Tanya-Jawab: Apakah Kemampuan Menulis Saja Tidak Cukup untuk Menciptakan Karya Penting?

Tulisan ini bagian dari jawaban-jawaban atas pertanyaan yang diajukan ke saya. Penanya yang saya jawab akan memperoleh kumcer Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi. Kamu masih bisa berpartisipasi di tautan ini sampai tanggal 22 Februari 2015 (diundur hingga 28 Februari 2015).

***

Bernard Batubara: Naguib Mahfouz adalah novelis yang karyanya dianggap kontroversial dan masuk daftar buruan kelompok Islam fundamentalis di negaranya. Orhan Pamuk sangat kritis dan diperkarakan oleh kelompok nasionalis di Turki ke meja persidangan gara-gara di sebuah wawancara sempat berbicara tentang pembantaian kaum Armenia pada masa pemerintahan Ottoman. Pramoedya Ananta Toer ditangkap dan dibuang ke Pulau Buru karena karya-karyanya ditentang oleh pemerintah Orde Baru. Pertanyaan saya: Apakah hanya dengan menjadi ‘berbahaya’ seseorang dapat menjadi pengarang besar? Apakah kemampuan menulis saja tidak cukup untuk menciptakan karya penting dan meletakkan nama kita di dalam sejarah kesustraan, baik dalam negeri maupun dunia? Apakah tidak ada tempat di dunia kesusastraan bagi penulis yang ingin hidup biasa-biasa saja dan tenang-tenang saja?

Jika yang kamu maksud ‘berbahaya’ adalah bermasalah dengan penguasa atau masyarakat, ya jelas tidak harus begitu. Banyak penulis besar, dengan karya besar, hidup relatif biasa-biasa saja. Franz Kafka, jika kita membaca biografinya, lebih sering bermasalah dengan ayahnya, pekerjaannya, dan tunangannya, daripada dengan negara maupun masyarakat, tapi kita tahu pengaruhnya terhadap kesusastraan dunia bisa dikatakan sangat besar. Shakespeare dalam tingkat tertentu bahkan menikmati hidupnya sebagai penulis sekaligus selebritas, bisa dibilang kaya-raya dan diakui oleh kerajaan sehingga ia memperoleh gelar kebangsawanan. Hidupnya baik-baik dan tenang-tenang saja. Dan kita bisa sebut bahwa separuh penulis di dunia ini bernenek-moyang kepadanya. Dan Mo Yan, yang belum lama ini memperoleh Nobel Kesusastraan, saya kira juga menikmati hidup yang tenang-tenang saja. Memang ada karyanya yang pernah dilarang (The Garlic Ballads diterjemahkan melalui edisi Taiwan yang tidak disensor, seingat saya), tapi tetap saja ia bisa dibilang hidup tenang-tenang saja. Sebab kita tahu dia “pejabat” pemerintah dan hubungannya dengan kekuasaan cukup akrab. Daftar ini bisa sangat panjang, tentu. Hubungan tidak mesra antara penulis (dan intelektual secara umum) dengan kekuasaan dan masyarakat, selain itu, saya kira ada kaitan yang erat juga dengan faktor penerimaan lingkungan tertentu terhadap gagasan-gagasan baru ataupun yang berbeda. Ketika Jose Saramago menerbitkan The Gospel According to Jesus Christ, sudah jelas menimbulkan reaksi yang keras dari umat Katolik, tapi saya tak pernah mendengar ada “fatwa mati” ditujukan kepadanya, dan novel itu beredar dengan bebasnya. Hal ini berbeda ketika Salman Rushdie menerbitkan The Satanic Verses, yang kita tahu telah membuat penulisnya harus bersembunyi bertahun-tahun. Sebagai seorang muslim, saya menikmati novel itu, menganggapnya sebagai “inside joke” (sesuatu yang hanya bisa dinikmati oleh sesama muslim yang mengerti) tentang insiden ayat palsu yang diturunkan oleh setan, tanpa harus mengikis rasa hormat kepada Rasul (bahkan meskipun Rushdie bermaksud menghina, saya tak akan membiarkan diri saya terhasut olehnya). Jika semua muslim bisa menerima dengan cara seperti itu, ya barangkali Rushdie tak harus sembunyi ke mana-mana. Dan mari kita berandai-andai tentang Pamuk: seandainya ia penulis Amerika dan ia bilang, “Kaum kulit putih Amerika telah membantai orang-orang Indian hingga banyak suku-suku mereka punah,” apa yang akan terjadi? Saya yakin tak ada yang menggiringnya ke pengadilan. Saya tak bermaksud mengagung-agungkan orang Amerika, toh di bagian lain, mereka juga punya kekonyolannya sendiri. Dan tentang Pramoedya, dia relatif hidup tenang-tenang saja sebelum Soeharto berkuasa, dan baik-baik saja setelah Soeharto tumbang. Kita perlu bersyukur bahwa saat ini kita relatif bisa mengatakan banyak hal. Kita bisa bilang negara bertanggung jawab terhadap ratusan ribu (atau jutaan) simpatisan komunis yang dibantai. Kita juga bisa bilang, rakyat Papua berhak menentukan nasibnya sendiri. Meskipun ya, tampaknya kita masih tak akan aman sentosa berkeliaran di jalan dengan kaus bergambar palu dan arit. Yang perlu diingat, ada banyak penulis dibuang ke Pulau Buru bersama Pramoedya, tapi kenyataannya bisa dibilang hanya Pramoedya yang “dibaca”. Tapi mari kita bicara sesuatu yang lebih mendasar. Menurut saya, pada dasarnya semua penulis bisa dianggap berbahaya. Kenapa? Sebab tugas utama seorang penulis adalah menularkan gagasan dari dirinya ke orang lain. Dan gagasan yang tertanam ke pikiran orang lain, seringkali lebih permanen dan membahayakan melebihi virus yang menyusup ke tubuh. Tentu saja ini terlepas dari fakta bahwa ada gagasan yang sederhana dan ada gagasan yang kompleks, besar, revolusioner, aneh, dan macam-macam lainnya. Sebuah novel barangkali bisa mengubah seorang yang rasis menjadi toleran, sebuah puisi barangkali bisa mengubah sebaliknya, yang toleran menjadi homofobia, misalnya. Adakah yang lebih berbahaya daripada virus pikiran? Virus pikiran ini bisa berkembang dengan wajar di masyarakat yang bisa menerima gagasan baru dan perbedaan, dan menciptakan dialog yang sehat. Tapi di masyarakat atau komunitas yang tak siap, seringkali menciptakan benturan dan tak jarang menimbulkan kekerasan (penulis terpaksa eksil, dipenjara, dibunuh, karena gagasan mereka tak bisa diterima). Ketika benturan-benturan ini terjadi, hanya ada dua hal bisa dilakukan seorang penulis: tetap tegak dengan keyakinannya, atau merunduk dan menyerah kepada tekanan. Perbedaan keduanya akan menujukkan perbedaan kepribadian mereka, yang barangkali sedikit banyak juga memengaruhi kepada etos dan karya mereka. Sekali lagi, tentu saja seorang penulis bisa hidup biasa-biasa dan tenang-tenang saja, dan banyak contoh kehidupan seperti itu. Tapi di saat-saat tertentu, kita juga melihat ada penulis (dan kaum intelektual) menempuh tradisi Socrates, ketika ada yang harus dikatakan, mereka memilih untuk mengatakannya apa pun risikonya. Sekarang untuk pertanyaan tersisa, Apakah kemampuan menulis saja tidak cukup untuk menciptakan karya penting dan meletakkan nama kita di dalam sejarah kesustraan, baik dalam negeri maupun dunia? Saya ingin menjawabnya melalui analogi. Apakah kemampuan berenang saja tidak cukup untuk seekor ikan mencatatkan namanya di sejarah kelautan? Saya tak ingin menjawab dengan cukup atau tidak cukup, tapi satu hal jelas: ada miliaran ikan pandai berenang, seekor ikan harus “stand-out” untuk membuatnya terlihat. Dan percayalah, di dunia ini ada jutaan penulis yang bisa menulis bagus, mungkin jutaan yang lebih bagus dari kita. Dan ada jutaan karya yang bagus juga. Ini logika sederhana saja: di antara jutaan penulis yang bagus kemampuan menulisnya, apa yang bisa membuat seseorang dilihat/didengar? Saya rasa perbedaan mencoloknya terletak pada gagasan dan visi (termasuk gagasan/visi bagaimana sebuah cerita seharusnya ditulis), yang apa boleh buat, kadang-kadang membuat mereka terpaksa meletakkan dirinya dalam keadaan, yang kamu sebut “berbahaya”. Lagipula ujung-ujungnya, apa sih tujuanmu menulis? Ingin mencatat atau dicatat?

Tanya-Jawab: Monokultur

Tulisan ini bagian dari jawaban-jawaban atas pertanyaan yang diajukan ke saya. Penanya yang saya jawab akan memperoleh kumcer Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi. Kamu masih bisa berpartisipasi di tautan ini sampai tanggal 22 Februari 2015 (diundur hingga 28 Februari 2015).

***

Gita Wiryawan: Menurut mas Eka, apakah sebaiknya sastra lebih membumi agar pembacanya kian banyak ataukah cukup di tempat semula, yang berjarak (bagi beberapa orang, sastra disebut berada di menara gading) agar bisa dibedakan dengan karya fiksi populer?

Pertanyaan di atas membawa problem serius yang bisa berujung ke sesat pikir. Pertama-tama, apa itu “membumi”? Setahu saya, semua karya sastra di dunia ditulis dengan bahasa dan kata-kata yang diciptakan oleh manusia di bumi, tak ada satu pun yang diimpor dari langit. Bahkan kitab suci yang dipercaya diciptakan langsung oleh Tuhan pun mempergunakan bahasa manusia. Tentu saja manusia juga menciptakan bahasa untuk komputer, tapi 1) Belum pernah lihat novel/cerita yang ditulis dengan bahasa itu, 2) kalaupun ada, manusia tetap bisa mempelajarinya dan mengerti (dengan syarat memiliki kapasitas pengolahan data di kepalanya yang memadai). Jadi dengan asumsi tersebut, seharusnya semua karya bisa dibilang membumi. Baiklah, mari kita membuat asumsi baru bahwa yang dimaksud “membumi” adalah karya-karya yang dekat dengan kehidupan/persoalan pembaca sehingga mudah dipahami oleh mereka (sehingga lebih “populer”). Bahkan asumsi ini pun meninggalkan banyak persoalan. Apakah Harry Potter dekat dengan kehidupan/persoalan pembaca? Bahkan meskipun sihir pernah menjadi persoalan serius dalam peradaban manusia, itu terjadi di zaman kegelapan, ketika tentara inkuisisi Spanyol merajalela di Eropa barat, dan Harry Potter tak ada hubungan langsung dengan hal itu. Baltasar and Blimunda karya Jose Saramago jelas berhubungan langsung dengan kasus tersebut, bisa dibilang “membumi” karena menceritakan kehidupan dan permasalahan yang lebih dekat dengan manusia (bahkan tokohnya, Padre Bartolomeu Lourenço, merupakan sosok yang benar-benar pernah ada), tapi saya yakin novel keren ini jauh kalah populer dari ciptaan J.K. Rowling. Baltasar and Blimunda tak bisa dikatakan tidak membumi hanya karena ia kurang populer dan sulit dipahami oleh masyarakat kebanyakan. Atau coba tengok si Le Petit Prince (Antoine de Saint-Exupéry). Kita tahu novel pendek itu bercerita tentang pangeran kecil yang hidup di planet dan melompat dari satu planet ke planet lain. Tidak membumi? Sekilas, ya. Tapi novel itu juga bercerita tentang ketidakmampuan orang dewasa memahami imajinasi anak-anak. Membumi? Ya, itu persoalan orang dewasa dari dulu sampai kapan pun. Di sini kita masuk ke persoalan ketiga: jarak antara teks dan pembaca (yang kamu istilahkan bahwa karya sastra berada di “menara gading”). Pada dasarnya, semua karya sudah pasti memiliki jarak antara teks dan pembacanya. Jarak ini bisa sangat lebar, bisa pula tidak, akan sangat tergantung kepada pembacanya. Mengasumsikan semua pembaca berada di tingkat pemahaman, penafsiran, kecerdasan dan kedewasaan intelektual serta keluasan pengalaman hidup (ini juga penting!) yang sama merupakan sikap yang naif. Tak bisa dielakkan bahwa ada karya-karya tertentu yang hanya dipahami segelintir orang, dan ada yang bisa dipahami oleh lebih banyak orang. Dan kepercayaan bahwa karya sastra harus dipahami sebanyak-banyaknya orang (menjadi populer?), selain sesat pikir, juga bisa menjerumuskan. Kenapa? Mari kita bicara soal makanan, kebutuhan pokok manusia. Apa makanan yang paling mudah masuk ke mulut kebanyakan manusia? Sudah tentu, fast food. Di Indonesia bisa ditambahkan: nasi. Kapitalisme dunia selama beberapa dekade terus-menerus menciptakan makanan yang monokultur. Selera sebisa mungkin diseragamkan, karena segala hal yang seragam berarti lebih mudah diproduksi, lebih efisien, dan tentu lebih irit. Mereka berusaha meneliti atau menciptakan “selera kebanyakan”. Tentu saja ada segelintir orang yang tak suka nasi, dan orang akan menganggapnya aneh. Dalam istilah kesusastraan, ia barangkali di menara gading. Nah, yang sering dilupakan orang, kesusastraan secara umum (segala yang memproduksi teks), juga tak lepas dari konteks kapital. Kesusastraan juga komoditas, seperti ayam goreng. Penerbit (sebagai alat kapital), tentu berusaha memproduksi sesuatu yang lebih mudah, lebih laku, lebih irit, dan efisien. Itulah kenapa ada sekolah menulis (bandingkan dengan lab), dan ada formula menulis (bandingkan dengan resep). Belajar dari bisnis makanan, jawabannya adalah: kesamaan selera. Sebisa mungkin pembaca berada di zona di mana seleranya bisa dikendalikan, dan penulis juga didorong untuk menulis di zona yang sama. Ini tak hanya terjadi dalam makanan dan kesusastraan. Ini terjadi di fashion, di teknologi, di olahraga, di bidang apa pun. Dunia dari hari ke hari semakin menjadi monokultur. Di mana-mana di dunia dengan mudah kita melihat orang makan pizza, pakai gadget Android, mengenakan atribut Machester United, dan … membaca Harry Potter. Saya tak ingin menyalahkan produk-produk yang disukai banyak orang itu (semua orang di keluarga saya penggemar Harry Potter dan suka pizza), tapi bagi saya penting bahwa ada produk-produk di luar itu. Dan kesusastraan, dengan gigih (Bolaño menyebut bahwa para penyair merupakan sosok paling berani, lebih bernyali dari para perampok bank) terus-menerus memberi produk “yang berbeda” ini. Saya yakin kebanyakan di antara mereka tak menciptakan karya yang “asal berbeda”. Seperti para koki, barangkali mereka mencoba menciptakan sesuatu yang lebih bergizi, dan lebih sehat (dan sialnya, yang begini biasanya tak disukai kebanyakan orang). Jarak antara teks dan pembaca (yang sudah pasti akan selalu ada), tak bisa melulu diselesaikan dengan cara pandang kapital: produk dipaksa untuk mengikuti selera konsumen, dan selera konsumen dibentuk untuk mengkonsumsi produk yang diciptakan. Jarak antara teks dan pembaca yang lebar, dalam kesusastraan (dan segala hal), harus juga didekati dengan strategi kultural (pendidikan, terutama). Saya percaya manusia merupakan makhluk yang “geocentric” (meskipun sudah tahu bumi mengelilingi matahari), yakni memusatkan segala hal kepada dirinya sendiri. Semua karya sastra, bicara tentang robot, planet, vampire, setan, dewa-dewa, pada dasarnya bicara tentang manusia dan bumi tempat mereka berpijak. Kita bicara tentang diri sendiri. Persoalan membumi atau tidak membumi, pada akhirnya, jangan-jangan sesepele permasalahan bahwa ada karya yang “sulit” bagi sebagian pembaca. Jika benar permasalahannya itu, bagi saya kemungkinannya ada dua: 1) Karya tersebut memang ditulis dengan buruk, 2) Pencernaan kita tidak akrab dengan jenis bacaan ini. Solusinya kita semua tahu apa.

Exemplary Stories, Cervantes

Saya rasa, Cervantes seorang master karakter. Untuk mahakaryanya, Don Quixote, Milan Kundera pernah bilang, “Don Quixote sejatinya tak terbayangkan sebagai manusia hidup, tapi, dalam kenangan kita, karakter mana (lagi) yang lebih hidup (daripada Don Quixote)?” Demikian kuatnya karakter si lelaki tua yang merasa dirinya sebagai ksatria pengembara, yang gila karena kelewat banyak membaca novel-novel kepahlawanan, kebesarannya bahkan melampaui nama penulisnya sendiri (saya yakin di dunia ini lebih banyak yang mengenal Don Quixote daripada Cervantes). Keyakinan saya atas ini, bahwa Cervantes merupakan master pencipta karakter, diperkuat setelah membaca cerita-cerita dalam Exemplary Stories, yang terbit di antara bagian satu dan bagian dua Don Quixote. Kita tahu, seluruh cerita pada dasarnya bisa disederhanakan dalam satu formula sederhana, “Apa yang terjadi jika …” Bagian titik-titiknya akan diisi oleh para penulis, dan setiap penulis saya rasa punya kecenderungan tertentu yang tentu saja berbeda-beda. Ada yang mengisi titik-titik itu dengan spekulasi peristiwa, ada yang mengisinya dengan karakter dan situasi yang dihadapinya. Saya ingin memberi contoh, dalam kebanyakan novel-novel José Saramago, kita menghadapi situasi di mana ada skenario yang tak lumrah. Apa yang terjadi jika Ricardo Reis bertemu dengan hantu Fernando Pessoa (dalam The Year of the Death of Ricardo Reis), sebab sebagaimana kita tahu, Ricardo Reis dan Fernando Pessoa tak lain merupakan orang yang sama (meskipun bisa dibilang penyair yang berbeda). Apa yang terjadi jika seseorang melihat manusia lain yang mirip dirinya di dalam sebuah video (dalam The Double); atau apa yang terjadi jika satu kota tiba-tiba terjangkit wabah buta (dalam Blindness). Cervantes, pada dasarnya juga bekerja dengan formula sederhana itu, tapi ia membangun ceritanya di seputar karakter. Karakter-karakter Cervantes sebenarnya tidak bisa dibilang tak lumrah. Mereka karakter-karakter yang mudah dikenali. Yang membuatnya menjadi menarik, karakter-karakter ini seperti dilihat dengan kaca pembesar. Mereka menjadi hiperbola, dan seperti orang yang mabok jamur kotoran sapi, melihat dunia dengan cara juga berlebihan. Kita tahu, seperti itulah Don Quixote. Dalam cerita-cerita di Exemplary Stories, kita akan menemukan manusia-manusia semacam itu juga. Dalam cerita “The Glass Graduate”, Cervantes mengisahkan seorang sarjana hukum yang dipelet (ya, diberi ramuan cinta) oleh seorang perempuan yang tergila-gila kepadanya. Pelet itu tak manjur, tapi malah memberi efek samping. Selain membuat si sarjana hampir mati, ramuan itu juga membuatnya gila: ia merasa tubuhnya terbuat dari kaca. Rapuh. Bayangkan manusia macam apa yang harus hidup dengan pikiran bahwa tubuhnya bisa hancur berkeping-keping hanya karena tersenggol! Di cerita yang lain, “The Jealous Extremaduran”, kita bertemu dengan lelaki setengah baya yang pencemburu berat. Ketika ia menikah dengan gadis muda, ia mulai terjangkit penyakit cemburu ini. Ia takut isterinya bertemu pemuda lain, ia takut ada pemuda lain melihat isterinya. Ia memutuskan mengurung isterinya di rumah, dengan pintu berlapis-lapis, dan satu-satunya jendela hanya menghadap langit. Familiar dengan karakter-karakter ini? Ya, jika kita mengenal istilah “quixotic”, saya rasa cerita-cerita ini memiliki sifat dan situasi yang sama. Membaca cerita-cerita Cervantes ini membuat saya teringat satu penulis lain. Saya rasa salah satu “murid” Cervantes yang hadir beberapa abad kemudian: Italo Calvino. Saya membaca tiga novelanya yang kemudian disatukan dalam buku Our Ancestors. Dengan bertumpu pada karakter dan situasi tak lazim yang dihadapinya, saya rasa Calvino juga menciptakan dunia yang quixotic ini. Dalam The Cloven Viscount, kita berhadapan dengan seorang bangsawan yang pergi berperang dan tubuhnya terbelah menjadi dua. Sialnya, kedua tubuh itu tetap hidup dengan masing-masing membawa sifat yang bertolak-belakang; yang satu jahat, yang lain baik. Di Baron in the Trees, kita bertemu dengan seorang anak keras kepala, yang karena sumpahnya (setelah bertengkar dengan ayahnya di meja makan), memutuskan untuk hidup di atas pohon. Di novela terakhir, The Non-Existent Knight, kita bertemu dengan karakter ksatria berbaju jirah yang tak ada isinya, sebab ia memang ksatria yang “tidak ada”. Saya yakin, kita bisa menemukan karakter quixtotic ini semakin banyak di penulis-penulis lain yang muncul selepas Cervantes, untuk memperlihatkan betapa besar pengaruhnya. Jika Anda tak punya banyak waktu untuk membaca Don Quixote, saya rasa Anda bisa membaca Exemplary Stories ini sebagai permulaan mengetahui dunia rekaan Cervantes. Di sana Anda bisa menemukan Don Quixote dalam bayang-bayang.

Umur Berapa Seorang Penulis Menghasilkan Karya Pentingnya?

Gara-gara ada yang bercanda soal umur, saya jadi ingin menulis soal umur berapa seorang penulis menerbitkan karya pentingnya. Ya, ini salah satu keisengan saya. Pertama, mari kita ngobrol soal Günter Grass. Seperti kita tahu, ia bagian dari kelompok penulis/seniman Gruppe 47, kelompok penulis muda (sebenarnya tidak muda, kecuali ukurannya peraturan ormas kepemudaan di Indonesia, hehehe) Jerman yang baru pulang dari perang. Novel pertama Grass, dan saya rasa yang terpenting, The Tin Drum diterbitkan tahun 1959, ketika ia berumur 32 tahun. Berapa umurmu sekarang? Jika hampir atau telah lewat 40 dan belum menghasilkan karya sekelas The Tin Drum, lupakan saja untuk bersaing dengannya. Setelah itu, karya terpenting lainnya menurut saya adalah The Flounder yang terbit ketika ia berumur 50 tahun. Baiklah, jangan terlalu pesimis. Sekarang kita tengok penulis lain, misalnya Gabriel García Márquez. Ia memang menulis cerpen dan novela sejak awal umur dua puluhan, tapi awalnya tak ada yang memerhatikan. Hingga akhirnya, kita tahu, ia merilis One Hundred Years of Solitude. Kapan novel itu pertama kali terbit? 1967, ketika ia berumur 40. Nah, sekali lagi berapa umurmu sekarang? Jika masih 30-an, apalagi 20-an, sila mulai berhitung. Bisakah menghasilkan novel sekelas itu ketika mencapai umur 40? Sejak saat itu, Márquez relatif konstan menerbitkan karya-karya yang unggul. Mungkin aneh menghubung-hubungkan umur penulis dengan karya pentingnya, tapi saya rasa, itu bisa menjadi ukuran informal untuk melihat karir di dunia kesusastraan.Untuk mengukur daya tahan penulis, mengukur perkembangan mental sekaligus intelektual, dan juga keterampilan. Tapi bagaimana jika Anda baru berminat secara serius menulis ketika umur sudah berlipat? Jangan kuatir. Saya punya contoh yang baik: Jose Saramago. Ia baru menulis serius justru setelah lewat umur 40-an. Dan tahun berapa karya penting pertamanya, Baltazar and Blimunda terbit? Tahun 1982, ketika ia berumur 60 tahun! Ada harapan untuk Anda yang telah berumur setengah abad untuk mengikuti jejaknya. Tapi jangan lupa, Saramago juga sebenarnya telah menulis sejak umur 20-an. Ia menerbitkan beberapa karya, bahkan ada yang baru terbit setelah ia meninggal. Yang pati, ia tak buru-buru serius menjadi penulis karena ia bekerja sebagai jurnalis. Juga sebagai aktivis. Setelah Baltazar and Blimunda, ia secara gila menulis sangat produktif dan semuanya karya yang bagus, bahkan sampai hari-hari terakhir hidupnya. Novelnya yang paling saya suka, The Year of the Death of Ricrado Reis terbit ketika ia berumur 62. Sementara itu Toni Morrison baru menerbitkan novel pertamanya, The Bluest Eye tahun 1970, ketika ia berumur 39. Meskipun begitu, baru melalui Song of Solomon ia menarik perhatiakn para pengamat sastra, yang terbit tahun 1977 ketika ia berumur 46. Dan Beloved terbit sepuluh tahun kemudian setelah itu. Artinya? Memang tak ada patokan umur kapan seorang penulis melahirkan karya yang menjadi titik-tolak karirnya. Karya penting pertama yang dihasilkannya. Seorang penulis bisa saja menghasilkan karya penting di usia muda, tapi seperti kita lihat, ada yang baru merilis karya pentingnya di umur 40, bahkan 60. Meskipun begitu, saya rasa tetap saja ada satu pola. Karya-karya penting itu secara umum ditulis atau diterbitkan di usia muda “karir menulis” mereka. Günter Grass langsung melahirkan The Tin Drum setelah ia pulang dari perang dan memutuskan menjadi penulis. Márquez menerbitkan One Hundred Years of Solitude setelah ia mencoba menulis Leaf Storm dan In Evil Hour (yang tak bisa dibilang buruk). Saramago dan Morrison mungkin baru menghasilkan karya penting di usia tua, tapi harus dicatat, mereka juga memulainya di usia tua. Bagaimana dengan penulis yang lebih muda? Novel Orhan Pamuk yang pertama kali menarik perhatian, The White Castle terbit tahun 1985, ketika ia berumur 33 tahun (novel pertamanya terbit di umur 30). Setelah itu, bisa dibilang novelnya penting semua (semuanya hanya delapan novel) termasuk My Name is Red yang terbit ketika ia berumur 46. Baiklah, sekali lagi tulisan ini barangkali tidak penting. Anda bisa menulis kapan pun, dan menghasilkan karya penting kapan pun. Tak ada yang mengharuskan Anda menulis sehebat karya-karya itu. Tentu kecuali jika Anda termasuk yang berhitung tak akan adu lari cepat di Olimpiade kecuali yakin memiliki kecepatan mendekati Usain Bolt.

Adakah Kebenaran dalam Fiksi?

Saya ragu. 100% meragukannya. Memang benar, saya sering mendengar bahwa di balik kebohongan-kebohongan karya fiksi, di dalamnya terdapat kebenaran. Hah? Kebenaran macam apa? Saya ragu ada kebenaran dalam karya fiksi. Paling tidak, saya ragu ada kebenaran dalam karya-karya saya. Bahkan kemudian saya merasa yakin, penulis yang merasa karyanya mengandung kebenaran, walaupun tersembunyi (atau disembunyikan) dalam bungkus kisah rekaan, kemungkinan terobsesi untuk menjadi pengkhotbah. Bukankah memang pengkhotbah yang merasa apa yang dikatakannya merupakan kebenaran? (Ayah saya ketika masih hidup seorang pengkhotbah, tiap Jumat siang mengkhotbahkan apa yang diyakininya sebagai kebenaran di masjid dekat rumah kami). Penulis jenis ini hanya sedikit saja bedanya dengan pengkhotbah. Yang satu terang-terangan membawakan kebenaran, yang lain malu-malu dan menyembunyikannya, tapi tetap saja bilang, “Di sana ada kebenaran, lho!” Bahkan meskipun benar mereka menganggap ada kebenaran di dalam karya fiksi, pertanyaannya kembali, kebenaran macam apa? Kebenaran menurut kepalamu? Menurut ujung kelaminmu? Kebenaran macam apa yang bisa kita temukan dalam kisah “The Overcoat” karya Gogol, misalnya? Tak ada. Itu hanya kisah pegawai rendahan yang menghabiskan uangnya demi mantel baru, dan mantelnya dicuri. Cuma itu. Selebihnya kita bisa menafsirkan cerita itu kemana-mana, sesuka udel kita. Kalau kita cerdas, kita akan memberi tafsir yang terlihat cemerlang. Jika kita bebal, kita akan menafsirkannya dengan sedikit ketololan. Apa pun tafsir kita, saya ragu itu merupakan kebenaran. Saya tak melihat di sebelah mana kita menemukan kebenaran. Bahwa orang miskin itu menderita, dan orang kaya serta berkuasa itu bajingan sebajingannya? Masa sih, kebenaran seperti itu? Novel Under the Frangipani Mia Couto barangkali contoh yang juga menarik. Menarik karena itu cerita tentang cerita rekaan dan tentang seorang inspektur polisi yang mencari kebenaran. Saya tak tahu apakah Anda pernah membaca novel ini atau belum. Atau pernah membaca karya Mia Couto lainnya atau belum. Setelah José Saramago dan António Lobo Antunes, ia bisa disebut penulis bebahasa Portugis terbaik, meskipun ia bukan orang Protugis (ia berasal dari Mozambique). Jadi biar saya ceritakan sedikit isi novel itu. Di kamp pengungsian bagi para lansia di São Nicolau, kepala kamp pengungsian Yang Mulia Vastsome, yang kebetulan hanyalah seorang mulato, terbunuh. Inspektur polisi Izidine Naíta, datang ke tempat tersebut untuk meneliti siapa yang melakukan pembunuhan tersebut. Selama beberapa hari, ia mulai menginterogasi beberapa orang yang dicurigai sebagai pembunuh. Dan apa kata mereka? Mereka semua mengaku sebagai pembunuhnya. Mereka menceritakan versi masing-masing, bagaimana mereka membunuh, kenapa mereka membunuh. Mereka punya alibi, mereka punya motif. Sang inspektur tahu, mereka semua pembual. Mereka hanya menceritakan dongeng, sebab jelas, dengan cerita yang berbeda-beda, tak mungkin semua di antara mereka merupakan pembunuh. Tentu saja di balik cerita dan pengakuan yang berbeda-beda itu terdapat kisah lain. “Peranglah yang membunuh Vastsome, Inspektur,” begitu kira-kira pengakuan salah satu saksi bernama Marta. Tapi benarkah itu kebenaran? Benarkah sesuatu yang tidak tersurat dari dongeng para saksi itu merupakan kebenaran? Entahlah. Bagi saya, itu pun terdengar seperti salah satu kebohongan di antara kebohongan-kebohongan yang lain. Kenapa saya harus menganggapnya lebih benar dari kisah lainnya? Satu peristiwa bisa dikisahkan dengan berbagai cara, dan tak satu pun bisa dibilang lebih benar dari lainnya. Sebab, jangan-jangan peristiwa itu sendiri bukanlah kebenaran? “Aku datang ke sini untuk mencari kebenaran,” kata Inspektur polisi itu bersikukuh. Barangkali seperti polisi baik ini, kita para pembaca, hanyalah pencari kebenaran, yang sadar bahwa barangkali kita tak akan pernah menemukan apa-apa, di setiap karya fiksi yang kita hadapi. Bahkan meskipun kita tahu tak akan menemukan apa-apa, atau menemukan apa yang sebenarnya tidak dicari, kita tetap mencari, kita tetap membaca. Sebab seperti sang polisi, mungkin saja kita memang pembaca yang baik juga. Atau pembaca yang lugu?