<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Eka Kurniawan Project &#187; Jose Saramago</title>
	<atom:link href="http://ekakurniawan.com/blog/tag/jose-saramago/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ekakurniawan.com</link>
	<description>Menulis dan petualangan-petualangan lainnya</description>
	<lastBuildDate>Tue, 10 Apr 2012 11:17:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Dongeng Gajah Melintasi Eropa</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/dongeng-gajah-melintasi-eropa-2968.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/dongeng-gajah-melintasi-eropa-2968.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Aug 2011 14:32:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan]]></category>
		<category><![CDATA[Jose Saramago]]></category>
		<category><![CDATA[Novel]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[The Elephant Journey]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/blog/dongeng-gajah-melintasi-eropa-2968.php</guid>
		<description><![CDATA[Jose Saramago dikenal dengan resep "what if" yang fantastis di novel-novelnya. Meskipun tak seheboh bagaimana jika semenanjung Iberia terpenggal dan hanyut ke laut (<em>The Stone Raft</em>), atau bagaimana jika sosok nama pena Fernando Pessoa muncul di hari kematiannya (<em>The Year of the Death of Ricardo Reis</em>), atau bagaimana jika separuh penduduk kota terserang kebutaan (<em>Blindness</em>), kali ini sang penulis menawarkan kisah: apa yang terjadi jika seekor gajah dibawa dari Lisbon ke Vienna di tahun 1551 (<em>The Elephant Journey</em>). Gajah jelas bukan binatang yang umum di Eropa barat, bahkan sekarang ini pun barangkali mereka cuma melihatnya di sirkus atau kebun binatang.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>
<p>
<div class='p_embed p_image_embed'> <a href="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2011-08-21/vgomnwrafcCrkvfqAnEuvEHcJjaHnExBwavJECakonjEjrergkawnIitkhxd/elephantjourney.jpg.scaled1000.jpg"><img alt="Elephantjourney" height="298" src="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2011-08-21/vgomnwrafcCrkvfqAnEuvEHcJjaHnExBwavJECakonjEjrergkawnIitkhxd/elephantjourney.jpg.scaled500.jpg" width="500" /></a> </div>
</p>
<p>Jose Saramago dikenal dengan resep &#8220;what if&#8221; yang fantastis di novel-novelnya. Meskipun tak seheboh bagaimana jika semenanjung Iberia terpenggal dan hanyut ke laut (<em>The Stone Raft</em>), atau bagaimana jika sosok nama pena Fernando Pessoa muncul di hari kematiannya (<em>The Year of the Death of Ricardo Reis</em>), atau bagaimana jika separuh penduduk kota terserang kebutaan (<em>Blindness</em>), kali ini sang penulis menawarkan kisah: apa yang terjadi jika seekor gajah dibawa dari Lisbon ke Vienna di tahun 1551 (<em>The Elephant Journey</em>). Gajah jelas bukan binatang yang umum di Eropa barat, bahkan sekarang ini pun barangkali mereka cuma melihatnya di sirkus atau kebun binatang.</p>
<p>Satu malam, Saramago pergi makan bersama rekannya di sebuah restoran bernama &#8220;Gajah&#8221;. Di dalamnya ada ukiran kayu berderet, yang ternyata berupa bangunan-bangunan dari berbagai negara Eropa, yang menyiratkan sejenis jalur perjalanan. Saramago kemudian diberitahu rekannya, itu perupakan ilustrasi perjalanan seekor gajah di abad enam belas dari Lisbon ke Vienna. Dengan seketika otak pendongengnya bekerja: pasti ada sesuatu yang bisa diceritakan dari perjalanan gajah tersebut.</p>
<p><span id="more-2968"></span></p>
<p>Di sinilah dengan jeli bagaimana ia merajut kisah perjalanan seekor gajah melintasi benua Eropa menjadi &#8220;kisah yang lain&#8221;. Yakni tentang kisah seorang asing di negeri asing (pawang si gajah bernama Subhro, dibawa langsung dari India, negeri asal si gajah); Tentang hamba dan rajanya (Subhro dan raja Portugis, kemudian Subrho dengan bangsawan Austria, kepada siapa gajah itu diberikan); kisah mengenai ekspedisi militer (ya, rombongan gajah itu dikawal oleh satu pasukan tentara); dan tentu saja kisah hubungan manusia dan binatang (apalagi jika antara manusia-manusia di sekitarnya dengan si gajah).</p>
<p>Bahkan kisah ini pun menyeret wilayah politik agama, bahkan perbenturan agama Hindu dan Katolik, serta kemudian antara Katolik dan Protestan. Dikisahkan, di tengah perjalanan, Subhro bercerita tentang makna gajah bagi orang India kepada komandan pasukan. Subhro tentu saja bilang, bahwa gajah di India berarti Ganesha, salah satu dewa mereka. Rupanya hal ini dianggap bidah oleh penduduk yang mendengar bahwa seekor gajah dianggap sebagai dewa/tuhan. Urusan ini dengan segera sampai ke telinga pastor gereja lokal.</p>
<p>Situasi cerita ini di tengah zaman Inkuisisi. Artinya: bidah dan sejenisnya, ancamannya jelas tak cuma ditangkap, mungkin juga dibakar layaknya penyihir. Menganggap seekor gajah sebagai tuhan, tentu tak ada tempat di masyarakat Eropa masa itu. Demikianlah si gajah bahkan sudah terancam jauh sebelum sampai tempat tujuan. Tapi di tempat lain, si gajah justru kali ini berhasil dimanfaatkan gereja Katolik. Kemampuannya untuk mengikuti perintah sang pawang, dimanfaatkan untuk melewati dan menghormat di depan patung seorang santa. Kelakuan ini dengan cepat dianggap sebagai mukjizat. Dalam hal ini, gereja Katolik sedang membutuhkan lebih banyak mikjizat dalam rangka menghadapi gerakan Protestan yang semakin meluas di Eropa.</p>
<p>Sebagaimana biasa, di tangan Saramago, kisah mengenai perjalanan seekor gajah tak semata-mata menjadi &#8220;kisah mengenai perjalanan seekor gajah&#8221;. Selalu lebih dari itu.</p>
<p>Tapi yang menarik perhatian saya, dan dungunya saya baru menyadarinya sekarang setelah membaca beberapa novelnya, adalah gaya narasinya yang seringkali melantur. Maksud saya, jika ia sedang menceritakan sesuatu, kemudian sampai pada obyek A, ia akan melantur dulu menceritakan A, sebelum kembali ke arus utama cerita. Awalnya saya selalu menganggap ini sebagai sejenis gangguan ketika membaca novel-novelnya (di luar kalimat dan paragrafnya yang panjang-panjang). Tapi kemudian saya sadar: itu strateginya untuk memperlihatkan bahwa sang narator, tengah bicara langsung dengan pendengar/pembacanya. Dan lanturan itu diperlukan seringkali untuk memberi konteks yang lebih luas.</p>
<p>Lihat saja bagian pembukanya. Pada dasarnya ia ingin mengabarkan bahwa ide memberikan hadiah gajah itu datang dari permaisuri. Tapi Saramago berputar dulu mengisahkan (atau berceramah) mengenai pentingnya &#8220;ranjang kerajaan&#8221; dalam berbagai hal kebijakan (hahaha!). Dan mengenai narator yang ngobrol asyik dengan pembacanya, maksud saya adalah, narator ini sengaja memberi jarak yang ketara dengan ceritanya. Katakanlah cerita novel ini bersetting tahun 1551, tapi si narator sengaja tak mencoba berada di tempat yang sama dengan cerita, melainkan memilih berada di tempat yang sama dengan pembaca (yakni tahun 2000an) dengan mengatakan: &#8220;Sayang sekali fotografi belum ditemukan di abad enam belas &#8230;&#8221;</p>
<p>Seperti orang mendongeng, benar-benar mendongeng secara lisan, yang kebetulan saja dituliskan. Seperti itulah saya kira novel (dan novel-novelnya yang lain) Saramago ini.</p>
</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/dongeng-gajah-melintasi-eropa-2968.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jose Saramago, R.I.P.</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/jose-saramago-r-i-p-2081.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/jose-saramago-r-i-p-2081.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jun 2010 16:15:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[Jose Saramago]]></category>
		<category><![CDATA[Obituari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=2081</guid>
		<description><![CDATA[Tak ada yang lebih menyedihkan ketika mendengar penulis besar meninggal. Hari ini: Jose Saramago, 87 tahun. Saya pikir tak ada cara yang lebih baik untuk menghormati kepergiaan seorang penulis, kecuali menuliskan sesuatu tentangnya. Saya punya catatan pendek tentang novel-novel Saramago di sini: <a href="http://ekakurniawan.com/1332/jose-saramago-dan-apa-yang-terjadi-jika">Jose Saramago, dan "Apa yang Terjadi Jika ..."</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tak ada yang lebih menyedihkan ketika mendengar penulis besar meninggal. Hari ini: Jose Saramago, 87 tahun, berpulang. Saya pikir tak ada cara yang lebih baik untuk menghormati kepergiaan seorang penulis, kecuali menuliskan sesuatu tentangnya. Saya punya catatan pendek tentang novel-novel Saramago di sini: <a href="http://ekakurniawan.com/?p=1332">Jose Saramago dan &#8220;Apa yang Terjadi Jika &#8230;&#8221;</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/jose-saramago-r-i-p-2081.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jose Saramago dan &#8220;Apa yang Terjadi, Jika &#8230;&#8221;</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/jose-saramago-dan-apa-yang-terjadi-jika-1332.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/jose-saramago-dan-apa-yang-terjadi-jika-1332.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 16:38:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan]]></category>
		<category><![CDATA[Jose Saramago]]></category>
		<category><![CDATA[Novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/blog/jose-saramago-dan-apa-yang-terjadi-jika-1332.php</guid>
		<description><![CDATA[Itulah Jose Saramago. Kita mengenalnya sebagai novelis dimana novel-novelnya selalu beraroma “apa yang terjadi, jika …” Apa yang terjadi jika nama samaran menjadi tokoh sebenarnya dan pemilik nama samaran justru menjadi hantu, seperti itulah barangkali ringkasan pendek novel <em>The Year of the Death of Ricardo Reis</em>. Tentu saja novel-novelnya jauh melampaui sekadar “apa yang terjadi, jika …”, tapi kita tak mungkin mengabaikan fakta itu sebagai strategi prosanya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“<em>But loneliness is not living alone, loneliness is the inability to keep someone or something withing us company</em>,” kata Jose Saramago di salah satu novelnya yang barangkali bisa dibilang terbaik, <em>The Year of the Death of Ricardo Reis</em>.</p>
<p>Ironinya, tema kesepian itu dikontraskan dengan kehadiran sosok lain dalam kehidupan Ricardo Reis: penyair terkenal Portugal bernama Fernando Pessoa. Dikisahkan, Ricardo Reis, seorang dokter sekaligus penyair, kembali ke negerinya setelah 16 tahun tinggal di Brazil. Tahunnya: 1936. Ia tiba di Lisbon, tinggal di hotel. Waktu kedatangannya boleh dikatakan berbarengan dengan kematian Fernando Pessoa. Di hotel itulah kemudian ia bertemu hantu penyair tersebut.<br />
<span id="more-1332"></span><br />
Fakta itu mungkin tidak menarik bagi kebanyakan orang yang tidak mengenal siapa Ricardo Reis dan siapa Fernando Pessoa. Fernando Pessoa merupakan tokoh nyata, penyair terkenal dari Portugal. Selain menerbitkan puisi atas namanya, Pessoa juga dikenal sering menerbitkan puisi dengan beberapa nama pena yang berbeda, dengan gaya puisi yang juga berbeda. Salah satu nama penanya yang cukup dikenal adalah: Ricardo Reis.</p>
<p>Di dunia nyata, Fernando Pessoa merupakan sosok penyair dan Ricardo Reis hanyalah nama samaran. Di novel ini, Ricardo Reis menjadi tokoh utama dan Fernando Pessoa hanyalah hantu. Bahkan gagasan ini saja membuat novel ini terasa istimewa.</p>
<p>Itulah Jose Saramago. Kita mengenalnya sebagai novelis dimana novel-novelnya selalu beraroma “apa yang terjadi, jika …” Apa yang terjadi jika nama samaran menjadi tokoh sebenarnya dan pemilik nama samaran justru menjadi hantu, seperti itulah barangkali ringkasan pendek novel <em>The Year of the Death of Ricardo Reis</em>. Tentu saja novel-novelnya jauh melampaui sekadar “apa yang terjadi, jika …”, tapi kita tak mungkin mengabaikan fakta itu sebagai strategi prosanya.</p>
<p>Perhatikan novelnya yang lain. Dalam <em>Blindness</em>, ia seolah bertanya, apa yang terjadi jika muncul wabah kebutaan yang menular ke setiap penduduk kota, bahkan negeri? Dalam <em>The Stone Raft</em>, ia bertanya apa yang terjadi, jika semenanjung Iberia tiba-tiba terpisah dari daratan Eropa dan terapung-apung di lautan? Apa yang terjadi, jika Yesus menulis sendiri Injilnya dalam <em>The Gospel According to Jesus Christ</em>? Apa yang terjadi, jika seseorang menonton video dan tiba-tiba melihat salah satu aktor persis sebagaimana dirinya, kecuali kumis, dalam <em>The Double</em>? Apa yang terjadi, jika malaikat maut ingin beristirahat dari mencabut nyawa manusia dalam <em>Death Interupted</em>?</p>
<p>Dengan gaya seperti itu, novel-novelnya tak hanya kental dengan gaya “realisme magis” yang terkenal itu, tapi sebenarnya lebih mendekati kafkaisme: dunia yang absurd ditampilkan dalam gaya realis yang ironik sekelas Gogol. Kita tahu Kafka memakai strategi yang kurang lebih sama: apa yang terjadi, jika orang tak bersalah tiba-tiba ditangkap dalam <em>The Trial</em>, dan apa yang terjadi, jika seorang pedagang keliling tiba-tiba bangun menjadi sejenis kecoa dalam <em>Metamorphosis</em>.</p>
<p>Strategi “apa yang terjadi, jika …” jelas tidak ditemukan Kafka, apalagi Saramago. Itu strategi kuno yang dipakai para pendongeng, para juru cerita, untuk memikat pembaca di awal, dan mempertahankan pembaca di sepanjang cerita.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/jose-saramago-dan-apa-yang-terjadi-jika-1332.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jose Saramago (Juga) Ngeblog</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/jose-saramago-juga-ngeblog-519.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/jose-saramago-juga-ngeblog-519.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Oct 2008 11:20:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Jose Saramago]]></category>
		<category><![CDATA[Nobel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=519</guid>
		<description><![CDATA[Jose Saramago, penulis <em>Baltazar &#38; Blimunda</em> dan <em>Blindness</em>, juga peraih Nobel Kesusastraan 1998, ternyata juga nge-blog. Asli, ia sendiri yang menulisnya. Sayang blognya dalam bahasa <a href="http://caderno.josesaramago.org/">Portugis</a> dan <a href="http://cuaderno.josesaramago.org/">Spanyol</a>. Tapi konon edisi Inggrisnya juga akan diluncurkan. Kedua versi (bahasa) blognya mempergunakan <a href="http://wordpress.org">Wordpress</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="dropcaps">J</span>ose Saramago, penulis <em>Baltazar &amp; Blimunda</em> dan <em>Blindness</em>, juga peraih Nobel Kesusastraan 1998, ternyata juga nge-blog. Asli, ia sendiri yang menulisnya. Sayang blognya dalam bahasa <a href="http://caderno.josesaramago.org/">Portugis</a> dan <a href="http://cuaderno.josesaramago.org/">Spanyol</a>. Tapi konon edisi Inggrisnya juga akan diluncurkan. Kedua versi (bahasa) blognya mempergunakan <a href="http://wordpress.org">WordPress</a>.</p>
<p>Meski sudah berumur 85 tahun, Saramago gaul juga. Kita tunggu saja, apa dia juga mau gabung di <a href="http://facebook.com">Facebook</a> dan <a href="http://friendster.com">Friendster</a> atau tidak, ya? Hehehe &#8230; Lihat, enggak seperti penulis tua lainnya, di foto Saramago juga tampaknya nyaman mengetik di depan komputer. Enggak tanggung-tanggung, ia pakai desktop dan juga laptop. Oke, deh kakek &#8230; <em>Yahoo Messenger</em>-an, yuk!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/jose-saramago-juga-ngeblog-519.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Novel Baru Saramago</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/novel-baru-saramago-63.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/novel-baru-saramago-63.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Feb 2008 04:26:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[Jose Saramago]]></category>
		<category><![CDATA[Novel]]></category>
		<category><![CDATA[Ulasan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekakurniawan.com/blog/?p=63</guid>
		<description><![CDATA[Eh, ternyata Jose Saramago mengeluarkan novel baru: Death at Intervals. Semakin tua, semakin rajin ia menulis novel. Terakhir berturut-turut The Double, Seeing, semuanya masih tergeletak di rak, belum sempat kubaca. Terakhir aku baca Baltasar and Blimunda. Tapi novel Saramago yang paling aku suka adalah The Year of the Death of Richardo Reis. Barangkali karena novel [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Eh, ternyata Jose Saramago mengeluarkan novel baru: <em>Death at Intervals</em>. Semakin tua, semakin rajin ia menulis novel. Terakhir berturut-turut <em>The Double</em>, <em>Seeing</em>, semuanya masih tergeletak di rak, belum sempat kubaca. Terakhir aku baca <em>Baltasar and Blimunda</em>. Tapi novel Saramago yang paling aku suka adalah <em>The Year of the Death of Richardo Reis</em>. Barangkali karena novel tersebut bercerita mengenai penyair Fernando Pesoa (Richardo Reis merupakan salah satu nama pena Pesoa). Bagaimanapun pengin nyari <em>Death at Intervals</em>, meskipun nggak tahu kapan sempat baca di antara banyak antrian buku. Hik.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/novel-baru-saramago-63.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

