.com/2007/11/banner-big-bersihar.jpg" /></a><br />
<span class="caption">Banner dukukang untuk Bersihar Lubis</span></center></p>
<p>Eh, waktu Joesoef diinterogasi, si interogator malah meminta Joesoef menunjukkan baris mana saja yang menunjukkan adanya teori Marxis dalam buku Pram. (<em>Lha, Bapak-bapak, katanya lebih paham dari siapa pun?</em>)</p>
<p>Kembali saya ingin mengutip pernyataan Joesoef yang dikutip Bersihar Lubis: &#8220;Saya telah disiksa oleh kedunguan interogator, dan interogator telah disiksa oleh atasan mereka yang lebih tinggi tingkat kedunguannya.&#8221;</p>
<p>Bersihar Lubis mengulang kisah Joesoef itu untuk mempertanyakan langkah Kejaksaan Agung menerbitkan surat keputusan pada 5 Maret 2007, mengenai pelarangan buku teks pelajaran SMP dan SMU. Buku-buku tersebut dilarang karena tidak mencantumkan pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Madiun. Gerakan 30-September disinggung, tapi tak menyebutkan keterlibatan PKI. Jaksa Agung Muda Intelijen Muchtar Arifin beralasan, &#8220;Itu memutarbalikkan fakta sejarah.&#8221;</p>
<p>Intinya, kolom Bersihar Lubis mempertanyakan keputusan Kejaksaan Agung, dan mengkritik tentang monopoli kebenaran sejarah (yang menurutnya absurd).</p>
<p>Lalu apa yang terjadi? Hanya karena mengutip pernyataan Joesoef Ishak bahwa &#8220;kejaksaan dungu&#8221;, ia diadili pada <a href="http://artculture-indonesia.blogspot.com/2007/11/ac-i-diadili-karena-menulis-opini-mari.html">21 November 2007</a>.</p>
<p>Saya berpendapat, orang yang anti terhadap hak-hak setiap individu untuk mengemukakan pendapat (termasuk menulis, kolom maupun sekadar blog seperti saya), &#8220;memang dungu&#8221;.</p>
<p>Untuk mengetahui siapa Bersihar Lubis, <a href="http://bhayu.wordpress.com/2007/12/06/who-is-bersihar-lubis/">klik di sini</a>. Untuk mendukung Bersihar Lubis, sila <a href="http://arifkurniawan.wordpress.com/dukung-bersihar-lubis/">klik di sini</a>. Sila juga meninggalkan pesan di <a href="http://ekakurniawan.com/blog/?p=71">blog saya</a>. Sekecil apa pun, suara kita semua sangat berarti untuk kebebasan berpendapat.</p>
<h3>Up-date (19:06 WIB)</h3>
<p>Hari ini, 20 Februari 2008, Bersihar Lubis <a href="http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/02/tgl/20/time/124420/idnews/897033/idkanal/10">divonis hukuman percobaan 1 bulan</a> oleh Pengadilan Negeri Depok. Sekali lagi, selamat datang di negeri yang tidak intelek!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/bersihar-lubis-dan-interogator-yang-dungu-71.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

