Sebab Kode Adalah Puisi

Sekiranya Borges masih hidup, barangkali ia akan menjadi penulis paling getol on-line. Bagaimana tidak, banyak orang yang percaya, sebelum internet ditemukan, Borges telah “memimpikan” dunia internet dalam cerita-cerita pendeknya. Ingat perihal ensiklopedia yang disusun secara diam-diam oleh sekelompok orang sehingga menghasilkan dunia yang baru? Bukankah hal ini sekarang menjadi mungkin dengan perangkat lunak wiki sebagaimana dipergunakan di wikipedia.org? Atau perihal teks yang bisa merujuk ke teks lain tanpa batas? Sejak ditemukan internet, kita sudah mengenal “link”.

Bisakah “Hidup” dengan Menulis? Bisakah Hidup “Tanpa” Menulis?

Yang saya maksud bukan pekerjaan yang penulisnya memperoleh upah bulanan dari perusahaan: katakanlah wartawan atau copy editor di perusahaan iklan. Yang saya maksud adalah, bisakah “hidup” hanya menjadi penulis tanpa terikat kepada perusahaan tertentu. Artinya, penulis bisa bekerja dimana saja, untuk siapa saja, dan bahkan, menulis apa yang disukainya saja — dan ia dibayar per tulisan yang dibuatnya?

Kosmologi Borges

Untuk membuatnya menjadi lebih jelas, para sejarawan menciptakan kebenaran kronik peristiwa dengan ditopang oleh fragmen-fragmen yang diakui kebenarannya secara metodik. Fragmen-fragmen inilah yang bisa diverifikasi. Dalam dunia fiksi Borges kemudian, bukan fragmen-fragmen ini yang dipertaruhkan (sekali lagi, bahkan banyak di antaranya sungguh khayali), justru plot (atau metodenya) yang bisa diverifikasi, sehingga memberi satu kesimpulan peristiwa yang utuh.

Merayakan Pembacaan

”Aku menemukanmu dalam pelarian,” tulis Intan Paramaditha dalam pembukaan cerita pendek “Mak Ipah dan Bunga-Bunga”, (Sihir Perempuan, Kata Kita, 2005).

Perhatikan dengan saksama kalimat pembuka itu. Siapa yang sedang dalam pelarian? Aku atau kamu, atau keduanya? Kalimat yang tak memberi kepastian apa pun seperti itu dengan mudah kita temukan dalam hampir setiap buku kumpulan cerpen atau novel yang datang dari para penulis generasi paling mutakhir.

Cantik itu Luka